Oct 27, 2014

Fun Time #1 : Mendekorasi Dinding Dengan Kertas Lipat

Dekorasi Dinding dengan Kertas Lipat
Fun Time #1
Semangat Senin Mommies... Di hari Senin nan cerah ini saya mau sharing hasil prakarya sama duo krucil weekend kemarin. Ceritanya seminggu ini si Abang lagi UTS (Ujian Tengah Semester), nah untuk mengisi waktu di sela-sela belajar biar nggak bosen akhirnya saya ngajakin anak-anak prakarya tempel-tempel dinding deh!
Langsung capcuss ya Mommies, dalam Mendekorasi Dinding dengan Kertas Lipat ini ada beberapa hal yang harus kita siapin dulu,
Bahan :
- Kertas Lipat (Bisa diganti dengan kertas lain sesuka hati ya...)
Alat :
- Gunting (baiknya gunting yang ujungnya tumpul biar nggak bahaya)
- Staples / Selotip
- Double Tip
Langkah Pembuatan :

  1. Siapkan kertas lipat aneka warna;
  2. Lipat secara diagonal;
  3. Gambar sketsa bentuk hati di salah satu sisi;
  4. Gunting sesuai gambar, taraaaa... jadi deh bentuk hatinya. Biar lebih lucu, gambar hati bisa dibuat dengan berbagai warna dan ukuran. Pokoknya semua suka-suka ya Moms, yang penting happy ^_^
  5. Gunting sedikit pada tengah lipatan hati (pic.5);
  6. Rekatkan kembali bekas guntingan dengan staples / selotip;
  7. Kemudian balik bentuk hati dan cembungkan pada bagian depannya (pic.7) sehingga berkesan 3D;
  8. Buat dengan jumlah sesuai dengan rancangan aplikasi (atau bikin banyak dulu, sisa juga nggak apa-apa);
  9. Beri double tip pada sisi belakang (di bagian ujung aja, biar tengahnya tetap menggembung);
  10. Tempel deh ke media apa aja, bisa di dinding, almari, papan, nah kami menempelnya di pintu kamar mandi. Hehehe... Cukup unyu-unyu ya ;)
Gimana Moms, gampang kan? dan nggak butuh waktu lama juga, yang pasti si kecil juga bisa ikut berkreasi. Jadi say goodbye deh sama hari Minggu dirumah nan membosankan (itu siy akal-akalan saya biar nggak pada rewel karena hari libur di rumah aja, wkwkwk).

"Jadi say goodbye deh sama hari Minggu dirumah nan membosankan"

Sekian sharing dari saya dan kedua assisten kecil saya, semoga Mommies bisa Mendekorasi Dinding Dengan Kertas Lipat dengan ide yang lebih kreatif dari ini. Selamat mencoba!

Salam Hangat,


Oct 24, 2014

Resensi Buku Muhammad Al Fatih 1453

Resensi Buku Muhammad Al Fatih 1453
Judul Buku : Muhammad Al Fatih 1453
Penulis : Felix Y. Siaw
Penerbit : Al Fatih Press
Terbit : Cetak Kelima, November 2013
Halaman : 320 halaman
Kategori : Biografi, Sejarah Islam
Rating : Must Be Read!

Jum'ah Mubarokah Readers... Spesial di hari Jum'at ini saya mau posting most favorite book versi saya, yaitu Buku Muhammad Al Fatih 1453. Yang ngaku muslim / muslimah keren, adakah yang belum baca buku ini? atau ada yang belum kenal siapa Muhammad Al Fatih? Duh, berarti sama kupernya kayak saya 2 tahun yang lalu ^,^

