Dec 22, 2015

Bagaimana Menanamkan Aqidah pada Anak?

Bagaimana Menanamkan Aqidah pada Anak?
Bagaimana Menanamkan Aqidah pada Anak? via sabumibdg.wordpress.com
Pengantar
Berbicara soal aqidah / iman maka kita membahas sesuatu yang tidak bisa kita lihat tapi terasa ada, bahkan itu menjadi barometer kita dalam menyikapi kehidupan. Aqidah adalah pondasi, yang kuat lemahnya akan menjadi penentu bangunan apa di atasnya. Semakin kuat pondasi tentu semakin baik bangunan tersebut.

Karenanya, 13 tahun Rasulullah menempa keimanan para sahabat. Yang kemudian kita tahu, aqidah yang kokoh menjadikan para sahabat orang-orang yang senantiasa taat dalam kondisi lapang maupun sempit.

Tanya-Jawab
1. Bunda Putri Jatim 1
Hal yang paling urgent untuk menanamkan akidah pada anak perempuan kelas 8 SMP dan anak kelas 10 SMA apa ustazah? Dan bagaimana caranya?

Jawab
Sejak dalam kandungan pun sudah bisa bunda Maghfiroh. Memperdengarkan tilawah Al Qur'an, mengajaknya berbicara. Tapi tentu penanaman yang optimal dilakukan saat anak sudah bisa diajak bicara, diajak bercerita. Paling mudah lewat cerita, lewat bermain peran, atau diskusi ringan. Pada awalnya tentu anak-anak belum sepenuhnya memahami, namun seiring waktu insyaallah mereka akan mencerna denganbaik.

2. Ummu Ibad
Dalam kajian parenting nabawiyah, mereka mengadopsi lamanya Nabi dalam penanaman aqidah kepada para sahabat yang akhirnya menjadi standar waktu bagi anak-anak sekarang. Yakni usia 0-13 tahun adalah masa penanaman aqidah yang optimal. Lantas di atas usia itu bagaimana?

Jawab
Jika mengacu pada sistem tarbiyah Rasulullah, fase 7th ketiga yakni sejak anak usia 14 th maka peran kita hanya sebagai teman yang membersamai, tidak lagi sebagai pendidik. Dengan asumsi, saat mereka balligh sudah tuntas masa pengajaran. Jadi idealnya selepas balligh anak-anak sudah terkondisi baik keimanannya. Namun bukan berarti terlambat, di masa ini kita bisa melakukan tindakan penguatan.

Anak-anak usia remaja sudah tidak nyaman didoktrin, mereka senang diskusi, senang ditanya. Jadi biasakan di rumah ada waktu khusus ngobrol dengan mereka, kita bisa masuk lewat kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Lihat tanggapan mereka, puji jika sesuai dan luruskan jika menyimpang.

Bunda, kita akan terkejut dengan jawaban mereka. Kebetulan sulung saya juga kelas 1 SMA. Asyik betul kalau dia pulang dari pondoknya, diskusi kami selalu seru. Hal yang terpenting untuk anak usia remaja adalah pemahaman mereka tentang Allah, bahwa Allah membersamai mereka di setiap waktu. Pengalaman saya sebagai kepala sekolah SMP hal ini sangat krusial, karena anak remaja rentan terhadap hal-hal yang menyimpang.

Tanggapan
Asumsi penanaman keimanan sudah tuntas kan ya ustazah. Kalau belum bagaimana kira-kira penekanan akidahnya? Dengan kondisi bertemu anak-anak sekali dalam sebulan?

Jawab
Optimalkan pertemuan sebulan sekali untuk bonding sekaligus diskusi. Seperti yang saya bilang, pancing dengan pertanyaan, nanti dari sana kita akan tahu hal-hal yang perlu kita tambahkan.

Yang paling mudah misalnya ceritakan tentang seorang perempuan yang saat kerja harus melepas jilbab, menurut kamu bagaimana, Nak? Padahal sekarang cari kerjaan susah dan dia butuh banget untuk membiayai ortunya. Tapi dengan syarat, diskusi hanya bisa menarik jika kita dekat dengan anak. Kalau tidak, yang ada kabur anaknya. Hehe.. Saya tidak menyarankan penanaman aqidah dalam bentuk nasehat secara terus menerus. Aqidah tentu meliputi syahadatain, ma'rifatullah, ma'rifaturrasul, ma'rifatul Islam dll.

3. Bunda Dika
Bagaimana menanamkan aqidah kepada anak usia 17 bulan? Bagaimana langkah menanamkan aqidah sesuai tahapan usia anak?

Jawab
Lewat buku yang kita bacakan, Bunda. Atau dengan mengajarkan indahnya ciptaan Allah, membiasakan menyebut asma Allah dalam setiap momen. Contoh mudah, dalam perjalanan kita bisa mengajaknya bicara, "Dek, lihat awannya indah ya, ciptaan siapa?" dsb

Penanaman aqidah disesuaikan dengan usia mereka, karena seiring berkembangnya usia tentu berkembang pula pola pikirnya. Secara konsep tentang keesaan Allah, Islam satu-satunya agama yang diterima Allah, Rasul tauladan mulia dll. Namun cara penyampaian dan contoh-contoh yang disesuaikan dengan tahapan usia mereka.

Pembahasan akan sangat panjang namun sebagai contoh langkah penanaman aqidah pada anak usia 0-3 thn sebagai berikut :
1. Membiasakan kalimat tauhid, asma Allah dalam setiap perbuatan.
2. Mengajarkan cinta pada Allah. Ceritakan tentang karunia Allah yang luar biasa, pada dirinya. Indahnya jari, kuatnya kaki dsb.
3. Mengajarkan cinta pada Rasul. Pengorbanan Rasulullah dan para sahabat hingga kita bisa merasakan nikmatnya Islam.
4. Membiasakan interaksi dengan Al Qur'an. Tidak utk membacanya, tapi membiasakan dekat, menghafal surat-surat pendek. dll

4. Bunda Yevi Jatim 2
Saya sering debat sama suami, kalau bicara akidah takut ga kesampean sama si anak .Apalagi suami saya kadang pakai bahasa orang dewasa jawaban nya. Lambat laun si anak juga akan faham sesuai waktu. Tapi saya masih khawatir kira-kira memberatkan tidak ya? Kadang penegenalan Allah aja bicara nya udah kayak bicara ke anak kuliah. Worry nya si anak.merasa bingung, emang dia cuman diem sambil mikir.

Jawab
Itu yang dimaksud dengan bicara cerdas, biasakan berbicara dengan anak seperti teman. Tidak dicadel-cadelkan, karena sesungguhnya anak-anak adalah penyimpan memori yang luar biasa. Saya sudah membuktikan pada si sulung, dan dia jauh lebih banyak memiliki kosa kata dibanding anak seusianya, jauh lebih dewasa dan memahami masalah dengan baik. Jadi insyaalah tdk apa-apa bunda Yevi. Hanya saja intonasi perlu disesuaikan, jangan seperti dosen pada mahasiswanya.

Tanggapan
Adakah buku rekomendasi,yang menceritakan kisah2 seperti di Alquran?

Jawab
Banyak bunda. Terbitan sygma, dzikrul kids, rumah pensil banyak yg bagus.

5. Bunda Dwi
Saya sekarang sedang mengajarkan tentang Allah dan ciptaan-ciptaanNya, nah suatu hari anak saya bercerita tentang hantu dan setan, saya cukup kaget dan menjelaskan kalo hantu itu tidak ada, tapi setan itu makhluk ciptaan Allah. Tapi teman nya sering cerita hantu dan setan itu sama saja. Bagaimana saya memfilter si kecil biar tidak ikut temannya?

Jawab
Saat anak melontarkan pertanyaan atau bercerita, itu momen yang pas untuk kita banyak membahas, karena mereka sedang dalam kondisi penasaran / ingin tahu. Sampaikan bahwa hantu hanya nama lain dari setan. Tapi biasanya kita mengkonotasikan hantu dengan sesuatu yang gentayangan. Nah ini yang perlu diluruskan, karena dalam Islam setiap orang yang sudah meninggal, ruhnya Allah simpan/angkat hingga waktu hisab tiba.

Jelaskan pula tentang setan / jin. Mereka menganggu manusia, tapi manusia lebih kuat karena kita punya Allah dan diajarkan doa-doa oleh Rasulullah. Memang semakin banyak saja godaan yang akan dihadapi anak-anak kita untuk mempertahankan aqidah di zaman akhir ini..

Tanggapan
Mungkin ada tips agar anak lebih kebal terhadap lingkungan yang kurang kondusif Ustadzah? Misal pakai lagu itu apa efektif juga untuk menanamkan aqidah.

Jawab
Intinya pada bounding antara anak dan ortu. Jika pengaruh kebaikan kita besar atas mereka maka insyaallah pengaruh luar kecil perannya. Lagu-lagu menurut saya kurang mengena. Lebih optimal melalui cerita dan obrolan. 


