Munculkan Yang Baik, Hilangkan yang Buruk

PENGANTAR Alhamdulillaah pada saat ini saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Teman-teman, untuk saling berbagi ilmu dan pen...

Munculkan Yang Baik, Hilangkan yang Buruk
PENGANTAR
Alhamdulillaah pada saat ini saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Teman-teman, untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman seputar tema bagaimana menanamkan karakter baik (membiasakan anak berperilaku baik) atau menghilangkan perilaku negatif pada anak. Saat ini saya akan buka diskusi tentang ini dengan mengenalkan tahapan perkembangan bayi hingga usia balita. Mengapa pentingnya pengenalan tahapan ini? Karena pengenalan karakter dan perilaku2 baik memang dimulai sejak awal bayi lahir. Berikut ini penjelasannya..

Menurut Erik Erikson (1963), ada 8 tahap perkembangan psikosial manusia. Sejak usia bayi hingga usia balita, ada 3 tahap, yaitu:

1. Trust vs Mistrus
Tahap ini berlangsung pada masa oral, pada umur 0-1 tahun atau 1,5 tahun (infancy). Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT BAYI PERCAYA KEPADA LINGKUNGAN. Dalam Islam, fase ini adalah masa bayi (0 hingga 2 tahun). Pada fase ini orang tua anak perlu untuk mengembangkan kasih sayang secara dua arah dimana ibu memberikan kasih sayangnya dan dalam waktu bersamaan juga menstimulus / mengembangkan kemampuan anak memberikan respon terhadap kita.

Caranya?
a. Caregiver SIAP untuk SELALU bersikap penuh kasih sayang, lembut dan sabar kepada anak.
b. Peka kebutuhan bayi. Tetap sabar, penuh kasih sayang, dan lembut dalam menstimulus fisik anak, menerima perasaan-perasaan bayi dan tidak membiarkan bayi menangis terlalu lama. 
c Tidak membandingkan-bandingkan perkembangan bayi karena tiap bayi punya perkembangan unik masing-masing. 
d. Komunikatif dengan bayi. 
e. Perbanyak sentuhan fisik yang penuh kasih sayang, pelukan, ciuman, usapan, belaian, dll.
f. Perbanyak juga kata-kata positif

2. Otonomy vs shame and doubt (Otonomi vs perasaan malu dan ragu-ragu)
Tahap ini  berlangsung mulai usia 1-3 tahun (early childhood). Dalam Islam, masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah). Pada fase inilah merupakan fase penting memberikan pondasi dasar tauhid pada anak melalui cara aktif agar anak terdorong dan memiliki tauhid aktif dimana anak mau melakukan sesuatu yang baik semata menurut Allah. Fase ini fase penting penanaman pondasi bagi anak. Tinggal cari cara nih bagaimana menerapkannya. Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT ANAK PERCAYA DIRI.

Caranya?
a. Caregiver selalu berkata- kata positif, siap untuk menyemangati anak ketika melakukan sesuatu, memberikan pujian, bersyukur, berterimakasih untuk anak.. dan tentunya, penting bagi caregiver untuk punya stok perbendaharaan kata yang tepat untuk setiap situasi. 
b. Menyiapkan rumah yang aman agar anak mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk bereksplorasi.
c. Berempati dan melatih anak2 untuk mengenali emosinya, apakah ia sedang marah, kesal, senang, sedih, bahagia, dll
d. Sejak anak memasuki usia 2 tahun, fase ini adalah waktunya bagi ortu mengenalkan 'peraturan' tegas dan konsisten namun tetap dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, karena masa-masa ini apalagi setelah fisik nya lebih sempurna, anak akan akan semakin giat mengeksplorasi ini itu dan kita akan mulai mengalami sendiri bagaimana tantrum pada anak =))
Mengapa sejak awal kita harus lembut?
Karena harapannya, sejak awal kita ingin memiliki anak yang berhati LEMBUT. sehingga kalau anak 'macem2' di usia ini dan ke depannya, kita ngga perlu ngomel2 luar biasa untuk mengingatkannya.. 
e. Orang tua terus berlatih untu berpikir positif..! tidak judging apalagi labelling

3. Inisiatif vs Guilt ( Inisiatif vs rasa bersalah)
Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age). Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah penanaman semua nilai-nilai/karakter baik dalam berbagai situasi dengan cara yang baik pula.

