May 23, 2015

Rasakanlah, Belajarlah

Rasakanlah, Belajarlah
Rasakanlah, Belajarlah..
Saat merasa sakit, kita jadi lebih menghargai kesehatan.
Saat merasakan gagal, kita jadi lebih menghargai kesuksesan.
Saat merasakan kesendirian, kita jadi lebih menghargai kebersamaan.


Rasakanlah, Belajarlah..
Adalah pelajaran hidup pertama yang mengena di benak saya. Saat kecil saya termasuk anak yang suka membebani diri sendiri. Ditambah dengan adanya sistem rangking dalam pendidikan kita, membuat beban tersendiri untuk bisa selalu menjadi nomor satu, peringkat satu. Sepertinya beban itu saya ciptakan sendiri, karena kedua orang tua saya bahkan tak sekalipun pernah berkata bahwa saya harus mendapat peringkat pertama.


Lalu apa yang terjadi? Setiap akan menghadapi ujian, saya selalu sakit sejak dua minggu sebelumnya. Saya bisa menangis saat belum memahami pelajaran atau konsep tertentu. Mungkin lebih kepada menyalahkan diri sendiri. Terlebih dengan sistem mengajar kedua orang tua yang "ketat" selama masa ujian, membuat saya secara tidak sadar terbebani dengan ujian dan segala ketegangannya. Saya katakan tidak sadar, karena anak usia lima tahun tentu belum mengerti dengan kosa kata 'beban'.

Hal itu berlangsung dari tahun ké tahun semenjak saya menerima rapor yang disertai kata "rangking". Sampai ketika duduk di kelas lima Sekolah Dasar saya mulai berpikir. Haruskah saya selalu mendapat rangking satu? Siapa yang menyuruh? Apa jadinya kalau peringkat saya turun? Seperti apa kira-kira rasanya? Apakah ibú atau Bäpåk akan marah? Segala pertanyaan itu berulang kali terngiang di benak saya.

Dan entah disengaja atau tidak, pembagian rapor kelas lima catur wulan ketiga menjadi titik balik bagi saya. Karena ternyata saya mendapat rangking lima!! Saya, yang dari taman kanak-kanak mewajibkan diri untuk selalu menjadi rangking satu, mendadak merosot jauh ké rangking lima! Saya masih ingat raut wajah kecewa dari wali kelas saya, teman-teman yang membicarakan saya di belakang, sampai para orang tua yang ikut berbisik-bisik.

Ingin tau bagaimana rasanya berada di peringkat lima bagi saya saat itu? Sungguh melegakan!!! Seperti bisa menghirup udara dengan lebih bebas, seperti melepas sesuatu yang selalu menggelayut di punggung saya, seperti merasa menjadi manusia normal, seperti.... Ahhhh, ternyata saya bisa juga dapat peringkat lima! Dan itu tidak apa-apa, bukan dosa, bukan suatu kebodohan, orang tua bahkan masih memuji saya, tak ada kekecewaan dari bapak ibu yang telah saya nantikan dengan penuh rasa penasaran, dunia tidak runtuh, hati saya tidak hancur, tidak ada yang salah dengan merasakan kegagalan.

Sejak saat itu saya tak lagi merasa wajib meraih rangking satu, orang tua saya masih tetap menyayangi saya, bahkan dengan begitu baiknya mereka "memberi kepercayaan" kepada saya untuk dapat belajar sendiri bahkan di saat-saat ujian sekalipun, sehingga saya tak lagi takut dengan ketegangan dan aturan belajar yang ketat di musim ujian. Dan yang lebih keren lagi, tak ada lagi sakit musiman menjelang ujian! Senangnyaaa...

Di kelas enam, saya mulai merasakan rangking dua di catur wulan pertama, rangking satu (lagi) di catur wulan kedua dan rangking tiga saat EbtäÑås. And everything is fine, naik turun tetaplah hasil usaha saya sendiri. Saya pun menjadi lebih mandiri dan bangga pada kemampuan sendiri dengan belajar dari kegagalan yang pernah saya rasakan. Saya juga tak lagi peduli dengan orang yang berkata "Kok, kalah dengan si A, si B, dst". Saya merasa menjadi anak kecil yang lebih kuat.

Jadi, kegagalan tak selamanya adalah hal buruk atau tanda kiamat. Cukup Rasakanlah, Belajarlah.. ^_^



May 18, 2015

Pengenalan Enterpreneurship pada Anak

Pengenalan Enterpreneurship pada Anak
Semangat Senin!! Kali ini saya akan sharing seputar Pengenalan Enterpreneurship pada Anak. Semua orang tua tentunya menginginkan kesuksesan anak-anaknya kelak. Bagi saya, sukses yang utama adalah berupa akhlaq atau perilaku yang tercermin pada putra putri kita. Selain itu, kemandirian (moral dan finansial), cara berpikir (yang selalu membawa peran Tuhan dalam kehidupan), serta ilmu pengetahuan (wawasan) merupakan hal yang tak kalah penting untuk dijadikan sebagai tolok ukur.

