Nov 27, 2014

Fun Time #3 : Membuat Pigura Foto Sederhana

Fun Time #3 : Membuat Pigura Foto Sederhana
Membuat pigura foto atau photo frame adalah salah satu jenis kegiatan yang paling mudah dilakukan bersama anak-anak, karena pada usia TK dan SD memang mereka sedang senang bermain dengan gunting, lem dan cat. Kalau Mommies mungkin sudah tidak asing dengan membuat pigura foto dari kardus, kertas kado, flanel maupun aneka kain lainnya, nah kali ini saya dan dua jagoan saya akan membuat pigura yang dihias dengan potongan CD (compact disc).

Alat :
1. Cutter / gunting
2. Lem / double tip
3. Penggaris
4. Pensil
5. Kuas

Bahan :
1. Karton / kardus bekas sebagai bahan pigura
2. Cat untuk melapisi pigura (bisa diganti crayon / kertas kado / kain)
3. CD yang tak terpakai (rusak) digunting aneka bentuk dan ukuran


How To :
  1. Buat sketsa pigura dari kardus tak terpakai (saya menggunakan kardus bekas mainan) dan gunting sesuai pola yang ada. Ukuran pigura menyesuaikan ukuran foto yang akan dipasang ya, untuk bentuknya Mommies bebas berkreasi dibentuk apa saja. Kebetulan kami membuat pigura sederhana berbentuk persegi agar si Abang lebih mudah mengguntingnya.
  2. Warnai list / pinggiran pigura dengan cat (warna & media mewarnai bisa sesuai minat anak). Selain di cat juga bisa dibungkus dengan kertas kado, kain katun bekas, flanel atau digambar langsung menggunakan crayon.
  3. Tunggu sampai cat mengering sembari kita potong-potong CD yang sudah di siapkan menggunakan gunting.
  4. Tempelkan potongan CD secara acak, atau dapat pula dibuat pola tertentu. Jadi deh pigura kita!!
  5. Agar foto yang dipajang tidak kotor dan berdebu, bagian dalam pigura bisa dilapisi dengan mika bekas (jika tersedia), kalaupun nggak ada ya tinggal kita lap aja tiap hari. Nambah tanggung jawab buat si kecil ^_^

Sedikit tips, kalau list pigura dihias dengan cat seperti yang kami lakukan, cat tidak perlu ditunggu sampai mengering. Saat cat masih basah langsung kita tempel dengan potongan CD, jadi begitu cat mulai kering maka potongan CDpun akan otomatis menempel pada karton. Hemat lem kan? hehe...

Hasil prakarya kali ini cukup bikin si Abang bangga, sampai tiap hari pigura fotonya dilihat dan dipindah-pindah letaknya sambil senyum-senyum sendiri. Apalah yang lebih berharga bagi seorang Ibu selain melihat buah hatinya tersenyum. So, boleh dicoba dengan ide yang lebih keren ya Mommies!

Salam Hangat,



Nov 24, 2014

Omong Kosong #1 : Kenapa Nge-BLOG?

Omong Kosong : Kenapa Nge-BLOG?
Nge-Blog atau Blogging memang sedang digandrungi generasi sekarang. Maklum saja, kalau jaman dulu orang suka curhat lewat diary, seiring perkembangan teknologi curhat sekarang juga punya rumah baru yang lebih keren yaitu BLOG. Selain digunakan sebagai sarana curhat dan menumpahkan uneg-uneg penulisnya, beberapa orang lainnya membuat blog dengan tujuan berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain yang sedang membutuhkan informasi terkait.

Saya sendiri masih termasuk newbie alias anak baru dalam hal Nge-Blog atau Blogging ini, setahun lalu saya membuat blog cahcilcuilcuil.blogspot.com dengan niat sebagai sarana pelampiasan hasrat menulis saya, kemudian baru sekitar 3 bulan ini saya menetapkan bahwa blog ini akan lebih menitik beratkan dalam hal serba-serbi pendidikan anak atau parenting agar selain ber-haha hihi tapi juga bisa bermanfaat bagi pembacanya. Berkat bantuan adik ipar saya maka blog yang lama diganti dengan nama yang sekarang parentingid.blogspot.com (jangan tanya gimana caranya ya...).