Caranya?
a. Dengan mengajarkan dan menjadi contoh (uswah/keteladanan) dalam mengerjakan amalan -amalan utama, yaitu bertauhid pada Allah, sholat tepat waktu, berbakti pada orang tua
b. Mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan fisiologis diri dan menjaga diri
c. Mengajarkan anak-anak untuk mengenali 'fungsi' nya dalam lingkungan
d. Terus berikan kebebasan dan arahan pada anak untuk bereksperimen dalam lingkungannya, 
e. Aturan terus berikan dengan konsisten.
Keterbatasan kognitif anak membuat anak tidak bisa langsung mencerna dan mengaplikasikan nilai2 baik yang kita ajarkan, benar-benara butuh kesabaran dan pengulangan-pengulangan, agar mereka dapat 'deal' dengan aturan lingkungan, dapat mulai mampu untuk mengontrol dan menguasai diri ketika ingin sesuatu. Nah, bagaimana jika perilaku negatif anak sudah terbentuk? Bagaimana cara menghilangkannya? Pola pikir yang harus dipahami disini adalah, karakter anak masih akan terus berkembang pada masa-masa selanjutnya dan belum menjadi pribadi yang ajeg atau menetap, hingga mencapai usia 40 tahun nantinya. Oleh karena itu, orang tua harus terus bersemangat dan memberikan stimulus yang positif pada anak.

Untuk anak usia di bawah 5 tahun, perilaku negatif yang mereka lakukan, biasanya adalah berupa :

1. Coba-coba, dalam rangka mengeksplorasi kemampuan diri mereka
Jika yang terjadi adalah yang pertama, yang perlu dilakukan adalah menyiapkan lingkungan yang aman bagi anak. Sejak awal menjelaskan pada anak apa yang boleh atau tidak. Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, langsung distop dengan cara yang baik. Gunakan kalimat 'mantera' seperti
“Semua ada caranya”
“Semua ada waktunya”
“Semua ada tempatnya”
dengan penjelasan yang diberikan sesuai dengan usia mereka.
Setiap kali anak berlaku baik, beri pujian 'setinggi-tingginya'
Jika anak berlaku tidak baik, beri respon dengan nada biasa, misalnya 'Oh..'.. 'tidak, itu berbahaya'.. Jika anak melakukan berulang-ulang berarti anak masih ingin terus melihat reaksi kita, terus konsisten berlaku 'cool' untuk tidak memberikan ruang 'reward' bagi anak.

2. Coba-coba untuk meminta perhatian dari orang tua yang lalai atau cuek
Respon orang tua, membuat anak belajar. Jika orang tua memberikan kasih sayang yang cukup, biasanya anak akan sangat mudah dikendalikan. Jika orang tua cenderung mengabaikan, anak akan belajar 'ga ada gunanya menangis... kalau sedih ya tahan sendiri, alihkan ke hal lain karena menangis pun orang tuaku ngga akan peduli. Hal ini mungkin terkesan 'enak' untuk ortu karena anak akan 'sibuk' sendiri, tidak menganggunya.. Namun di kemudian hari akan menjadi bibit-bibit perilaku negatif atau antisosial yang sangat menyulitkan orang tua. Jika orang tua tidak konsisten, misalnya 1 waktu perhatian, di waktu lain tidak, hal ini akan membuat anak belajar bahwa untuk mendapatkan perhatian orang tua, ia harus menangis dulu, merengek dulu atau melakukan hal lain yang membuat orang tua 'menyerah'.