Untuk menanamkan kemandirian finansial, salah satunya adalah dengan Pengenalan Enterpreneurship pada Anak. Saya sendiri mulai memperkenalkan anak tentang uang sejak usia lima tahun, minimal anak mengerti konsep uang sebagai alat tukar. Selanjutnya memahamkan bahwa uang diperoleh dengan usaha, termasuk ada sekian persen yang harus selalu dikeluarkan sebagai sedekah untuk membersihkan harta yang kita miliki dan agar menjadikannya berkah. 

Saat ini putra sulung kami berusia tujuh tahun, ia sedang senang-senangnya bekerja, menabung, membeli keperluan sendiri dan menjual barang-barang atau mainannya yang masih bagus namun sudah tak terpakai. Tentu semua itu tidak terjadi dengan sendirinya, namun dimulai dengan menanamkan bahwa sekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan. Jadi kalau saya tanya tentang cita-cita, dia akan menjawab mau jadi pengusaha ini, pengusaha itu, pemilik ini, pemilik itu. Ya, bermimpilah yang besar dan cari cara untuk mewujudkannya, mulai dari sekarang!

Berikut saya sertakan hasil diskusi HSMN Semarang tentang Pengenalan Enterpreneurship pada Anak, semoga bisa menjadi inspirasi bagi Mommies semua.

SELAYANG PANDANG
Alhamdulillah, hari ini materi kita adalah mendidik bisnis pada anak. Latar belakang materi ini adalah kisah hidup Rasulullah SAW sendiri. Beliau telah aktif berusaha dan memenuhi kebutuhannya sejak usia 7 th. Islam mengajarkan bahwa pada usia baligh setiap muslim harus mulai mampu bertanggung jawab dan menanggung beban kewajiban sebagai seorang muslim. Agar saat memasuki usia baligh mereka telah siap, upaya pendidikan, pembinaan dan pembiasaan perlu dilakukan jauh sebelum anak memasuki usia baligh

Concern kita dalam mengajarkan bisnis pada anak adalah melatih anak mandiri, bertanggung jawab, tidak suka meminta-minta dan memiliki keinginan untuk memelihara dan mengembangkan aset yang dimiliki. Sebagai orang tua, kita perlu memberi pemahaman pada anak-anak bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Bahwa hasil keringat dan usaha sendiri lebih utama dari meminta-minta. Kita ajarkan pada mereka untuk merasa malu kalau harus meminta, termasuk pada orang tuanya. Orang tua wajib memenuhi kebutuhan mereka, bukan keinginan mereka. Kalau hal yang mereka butuhkan, kita harus memberikannya. Tapi kalau keinginan, tidak harus. Bagaimanapun keinginan kan pasti ada. Nah, untuk memenuhi keinginan mereka, kita ajarkan mereka untuk berusaha, mencari penghasilan. Sehingga mereka punya uang sendiri dan tidak perlu meminta pada orang tuanya. Bentuk usahanya bisa macam-macam, tergantung situasi dan kondisi. Bisa dengan berjualan barang atau jasa, memanfaatkan keahlian/bakat/minat masing-masing anak.

SESI TANYA JAWAB 

1. Bu novita, mommy dari 4 orang putra dan putri.
Bagaimana pertama kali mengenalkan potensi bisnis kepada anak? Dan mulai usia brp bisa diperkenalkan bisnis pd anak?

jawaban:
Awalnya dengan membiasakan anak untuk tidak meminta sesuatu yang bukan haknya. Lalu kita pahamkan bahwa untuk memenuhi keinginan mereka bisa melalui usaha sendiri. Sejak balita juga sudah bisa diperkenalkan dengan konsep uang, jual beli, dll.


