Cara Membangun Self Esteem pada Anak

Cara Membangun Self Esteem pada Anak Apa itu Self-Esteem (SE)? Membahas  self-esteem  (harga diri) tidak bisa lepas dari membahas sel...

Cara Membangun Self Esteem pada Anak
Cara Membangun Self Esteem pada Anak
Apa itu Self-Esteem (SE)? Membahas self-esteem (harga diri) tidak bisa lepas dari membahas self-concept (konsep diri). Konsep diri adalah pandangan menyeluruh tentang diri kita, termasuk pandangan tentang penampilan, kemampuan, temperamen, sikap, dan keyakinan kita. Pandangan kita mengenai diri kita ini sangat dipengaruhi oleh cara kita menerjemahkan 'umpan balik' dari orang lain di lingkungan kita. Bagaimana kita menangkap reaksi orang lain terhadap perkataan dan perbuatan kita akan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Proses ini telah berlangsung sejak kita mulai berinteraksi dengan lingkungan, sejak kita bayi.

Apa hubungan self-esteem dengan konsep diri? Self-esteem adalah evaluasi atau penilaian terhadap konsep diri kita. Selain memiliki pandangan tentang diri kita yang aktual, kita juga memiliki gambaran tentang diri yang ideal. 'Ideal' tidak sama dengan 'sempurna'.  Semakin kita menilai bahwa diri aktual kita mendekati gambaran diri yang menurut kita ideal, maka penilaian diri kita semakin baik (good me) atau dikatakan kita memiliki healthy self-esteem. Sebaliknya, semakin jauh kesenjangan antara diri aktual dengan diri ideal, maka penilaian tentang diri menjadi semakin buruk (bad me), atau dikatakan memiliki low self-esteem. Self-esteem memiliki tingkatan dalam garis kontinum dari tinggi-sedang-dan rendah. 

Orang yang mengalami low self-esteem biasanya memiliki gambaran diri ideal yang tidak realistis atau tidak rasional yang membuatnya semakin sulit untuk mencapainya, sehingga mengonfirmasi bahwa dirinya tidak baik atau tidak kompeten.

Mengapa membangun healthy self-esteem pada anak itu penting? Healthy self-esteem adalah tentang merasa kompeten, merasa dicintai dan 'disetujui', merasa berharga, berguna, dan nyaman dengan diri sendiri. Apa manfaatnya memiliki perasaan ini? Tentu saja kita akan merasa lebih bahagia, positif, dan optimis dalam menjalani kehidupan. Bayangkan jika anak kita merasakan kebalikannya? Bayangkan ia merasa tidak berharga, tidak berguna, tidak kompeten, tidak dicintai, tidak didukung, tidak nyaman dengan diri sendiri. Bagaimana kita akan menjalani kehidupan ini dengan perasaan-perasaan itu? Apa yang akan kita lakukan ketika menemui kesulitan jika kita merasa tidak kompeten?

Anak yang mengalami low self-esteem akan lebih mudah putus asa. Anak menjadi kurang percaya diri, merasa pesimis terhadap hasil dari usaha mereka. Anak yang merasa tidak kompeten akan menganggap reward yang mereka terima adalah karena keberuntungan atau kebetulan, bukan karena usaha mereka. Lebih jauh, dalam bidang klinis, banyak penelitian menemukan hubungan antara low self-esteem dengan  depresi, pikiran bunuh diri, dan percobaan bunuh diri pada remaja

Bagaimana cara membangun self-esteem pada anak? Self-esteem ada yang bersifat umum atau dikenal dengan istilah global self-esteem dan ada yang spesifik pada bidang-bidang tertentu, seperti diri-fisik, sosial, emosional, dan akademik. Tingkat self-esteem pada satu bidang bisa berbeda dengan bidang yang lain. Seorang anak bisa saja memiliki self-esteem yang tinggi pada bidang akademik karena ia merasa kompeten di akademik, tetapi memiliki self-esteem diri-fisik yang rendah karena sering diejek gemuk dan jelek oleh teman-temannya. Self-esteem pada bidang spesifik bisa berpengaruh terhadap global self-esteem jika bidang tersebut dianggap penting oleh individu yang bersangkutan dan oleh orang-orang signifikan di sekitarnya. 

