Mengajarkan Disiplin Pada Anak

Mengajarkan Disiplin Pada Anak Beberapa Metode Mengajarkan Disiplin pada Anak dan Trik Berbicara dengan Anak : 1. KONSEKUENSI NATU...

Mengajarkan Disiplin Pada Anak
Mengajarkan Disiplin Pada Anak
Beberapa Metode Mengajarkan Disiplin pada Anak dan Trik Berbicara dengan Anak :

1. KONSEKUENSI NATURAL

Konsekuensi natural merupakan hasil dari tindakan anak secara alami
Konsekuensi natural akan memberikan pengalaman sebab-akibat dari tindakan anak sendiri dan mereka belajar untuk bertanggung jawab. Orang tua yang menggunakan konsekuensi natural memungkinkan anak anaknya untuk menemukan keuntungan dari perintah dan peraturan.

Tanpa ancaman dan debat dengan orang tua, anak-anak yang mengalami konsekuensi natural akan terbangun rasa disiplin pada diri sendiri dan kekuatan internal, dan belajar mematuhi perintah bukan karena takut akan hukuman, akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa dengan mematuhi perintah akan membuat hidup lebih baik.

Contoh penggunaan konsekuensi natural adalah membiarkan anak menghadap gurunya dan menjelaskan bahwa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya karena dia lebih memilih bermain dibandingkan mengerjakan PR. Jika orang tua ‘menolongnya’ dengan membuatkan surat izin, maka anak akan belajar bahwa tidak mengapa tidak mengerjakan tugasnya, karena akan ada ‘dewa penolong’ yang akan menyelamatkannya dari hukuman yang tidak diinginkan.

KAPAN KONSEKUENSI NATURAL TIDAK BERLAKU?
Orang tua sebaiknya tidak menggunakan konsekuensi natural bila konsekuensi yang akan timbul berbahaya untuk anak anak atau tidak menyebabkan rasa tidak nyaman bagi anak-anak.


2. KONSEKUENSI LOGIS

Ketika konsekuensi natural tidak berfungsi, orang tua harus membuat konsekuensi logis. Konsekuensi logis berupa hukuman dan praktis, dapat dilaksanakan dan berkaitan dengan perilaku anak.

Orang tua harus memberikan penjelasan mengenai konsekuensi ini kepada anak-anaknya pada saat tenang dengan jelas dan tegas. Sangat penting bagi orang tua untuk memberitahukan terlebih dahulu alasan mengapa mereka harus berperilaku baik dan hasil keluaran yang diinginkan.

Berikut adalah contoh konsekuensi logis :
  • Anak yang pulang larut melewati jam malam akan dimajukan jam malamnya untuk beberapa malam kedepan, atau akan kehilangan haknya menggunakan mobil. 
  • Anak yang bermain secara ceroboh dan memecahkan kaca jendela tetangga harus menggunakan uang tabungannya sendiri untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.
Seperti konsekuensi natural, konsekuensi logis harus sesuai dengan perilaku mereka dan tanpa ancaman atau hukuman fisik untuk anak anak. Orang tua sebaiknya membiarkan anaknya bertindak sesuai dengan keinginannya, bila ia melanggar aturan maka bersiap menghadapi konsekuensinya.

Hasilnya adalah anak akan berperilaku baik karena mereka mengetahui bahwa semuanya akan menjadi baik bila mengikuti aturan yang ada. Sebaliknya, hukuman akan membuat anak berperilaku baik hanya jika mereka takut ketahuan orang tuanya, dan akan membuat mereka bersikap ‘nakal’ saat tidak ada orang tua.

Yang perlu diperhatikan: waktu mengomunikasikan dan konsisten dalam menerapkan konsekuensi tersebut.