2. Bu Meydiana
Assalamualaikum Teh Patra, kalau bermain jual-jualan sepertinya semua anak suka ya Teh, kayak kita waktu kecil.*eh..anak sekarang mah mainnya game gadget. Bagaimana mengenalkan Bisnis pada anak jika orangtuanya saja tidak berbakat bisnis? Mohon penjelasannya Teh, jazakillah.

jawaban:
Kayaknya bisnis ini bukan bakat-bakatan yaa, hehehe. Bisnis disini tidak selalu berarti jualan. Yang penting anak mengerti bahwa untuk memperoleh sesuatu itu memerlukan usaha. Kalau orang dewasa kan bisa bekerja. Kalau anak ya belum bisa. Jadi kita bisa kenalkan mereka dengan berbagai cara mendapatkan penghasilan. Menjual barang itu salah satunya. Selain itu mereka juga bisa menjual jasa. Jadi mereka melakukan sesuatu dan mendapatkan upah. Misalnya ada seorang anak yang jago gambar, ternyata  teman-temannya suka dan ingin membelinya. Begitu juga bisa. Sebetulnya berpenghasilan itu kan ajaran Islam, jadi setiap orang sedapat mungkin bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghasilan.

bu rossalia 
Kalo boleh ikut tanya teh, jadi kalau ada yang memberlakukan pola asuh manja, misal makan masih di suapi, diatur jadwalnya, semua serba dilayani itu gimana teh? *secara jaman sekarang banyak orang tua yang berpandangan begitu, mereka berprinsip anak tidak boleh "rekoso"

jawaban:
Tergantung kita ingin anak kita mandiri atau nggak, hehehe. Kan kalau mau panen kita perlu menanam, memelihara, memberi pupuk. Kita ingin punya anak mandiri ya kita latih mereka mandiri sejak kecil.

bu meydiana
Jadi mereka melakukan sesuatu dan mendapatkan upah.➡ upah..tidak harus dl bentuk uang ya Teh?

jawaban:
Iya mbak Mey, ga selalu uang. Jadi kalau mereka minta makan, itu ga perlu melakukan sesuatu dulu, karena itu hak mereka sebagai anak dalam tanggungan. Tapi kalau mereka minta makan ekstra, seperti eskrim, coklat, dll itu harus dengan usaha dulu. *kecuali kalau lagi ngejar berat badan yaa..


3. Bu Aan
Bagaimana cara menyeimbangkan bisnis (menghitung laba) dengan keikhlasan untuk sedekah, berbagi. Kadang, kalau jualan pelitnya muncul. Juga sebaliknya, kadang anak 'asal' bagi-bagi aja kalau lagi malas jualan. Terima kasih (Aan, ibu dua putra, 15 & 8 tahun)

jawaban:
Dalam Islam, mendapat laba dan sedekah itu seperti dua sisi mata uang. Dalam Islam, ilmu ekonomi itu terkait dengan produksi, konsumsi dan distribusi. Semua ada aturan dan adabnya. Untuk anak usia SD, kita sudah bisa mengenalkan hal yang abstrak seperti surga, neraka, cinta Allah, cinta Rasul, simpati, dan empati. Justru salah satu yang kita jadikan motivasi untuk berbisnis itu adalah agar dapat bersedekah sebanyak-banyaknya. Al Qur'an mengajarkan Bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling banyak bermanfaat. Juga mengajarkan keutamaan orang yang berinfaq fii sabilillah.. Dengan memiliki laba yang banyak, kesempatan masuk surga pun semakin luas.

Bu Aan:
Terima kasih, Teh. Untuk anak yang kadang 'asal' bagi-bagi gimana, ya? Kadang, niat belanjain anak agar dijual, gak tahunya malah dibagiin aja. Pernah saya beli bahan loom bands, katanya mau jual gelang. Gak tahunya undang temen-temen bikin bareng dan gratis. Saya gak masalah. Tapi ada efek nanti jadi 'kurang perhitungan' gak ya?

jawaban:
Dalam hal bisnis yaa, Anak perlu belajar tentang modal, laba dan rugi. Pahamkan pada anak bahwa modal itu harus kembali. Sementara laba, idealnya dibagi 3. Untuk menambah modal, untuk sedekah( termasuk bagi-bagi) dan untuk pribadi. Kalau bagian pribadinya mau dibagikan juga ya terserah. Jadi sebelum belajar bisnis,anak perlu mengerti tentang kepemilikan. Mana milik ibu, milik kakak, miliknya. Tidak diperkenankan menggunakan milik orang lain tanpa ijin. Apalagi menghabiskan. Termasuk barang modal tadi, diajarkan bahwa barang itu punya ibu..tidak boleh dibagikan tanpa seijin ibu. Jangan sampai mereka punya mental robin hood, so generous with other people's money.


4. Bu Endah
Asslm Wr Wb tehh Patra, anak saya 2, ryu 7 thn, Miyagi 4 thn, Ryu sdh kelihatan bakat penjualnya dan memberdayakan teman-temannya untuk membantu, tapi setelah projectnya selesai Ryu msh blm mau berbagi hasil dengan teman-temannya yang sudah membantu, bagaimana caranya mengajarkan Ryu untuk mau berbagi karena itu salah satu cara membangun team yang solid.

jawaban:
Wah..bagus itu Mbak Endah. Tinggal diarahkan. Dalam Islam, seluruh muamalah itu harus jelas akadnya. Membuat akad itu di awal. Jadi dibiasakan sebelum memberdayakan, dibuat dulu akadnya, bagaimana bagi hasilnya. Kalau tidak mau berbagi, silahkan dikerjakan sendiri saja. Kita ajarkan konsep keadilan. Kita ajarkan anak-anak kita untuk tidak terjerumus pada kezhaliman. Itulah mengapa pebisnis yang jujur  itu dijamin surga.