5. Bagaimana menanamkan pemahaman bahwa Islam satu-satu nya agama yang Diridhoi Alloh pada anak usia TK atau SD, sedang mereka berinteraksi dengan anak lain yang beda agama. Namanya anak-anak kan polos kalau bicara dengan temannya atau orang lain. Takutnya orang yang beda agama tsb jadi tersinggung dan menilai kita tidak toleran.

Jawab
Toleran atau tidak toleran tidak berlaku dalam masalah aqidah. Tahukah bunda, anak-anak yahudi dan nashrani sudah didoktrin tentang Islam adalah bad thing sejak mereka kecil. Kita tentu tidak melakukan itu, kita hanya benci orang kafir yang memerangi. Tapi yang perlu kita tanamkan pada anak-anak adalah izzah Islam, kebanggaan mereka sebagai muslim.

Ceritakan keindahan Islam, sempurnanya Islam mengatur seluruh kehidupan sejak bangun tidur hingga tidur lagi, sucinya Islam karena sumber hukumnya terjaga keasliannya dll. Jadi yang tumbuh pada anak adalah PDnya dia sebagai muslim, yakinnya dia Islam adalah agama yang diridhoi Allah.

Penutup
Semoga kita terus menguatkan aqidah kita dan membina aqidah anak-anak kita, karena yang akan dimintai perranggung jawaban adalah kita sebagai orang tua, bukan para guru di sekolah ataupun guru ngaji anak-anak kita.



Resume Kulwap Jatim 1&2
hari dan tanggal : JUMAT  DESEMBER  2015
 Pukul : 19:30-21:30
Pemateri : Ustadah lilah
Tema : Menanamkan keimanan
Moderator :  Bunda lutfi
Notulen : Bunda phita

Dec 17, 2015

Inspirasi Anak dengan Impian Masa Depan Terbaik

Inspirasi Anak dengan Impian Masa Depan Terbaik
Inspirasi Anak dengan Impian Masa Depan Terbaik
Artikel ini mengambil satu bab dari buku The MODEL for Smart Parents. Buku ini tujuannya sejiwa dengan motto pendidikan anak dari saya. Yaitu, Mencetak Anak Sukses dan Kontributif Sejak Kecil. Apa itu Sukses dan apa itu Kontributif bisa didiskusikan di sesi diskusi. 

Harvard Business School (Inspirasi Mereka dengan Impian Masa Depan Terbaik)

Pagi yang indah. Dalam perjalanan mengantar anak-anak ke sekolah saya biasa mengisi waktu di dalam mobil dengan bercengkrama. Mengisi pikiran segar mereka dengan hal-hal positif. Pagi hari adalah waktu yang istimewa untuk mendapatkan hasil tuning terbaik.

Pagi itu saya bercerita kepada anak-anak tentang kampus terbaik di dunia. Kampus beken yang sempat saya ceritakan seperti Harvard Business School, Oxford University, Massachusetts Institute of Technology, termasuk Tokyo Institute of Technology. Yang terakhir adalah tempat abinya menimba ilmu dulu di Jepang. Tidak hanya itu saya menyampaikan peluang mereka menembusnya suatu saat nanti. Dengan sedikit sentuhan teknik visualisasi maka cerita kampus hebat dan peluang menembusnya berubah menjadi energi yang menggairahkan anak-anak.

Setelah bicara kampus hebat dan peluangnya, saya berbagi informasi tentang salah satu beasiswa yang dapat membiayai mereka di sana, Presidential College. Saya sebutkan besaran beasiswanya. Lalu mengajak mereka berhitung berapa uang yang dapat mereka kumpulkan selama kuliah di sana. Mereka membuat kalkulasi. Mereka takjub. Membayangkan besarnya uang yang akan terkumpul. Uang itu akan menjadi modal untuk membangun bisnis yang mereka impikan. Paling tidak itulah yang terlontar dari omongan mereka di pagi itu.

Mobil terus menembus segarnya pagi. Imajinasi kampus terhebat, peluang beasiswa berlanjut dengan rencana membangun bisnis dari uang yang terkumpul. Mereka berkhayal dan menghitung pertumbuhan keuntungan bisnis. Saya biarkan khayalan mereka berkelana. Saya nikmati lontaran pikiran-pikiran segar mereka sambil berharap mereka dapat meraih potensi maksimal di masa depan. Semoga Allah swt. memudahkan cita-citamu, Nak. Bukankah Allah swt. mencintai muslim yang kuat?

“Tingginya cita-cita dan kuatnya semangat adalah bagian dari iman” (Imam Ali bin Abi Thalib ra.), Apa yang terjadi setelah perbincangan di mobil itu? Sepulang sekolah mereka bersemangat melihat-lihat kampus terbaik. Berselancar di dunia maya melalui lorong search engine, Google. Mereka cari listing kampus-kampus terbaik. Mereka ketemu dengan Carlifornia Institute of Technology sebagai kampus nomor satu. Mereka pun membicarakannya.

Beberapa hari kemudian saya kumpulkan anak-anak di dalam forum halqah. Saya lanjutkan pembicaraan kami di mobil tentang kampus terbaik. Saya buat gambar seperti di samping. Saya jelaskan sebuah lingkaran target yang bertuliskan Harvard Business School (HBS). Lalu garis-garis yang menuju dan menyentuh lingkaran itu adalah jalan orang-orang yang mau masuk ke sana.  Saya tuliskan nama-nama mereka di garis yang menyentuh HBS. Itu adalah saat lulus Sekolah Menengah Atas. Garis di belakangnya adalah saat mereka menjalani Sekolah Menengah Atas. Lalu ada garis-garis di belakangnya lagi. Berturut-turut menggambarkan saat di Sekolah Menengah Pertama sampai kondisi sekarang.

Saya ajarkan mereka berpikir dengan prinsip “Berawal dari akhir di dalam pikiran”. Memulai dari capaian visi dunia di masa depan kemudian merunutnya pada masa sekarang. Mereka dapat menangkap gagasan bahwa untuk masuk ke Harvard Business School atau sekolah beken yang lain diperlukan garis-garis yang konsisten mengarah ke tujuan. Garis itu melambangkan aktivitas keseharian atau kebiasaan mereka. Garis yang mengarah ke sana berarti keseharian yang relevan untuk sampai di sana.

"Saya jelaskan pula kebiasaan yang tidak menuju lingkaran cita-cita. Saya buatkan garis-garis yang tidak menuju lingkaran target. Untuk menggambarkan perjalanan hidup yang tidak sampai tujuan. Menyimpang entah kemana. Saya dramatisasi penjelasan tentang arah garis yang salah dapat membawa mereka pada kegagalan hidup. Jauh dari pusat cita-cita."
Tentu saja teknik visualisasi ini saya lakukan untuk anak-anak yang usianya cukup matang berpikir abstrak. Waktu itu usia mereka, Shafa (15 tahun), Althof (13 tahun) dan Kautsar (11 tahun). Bila Anda ingin melakukannya pada anak-anak, pastikanlah mereka mampu dan tertarik dengan visualisasi masa depan seperti ini.

Apa yang saya lakukan ini terinspirasi dari praktek Rasulullah saw. Ketika mengajar kadang Rasulullah saw. menggunakan teknik ilustrasi gambar. Dalam bukunya Muhammad Sang Guru, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah menunjukkan sketsa gambar yang pernah dibuat Rasulullah saw. tentang angan-angan dan gangguan-gangguan yang datang tak terduga. Gambar ini beliau tulis berdasarkan hadits Bukhari yang meriwayatkan kisah dari Abdullah bin Mas’ud ra. Saya tidak menyampaikan gambar beliau di sini. Poinnya adalah gambar sangat efektif untuk mengilustrasikan penjelasan, termasuk penjelasan kepada anak-anak bagaimana masa depan mereka kelak.

Apakah anak-anak saya kelak bisa sampai pada kampus semacam Harvard Business School, Oxford University, California Institute, Massachusetts Institute of Technology atau Tokyo Institute of Technology? Wallahu’alam. Masih banyak kemungkinan. Biarkan nanti mereka yang memutuskan.

Di lain kesempatan saya juga pernah berbincang tentang Al-Azhar Mesir atau King Abdullah University of Science & Technology Saudi Arabia. Sebenarnya bukan tentang kampus beken ini sebagai tujuan utama. Poin utamanya adalah mengajarkan mereka bagaimana membangun visi masa depan. Menginspirasi mereka agar hidup dengan tujuan jauh ke depan. Mengajarkan mereka bahwa untuk meraihnya diperlukan usaha yang relevan.

Begin with the end in the mine. Berawal dari akhir dalam pikiran. Sudahkah Anda berbagi inspirasi masa depan kepada anak-anak Anda? Seperti yang pernah disampaikan oleh Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna "Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok." Semoga Allah swt. memudahkan anak-anak meraih masa depan terbaik mereka. Aamiin ya rabbal 'alamin.