Bagi Readers yang punya hoby menulis atau sekedar curhat bermanfaat rasanya bikin blog sangatlah disarankan, kenapa?
  1. Karena nge-blog itu gratis, kalau nge-web ya bayar! Hehe... makanya nggak ada istilah webbing, karena bagaimanapun orang selalu suka gratisan ^_^. Sekarang banyak yang menyediakan domain untuk membuat blog gratis, tinggal tanya mbah google, caranya pun mudah tanpa harus punya keahlian khusus.
  2. Tulisan atau artikel di blog tidak akan tertumpuk atau hilang, ini kelebihan blog dibanding menulis di buku diary. Meski begitu, sentuhan emosional tulisan tangan akan lebih terasa dibanding hasil karya keyboard (kalau niatnya nge-blog untuk curhat) ;)
  3. Blog sifatnya lebih informal dibanding web, baik dari isi tulisan, gaya bahasa yang digunakan dan tema-tema yang di angkat. Bisa dikatakan blog itu mewakili kita banget.
  4. Bisa dapet uang dari blog! Kalau yang satu ini pasti bikin kita semua langsung semangat. Saya juga baru tahu dari adik ipar kalau banyak teman-temannya yang duduk manis di rumah jadi seorang blogger yang berpenghasilan puluhan juta rupiah setiap bulannya, tadinya saya agak ragu -apa iya?- tapi liat ipar sendiri yang menekuni blognya tiap ada waktu luang juga bisa tuh sebulan 2 jutaan (yang bagi saya udah WOW bingit). Tapi jangan dikira mudah, proses seleksi untuk dinyatakan layak dipasang iklan itu juga sangat ketat. Intinya nggak ada yang cuma duduk manis dapet duit, pasti duduk manisnya juga harus pakai mikir dan ketekunan. Setuju??
  5. Blog juga bisa jadi ladang ibadah. Maksudnya dengan menulis hal-hal bermanfaat dan membagikannya pada orang lain yang membutuhkan informasi tersebut tentunya bisa dikatakan kita sudah beramal jariyah, amal yang tidak akan putus walau penulisnya telah meninggal sekalipun.
Gambaran di atas adalah beberapa kelebihan blog pada umumnya, kalau Readers akan membuat blog dengan tujuan mendapat profit atau bersifat komersil tentunya akan ada tips dan trik khusus lain yang perlu diketahui. Tapi karena saya sendiri nggak dapet uang dari blog jadi belum bisa berbagi tips, hehe.... ntar dikira omong doang ^_^. So, yuk kita rame-rame nge-blog yang manfaat. 

Salam Hangat,
Note : nggak sia-sia punya adik ipar ^,^

Nov 18, 2014

8 Fakta Bawang Merah

8 Fakta Bawang Merah
BAWANG MERAH (Allium cepa L.) atau dalam bahasa jawa biasa kita sebut dengan Brambang, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Berikut 10 Fakta tentang Bawang Merah yang harus Anda ketahui :

  1. Bawang Merah (Allium cepa L.) mengandung senyawa utama alliin, dimana senyawa ini didalam tubuh akan diubah oleh enzym alinase menjadi asam piruvat, ammonia dan alliisin yang merupakan zat anti mikroba dan bersifat bakterisid.
  2. Sifatnya yang menarik bakteri untuk dimatikan, maka jangan pernah menyimpan bawang merah yang akan dimasak dalam keadaan terkupas. Karena sama artinya Anda membiarkan bakteri dan kuman di sekitar menempel padanya.
  3. Sebaliknya, untuk menjaga kesehatan dianjurkan untuk meletakkan bawang merah kupas di dalam ruangan maupun kamar untuk meminimalisir penyebaran bakteri di ruangan tersebut. Dan ganti dengan bawang merah kupas baru setiap harinya. Ini bisa mengurangi penularan beberapa penyakit umum dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya.
  4. Dalam sebutir Bawang Merah (Allium cepa L.) juga terkandung senyawa minyak atsiri, sikloaliin, metialiin, hidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, saponin, peptida, sulfida, fitohormon, vitamin serta zat pati.
  5. Menyantap sate dengan Bawang Merah (Allium cepa L.) mentah merupakan cara untuk melindungi tubuh kita dari resiko kanker. Karena karbon yang terdapat pada sate yang merupakan pemicu kanker akan dinetralkan oleh senyawa sulfida yang terkandung dalam Bawang Merah (Allium cepa L.).
  6. Dengan mengunyah Bawang Merah (Allium cepa L.) mentah setiap hari, artinya Anda telah menjaga mulut dan gigi dari sumber penyakit yang bersarang di dalam mulut.
  7. Keuntungan memakan Bawang Merah (Allium cepa L.) setiap hari dapat mencegah sembelit, menjaga tekanan darah, mengontrol gula darah dan kolesterol, menjaga kesehatan jantung, mengurangi resiko terkena kanker serta meningkatkan daya tahan tubuh.
  8. Sari Bawang Merah (Allium cepa L.) dapat mengobati jerawat dan ketombe pada kulit kepala.
Well, dengan seabrek kebaikannya rasanya sayang kan kalau tidak kita manfaatkan? Bagi Anda yang kurang suka mengunyah Bawang Merah (Allium cepa L.) mentah secara langsung, bisa dicampur sebagai salad atau topping masakan. Selamat mencoba ya...