Jika ingin membantu anak yang mengalami low self-esteem untuk meningkatkan self-esteem mereka, maka kita perlu mengetahui dulu pada bidang apa dia merasa rendah diri dan seberapa penting bidang itu untuknya.
Secara umum, ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam membangun self-esteem, yaitu :
  1. Mengembangkan perasaan kompeten di bidang yang dianggap penting oleh anak dan lingkungannya.
  2. Memberikan umpan balik positif mengenai diri anak.
Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap self-esteem dalam parenting?
❤ Genetik
Neiss, Stevenson, and Sedikides (2003) menyimpulkan bahwa genetik berpengaruh sebesar 30-40% dari varians tingkat self-esteem dalam saudara kandung. Secara biologis, anak terlahir dengan predisposisi tertentu seperti, tingkat energi, temperamen dasar, kondisi fisik, sosial, dan kemampuan kognitif tertentu. Jika anak lahir di keluarga atau budaya yang mengapresiasi konstelasi karakteristik dan kemampuan yang dimilikinya, maka kemungkinan kesesuaian antara individu dan lingkungan akan memberikan dampak positif pada self-esteemnya. Anak pada kondisi ini akan lebih mudah dinilai sebagai anak yang berharga dan memperoleh kompetensi yang dibutuhkan untuk self-esteem-nya. Jika anak lahir "berbeda" dari kedua orangtuanya atau saudara-saudara kandungnya, kemungkinan anak tersebut akan melalui jalan yang sulit untuk membangun self-esteemnya.
      
❤ Dukungan dan Keterlibatan Orangtua.
Keterlibatan orang tua merupakan salah satu penentu self-esteem anaknya. Biasanya, keterlibatan ortu yang suportif memiliki dampak positif terhadap self-esteem anak. Dukungan dari ibu berkorelasi dengan perkembangan perasaan berharga pada anak-anaknya, sedangkan dukungan ayah lebih berkaitan dengan perkembangan perasaan kompeten. Orangtua yang lebih terlibat dan suportif terhadap anak memiliki anak dengan tingkat self-esteem yang lebih tinggi daripada orangtua yang mengabaikan anaknya atau orangtua yang absen untuk waktu yang lama (Clark & Barber, 1994; Coopersmith, 1967; Rosenberg,  1965).
      
❤ Kehangatan dan Penerimaan Orangtua.
Hanya keterlibatan ortu saja tidak cukup dalam membangun self-esteem. Kualitas dan kehangatan atau penerimaan orangtua menjadi hal yang krusial dalam perkembangan self-esteem anak. Kemauan ortu untuk melihat kekuatan dan kelemahan anak, potensi dan keterbatasan anak adalah penting. Penerimaan yang hangat harus seimbang, "tidak buta", yang artinya persetujuan yang sederhana tidak berhubungan dengan self-esteem. Hanya memberikan persetujuan atau pujian pada anak lebih berasosiasi dengan masalah seperti narsisme dan sebagainya. Ortu harus bisa melihat anak dengan seimbang. Dengan melihat kelebihan dan keterbatasan anak dalam situasi tertentu, ortu dapat mendorong anaknya untuk mengeksplorasi dunia dengan cara yang berdasar pada keunikan anak dalam kemampuan, kesukaan, kompetensi, ketakutan, minat, dan seterusnya pada usia tertentu. Semuanya saling berhubungan dalam mengembangkan perasaan kompeten yang membangun self-esteem.

Ketika anak tidak merasakan penerimaan dan kehangatan ortu, maka self-esteem mereka akan bergantung pada  faktor ekstrinsik daripada intrinsik.

❤ Harapan dan Konsistensi Orangtua.
Harapan dan batasan yang diberikan ortu kepada anaknya berkaitan dengan perkembangan positif self-esteem pada anak. Orangtua menetapkan tujuan yang tinggi, tetapi tetap dalam jangkauan anak untuk dicapai, serta standard yang jelas tentang keberhargaan diri. Menetapkan tujuan dan standard dapat membuat anak mengetahui bahwa perilaku tertentu yang diharapkan, baik, "berharga", dan layak diraih. Menentukan dan mempertahankan batasan  perilaku penting karena kegagalan dalam menunjukkan perilaku yg diharapkan dapat merusak self-esteem. Jangan terlalu permisif atau terlalu keras dalam menentukan batasan perilaku. Batasan yang terlalu permisif berhubungan dengan perilaku impulsif dan agresif. Sedangkan batasan yang terlalu keras dan ketat dapat berhubungan dengan perkembangan kecemasan dan  perilaku terhambat.