Allah swt. memberi hadiah terindah berupa buah hati. Mereka adalah calon orang-orang hebat yang tidak hanya sukses tapi juga berkontribusi untuk membangun peradaban Islam. Umat Islam itu adalah umat terbaik. Maka kita mustinya juga memberi pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Pandanglah anak-anak kita sebagai anak raja. Anak raja biasanya mendapat yang terbaik. Untuk memberi yang terbaik maka kita perlu ilmu dan pengalaman.


Maka dari itu mari bunda-bunda shalehah kita terus belajar dan mengamalkan apa yang kita pelajari dalam mendidik anak-anak kita. Semoga Allah swt. membudahkan kita mencetak anak yang sukses-bahagia dan kontributif dalam membangun peradaban Islam. 




Resume kulwap jogja
hari dan tanggal : jum'at, 11 Desember 2015
Pukul  : 19.30- 21.30
pemateri : Ust nopriadi
Nopriadi Hermani, Ph.D.
Facebook: Nopriadi Hermani


Twitter: @nopriadi
Tema : The MODEL for smart parent (Harvard Bussines School)
Modetator : Bunda Rita
Notulen : Bunda yosi

Dec 10, 2015

Resensi Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans

Resensi Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans
Resensi Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans
Judul : Resensi Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans
Penulis : Sayf Muhammad Isa & Felix Y. Siauw
Penerbit : Al-Fatih Press
Terbit : 2014
Halaman : 320 Halaman
Kategori : Novel Sejarah
Rating : 4.5 of 5


"Dengan menyebut nama Allah 'azza wa jalla.
Dari Murad, Khalifah Orang Beriman, kepada Ivan Alexander, Kaisar Bulgaria.
Aku bermaksud untuk mengajakmu bersama-sama berpegang teguh kepada satu kalimat tahuhid, tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, Tuhan seru sekalian alam. Dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah sebagaimana Isa 'alaihissalam telah diutus juga olehNya.

Aku menyeru kepadamu, masuklah kau ke dalam Islam, maka pasti kau akan selamat di dunia dan di akhirat. Kehidupanmu akan mudah dan berkah. Tapi kalau kau menolak, kau diwajibkan untuk membayar jizyah setiap tahun. Jangan dulu berburuk sangka, Islam mengatur bahwa jizyah hanya diambil dari laki-laki dan dari orang mampu, bukan dari anak-anak, perempuan dan orang-orang miskin. Dengan bernaung di bawah penerapan syariat Islam kesejahteraanmu akan dijamin dan keamananmu akan terjamin pula. Kau tidak akan dipaksa untuk memeluk Islam dan tidak akan dianiaya secuil pun.

Tapi kalau pilihan kedua ini pun kau tolak, tandanyan kau telah menghalangi sampainya seruan Islam kepada rakyatmu, dan Allah mengajarkan bahwa aku harus menghancurkan penghalang itu dengan memerangimu dan pasukanmu.

Aku dan prajuritku telah sampai di Velbudz. Aku mengharapkan jawabanmu terhadap seruanku ini...."
The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans (halaman 48 - 49)

Demikianlah isi surat yang dikirim oleh Sultan Murad I dari Kesultanan Utsmani kepada Kaisar Bulgaria. Surat yang sama pun kelak dikirimkan kepada para penguasa Eropa lainnya, Kaisar Serbia, Voivode (Pangeran) Bosnia, Voivode Kroasia, Voivode Wallachia hingga Sang penguasa Romawi, Kaisar Hungaria (Raja Hungaria, Raja Bohemia, Raja Lombardia dan Kaisar Romawi Suci). Diantara mereka ada yang tersentuh dengan kemuliaan Islam dan serta merta mengucap dua kalimat Syahadat, namun tak sedikit pula yang memilih jalan perang.

Sebuah novel sejarah luar biasa yang bercerita tentang masuknya Islam di masa Kesultanan Utsmani (Ottoman) ke daratan Eropa. Dulu saat saya membaca tulisan-tulisan tentang perjuangan umat Islam di Kosovo, Serbia, Bosnia, jujur saja saya tidak mengerti sama sekali bagaimana semua konflik itu bermula. Dari Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans inilah pandangan saya terbuka akan betapa hebatnya para ksatria Islam di masa lampau.

Kisah yang dimulai sekitar setengah abad sebelum penaklukan Konstantinopel (Istambul) oleh Muhammad Al-Fatih, Putra Sultan Murad II (Baca : Resensi Buku Muhammad Al Fatih 1453). Diawali dengan penaklukan wilayah Eropa oleh Kesultanan Utsmani, Kisah Al-Fatih kecil, hingga perkenalannya dengan cucu Voivode Wallachia, sang Vlad Dracula yang legendaris.

Masih bingung apa hubungan Vlad Dracula dengan sejarah Islam? Yup, ternyata Vlad Dracula memang benar-benar ada, nama yang memiliki arti "Vlad anak Sang Naga" ini pada masanya meninggalkan kekejian dan kepedihan yang akan dikenang seluruh umat manusia hingga saat ini.

So, jangan ngaku muslim / muslimah keren kalau nggak melek sejarah. Setelah membaca Buku The Chronicles of Ghazi - The Rise of Ottomans dijamin akan langsung berburu buku kedua dan ketiga dari trilogi The Chronicles of Ghazi ini. Satu lagi, bagi saya buku ini adalah aset tak terhingga yang kelak bisa diwariskan kepada anak cucu kita agar semakin mencintai dan memegang teguh agamanya, Islam. Happy reading!

Salam Hangat,

Dec 7, 2015

Islamic Parenting

Islamic Parenting
Islamic Parenting
Islamic Parenting - Dalam pendidikan Islam pada dasarnya mengajak manusia untuk memahami kehidupan, mulai dari tujuan hidup, tugas kehidupan, pegangan hidup, visi misi strategi hidupnya, teman hidup, prinsip dan nilai hidup, hingga gaya hidup. Sayangnya banyak diantara kita harus perbanyak istighfar,  karena belum apa apa kita sudah melanggar perintah Allah.

Surah Al-Isra, ayat 36: 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."

Surah Al-Isra, ayat 37: 

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا 

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."

Surah Al-Isra, ayat 38: 

كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُ عِندَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا 

"Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu."

Yakni punya anak dulu baru belajar ilmu pendidikan anak, padahal adabnya adalah Ilmu Qabla Amal. Sehingga pengasuhan sering kali terjadi hanya karena kepanikan, reaksi, dan faktor tradisi saja, yang seharusnya pada dasar-dasar islam sudah dijelaskan secara lengkap 

Tanya Jawab

1. Abah bagaimana jika kita terlambat merancang visi dan misi keluarga islami? Apa yang harus dibenahi dahulu? Dari manakah kita harus memulai untuk menjalankan visi dan misi keluarga yang meneladani ruh islami.(bunda Noni)

Jawab
Pertama, perbanyak istighfar dan akui dibagian mana kita salah nya, buatlah mindmaping nya. 
Kedua, bicara dengan pasangan agar sinergi 
Ketiga, meminta maaf pada anak dan ubah pola komunikasi lebih positif 
Keempat, belajar kembali soal : tauhid, adab, akhlak dan tahapan pendidikan anak dalam islam 
Kelima, mulai buat program 3 bulanan 
Bagaimana pun kita terlebih dahulu yang harus diterapi sebagai ayah bunda agar dapat diputus mata rantai pola pengasuhan yang negatif.


2. Abah, bagaimana cara kita mengubah sudut pandang pola asuh anak dengan pola asuh yang kita dapat dari orang tua terdahulu? Terkadang ketika bersama keluarga besar kita pun terbawa arus mereka. Dan terkadang pula kita harus mengalah sebentar . (bunda Khansa)

Jawab
Pertama, akui dulu bahwa ada yang salah dan negatif serta menyadari dampak nya dari pola asuh yang lama. 
Kedua, fahami secara jelas mendalam, apa sih yang diinginkan oleh islam dalam pendidikan anak?
Ketiga, akui secara jujur, kondisi realita saat ini kelebihan dan kekurangan kita. Akui dengan tegas dan rendah hati, siapa diri kita senyatanya dan siapa diri kita yang seharusnya dalam pandangan psikologi islam. 
Keempat,  perkuat pemahaman kita tentang tauhid, sehingga Allah lagi, Allah saja dan Allah terus, sambil tetap tersenyum dan baik hati menikmati prosesnya.
Paling awal buat dulu TUJUAN PENGASUHAN ANAK. Yang penting mindmap dasarnya dulu yang terdiri dari : tujuan hidup, visi misi hidup, pandangan hidup, pegangan hidup, teman hidup, gaya hidup, strategi hidup. dan ini perlu coaching tersendiri 