Biar bikin penasaran bagi yang belum kenal saya kasih beberapa testimoni deh, Readers tau ustadz Felix Y. Siaw kan? Tau juga nggak kalau putra-putra beliau diberi nama Al Fatih? Bikin Studio Alfatih, Al Fatih Press. Kalau masih belum ngeh, tau dong pesinetron Teuku Wisnu? Babynya yang baru lahir bernama Al Fatih juga kan? -ketahuan update gosip-. Nah dari situ jelaslah bahwa kedua tokoh tersebut adalah fans pejuang muslim Muhammad Al Fatih. Kalau testimoni saya? jangan ditanya, buku setebal 320 halaman ini saya baca kurang dari 2 hari! sampai rela lembur seharian pas weekend, Seninnya dibawa ke kantor dan khatam sebelum Dhuhur. Hehe.. Dengan jalan cerita yang runut mengalir serta penggambaran detil yang sangat terperinci plus dilengkapi peta wilayah di masa itu dan lampiran berbagai foto peninggalan sejarahnya bikin saya benar-benar merasakan aura kejadian di jaman kesultanan Utsmani (Ottoman), nggak kalah menariknya sama baca novel! Salut pada ustadz Felix Y. Siauw yang telah mengemas buku sejarah ini menjadi begitu apik dan jangan harap bisa ketemu sama kata "bosen" atau "ngantuk" ya...

Soal tokoh Al Fatih sendiri? Setelah tau ada tokoh khalifah Islam se-keren ini lewatlah semua super hero yang pernah saya idolakan dari kecil sampe sekarang. Siapa? Ksatria Baja Hitam? Lewattt, Superman? Spiderman? Thor? Hercules? Leeewaaatttt semua ;) Makin kepo ya? Yuk chek this video out DISINI yang saya ambil dari tayangan Khalifah di salah satu station tv. Readers juga bisa lihat filmnya FETIH 1453 / CONQUEST 1453 terlebih dahulu di you tube  biar ada gambaran waktu baca bukunya.

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Berbekal hadits Rasulullah SAW inilah selama beratus-ratus tahun sepeninggal beliau para pejuang di tiap Kesultanan Islam meyakini akan adanya hari itu, hari jatuhnya kota Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turkey) dari tangan penguasa Romawi. Setiap era kekhalifahan selalu mengupayakan terwujudnya janji Rasulullah SAW itu dengan melakukan serangan demi serangan, pengepungan, memikirkan berbagai strategi yang dilakukan secara turun temurun menjadi tujuan utama kekhalifahan Ottoman meski selalu berakhir dengan kegagalan. Hingga tibalah masa itu di tahun 1453 pada masa Khalifah Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih.
Seandainya seluruh dunia berkata bahwa Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan, selama Muhammad saw berkata “bisa” maka bagi Mehmed II itu sudah cukup (hal. 292)

Betapa besar keyakinan para pendahulu kita pada Rasulullah Muhammad SAW. Coba bandingkan dengan kita saat ini, seberapa yakin kita pada hadist Nabi atau pada ayat-ayat Al-Qur'an yang kita baca setiap hari? Yakinkah kita pada hukum qishash? Yakinkah kita akan datangnya hari kiamat? Seberapa yakin? Lantas kenapa kita masih bisa hidup santai di dunia yang jelas hanya dipenuhi dengan senda gurau, Hiks.. #selfplak
Beberapa hikmah yang saya ambil dari Buku Muhammad Al Fatih 1453 adalah :

  • Pendidikan agama dan akhlaq sejak dini sangatlah penting, sebagaimana Al Fatih yang di didik oleh Ulama pilihan, hafidz Qur'an di usia dini, dibekali ketrampilan berkuda, memanah dan strategi, dijejali kisah-kisah para Nabi dan pejuang-pejuang Islam hingga mendarah daging.
  • Betapa Islam menjadi nafas kehidupan di masa itu, di saat perang sang Khalifah selalu memimpin sholat berjama'ah, sholat tahajjud bersama pasukan-pasukannya, bahkan para Ulama senantiasa mendampingi di setiap moment kenegaraan untuk mengajak berdoa bersama, mengingat Allah, memurnikan tujuan yang ingin dicapai, Masya Allah... -kembali mikir kondisi sekarang-
  • Buku Muhammad Al Fatih 1453 ini menjadi titik balik saya untuk kembali lebih mengenal sejarah Islam, nyesel kenapa waktu saya sekolah dulu pas pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sering tidur =(
  • Setelah baca buku ini saya jadi semangat buat baca -lagi- Shiroh Nabi Muhammad SAW -yang entah kenapa selalu bikin ngantuk-, saya cuma berfikir kalau pengikut Rasulullah SAW aja sedemikian keren, harusnya saya lebih mengidolakan beliau. #selfreminder
Sekian ya Readers, udah ngerti kan kenapa buku ini masuk kategori Must Be Read -dengan huruf tebal dan warna merah- seperti yang saya tulis di atas? Kalau belum punya bukunya boleh pinjem saya, tapi sangat disarankan beli sendiri ya jadi bisa diwariskan buat anak-anak kelak, sebagai investasi akhirat kita.