3. Melihat contoh yang buruk dari lingkungan dan akhirnya menjadi kebiasaan
Jika hal ini merupakan hasil dari kelalaian orang tua yang mungkin awalnya tidak disadari, untuk mengubahnya benar-benar dibutuhkan penerimaan diri dari orang tua untuk memaafkan anaknya, juga terutama memaafkan dirinya karena tidak ada gunanya menyalahkan diri, menyalahkan masa lalu yang tidak akan terulang. Penting bagi orang tua untuk berempati (menempatkan diri pada posisi anak) ketika akan memberi respon. Minta maaf pada anak, memberikan sentuhan lembut dengan tulus dan mengajak anak untuk berubah bersama-sama. Untuk anak usia di bawah 5 tahun in syaa Allah hal ini masih cukup mudah dilakukan. Namun untuk usia di atas 8 tahun, butuh usaha yang lebih keras pada orang tua untuk membuat anak dapat bersikap baik. Wallohu a'lam.


SESI TANYA JAWAB
1. Bunda Allania:
"saya allania, saat ini blm memiliki momongan, jadi yg ingin saya tanyakan adalah kasus dsekeliling saya. bagaimana dengan anak yg diasuh oleh keluarga besar? ketika yg turut serta dlm pengasuhan tidak hanya orang tua, namun juga nenek, dan saudara2 lain, yang otomatis anak akan dbanding2kn dengan anak yg lain. terima kasih.."

Jawaban :
Mba Allania, Pilihan terbaik memang adalah mandiri, tinggal di rumah sendiri, tanpa campur tangan pihak lain. Hanya saja hal tersebut tidak selalu dapat dilakukan oleh setiap keluarga. Oleh karena itu orang tua, ayah-ibu harus kompak dan mengkondisikan keluarganya sejak jauh2 hari. Mengenai nilai2 apa yang ingin dibentuk pada anak, situasi apa saja yang ingin dikondisikan untuk anak. Jika tingal di lingkungan istri, istri yang lebih harus berperan kuat mengkondisikan keluarganya. Jika dengan suami, suami yang lebih dominan mengambil perannya. Setidaknya ada persiapan dari orang tua untuk membantu mengkondisikan keluarga

2. Bunda Meydiana:
Assalamualaikum mb. Innu. Pola pikir yang harus dipahami disini adalah, karakter anak masih akan terus berkembang pada masa-masa selanjutnya dan belum menjadi pribadi yang ajeg atau menetap, hingga mencapai usia 40 tahun nantinya. Oleh karena itu, orang tua harus terus bersemangat dan memberikan stimulus yang positif pada anak." Makjleb banget buat saya...mb. Innu. Artinya orangtua yang sampai USIA 40 belum mengubah/ mengusir perilaku buruknya, akan menetap hingga di masa tua. Mohon pejelasannya mb. Innu...jazakillah.

Jawaban :
Usia 40, manusia sudah memasuki fase dewasa madya yang artinya secara kepribadian, kebiasaan, harusnya sudah lebih ajeg sebagai hasil dari pola asuh lingkungan, dan pengalaman2 yang menempa selama ini. Oleh karena itu akan cenderung sangat sulit untuk diubah. Perilaku buruk akan menetap hingga tua?Wallohu a'lam. Kalau hal ini in syaa Allah lebih berkaitan dengan hidayah yang Allah berikan dan cabut pada siapapun yang Allah kehendaki. Oleh karena itu sebisa mungkin hindarkan rasa putus asa dari rahmat Allah.. Terus berdoa pada Allah untuk kebaikan diri2 kita, keluarga, dan orang2 yang kita sayangi.. =)) Wallohu a'lam

3.Mbak Nunung :
"Sy Nunung, ibú 2 putra. Putra sulung sy 7y, karakterny keras & dominan. Cocok sbg seorang pemimpin. Hanya saja cara ìa berbicara sering Kali terkesan membentak atau ngotot, kurang bs menyampaikan sesuatu secara halus. Dirumah perlahan2 sy biasakan tdk menanggapi saat berbicara dg intonasi keras, namun kadang jg muncul kembali sifat aslinya.
Bagaimana menghilangkan yg buruk ini mb.innu? Mohon saranny.."

