Pengenalan Uang Pada Anak

Image : amarhamdani.blogspot.com "Uang bukanlah segalanya, tapi uang bisa mempermudah kehidupan kita" Sebuah quote dari mot...

Pengenalan Uang Pada Anak
Image : amarhamdani.blogspot.com
"Uang bukanlah segalanya, tapi uang bisa mempermudah kehidupan kita" Sebuah quote dari motivator nasional, Mario Teguh tersebut tampaknya cukup menjelaskan tentang uang yang merupakan salah satu sarana untuk mempermudah kehidupan kita. Ingat, fungsinya hanya sarana mempermudah, jadi diharapkan dengan adanya uang kita akan lebih bebas untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Konsep seseorang tentang uang sebagian  besar dipengaruhi oleh bagaimana mereka diperkenalkan dengan uang sejak kanak-kanak. Apakah orang tua selalu menuruti keinginannya yang berhubungan dengan uang, ataukah semenjak kecil diajarkan bijak dalam membelanjakan uang, ada pula yang sudah ditanamkan bahwa berapapun uang yang kita peroleh, dari siapapun, sisihkan sebagian untuk berbuat kebaikan.

Lalu, kapan kita bisa mulai memperkenalkan uang pada anak? Pada saat anak telah paham kegunaan uang sebagai alat tukar, saat itu pula kita bisa memulai pengenalan uang pada anak, biasanya sekitar usia 5 tahun. Pengenalan disini bukan hanya mengajar berhitung dan menabung, namun juga nilai-nilai apa saja yang dapat ditanamkan dalam proses pengenalan uang pada anak ini.

Beberapa nilai berikut ini bisa Mommies tanamkan melalui proses pengenalan uang pada anak :

Uang sebagai alat tukar.
Walaupun anak usia 5 tahun belum terlalu pandai berhitung, tapi kita bisa mulai mengajaknya berbelanja, memperkenalkan berbagai pecahan mata uang, sampai nama-nama mata uang dari berbagai negara. Oiya, Mommies juga bisa mendownload video pembuatan uang via you tube sebagai tambahan referensi.

Tanamkan bahwa segala sesuatu yang kita dapat selalu disertai dengan usaha.
Sebagaimana anak harus berlatih sungguh-sungguh agar lulus ujian kenaikan tingkat dalam taekwondo, maka ia juga harus 'bekerja' agar bisa membeli mainan yang diinginkan. Kecuali kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan & perlengkapan sekolah), bila putra sulung kami menginginkan sesuatu maka ia harus membeli dengan uangnya sendiri. Uangnya dari mana? Ya dari bekerja di rumah. Misalnya? Membantu menyapu lantai, menyiram bunga, membantu menguras aquarium dll. Awalnya kami juga memberi 'upah' untuk menata tempat tidur, namun seiring berjalannya waktu kami memberi pengertian bahwa hal-hal seperti menata tempat tidur, membuang sampah pada tempatnya, merapikan mainan setelah dipakai, menaruh baju kotor serta merawat perlengkapan sekolah itu merupakan kewajiban. Jadi ia mulai beralih ke membantu mencuci motor, membantu membersihkan kebun, mengelap perabot rumah dll. Dan uang yang didapat dari 'bekerja' akan disimpan sendiri oleh si anak.

Butuh usaha lebih untuk mencapai tujuan besar.
Dari proses 'bekerja', anak jadi paham bahwa untuk membeli kertas binder ninja turtles ia hanya butuh uang Rp. 10.000,- sedangkan untuk membeli crayon dengan 60 variasi warna ia perlu mengumpulkan uang lebih dari Rp. 50.000,- sehingga ia harus lebih giat bekerja untuk mencapai tujuannya. Suatu hari saya mengantar Abang membeli crayon, sepulangnya dari toko, Abang mulai menghitung berapa uangnya yang tersisa. Dan tiba-tiba ia berjalan ke belakang, mengambil kanebo, dan mengelap lemari!! Saya dengan heran bertanya, "Abang baru sampe rumah kok udah elap-elap aja, rajinnya..." dan masih sambil melanjutkan pekerjaannya, si Abang menjawab "Abang mau rajin bekerja, soalnya uangnya tinggal sedikit" Wah.. sudah dewasa pangeran kecil saya! ^_^

Belajar menentukan prioritas.
Karena mengelola uang sendiri, terkadang anak jadi kepingin ini itu karena merasa bisa bekerja dan punya uang sendiri. Jangankan anak, kita saja yang orang dewasa suka kalap kalau lagi banyak uang. Hehe... Seperti putra kami yang suatu hari ingin membeli travel bag kecil dengan uangnya, lain waktu ia ingin membeli kamera polaroid. Kalau sudah begitu kita tinggal menekankan, sebenarnya Abang mau beli yang mana? Mana yang lebih penting? Mengapa? Dan dari situlah anak mulai belajar berpikir untuk menentukan skala prioritas.

Belajar membuat perencanaan.
Keinginan dan minat setiap anak berbeda-beda, maka hal yang di utuhkan pun berbeda antara satu anak dengan anak lainnya. Dari proses pengenalan uang pada anak, diharapkan Mommies akan lebih tau minat anak dengan menanyakan apa tujuan dan fungsi dari setiap barang  maupun kegiatan yang ia inginkan dengan sarana uangnya. Mintalah anak bercerita, tau mainan / kegiatan ini dari mana? Kenapa ingin dibeli / ingin ke tempat itu? Kalau sudah dibeli akan dipakai apa / tujuannya apa? Abang jadi lebih pinter apa? Kalau anak sudah lebih besar, arahkan seperti membuat presentasi. Karena semakin besar tak jarang keinginan anak juga berbiaya tinggi, bukan sekedar mainan lagi kan? Setelah mendengar penjelasan anak, baru orang tua berdiskusi apakah bisa diterima atau dialihkan ke hal lain, apakah perlu subsidi orang tua dan lain sebagainya. 

Pengenalan Uang Pada Anak
Kamera second Abang yang masih tertulis nama pemilik sebelumnya

Bersyukur atas semua yang kita peroleh.
Beberapa waktu lalu si Abang ingin membeli kamera polaroid, yaitu kamera yang langsung keluar hasilnya saat di jepret. Setelah diskusi kenapa dan untuk apa, kami mulai survey harga kamera tersebut. Rata-rata kamera polaroid baru dijual dengan harga di atas satu juta rupiah, sementara uang yang Abang punya tidak mencapai satu juta. Akhirnya kami putuskan untuk membeli kamera second, dengan kondisi baik dan masih bisa dipakai. Abang tetap senang dan bangga dengan kameranya karena dibeli dengan hasil usaha sendiri, tujuan membeli kamera pun masih bisa tercapai. Melalui pengalaman ini, anak diajarkan untuk tetap bersyukur akan segala hal yang ia miliki, tetap menerima dengan senang dan belajar untuk tidak memaksakan kehendak yang diluar kemampuan kita.

Dan masih banyak nilai-nilai positif lainnya yang dapat Mommies ajarkan pada buah hati. Mari belajar bersama...

Salam Hangat,


Related

Tips 3903140811056640301

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item