3. Reward dan Punishment melalui reinforcement negatif

Cara yang terbaik dalam menerapkan reward dan punishment adalah penerapan reinforcement negatif, yaitu:
"Memberikan reward ketika anak melakukan hal yang diharapkan dengan MENGURANGI hal yang TIDAK DISUKAInya.
Memberikan punishment ketika anak melakukan hal yang tidak diharapkan dengan MENGURANGI hal yang DISUKAInya"
Misalnya anak suka makan coklat dan jatahnya 2 bungkus sehari. Ketika anak melakukan hal yang tidak diharapkan, jatah coklatnya itu yang dikurangi. Atau jatah nonton TV, mainan, jajan dlsb, yang disukai anak. Bukan malah menambahkan hal yang baru yang tidak disukai anak. Seperti mencubit ---> memberikan hal baru yaitu cubitan.

Mengurangi hal yang tidak disukai sebagai hadiah. Misalnya anak berperilaku baik tertentu, jadi hadiahnya anak ga usah cuci piring (biasanya itu tugas hariannya) ---> itu yang dikurangi. Jadi bukan memberi hal yang baru, seperti ngasih uang, boleh makan coklat sepuasnya dlsb. 

Rewards & punishment hanyalah salah satu cara mendisiplinkan anak. Yang paling penting, perhatikan cara berkomunikasi dengan anak yang efektif.


4. Time Out
Time out adalah suatu cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan perilaku buruk anak, dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya. Time out bukanlah sebuah hukuman.
Time out adalah sebuah teknik yang dilakukan orangtua untuk membantu anak berelaksasi. Anak diberikan jeda untuk sendiri, berusaha merenung, serta tanpa diganggu dan tanpa mengganggu orang lain. Time out menjadi hukuman ketika orangtua mempraktekkannya dengan tidak tepat.

Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan time out dinilai sebagai hukuman oleh anak:
  • Time out dilakukan oleh orangtua dengan marah. #selfreminder
  • Orangtua mengatakan bahwa time out merupakan hukuman atas perilaku anak yang tidak sesuai arahannya.
  • Tempat time out yang menakutkan dan berkesan tempat penghukuman, seperti kamar mandi dan ruang tertutup.
  • Tempat time out yang memungkinkan orang-orang dapat melihat anak seperti dihukum.
Langkah dalam Menerapkan Time Out :
Penerapan time out harus didahului beberapa tahapan lain, yaitu:
  1. Pembentukan ikatan (bounding) antara orangtua dan anak 
  2. Pemberian pemahaman  bahwa time out ditujukan untuk menenangkan diri karena anak marah-marah ataupun berperilaku buruk. 
  3. Pembuatan kesepakatan bersama tentang pelaksanaan time out. Hal ini akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan bila peraturan ditetapkan oleh satu pihak saja (orangtua).
  4. Sosialisasi bila teknik tersebut akan mulai diterapkan dalam keluarga.
Bagian utama dari disiplin adalah belajar bagaimana berbicara dengan anak-anak. Cara berbicara orang tua kepada anak akan sangat dipelajari dan ditiru oleh anak.