5. Bu Aprilia
Saya Aprilia ibu dr seorang putra (4y). Minat yang saya geluti kali ini adalah jualan cireng (bikin dan jualan). Nah, bagaimana cara mengajak krucil saya ini untuk terlibat dan enjoy bersama di dalam bisnis ini juga, langkah apa yg harus saya jalankan? Saat ini krucil saya protes kalau saya bikin cireng. (Berkaitan dengan time management saya ni kayaknya) Lalu..bagaimana menjelaskan ke anak, jualan itu apa, buat apa jualan? Jazakillah khairan teh ☺

jawaban:
Karena aktivitas membuat cireng itu adalah aktivitas komersial, kita boleh menawarkan bagi hasil kalau mereka mau membantu sesuai dengan kemampuan. Bisa bagi hasil penjualan, laba, atau upah selayaknya saja. Misalnya diupah setiap membantu saja. Nanti uang hasil jualannya bisa kita perlihatkan pada anak-anak, ini lho hasil jual cireng nya. Sebagian kita sisihkan buat beli bahan besok. Sebagian buat ibu belanja sesuatu. Sebagian boleh dibagi karena sudah membantu. Anak bisa diajarkan konsep menabung, diberi tempat menyimpan uang, dompet, kaleng bekas, dll. Anak usia 4 tahun sebaiknya tidak dibiasakan jajan, jadi uangnya jangan untuk beli permen, ciki, tapi misalnya untuk beli sepeda, mainan, dll. Sebetulnya sampai besar juga jangan dibiasakan jajan, repot kalau anak suka jajan.


6. Bu Nunung
Putra sulung saya (usia 7th) mulai saya motivasi unttk menjadi seorang pengusaha, bukan mencari pekerjaan. Sekarang dia mulai mengamati berbagai bidang usaha, kadang pengen jadi bos rumah makan, besoknya ganti pengen jadi bos pom bensin. Dirumah, mulai saya kenalkan dengan uang & pengelolaannya, harus 'bekerja' dulu baru dapat uang. Dan mengarahkan penggunaan uang yang didapat trmasuk bagian untuk sedekah & prioritas belanja dengan uangnya sendiri. Sekarang dia lagi hoby jual mainan yang dia rasa sudah bosan ké teman-temannya.
Pertanyaannya, stimulasi atau ide-ide apa saja yang bisa saya terapkan untuk mengeksplorasi jiwa kreatifnya dalam hal kewirausahaan. Soalny terkadang saya suka blank & mati gaya, karena di keluarga besar kami memang jarang yang menjadi seorang pengusaha. Mohon saran ya teh.
jawaban:

Hehehe..pertanyaan advanced nih bu Nunung. Waktu anak-anak kecil saya pernah membelikan komik biografi pengusaha, mungkin ada yang punya ya. Ada biografi bill gates, enzo Ferrari, dll. Sambil baca sambil cerita bahwa bisnis itu harus ditekuni. Kadang berhasil kadang gagal. Anak usia 7 tahun juga bisa mulai belajar mempraktekkan keinginannya, agar keinginan itu tidak hanya menjadi khayalan. Jadi ya bisnisnya harus dimulai saja. Nanti kan dia merasakan berhasil, gagal, susah, malas, berat, senang, dll. Secara bertahap kita juga bisa mengenalkan dengan berbagai profesi agar mereka juga semakin kaya wawasan dan bisa mendapat inspirasi. Tapi tenang aja, ga perlu buru-buru yang penting kita tidak membunuh minat anak-anak.

Bu Rossalia:
Kalau misal anak kita ajarkan untuk magang ke orang lain gitu gimana Teh? Usia berapa kira-kira bisa diajarkan untuk itu? Maksudnya kalau belajar bisnis ke orang tua sendiri tuh kadang masih bias untuk bab disiplin dan komitmen, kalau ikut orang kan bisa merasakan dari proses bawah dulu, biar ngerasain kerja sama orang, misal bantu julian barang dengan es punya tetangga. Takutnya dibilang melanggar HAM, Hehehe.. gimana Teh..

jawaban:
Itu melanggar undang2.