Salam Hangat

Oct 22, 2014

Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #2

Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #2
Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #2
Lanjut topik Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? ya Mommies, artikel sebelumnya bisa dibaca disini. So, dengan berbagai kegiatan yang bisa kita lakukan di rumah, Mommies ga perlu khawatir si kecil akan di cap Kuper alias Kurang Pergaulan. 

Bukti nyatanya adalah apa yang saya alami ketika suatu sore si Abang minta ijin buat beli mainan kartu, pas saya tanya,
B : "Mau beli kartu apa? Abang kan udah punya kartu di rumah?"
A : "Tapi abang belum punya yang gambarnya Ganteng-Ganteng Serigala bunda.." #gubrakk

Di lain hari sepulang sholat maghrib di masjid si Abang nyanyi-nyanyi sendiri yang ga jelas nadanya buat saya, terus saya tanya, 
B : "Abang nyanyi apa siy? Kok Bunda ga pernah denger, itu lagu apa?"
A : "Itu lagunya Ganteng-Ganteng Serigala, Bunda nggak tau ya?"
#tuiiingggg


Ternyata si Abang tau dari temen-temennya, padahal dia siy ga ngerti juga film macem apa itu Ganteng-Ganteng Serigala, tapi nggak Kuper kan? Hehe.. Cukup tau apa yang lagi happening di kalangan temen-temennya aja, tanpa harus ditambah dengan pengetahuan dan tontonan yang ga ada manfaatnya. Coba apa positifnya nonton anak-anak sekolah yang selalu berburu darah suci? #loh kok saya tau ;)
Yang lebih bikin amazed lagi belakangan saya sering liat foto anak-anak yang pake gigi palsu di upload di medsos, suwer! saya beneran ga paham maksudnya apa. Lucu-lucuan kok nggak lucu? barulah saya tau setelah dijelasin putra kami, Ooo.. ternyata itu anak-anak kecil lagi pada niruin film serigala sama harimau itu to! Katanya siy temen-temennya banyak juga yang beli gigi vampir ato serigala itu, dimana-mana penjual mainan selalu nawarin gigi. Hadeeeeh,,, makin parah aja niy virus nyebar.

Ditinjau dari pengalaman saya di atas, jelas Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper Kan? Sebenernya mereka cuma butuh eksistensi untuk diakui (sebagaimana orang dewasa), kalau ada temennya bahas ini, dia tau. Cerita itu, dia ngerti. Justru dengan mengendalikan interaksi anak dengan tv kita bisa menyelamatkan mereka. Mommies tau sendiri, bahkan tayangan cartoon yang ditujukan untuk anak pun nggak semuanya punya nilai-nilai positif, kitalah yang harus pintar-pintar jadi filter. Perkenalkan anak mana tayangan yang boleh, seperti Dora The Explorer, Diego, Thomas and Friends, Barney, Laptop si Unyil, Upin dan Ipin serta serial Dodo dan Syamil. Mana tayangan yang perlu pendampingan orang tua, "Abang kalau mau nonton panggil Bunda ya, nanti Bunda temani." itu yang sering saya sampaikan ketika akan menonton Masha and Bear, Spongebob Squarepants, Si Entong, Keluarga Pak Somad, karena ada hal-hal yang baik dicontoh dan yang tidak patut ditiru sehingga kita yang harus menjelaskan jika ada adegan yang kurang mendidik, "Kalau sombong kayak si ini akibatnya begini Bang" "Kalau Abang malas jadinya seperti si itu" dan sebagainya.

