Mengenal Cara Belajar Anak (Learning Style)

Untuk Mengenali Gaya Belajar atau Learning Style Anak, ada tiga poin penting, yakni : Apa itu gaya belajar atau learning style ?...


Mengenal Cara Belajar Anak (Learning Style)
Untuk Mengenali Gaya Belajar atau Learning Style Anak, ada tiga poin penting, yakni :
  1. Apa itu gaya belajar atau learning style?
  2. Teori gaya belajar berbasis modalitas belajar dan kecerdasan majemuk atau multiple intelligences.
  3. Cara mengenali dan menstimulasi gaya belajar anak.
Learning Style adalah  suatu cara atau pola yang sistematis, mulai saat informasi atau pengetahuan (stimulus) diterima oleh panca indera kemudian diolah otak secara tepat dan efektif sehingga informasi atau stimulus tersebut mampu bertahan lama di dalam Long Term Memory (LTM) serta bermanfaat bagi proses belajar anak.

Setiap individu memiliki learning style yang unik dan berbeda, tergantung pada faktor internal atau bawaan lahir maupun faktor eksernal atau stimulasi dari lingkungan terutama orang tua semenjak anak usia dini.

Ada dua teori learning style yg akan kita bahas kali ini :
A. Teori Modalitas Belajar dari  Barbe (VAK model), yang kemudian dikembangkan oleh Fleming menjadi VAR/WK Model. VAK Model meliputi Visual, Auditori dan Kinestetik. Teori ini menekankan pada peran indera yang dimiliki setiap orang sejak lahir. 

VISUAL 
Terkait kemampuannya dalam menggunakan indera matanya untuk melihat dan mengolah info atau pengetahuan dalam bentuk gambar, warna, dan tulisan. Anak visual cenderung lupa nama orang tapi tidak lupa wajah orang yang dikenalnya. Tipe orang yang detil dalam mengamati dan menjelaskan. Sangat suka dan nyaman saat menulis, menggambar, menyusun balok, puzzle, merancang bangun, main game atau lihat acara televisi maupun VCD. Saat di kelas lebih suka duduk di urutan depan dibanding di belakang. Anak ini angat rapi dan sistematis, termasuk anak yang mudah jika diminta diam dan berkonsentrasi. 

AUDITORI 
Terkait kemampuan anak dalam menggunakan indera pendengarannya dalam menerima, lalu melanjutkan dan mengolah info ke otak. Anak ini suka belajar sambil bergumam, bersenandung atau mengeraskan suaranya saat membaca ataupun saat melakukan aktivitas apapun, suka mendengarkan musik saat belajar, suka dan sering bertanya dan tidak suka apabila prtanyaannya tidak dijawab, sehingga akan terus bertanya sampai dijawab. Dia lebih suka jika diminta mempresentasikan atau menjelaskan segala sesuatu dg menggunakan bahasa.

KINESTETIK
Terkait kemampuan anak dalam menerima dan mengolah stimulus dengan cara bergerak atau menggunakan fisik atau anggota tubuhnya, anak ini tipe anak yang aktif atau banyak gerak bahkan sangat aktif. Namun perlu dicatat anak ini bukanlah anak hiperaktif. Mereka lebih suka belajar langsung memegang atau memanipulasi media belajarnya, dengan praktek atau terjun ke lapangan. Anak ini tidak suka mendengarkan penjelasan orang tua atau guru dalam bentuk ceramah maupun membaca tulisan. Dia lebih suka dijelaskan dengan media pembelajaran yang konkrit, bisa disentuh atau pegang sehingga menghasilkan suatu produk atau hasil karya..

Tambahan gaya belajar VAR/WK model Fleming yakni READING/WRITING
Terkait dengan kemampuan anak dlm mengolah info dlm bentuk bahasa dg cara membaca maupun menulis.

Teori VAK maupun VARWK memiliki kelemahan, karena jika anak memiliki ketunaan seperti tuna netra, maka dia tdak akan memiliki gaya belajar visual, begitu pula anak anak tuna daksa atau cacat fisik, misal tidak memiliki kaki, maka anak ini gaya belajarnya bukan kinestetik. Namun pendapat tersebut kurang tepat, oleh karena itu pada perkembangan selanjutnya lahir teori multiple intelligences yang meyakini bahwa anak tuna daksa pun mampu memiliki gaya belajar kinestetik dan mmg terbukti byk anak tdk punya kaki namun bisa jadi atlet tenang.