Bu Rossalia:
Maksudnya jualin dagangan es tetangga..
jawaban:

Hehehe..kalau jualin doang mah gapapa, kalau sampe kerja mah gawat. Jualin barang orang termasuk salah satu cara juga. Waktu anak saya kelas 3 atau 4 SD ternyata dia kongkalikong sama si mbak buat bisnis. Si mbak bikinin makanan dan dia jual. Ga semua anak seperti itu, tapi kalau ada yang berbakat ya kita kembangkan. Dulu anak saya yang kedua suka ke pasar, beli snack keringan. Dia susun di kardus bekas mie trus dia bawa ke sekolah seperti pedagang asongan. Sehari bisa dapat untung 20rb an. Makanya duitnya banyak. Sejak SD dia sudah bisa qurban dengan uangnya sendiri. Sekarang sedang mengumpulkan uang untuk umrah. Memang anaknya nggak gengsian..jadi ya segala usaha dia kerjain, hehehe. Sekarang dia pegang bisnis sosis premium, alhamdulillah omsetnya jutaan sampai belasan juta per bulan. Dia juga sudah bisa nego dengan reseller, supplier, menghitung penjualan, laba, rencana restok, dll. Usianya 14 th. Iya..selama tidak mengganggu aktivitas utamanya Insya Allah kita dukung.


7. Bu Faizzaty, moment 2 anak perempuan..
Enterpreuner menurut kebanyakan orang termasuk saya, identik dengan "berjualan". Berjualan identik dengan barang. Padahal ada juga jasa. Naah, kalo yang jasa ini bagaimana melatihnya dan mengenalkannya untuk anak. Jazakillah Teh Patra..
jawaban:
Iya mbak, jasa ini juga sarana berpenghasilan. Kalau saya sendiri, setiap aktivitas komersial yang melibatkan mereka selalu saya beri upah yang layak. Misalnya anak ketiga saya usia 13 tahun. Senang sekali ngoprek komputer. Suatu hari ada yang mau beli laptop (saya jual barang elektronik). Dia menanyakan kebutuhannya untuk apa. Saya jawab untuk desain grafis. Lalu dia yang mensurvey, memberi alternatif, mencari harga terbaik, dll. Sampai menemani saya beli komputer, berhadapan dengan pedagang, nanya spek macem-macam yang saya ga ngerti, sesudah deal saya tinggal bayar aja. Untuk jasa itu saya beri dia uang 100rb. Atau pernah laptop saya rusak. Tadinya mau saya bawa ke tukang servis untuk diperbaiki. Tapi dia menyanggupi dan berhasil. Jadi ya saya bayar dia profesional. Atau misalnya ada yang mau rental mobil, saya minta mereka bantu bersihkan mobil, lalu saya bagi mereka bagian dari uang sewanya.

Bu Rossalia:
Pertanyaan sy, apa tidak terkesan terlalu itung2n sama anak Teh? antisipasi kl ada yg komentar, hehehe

jawaban:
Kan kita dapat untung, kalau ga dibagi ya zhalim namanya. Masa anak sendiri dizhalimi. Nah, kalau kewajiban dan tanggung jawab itu tidak perlu diupah, misalnya membereskan kamar, mencuci piring habis makan, membantu memasak buat dia makan. Kalau bantu masak untuk pesanan katering itu saya beri upah.


8. Bu Fajar
Teh Patra, saya tanya soal upah yang tadi. Di keluarga saya dari dulu punya kebiasaan kalo anak-anak dimintai tolong untuk melakukan sesuatu, setelah itu dikasih upah berupa uang yang nantinya terserah anak mau untuk nabung atau membeli sesuatu. Dulu saya juga diperlakukan seperti itu sama ibu, dan uang dikumpulin. Tapi makin kesini, justru ponakan saya ga mau dimintain tolong kalo ga ada upahnya. Berarti ada yang salah ya, apa yg harus diperbaiki? 

jawaban:
Ok Mbak Fajar. Jadi, yang diupah itu dalam konteks komersial saja, dimana kita mendapatkan keuntungan materi. Anak-anak juga perlu diajari tentang saling menolong, memudahkan urusan dll. Tidak semua pekerjaan perlu diupah. Misalnya meminta tolong anak untuk membelilan bahan masakan di warung ya tidak perlu diupah, toh dia ikut makan juga, wajar sekali kalau ikut membantu.
Dan kita pun tidak akan mengupah orang lain untuk melakukannya. Hanya pekerjaan yang layak diupah saja yang diberi upah.


