Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga via theawarnesscenter.com Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga: “Ibu, Sedikiiit Lagi Bersabar, Tahan Ma...

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga via theawarnesscenter.com
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga: “Ibu, Sedikiiit Lagi Bersabar, Tahan Marahnya...”
Oleh Innu Virgiani, Psi.
لاَ تَغْضَبْ وِلَكَ الْجَنَّة"Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga" (H.R at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata bahwa "sabar merupakan kewajiban sebagaimana disepakati oleh ummat ini.” Maka orang yang berakal mesti meyakini, bahwa segalanya telah ditentukan, ada yang telah terjadi sehingga tidak bisa ditolak, juga ada yang belum terjadi, kala itu manusia sama sekali tidak ikut serta dalam menyusunnya, lalu jika terpaksa ia mendapatkan sesuatu yang menyakitkan, maka hendaklah ia bersiap siaga dengan dua tanduk yang berguna, yaitu Kesabaran dan Ridha (keikhlasan).

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Marah
Jika seseorang mulai tersulut emosinya untuk marah, hal yang harus dilakukan untuk menahan atau meredakan kemarahan adalah:

1. Diam, tidak berkata apa-apa
وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ
Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany).

2. Mengingat-ingat keutamaan yang sangat besar karena menahan amarah.

3. Mengucapkan ta’awwudz : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim. Nabi pernah melihat dua orang bertikai dan saling mencela, sehingga timbul kemarahan dari salah satunya. Kemudian Nabi menyatakan : Aku  sungguh tahu suatu kalimat yang bisa menghilangkan (perasaan marahnya) : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim (H.R al-Bukhari dan Muslim)

4. Merubah posisi : dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)

Dalam psikologi, Apa itu marah? Marah adalah rantai reaksi tubuh dan pikiran yang terjadi sangat cepat sebagai salah satu respon terhadap ancaman, gangguan, serangan, frustasi, rasa sakit atau ketidakadilan. Apa kunci untuk mengatasi rasa marah? Mengganti reaksi atau tingkah laku marah menjadi mekanisme coping (penyesuaian / mengatasi masalah) dan respon yang tepat, misalnya dengan melakukan manajemen marah.

Apa itu manajemen marah? Pengaturan rasa marah agar bisa disalurkan secara konstruktif (membangun sesuatu yang baik).

Salah satu konsep manajemen marah adalah RETHINK (Fetsch & Schultz & Wahler), yaitu Recognice, Emphatize, Think, Hear, Integrate, Keep Focus. Untuk mudahnya, dalam Bahasa Indonesia: K E Pik Dengar Libat Sadar Jaga

K = Kenali marahmu (sama siapa, karena apa, biasanya apa yang terjadi jika kita merasa marah, sebesar apa rasa marah kita saat itu)

E = Empati (bayangkan deh anak / orang lain yang bikin marah itu situasinya sedang bagaimana.  pasti tiap orang punya alasan, termasuk anak)

Pik = Pikir (pikir lagi dari situasi yang beda, misalnya, ubah sudut pandang masalah, bagaimana cara penyelesaian yang baik selain marah, bagaimana juga cara agar marah kita berkurang. Pikir, pikir, pikir..

Dengar = Dengarkan kata-kata orang lain atau anak, baik kata-kata verbalnya, maupun bahasa non verbalnya, tingkatkan kesadaran diri kita!

Libat = libatkan perasaan positif (rasa sayang kita, cinta kasih, hormat, dll)  kepada yang membuat kita marah dengan menyampaikan kesedihan / kecemasan / malu / capek yang kita rasakan karena sebenernya biasanya justru salah 1 dari 4 perasaan itu sumber masalahnya.

Dengan menggunakan perasaan positif, kita akan jauh lebih tenang ketika merasa marah, insya Allah. Misalnya, karena kita menyadari bahwa sebenarnya kita sayang sama anak tapi juga sedih anak kita pipis masih “sembarangan”, bilangnya "Mama sayang adek, tapi mama juga sedih adek pipis di lantai, mama merasa capek harus mengepel lantai lagi, sayang..” sambil mencium anak.

Sadar = Sadar diri, perasaan, mulut, anggota badan. Mengenali dan menyadari perubahan tubuh (fisiologis & psikologis) saat sedang marah agar dapat mengantisipasi agar tidak sampai ke tindak agresi.

Jaga = Jaga fokus. Masalah A ya masalah A, tidak usah dibawa-bawa yang lain, apalagi masa lalu. Misalnya, anak belum mandi. Intinya kan anak badannya kotor, tidak perlu bawa-bawa emang nih anak susah dibilangin, males ngerjain PR, boro-boro bantuin orang tua beres-beres, bangun siang, nonton tv mulu, tiaaap hari nyusahin orang tua aja, kemarin udah mecahin gelas, dll. Cukup fokus pada masalah anak belum mandi! ok!

Kalau anak menangis terus, merengek...  Aku MERASA marah
Kalau anak sulit dinasehati... Aku MERASA marah
Kalau rumah berantakan disini dan disana, anak-anak pun bertengkar selalu... Aku MERASA marah
Kalau anak berbohong... Aku MERASA marah
Ketika Aku merasa marah, ingiiiin sekali rasanya 'ngomong' yang kasar, berteriak atau memukul

Tapi MERASA marah itu beda lho ternyata dengan MELAKUKANNYA. MERASA “doang”, tidak sama dengan mengEKSPRESIKAN perilaku marah. Merasa, tidak akan menyakiti diriku, anak, atau membuat kita dalam masalah

Ketika ingin pengen berkata kasar, teriak, memukul anak, ada hal lain yang bisa kulakukan. Selalu mengingatkan diri dalam hati, “sabar, sebentaaar lagi marahnya.. sebentaar lagi.. dan terus menahan diri” (teruslah berlatih menjadikan ini sebagai pikiran otomatis). Lalu aku bisa menjauh dulu dari anak-anak sebentar, untuk menarik naafaaas paaaanjaaang. Atau mengambil wudhu, dzikir dan sholat. Atau sekedar berkaca di kamar mandi/ di kamar melihat ekspresi wajah kita
Atau malah langsung mencoba tersenyum, mengelus, membelai, mencium anak-anak “Menikmati” kebersamaan yang tidak akan terulang di hari berikutnya. Karena waktu tidak pernah kembali mundur, tiap detik, tidak akan pernah terulang di esok hari.
http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/03/manajemen-marah.html?m=1   

Tegas dan Marah adalah 2 hal yang berbeda. Sebagaimana cinta dan benci. Jangan ragu untuk tegas dalam mengingatkan anak dan mengajarkan disiplin. Konsisten dengan peraturan yang telah disepakati. Namun, jangan hanya Tegas, tapi juga menunjukkan kasih sayang secara jelas.

Sebagaimana istri yang tau kalau suaminya mencintainya tidak hanya dengan perbuatan dan kata kata. Kepada anak juga demikian. Bermudah-mudahlah dalam menyampaikan cinta, maaf, terimakasih, kasih sayang pada anak. Bukan bermudah-mudahan menghamburkan kemarahan. Karena anak kita, sungguh memang anak-anak yang akan terus tumbuh. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi ibu yang baik, aamiin..


Sumber :
Resume Kulwapp HSMN Bogor 2
22 Oktober 2015
Tema : Manajemen Marah
Narasumber : Innu Virgiani, S.Psi
Ibu Rumah Tangga yang pernah belajar di Fak Psikologi UI, 
dan mengambil spesialisasi Psikolog Klinis. 
Saat ini saya memiliki 1 orang Putri, dan berdomisili di Amerika Serikat,

Related

Tips 7070641482407977643

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item