Jawaban :
Keras dan dominan sepertinya cenderung ke sifat bawaan yang tidak dapat diubah ya Mba. Namun dapat dikontrol dengan perilaku. Berbeda dengan karakter yang lebih kepada hasil bentukan dari pola asuh. Cara yang bunda lalukan sudah cukup tepat, tinggal dikonsistenkan saja. Menjelang tidur ajak anak muhasabah diri, dg bahasa yang mudah dipahami anak. Semua ada caranya. Termasuk gaya berbicara. Tentang keutamaan2 berbicara yang lembut. Tentang wibawanya Rasulullaah yang berbicara dengan halus, dsb. Ajak anak membaca buku atau menonton video singkat bagaimana cara berbicara yang baik, dll. Ajak anak berdoa semoga anak mampu berbicara lemah lembut, tidak terburu2. Jadi lakukan variasi juga dalam memantapkan hal ini. Karena cukup sulit dalam mengubah sifat namun semoga Allah mudahkan dan selalu lembutkan hati kita dalam kebaikan. Aamiin

Tanggapan Bunda Nunung :
Alhamdulillah, utk meneladani Rasulullah yg berwibawa dg berkata lemah lembut & menonton video Cara berbicara yg baik mmg blm pernah kami coba. Jazakillah saranny mb. Innu..

4. Bunda Qonitah :
"gmn cara ngrubah sikap kita sebagai orang tua yang ga sabar dan akhirnya emosi ngadepin anak, trimakasih banyak. anak sy 3, yg 1 umur 6th, ke 2 umur 4th, n trakhir umur 1th..kedua anak sy yg besar sprt nya dua2nya kinestetik.."

Jawaban :
Subhaanallah.. Sabar memang 'wajib' bagi orang tua ya bunda. Karena bagaimanapun orang tua adalah teladan, contoh yang sangat berpengaruh pada anak. Bgaimana orang tua dapat berharap memiliki anak2 yang sabar jika dirinya sendiri tidak. Mungkin bunda lebih baik fokus ke bgaimanna membentuk anak yang baik daripada fokus ke diri bagaimana untuk dapat berubah. Bunda tulis besar2 sebagai alat bantu mengingat di saat diperlukan"Jangan Marah, ingat Allah...!"
Marahnlah hanya pada hal2 yang membuat Allah marah. Kalau pada hal2 sehari2 yang tidak mengganggu hak Allah, tenang saja. Prinsipnya begitu. Hindarkan diri dr capek, mengantuk, dsb. Pastinya sulit, tapi bunda dapat mempelajari tentang manajemen marah, relaksasi dan mencoba mempraktekkannya. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di www.jendelaummahat.blogspot.com. Semoga Allah mudahkan

5. Bunda Ninies :
"Karena kedangkalan ilmu parenting saya di awal memiliki Baby atau bahkan kekurangsiapan saya utk menjalankan peran sebagai ibu, tanpa saya sadari, dulu saya sering membentak dan memaksa putri saya yg skrg berusia 5 tahun untuk nurut sama ortu. Tujuan saya baik, tp ternyata cara saya yang kurang tepat. Setelah saya berburu ilmu2 parenting, saya menyadari atas kesalahan cara saya, dan utk putri kedua saya (2 tahun), saya sdh bisa menerapkan ilmu2 pengasuhan dan ternyata dampakY sungguh dahsyat bagi perilaku anak, meski sbenarnya si adik berwatak lebih keras dr si kakak tp saya sdh dpt mencoba cara lebih efektif. Meski demikian, mungkin tanpa saya sadari,,,beberapa cara saya sdh tersimpan di memory sang kakak, shg ketika saya m'coba utk mengajak kakak berlaku lembut kpd si adik,,, kadang masih sering saya temui si kakak bentak dan maksa adikY pd saat2 tertentu walau kalau lg mood-Y baik,,,si kakak terlihat sayang sama adikY,,, bagaimana agar sikap bentak dan maksa tdk terlanjur tersimpan di bawah alam sadar si kakak??"