Salam Hangat,

Nov 12, 2014

Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink

Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink
Sebagaimana yang Mommies tahu bahwa dunia anak adalah dunia bereksplorasi, faktanya bahwa setiap anak akan mengalami fase corat-coret, menggambar, mewarnai hingga mereka terampil menulis. Maka layaklah jika kita berusaha menyediakan berbagai media demi menunjang masa eksplorasi tersebut, seperti dengan menyediakan sabak (yang bahasa kerennya doodle), kertas, papan tulis atau bahkan menyediakan bagian dinding tertentu dalam rumah sebagai media corat-coret si kecil.

Saya pribadi selain membeli doodle juga selalu menyediakan kertas di rumah, terkadang sengaja membeli kertas hvs 1 rim sekaligus, lain waktu saya membawa kertas tak terpakai dari kantor yang sebaliknya masih kosong / bersih serta memfasilitasi papan gabus untuk membanggakan hasil karya mereka. 
Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink
Namun sejak si Abang masuk SD dia mulai minta dibelikan papan tulis dengan alasan agar lebih leluasa, sedangkan saya merasa kurang sreg dengan papan tulis selain menambah satu item barang itu berarti bikin rumah terasa penuh, ditambah lagi urusan dilema pemilihan alat tulis antara kapur tulis, spidol dan karalink. Berikut ringkasan hasil googling saya, 

  • Kapur Tulis : Bahan dasarnya Calsium carbonate atau olahan batu kapur alam, relatif aman, lebih murah, tapi mengotori ruangan karena partikel debunya besar, dan debu yang ditimbulkan juga dapat memicu alergen bagi penderita asma, gangguan pernafasan serta batuk. Intinya kapur tulis bermasalah karena debu yang ditimbulkan.
  • Spidol : Alasan digunakannya karena spidol lebih bersih dan tidak berdebu, akan tetapi bahan dasarnya adalah Xylene yang menimbulkan bau khas pada spidol dan tergolong dalam kategori RACUN! dengan gangguan jangka pendek berupa sakit kepala, pusing, gangguang pernafasan dan gangguan memori jangka pendek. Sedangkan efek jangka panjangnya berupa kerusakan otak permanen, kerusakan hati, ginjal serta sistem saraf pusat. Ngeri kan... 
  • Karalink : Karalink adalah merk alat tulis dengan semboyannya eco friendly, artinya kapurnya tidak berdebu, dilengkapi pegangan atau chalk holder, yang dapat dihapus dengan air, papannya dilapisi dengan chalk board (cat dengan basic karet yang dapat berfungsi seperti papan tulis dan bersifat water eraseable atau bisa dibersihkan dengan air). Pokoknya merk ini jaminan mutu, tentunya dengan harga yang lumayan juga. Untuk satu pack komplit harganya mulai dari 1,5 s/d 4 juta rupiah, WOW!! ^,^ Untuk lebih jelasnya Mommies bisa baca DI SINI.
Terus kita musti pakai apa dong? Tenang Mommies, bisa kok kita menerapkan prinsip eco friendly seperti karalink di rumah kita dengan meminimalisir efek debu dengan harga yang pasti lebih terjangkau. Caranya?
  1. Tentukan space dinding di rumah yang akan dijadikan sebagai papan, termasuk berapa panjang dan lebarnya. Sekedar info, space ga harus dinding ya, karena chalk board bisa diaplikasikan ke kayu (misal pintu, meja) bahkan stainless maupun alumunium (seperti kulkas). Kebayang kan serunya kulkas yang bisa ditulisi resep dan catetan ini itu.. ^_^
    Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink
  2. Beli chalk board alias cat dinding dengan rubber base (basic karet) yang mudah dibersihkan dengan air. Cat ini bisa dibeli di ACE Hardware dengan harga sekitar Rp. 107.000,- untuk satu kaleng berisi 1kg cat. Oiya warnanya bebas lho Mommies, kita tinggal pilih warna dan akan dibuat campurannya disana. Saya sendiri lebih suka warna hitam karena terasa "papan tulis" banget dan dari segi estetika lebih cantik kalau digambari dengan  kapur berwarna.
    Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink

    Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink
  3. Aplikasikan cat pada space yang diinginkan. Karena sifatnya rubber base, jadi nggak perlu ditambah air, tinggal hajar aja pakai kuas / roll. Cat ini juga cepat kering, nggak sampai 30 menit sudah bisa kita pakai.
  4. Beli kapur tulis. Nah yang ini saya masih pakai kapur tulis yang umum dipakai seperti jaman sekolah dulu, belum nemu toko alat tulis yang jual kapur tulis yang lebih eco friendly di Semarang. Barangkali Mommies bisa kasih saran buat saya...
  5. Siapkan kain / lap untuk penghapus. Kain apa aja ya, yang teksturnya halus lebih baik. seperti baju atau kaos yang udah nggak kepakai. Caranya, kain dibasahi dengan air, peras sedikit, tinggal hapus deh! jadi kalau udah kotor bisa dicuci dan dipakai lagi. Ekonomis kan?  ;)
Sedikit tips dari saya, baiknya space yang digunakan dekat dengan jendela atau berada di ruangan terbuka. Jadi kalaupun ada sisa debu kapur yang terbang masih tertolong dengan sirkulasi udara di sekitarnya. Kalau pengalaman kami di rumah, debu dari kapur tulis sangatlah sedikit karena sudah diminimalisir oleh lap basah yang digunakan. Pokoknya nggak sampai tercecer dibawah kaya jaman kita SD dulu, juga nggak sampai masuk-masuk ke hidung.

Saya rasa sejauh ini PAPAN DINDING sudah bisa menjadi solusi dilema kapur tulis, spidol dan karalink. Selain itu bisa jadi ajang fun time bareng si kecil, pilih warna cat sendiri, ngecat bareng sampai corat-coret bareng. Selamat mencoba ya Mommies, semoga bermanfaat.

Salam Hangat,


Nov 10, 2014

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #2

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #2
Kisah Pengemis dan Penjual Koran #2
Melanjutkan cerita perdebatan saya dengan putra sulung kami yang sebelumnya dapat Bunda baca DI SINI, saya akhirnya menyerah atas pemahaman si Abang bahwa pinjam uang itu ya tidak boleh dipakai buat beli (sambil putar otak untuk kasih pemahaman).

Akhirnya saya menimpali, "Ya sudah, nggak usah jual minuman deh... pengemisnya suruh jualan koran aja." Lalu si Abang bertanya, apakah korannya tidak perlu beli dulu? dan saya jelaskan kalau pengemis yang mau jualan koran tidak perlu beli dulu, jadi nggak perlu pinjam uang juga buat modal (yang konsep "pinjam uang" nya belum bisa ia terima).

Bukannya puas dan berdiam diri, Abang masih terus mencerca saya dengan rasa penasaran, "Terus kalau ga perlu beli, ambil korannya dimana Bunda?"
Bunda : "Ambilnya ya di pabrik koran, di gudangnya." sambil saya sebut kantor penerbitan koran terbesar di kota kami.
Abang : "Lho apa boleh dateng ke gudang? yang boleh masuk gudang itu ya karyawan aja.."
#garuk-garuk kepala -bener juga ya. hihihi... padahal mau saya jelasin konsep agen koran sepertinya dia juga belum paham, lalu saya inisiatif saja,
Bunda : "Ya kan bisa daftar dulu Bang, bilang dulu sehari sebelumnya kalau besok mau datang ambil koran untuk dijual.."
Abang : "Nah, kalau ijin dulu gitu baru boleeeh.. " Hahaha.. pinter beneeerrrr ;)
Bunda : "Berarti kalau masih sehat nggak perlu jadi pengemis kan? Harus mau bekerja, penjual koran aja bisa nggak pakai modal dulu. Yang penting jangan malas yang maunya duduk aja sambil minta uang." menutup penjelasan saya.

