Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #2

Kisah Pengemis dan Penjual Koran #2 Melanjutkan cerita perdebatan saya dengan putra sulung kami yang sebelumnya dapat Bunda baca DI SIN...

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #2
Kisah Pengemis dan Penjual Koran #2
Melanjutkan cerita perdebatan saya dengan putra sulung kami yang sebelumnya dapat Bunda baca DI SINI, saya akhirnya menyerah atas pemahaman si Abang bahwa pinjam uang itu ya tidak boleh dipakai buat beli (sambil putar otak untuk kasih pemahaman).

Akhirnya saya menimpali, "Ya sudah, nggak usah jual minuman deh... pengemisnya suruh jualan koran aja." Lalu si Abang bertanya, apakah korannya tidak perlu beli dulu? dan saya jelaskan kalau pengemis yang mau jualan koran tidak perlu beli dulu, jadi nggak perlu pinjam uang juga buat modal (yang konsep "pinjam uang" nya belum bisa ia terima).

Bukannya puas dan berdiam diri, Abang masih terus mencerca saya dengan rasa penasaran, "Terus kalau ga perlu beli, ambil korannya dimana Bunda?"
Bunda : "Ambilnya ya di pabrik koran, di gudangnya." sambil saya sebut kantor penerbitan koran terbesar di kota kami.
Abang : "Lho apa boleh dateng ke gudang? yang boleh masuk gudang itu ya karyawan aja.."
#garuk-garuk kepala -bener juga ya. hihihi... padahal mau saya jelasin konsep agen koran sepertinya dia juga belum paham, lalu saya inisiatif saja,
Bunda : "Ya kan bisa daftar dulu Bang, bilang dulu sehari sebelumnya kalau besok mau datang ambil koran untuk dijual.."
Abang : "Nah, kalau ijin dulu gitu baru boleeeh.. " Hahaha.. pinter beneeerrrr ;)
Bunda : "Berarti kalau masih sehat nggak perlu jadi pengemis kan? Harus mau bekerja, penjual koran aja bisa nggak pakai modal dulu. Yang penting jangan malas yang maunya duduk aja sambil minta uang." menutup penjelasan saya.

"Bunda, kalau yang punya pabrik koran orang baik, orang sholeh, paling nanti uang hasil jualan korannya dikasihin lagi sama yang jual koran biar buat makan ya... Pasti yang punya pabrik koran kalau sholeh bilang gini, 'Nggak usah dikasih saya Pak, uangnya dibawa Bapak lagi aja buat beli makan..'" ungkapnya

Akhirnyaaaahh... lega juga saya bisa menyampaikan point bahwa kita tidak perlu kasihan apalagi terus-menerus memberi uang terhadap orang yang malas berusaha. Walau sambil gontok-gontokan, pakai jengkel, pakai adu argumen sampai pengen ketawa sendiri. Tapi eh tapi, si Abnag tidak langsung bisa menerima begitu saja dengan penjelasan beserta ilustrasi panjang lebar saya, malam harinya saat saya sedang khusyuk mencuci piring, Abang datang lagi mengemukakan pemikirannya.

Abang : "Bunda, kalau yang punya pabrik koran orang baik, orang sholeh, paling nanti uang hasil jualan korannya dikasihin lagi sama yang jual koran biar buat makan ya... Pasti yang punya pabrik koran kalau sholeh bilang gini, 'Nggak usah dikasih saya Pak, uangnya dibawa Bapak lagi aja buat beli makan..' ungkapnya. #jlebb jlebb jlebb T,T

Saya tersenyum sambil terkagum-kagum pada pemikiran polos anak SD di depan saya, sambil berdoa semoga kelak Abang menjadi sang pemilik pabrik nan sholeh itu dan bisa membantu banyak pengemis mendapatkan pekerjaan yang lebih mulia. Aamiin

Salam Hangat,

Related

Parenting 4567170213134416076

Post a Comment

  1. Inspiratif sekali gan, semoga bermanfaat
    silahkan mampir di tempat ane
    artikel tentang penjual koran dan teknologi http://kopikampuss.blogspot.co.id/2017/03/penjual-koran-teknologi.html
    thanks

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item