"Kunci untuk mendisiplinkan anak adalah konsistensi dari orang tua, karena pada kenyataannya orang-orang dewasalah yang seringkali merusak tatanan yang telah dibuat sendiri"

Kunci untuk mendisiplinkan anak adalah konsistensi dari orang tua, karena pada kenyataannya orang-orang dewasalah yang seringkali merusak tatanan yang telah dibuat sendiri. Yuk selamatkan anak-anak kita dari bahaya Tv ya Mommies, Happy Thursday!!

Salam Hangat

Oct 19, 2014

Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #1

Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #1
Happy weekend Mommies... Kali ini saya kepingin mengangkat topik Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper??. Mommies tau kan belakangan lagi heboh beberapa sinetron yang disemprit oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) karena dianggap meresahkan dan ga mendidik? Ada si serigala, harimau, elang, lama-lama semua member kebun binatang keluar di tv. hehe...

Dan barusan aja saya baca artikel kalau KPI telah menetapkan acara anak yg tidak layak tonton karena memperlihatkan kekerasan secara eksplisit yaitu Bima Sakti, Krisna dan Tom and Jerry. Sedangkan cartoon Spongebob Squarepant dan Crayon Sinchan termasuk dalam kategori Hati-hati. Itu baru ditinjau dari segi kualitas tayangan, belum lagi dampak buruk dari sisi psikologi, kesehatan, gangguan konsentrasi dan sebagainya. Maka layaklah banyak Mommies yang sudah mulai membatasi interaksi anak dengan tv (red : televisi).

"Maka layaklah banyak Mommies yang sudah mulai membatasi interaksi anak dengan tv"

Ada sebagian Mommies yang saya kenal telah berhasil menyingkirkan tv dari rumahnya, ada pula sahabat saya yang bilang bahwa sudah saatnya tv-ny dijual karena anak-anak tak pernah ingin nonton tv. Bener-bener salut! Lalu bagaimana dengan saya? Saya sendiri belum bisa sepenuhnya melarang anak nonton tv, namun kami punya kesepakatan tentang waktu dan acara yang dapat ditonton.
Satu jam di pagi hari dari jam 06.00 - 07.00 dan 2 jam di siang hari mulai 13.30 - 15.30 adalah jadwal tv dirumah kami, setelahnya anak-anak akan mandi dan main di luar bersama teman sebayanya dan NO TV di malam hari.

Terus kalau malam suruh ngapain dong? Ohhh Mommies ga usah khawatir, banyak loh kegiatan yang bisa dilakuin di malam hari. Seperti mengaji dan makan malam setelah maghrib, sedangkan selepas isya adalah waktunya "fun time". Artinya kita bebas mau ngapain aja asal positif dan tetap menegakkan kesepakatan No tv! Contohnya apa Mom? Baca cerita, menggambar, bikin prakarya, masak bareng nyiapin bekal buat besok, mainan tradisional jaman kita kecil dulu (sambil nostalgila) atau nonton "video learning", yaitu koleksi video singkat (max. 7 menit) yang saya download dari you tube, berisi tentang berbagai pengetahuan baru buat anak-anak kita. Dari situlah saya jadi tau bahwa si Adek sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan luar angkasa, planet-planet, bintang dan galaksi. Sedangkan Abang sedang senang-senangnya mengenal kehidupan beruang kutub dan anjing laut di kutub utara yang saya download dari NatGeo. Peinsipnya Mommies bisa coba download video singkat dengan tema apa saja dan lihat ketertarikan anak kita. So, masih mau bilang Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper??