"Bunda, kalau yang punya pabrik koran orang baik, orang sholeh, paling nanti uang hasil jualan korannya dikasihin lagi sama yang jual koran biar buat makan ya... Pasti yang punya pabrik koran kalau sholeh bilang gini, 'Nggak usah dikasih saya Pak, uangnya dibawa Bapak lagi aja buat beli makan..'" ungkapnya

Akhirnyaaaahh... lega juga saya bisa menyampaikan point bahwa kita tidak perlu kasihan apalagi terus-menerus memberi uang terhadap orang yang malas berusaha. Walau sambil gontok-gontokan, pakai jengkel, pakai adu argumen sampai pengen ketawa sendiri. Tapi eh tapi, si Abnag tidak langsung bisa menerima begitu saja dengan penjelasan beserta ilustrasi panjang lebar saya, malam harinya saat saya sedang khusyuk mencuci piring, Abang datang lagi mengemukakan pemikirannya.

Abang : "Bunda, kalau yang punya pabrik koran orang baik, orang sholeh, paling nanti uang hasil jualan korannya dikasihin lagi sama yang jual koran biar buat makan ya... Pasti yang punya pabrik koran kalau sholeh bilang gini, 'Nggak usah dikasih saya Pak, uangnya dibawa Bapak lagi aja buat beli makan..' ungkapnya. #jlebb jlebb jlebb T,T

Saya tersenyum sambil terkagum-kagum pada pemikiran polos anak SD di depan saya, sambil berdoa semoga kelak Abang menjadi sang pemilik pabrik nan sholeh itu dan bisa membantu banyak pengemis mendapatkan pekerjaan yang lebih mulia. Aamiin

Salam Hangat,

Nov 6, 2014

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #1

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #1
Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #1
Seperti yang kita tahu, belakangan ini pemerintah gencar menyadarkan para warga untuk tidak memberi uang kepada pengemis. Karena selain mengganggu ketertiban jalan, dengan selalu menyodorkan uang pada pengemis berarti kita turut serta membangun mental - mental pengemis di negara ini.

Bahkan Pemprov DKI sampai membuat perda larangan memberi uang kepada pengemis yang terdapat dalam Pasal 40 Perda DKI Jakarta No 8/2007 tentang Ketertiban Umum. Sehingga warga yang memberi uang bisa dikenai tindak pidana ringan (tipiring). Di kota saya -Semarang- sosialisasi tentang larangan memberi uang kepada pengemis dilakukan di tiap-tiap lampu merah melalui rekaman speaker.
" Bahkan Pemprov DKI sampai membuat perda larangan memberi uang kepada pengemis yang terdapat dalam Pasal 40 Perda DKI Jakarta No 8/2007 tentang Ketertiban Umum. Sehingga warga yang memberi uang bisa dikenai tindak pidana ringan (tipiring). "
Saya yakin bahwa sebagian besar dari kita mendukung larangan memberi uang kepada pengemis, sedangkan di keluarga kami biasanya masih melihat-lihat dulu apakah si pengemis sudah renta, udzur atau cuma karena malas bekerja.

Suatu hari waktu kami pergi bersama, saat berhenti di lampu merah perempatan jalan putra sulung kami pun bertanya,
Abang : "Kenapa Ayah nggak ngasih uang ke pengemis itu?" 
dan dijawab sang ayah "Kan yang ngemis masih muda Bang, masih sehat, harusnya masih mampu bekerja. Kenapa nggak jualan aja kayak yang lain -penjual koran / minuman di pinggir jalan-, berarti dia pemalas.."
saat itu si Abang hanya terdiam, sepertinya dia sedang berpikir...

Beberapa minggu setelah kejadian itu, suatu sore saya yang sedang bercerita tentang galaksi pada si adek di teras rumah tiba-tiba Abang menghampiri sambil berlari setelah bermain sepeda bersama teman-temannya. Ia langsung duduk didepan saya dan bertanya "Bunda, katanya kan nggak boleh ngasih uang sama pengemis, katanya mereka suruh jualan aja, lha uang yang buat jualan dapet dari mana kalau nggak ngemis dulu?"