❤ Gaya Pengasuhan
Gaya pengasuhan demokratis dianggap paling kondusif untuk mengembangkan self-esteem anak, daripada gaya pengasuran otoriter dan permisif. Maksudnya, kemauan ortu untuk mendiskusikan masalah dan bernegosiasi ketika ada konflik dapat membantu mengembangkan self-esteem anak. Dalam mengasuh anak, tentu saja ortu tidak harus selalu menggunakan gaya demokratis. Sebagian besar masalah diselesaikan secara demokratis, namun dalam mendisiplinkan anak, ortu perlu juga melihat situasi dimana gaya pengasuhan otoriter atau permisif menjadi lebih efektif.
"Parents who are approving, nurturant, and responsive tend to produce children with higher self-esteem than parents who are disapproving, uninterested, and unresponsive" (Leary & MacDonald, 2003).

❤ Urutan Kelahiran
Penelitian dari Coopersmith (1967) menyatakan bahwa urutan kelahiran dapat memberikan efek terhadap self-esteem. Anak yang lahir pertama kemungkinan mengembangkan positive self-esteem. Anak tunggal juga kemungkinan memiliki self-esteem yang lebih tinggi daripada anak yang memiliki saudara kandung. Meskipun hubungan kausal antara urutan kelahiran dan self-esteem tidak sederhana, penjelasan untuk hal ini adalah bahwa anak sulung dan anak tunggal menerima perhatian dan interaksi lebih banyak dari ortu mereka. Anak kedua dan seterusnya sejak lahir sudah dalam kondisi harus berbagi dengan saudara kandungnya. Tetapi, tetap perlu diingat bahwa kualitas interaksi ortu-anak lebih penting daripada kuantitas.

❤ Modelling
Ortu menunjukkan kepada anaknya rute dalam mengembangkan self-esteem melalui cara menangani tantangan hidup, konflik, dan masalah yang mereka hadapi. Bagaimana ekspresi ortu terhadap resolusi mereka sendiri lebih berpengaruh daripada apa yang dikatakan ortu kepada anaknya. Ortu yang menghadapi tantangan hidup dengan jujur dan terbuka, dan berusaha untuk mengatasinya, bukan menghindarinya, menunjukkan kepada anak-anak mereka tentang strategi penyelesaian masalah pro-self-esteem. Sebaliknya, ortu yang menghindar dari menyelesaikan masalah menunjukkan rute negatif dalam menangani tantangan dan masalah dalam hidup, yang dapat membawa pada perasaan tidak kompeten dan tidak berguna yang dapat merusak self-esteem.

 Cara Membangun Self Esteem pada Anak

        
          *Sesi tanya jawab*
Pertanyaan 1
Ibu, bagaimana mengembalikan kepercayaan diri anak yang terlanjur hilang akibat perkataan orang sekitar yang tidak sesuai. Beberapa saat lalu anak saya 6yo diminta menulis oleh salah seorang guru, karena anak saya memang belum bisa membaca dan hanya mengenal beberapa huruf jadi dia bilang tidak bisa. Kemudian dia ditanya "kamu bisanya apa?", akhirnya dia agak minder dan menganggap menulis atau membaca adalah pekerjaan yang sulit. Padahal sebenarnya anak saya cinta buku dan suka baca gambar dan minta dibacakan buku. Saya ingin menyemangatinya kembali, terima kasih bu.

