Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga

Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga Sebentar lagi tahun ajaran 2015/2016 akan segera berakhir, artinya liburan kenaikan kelas pun...

Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga
Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga
Sebentar lagi tahun ajaran 2015/2016 akan segera berakhir, artinya liburan kenaikan kelas pun sudah di depan mata. Semua anak baik yang bersekolah maupun tidak, termasuk Ayah Bundanya tentu menantikan moment liburan bersama keluarga. Saat ini banyak pilihan wisata keluarga, mulai dari berbagai wahana yang cukup mahal hingga wisata alam nan murah meriah. Semua itu tidak masalah, asalkan quality time tercapai dan ada hal-hal baru yang diperoleh anak-anak sebagai proses pembelajaran.

Berbicara tentang wisata alam, mungkin mengunjungi situs bersejarah, kebun binatang, perkebunan teh / bunga, pemandian alam, air terjun serta pantai merupakan tempat yang lazim kita kunjungi bersama keluarga. Namun sedikit sekali dari kita yang berpikir untuk mengisi liburan dengan camping maupun hiking / naik gunung, karena menganggap aktifitas itu hanya cocok untuk orang dewasa. Atau bahkan mengungkapkan alasan yang klise seperti capek, pegel, liburan kok merana, repot bawa anak-anak, fisik anak belum kuat dll. Ya, orang dewasa memang sering sekali underestimate pada kemampuan anak-anak, termasuk anak kita sendiri. Padahal kalau tidak dicoba, mana kita tahu?

Bagi keluarga penggemar camping, saat ini sudah banyak komunitas yang sering mengadakan acara kemah keluarga bersama-sama, seperti komunitas Homeschooling Muslim Nusantara, Institut Ibu Profesional serta komunitas PotTrack (silakan search di Facebook), yaitu sebuah komunitas keluarga pecinta alam yang aktif mengadakan berbagai kegiatan camping dan hiking

Saya belum pernah naik gunung sama sekali, kemah pun hanya pada acara pramuka jaman sekolah. Segala sesuatu yang bikin capek fisik itu 'enggak saya banget'. Tapi sejak menjadi Ibu, saya selalu bermimpi bisa melakukan kedua hal itu bersama keluarga. Namun belum mengusulkan pada suami saja saya sudah pesimis. Pertama, karena suami tidak terlalu suka mengikuti acara-acara bersama komunitas, jadi pilihannya adalah kami pergi sendiri atau mengajak keluarga teman-teman terdekat. Kedua, suami yang udah capek kerja kira-kira mau nggak ya diajak liburan yang susah bin repot macem gitu? Huh, dari dulu saya memang begitu. Terlalu banyak berpikir hingga tidak berani bertindak.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tak dinyana tiba-tiba suami mengusulkan untuk sesekali liburan naik gunung! Aiiiihh, impian saya tercapai juga. Walau tidak yakin dengan kuat tidaknya fisik saya yang nggak pernah olah raga ini, tapi semangat saya mengalahkan segalanya. Hahaha...

Jadilah liburan singkat kemarin kami Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga. Gunung Sikunir, adalah satu dari beberapa gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung Sikunir ini sangat terkenal dengan pemandangan sunrisenya yang mempesona, selain itu jarak tempuh dari desa terdekat yang tidak lebih dari satu jam menuju puncak gunung juga cocok untuk mengajak anak-anak (8yo dan 4,5yo).

Saat itu kami berangkat dari rumah jam 9 malam dan sampai di desa terdekat dari pendakian, yaitu Desa Sembungan pukul 12.30 dini hari. Anyway, Desa Sembungan ini adalah desa tertinggi di pulau Jawa lho! Di desa ini, hampir semua rumah penduduknya disewakan sebagai Homestay. Kami yang awalnya semangat untuk menyewa tenda dan berkemah di tepi danau langsung mengurungkan niat begitu keluar kendaraan sambil menggigil. Brrrrrrr.....

Pukul 4 pagi jalanan Desa Sembungan telah ramai dilewati para pendaki yang ingin melihat matahari terbit. Karena homestay kami termasuk yang paling dekat dengan jalur pendakian, kami berangkat pukul 4.30 selepas sholat subuh. Meski masih mengantuk, si sulung (8yo) sangat bersemangat menjalani pendakian pertamanya. Sedangkan si kecil (4,5yo) minta digendong karena belum sadar betul dari tidurnya. Baru di jalur mendaki ia minta turun dan berjalan sendiri. Seru sekali berjalan beriringan bersama para pendaki lain yang mayoritas diisi anak-anak muda. Medan yang cukup menanjak dengan beberapa track curam dan tangga yang tinggi ditambah gelapnya langit tak menyurutkan langkah kami, para pemburu sinar matahari.