Jawaban :
Kakak saat ini sudah 5 tahun ya Bunda. Tidak apa2, karena sudah terjadi, mari kita ambil hikmahnya dulu sambil trus berdoa semoga Allah mudahkan. Masih banyak kesempatan untuk mengubah kebiasaan kakak, in syaaAllah. Pelan2 saja. Bunda perlu melakukan penerimaan dan memaafkan diri sebaik2nya. Dan jangan ragu untuk meminta maaf kepada kakak...
Persering pujian yang melibatkan aspek2 tertentu yang ingin bunda bentuk. Misalnya memanggil kakak dengan sebutan kakak anak penyabar bunda, kakak Anak bunda yg bicara dg lemah lembut, kakak yg lembut hatiya, kakak yang penyayang. Dsb. Jadi tidak hanya mengtakan kk sholeh/ sholehah, Kk hebat, pintar. Setiap kali memuji juga usahakan dengan kata2 yang membangun karakter/pribadi anak. Tidak hanya pintar atau hebat. Lakukan penerimaan thd kk bahwa saat ini kk masih belajar untuk mengubah pola asuh dulunya karena kk hanya mengimitasidan belum paham dengan sempurna hal2 baik, buruk yang ia lakukan. Rasakan ketulusab di hati bunda setiap kali mengingatkan kk in syaa Allah ketulusan itu akan terasa juga di kk dengan perilaku bundanya yang baik2. Perbanyak interaksi dg kegiatan2 yang membangun akhlak/ karakter/ perilaku baik.. Manfaatkan moment2 yang terjadi dan sediakan waktu khusus untuk kk. Semoga Allah mudahkan. Semangat ya bunda..

Tanggapan Bunda Marita :
Seringkali memang anak sulung menjadi korban "kekudetan" dan "coba-coba" orang tua ya... semoga kita bisa menjadi ibu2 yang lebih baik untuk anak2 kita. Bunda Ninies, sudah puaskah dengan jawaban dari mbak Innu? Jika sudah, saya akan lanjut ke pertanyaan berikutnya dari Bunda Anik.. bahkan termin kedua sudah ada yang antri juga nih, semoga waktunya cukup ya :)

6. Bunda Anik :
"Apa yang harus dilakukan ibu jika anak usia 5th berperilaku buruk di depan umum padahal sdh membuat perjanjian sebelumnya?"

Jawaban :
Anak sudah berjanji bukan bearti menjadi garansi bahwa anak pasti anak baik. Namun menjadi media, alat bantu, alarm, pengingat yang membantu anak dan orang tua untuk melatih konsistensi. Ketika anak sudah berjanji tugas orang tua adalah memahamkan ttg hal tersebut bukan menagih. Jangan membuat anak malu di depan umum, cukup bersikap cool di depan anak. Jika anak yang menangis meraung2 sendiri (bukan bunda yang membuatnya menangis) biarkan saja.. Trus latih anak untuk konsisten. Karena anak butuh waktu dan konsistensi dari orang tua. Barokallohu fiikum 

7. Bunda Titin:
"Assalamu'alaikum mb innu....
1. Anak saya yg pertama 14thn, anaknya pemalu. bagaimana mengarahkan anak spy menjadi malu yg baik.
2. Ank ke dua 6thn, perilaku dirmh dgn di sekolah berbeda. Dirumah dia anak yg aktif tp di sekolah jd anak pendiam. Knp anak ke 2 sy ini bisa berbeda ya mbak. Trima kasih..."

Jawaban :
1. Semua ada caranya. Semua ada waktunya. Semua ada tempatnya dsb. Pahamkan anak apa2 saja yang perlu malu atau tidak. Berikan penjelasan dengan contoh nyata. Ayah percaya diri melakukan... Ummi.... Beri masukan anak mengenai kelebihan2nya. Terus jalin kedekatan dan tidak memaksa anak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Selalu tawarkan, berikan kesempatan dan biarkan anak memilih. Persering ucapan maaf, tolong, terimakasih sesuai dengan sikonnya. Persering ungkapkan rasa bangga bunda dan ayah kepada anak untuk memupuk rasa percaya dirinya. Gali minat dan hobinya dan kembangkan (beri kesempatan anak mengeksplorasinya). Yakinlah tiap anak pasti punya hal yang menjadi kelebihannya termasuk kakak.. Apalagi saat ini kk sudah memasuki usia pubertas dg kondisi teman2 dan lingkungan yang sudah berbeda lagi. Kk butuh dukungan dan kepercayaan dari orang tua. Bukan paksaan tekanan untuk melakukan sesuatu agar tidak disebut pemalu oleh ortunya.