*Jawaban*
Guru adalah salah satu orang yang signifikan bagi anak. Komentar/umpan balik dari guru mengenai kompetensi anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan self-esteem anak. Dalam kasus ini memang pertanyaan dari guru itu membuat anak merasa tidak kompeten dalam bidang akademik, khususnya dalam membaca dan menulis. Gurunya mungkin tidak paham tentang psikologis anak, jadi dia bertanya begitu. Cara mengembalikan kepercayaan diri anak pada intinya seperti yang sudah disampaikan dalam materi pengantar, yaitu :
  1. Memunculkan perasaan kompeten dalam diri anak. Untuk memunculkan perasaan kompeten, maka anak perlu MENGALAMI KEBERHASILAN (mastery experience). Jadi kita beri tugas kepada anak yang kita yakin bahwa anak pasti bisa melakukannya dengan benar, pasti berhasil melakukannya. Dalam memberikan tugas apa pun, selalu awali dengan soal yang mudah dulu yang pasti dikerjakan dengan benar oleh anak, sehingga anak merasa mampu. Misal, kita tau bahwa anak hanya mengenal beberapa huruf, maka yang ditanya kepada anak adalah huruf-huruf yang sudah dia ketahui saja. Setelah itu, secara bertahap, kita ajarkan juga huruf-huruf yang lain sampai akhirnya nanti anak bisa membaca dan menulis. Setelah anak merasakan sendiri bahwa dia bisa membaca dan menulis, maka perasaan tidak kompeten dalam membaca dan menulis akan berkurang dan ia menjadi lebih percaya diri.
  2. Berikan umpan balik positif kepada anak. Kita sebagai ortu adalah orang yang signifikan juga bagi anak-anak. Jadi komentar dan umpan balik kita juga penting bagi anak. Ketika anak belajar bersama kita dan kita memberikan tugas-tugas yang mampu ia lakukan dengan benar, kita berikan umpan balik positif kepadanya, seperti "Wah, ade bisa melakukannya dengan benar. Ternyata KAMU BISA! Waktu Bu guru nanya itu, mungkin bu guru ga tau aja bahwa kamu bisa. Wajar kok anak umur 6 tahun belum bisa baca tulis semua huruf, kan masih dalam proses belajar membaca. Yuk belajar lagi sama bunda biar makin banyak yang kamu bisa". Intinya kita memberikan penguatan kepada anak terhadap kemampuan dia. Apa yang blm dia bisa itu bukan krn dia tidak bisa, tetapi karena belum dia pelajari dan sesuatu yang wajar untuk anak seusia dia.

Pertanyaan 2
1. Anak saya laki-laki 2y10m. anak yang aktif dan pemberani, serta suka mencoba hal-hal baru. Sore tadi saat jam outdoor activity dia melakukan hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya, yaitu ikut temannya ke warung, ambil jajanan lalu dibawa pulang. Selain itu juga masuk ke rumah tetangga, buka kulkas dan ambil salak tanpa izin pemilik rumah. Lalu saya dengan tegas minta dia mengembalikan ke pemilik makanan tsb (tidak marah, bicara singkat, tegas, diulang-ulang sampai dikembalikan). Yang menjadi pertanyaan, saat memintanya mengembalikan saya lakukan on the spot, ada teman-teman dan tetangga disitu, apakah hal tsb dibenarkan? atau haruskah saya gendong anak saya pulang dan memberitahunya dirumah (tidak didepan teman) lalu menemaninya mengembalikan?bagaimana cara menegakkan batasan terhadap anak di tempat umum tanpa mencederai kepercayaan dirinya?

2. Bagaimana menumbuhkan self esteem anak kedua/ketiga dimana seperti disebutkan sebelumnya dia harus berbagi dengan saudaranya. 

*Jawaban*
1. Saat menegur anak sebaiknya memang tidak di depan orang lain. Jika kita yakin bahwa ucapan kita akan diterjemahkan anak sebagai teguran karena dia telah berbuat salah, maka sebaiknya kita mengajak dia bicara tidak di depan orang lain. Tapi, jika menurut kita anak menerjemahkan ucapan kita sebagai ucapan biasa (bukan teguran) dan dia tidak tau bahwa dia telah berbuat salah, maka tidak apa-apa kalau hanya mengatakan untuk mengembalikan barang yang dia ambil di depan temannya. Kemudian di rumah (tidak di depan orang lain) baru dibahas lagi bahwa yang dia lakukan tadi salah dan apa yang seharusnya dia lakukan ketika menginginkan barang milik orang lain. Akan lebih aman memang jika anak diajak bicara di rumah kemudian ditemani saat mengembalikan agar kita juga bisa memantau apa yang dilakukan anak saat mengembalikan dan apa umpan balik yang dia terima dari pemilik makanan.

2. Menumbuhkan self-esteem anak ke2 dan seterusnya pada intinya sama saja seperti yang sudah disampaikan dalam pengantar materi. Hanya saja, menurut penelitian, anak sulung kemungkinan akan memiliki self-esteem yang lebih tinggi karena pernah merasakan perhatian dan interaksi yang lebih banyak. Orangtua kemungkinan akan lebih excited dan perhatian ketika anak pertamanya baru lahir. Tapi, tidak menutup kemungkinan anak pertama kemudian mengalami penurunan self-esteem. Self-esteem ini bisa saja naik atau turun sejalan dengan perkembangan individu dan pengalamannya dengan lingkungan. Jika ortu suka membanding-bandingkan kakak-beradik, maka hal ini dapat merusak self-esteem anak yang dianggap lebih buruk oleh ortunya dalam perbandingan.