KESIMPULAN 
Ada beberapa poin penting dalam mengajar bisnis pada anak :
1. Bertujuan untuk melatih anak mandiri dan memiliki izzah
2. Bisnis bisa berupa barang dan jasa
3. Jasa bisa dibayar dengan upah. Upah diberikan hanya untuk pekerjaan komersial dimana kita mendapat keuntungan material.
4. Melatih bisnis tidak berarti mengeksploitasi anak-anak dan memaksa mereka bekerja di bawah umur.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber : Diskusi Grup HSMN Semarang
Hari : Rabu, 6 Mei 2015

Waktu   : 20.00-22.00

Tema : "Mengajarkan Bisnis pada Anak" 📠
Pemateri : Teh Patra (Yuria Pratiwhi Cleopatra
Pendidikan S1 ITB dan S2 ekonomi syariah UI

Menikah dan dikaruniai 4 anak (17, 14, 13, 3) semuanya Homeschooling)

Moderator : Rossalia Noviati
Notulen : Nila Ummu Rafa

May 8, 2015

My Son, My Enemy

My Son, My Enemy
Hasil prakarya Abang sore tadi (ps. Walo saya yang bikin tulisannya ^,^)
Cerita tentang My Son, My Enemy ini bermula saat hari kelahiran putra sulung kami, si Abang. Saya yang tadinya tidak tahu menahu perihal weton, yaitu hari lahir berikut pasarannya dalam budaya jawa, mendadak peduli. Kenapa? Karena pada hari kelahiran si Abang, ibu saya berkelakar, "Wah kok ibu dan bayinya punya weton yang sama ya, kalau orang jawa biasanya si bayi disuruh tinggal terpisah dulu dari ibunya sampai dewasa. Konon, weton yang sama itu artinya punya sifat dominan yang sama, jadi kalau hidup bersama pasti bakal sering bertengkar..." kata ibu saya saat itu. Saya tahu sebenarnya ibu hanya berseloroh saja, karena keluarga kami memang tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu.

Waktu itu saya hanya tersenyum sambil menjawab dalam hati, "Masa iya harus dipisah segala? Kasihan dong!", "Masa ibu sama anak bisa musuhan kalau hidup bersama? Lalu kemana gerangan si ikatan batin?". Namun siapa sangka dibalik pengabaian saya, jauuuuuuuh di lubuk hati terdalam saya penasaran juga, "Apa iya besok saya juga begitu?" sekaligus tertantang bahwa selama saya bisa mendidik Abang sebaik mungkin, pastilah semua itu akan terbukti tidak benar! Terlebih lagi, ada seorang kawan yang adiknya juga terpaksa hidup dengan sang nenek karena urusan weton ini, waktu saya tanya bagaimana hasilnya setelah dewasa hidup berkumpul lagi dengan orang tuanya? Jawabnya, "Ya jelas 'bener' ga pernah bertengkar sama ibuku, orang ketemunya dari kecil juga jarang. Apa yang mau diributin?" Hwakakakakak.... Saya sampai ngakak banget dengernya, pasti kalian semua juga bakal bilang, "YA IYYA LAHHHHH", juga kan? ^_^

