Keahlian Menawar, Perlukah?

Berbicara tentang tawar menawar, pasti sangat identik dengan kaum hawa, yang acap kali juga dikaitkan dengan kemampuan seorang istri dalam ...

Berbicara tentang tawar menawar, pasti sangat identik dengan kaum hawa, yang acap kali juga dikaitkan dengan kemampuan seorang istri dalam mengelola keuangan keluarga. Semakin pintar menawar, maka semakin irit belanjaan, sehingga layak mendapat label 'ibu hemat' dan mahir memutar keuangan keluarga. Sebenarnya keahlian menawar, perlukah?

Tentunya tidak ada seorangpun mau dicap sebagai istri boros atau ibu yang suka menghabiskan uang, bukan? Di titik inilah saya sempat merasa ketidakmampuan dalam menawar menjadi salah satu kekurangan saya.

Ya, saya dan suami sama-sama tidak pandai menawar. Ya karena tidak tega, memang tidak bisa dan tidak tau harga pasaran. Hehehe..

Biarpun sering belanja untuk kebutuhan rumah, entah kenapa saya tidak pernah ingat harga suatu produk tertentu. Bahkan sembako dan sayur mayur yang notabene dibeli setiap beberapa hari sekali pun saya tak terlalu paham harganya. Paling ampuh tau harga naik ya dari berita di televisi! Wkwkwk

Keahlian Menawar, Perlukah?
Keahlian Menawar, Perlukah?
Dengan keterbatasan dalam menawar, maka saya jarang sekali membahas tentang harga buah, sembako, ikan dan sebagainya. Karena kalau sampai ada bahasan seputar itu pasti saya bakalan dibully karena dianggap 'keblondrok' lah, kemahalan lah, dan bully-an lain yang pasti merontokkan kepercayaan diri saya sebagai pengelola rumah tangga. :(

Kesedihan lain menjadi orang yang tidak pandai menawar adalah saat ingin membeli cindera mata ketika sedang jalan-jalan ke luar kota. Suami yang (juga) tidak pintar menawar sering kali meminta saya memilih sekaligus menawar harganya, padahal saya sendiri pun tak jauh beda dengannya. Dan drama menawar saya pun selalu diakhiri dengan protes suami, "Kok mahal, Bund", "Ditawar dong.." atau "Jangan mau kalau begitu.." Hiks, saya hanya bisa pasrah sambil tersenyum kecut, aaahh.. sudah biasaaa... Tapi saya jadi terbiasa saat akan traveling selalu menyempatkan diri searching souvenir khas daerah tersebut termasuk harga pasarannya. Minimal untuk bekal saya agar nggak terlalu keblondrok dan kalaupun nawar juga nggak kebangetan :)

Namun di sisi lain ada banyak hal yang patut saya syukuri menjadi orang yang tidak pandai menawar,

1. Saya jadi tidak terlalu pusing apakah hari ini harga tempe naik? Ayam turun? Bawang 1/4 kg berapa? Dan sebagainya. Karena bagi saya, kalau uang mencukupi ya saya beli, kalau tidak cukup ya beli separoh, seperempat atau se-ons. Secukupnya lah. Toh masih banyak pilihan menu belanja lain yang sesuai budget saya. Intinya ada uang dibeli, tidak ada ya jangan dipaksakan. Kalau kata alm. Gusdur, gitu aja kok repot ^_^

2. Mungkin saya adalah orang paling cepat saat belanja di pasar tradisional, karena HAMPIR tidak ada proses tawar menawar. Bonusnya, si penjual melayani dengan ramah plus sering ditambahi bonusan. Menyenangkan bukan? Walau kata orang, itu mah bukan bonus karena kita bayar lebih mahal. Whatever, yang penting saya senang, sang penjual juga bahagia. :)

3. Para penjual yang berhubungan dengan saya jadi sangat loyalis, mereka selalu memilihkan yang terbaik.
Seperti suatu ketika saya ditanya oleh si sulung, kenapa selalu beli buah di toko A? Saya bilang karena beli buah di situ selalu enak (meski ada yang bilang lebih mahal dibanding toko lain), cukup minta dipilihkan melon yang manis pasti benar-benar melon manis yang saya bawa pulang. Toh selisih berapa rupiah sih, harga sesama abang-abang buah. Selama memuaskan itu sudah cukup bagi saya. Terlebih saya juga tidak pintar memilih buah melon, semangka maupun alpukat yang sangat memerlukan ilmu kebatinan itu (yang ini juga kekurangan saya). ^_^


Semua ini bukan lantas saya jadi menyombongkan diri sebagai orang yang nggak pernah mikir harga. Sebagaimana ibu-ibu (baca : mbak-mbak sudah punya anak) rumah tangga lainnya, saat di swalayan pasti juga teliti dalam memilih produk dengan harga termurah. Namun saat di pasar tradisional rasanya kok tidak perlu terlalu memusingkan diri untuk hal-hal yang seperti itu.

"Bukankah hidup adalah hari ini? Maka berfokuslah pada yang membaikkan"

Bukankah hidup adalah hari ini? Maka berfokuslah pada yang membaikkan. Baik untuk diri sendiri (jiwa kita), maupun orang lain, agar bisa menutup hari dengan senyum penuh syukur. :)

Salam Hangat,

Sumber gambar : bisnis.news.viva.co.id

Related

Omong Kosong 2908924931157448656

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item