*tanggapan*
jika dibawa pulang atau diajak agak ke pinggir, anak-anak lain suka ngikut atau memperhatikan (ngeliatin mulu), malah jadi pusat perhatian, gimana yah?

Oiya saat memberitahu kakak, adik juga selalu ada (karena masi bayi) jadi tetap ada pihak ketiga (si adek)

*jawaban*
Kalau sulit mengajak bicara berdua, maka yang perlu diperhatikan adalah cara bicara. Sebisa mungkin bicara dengan nada datar dan tidak menyalahkan atau menghakimi. Yang dikomentari adalah perilaku yang tidak tepat dan beritahu perilaku yang tepat apa. Jangan mengomentari anak sebagai individu, tapi perilakunyalah yang dibahas. yang penting anak tidak merasa dipermalukan.

Sebenarnya, ketika bicara berdua pun tetap nada bicara sebaiknya datar dan tidak menghakimi, hanya saja kemungkinan akan ada diskusi yang membahas bahwa anak telah melakukan kesalahan, yang mungkin anak tersebut tidak mau jika orang lain tau. kalau di depan bayi sepertinya tidak apa-apa karena anak usia 2y10m kemungkinan sudah mengerti bahwa bayi belum mengerti apa yang dibahas oleh ibunya dan dirinya.


Pertanyaan 3
Bagaimana menghadapi anak yang sebelum melakukan sesuatu sudah putus asa? Ketika ditanya, "kenapa kamu menangis?", dia menjawab "saya menangis karena saya takut nanti akan menangis". Saya bingung ketika anak saya usia 4,5 tahun berbicara seperti itu ketika akan melakukan latihan taekwondo yang sudah diikutinya 1 bulan. Awalnya dia selalu semangat, sampai kami liburan cukup lama dia berhenti latihan selama 2 minggu. Setelah itu, setiap latihan dia selalu menangis tanpa sebab, sampai 2 pertemuan. di pertemuan ke tiga, dia berangkat dengan gembira, setelah sampai tempatnya sebelum latihan dimulai dia sudah menangis. dan ketika ditanya, itulah jawabannya "dia menangis karena takut akan menangis".

Karena kami tidak tau harus berbuat apa, maka kegiatan latihan itu tidak kami lanjutkan, dan sampai sekarang jika ditanya apakah mau latihan lagi, dia selalu bilang tidak. Dari jawaban dia, saya menangkap bahwa anak saya takut terlihat tidak sempurna didepan orang tuanya, dia takut menangis dan mengecewakan kami. Mungkin ini kesalahan sikap kami. mohon bantuannya, bagaimana bisa mengembalikan kepercayaan dirinya dan tidak membuat dia terbebani dengan kami. terima kasih

*Jawaban*
Anak-anak memang sumber self-esteem-nya masih eksternal. Ia perlu konfirmasi dari orangtua dan significant person lainnya bahwa "He is ok". Orangtua yang menunjukkan penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, potensi dan keterbatasan anak, dapat membantu anaknya mengubah sumber self-esteemnya menjadi intrinsik. Ketika ia merasa orang tuanya menerimanya apa adanya, tidak menuntut sesuatu yang dia tidak mampu, maka anak akan merasa nyaman menjadi diri sendiri. Seringkali anak berperilaku tertentu hanya untuk menyenangkan orang tuanya, padahal mungkin dia sendiri tidak suka. Banyak anak yang rajin belajar demi menyenangkan orang tuanya. Ia ingin menjadi "anak baik", ia ingin "diterima" orangtua. Jadi yang perlu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan diri anak adalah dengan menerima kelebihan dan kekurangan anak dengan seimbang. Sampaikan kepada anak bahwa tidak ada orang yang sempurna, tidak apa-apa dia melakukan kesalahan selama dia mau memperbaikinya, tidak apa-apa  jika dia tidak menyukai kegiatan yang ditawarkan kita. Tanyakan kepada anak kegiatan apa yang dia suka untuk dilakukan dan dia tidak perlu melakukan hal yang tidak dia sukai. 