3. Sebaiknya ilmu apa saja yang harus dimiliki para orang tua? Khususnya karena sekarang Alhamdulillah sudah terlanjur punya anak, bagaimana cara menyikapi & mengejar ketertinggalan tsb? (bunda Ryan)

Jawab
Ilmu Tauhid, Adab, pemahaman tentang manusia dan perkembangannya, pemahaman tentang takdir. psikologi pendidikan dan perkembangan anak. Memang harus ada kesungguhan buat belajar lagi. Karena sebenarnya hal diatas sudah selesai paling lambat usia 20 tahun. Nah, ibu-ibu punya target tidak, bahwa anak-anak harus sudah dewasa usia berapa? Jejakjiwa itu lebih kepada pemahaman tentang tahapan tahapan perkembangan dan belajar dari pola-pola yang salah dari pengalaman orang lain 

4. Apa yang harus dilakukan apabila ada perbedaan dalam visi misi bersama pasangan, atau visi misinya sama tetapi actionnya beda. Bagaimana membuat itu bersinergi? (bunda Dewi)

Jawab
1. Bicarakan semua yang berbeda di belakang anak, jangan didepan anak
2. Ajak suami ikut seminar workshop training konseling 
3. Tetapi semua dimulai dari perbaikan komunikasi 
4. Jangan menunggu pasangan berubah,  lakukan perubahan diri 
5. Doakan pasangan kita dengan tambahan ibadah nafilah (dhuha, wirid, ngaji, tahajud, layani pasangan sepenuh hati dll)  

Lalu bagaimanakah contoh program 3 bulanan? Yang penting kita harus punya rencana 3 bulan prinsip dan nilai hidup, wawasan, skill apa yang ingin diajarkan pada anak, baru setelah itu kita pikirkan strategi pembelajaran nya 

5. Terkadang bukan karena tidak belajar atau tidak punya ilmu tentang pendidikan dan pengasuhan anak, tapi bagi yang pembelajar saja ini selalu menjadi keluh kesah harian. Jujur, saya belum paham karena saya belum mngalaminya, sebenarnya apa yang salah dengan hal seperti ini? (bunda Tia)

Jawab
Islam itu the best 
Islam sudah sempurna 
Al Islam tertinggi 
itu aja bu, yg lainnya jadi makmum 

6. Bagaimana cara yang paling baik untuk mengajarkan anak untuk teguh pada syariat, misalnya pada anak perempuan, bagaimana agar membuat anak untuk teguh menggunakan hijab tanpa merasa terpaksa. karena anak kadang mungkin melihat temannya tidak berhijab akhirnya minta buka hijabnya. (bunda Nurul)

Jawab
Jangan sampai tahapan terlewatkan, dan harus ada teladan dulu, pendekatan bukan syariat belaka tapi tauhid lengkap dengan segala turunan nya. Intinya pola komunikasi yg positif.


7. Bagaimana dengan orang tua yang sudah buat perencanaan pengasuhan anak, tetapi karena kesibukan keduanya bekerja sehingga tidak terlaksana, sehingga yang mengasuh anak tersebut apa adanya? (bunda Nuha)

Jawab
istighfar dan taubatan nashuha, Uang bisa dicari tapi peluang sulit terulang lagi. 


Kesimpulannya adalah harus siap rendah hati untuk belajar lagi, karena adabnya adalah Ilmu dulu baru amal. 
"Karir boleh gagal, bisa diulang tapi parenting tidak boleh gagal"


Sumber : 
RESUME DISKUSI HSMN TANGERANG 2
Hari/tgl : Rabu, 2 Des 2015
Pkl : 20.00 s.d 22.00 wib
Pemateri : Abah Lilik
Tema : Islamic Parenting
Moderator : Noni Suprianti
Notulen : Nadia Fatma



Profil abah lilik Riza.  
Nama lengkap Fadli Riza, insya Allah ayah 6 anak. Fokus di mindset motivasi dan Jejakjiwa parenthood coaching, psikologi perkembangan islami, dalam dunia konseling sering menemui orang orang yang mengadakan permasalahan nya, baik dengan atasan, teman, sahabat, pasangan hidup, mertua, pendidikan anak. Yang ternyata semua itu tidak lepas dari pola pengasuhan yang pernah dialami client, sehingga abah membuat pola coaching yang berbasis  pada jejak jiwa seseorang.


Nov 27, 2015

Televisi, Haruskah Dihindari?

Televisi, Haruskah Dihindari?
Televisi, Haruskah Dihindari? via sandracelly.blogspot.com
Televisi, Haruskah Dihindari? Mari sama-sama kita simak artikel pemicu berikut ini.

Ah, televisi! Tua-muda, besar-kecil, lulusan SD hingga profesor sekalipun terlihat larut dalam emosi masing-masing sambil menatap layar benda elektronik itu. Begitulah, tanpa pandang bulu, televisi berhasil mengikat perhatian orang untuk terus menerus menyimak konten-kontennya yang bervariasi. Tak pelak, banyak yang akhirnya kecanduan menonton televisi tanpa memperhatikan dampak negatif tv pada anak.

Iklan. Sebagian orang, termasuk kami, mulai menggelisahkan kehadiran televisi dalam rumah. Selain resiko kecanduan, dengan menonton televisi, itu artinya kami harus bersedia melahap iklan-iklan komersil yang tanpa ampun menjejali mata dan otak. Iklan-iklan berkelas maupun asal-asalan, semua membawa pesan yang sama: Beli! Beli! Beli! yang tentu saja mendorong perilaku konsumtif. Bisa dikatakan, semua iklan juga mengaku sebagai produk terbaik dan berkualitas. Tetapi, coba cek di bagian belakang kemasan produk : Berapa persen bahan-bahan alami yang terkandung dalam sebuah produk yang mengklaim dirinya ‘alami’? Berapa persen bahan-bahan sehat yang terkandung dalam produk makanan / minuman yang mengaku bagus untuk kesehatan dan dapat meningkatkan kecerdasan? Tayangan macam inikah yang sebenarnya kita inginkan untuk keluarga, terutama anak-anak?

Program-Program Sajian. Dewasa ini, banyak orangtua yang mengeluhkan konten acara talkshow dan sinema berseri yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tanpa harus disebutkan, kami yakin pembaca punya kegelisahan sendiri tentang bagaimana kedua jenis acara yang sedang menguasai lebih dari 50% tayangan televisi itu menampilkan adegan minim nilai etika-moral, adegan yang memicu penontonnya untuk terjerumus ke dalam pergaulan bebas, dan cara berpikir pendek penuh angan-angan, sehingga mengabaikan realitas dunia nyata. Juga, berita-berita yang dipenuhi dengan berita negatif (politik kotor, korupsi, kriminalitas). Padahal, masih banyak hal positif yang bisa dijadikan perimbangan komposisi berita. Rasanya, orang semakin tenggelam dalam dunia persepsi bentukan media televisi.

Memilih ‘Makan Sendiri’ Daripada ‘Disuapi’. Banyak orang akhirnya berlangganan TV Kabel, sehingga mereka bisa memilih sendiri ‘menu-menu’ tontonan yang dianggap ‘sehat’. Menolak untuk terus-menerus ‘disuapi’ oleh pertelevisian lokal yang semakin tak jelas arahnya. Channel luar negeri, terutama, memang lebih minim iklan. Atau, seperti yang kami lakukan 3 tahun belakangan ini, sekalian meniadakan benda yang yang bernama televisi. No TV.

Tips Membentuk Kebiasaan ‘NO TV’ Bersama Anak
Bila kita memutuskan hendak menjalankan program NO TV dalam keluarga, tentulah amat berkaitan erat dengan pola asuh yang diterapkan pada anak. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara yang tepat supaya bisa membentuk kebiasaan ‘NO TV’ bersama anak dengan konflik seminimal mungkin. Bahkan kalau bisa, anak merasakan kegembiraan baru dengan tiadanya televisi. Dan, inilah yang kami lakukan untuk menerapkan kebiasaan baru tersebut :

1. Tidak menyediakan televisi di rumah
Jual atau berikan televisi pada orang lain begitu memutuskan program NO TV di rumah. Selama masih ada televisi di rumah, akan lebih berat mempertahankan konsistensi kebiasaan NO TV yang sedang dibentuk.

2. Terangkan alasannya
Edukasi tentang bahaya televisi dilakukan secara bertahap, dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Kami juga sering membacakan berita / artikel yang memuat efek buruk menonton televisi, dan berusaha menghubungkannya dengan keseharian anak. Misal: Coba perhatikan, kamu jadi lesu dan tidak punya ide kalau terlalu lama menonton tivi. Bandingkan kalau kamu bermain lari-larian? Terasa lebih ceria dan segar. Mana yang lebih enak?

