Rasakanlah, Belajarlah

Rasakanlah, Belajarlah .. Saat merasa sakit, kita jadi lebih menghargai kesehatan. Saat merasakan gagal, kita jadi lebih menghargai...

Rasakanlah, Belajarlah
Rasakanlah, Belajarlah..
Saat merasa sakit, kita jadi lebih menghargai kesehatan.
Saat merasakan gagal, kita jadi lebih menghargai kesuksesan.
Saat merasakan kesendirian, kita jadi lebih menghargai kebersamaan.


Rasakanlah, Belajarlah..
Adalah pelajaran hidup pertama yang mengena di benak saya. Saat kecil saya termasuk anak yang suka membebani diri sendiri. Ditambah dengan adanya sistem rangking dalam pendidikan kita, membuat beban tersendiri untuk bisa selalu menjadi nomor satu, peringkat satu. Sepertinya beban itu saya ciptakan sendiri, karena kedua orang tua saya bahkan tak sekalipun pernah berkata bahwa saya harus mendapat peringkat pertama.


Lalu apa yang terjadi? Setiap akan menghadapi ujian, saya selalu sakit sejak dua minggu sebelumnya. Saya bisa menangis saat belum memahami pelajaran atau konsep tertentu. Mungkin lebih kepada menyalahkan diri sendiri. Terlebih dengan sistem mengajar kedua orang tua yang "ketat" selama masa ujian, membuat saya secara tidak sadar terbebani dengan ujian dan segala ketegangannya. Saya katakan tidak sadar, karena anak usia lima tahun tentu belum mengerti dengan kosa kata 'beban'.

Hal itu berlangsung dari tahun ké tahun semenjak saya menerima rapor yang disertai kata "rangking". Sampai ketika duduk di kelas lima Sekolah Dasar saya mulai berpikir. Haruskah saya selalu mendapat rangking satu? Siapa yang menyuruh? Apa jadinya kalau peringkat saya turun? Seperti apa kira-kira rasanya? Apakah ibú atau Bäpåk akan marah? Segala pertanyaan itu berulang kali terngiang di benak saya.

Dan entah disengaja atau tidak, pembagian rapor kelas lima catur wulan ketiga menjadi titik balik bagi saya. Karena ternyata saya mendapat rangking lima!! Saya, yang dari taman kanak-kanak mewajibkan diri untuk selalu menjadi rangking satu, mendadak merosot jauh ké rangking lima! Saya masih ingat raut wajah kecewa dari wali kelas saya, teman-teman yang membicarakan saya di belakang, sampai para orang tua yang ikut berbisik-bisik.

Ingin tau bagaimana rasanya berada di peringkat lima bagi saya saat itu? Sungguh melegakan!!! Seperti bisa menghirup udara dengan lebih bebas, seperti melepas sesuatu yang selalu menggelayut di punggung saya, seperti merasa menjadi manusia normal, seperti.... Ahhhh, ternyata saya bisa juga dapat peringkat lima! Dan itu tidak apa-apa, bukan dosa, bukan suatu kebodohan, orang tua bahkan masih memuji saya, tak ada kekecewaan dari bapak ibu yang telah saya nantikan dengan penuh rasa penasaran, dunia tidak runtuh, hati saya tidak hancur, tidak ada yang salah dengan merasakan kegagalan.

Sejak saat itu saya tak lagi merasa wajib meraih rangking satu, orang tua saya masih tetap menyayangi saya, bahkan dengan begitu baiknya mereka "memberi kepercayaan" kepada saya untuk dapat belajar sendiri bahkan di saat-saat ujian sekalipun, sehingga saya tak lagi takut dengan ketegangan dan aturan belajar yang ketat di musim ujian. Dan yang lebih keren lagi, tak ada lagi sakit musiman menjelang ujian! Senangnyaaa...

Di kelas enam, saya mulai merasakan rangking dua di catur wulan pertama, rangking satu (lagi) di catur wulan kedua dan rangking tiga saat EbtäÑås. And everything is fine, naik turun tetaplah hasil usaha saya sendiri. Saya pun menjadi lebih mandiri dan bangga pada kemampuan sendiri dengan belajar dari kegagalan yang pernah saya rasakan. Saya juga tak lagi peduli dengan orang yang berkata "Kok, kalah dengan si A, si B, dst". Saya merasa menjadi anak kecil yang lebih kuat.

Jadi, kegagalan tak selamanya adalah hal buruk atau tanda kiamat. Cukup Rasakanlah, Belajarlah.. ^_^



Related

Omong Kosong 2048872128149490396

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item