Berikut adalah beberapa tips agar anak-anak kita mendengarkan kita:
  1. Perhatikan anak sebelum memberi instruksi dan panggil menggunakan namanya. Sebelum mengarahkan anak Anda, posisikan tubuh selevel dengan mata anak Anda dan beri ia kontak mata-ke-mata untuk mendapatkan perhatiannya. Ajari anak untuk fokus: “Adel, lihat Bunda..” Jaga kontak mata dengan pandangan biasa agar anak tidak akan merasa terkontrol dan kurang dianggap.
  2. Bicara Sesingkat dan Sesimple Mungkin, Minta Anak Mengulangi Kata-kata Orang tua. Gunakan satu kalimat saja: Mulai pembicaraan dengan inti dari perkataan Anda. Semakin lama Anda mengoceh, semakin besar kemungkinan anak Anda untuk tidak mendengarkan.
  3. Tawarkan Sesuatu yang Tidak Bisa Ditolak Oleh Anak. Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang anak dan yang sulit ia tolak. Hal ini akan membuatnya menurut pada Anda.
  4. Beri Instruksi Positif 
  5. Bertindak Dulu Baru Berbicara. Anda menunjukkan bahwa Anda serius tentang permintaan Anda. Kalau tidak anak akan menafsirkan ini sebagai pilihan saja.
  6. Beri Anak Pilihan. "Mau ganti baju atau sikat gigi dulu?" "Baju merah atau biru?"
  7. Bicara Sesuai Perkembangan Anak. Semakin muda anak Anda, instruksi Anda harus sesingkat dan sesederhana mungkin. Pertimbangkan tingkat pemahaman anak Anda.
  8. Bicara dengan Kata-kata yang Baik dan Suara halus. Ancaman dan perkataan yang menghakimi cenderung membuat anak bersikap defensif.
  9. Pastikan Anak Tenang. Sebelum memberikan perintah, pastikan anak tidak sedang emosional. Kalau tidak, Anda hanya membuang-buang waktu saja. Anak tidak akan mendengarkan Anda jika ia sedang emosional.
  10. Ulangi Perkataan Anda. Balita perlu diberitahu berkali-kali karena mereka masih sering mengalami kesulitan menginternalisasi arahan orang tua. Mereka baru belajar memahami perintah.
  11. Biarkan Anak Berpendapat. Jika anak selalu mencari pembenaran, bisa kita lihat dari sisi positif :
    - anak punya alasan kuat dan mampu menyampaikan pendapatnya 
    - anak kritis, tidak langsung menerima penjelasan orang lain begitu saja 
    - anak percaya pada ortunya, bahwa ortu dapat menjadi partner komunikasi yang baik yang mau mendengarkan opininya. Nah, tingggal yang perlu diperhatikan dan terus dipahamkan pada anak :
    1. Adab berbicara yang baik kepada ortu. 
    2. Cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar. 
    3.  Bagaimana empati dan cara menghargai orang lain. 
    4.  Bagaimana berbesar hati menerima pendapat orang lain. 
    5. Bagaimana rendah hati dalam menerima ilmu yang benar 
    Sehingga mereka tahu kapan harus memberi alasan. Bagaimana memulainya, bagaiman mengakhirinya.
  12. Gugah emosi anak dalam berkata-kata. Berikan hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya sewaktu-waktu, ungkapkan rasa cinta secara verbal, berikan pujian setiap kali anak melakukan hal yang diharapkan, dan ingat untuk mencintai anak SEUTUHNYA, SETIAP WAKTU...! Tidak hanya ketika anak berperilaku yang diharapkan, tapi juga ketika anak melakukan hal yang sebaliknya ^,^
Mari kita coba Mengajarkan Disiplin pada Anak dengan tegas dan menyenangkan.
Salam,

Sumber gambar : vemale.com
Sumber artikel :
Notulensi Diskusi Tema Harian HSMN Depok
Telah diedit dan dirangkum termasuk poin-poin dalam sesi tanya jawab
Resume Kulwap External - HSMN Depok
Jum'at / 20 Mei 2016
Jam: 16.00-17.30
Ibu Innu Virgiani
Mengajarkan Disiplin  Pada Anak

Moderator: Bunda Sekar 
Notulen: Bunda Kiki 
Whatsapp Group HSMN Depok


Biodata Narsum:
 Nama: Innu Virgiani
 Pendidikan: Lulusan Magister Psikolog Klinis Dewasa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
 Domisili: Selama 4 tahun terakhir ini berdomisili di Delaware, USA. 
 Pengalaman Organisasi: Pernah bekerja sebagai HRD dan Psikolog di salah satu RS Islam di Jakarta, menjadi Guru & Kepala salah satu TK di Depok, dan mengajar di salah satu sekolah (MTS dan MAN) gratis di Cileungsi. 
 Aktivitas saat ini: Saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga dengan (baru) 1 orang putri. Bersama dengan beberapa teman se-almamater, mendirikan Grup Fb dan WA Bunda Bermain dan Belajar, dan blog jendelaummahat.blogspot.com

Related

Parenting 4489391547390760125

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item