Pertanyaan 4
Apa yang pertama kali harus dilakukan, bila ibu yang memiliki low self esteem, ingin membangun self esteem anaknya? Apakah sang ibu harus menyembuhkan low self esteemnya dulu, atau bersama membangun self esteem  bersama anak?

*Jawaban*
Ibu yang mengalami low self-esteem perlu meningkatkan self-esteemnya dulu. Ibu yang mengalami low SE mungkin akan merasa menjadi "bad mom" ia akan mudah terpengaruh "peperangan" antar ibu, seperti asi vs sufor, mpasi rumahan vs mpasi instan, full time mother vs working mother, dsb. Ibu yang mengalami low SE kemungkinan akan mudah terpengaruh hal-hal eksternal di luar dirinya. Misal, ketika ia ingin memberikan asi eksklusif, tetapi ternyata air susunya hanya keluar sedikit atau bahkan tidak keluar, maka ia dengan mudah akan merasa menjadi "bad mom" yang kemudian membuat dia merasa semakin tidak berharga, tidak bahagia, stress, bahkan depresi, yang kemudian tentu saja memengaruhi perilaku ibu dalam mengasuh dan merawat anak.

Penyebab ibu merasa low SE bisa bermacam-macam. Seringkali ibu yang merasa low SE memiliki tujuan yang tidak realistis atau tidak rasional, ingin sempurna, padahal tidak ada manusia yang sempurna. semakin kita menuntut kesempurnaan, maka akan kita semakin merasa tidak sempurna, yang selanjutnya membawa kita pada ketidakbahagiaan.

Untuk membantu mengubah tujuan-tujuan tidak rasional itu, coba ibu buat tabel untuk menuliskan hal-hal yang membuat ibu merasa tidak bahagia. Kolom pertama tulis pikiran/tujuan yang membuat ibu merasa tidak bahagia. di kolom kedua, tuliskan pikiran/tujuan yang rasional yang bisa membuat ibu merasa lebih bahagia. terkadang sulit untuk mengenali bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak rasional. tapi kita pikirkan lagi dampaknya pada emosi kita. Fokuslah pada tujuan yang bisa membuat kita merasa lebih bahagia. tidak perlu menuntut diri sempurna.

Self-esteem anak berkembang sejak dia bayi. Sejak bayi, anak sudah dapat merasakan apakah ibunya responsive terhadap kebutuhannya, apakah ibunya selalu memandangnya dengan tatapan hangat, apakah ibunya tersenyum ketika berbicara dengannya. Biarpun belum bisa berkomunikasi secara verbal, bayi bisa merasakan emosi yang kita sampaikan kepadanya melalui ekspresi wajah dan cara berperilaku ibunya. bayi akan merasa dicintai atau sebaliknya. bayi yang merasa dicintai akan lebih mudah mengembangkan healthy self-esteem.


Pertanyaan 5
Apakah ada korelasi antara self esteem dengan selftalk? Bagaimana kedudukan pengaruh kedua hal ini? Bagaimana langkah awal utk menaikkan self esteem yang sudah puluhan tahun mengalami low self esteem?

*Jawaban*
Self-talk bisa menjadi salah satu metode yang digunakan dalam rangkaian treatment untuk meningkatkan self-esteem. Seperti telah disampaikan sebelumnya, salah satu cara meningkatkan self-esteem adalah dengan memberikan umpan balik positif kepada diri. Self-talk yang berisi kalimat-kalimat positif adalah salah satu upaya untuk memberikan umpan balik positif atau penguatan positif terhadap apa yang telah kita lakukan.

Bagi yang telah mengalami low SE puluhan tahun, langkah awal untuk menaikkan SE adalah dengan menyadari terlebih dahulu bahwa ia mengalami low SE, menyadari dampak low SE terhadap kehidupannya, dan memiliki kemauan untuk meningkatkan SE-nya. biasanya hal ini dilakukan melalui konseling. SE sangat berkaitan dengan nilai (value) yang kita pegang, maka penting kita menyadari value kita tentang "good person" itu apa. Apakah value yang kita pegang itu sudah benar atau tidak. tentu saja sebagai muslim, value yang kita pegang ini harus sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka di tahap awal yang dibenahi adalah value yang kita yakini. kemudian kita fokus pada tujuan hidup kita dan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. orang yang mengalami low SE kan merasa "bad me", kemungkinan karena ia fokus pada kekurangan-kekurangan dirinya dan diri ideal yang ditetapkannya yang tidak rasional.


