Ibu.... Terima Kasih

Ibuku..... Ibu adalah orang yang paling panik saat aku akan menghadapi ujian semesteran. Setiap akan menghadapi ujian, Ibuku akan mula...

Ibu.... Terima Kasih
Ibuku.....
  1. Ibu adalah orang yang paling panik saat aku akan menghadapi ujian semesteran.
  2. Setiap akan menghadapi ujian, Ibuku akan mulai mengajariku belajar sejak seminggu sebelumnya.
  3. Bagiku, belajar dengan ayah itu lebih enak karena lebih santai, sedangkan ibu selalu menyuruhku untuk serius belajar dan tak boleh keluar kamar sebelum aku lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ibuku untuk ujian besok. -Aku jadi merasa penuh beban.-
  4. Sebelum ujian aku selalu demam, hampir selalu begitu selama di Sekolah Dasar. Semua karena aku takut bila ujian kali ini aku tak bisa menjadi nomor 1 dan Ibu akan marah padaku. -Padahal itu tak pernah terjadi-.
  5. Hal mengejutkan terjadi saat di akhir kelas 5, peringkatku merosot drastis menjadi nomor 5 dan ibu tak mengatakan hal-hal buruk padaku.-Ternyata ibu tidak galak!-
  6. Aku senang saat Ujian Nasional Sekolah Dasar akhirnya aku diperbolehkan belajar sendiri di kamar. Jujur saja aku merasa lebih bebas dan lebih dewasa karena bisa belajar sendiri tanpa bantuan ibu, meski hasil ujianku-pun tidak membuatku sebagai murid nomor 1 tapi aku bahagia karena ibu mempercayaiku untuk belajar sendiri.-Rasanya ibuku semakin baik sekarang ^_^-
  7. Ibu yang mengajarkan kami bahwa setiap pagi aku dan adikku harus berbagi tugas menyiapkan pakaian dinas ayah dan ibu serta memasang segala atributnya, menyemir sepatu, mem-brasso ikat pinggang. Dan saat ayah atau ibuku pulang kami juga harus berbagi tugas siapa yang mengambilkan air minum, membawakan sepatu dan tas. Saat itu aku hanya mengerjakannya tanpa tau apa maksud Ibuku. -Dan sekarang aku kembali mengajarkannya pada anak-anakku-
  8. Ibu menanamkan meski kami boleh bermain di siang hari, tetapi kami harus tetap beristirahat dan kembali ke rumah sebelum ibu pulang kerja. Sampai suatu hari saat suara motor ibu terdengar, aku dan adikku masih dirumah tetangga depan rumah. Serta merta kami berlari kerumah dan menangis di hadapan ibu, sedangkan ibu hanya tersenyum dan mengusap kepala kami tanpa sepatah katapun.-Kenapa ibu tidak marah?-
  9. Saat ditanya teman-teman akan melanjutkan SMP dimana, aku hanya menjawab akan bersekolah di pondok, seperti keinginan ibuku.-Meski aku tak tahu apa artinya.-
  10. Selama di pesantren, ayah ibu rajin menjengukku dengan membawa berbagai makanan. Bahkan teman-temanku mengenal ibu karena beliau selalu membawa udang goreng tepung dan tahu bakso yang enak! -meski aku malu karena sering dijenguk, tapi aku bahagia bisa banyak bercerita dengan ibu-
  11. Suatu hari saat sedang menjenguk di pesantren, Ibu tiba-tiba meminta maaf kepadaku karena selama ini telah bersikap terlalu keras dalam hal pendidikanku. Dan akupun terharu. -Aku semakin sayang Ibu-
  12. Ketika aku sedang sakit, ibu tak pernah ragu untuk menungguiku dan ikut menginap di pesantren. Hingga tiap hari harus berangkat subuh dari solo ke semarang untuk bekerja dan kembali ke solo dengan bus sampai aku sembuh. -Pasti ibu capek sekali ;(-
  13. Sampai kuliah pun, ayah dan ibu selalu menjemputku di kampus selama satu semester awal. -belum bisa bawa motor & nyetir belum lancar, sampai dikatain manja sama pak satpam. wkwkwk-
  14. Saat mulai suka lawan jenis, ibulah yang paling getol pesan ini itu. -waktu itu ibu serasa musuhku, semuanya serba salah-
  15. Tibalah saat aku menikah dan kini mempunyai dua Ibu. Ibu kandungku adalah penasehatku. Ibu mertuaku adalah tempatku berbagi cerita, aku bersyukur beliau begitu memahamiku. -Senangnya punya dua Ibu yang kukasihi-
  16. Setelah menikah dan tinggal sendiri, Ibu masih juga memikirkan rumahku. Boyong tanaman, suruh beli jam dinding yang gede, suruh ngecat rumah lagi biar fresh, dan ini itu melebihi rumahnya sendiri. -sampe bingung sendiri mana yang mau dilakuin duluan-
  17. Baru-baru ini aku mendengar Ibu bercerita pads suamiku, bahwa saat ayahku sedang melanjutkan pendidikan selama 1 tahun di luar kota (aku masih SD) banyak hal terjadi di keluarga besar kami hingga Ibu harus putar otak tentang keuangan agar tak membebani ayah yang sedang menjalani pendidikan. Ibu bilang bahwa saat itu sangat berat, bahkan untuk makan ibu hanya sanggup belanja lauk untuk aku dan adikku, sedangkan Ibu mengambil dedaunan di kebun yang bisa dijadikan sayur sebagai lauk beliau. -Sampai detik ini aku bahkan tak pernah tau masa kami pernah sesulit itu :(
  18. Sekarang meski aku telah menjadi "Ibu", tiap kali Ibu berkunjung kerumah kami Ibu tetaplah Ibu. Yang pagi-pagi ke pasar dan memasak di dapurku untuk keluarga kecil kami, membelikan bahan-bahan dirumah yang habis, menyiapkan cemilan untuk cucu-cucunya bahkan disaat kami masih terlelap. -aaah... Ibu-
  19. Ibu. Saat kami berkunjung menjengukmu, Ibu juga masih menyiapkan segala sesuatunya untuk anak-anaknya. Karena anak adalah peminta-minta sejati dan Ibu tetaplah Ibu, berapapun usia anaknya. -tempat Ibu tak akan tergantikan oleh apapun-

"Tuhan, terima kasih telah mengijinkan aku (dan suamiku) dilahirkan dan di didik oleh Ibu-Ibu yang luar biasa." 

Related

Omong Kosong 3944417232239391419

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item