--to be continued--
Anak Tanpa Tv (Nggak) Kuper?? #2 sudah dapat Mommies baca DI SINI

Oct 17, 2014

Resensi Buku Terima Kasih Ayah

Resensi Buku Terima Kasih Ayah
Resensi Buku Terima Kasih Ayah
Judul Buku : Terima Kasih Ayah

Penulis : @terimakasihayah
Penerbit : Wahyu Qolbu
Terbit : 2014
Halaman : 252 halaman
Kategori : Kumpulan Cerpen
Rating : Good

AYAH
-Rinto Harahap

Di mana... akan kucari
Aku menangis, seorang diri
Hatiku, slalu ingin bertemu
Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi


Siapa yang tidak mengenal lagu di atas? Saya yakin siapapun akan akan terharu karena meresapi maknanya. This is for you ay.. I know when you miss him, you will sing it deeply -bighug-. Cuplikan lagu di atas rasanya sangat mewakili apa yang ingin disampaikan para penulis dalam buku Terima Kasih Ayah. Yup, buku ini berisi kumpulan cerpen, kumpulan quotes, kumpulan renungan yang kesemuanya menggambarkan kemuliaan seorang ayah.


Berawal dari akun twiter @TerimakasihAyah yang kemudian di kemas dan di satukan dalam sebuah buku yang sarat makna akan pengorbanan dan perjuangan seorang ayah. Begitu pula kisah-kisah nyata yang dtulis oleh para followernya sangat layak untuk di baca sebagai perenungan kita, kenapa ayah tidak banyak bicara? kenapa ayah seringkali sibuk bekerja? kenapa ayah jarang mengungkapkan rasa sayang lewat kata? semuanya menjadi bisa diterima saat kita memahami beban dan tanggung jawab yang dipikul seorang ayah.


Meski seringkali kita lebih dekat dengan ibu, namun sosok ayah tak kan pernah tergantikan. Right? Seorang anak perempuan selalu mengidamkan pasangan yang memiliki sifat seperti ayahnya, dan anak laki-laki akan bermimpi bahwa saat dewasa kelak ia akan se keren sang ayah. Di beberapa kesempatan putra kami berkata "Ayah keren, bisa ini", "Ayah pemberani, soalnya begini", "Ayah hebat, karena begitu" atau "Abang kalau besar nanti pengen kerja kayak Ayah!", hingga saya paham ayah adalah panutan, ayah adalah idola, ayah adalah super hero yang ada di dunia nyata.


Langsung cuss baca buku Terima Kasih Ayah aja ya dears, udah speechless saya jadi emosional gini ;). Terima kasih Bapak, karena selalu ada untuk kami. Terima kasih Suamiku, karena selalu berusaha menjadi ayah terbaik bagi anak-anak kami. Terima kasih para calon ayah (anak-anak) ku, yang membuat kami selalu ingin menjadi orang tua yang lebih baik.


Ia adalah orang yang mencintai kita dalam diam,
Ia adalah orang yang tak pandai menangis ketika bersedih,
Ia juga orang yang selalu mengerti akan hati pada saat yang lain tak bisa memahami...
Terima Kasih, Ayah
---Red. Terima Kasih Ayah---

Oct 15, 2014

Resensi 101 Pertanyaan Seru

Judul Buku : 101 Pertanyaan Seru
Penulis : Intan Pradina Ardanto
Penerbit : Buah Hati
Terbit : 2013
Halaman : 136 halaman
Kategori : Parenting
Rating : Very Recommended, 4.5 of 5 stars

* Berapa umurmu sekarang?
* Menurutmu saat ini kamu sudah besar atau masih kecil? mengapa kamu pikir begitu?
* Menurutmu jadi dewasa itu asyik tidak?
* Tanya ayah atau ibu : Apa sih enaknya jadi orang dewasa?
* Apa saja yang kamu sukai dari dirimu?
* Tanya ayah atau ibu : Apa yang ayah dan ibu sukai dari diriku?
                                                                                                                ---red. 101 Pertanyaan Seru---
   

Pernahkah pertanyaan-pertanyaan di atas terlintas di benak Mommies? Kebayang kan gimana serunya anak-anak kita menjawab pertayaan-pertanyaan di atas? Kalau Mommies belum punya ide pertanyaan seru lainnya, buku yang terbit setahun lalu ini rasanya wajib dimiliki Mommies untuk mengenal lebih dekat tentang pemikiran anak-anak kita.