3. Menambah intensitas kebersamaan keluarga
Ketika anak ‘tidak mendapatkan televisi’, pastikan ia ‘mendapatkan ayah dan ibunya’ lebih banyak daripada biasanya. Lakukanlah kegiatan yang menekankan kebersamaan keluarga, seperti olahraga pagi, mengobrol, bermain, membaca, piknik, dll. Hal ini yang bisa menambah kedekatan hubungan keluarga secara emosional. Kebutuhan emosional anak akan kelekatan pada orangtua tidak bisa digantikan oleh tontonan sebagus apapun, sebab inilah kebutuhan naturalnya, seperti kebutuhan makan dan minum. Meskipun anak terlihat anteng di depan televisi menonton program seberkualitas apapun, tidak akan dapat mengisi kebutuhan emosional ini.

4. Menyediakan buku-buku untuk dibaca anak
Kami tak segan-segan mengalokasikan dana untuk membeli buku-buku baru untuk anak, membuat semacam perpustakaan kecil di tempat biasanya televisi diletakkan. Jadi, setiap kali anak ingin menonton televisi, yang ia temukan adalah buku-buku itu. Lalu, kami juga menyiapkan kertas-kertas, spidol, mainan-mainan kesukaan anak, dll. sebagai alternatif kegiatan. Saat beraktifitas, kami biasa memutar musik kesukaan anak, sehingga suasana terasa menyenangkan dan hidup.

5. Mengakses Youtube
Kami menemukan bahwa Youtube adalah media yang cukup efektif sebagai sumber tontonan yang sangat minim iklan. Dengan syarat, dilakukan pendampingan hingga orangtua yakin anak bisa melakukan akses positif secara mandiri. Kami memberi waktu terbatas kurang lebih 2 jam per hari untuk kegiatan ini. Perlu diperhatikan, bahwa orangtua juga tidak boleh mengakses internet berlebihan (setidaknya di depan anak). Supaya tidak beralih menjadi kecanduan gadget/internet karena kekosongan ‘posisi’ tv.

6. Peraturan yang Lentur
Seperti batang-batang bambu yang mampu bertahan dalam terpaan angin kencang karena kelenturannya, begitulah kurang-lebih cara kami menerapkan peraturan di rumah.
Contoh kasus. Bila anak menonton televisi di rumah teman atau kakek nenek, maka kami biarkan, selama masih dalam batas wajar. Malahan, kami menggunakan momen ini untuk mengedukasi anak tentang tayangan televisi. Menanyakan apa pendapatnya tentang tontonan itu, membenturkannya dengan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga kami, menggali argumen-argumen, dan membiarkannya memutuskan apakah tontonan itu baik atau buruk. Cara ini diharapkan bisa membangun auto-sensor dalam diri anak, sehingga di masa depan, otomatis akan menyeleksi tontonan meski tanpa orangtua. Tetapi bila dirasa telah berlebihan, kami akan menawari anak alternatif kegiatan lain yang sama-sama menyenangkan, misalnya bermain bersama di luar rumah atau jalan-jalan.

7. Bimbing anak menemukan hobinya.
Terus gali minat anak, dengan tujuan menemukan apa yang sungguh-sungguh menjadi hobi. Bila anak sudah menemukan hobinya, ia tidak akan terpikir untuk nonton televisi lagi. Sebab waktunya sudah tercurahkan untuk melakoni hobinya seharian.

8. Teladan dan Inisiatif Orangtua
Program NO TV tidak akan bisa sukses dengan modal teriakan, hukuman, atau omelan. Teladan dan inisiatif orangtua memainkan peran yang sangat besar di sini. Isilah waktu luang dengan melakukan kreatifitas, menekuni hobi, membaca, atau hal-hal positif lain yang pantas untuk diteladani anak. Bangunlah komunikasi yang akrab dengan anak, dan tambah intensitas kebersamaan keluarga.

Televisi, Bukan Harga Mati. Sebelum memutuskan memberikan televisi pada orang lain, ada pertanyaan yang selalu menghantui kami: Bagaimana kami bisa hidup tanpa televisi? Apakah kami akan menjadi manusia bodoh, terbelakang, dan tidak bahagia? Namun kekhawatiran kami tidak terbukti. Mengakses informasi tidak melulu harus dari televisi. Banyak hal produktif yang bisa kami lakukan, karena tak ada lagi waktu nongkrong di depan televisi. Komunikasi kami terasa lebih akrab. Hari-hari terlewat dengan lebih bermakna. Pikiran dan perasaan kami terasa lebih segar.
Lambat laun, kami pun menemukan jawabannya: Ya, kami lebih bahagia hidup tanpa televisi. “No TV? No cry!”

Sumber : www.aprinesia.com/dampak-negatif-tv-pada-anak/

Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat
HSMN.Timtemadiskusi@gmail.com
Rabu, 25 Nopember 2015

Nov 25, 2015

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga via theawarnesscenter.com
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga: “Ibu, Sedikiiit Lagi Bersabar, Tahan Marahnya...”
Oleh Innu Virgiani, Psi.
لاَ تَغْضَبْ وِلَكَ الْجَنَّة"Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga" (H.R at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata bahwa "sabar merupakan kewajiban sebagaimana disepakati oleh ummat ini.” Maka orang yang berakal mesti meyakini, bahwa segalanya telah ditentukan, ada yang telah terjadi sehingga tidak bisa ditolak, juga ada yang belum terjadi, kala itu manusia sama sekali tidak ikut serta dalam menyusunnya, lalu jika terpaksa ia mendapatkan sesuatu yang menyakitkan, maka hendaklah ia bersiap siaga dengan dua tanduk yang berguna, yaitu Kesabaran dan Ridha (keikhlasan).

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Marah
Jika seseorang mulai tersulut emosinya untuk marah, hal yang harus dilakukan untuk menahan atau meredakan kemarahan adalah:

1. Diam, tidak berkata apa-apa
وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ
Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany).

2. Mengingat-ingat keutamaan yang sangat besar karena menahan amarah.

3. Mengucapkan ta’awwudz : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim. Nabi pernah melihat dua orang bertikai dan saling mencela, sehingga timbul kemarahan dari salah satunya. Kemudian Nabi menyatakan : Aku  sungguh tahu suatu kalimat yang bisa menghilangkan (perasaan marahnya) : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim (H.R al-Bukhari dan Muslim)

4. Merubah posisi : dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)

Dalam psikologi, Apa itu marah? Marah adalah rantai reaksi tubuh dan pikiran yang terjadi sangat cepat sebagai salah satu respon terhadap ancaman, gangguan, serangan, frustasi, rasa sakit atau ketidakadilan. Apa kunci untuk mengatasi rasa marah? Mengganti reaksi atau tingkah laku marah menjadi mekanisme coping (penyesuaian / mengatasi masalah) dan respon yang tepat, misalnya dengan melakukan manajemen marah.

Apa itu manajemen marah? Pengaturan rasa marah agar bisa disalurkan secara konstruktif (membangun sesuatu yang baik).

Salah satu konsep manajemen marah adalah RETHINK (Fetsch & Schultz & Wahler), yaitu Recognice, Emphatize, Think, Hear, Integrate, Keep Focus. Untuk mudahnya, dalam Bahasa Indonesia: K E Pik Dengar Libat Sadar Jaga

K = Kenali marahmu (sama siapa, karena apa, biasanya apa yang terjadi jika kita merasa marah, sebesar apa rasa marah kita saat itu)

E = Empati (bayangkan deh anak / orang lain yang bikin marah itu situasinya sedang bagaimana.  pasti tiap orang punya alasan, termasuk anak)

Pik = Pikir (pikir lagi dari situasi yang beda, misalnya, ubah sudut pandang masalah, bagaimana cara penyelesaian yang baik selain marah, bagaimana juga cara agar marah kita berkurang. Pikir, pikir, pikir..

Dengar = Dengarkan kata-kata orang lain atau anak, baik kata-kata verbalnya, maupun bahasa non verbalnya, tingkatkan kesadaran diri kita!

Libat = libatkan perasaan positif (rasa sayang kita, cinta kasih, hormat, dll)  kepada yang membuat kita marah dengan menyampaikan kesedihan / kecemasan / malu / capek yang kita rasakan karena sebenernya biasanya justru salah 1 dari 4 perasaan itu sumber masalahnya.

Dengan menggunakan perasaan positif, kita akan jauh lebih tenang ketika merasa marah, insya Allah. Misalnya, karena kita menyadari bahwa sebenarnya kita sayang sama anak tapi juga sedih anak kita pipis masih “sembarangan”, bilangnya "Mama sayang adek, tapi mama juga sedih adek pipis di lantai, mama merasa capek harus mengepel lantai lagi, sayang..” sambil mencium anak.

Sadar = Sadar diri, perasaan, mulut, anggota badan. Mengenali dan menyadari perubahan tubuh (fisiologis & psikologis) saat sedang marah agar dapat mengantisipasi agar tidak sampai ke tindak agresi.