Pertanyaan 6
Anak sulung saya laki-laki 7th, dia melankolis, pernah beberapa kali cerita jika main bersama dengan anak usia 10th kadang dia ga diajak main, dia cerita sedih, saya minta bermain dengan seusianya, dia bilang seneng dengan kakak kelas lebih seru mainnya. Bagaimana menumbuhkan self esteem jika dia itu bisa berteman dengan siapa saja tanpa merasa di bully atau tidak dterima di kelompok tertentu.

*Jawaban*
Ini berarti SE bidang social ya. Untuk meningkatkan SE bidang social, maka anak perlu memiliki keterampilan-keterampilan untuk menjalin relasi social dengan teman sebaya maupun lintas usia. Kita ajarkan kepada anak  tentang norma-norma sosial, cara mengajak berkenalan, cara mengajak bermain, cara mengekspresikan emosi yang dapat diterima lingkungan social, dsb. Salah satu keterampilan social juga adalah cara menerima penolakan orang lain. Jelaskan kepada anak bahwa tidak semua orang akan mau bermain atau menyukai kita. Sama seperti dirinya yang lebih suka bermain dengan anak yang lebih tua, anak lain pun mungkin memiliki preference dalam memilih teman. bahas dengan anak keberhasilan-keberhasilan dia dalam situasi social, seperti misalnya lebih banyak yang menerima untuk bermain bersama dengannya daripada yang menolak dirinya, yang artinya dia tidak perlu merasa rendah diri jika ada 1-2 teman yang tidak mau bermain dengannya karena masih banyak teman lain yang mau main dengannya.


Pertanyaan 7
Bagaimana membangun kepercayaan diri pada batita? Kalau pemalu masih wajarkah? Perlu waktu berapa lama untuk bermain bergabung dg temannya

*Jawaban*
Wajar kok kalau batita masih merasa malu untuk bermin dengan teman sebayanya. Sehari-hari kan dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama orangtua atau orang lain yang serumah dengannya. Interaksinya dengan orang di luar keluarganya masih terbatas. Ia belum memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan teman sebaya, sehingga dia butuh waktu untuk menilai situasi apakah aman jika bermain dengan teman sebayanya. Karena dia juga belum berpengalaman dalam interaksi social, maka orangtua dapat membantu anaknya dengan memberi contoh cara berperilaku di lingkungan social. Bagi batita, bertemu teman baru adalah saah satu tantangan dalam hidup. jadi orangtua perlu menjadi model yang menunjukkan bagaimana cara mengatasi kecemasan di lingkungan social. semakin sering ia dikenalkan kepada lingkungan social, diberi contoh cara berperilaku di lingkungan social, dan melihat bahwa lingkungan social adalah tempat yang aman baginya, maka kemungkinan akan semakin cepat ia bisa menyesuaikan diri di lingkungan social.

kesimpulan dan penutup

Ortu memiliki pengaruh besar dalam membangun self-esteem anak, karena ortulah orang pertama dan utama yang bisa membuat anak merasa dicintai dan berharga, ortulah yang menanamkan nilai-nilai tentang apa yang baik dalam hidup ini, ortulah yang membantu anak mengembangkan potensinya dan menerima keterbatasannya, ortulah yang memberikan apresiasi dan kritikan terhadap anak. Oleh karena itu, kita sebagai ortu perlu terus belajar dan memperbaiki diri. setiap perkataan dan reaksi kita kepada anak dapat memengaruhi penilaian dan perasaan anak tentang dirinya.

Sumber : 
*KULWAP NASIONAL HSMN*
 Waktu  : 26 januari 2017
⏲ Pukul    : 19.30 - 22.35
Narasumber : Ratih Sondari,M.Psi., psikolog
 Moderator    : Bunda Susilowati
 Notulen         : Bunda Meinarti
*Profil*
Nama: Ratih Sondari, M.Psi., Psikolog
Profesi: Psikolog Klinis Anak dan Remaja
Pendidikan: S1 Fakultas Psikologi Unpad angkatan 2003
S2 Magister Psikologi Profesi Unpad Angkatan 2010.
Kegiatan: Ibu homeschooler dari 1 anak laki-laki berusia 8 tahun
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara Pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web : hsmuslimnusantara.org
✨❤✨✨✨✨

Related

Tips 220286111785450521

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item