Sesuai dengan judulnya, buku ini berisi 101 Pertanyaan Seru yang bisa kita tanyakan pada anak disertai dengan lembar untuk mengisi jawaban dari tiap pertanyaan yang ada. Jadi anak kita bisa langsung mengisi di buku tersebut. Dulu saat saya membeli buku ini si Abang masih TK dan belum pandai menulis, jadi saya membacakan tiap-tiap pertanyaan untuk dijawab secara lisan. Karena judulnya saja 101 Pertanyaan Seru maka jawaban yang keluar dari Abang pun benar-benar lucu, kadang aneh, kadang membuat saya takjub, kadang nggak nyambung, tentu saja sesuai dengan usia si anak. Seiring bertambahnya usia jawaban yang diberikan akan semakin serius dan lebih tegas. Ada beberapa pertanyaan yang jawabannya berubah-ubah sesuai mood dan usia Abang saat itu, ada pula pertanyaan yang jawabannya konsisten, selalu sama. Seperti pertanyaan "Kamu ingin kamarmu dicat warna apa?" dan Abang selalu menjawab "Merah!", artinya dia memang menyukai warna merah sama seperti setahun lalu. Dan tinggal kita lihat saja, apakah merah masih menjadi warna favoritnya saat dewasa kelak? Let's see...

Hebatnya buku ini karena bisa bikin Abang jadi ketagihan, setiap mau tidur pengen ditanyain pertanyaan yang seru-seru sampai bahan di buku habis dan lama-lama pertanyaan yang keluar adalah hasil karangan saya sendiri, dan ternyata Abang masih tetap enjoy dan happy dengan berbagai pertanyaan kepo dari saya -mungkin dia senang serasa diwawancara- Hehe... Sekarang karena Abang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar, maka saya akan memberikan buku 101 Pertanyaan Seru untuk dia isi sendiri. Boleh diisi secara acak, tanpa batas waktu atau sesuai dengan mood Abang hari itu. Dan setelah dia dewasa saya ingin memberikan buku itu kembali sebagai kenang-kenangan, so sweet n very emotional pastinya ;) 

   Saran saya, ikuti konsepnya namun buatlah sendiri bukunya sesuai kreatifitas Mommies dan ananda. Pasti lebih seru! Saya juga berencana membuat 101 Pertanyaan Seru versi saya sendiri untuk si Adek, so selamat berkreasi dan berimajinasi bersama sang buah hati ya Mommies... =)
   Salam Hangat



Oct 14, 2014

Sikap Buruk Anak = Aku Ingin Perhatian

Sikap Buruk Anak = Aku Ingin Perhatian
Sikap Buruk Anak = Aku Ingin Perhatian
Pernah mengalami anak kita yang biasanya penurut mendadak memberontak? Anak kita yang biasanya rajin mendadak mogok sekolah? Atau anak kita yang biasanya pendiam mendadak suka marah-marah? Itulah yang ingin saya sampaikan, bahwa Sikap Buruk Anak = Aku Ingin Perhatian.

Seperti quote yang saya sertakan, Anak-Anak yang paling membutuhkan CINTA akan memintanya dengan cara-cara yang paling tidak Anda sukai. Jika Anda pernah mengalami hal-hal seperti diatas, saatnya kita pause dari kesibukan dan mulai berpikir bagian mana yang salah dari cara mendidik kita. Tapi yakin saja, seburuk apapun hal yang kita hadapi pasti ada karunia dibalik itu semua, asal kita mau mengakui kesalahan dan berani mengambil keputusan beserta resikonya.

