Usaha yang Tumbuh bersama Sebuah Warung Soto

Usaha yang Tumbuh bersama Sebuah Warung Soto Soto adalah pilihan pertama saya ketika belum sempat sarapan dan nggak bisa nitip nasi bun...

Usaha yang Tumbuh bersama Sebuah Warung Soto
Usaha yang Tumbuh bersama Sebuah Warung Soto
Soto adalah pilihan pertama saya ketika belum sempat sarapan dan nggak bisa nitip nasi bungkus ke teman. Sejak pertama bekerja di tahun 2009, ada sebuah warung soto yang sering menjadi tujuan saya beserta teman-teman sekantor. Dari situlah saya mulai bertumbuh bersama sebuah warung soto.

Warung soto ini memiliki cukup banyak cabang di Kota Semarang, namun dari beberapa cabang yang pernah saya datangi, sepertinya cabang yang ada di Jalan Hasanudin inilah yang paling berkembang. Bermula dari warung soto kebanyakan yang berjajar di sepanjang jalan Hasanudin dengan atap terpal dan pelayanan seadanya, saya menjadi saksi bagaimana warung ini tumbuh dan mencuri ilmu dalam setiap kedatangan.

Lingkungan di daerah Hasanudin, Semarang adalah kawasan ruko dan perkantoran. Maka tak heran aneka warung, toko dan penjual jajanan pun bertebaran dari pagi hingga malam hari. Selama lebih dari 8 tahun bekerja, saya menyaksikan bermacam jenis warung buka dan tutup setiap tahunnya. Beberapa masih bertahan meski serba seadanya dan terlihat dimakan usia, namun banyak diantaranya yang memilih berganti usaha atau bahkan menjual lapaknya.

Satu dari beberapa warung yang bertahan, pada akhirnya saya banyak mencuri ilmu dari warung soto ini. Warung yang dulu hanya beratap terpal di pinggir jalan, kini menempati lahan cukup luas dengan tempat yang nyaman serta pelayanan prima. Sebuah takdir wafatnya ibu mertua di tahun 2014 lalu, membuat saya diberi amanah untuk meneruskan usaha beliau di bidang kuliner. Menyadari sebagai orang yang fakir pengalaman tentang usaha kuliner, perlahan usaha saya tumbuh bersama sebuah warung soto ini.
Saya belajar dengan mengamati, menduplikasi serta melakukan inovasi. Berikut beberapa hal yang saya catat dan menjadi inspirasi tentang perkembangan warung soto ini :

1. Kualitas Rasa
Tak dipungkiri bagi pelaku usaha kuliner, rasa adalah yang utama. Meski dulu soto ini dijual di pinggir jalan, namun pelanggannya sangat banyak karena faktor rasa. Maka saya pun juga harus bisa meyakinkan pelanggan bahwa masakan di kantin kami terjamin kelezatannya.

2. Pengelola
Pindahnya warung soto ke sebuah lahan ruko yang luas ditandai dengan adanya seorang pengelola yang tidak pernah saya temui ketika masih beratap terpal dulu. Kualitas pengelola inilah yang memberi dampak sangat besar terhadap atmosfer suasana warung

Seorang Kokoh paruh baya dengan perawakan sedikit tambun namun sangat cekatan sukses menjadi perbincangan para pelanggan di hari pertamanya. Saya bahkan terheran-heran dengan semangatnya menyambut tamu yang datang, menanyakan pesanan mereka, memastikan pesanan telah sesuai permintaan, menanyakan apa lagi cemilan yang mereka butuhkan (seperti sate kerang, ayam, telur, tahu, tempe), hingga mengucapkan salam kepada pelanggan yang pulang. Mungkin hal ini lumrah dilakukan di resto-resto besar, yang membuatnya luar biasa adalah ia melakukannya setiap hari meski telah didampingi oleh hampir 10 orang pelayan! Hal ini membuat si Kokoh bak leader yang sangat bersemangat hingga menularkan energi dan sikap cekatannya kepada pegawai yang lain.

Awalnya saya dan para pelanggan agak canggung dengan ramahnya yang kebangetan, serta perhatiannya memastikan segala hal yang kami inginkan. Namun perlahan kami mulai menikmati dan menjadikannya sebuah nilai tersendiri dari warung ini.

3. Sumber Daya Manusia
Faktor Sumber Daya Manusia (SDM) para pegawai sangatlah penting. Meski dulu saya tak pernah hafal dengan pelayan-pelayannya, namun sejak menjadi besar, saya baru sadar bahwa mereka semua berjiwa muda. Ingat ya, berjiwa muda. Bukan berusia muda. Bahkan sang peracik soto (koki) yang notabene adalah kakek-kakek masih sangat sigap dan terlihat bersemangat. Sementara pelayan lain berusia antara 20 - 40 tahun, yang selalu regudukan menyambut setiap tamu yang datang. Intinya sih, mereka benar-benar bersemangat seperti waiters yang sering saya tonton di drama Korea atau Jepang gitu.

4. Penampilan
Penampilan adalah salah satu hal yang saya duplikasi di kantin kami. Saya baru menyadari bahwa seragam mereka dengan kaos kerah polo, celana jeans dan sepatu kets itu sangat kece untuk sebuah warung soto! Sebanding dengan sikap cekatan yang mereka tunjukkan. Ya, penampilan para pelayan merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada pelanggan.

5. Dekorasi Ruangan
Dekorasi bukan berarti harus memasang wallpaper atau melukis mural besar-besar seperti yang sedang trend belakangan ini, namun cukup pastikan ruangan terkesan lapang, bersih dan segar.

Hal-hal di atas membuat acara makan soto saya selalu sarat makna. Tak sekedar urusan mengisi perut, saya selalu melihat inovasi apa yang mereka lakukan, perubahan baik apa yang bisa saya ikuti dan berbagai perenungan lainnya yang membuat saya tetap semangat dalam menjalankan usaha. Fighting!

Baca Juga : Pelajaran Hidup dari Berbisnis

Oiya, tulisan ini bukan iklan, ya. Jadi buat yang kepo apa nama warung sotonya, bisa komen atau pm saya yess, hahaha... Salam Hangat.

Related

Tips 6728008762037619216

Post a Comment

  1. Gak ada foto warung dan foto sotonya ya mbak nurul kan penasaran 😀

    ReplyDelete
  2. kalau bisa mempertahankan cita rasa pasti bakal ada terus ya

    ReplyDelete
  3. Kenapa ngga dicantumin aja namanya hihii. Aku juga suka sarapan soto tapi malas bikin, beli ajah 😁

    ReplyDelete
  4. Eh sampe akhir ga disebut nama warungnya jadi penasaran

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item