Membersamai Anak sebagai Amanah Allah

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah Sebagaimana tertuang dalam Qs.  At - Tahrim [66]:6, "Hai orang orang yang beriman, pelihara...

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Sebagaimana tertuang dalam Qs.  At - Tahrim [66]:6, "Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya Malaikat malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan... "

Maka sejatinya inilah yang kami ikhtiarkan sekuat dan semampu kami. Untuk Membersamai Anak sebagai Amanah yang telah Allah titipkan.

MEMULAI HOMESCHOOLING

Seperti kebanyakan orangtua pada umumnya, kami (narasumber, data terlampir di akhir artikel) sebenarnya ingin anak kami bersekolah di Sekolah Formal. Pada usia kurang dari 2th, putri kami sudah masuk Playgroup kemudian lanjut TK dan Sekolah Dasar selama 6 tahun. Secara Umum anak kami termasuk sebagai anak yang berprestasi, penghargaan dan piala juga cukup banyak ia peroleh. Dalam perkembangannya di Sekolah Formal banyak hal yang sebenarnya sering menjadi keluhan anak kami, namun kami belum menganggap serius ke"tidak nyaman"an anak dengan sistem persekolahan formal, yang kami lakukan hanya mencoba menenangkan anak kami agar bertahan dan tetap bisa survive di sekolah hingga lulus SD. Alhamdulillah.

Setelah lulus, kemudian kami diskusikan bersama mengenai keinginan anak kami untuk *tidak sekolah*. Saat itu kami juga belum tahu bagaimana untuk memulai HS (Homeschooling), Belum ada referensi teman pelaku HS, maupun buku. Sementara anak merasa "bebas merdeka" karena suami sudah mengiyakan keinginannya, sementara saya masih galau. Yang terfikir dan membuat kami nekat menjalani HS adalah karena Suami menguatakan dan meyakinkan. "di Akherat nanti, kita tidak ditanya lulusan SMP/ SMA atau S1 S2 dari mana? Tetapi akan ditanya Ketauhidan dan Akhlak kita..." Bismillah, kami memulai HS.

MEMBERSAMAI Anak pre AQIL BALIGH

Diawal memulai HS, kami belum buat jadwal atau kurikulum. Kami hanya Fokus pada Ibadah dan Alqur'an, Karena banyak yang tertinggal dan yang belum kami pelajari. Bunda, sejujurnya waktu belajar anak kami menjadi waktu belajar buat saya dan suami juga. Kami belajar bersama, mendiskusikan semua hal dan mengevaluasi bersama. Kami orangtua Jadi lebih seperti partner kerja. Kadang saya membantu kesulitannya atau sebaliknya. Bahkan hingga pekerjaan domestik rumah tangga sekali pun, kami lakukan bersama.

Meski sudah nekat, tetap saja ada kebimbangan di hati kecil saya sebagai seorang ibu. Akhirnya saya daftarkan ke PKBM terdekat, mengikuti program Distance Learning dengan kuantitas pertemuan 1 kali sepekan. Disini putri kami merasa berada di Sekolah Formal namun pada lingkup kecil, yang akhirnya hanya bertahan 1 semester saja.

Semester ke 2, Alhamdulillah sudah bisa menentukan Visi Misi. Mulai susun jadwal yang kami pelajari :

Tauhid, Aqidah, Syariat,  Muamalat, Pokok Pokok Agama
 Alqur'an (tilawah dan tahfiz)
 Buku Tafsir Ibnu Katsir
 Bukit Riyadush Sholihin
 Al-Adab Al Mufrad
 Ensiklopedia Adab Islam
 Al Masaail (masalah masalah agama)
 Buku buku Sejarah Islam, Peradaban Islam dll.

Life Skill n Science
 Menulis (cerpen,  artikel dan blog)
      # Sudah terbit 2 buku ( 1 kumpulan cerikta anak dan 1 antalogi cerpen Remaja)
      # Beberapa Artikel di muat oleh The Jakarta Post dan Surat Akbar
  # Penghargaan oleh Kemendikbud Finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia (2015) Bidang Cerpen
 Bahasa Asing ( Inggris, Jerman,  Turki, Tagalog,  Spanyol,  Arab,  Afrika)
    Belajar Autodidak melalui Buku dan Internet.
 Mengikuti Workshop Menulis.
 Olahraga Panahan (POPDA tk. SMP), berenang,  jogging.
 Nature Study : Belajar Di Alam  camping, tracking, pengamatan bidang kelautan,  pengamatan capung, astronomi dll.
 Speaker di beberapa event yang berkaitan dengan pendidikan dan bakat anak.