Saya rada roaming sejenak, anak ini lucu, datang sambil lari tau-tau tanya soal pengemis ;)
Bunda : "Ya ambil uang tabungan, atau pinjem sama teman dulu."
A : "Kalau ga punya tabungan?"
B : "Pinjem teman dulu dong.."
A : "Kalau nggak punya teman?"
B : "Ya pinjem keluarga atau sodaranya.."
A : "Kalau nggak punya sodara?"
B : "Ya pinjem tetangga.." 
A : "Kalau nggak punya tetangga?"
B : "Ya pinjem keluarga lagi atau pinjem pak RT.." #mulai erosi
A : "Kalau masih nggak punya juga? uangnya dari manaaaa?" #ikutan marah
B : "Memangnya tinggal di hutan kok nggak ada siapa-siapa?" #ikutan saraf =P
hadeeeh..... si Abangnya jengkel, saya sndiri jadi antara geli, lucu, pengen emosi juga ^_^
A : "Maksudnya gimana? Abang nggak paham!" Pake falceto alias nada tinggi
B : "Ya Abang jangan jengkel gitu kalau belum paham... Misalnya budhe -ART kami- mau jualan air minum botol tapi nggak punya uang, jadi pinjem uang Bunda dulu 100 ribu. Kalau udah ada yang beli, dapet uang, uang Bunda dikembaliin lagi.." cerita saya panjang lebar
A : "Loh pinjem kok dibuat beli, pinjem itu ya dipegang aja sebentar terus dikembaliin lagi. Ya nggak boleh itu pinjem uang dibawa pulang, apalagi dibuat beli!" #gubrakkkk

To be continued ^,^

Kisah Pengemis dan Penjual Koran (Perdebatan Ibu dan Anak) #2 dapat Mommies baca DI SINI

Nov 4, 2014

TUA VS DEWASA

Menurut rumusannya tua dan dewasa mempunyai hubungan berbanding lurus, dimana kedewasaan seseorang akan semakin bertumbuh dengan bertambahnya usia. Namun layaknya ilmu statistika, dalam suatu nilai selalu terdapat simpangan, dan pada kenyataannya kedua hal tersebut tak akan selalu berbanding lurus pada setiap orang. 



Bagi saya dewasa itu adalah hal abstrak yang penilaiannya sangat subyektif. Sulit untuk menemukan arti sebenarya dalam kamus, terkecuali yg telah diatur dalam agama yaitu datangnya haid bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki2, itupun tidak serta merta membuat mereka menjadi dewasa bukan? 

Ya, karena dewasa itu proses bersamaan dengan pertambahan usia. 
Banyak orang menilai kedewasaan dari cara berfikir, itu benar. Tapi bagi saya kedewasaan berfikir selayaknya diikuti dengan kedewasaan dalam bertutur kata, bersikap dan perilaku dalam keseharian. 
Beberapa orang merasa ia telah dewasa, namun justru tidak demikian menurut orang-orang di sekelilingnya. Itulah mengapa dewasa sangat bersifat subyektif. 
Ada yang merasa dewasa, sedangkan ia adalah pribadi tak bertanggung jawab. 
Ada yang merasa dewasa, sedangkan ia suka berkata kasar. 
Ada yang merasa dewasa, sedangkan ia bertindak diluar norma sosial. 
Maka mereka hanyalah orang tua, bukan orang dewasa. Karena manusia dewasa tak hanya matang dalam berfikir tapi juga tercermin dalam tindakan. Bukankah planning tanpa action itu sia-sia? 

Maka selayaknya pribadi dewasa adalah pribadi yang anggun, tenang, menyenangkan bagi pasangan, keluarga dan orang di sekelilingnya, selalu under control, dan senantiasa berjalan di jalan yang benar. Karena ia sadar bahwa segala hal yang out of the rule - tidak baik, akan membawa keburukan pula. Jika bukan dia, pasti orang disekitar yg akan tersakiti karena ketidak dewasaanya. 

"menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan"

"menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan" udah sering denger dan terbukti bener. 
Semoga menjadi bahan muhasabah bagi saya khususnya..