Harga Sebuah Kejujuran

Harga Sebuah Kejujuran Kejujuran adalah kesederhanaan yang paling mewah . Sore ini seperti sore-sore sebelumnya, selepas sholat ashar s...

Harga Sebuah Kejujuran
Harga Sebuah Kejujuran
Kejujuran adalah kesederhanaan yang paling mewah. Sore ini seperti sore-sore sebelumnya, selepas sholat ashar saya bergegas menjemput si sulung di sekolahnya. Kali ini saya sendirian saja. Tak seperti biasanya, si kecil lebih memilih di rumah karena ada sang kakek yang sedang mampir ke rumah kami.

Ternyata Tuhan punya skenario untuk saya. Sesampainya di sekolah, seorang ibu guru mengatakan pada saya bahwa si Abang sedang ada masalah dan belum mau pulang. Saya pun turun dari motor dan mengikuti ibu guru tersebut. Saya melihat Abang sedang duduk di anak tangga lantai tiga dengan posisi meringkuk merapatkan kaki sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rupanya ia sedang menangis. 

Sang guru bercerita bahwa sepulang sekolah abang sempat uring-uringan dan marah pada teman-temannya. Singkat cerita, saat sedang sholat berjamaah, abang yang sedari rakaat pertama menahan kentut karena memang sedang sakit perut, akhirnya tak sanggup lagi menahan. Maka keluarlah suara yang berusaha disembunyikannya sejak tadi. Ia pun bergegas keluar shaf lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kembali sholat sebagai makmum masbuk.

Tak dinyana, selepas sholat semua temannya lantas serempak tertawa terbahak-bahak karena adegan kentut (yang mungkin cukup keras) tadi. Abang yang merasa kejujurannya utk mengakui dan keluar shof tidak dihargai, serta merta merasa marah. Walhasil jadilah ia uring-uringan, tantrum nggak jelas hingga menangis sesenggukan.

Baca juga : Bisnis Pertama Si Kecil

Di momen itu, saya merasa si Abang sedang berada di titik kritis, ketika sifat kolerisnya yang keras kepala dihadapkan dengan reaksi yang diperoleh dari orang-orang sekitar. Abang yang sifat dasarnya keras, merasa telah berusaha menurunkan egonya dengan memilih jujur (mengakui kalau ia kentut dan segera keluar shof). Akan tetapi tindakan yang menurutnya sudah benar itu justru mendapat tanggapan berupa ejekan dan tertawaan dari teman-temannya. Saat abang kecil, ia bahkan sangat susah menurunkan egonya untuk sekedar meminta maaf pada ayahnya sendiri. Kini ketika Allah telah melembutkan hatinya dan selalu belajar untuk menekan ego, justru ia merasa dihina. Bisa anda bayangkan?   

Saya perlu menarik nafas dan berpikir sejenak tentang apa yang akan saya sampaikan kepadanya. Setelah memeluk dan menenangkannya, saya mencoba menekankan beberapa hal ini kepadanya :

  1. Sikapnya untuk jujur adalah hal yang benar, dan saya sangat bangga atasnya
  2. Tak selamanya kejujuran yang kita lakukan ditanggapi dengan baik. Kadangkala justru diejek, ditertawakan seperti yang sedang Abang alami sekarang, dianggap munafik, sok suci, dan sebagainya.
  3. Meski begitu, tetaplah jujur! Jika terasa berat, itulah perang kita melawan setan. Itulah jihad  yang sebenarnya, jihad jaman now.
  4. Allah Maha Melihat, bahkan ada malaikat yang senantiasa menyertai kita untuk mencatat perbuatan baik dan buruk. Maka yakinlah, kejujuran Abang tidak akan sia-sia di sisi Allah. Mungkin sekarang sedih karena ditertawakan, bisa jadi sebentar lagi bahagia karena dibelikan jajan sama Bunda. Yakinlah, janji Allah itu benar.
Selepasnya, Abang sudah nampak lebih baik. Tangisnya mereda, hanya teman-teman yang belum meminta maaf padanya, masih membuat hatinya mengganjal. Karena kejadiannya menjelang jam pulang dan teman-teman sekelasnya banyak yang sudah dijemput, maka belum ada penyelesaian masalah. Namun sang guru berjanji keesokan harinya akan memberi pengertian dan meminta teman-temannya meminta maaf. 

Harga Sebuah Kejujuran
kredit pic : ajieee.blogspot.com
Awalnya saya sedikit khawatir, karena keesokan paginya sebelum berangkat sekolah, Abang masih berniat untuk membalas teman-teman yang telah menertawakannya, "Abang ingat siapa aja yang kemarin ngetawain, awas aja kalau mereka jatuh pasti Abang ketawain sekeras-kerasnya!" begitu ancamnya. Namun rasa deg-degan saya berganti kelegaan ketika melihat mereka telah bermain bersama tanpa beban dan dendam sepulang sekolah.
Hari ini saya belajar tentang Harga Sebuah Kejujuran dari anak-anak. Kejujuran tentu tak serta merta muncul dari diri seseorang. Saya yakin para orang-orang jujur itu pasti telah dibekali 'doktrin' yang kuat oleh keluarganya. Saking langkanya orang jujur, bahkan kini sedang marak berbagai ajang award diadakan oleh instansi pemerintah, perusahaan, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengapresiasi kejujuran baik yang dilakukan oleh per orangan maupun instansi aparat penegak hukum. Maka tetaplah jujur, meski itu sulit.

"Sesungguhnya ash-siddiq (kejujuran) itu mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan kepada surga" HR. AL-Bukhari - Muslim No. 1665

Related

Pendidikan Anak 6882111702148163005

Post a Comment

  1. Masyaallah tabarakallah abang anak jujur pertahankan terus ya bang sampe besar nanti

    ReplyDelete
  2. Iya, aku benci pembohong dan semakin menyadari kalo jujur itu sulit dan langka ya. Salut buat abang dan ortunya��

    ReplyDelete
  3. Walau pun jujur itu pahit prinsipku mending selalu jujur karena apa yang kita ucapkan dan lakukan ada malaikat yang mencatat dan Allah yang mengawasi

    ReplyDelete
  4. Bagus sekali kalau anak-anak sudah dibiasakan bersikap jujur sedari kecil. Semoga dibawa terus sampai dewasa.

    ReplyDelete
  5. subhanalloh...mmg kejujuran hrs ditanamkan dari kecil ya mbak

    ReplyDelete
  6. betul mbak, terlihat sepele tp efeknya jangka panjang ya soal kejujuran ini

    ReplyDelete
  7. Kebetulan dikeluargaku dari kecil kami semua dididik untuk jadi pribadi yang jujur,berani mengakui kesalahan yang dibuat.
    Dan juga tidak boleh menyakiti perasaan orang lain.

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item