Agak mbulet ya? hehe... Sebenarnya artikel Sikap Buruk Anak = Aku Ingin Perhatian ini didasarkan pada pengalaman pribadi yang baru-baru ini saya alami. Putra sulung kami adalah anak yang aktif, mudah bergaul dan beradaptasi dimanapun ia berada, sifatnya dominan, verbal dan keras, karakter seorang pemimpin. Tiap hari si Abang berangkat sekolah dengan semangat dengan diantar suami atau saya dan pulang dengan pak becak, karena jarak sekolah dan rumah kami cukup dekat. Hal ini sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu.

Suatu hari Abang males ke sekolah, alasannya "Jadi kakak SD pulangnya siang, ga enak!", esoknya ia ganti alasan dengan "Sekarang sholatnya tambah banyak, Abang capek..", hampir selama seminggu ia selalu beralasan dan menangis tiap akan berangkat sekolah. Lucunya, begitu sampai sekolah Abang langsung ceria dan tidak terlihat ada masalah apapun. Saya sempat bertanya pada wali kelas dan kepala sekolahnya apakah putra kami punya kendala dengan adaptasi di SD -karena ia baru 3 bulan ini masuk kelas 1 SD-, keduanya menjawab tidak ada masalah apa-apa, Abang tetap semangat di sekolah, hanya saja tiap pagi memang wajahnya murung.

Seminggu penuh perjuangan dengan rewelnya Abang tiap berangkat sekolah ternyata belum berakhir, sampai suatu ketika saat saya antar ke sekolah ia benar-benar tidak mau turun dari motor. Saya bujuk dengan berbagai cerita ia tetap tidak mau, sampai saya, wali kelas, teman-teman sekelas, kepala sekolah bergantian membujuknya pun tidak berhasil, diajak pulang abang juga menolak. Duh, saya sampai buntu sebenarnya apa maunya???

Akhirnya saya berinisiatif turun dari motor ke teras sekolah, jadi mau tidak mau Abang mengikuti saya. Ia hanya main-main dan duduk-duduk di teras. Kemudian datanglah Ibu kepala sekolah menghampiri kami,
Guru : "Abang masuk kelas yuk, nanti bunda nungguin disini kok.."
Abang : "Ga mau! Nanti kalo masuk kelas mesti bunda pergi.."
Kemudian sang Guru bertanya pada saya apakah Ayah ada dirumah? saya jawab kalau ayahnya sedang diluar kota beberapa hari. Saya mengakui bahwa kuantitas pertemuan putra kami dengan sang ayah memang kurang, jadi saya yang sepenuhnya fokus dalam hal mendidik anak-anak kami.

Kemudian Ibu Guru bercerita bahwa ada anak didiknya yang sangat temperamental, sedikit-sedikit marah, hal kecil pun temannya dimarahi, bahkan marah pada gurunya. Usut punya usut, ternyata anak tersebut sebenarnya marah pada kedua orang tuanya, ia ingin diperhatikan, ingin diantar jemput seperti teman-teman yang lain, ingin didampingi tiap ada kegiatan, namun karena terlalu takut mengungkapkan isi hatinya ia lantas memarahi semua orang. Ada lagi seorang anak yang susah berkata jujur, meski ia bilang hanya bercanda tapi sudah menjadi kebiasaan bahwa sampai hal ga penting sekalipun ia musti tidak jujur. Dan terjawablah bahwa selama ini ia merasa sering dibohongi orang tuanya.