Jaga = Jaga fokus. Masalah A ya masalah A, tidak usah dibawa-bawa yang lain, apalagi masa lalu. Misalnya, anak belum mandi. Intinya kan anak badannya kotor, tidak perlu bawa-bawa emang nih anak susah dibilangin, males ngerjain PR, boro-boro bantuin orang tua beres-beres, bangun siang, nonton tv mulu, tiaaap hari nyusahin orang tua aja, kemarin udah mecahin gelas, dll. Cukup fokus pada masalah anak belum mandi! ok!

Kalau anak menangis terus, merengek...  Aku MERASA marah
Kalau anak sulit dinasehati... Aku MERASA marah
Kalau rumah berantakan disini dan disana, anak-anak pun bertengkar selalu... Aku MERASA marah
Kalau anak berbohong... Aku MERASA marah
Ketika Aku merasa marah, ingiiiin sekali rasanya 'ngomong' yang kasar, berteriak atau memukul

Tapi MERASA marah itu beda lho ternyata dengan MELAKUKANNYA. MERASA “doang”, tidak sama dengan mengEKSPRESIKAN perilaku marah. Merasa, tidak akan menyakiti diriku, anak, atau membuat kita dalam masalah

Ketika ingin pengen berkata kasar, teriak, memukul anak, ada hal lain yang bisa kulakukan. Selalu mengingatkan diri dalam hati, “sabar, sebentaaar lagi marahnya.. sebentaar lagi.. dan terus menahan diri” (teruslah berlatih menjadikan ini sebagai pikiran otomatis). Lalu aku bisa menjauh dulu dari anak-anak sebentar, untuk menarik naafaaas paaaanjaaang. Atau mengambil wudhu, dzikir dan sholat. Atau sekedar berkaca di kamar mandi/ di kamar melihat ekspresi wajah kita
Atau malah langsung mencoba tersenyum, mengelus, membelai, mencium anak-anak “Menikmati” kebersamaan yang tidak akan terulang di hari berikutnya. Karena waktu tidak pernah kembali mundur, tiap detik, tidak akan pernah terulang di esok hari.
http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/03/manajemen-marah.html?m=1   

Tegas dan Marah adalah 2 hal yang berbeda. Sebagaimana cinta dan benci. Jangan ragu untuk tegas dalam mengingatkan anak dan mengajarkan disiplin. Konsisten dengan peraturan yang telah disepakati. Namun, jangan hanya Tegas, tapi juga menunjukkan kasih sayang secara jelas.

Sebagaimana istri yang tau kalau suaminya mencintainya tidak hanya dengan perbuatan dan kata kata. Kepada anak juga demikian. Bermudah-mudahlah dalam menyampaikan cinta, maaf, terimakasih, kasih sayang pada anak. Bukan bermudah-mudahan menghamburkan kemarahan. Karena anak kita, sungguh memang anak-anak yang akan terus tumbuh. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi ibu yang baik, aamiin..


Sumber :
Resume Kulwapp HSMN Bogor 2
22 Oktober 2015
Tema : Manajemen Marah
Narasumber : Innu Virgiani, S.Psi
Ibu Rumah Tangga yang pernah belajar di Fak Psikologi UI, 
dan mengambil spesialisasi Psikolog Klinis. 
Saat ini saya memiliki 1 orang Putri, dan berdomisili di Amerika Serikat,

Nov 24, 2015

Allah itu Hebat ya, Bunda!

Allah itu Hebat ya, Bunda!
Allah itu Hebat ya, Bunda! via warungsatekamu.org
Mengenalkan Allah kepada anak itu susah? Banget.. Sebagaimana telah kita bahas pada artikel Mengenalkan Allah pada Anak, saya yakin semua Bunda akan setuju bahwa menanamkan akidah adalah PR terberat bagi para orang tua. Terlebih di era yang serba bebas informasi seperti saat ini, apalah jadinya bila putra putri kita tak dibekali akidah yang kuat sejak dini.

Saya sepenuhnya sadar, bahwa menjelaskan konsep KeTuhanan kepada anak sangatlah sulit. Apalagi saat yang kita jelaskan bersifat sangat abstrak, namun tentunya kita tidak boleh merasa letih untuk terus mengulang dan mengulang kembali agar benar-benar terpatri dalam jiwa mereka. Jangankan anak-anak, saya yang kini telah menjadi seorang ibu pun mungkin baru belakangan ini sedikit dipahamkan tentang iman, iman yang tak hanya sekedar ketundukan.

Dalam artikel Allah itu Hebat ya, Bunda! ini saya hanya sekedar sharing pengalaman tentang pengenalan Allah pada kedua putra kami yang kini berusia 7 dan 4 tahun.

Sebagaimana para Bunda yang lain, saya juga mengenalkan Allah melalui ibadah sebagai bentuk rasa syukur, apa saja perbuatan yang menjadikan Allah sayang kepada kita, sebaliknya hal apa saja yang membuat Allah murka. (Baca : Mengenalkan Allah pada Anak

Bertawakkal atau mengembalikan segala sesuatu kepada Allah adalah salah satu kuncinya. Bukankah tak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa ijin Allah? Bukankah tak ada kesia-siaan dari segala yang diciptakan Allah? 

Misalnya, saat si Sulung tiba-tiba sakit perut. Kalau dulu, saya yang merasa sebagai orang yang paham tentang obat, ditunjang dengan kotak obat saya yang udah kaya toko obat berjalan, otomatis akan bersegara memberikan obat sakit perut pada si Sulung, dengan harapan segera berkurang rasa sakitnya.

Sekarang? Karena kami sedang belajar menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, setiap si Sulung (Abang) sakit perut, saya memijatnya menggunakan lotion sambil mengajaknya mengingat-ingat, "Kira-kira kenapa ya sampai Abang diperingatkan oleh Allah lewat sakit perut?" Apakah bermain terlalu lama sampai terlambat sholat? Ooh, mungkin karena tadi sempat berkata agak keras sama Bunda? Atau Abang tidak menghiraukan saat diingatkan harus istirahat. Bukankah tidak ada hal yang sia-sia? Maka sakit pun pasti ada ijin dari Allah. Bila sudah ditemukan bagian-bagian mana yang 'salah', kami mohonkan ampun bersama-sama. Alih-alih mengaduh karena kesakitan, saya ajak mereka ber-istighfar. Sang adik pun ikut berdoa "Ya Syifaa'.. Sembuhkanlah Abang Ya Allah.." 

Tentunya semua itu harus dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hingga kini, saat siapapun merasa kesakitan, jatuh tersandung, batuk pilek, kami akan terlebih dahulu mencari 'pesan' apa yang ingin Allah sampaikan, memohon ampun (terutama saya sebagai ibu mereka) dan beristighfar bersama-sama. Terkadang kami sampai tertidur, dan begitu bangun ternyata Allah telah menyembuhkan. Lain waktu sakitnya masih terasa, sehingga kami harus lebih 'teliti' bagian keburukan mana yang sedang dipersoalkan

Lantas apakah masih butuh obat? Tergantung, kalau batuk pilek saya yakin Bunda juga setuju untuk tidak terburu-buru memberikan obat. Namun ada kalanya saat sakit gigi & segera perlu penanganan maka kita tetap berobat, dengan terlebih dahulu 'mencari kesalahan' dan mohon ampun bersama-sama. Dari situlah saya juga belajar untuk tidak sombong karena merasa sebagai 'ahli obat', belajar untuk menuju Allah terlebih dahulu karena dinyatakan dalam Al-Qur'an QS. Asy-Syu'ara : 80 "Dan jika aku sakit, maka Allah lah yang menyembuhkan", belajar pula untuk tidak panik karena yakin dalam setiap kejadian ada pelajaran Allah yang ingin disampaikan. Agar secara otomatis anak-anak ikut belajar selalu membawa Allah dalam kondisi apapun.

Sampai suatu hari saya merasa Allah begitu sayang kepada kami, begitu sayangnya hingga Allah berkenan membuka pintu hati kedua putra kami melalui tanda kebesaranNYA. Suatu malam saat suami sedang dinas keluar kota, selepas sholat isya, saya dan anak-anak keluar rumah menggunakan motor berniat untuk membeli lauk. Begitu keluar dari rumah makan, angin bertiup sangat kencang diiringi bunyi guntur bersahutan dan gerimis sudah mulai turun. Saat itu di kendaraan hanya ada 2 jas hujan untuk kami bertiga. Pastinya bila hujan semakin deras akan ada yang basah kuyup, anak-anak pun akan kedinginan. Maka sepanjang jalan menuju ke rumah saya mengajak kedua putra kami mengucap tasbih "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaa ha illAllah...dst.." dan berdoa bersama memohon ketundukan, "Ya Allah, tundukkanlah angin, petir dan hujan yang sedang Allah turunkan.. Jika bukan Allah yang menundukkan maka kami tidak akan mampu menguasainya.. Lindungilah kami Ya Allah agar selamat hingga ke rumah". Benar-benar tak ada sedetik pun terlewat tanpa doa kami bertiga sepanjang jalan saat gerimis mulai turun.