Kami berempat membawa satu ransel yang berisi dua botol air mineral, 4 susu UHT dan sebungkus crackers yang dibawa si ayah. Dan ternyata dari sekian bekal yang kami bawa, hanya berkurang 1 botol air mineral untuk kami berempat. Karena eh karena, disetiap pos selalu ada pedagang yang menjual minuman panas (teh, milo, kopi susu) serta makanan andalan pengusir dingin, POP MIE! Hehehe... Saya jadi berpikir, para pedagang itu naik gunung dari jam berapa? Sambil memanggul dagangan? Ahh.. tidak ada bayangan sama sekali bagaimana mereka melewati jalanan yang sempit itu. Hidup adalah perjuangan, Bro...

Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga
Semburat merah menandai datangnya fajar

Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga
Sinar matahari mulai nampak dari puncak Gunung Sikunir
Dan kami pun akhirnya mencapai puncak dan menikmati terbitnya matahari di minggu pagi itu. Sementara kedua jagoan kami makan Pop Mie, saya dan suami pun menghangatkan diri dengan teh panas sembari memandang Keagungan Tuhan di depan mata kami. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?? Bahagia campur haru rasanya, bisa menikmati secuil keindahan ini bersama orang-orang yang saya sayangi. 

Setelah matahari terlihat jelas, kami pun mengelilingi puncak gunung. Berpindah dari satu spot ke spot yang lain, melihat anak-anak muda berfoto sambil melompat bahagia kami pun tak mau kalah. Hehehe.. Si kecil masih tetap semangat dan tak nampak lelah, sementara abangnya selalu tersenyum malu-malu dan senang setiap kali ada yang berkomentar padanya, "Loh dek, jalan sendiri? Kok kuat banget?". Kalau diingat lagi, diantara kami berempat memang saya lah yang paling banyak beristirahat selama naik ke puncak, maklum efek males gerak ya begini. Tapi tetap semangat lho! Sementara juara mendaki kami adalah si Abang yang selalu memimpin jauh di depan, dia yang terus menjadi supporter kami bertiga untuk semangat cari keringat katanya. Ternyata ia sudah lama ingin sekali naik gunung seperti di program My Trip My Adventure, makanya dia merasa keren setelah benar-benar berhasil naik ke puncak. Hahaha..

Setelah turun gunung, kami banyak belajar bahwa lain kali sampai lereng gunung harus agak siang atau sore, agar bisa beradaptasi dengan cuaca dan menyewa tenda di pinggir danau. Dan satu hal lagi, ternyata naik gunung itu bikin 'nagih'. Saya dan anak-anak buktinya. :)

Dari perjalanan kami, berikut yang perlu diperhatikan jika ingin naik gunung bersama keluarga :
  1. Persiapkan perlengkapan seperti jaket tebal, penutup kepala & syal bila perlu.
  2. Jangan memakai pakaian yang berbahan berat. Jeans sebenarnya tidak baik untuk mendaki, tapi karena track di Sikunir ini tidak terlalu jauh jadi boleh dipakai jika TERPAKSA.
  3. Gunakan kaos kaki dan sepatu yang sesuai untuk pendakian (pengalaman sepatu saya dan suami terlalu licin).
  4. Bawa perbekalan secukupnya saat mendaki, karena banyak yang jualan. Hehe..
  5. Meski Anda hoby fotografi, pertimbangkan lagi jika akan membawa tripod. Karena akan menyusahkan saat di track curam. Kamera handphone atau DSLR sudah cukup. Plus tongsis aja kalau dirasa masih kurang greget. Wkwkwk
  6. Jangan lupa untuk BAHAGIA, karena seberapa pun loyonya Anda pasti bisa sampai ke tujuan jika semangat dan bahagia. :)
Selamat mencoba pengalaman Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga. Enjoy your experience.

Salam Hangat,

Related

Tips 6974807039962481336

Post a Comment

  1. Dulu aku kesana waktu masih remaja, begitu punya anak paling jauh jalan-jalannya di Bandungan dan sekitarnya. Sekarang mereka udah remaja, tinggal ngajakin aja jalan-jalan ke lereng gunung. Ke gunung biar aja sama temannya :D

    ReplyDelete
  2. Wah makin seru tuh mba kl anak2 udah remaja! Bayangan saya siy kl anak2 udah remaja pengen ngajakin rafting ma camping gt sekeluarga, pasti seru!

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item