Nilai Seratus

Guru : "Dua ditambah dua berapa Anak-anak?" Murid : "Empat, Bu guru..." Guru : "Yak, seratus untuk kalian s...

Nilai Seratus
Guru : "Dua ditambah dua berapa Anak-anak?"
Murid : "Empat, Bu guru..."
Guru : "Yak, seratus untuk kalian semua!"

Tentu Mommies sudah tak asing lagi dengan percakapan seperti di atas. Tak hanya guru, bahkan para orang tua di sekeliling kita sering kali memberi "nilai" seratus ketika si anak dapat menjawab pertanyaan dengan benar. 

Ya, seratus telah dikonotasikan dengan kesempurnaan bagi sebagian masyarakat kita. Namun cara pandang saya berubah setelah percakapan kami, saya dan si sulung saat makan siang tadi. Dengan lugunya, tiba-tiba ia bertanya, kenapa semua orang dewasa suka memberi seratus? Saya yang masih sedikit bingung pun meminta penjelasan lebih lanjut, "Kapan abang diberi seratus?" tanya saya. Si sulung pun mulai bercerita bahwa setiap ia ditanya oleh orang dewasa, seperti sang kakek atau orang dewasa lainnya, seringkali mereka mengatakan "Pinter, seratus!" untuk jawabannya. "Padahal habis itu abang ga dikasih uang 100 lho... Terus apa maksudnya bilang seratus?" tambahnya. See? Bahkan si abang pun tak paham bahwa seratus berarti jawabannya benar, atau mengesankan, atau sempurna, atau apapun itu yang dikonotasikan dengan kata "seratus". Hehe...

Putra kami memang tak pernah mengenal nilai seratus, karena baik kami sebagai orang tua maupun para guru yang membimbingnya tidak pernah menilai kemampuan dengan angka, melainkan dengan ungkapan Hebat, Bagus, Pintar, Kurang teliti, Kurang fokus, atau Harus lebih semangat. Tentunya sangat jauh berbeda dengan generasi saya yang sangat mengagung-agungkan nilai seratus, bahkan kalau perlu dipajang atau dikoleksi sebagai kebanggaan. Tak jarang, nilai seratus juga bisa dijadikan alat tukar untuk menaikkan uang saku. ^_^

Bahkan, ketika kurikulum 2013 yang menganjurkan raport berisi narasi (bukan angka) mulai diterapkan, para orang tua pun banyak yang ikutan gagap. Tak hanya guru yang mulai pusing menceritakan perkembangan tiap muridnya dalam bentuk narasi (bayangkan bila di sekolah negeri terdapat 40 siswa dalam satu kelas), banyak pula keluh kesah orang tua murid yang menyatakan, "Anak saya kok ga ada nilainya, sebenarnya dia pintar apa bodoh?", "Saya jadi bingung mau mengikutkan anak saya les apa, karena tidak tahu pelajaran apa yang nilainya masih merah?", atau "Kalau tidak ada rangkingnya begini, anak saya sebenarnya urutan ke berapa di kelasnya?", dan masih banyak ungkapan para orang tua gagal move on lainnya. Karena dulu generasi kita memang hanya diperkenalkan dua golongan murid, pintar atau bodoh? rajin atau malas? juara atau pecundang?

Mari kita mulai mengubah sudut pandang kita, sebagaimana Thomas Alfa Edison meminta redaktur meralat berita di media massa kala itu yang membuat headline "Edison berhasil membuat lampu pijar setelah 999 kali gagal dalam menemukan logam yang cocok dalam percobaannya", dengan "Edison berhasil membuat lampu pijar serta menemukan 999 logam baru dalam percobaannya".

Mari kita mulai mengubah sudut pandang kita, sebagaimana Thomas Alfa Edison meminta redaktur meralat berita di media massa kala itu yang membuat headline "Edison berhasil membuat lampu pijar setelah 999 kali gagal dalam menemukan logam yang cocok dalam percobaannya", dengan "Edison berhasil membuat lampu pijar serta menemukan 999 logam baru dalam percobaannya". Luar biasa bukan bagaimana dengan mengubah sudut pandang kita akan mendapati bahwa segala hal harus dilihat secara positif. Mendapat nilai seratus atau tidak, tak mampu mengubah kenyataan bahwa sesungguhnya anak-anak kita dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Jadi, mengapa kita tidak fokus pada kelebihannya ketimbang terus menerus menyesali kekurangannya?


Salam Hangat,






Related

Pendidikan Anak 6177273273643201496

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item