Mendengar cerita itu saya merenung sejenak, mungkin putra kami ada perasaan mengganjal juga pada kami orang tuanya. Lalu saya coba memancingnya,
Saya : "Abang masuk kelas aja, Bunda tunggu diluar sampai pulang.."
Abang : "Bohong! Nanti mesti Bunda pergi.."
Saya : "Enggak, Bunda janji nunggu Abang disini. Hari ini Bunda ijin aja nggak ke kantor."
Abang : "Bohong! Bunda sukanya bohong!"
Cetarrrrr... bagai kesambar petir dipagi hari, mak jlebb di hati saya.. ;(
Saya : "Bohong kenapa? Apa Bunda suka bohong sama Abang?"
Abang : "Bunda dari dulu bohong! Katanya mau pensiun, nemenin Abang dirumah. Tapi besoknya kerja lagi, Bunda bohong terus!!"
Dan..... meweklah sayaaaa, Hiks, ternyata Abang begitu berharap bisa mendapatkan perhatian penuh dari saya. Saya paham, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki dengan sang Ayah tentu ia mengharap kompensasi lebih dari saya. Saat itu saya benar-benar merasa gagal sebagai orang tua, padahal saya merasa sudah all out mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk anak-anak, sementara pekerjaan adalah nomor sekian. Namun kenyataannya putra kami butuh perhatian lebih dari itu.

Setelah semua uneg-uneg Abang tersampaikan, mulai dari dia berharap saya kalaupun kerja tidak pulang sore, ia ingin Bundanya bisa menjemput tiap hari dan menemani bermain di rumah setelahnya, ia ingin Ayah menelponnya jika akan pulang lambat, bahkan saat saya jelaskan kalau tidak bekerja bararti Abang harus hemat, ia dengan tegas menjawab "Nggak apa-apa, Abang ga butuh uang, nggak beli susu juga nggak papa, nggak beli roti juga nggak papa, uang Abang di ambil semua aja nggak papa!", hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kami sadari.

Singkat cerita saya lalu curhat dengan suami sambil nangis bombay dan bilang kalau saya mau resign aja, setelah beberapa hari mencari solusi, diskusi, memikirkan dengan berbagai pertimbangan bersama, akhirnya saya memutuskan keluar dari tempat kerja dan mencoba mencari tempat lain yang lebih fleksibel untuk kepentingan keluarga. Tentu dengan konsekuensi akan ada masa tenggang dimana saya harus mencari tempat praktek baru, artinya saya harus siap menganggur paling tidak untuk 1 bulan ke depan.
"Ternyata Allah memberi karunia luar biasa disaat kita siap melepasnya, kita hanya perlu memilih prioritas, apa tujuan hidup kita, membuat keputusan dan ikhlas dengan segala resiko yang akan kita hadapi."

Tuhan selalu menyiapkan karuniaNYA tepat saat kita sudah merasa pasrah dan ikhlas akan ketetapanNYA. Karena begitu saya mengajukan resign, ternyata pimpinan justru memberikan kelonggaran pada saya untuk bisa pulang lebih awal dan menjemput putra kami, serta tidak perlu kembali ke kantor setelahnya, selama saya masih bisa menyelesaikan semua kewajiban dan tugas saya. Sungguh, Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu... Ternyata Allah memberi karunia luar biasa disaat kita siap melepasnya, kita hanya perlu memilih prioritas, apa tujuan hidup kita, membuat keputusan dan ikhlas dengan segala resiko yang akan kita hadapi. Selebihnya? Campur tangan Allah lah yang akan memutuskan.

So, Tidak ada anak nakal, tidak ada anak yang bersikap buruk tanpa alasan. Kita lah sebagai orang tua yang harus lebih peka dan mau memperbaiki kesalahan. Saya jadi bersyukur si Abang ngambek waktu itu, bersyukur ia masih mau mengungkapkan kegundahan hatinya, artinya ia masih percaya bahwa kami mau mendengar isi hatinya, bahwa kami menyayanginya. Setelah kejadian itu, tiap siang saya menjemput Abang dari sekolahnya, dan dirumah kami membuat surat perjanjian yang berisi tentang apa yang diharapkan dari masing-masing anggota keluarga beserta konsekuensinya. Ayah, Bunda, Abang semua bertanda tangan dalam perjanjian itu -kecuali Adek, karena belum bisa tanda tangan-, namun tetap masuk dalam perjanjian.

Semoga keluarga kita semua dilimpahi dengan kebahagiaan.

Salam Hangat,