Ketika hampir sampai, saya berpesan pada si Sulung, "Abang, nanti sampai rumah langsung turun minta tolong dibukain pagar ya, biar motornya bisa cepat masuk teras sebelum hujan deras..". Setelah Abang berlari membuka pagar, saya pun segera memasukkan motor kedalam teras. Dan sedetik kemudian, BYURRRRRRR... Hujan turun dengan derasnya bagai ditumpahkan dari langit. Kami bertiga pun serentak berucap "Alhamdulillah... Subhanallah, Maha Suci Allah". Allah menurunkan hujan TEPAT setelah kendaraan kami masuk ke teras, bahkan pintu rumah pun belum sempat kami buka.

Setelah kejadian itu, Abang berkomentar "Allah itu Hebat ya, Bund! Ternyata Allah benar-benar bisa mendengar kalau kita berdoa" dengan masih terheran-heran dengan bukti kebesaran Allah. Sejak itu rasanya Allah memudahkan tugas saya, karena si Sulung kini merasa yakin bahwa meski Allah tak kasat mata, ternyata Allah itu amatlah dekat dan mengabulkan doa-doa hambaNYA. 

"Dan bila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, Maka sungguh AKU dekat. AKU mengabulkan permohonan orang yang mendoa, bila ia berdoa kepadaKU.."
QS Al-Baqarah : 186

Maha Benar Allah dengan segala firmanNYA.

Nov 10, 2015

Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?

Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?
Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?
APA YANG HARUS DITANAMKAN ORANG TUA PADA ANAK?
Bila Bunda memiliki putra putri yang mulai bersekolah, sejatinya kita sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk menanamkan tiga hal berikut pada mereka :

1. Trust to The Teacher / Percaya pada Guru
Karena kita telah memberi kepercayaan pada guru untuk mendidik anak kita di sekolah, maka bagaimana mungkin mereka akan belajar jika tanpa rasa percaya?

Titik kritis pada point ini adalah bahwa kita sebagai orang tua tidak boleh protes / menunjukkan ketidaksetujuan / complain kepada guru di depan anak. Sebagaimana Ayah dan Bunda TIDAK BOLEH bertengkar di hadapan anak, maka jangan pula kita runtuhkan kepercayaan mereka terhadap guru.

2. Memuliakan Guru
Sebagaimana telah kita bahas pada artikel 'RESPECT' (dapat dibaca di http://parentingid.blogspot.co.id/2015/10/respect.html), bahwa memuliakan guru sebagai ahlul ilmu adalah kunci dari keberkahan ilmu yang akan diperoleh. 

Ingat berapa banyak pelajaran yang pernah kita peroleh selama di bangku sekolah? Dan berapa banyak yang masih kita ingat, bahkan terapkan hingga kini? Mungkin kita juga harus merenung, jangan-jangan karena kita dulu terlalu menyepelekan guru yang menyampaikan mata pelajaran tersebut :(

3. Ikatan Batin Guru dan Murid
Sejatinya peran guru sama dengan orang tua dalam hal mendidik putra putrinya. Maka mari kita mulai dengan mengajak anak-anak berdoa dikala sang guru sakit, belajar sungguh-sungguh sehingga sang guru bangga dan jangan melakukan hal-hal buruk hingga membuat guru merasa ilmu yang diberikannya sia-sia.

Bagaimanapun guru dan murid selalu punya ikatan, bagaimana perasaan kita saat bertemu kembali dengan guru-guru SD? SMP? SMA? Adakah mereka akan bangga dengan diri kita saat ini?

Semoga artikel Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak? bermanfaat, dan anak-anak kita menjadi murid yang lebih baik dari kita dimasa lalu, lebih memuliakan guru, agar keberkahan selalu ada dalam setiap ilmu yang mereka pelajari.

Salam Hangat,

Oct 29, 2015

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan ini ide awalnya adalah dari rasa ingin tahu si Sulung saat melihat berita kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh tabrakan antara pesawat dengan awan cumulonimbus yang memang menjadi momok dalam dunia penerbangan. 

Dari situ, saya berinisiatif membuat tema awan menjadi bahasan tematik selama seminggu dengan pembagian :

  • Hari pertama : Menonton video tentang berbagai macam awan, jenis-jenis awan, bagaimana awan terbentuk, berbagai kejadian yang dipengaruhi awan (hujan, kecelakaan pesawat, badai), yang kesemuanya bisa kita download terlebih dahulu dari youtube
  • Hari kedua : Menjelaskan tentang awan adalah ciptaan Allah, ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dan bagaimana kita harus bersyukur 
  • Hari ketiga : Prakarya membuat berbagai jenis awan dari kapas 
  • Hari keempat : Belajar Bahasa Inggris dengan tema Awan dan Benda-benda di langit 
  • Hari kelima : Praktek membedakan jenis-jenis awan dengan memandang langit sambil berhitung
Overall selama seminggu ini sukses kami terapkan dan membuat anak-anak semangat, nggak keinget sama tv (noted : di usia anak-anak biasanya mencari tv atau gadget karena bosan). Negatifnya si Abang jadi pikir-pikir lagi apakah masih mau jadi pilot karena takut dengan awan cumulonimbus. Hehe...

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Dalam kegiatan Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan ini saya sekedar sharing tentang membuat berbagai jenis awan dari kapas, dimana anak sudah diberi penjelasan sebelumnya tentang jenis-jenis awan, ketinggian awan dsb.

Alat dan Bahan :
  1. Kapas
  2. Double Tip
  3. Gunting
  4. Kertas untuk menempel
Cara Pembuatan :
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
  1. Tutup kertas dengan double tip secara horizontal
  2. Buka double tip
  3. Bentuk dan sobek kapas sesuai bentuk awan yang akan dibuat (Awan Cumulus = digumpal-gumpal; Stratus = panjang dan rata bersaf-saf; Cirrus = tipis seperti serat kapas). Jika anak sudah paham dan bisa membuat awan dasar, bisa ditugaskan untuk membuat awan gabungan seperti stratocumulus, cirrocumulus dll.
  4. Pajang di tempat yang mudah terlihat oleh anak agar semakin paham dan dapat dilakukan review tentang tema tersebut sewaktu-waktu. 
Walau terlihat sepele, memajang hasil karya anak sangat besar manfaatnya, selain sebagai bentuk apresiasi dan meningkatkan semangat, dengan terus menerus melihat hal yang sama, anak akan secara tidak sadar belajar dan mereview kembali apa yang telah ia pelajari. Sehingga kita tidak perlu lagi harus meminta anak untuk 'menghafal' tentang awan, hujan dll. Karena dengan melihat satu karya, anak langsung dapat menjabarkan sesuai dengan apa yang pernah mereka praktekkan (tentunya review dari orang tua tetap diperlukan untuk mengetahui sampai tahap mana pemahaman anak).

So, selamat belajar Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan bersama ananda ya, Bunda!
Salam Hangat.


Oct 26, 2015

Respect

Respect
Respect
Bukan Pengetahuan yang paling mendesak untuk kita tanamkan pada anak-anak kita, melainkan RESPECT.

Respect is better than obedience
Respek itu lebih dari sekedar ketaatan
Respect = Ta'dzim = Memuliakan

Padahal adab utama dari menuntut ilmu adalah respect. Respect terhadap apa? Terhadap ILMU dan AHLUL ILMU. Oleh karenanya, meski sekarang sekolah dengan basic agama menjamur dimana-mana dengan masing-masing keunggulan yang ditawarkannya, namun sangatlah susah menemukan sebuah sekolah atau lembaga pendidikan dimana anak-anak didiknya begitu MEMULIAKAN sang Guru sebagai AHLUL ILMU.

Di jaman yang katanya demokratis ini, murid mendebat guru adalah hal yang lazim, bahkan membantah argumen guru dalam diskusi publik pun dianggap biasa. Anak-anak ditanamkan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin tanpa didasari kecintaan pada ilmu dan para pemilik ilmu (guru, ustadz, pakar). 

Lalu apa yang terjadi? Para guru dan dosen berlomba-lomba memberikan teknik mengajar yang menarik, tidak membosankan, diselingi ini itu agar anak didiknya tertarik mempelajari materi yang akan disampaikan. Bukan berarti hal ini salah, namun jika tanpa didasari kecintaan akan ilmu (rasa ingin tahu atas ilmu tersebut) pada diri sang murid, anak akan mulai malas mengikuti pelajaran dengan alasan guru yang membosankan, materi nggak asyik, dsb.