2. Anak butuh merasa aman dan nyaman di sekolahnya untuk dapt memnculkan dirinya seutuhnya. Atau bisa jadi itu merupakan cara anak untuk beradaptasi dengan sekolahnya. Jika hal ini tidak merasa menganggu in syaa Allah bukan masalah. Namun jika dikarenakan anak merasa tertekan, ada masalah baik dg teman atau guru atau kesulitan dg pelajaran dll yang pada akhirnya berpengaruh oada motivasi belajrnya, semangat datang ke sekolahnya menjadi malas2n aau lainnya, berarti ada yang harus diperbaiki. Jika tidak ada trus tumbuhkan PD anak dg dukungan dan motivasi. Berikan anak kepercayaan, bukan malah beban atau tuntutan, paksaan kalau di sekolah anak harus begini atau begitu. Semoga cukup menjawab ya Bunda =)

Tanggapan Bunda Titin :
Anak semangat pergi sekolah, enjoy. Cm disekolah pendiam sekali.

Jawaban :
Kalau begitu memang tanya anak, apakah ada yang maundiceritakan? Ada masalah? Kalau menurut anak tidak ada masalah orang tua tidak perlu menganggap itu masalah. Bisa jadi itu merupakan bagian dri adaptasinya dan anak memang butuh waktu. Ada anak2 yang lebih nyamab menjadi pengamat saja di luar rumah. Selagi itu membuat anak nyaman (walau mungkin tidak sesuai harapan orang tua) sebisa mungkin orang tua tidak perlu memaksa atau berekspektansi di luar kemampuan anak. Yang ptg di rumah trus jalin kedekatan dg anak sehingga anak selalu terbuka dg orang tua dlm setiao situasi dan tidak segan bercerita pada orang tuanya ketika butuh pertolongan =))
Prinsip dasar parenting adalah penerimaan dan cinta tidak bersyarat (unconditional love). Anak tidak hrus begini atau begitu untuk diterima dan dicintai orang tua. Yang penting pastikan kedekatan, beri pemahaman nilai2, bekali anak untuk PD dlsb in syaa Allah hal2 tsb akan sangat membantu anak memgahdapi lingkungannya
"Prinsip dasar parenting adalah penerimaan dan cinta tidak bersyarat (unconditional love)"
8. Bunda Faizza:
"Saya faizza. Banyak orang tua yang selalu menyalahkan lingkungan bila anaknya berperilaku buruk. Misalnya"nih, gara2 bermain sehari saja dengan si A jadi suka bohong suka kasar dsb". Saya juga heran..kenapa anak bisa secepat itu terpengaruh lingkungan. Apakah karena pengaruh orang tuanya kurang kuat? Mohon penjelasannya bunda. Jazakillah"

Jawaban :
Pengaruh ortu cenderung kalah dibandingkan lingkungan kalau begitu. Hanya saja, kehidpan anak pun butuh proses yg harus dimanfaatkan sebaik2nya oleh ortu. Jika dalam hal ini saja ortu kalah, malah menyalahkan lingkungan, kemungkinan besar anak juga anak menjadi sosok yang bisanya 'menyalahkan' hal lain di luar dirinya setiap menghadapi hal yang tidak diinginkan =)). Wallohu a'lam.

Tanggapan Bunda Marita :
Siip, setuju mbak Innu... mengutip dari salah satu program pengasuhan anak yang pernah saya ikuti, anak tidak akan mudah terpapar pengaruh buruk dari luar, jika orang tuanya bisa memberikan pengaruh yang kuat pada anak2nya :) 

9. Bunda Asti :
"Anak saya, lk 4y suka sekali dg film boboiboy, semua gerakannya dia hapal jg lagunya.belakngan ini dia menjadi lebh keras sikapnya kepada saya, ato ayahnya terutama klo permintaannya tdk terpenuhi, sikapnya ini jg dicontoh oleh adeknya pr 2y. Saya jg merasa resah dg syair lagunya ttg superhero yg menurut sy bisa berpengaruh pd masalh aqidahnya. Sdh sy tawarkan film lain, tp dia bisa mencari sendiri. Mhn sarannya."