So, apakah istilah My Son, My Enemy ini berlaku kepada kami berdua, saya dan si Abang yang kini berusia tujuh tahun? Let's check the facts :
  1. Memang sih, Abang sering menjadi 'musuh' saya saat di rumah. Sifatnya yang keras dan ekspresif membuat Abang selalu mengungkapkan apapun yang ada di pikirannya. Lucunya, moment-moment kami 'bertengkar' itu bisa miriiiiip banget kaya dua anak kecil yang saling mengolok, lengkap dengan bibir monyongnya! Hehe.. Kalau sudah pakai pose begitu, buntutnya kami pasti tertawa sendiri ;)
  2. Meski begitu, si Abang tahu betul kapan saya memang serius mengingatkan. Saat memberlakukan time out pun dia tak pernah melanggar konsekuensi yang telah kami sepakati. Artinya dia telah belajar arti tanggung jawab.
  3. Alarm. Itu adalah peran putra sulung kami bagi saya pribadi. Bukan sebagai alarm waktu, tapi lebih sebagai pengingat dalam segala aspek hidup saya. Abang adalah orang yang pernah 'menusuk' saya tentang pelajaran menutup aurot dirumah, dia juga penasehat fashion pribadi saya selain sang ayah. Misalnya saat saya tanya, "Roknya lucu ya, Bang.", dia spontan menjawab, "Nggak ah, pendek!" atau "Ya, jempoll" atau "Jangan, jelek!", dan saya yakin jawabannya itu selalu jujur, bukan semata ingin membuat saya senang. Termasuk dalam hal ibadah, meredam emosi, menaati jadwal harian kami, mengurangi gadget, Abanglah alarm yang selalu saya syukuri.
  4. Teman curhat. Di usia tujuh tahun, si Abang termasuk anak yang dewasa dan bertanggung jawab, ia juga kritis dan peka terhadap perasaan orang lain. Pribadi humble, easy going dan simpatik itulah yang membuatnya mudah berbaur di mana saja dan dengan siapa saja. Dia adalah kawan favorit bagi teman-temannya, termasuk saya! Karena kami lebih sering di rumah bertiga sementara sang ayah bepergian ke luar kota, akhirnya kami sering menjadi teman curhat alias selalu terbuka mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dia juga pribadi yang pandai menghibur. Seperti suatu hari saya curhat, "Ayah perginya lama ya, Bang", Abang pun menimpali, "Iya, padahal Bunda, Abang sama Adek kan kangen ya. Ayah perginya lama-lama ya Bund." Setelah itu biasanya kami telepon sang Ayah, sekedar kirim foto, atau mengirim pesan suara sambil ketawa-ketiwi. Sungguh, itu sangat berarti bagi saya.
  5. Partner diskusi yang menggemaskan. Saking gemasnya seringkali saya uwel-uwel pipinya di sela-sela diskusi kami. Bagaimana tidak, Abang adalah tipe anak yang bisa sampai nangis kalau pertanyaan yang diajukan belum mendapat jawaban yang memuaskan atau belum bisa dipahaminya. Dan kata-kata sakti yang paling bikin saya desperate saat diskusi adalah, "Abang belum paham!". Nah, kalau sudah begini, saya harus putar otak, entah cari alat peraga, lari ke peta, buka youtube, tanya mbah google atau apalah-apalah lainnya sampai dia paham dan nggak nangis lagi. Belum lagi pertanyaan-pertanyaannya yang selalu ajaib seputar perang Yaman, gempa Nepal, presiden Jokowi, arti kata drastis, dll. Tahu kan, perasaan frustrasi saya? Wkwkwk
Kesimpulannya, sepertinya teori weton My Son, My Enemy itu tidak berlaku bagi kami. Saya justru sangat menikmati hubungan gado-gado kami ini. Setelah tujuh tahun dari kejadian 'weton' itu, Abang adalah sparing partner saya dalam hal berantem ala anak bayi, alarm yang selalu berdering kalau saya mulai melenceng, temen curhat yang pengertian, partner diskusi yang heboh, namun tetap memiliki rasa hormat kepada orang tua dan konsekuen dengan apa yang dia lakukan.

Mau bagaimana lagi, di saat-saat kesepian kami (diantara minimnya waktu kebersamaan dengan sang ayah), saya, abang dan si adek hanya punya satu sama lain. Jadi, kami harus selalu happy dan saling menghibur sambil menunggu sang ayah pulang. Huhuhu.... #malahcurcol.

Gudnite everybodyeahhh ^_^

May 5, 2015

Pendidikan Seks dalam Islam

Pendidikan Seks dalam Islam
Banyaknya kasus perkosaan, perkawinan sedarah, pacaran yang berlebihan, sampai seks bebas terjadi pada anak. Sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya anak diajarkan sex education sejak dini. Lantas, seperti apakah Islam memandang pendidikan seks itu? 

Islam yang sempurna tentulah mengajarkan sex education pada anak. Namun untuk memberi pengertian pada anak tentunya tidak dengan bahasa yang vulgar dan dengan gambar-gambar yang eksplisit sehingga mengakibatkan anak ingin mencoba melakukannya. Al quran memberi contoh bagaimana menjelaska dengan bahasa kiasan, seperti "istri kalian adalah kebun untukmu maka datangilah darimana kalian mau". 

Tugas besar orang tua haruslah pandai berbicara kepada anak dalam hal ini. Tidak boleh ada informasi yang bersifat kebohongan, apabila orang tua mulai kesulitan untuk menjelaskan, jangan lanjutkan pembicaraan. Cukup katakan, "Nanti ya, Bunda cari tahu dulu.."

Di jaman Rasulullah SAW ada seorang sahabat yang meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk berzina, lalu apa jawaban Rasulullah SAW? "Bagaimana apabila anak perempuanmu dizinahi orang? atau ibumu dizinahi orang? atau istrimu dizinahi orang? atau adik perempuanmu dizinahi orang?". Sungguh suatu jawaban cerdas dari Rasulullah dalam mendidik generasi sehingga sahabat tersebut tidak jadi melakukan zina.

Apabila anak kita sudah mulai senang dengan lawan jenis, hal pertama yang kita ucapkan adalah syukur. Karena artinya anak kita normal dan siap ke jenjang berikutnya yakni akil baligh, lalu menikah. Senang lawan jenis ini adalah hal yang wajar dalam rangka mempertahankan generasi berikutnya. Rasulullah SAW menganjurkan sahabat yang sudah baligh dan senang dengan lawan jenis untuk segera menikah, apabila belum mampu maka ia diminta untuk berpuasa. Solusi yang sangat cerdas, karena puasa adalah menahan diri dari makan minum dan jima' sampai terdengar adzan maghrib, yang artinya anak kita diperintahkan untuk menahan diri menjaga syahwat sampai mampu menikah.