Mengenal Cara Belajar Anak (Learning Style)
sumber : edukasi.web.id


B. Teori Gaya Belajar berbasis Multiple Intelligences dari Howard Gardner. 
Learning Style berbasis teori Multiple Intelligences (MI) cakupannya lebih luas, karena dapat diterapkan juga untuk orang yang kurang secara fisik atau tidak memiliki modalitas belajar Visual krn tuna netra, Auditori krn tuna rungu maka akan lebih baik kita gunakan Learning Style berbasis Multiple Intelligences

Gaya belajar menurut konsep ini ada 8,  yakni kinestetik dengan bergerak atau praktek langsung; linguistik dengan membaca, menulis, bicara maupun diskusi; visual spasial dengan melihat gambar, menyusun, menggambar; musikal dengan mendengarkan musik, bersenandung; logika matematik dengan membaca dan memahami konsep pola tertentu, melakukan analisa masalah, penelitian dan percobaan; naturalis dengan mengenal alam, tumbuhan, hewan, kegiatan outdoor; intrapersonal dengan mengevaluasi, memahami diri, membuat rangkuman; serta interpersonal dengan belajar kelompok dan bekerjasama.

Cara mengenali gaya belajar berbasis modalitas dan multiple intelligences dapat dilakukan dengan mengamati aktivitas sehari-hari anak. Amati aktivitas yang paling sering diulang, paling diminati atau disukai anak sehingga anak merasa nyaman dan betah. Orang tua juga dapat menggunakan panduan ceklis atau kuesioner tentang gaya belajar berbasis multiple intelligences, yang sekaligus juga dapat mengetahui potensi kecerdasan yang dominan pada anak. 

Yang terpenting bagi orang tua adalah bukan sekedar mengenali gaya belajar anak, namun menstimulasi anak usia dini dengan beragam aktivitas yang menstimulasi seluruh aspek perkembangannya atau gaya belajarnya. Karena setiap anak punya kedelapan gaya belajar sesuai teori multiple intelligences tersebut.

Fokus stimulasi pada anak usia dini adalah pada aspek fisik motorik kasar, dengan mengajak dia berolahaga, berlari, melompat, merangkak, memanjat, main sepeda. Fisik motorik halus, spt menggambar, mewarnai, meronce, main puzzle, lego. Stimulasi aspek emosi dan sosial melalui permainan yang mengandung unsur kerjasama, kompetisi, saling berbagi saat main, sportif, antri nunggu giliran main, serta sisipkan materi kognitif yang mengasah logika berpikir serta kemampuan problem solving nya.

Semakin bertambah usia anak, semakin matang perkembangan aspek fisik motorik, emosi sosial dan kognitifnya, terutama saat menginjak usia Sekolah Dasar, saat inilah orang tua akan semakin dapat melihat pola gaya belajar yang dominan pada anaknya dengan mengamati aktivitas sehari-hari anak.

Setiap anak itu unik dengan gaya belajar nya yang dominan dan kombinasi dengan gaya belajar lainnya. Dengan teori  modalitas belajar, anak punya 3 gaya belajar yaitu visual, audotori, kinestetik. Namun akan lebih baik dan lengkap jika kita gunakan teori Multiple Intelligences dimana tiap-tiap anak punya 8 gaya belajar dari mulai yang paling dominan sampai yang dominan.

 "tak ada pelajaran yang sulit ketika gaya mengajar guru/ortu disesuaikan dengan gaya belajar siswa/anak" 

Gaya belajar merupakan kunci atau pintu utama kesuksesan anak dalam menjalani hidupnya. Jika guru dan ortu memahami gaya belajar siswa dan anaknya maka akan cenderung sama frekuensi antara gaya mengajar guru / orang tua dan siswa / anak, dengan demikian tak ada pelajaran yang sulit ketika gaya mengajar guru/ortu disesuaikan dengan gaya belajar siswa/anak.


Sumber : Resume Diskusi Grup Homeschooling Muslim Nusantara Semarang.

Hari : Jumat, 11 April 2015
Waktu: 15.00 - selesai
Narasumber: Dyah Indah Noviyani 

(Lulusan S1 Psikologi Undip dan S2 Psikologi Pendidikan UI.
Ibu 4 anak yg baru resign dari dosen PNS UNNES Fak Psikologi. Saat ini aktif mengelola Paud Day Care Bintang Juara, LPK Smart and Fun Home, Biro Psikologi Qualifa)
Moderator: Lillah
Notulen: Aan

Semoga Bermanfaat ^_^

Related

Tips 8209430706540042740

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item