Jawaban :
Orang tua memang harus menyeleksi apa2 saja ttg anak. Juga memberikan batasan dg tegas, jelas, dan konsisten jika memang menganggap hal tersebut tidak sejalan dg nilai2 dan tidak bermanfaat untuk anak. Dia bisa mencari sendiri? Batasi aksesnya dan alihkan dg kegiatan lain. Bukan dengan film/ lagu lain, tapi dg kegitan yang jauh berbeda. Misalnya kegitan yg melibatkan motorik fisik, kognitif, sosial dll. Bukan yang hanya menonton. Idealnya perbandingan menggunakan hp gadget tv dll adalah 1:5, Misalnya jika anak pakai hp 20 menit maka berikab kegiatan lain selama 100 menit. Semoga cukup membantu ya bunda =))

10. Bunda Marita :
Dari paparan materi dari Mbak Innu, Sebelum anak berumur lima tahun, kan perilaku buruk cenderung karena caper ke orang tua, coba2 dan mencontoh dari sekitar. Stelah usia lima tahun, perilaku buruknya apa karena perilaku2 buruk yang ada di usia sebelumnya tidak segera diatasi? Bagaimana cara mengatasi anak umur 4 tahun yang suka memukul? Sedang setiap kali ditanya kenapa memukul, jawabannya yang penting kan aku udah minta maaf? Terima kasih.

Jawaban :
1. Usia 4 tahun amigdala bagian otak yang mengtur emosi sudah terbentuk. Anak sudah lebih mampu untuk lebih paham ketika dijelaskan nilai2, sebab akibat dll. Dan perkembangan manusia adalah proses berkelanjutan yang memang butuh 'lulus' fase sebelumnya untuk beralih ke fase selanjutnya.
2. Beraarti ada yang perlu diperbaiki dg konsep maaf yangdipahamj anak.. =)) Tidak apa2, trus ingatkan anak. Langsung alihkan perhatian. Atau pegang tangannya, jangan sampai memukul. Beri pemahaman ttg hati2 menggunakan tanganmu, kaki, mulut dll, anak sholeh. Sambil terus memperbaiki konsep maafnya. Semoga cukup jelas ya bunda Marita =))

PENUTUP
Alhamdulillaah. Semoga pertemuan kali ini bermanfaaat. Intinya, pada dasarnya anak akan siap untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu yang baik. Yang perlu kita lakukan adalah membuat anak,

1. Ia merasa diterima, aman , dicintai lingkungan

2. Percaya diri bahwa dirinya mampu

3. Mendapatkan bekal yang memadai yang membuatnya bersemangat dan semakin mampu dan Percaya Diri untuk melakukan sesuatu tersebut

Bisa juga bunda bayangkan diri bunda. Karena kemungkinan besar diri kita pun bgitu. Trus melakukan penerimaan, memaafkan kesalahan anak dan diri kita (karena kita juga manusia, masih terus beradaptasi dan belajar sebagai ibu).
Tiap waktu adalah adaptasi
Hamil, butuh adaptasi
Melahirkan butuh adaptasi
Anak 1 tahun kita aaptasi lagi
Anak remaja kita adaptasi lagi 
Anak menikah, aaptasi lagi,Dst dst
Terus mohon pada Allah untuk diberikan sabar dan syukur tidak terbatas sehingga kita dapat menanamkan perilaku baik pada anak2 kita, membantu anak menghilangkan perilaku negatifnya.. Menjadi ibu yang baik, dan semoga Allah menerimanua sbg amal baik yang berbentuk ibadah pada Nya. Aamiin.
---------------------------------------------------------------------------

Sumber :
DISKUSI HSMN SEMARANG
Hari : Selasa, 19 Mei 2015
Waktu   : 19.00 - 21.00
Tema : "Membentuk Perilaku Baik dan Menghilangkan Perilaku Buruk "
Pemateri : Mb. Innu
*Psikolog Klinis lulusan UI, saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga
*Admin Grup FB FOCER dan Bunda Belajar dan Bermain
*Pernah bekerja di RSIJ Cempaka Putih sebelum akhirnya pindah ke Newark,  DE, USA, 3 tahun terakhir ini.
Moderator : Marita
Notulen : Nunung

Related

Parenting 6168013155582379707

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item