Materi Diknas
Sebagai persiapan mengikuti UN / UNPK


TANYA-JAWAB

1. Assalamu'alaikum, Mb Mey, bagaimana melatih kesabaran bagi anak usia pre aqil baligh? Dalam hal pelaksanaan ibadah bolehkan sudah ditekankan hadiah-hukuman? Jazakillah khair
Ummu Husna Bpp

JAWABAN
Waalaikumsalam  Ummu Husna. Dalam penerapan pembiasaan pelaksanaan ibadah, kami mulai dengan tahapan. Mulai dengan pengenalan,  Melihat orangtua Ibadah,  kemudian mengajarkan bacaan sholat,  mengaji,  kemudian mengajak sholat.

Ummu Husna Sholiha, sama seperti anak-anak lain juga, kadang mudah diajak sholat, kadang juga malas. Sesekali saya memberi reward jika anak melaksanakan ibadah tanpa diminta atau dipaksa. Hadiah kecil yang disukai anak. Biasanya sih cuma 1 botol yogurt sudah membuat anak happy. Namun tidak jarang kemalasan datang dan menguji kesabaran kami.

Karakter anak kami tidak suka dipaksa atau diminta dengan suara keras. Jadi saya musti menahan "kesal" dan melembutkan suara. Istighfar terus juga. Kami tidak pernah memberi "hukuman", lebih sering memberi pengertian² dan mendiskusikan kesalahan² kami bersama.

Alhamdulillah disaat usia balighnya tiba, kesadaran dan pemahaman akan kewajiban InsyaAllah sudah tertanam. Meski masih sesekali diingatkan, namun hanya sekedar mengingatkan ibadah² sunnah.

2. Bagaimana awal mula mba Mey menertibkan anak sholat saat usia 7 tahun?  Anak sulung saya kalau sholat berjamaah agak kurng betah berlama-lama, kalau sendirian, cepat sholatnya.
Bunda Titi

JAWABAN
Iyyaa... Sama Bund. Saat usia anak 7tahun bagi saya masih dalam batas toleransi. Masih susah bangun pagi, kadang waktu Ashar terlewat, karena tidur siang. Terus ajak Bund... Meski kadang anak tidak tenang. Sampaikan terus, "Anak Sholeh/a Sholatnya yang Tenang yaaa.." Supaya mendapat Rahmat, supaya Allah sayang kita. Dll . Senantiasa Do'a kita pula menyertai.

3. Mba, bagaimna caranya mempersiapkan masa baligh anak kita, dimulai dari usia berapa baiknya?
Husnul- Samarinda

JAWABAN
Masa Baligh adalah dimana anak sudah sudah faham konsep Keimanan dan Aqidah. Prosesnya, mesti dimulai sejak dalam kandungan hingga mencapai baligh.

Banyak teori-teori parenting nabawiyyah yang bisa dibaca dan dipelajari. Ada tahapan-tahapan pedidikan berdasarkan usia. Secara garis besar, pada bayi mulai diperdengarkan tilawah, kemudian semakin besar diajarkan mengucap La illahailallah, kemudian diajak sholat mengaji, dekat dengan masjid, bersosialisasi, dll.

Pembiasaa Adab sehari² seperti membaca Bismillah saat mau makan, minum dll. Atau mengenakan sandal, sepatu dengan kaki kanan terlebih dahulu  dll. Usia 7-th baru dimulai anak untuk diajarkan Sholat. Dst. Bahwa yang terpenting adalah pembiasaan yang juga dirasakan dan dilihat dari orangtua atau lingkungan terdekat akan mudah ditiru oleh anak. InsyaAllah

4. Bagaimana cara kita menghadapi masa pubertas anak HS? Terutama yang brkaitan dengan ketertarikan mereka pada lawan jenis. Apakah di usia pre aqil baligh  anak-anak sebaiknya di izinkan menggunakan medsos secara bijak dan terbatas, atau justru harus dlarang?
Yurin-Balikpapan

JAWABAN
Huhuuhuu... Pertanyaannya... Mudah menjawabnya namun penuh perjuangan prakteknya... Hihi
Bunda Yurin, pada masa masa pubertas, anak² secara biologis sudah ada ketertarikan dengan lawan jenis. Orangtua yang dekat dengan anak, akan mudah melihat tanda² yang berbeda dari anak. Tentu saja rasa ketertarikan tidak dapat Di"bendung" atau di"tutup" begitu saja. Namun insyaAllah BISA dialihkan perhatiannya terhadap hal² yang menjadi prioritas, misal tentang cita² nya ingin menjadi Hafiz/ah, ingin menjadi penulis, dll sehingga tidak ada "ruang" bagi anak untuk memikirkan hal² yang kurang berguna.

