Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan

Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan Awal Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda, karena ditinggal dinas suami selama 10 hari ya...

Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan
Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan
Awal Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda, karena ditinggal dinas suami selama 10 hari yang membuat saya jadi rada baper. Pas banget dapat tema Arisan Blog Gandjel Rel dari mba Alley (silakan mampir di blognya https://hanalle.com/) dan mba Rizka, empunya https://rizkaalyna.com tentang hal yang paling kamu kangenin. Ketimbang makin baper nggak jelas, lebih baik nulis yang nyenengin aja. Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan.

Akhir-akhir ini di grup blogger sedang ramai membahas tentang pesantren, yang akhirnya membawa memori saya kembali ke 20 tahun yang lalu. Duh, jadi ketahuan tuwir!! 1997 adalah tahun dimana saya mengenal dunia pesantren. Alih-alih atas inisiatif sendiri, masuknya saya ke pesantren memang sudah dicanangkan oleh Ibu sejak sebelum lulus sekolah dasar (udah kayak menteri aja, pake dicanangkan). Disaat teman-teman lain saling bertanya ingin melanjutkan ke SMP mana, saya hanya menjawab pertanyaan mereka dengan "ke pondok", meski tak tahu pondok mana yang akan saya tuju.

Suatu hari selepas kelulusan SD, Bapak mengajak saya ke kota Surakarta untuk mendaftar ke sebuah pesantren. Jujur, malam sebelumnya saya menangis sesenggukan karena tidak menyangka akan bersekolah di luar kota. Saya pikir, okelah masuk pondok, mungkin masih di sekitaran Semarang. Hiks.. Namun tanpa diduga, di hari pendaftaran saya sudah berkenalan dengan seorang teman yang juga berasal dari Semarang. Dimana kelak teman ini jadi sahabat teraneh saya, in a positive way. (Kisahnya bisa kalian baca di : Teman Kebetulan). Dan siapa sangka, hari itu menjadi goresan memori pertama yang akan terus berwarna hingga 6 tahun kemudian.

Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan
Suasana yang ngangenin ^,^
Dibalik tembok pesantren yang sering disebut dengan penjara suci ini, banyak hal baik dan buruk terjadi, yang pada akhirnya membuat saya bisa tersenyum sarat rindu saat kembali mengingatnya. Anak pondok kan nggak bebas, terkekang, kuper sama dunia luar, tempatnya anak-anak nakal, serta berbagai stereotype lain yang disematkan oleh orang-orang gagal paham diluar sana, justru membuat saya bersyukur pernah menikmatinya. Bahkan, persahabatan anak pesantren itu kekal adanya, eeaaaa... Karena pernah hidup bersama 7/24 jam, membuat kami merasa selalu menjadi keluarga meski saat ini berbeda kota, beda negara, beda angkatan, beda profesi, beda aliran, kehidupan pesantrenlah yang menyatukan hati kami. (waspada, penulis mulai melankolis!)

Hal apa saja sih, yang membuat pesantren menjadi 6 tahun yang selalu dirindukan?

1. Nikmatnya Tidur di Masjid
Percaya atau enggak, tidur di masjid itu adalah hal ternikmat bagi seorang santri. Apalagi tidur sehabis sholat shubuh! Rutinitas yang dimulai sejak jam 2.30 WIB selalu membuat mata saya berat saat menjelang pagi. Kondisi itu ditunjang dengan semilir angin di sekitar masjid yang membuat pose tidur melungker di atas sajadah sambil pakai mukena ituuuuuhhhh... enak banget lah! Hehehe...

2. Sandal Hilang!
Barang hilang menjadi hal lumrah terjadi di pesantren, terutama di tahun-tahun pertama. Maklum saja, anak ingusan yang baru lulus SD mendadak dipaksa mandiri, pastilah banyak tragedi di sana sini termasuk barang hilang. Yang lucu adalah kreatifitas para santri dalam menjaga barang miliknya, terutama sandal yang memang menjadi barang yang paling sering hilang. Mulai dengan menulisi sandal dengan tulisan "kapolda", digembok, hingga dipotong sedemikian rupa biar langsung ketahuan kalau dipakai orang lain.

Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan
Sandal yang memelas


3. Tiada Hari Tanpa Tidur di Kelas
Entah kenapa masalah tidur ini seperti menempel di DNA anak pondok. Tak jarang para guru yang kurang kreatif dalam mengajar ditinggal tidur begitu saja. Mau tau apa yang bisa membangunkan mereka? Ngoreksi ulangan santriwan, bel pulang sekolah dan hujan. Kenapa hujan? Karena kami harus segera berlari menyelamatkan cucian kami nan jauh di sana, hahaha..

4. Kreatifitas Khas Anak Pondok
Selain mandiri, jangan pernah meragukan kreatifitas anak pondok. Bikin roti bakar aja bisa pakai setrika, ember bisa jadi mangkok dadakan, bak mandi disulap jadi mesin cuci, apalagi dalam hal kreatifitas berkarya. 

Salah satu yang paling berkesan adalah event tahunan di podok kami bertema PBB indah, yang menjadi ajang unjuk gigi paling bergengsi. Dimana setiap kelas berusaha menunjukkan kreatifitas maksimalnya baik dalam hal kerapian baris-berbaris, yel-yel hinggal kostum yang sering kali mencengangkan. Kalau menang, kami bisa sampai nangis mengharu biru lho!

Pesantren, 6 Tahun yang Selalu Dirindukan
Aksi kami di PBB indah saat kelas 1 SMU

Itulah secuil kenangan 6 tahun di pesantren yang selalu kurindukan, dan masih banyak lagi hal seru  yang tak pernah habis untuk diceritakan. Bahkan jika ada seorang teman yang membagi foto jaman culun masa di pondok dulu, bisa bikin kami segrup whatsapp baper berhari-hari.

So, kata siapa sekolah di pesantren itu nggak enak? Jalani dulu, pasti ketagihan. Buktinya adik saya dengan suka rela kepingin masuk pondok karena keseringan ikut bapak ibu saat menjenguk. Nilai plusnya lagi, banyak yang akhirnya ketemu jodoh dari pesantren. Saya salah satunya (walau beda angkatan)! Hehehe..

Salam Hangat,

Related

Omong Kosong 4598705323784470564

Post a Comment

  1. Kenapa kalo ada cerita anak pondok
    Pasti selalu ada kisah ketiduran ya heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayany memang udah melekat di DNA sejak dinamai "santri" mba, hahaha...

      Delete
  2. Dan murid saya sering tidur di kelas. Hem, jadi penasaran, jangan2 metode pembelajaran saya di kelas membosankan (+_+)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kurang galak mungkin mba Ika, hehehe..

      Delete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item