Islam sangat menjaga hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, harus dikelola agar tidak sampai melakukan maksiat. Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang pemuda yang melihat wanita cantik sampai terbengong bengong, kemudian Rasulullah SAW memutar kepala itu sambil bersabda: "Jangan ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua.". Salah satu cara menahan syahwat jseperti anak harus minta izin ketika hendak memasuki kamar orang tua, agar jangan sampai melihat adegan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Berikut pokok-pokok pendidikan seks (sex education) secara praktis yang  bisa diterapkan pada anak sejak dini yang dikutip dari tulisan Zulia  Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya  Pendidikan Seks Untuk Anak-anak, dengan sedikit tambahan dari saya:

  1. Menanamkan rasa malu pada anak. Rasa  malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan  anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain. Misalnya  ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya. Tidak diperkenankan mandi bersama anak, meskipun di usia balita.
  2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan. Berikan pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin anak, sehingga mereka terbiasa untuk berprilaku sesuai dengan fitrahnya. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata: "Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki." (HR al-Bukhari). Hati-hati kaum LGBT  mulai melancarkan aksinya dengan menjual mainan dan pakaian yang bias sex.
  3. Pendidikan seks melalui sholat. Usia 7 tahun secara normal anak mulai bisa membedakan laki-laki dan perempuan. Di usia ini anak mulai diperintahkan untuk sholat. Sangat jelas dalam sholat ada shof khusus laki-laki ada shof khusus perempuan. Cara menutup aurat pun juga berbeda, laki-laki dari pusar ke lutut, sedangkan perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Industri pornografi mulai mengicar anak usia 7 th , jadi hendaknya Mommies mulai waspada.
  4. Memisahkan tempat tidur. Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang  pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya  berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan  tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Pemisahan tempat tidur yang dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara tidak langsung telah menumbuhkan kesadaran dirinya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin. Hati-hati karena banyak kasus incest berawal dr sini.
  5. Mengenalkan waktu berkunjung ke kamar orang tua (meminta izin dalam 3 waktu). Tiga  ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki  ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah : sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Dengan  pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak  yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.
  6. Mengajarkan untuk menjaga kebersihan alat kelamin. Mengajari  anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan  untuk buang air pada tempatnya (toilet learning). Dengan cara ini akan terbentuk sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat. Sejak usia 2 th anak sudah bisa diajarkan pendidikan seks, yaitu ketika toilet learning. Saat itulah kita bisa sambil menjelaskan, ini alat kelamin perempuan tempat keluarnya pipis, adek harus jaga jangan sampai dilihat dan dipegang oleh orang lain kecuali bunda atau ayah.
  7. Mengenalkan mahram-nya. Tidak  semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja  perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan  memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diharapkan agar anak  mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan  mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak.
  8. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. Telah  menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan  jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung  unsur pornografi dan pornoaksi.
  9. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilâtIkhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam  ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran  laki-laki dan perempuan secara bebas.
  10. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat. Dinamakan  khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di  suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang  tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat. Sedangkan bila anak yang belum baligh melihat orang lain sedang berkhalwat, segera jelaskan mana yang baik dan buruk serta cuci otak dan hatinya ketika sampai di rumah.
  11. Mendidik etika berhias. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa  berpenampilan menawan yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan godaan bagi lawan jenisnya. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan  maksiat.
  12. Ihtilâm dan haid. Ihtilâm  adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia baligh. Adapun  haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan  fisiologis dan psikologis semata. Jika telah terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang  berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

Itulah beberapa hal yang harus diajarkan kepada anak berkaitan dengan pendidikan seks. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.




Sumber : Diskusi HSMN Semarang
Narasumber : Silmi MSY 
ibu dari 5 anak, Rafah (9,5 th), Sahla (8th), Barak (6,5 th), Rayyan (4th), Hayyin (2 bln).
Lulusan S1 Psikologi Undip. S2 Psikologi UI mayor PIO dan minor Pendidikan.
Kerja: Komisaris PT. Riscon Group 
Ketua yayasan Riscon Hasanah 
Yayasan Ari Al Banna.
Owner sekolah Kuttab Alfatih bekasi
Waktu diskusi : kamis, 30 April 2015 jam 12.30 - 14.00
Moderator : Hapsari
Notulen : Yanti
Judul diskusi : Sex Education dalam Islam