Sampaikan juga mengenai syariah  Ibadah dan tentang Halal Haram. Penting bagi orang tua memberikan pemahaman mengenai pubertas sejak usia 9 atau 10th. Saya sudah sounding tentang hal ini saat usia tersebut. Meski mungkin belum faham, namun saya sampaikan berulang-ulang tentang masa baligh yang sebentar lagi akan dihadapi.

Untuk penggunaan sosial media dapat menyesuaikan kebutuhan. Anak saya, saya ijinkan menggunakan medsos, dengan beberapa ketentuan. Secara berkala saya cek chatnya, hp tidak menggunakan password.

5. Ketika menjalani HS pernah kah anak mb. Mey mengalami kejenuhan? Bagaimana menyikapi kejenuhan pada anak atau jika menemukan anak yang ingin kembali ikut sekolah formal.
Fadila Bahabazy - Berau

JAWABAN
Sampai saat ini, anak sangat menikmati HSnya. Bahkan sebenarnya hari belajar anak dimulai dari hari Minggu hingga Sabtu ada jadwal belajar. Meski kami diluar rumah. Belajar bagi kami bukan semata² pelajaran akademis saja.

Misalnya, pada hari Idul Adha kemarin, anak terlibat dalam kepanitiaan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurban. Memang sifatnya hanya membantu kepanitiaan orangtua, namun dengan keterlibatannya, anak banyak mendapat pengalaman bersosialisasi dan berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang dan merasakan lelah, ribet, heboh menghadapi banyak masalah yang terjadi. Biasanya kami diskusikan kejadian kejadian yang patut dan tidak patut. Sehingga anak mendapat Ibroh dari pengalamannya.

Kejenuhan dengan aktifitas sehari² yang monoton tentu akan dialami anak atau semua orang, Baik anak sekolah formal maupun HS. Biasanya kami sempatkan untuk refreshing, ke mana saja yang membuat suasana berbeda, atau refreshing dirumah juga bisa. Misal kita undang saudara untuk menginap dirumah,  kemudian masak bersama,  main, sepedaan  dan aktifitas lain bersama sepupu.

Kalau anak ingin kembali ke Sekolah Formal, tentu kami akan berikan haknya. Namun akan kami yakinkan dulu bahwa keinginannya memang pilihan terbaik dengan alasan dan tujuan yang benar bisa difahami.

Karena pada prinsipnya Pilihan belajar disesuaikan dengan Tujuan dan Harapan orangtua serta sesuai Kebutuhan Anak (Baca : Visi Misi). Jika di sekolah formal dirasa bisa memenuhi tujuan kita,  maka itu menjadi pilihan terbaik. Namun tetaplah orangtua harus menjadi sumber ilmu terbaik bagi anak.

Semoga resume diskusi Membersamai Anak sebagai Amanah Allah ini bisa bermanfaat ^_^
Salam Hangat


PROFIL SINGKAT NARASUMBER
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Nama   :Meydiana Rahmawati
Nama Suami : Didik Ristanto
Nama anak  : Alifia Afflatus Zahra (14 th) HS setingkat SMA kelas 10
Aktifitas : ibu rumah tangga, ibu pelaku HS
Latar belakang pendidikan : sarjana Teknik Kimia
Domisili : Semarang

Sumber Gambar : www.sakurakidz.com
Sumber Tulisan :
*RESUME* *KULWAP* Grup HSMN *KALIMANTAN*
Rabu 14 Sept 2016*
NARASUMBER: *Mba Meydiana*
20.30-21.30 wita
*Membersamai HS-er pre-aqil baligh*
Moderator: Fatmawati
 Notulen: Yurin Syaiftiani
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

Related

Pendidikan Anak 3225991549148632050

Post a Comment

  1. wah kalo aku jarang ikut les les gitu, kalo dirumah itu lebih diajarkan sama keluarga dan kakak si

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerennn, memang lebih bagus dari keluarga inti langsung..

      Delete
  2. ingin sih dan mempertimbangkan pendidikan anak melalui home schooling namun hati belum mantap tentang ke depannya, bagaimana caranya agar hati ini mantap dengan keputusan itu ya?
    terima kasih

    ReplyDelete
  3. Masyaallah, figur keluarga yg sudah saya kenal jg. Terimakasih ya sudah berbagi. Bisa diambil banyak pelajaran dr sini :)

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item