Mari kita bandingkan dengan para pendahulu kita, ulama-ulama besar, salafussalih, mereka mendatangi guru-guru dengan penuh ta'dzim, bersabar mendengarkan penjelasan meski pada saat itu ilmu disampaikan dengan nada yang datar, tanpa banyak gerakan tubuh, pandangan tertunduk, tanpa improvisasi apapun. Tetapi para murid sangat segan terhadap gurunya, memuliakan sang guru, tetap bersabar meski guru berkata dengan terbata-bata saat usia mulai udzur, bahkan dengan suka rela menunggu sang guru kembali dari perjalanan maupun saat melakukan ibadah lain, serta patuh untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan sang guru meski tanpa diberi tahu maksudnya terlebih dahulu (bayangkan kalau anak-anak sekarang pasti sudah protes duluan). Semua itu dilakukan karena mereka memiliki RESPECT, rasa cinta dan memuliakan ilmu serta para ahlul ilmu, yakin bahwa apa saja yang disampaikan atau diperintahkan oleh sang guru pastilah akan bermanfaat bagi mereka

Sehingga bisa kita lihat bangsa yang paling memuliakan ilmu dan para ahlul ilmu, adalah bangsa-bangsa Arab dan China, begitu hormatnya mereka terhadap para guru (ingat-ingat saja bagaimana hubungan guru dan murid dalam film kung fu, bagaimana mereka belajar kung fu).

Dan, guru yang paling tinggi kecintaannya terhadap ilmu adalah guru yang bisa mengatakan "AKU TIDAK TAHU" atas apa-apa yang tidak dikuasainya. Karena bentuk respect terhadap ilmu adalah hanya mengatakan apa yang jelas dasarnya, serta tidak pernah menduga-duga.

Jangan lupa, bahwa kita sebagai orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak kita. 
Salam Hangat,

Oct 21, 2015

Hidup untuk Apa?

Hidup untuk Apa?
Hidup untuk Apa?
Pertanyaan "Hidup untuk Apa, sih?" tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Sayangnya, pertanyaan tersebut sering kali BARU muncul di saat seseorang sedang berada di titik terbawahnya. Entah sedang sakit, sedih, atau sedang mengalami musibah dalam bentuk apapun. Ya, ironisnya kita baru mengingat tujuan hidup dan Yang Maha Memberi Hidup 'hanya' saat kita sedang membutuhkan pertolongan.

Jujur saja, saya sendiri benar-benar memikirkan pertanyaan "Hidup untuk Apa?" baru saat di bangku kuliah. Sebelumnya? Ya.. saya hanya tahu dari para guru bahwa hidup kita adalah untuk mencari ridho Allah. Saat itu rasanya kata-kata tersebut menjadi semacam jawaban baku bagi pertanyaan tentang tujuan hidup, dan saya hanya bisa berpikir, "Ridho Allah itu yang seperti apa?" bagaikan hal abstrak dan susah dimengerti. Sungguh, bahkan saat di usia kuliah yang notabene menuju dewasa, bagi saya 'Ridho Allah' itu seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.

"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam"

Di akhir masa kuliah, tepatnya setelah ujian skripsi dan menanti waktu wisuda, saya memasuki babak baru bernama pernikahan. Sebagai orang yang masih meraba-raba tentang tujuan hidup, saya merasa hidup itu bak roller coaster. Hari ini bahagia, esok datang kesedihan. Pagi menyambut matahari dengan senyum, siang masalah merundung. Bahkan tak jarang saya menghitung waktu, berapa lama saya bisa tenang tanpa masalah sebelum datang masalah berikutnya.

Dari situ saya mulai 'seolah' mendapat jawaban, oooh ternyata dalam hidup yang dicari orang itu adalah KETENANGAN. Sehebat apapun kita, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sesukses apapun dalam karier, secantik / setampan apapun pasangan, semua orang pada dasarnya ingin hidup tenang. Maka sejak saat itu saya selalu memohon kepada Allah agar diberi ketenangan batin dalam setiap doa yang terpanjatkan.

Tidak berhenti sampai di situ, menginginkan ketenangan itu ternyata ada caranya, bukan doa semata. Pantaslah meski selalu berharap ketenangan, saya masih saja kemrungsung, panik bahkan kadang terpancing emosi (yang tentunya berasal dari bisikan syaitan) saat didatangkan masalah. Baru sekitar dua tahun terakhir ini dalam sebuah majelis ilmu, saya mendapat pelajaran luar biasa bahwa hidup adalah pergiliran antara hisab dan qisas

Hisab adalah hal yang kita alami langsung, sebagai penghapusan dosa yang pernah kita lakukan di masa lampau. Misalnya, sakit adalah hisab atas dosa tertentu kita. Flu biasanya terkait dengan kita yang suka menunda sholat, Batuk biasanya sedang ada pertentangan atau ganjalan di hati, dsb. Ingat cara penyembuhan sebagaimana Ustadz Danu? Ya, kurang lebih begitulah hisab. Hal yang langsung kita rasakan. Tidak hanya berupa sakit, bisa juga ditipu orang, kehilangan, dll. Setiap menerima sesuatu yang buruk atau tidak saya sukai (termasuk sakit, bencana, masalah), saya usahakan segera kembali kepada Allah. Menyatakan bahwa saya terima hisab ini sebagai peringatan dari Allah atas dosa saya, dan mohon Allah tunjukkan dosa mana yang sedang dipermasalahkan melalui ayat-ayat Al-Qur'an. Jadi sudah tidak ada lagi kesedihan berlebihan, protes kepada Allah kenapa saya begini? Kenapa bisa begitu? Kenapa harus saya? Karena kita percaya itulah hisab kita. Saat kita bisa menerimanya dengan lapang sambil terus memohon ampun, yakinlah Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita.

Sedangkan qisas adalah peringatan atas dosa kita di masa lampau yang tersampaikan melalui orang lain. Kalau di AlQur'an disebutkan tentang hukum qisas, mata dibalas mata, mulut dibalas mulut. Begitulah qisas, atau orang jawa sering mengatakan 'karma'. Contoh kecilnya, saya sering kali tanpa sadar bicara 'nylekit' atau ketus sebagai bentuk ketidaksukaan saya terhadap sesuatu. Maka jika suatu hari ada orang yang tiba-tiba berbicara ketus kepada saya, yang bisa saya lakukan hanyalah "Astaghfirullahal 'adziiim, pasti banyak juga orang yang pernah sakit hati atas perkataan saya, makanya hari ini saya ditunjukkan gambaran diri saya." Dengan begitu kita lebih lapang menerima hal baik atau buruk yang terjadi, tak ada lagi asal menilai orang (walau pada prakteknya saya masih sering berprasangka karena menuruti hawa nafsu), karena semua itu sebenarnya adalah peringatan dan pelajaran bagi saya. Meski hati saya terkadang masih saja mudah 'tidak suka' atas sikap sesorang, namun saya benar-benar berusaha mengembalikan semua yang saya alami kepada Allah, apa yang terjadi kepada saya pasti ada ijin dari Allah. Inna lillah wa inna ilaihi roji'un... Tinggal bagaimana saya menyikapinya, apakah saya termasuk orang-orang yang mau berpikir dan mengambil pelajaran? Atau justru mencari hal lain untuk bisa dipersalahkan.

Dengan cara selalu mengambil Hisab dan Qisas itu perlahan saya mulai merubah cara pikir saya untuk tidak selalu marah pada keadaan, marah pada manusia maupun marah pada ketetapan Allah. Dengan kata lain, melalui Hisab dan Qisas inilah sebenarnya Islam telah mengajarkan pada kita umatnya untuk berpikiran positif. Bahkan dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa Peringatan adalah suatu hal yang bermanfaat, jika kamu mengerti.

Saya juga seakan-akan bisa memahami, pantas saja manusia semulia Rasulullah SAW sudah tidak memiliki rasa benci maupun marah meski dilempari kotoran oleh orang-orang kafir, serta menjadi pribadi yang begitu pemaaf. Maha Suci Allah, Tuhan Langit, Tuhan Bumi, Tuhan Semesta Alam.

Dan baru di tahun ini pula saya dipahamkan, bahwa saat Allah telah meridhoi hidup kita, artinya apa yang kita lakukan sejalan dengan tuntunan Allah. Apa yang kita harapkan dikabulkan oleh Allah, keinginan kita di'iya'kan oleh Allah. Siapa yang tidak mau? Pasti semua orang menginginkan hidup yang diridhoi Allah, namun tentunya tidak semudah itu untuk mencapainya. 

Akhirnya kepala saya seolah baru bisa menerima penjelasan bahwa Kehidupan yang diridhoi Allah lah yang kita cari. Dengan 'berhijrah' mengubah pola pikir kita, cara memandang masalah dan penyelesaiannya, sikap kita dalam kehidupan sehari-hari, mencintai segala sesuatu tidak melebihi cinta kita pada Allah (yang ini perlu di bold buat saya). 

Jadi, Hidup untuk Apa? untuk mencari keridhoan Allah, dengan selalu mengambil hisab dan qisas sebagai pelajaran dan peringatan setiap harinya, mengembalikan segala permasalahan kepada Allah, karena tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Perkasa. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billahil 'Aliyyil "Adziim...

Sebuah perenungan teruntuk diri saya sendiri