Jul 30, 2015

Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis

Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis
Percobaan Berat Jenis
Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis - Di awal tahun ajaran baru ini, saya sudah punya banyak list percobaan yang akan dilakukan setiap minggunya bersama anak-anak. Pastinya setelah libur lebaran yang cukup panjang mereka juga sudah tidak sabar menantikan hari Rabu malam yang telah kami nobatkan sebagai hari "Craft & Experiment".

Kali ini kami akan melakukan Percobaan Berat Jenis. Alasannya sederhana, karena bahan yang dibutuhkan sangat sedikit dan selalu tersedia di dapur kami, alias males ribet. Hehe.. Walaupun si Abang yang masih duduk di kelas 2 SD belum diajarkan tentang berat jenis, tapi saya yakin dengan percobaan seru serta penjelasan yang mudah dimengerti, ia akan selalu mengingat prinsip percobaan berat jenis ini.

Alat dan Bahan : 
  • Telur ayam mentah
  • Air
  • Minyak
  • Gula
  • Garam
  • Gelas Plastik (transparan)
Percobaan :
  1. Sebelum melakukan percobaan sebaiknya kita mengenalkan pada anak tentang berat jenis. Jelaskan apa itu benda padat dan benda cair, bahwa benda padat dapat diketahui beratnya dengan ditimbang (berikan contoh berat telur berbeda berat semangka). Kemudian terangkan bahwa benda cair juga memiliki berat yang berbeda-beda, namanya berat jenis.
  2. Isi gelas plastik dengan air, kemudian masukkan telur. Lihat apa yang terjadi
  3. Tambahkan air dengan garam sehingga menjadi larutan garam, kemudian masukkan telur. Amati
  4. Ganti larutan garam dengan larutan gula, masukkan telur. Amati
  5. Ganti larutan garam dengan air + minyak goreng. Amati
  6. Larutan garam + minyak goreng + telur. Amati
  7. Isi gelas plastik dengan minyak goreng, masukkan telur. Amati
  8. Tulis laporan percobaan pada buku atau selembar kertas. Kalau kami menuliskannya di buku aktifitas rumah.
  9. Cari referensi tentang berat jenis masing-masing larutan di pustaka, atau Bunda bisa mengajak anak mencarinya bersama.
  10. Jelaskan kaitan antara hasil percobaan dengan pustaka yang didapatkan.
Secara sederhana, abang bisa memahami bahwa setiap larutan / cairam memiliki berat yang berbeda-beda. Dimana semakin besar berat jenis zat cair, maka ia akan dapat mengangkat sesuatu (dalam hal ini telur bisa melayang bahkan terapung), sama logikanya dengan orang yang memiliki berat badan lebih bisar akan lebih mudah mengangkat sesuatu dibandingkan yang kurus. Dapat Bunda tambahkan pula contoh fenomena laut mati (buka yutub) ^_^

Dari Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis kami jadi tahu, berapa banyak garam yang dibutuhkan untuk membuat telur melayang, juga berapa banyak untuk membuat telur terapung. Serta fakta bahwa dengan penambahan yang sama, larutan gula tetap tidak mampu membuat telur melayang.

Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis
Laporan Percobaan Berat Jenis

Percobaan ini kami akhiri dengan mengajarkan konsep lebih besar dan lebih kecil. Mana cairan yang lebih besar berat jenisnya dan mana yang lebih kecil. Sambil belajar mengurutkan berat jenis dari yang terbesar ke yang terkecil. Apakah sesuai dengan pustaka? Kemudian dibuat sebuah kesimpulan. Mudah bukan?

Bunda bisa mengeksplorasi kegiatan Fun Time #5 : Percobaan Berat Jenis ini lebih jauh, seperti dengan menambahkan larutan cuka, larutan sirup, larutan susu, pasti akan membuat aktifitas makin seru. Saran saya persiapkan beberapa telur sebelumnya, untuk berjaga-jaga kemungkinan terjadi 'tragedi' telur pecah seperti yang terjadi pada kami. Hehe...

Pada akhirnya, meskipun semua lantai basah, sedikit-sedikit ambil tisue dan lap, korban dua buah telur pecah, tangan lengket terkena aneka rupa, tapi keceriaan anak-anak serta pelajaran yang didapat sangat tak tergantikan. So, tunggu apa lagi? Let's try!

Salam Hangat,


Jul 27, 2015

Resensi Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan

Resensi Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan
Judul Buku : Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan
Penulis : E-room
Ilustrator : Ryu, Soo-hyung
Pengalih Bahasa : Ivana Thamrin
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer
Terbit Versi Indonesia : Tahun 2013
Halaman : 215 halaman
Kategori : Buku Anak (BO)
Rating : Very Good

Tahukah Anda bahwa pemakaian listrik pada monitor komputer lebih besar 6,5 kali lipat dari pemakaian lampu pijar? Atau bahwa menyiram bunga dari bawah pot akan lebih efisien dan hemat air? Atau bahwa berbagai air bekas dalam rumah tangga kita dapat dipakai lagi untuk keperluan lain? Atau bagaimana cara membuat sabun batangan sendiri? Atau bahwa crayon bekas dapat diolah sehingga tampak baru lagi? Serta hal-hal lain yang ternyata dapat kita lakukan demi terwujudnya Keluarga Super Irit? Jika Anda hanya bisa melongo dan terheran-heran, berarti sekarang saatnya Anda membaca Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan ini.

Dengan judul Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan, jangan harap Anda akan menemukan kisah mengharu biru tentang perjuangan sebuah keluarga yang ingin keluar dari kemiskinan. Bahkan sebaliknya, kita akan tertawa terbahak-bahak dengan kekonyolan tingkah para anggota keluarga Bindae ini. 

Pak Bindae yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) membuat keluarga kecil ini harus pindah ke rumah petak kontrakan, tentunya mereka juga harus mulai hidup irit sesuai kondisi keuangan saat ini. Di keluarga Bindae, Pak Bindae memiliki nilai hemat 300%, si kembar Na Deollong (laki-laki) yang hanya punya nilai hemat 50% dan Na Sogeum (perempuan) 120%, serta ibu mereka, Mama Chansun yang punya nilai hemat TAK TERBATAS!! Hehe.. Keren bukan? Masih heran bagaimana cara mengetahui nilai hemat tersebut? Anda juga dapat mencobanya melalui "Ujian orang pelit" yang ada di akhir buku ini.

Resensi Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan
Ujian Orang Pelit
Yang unik dari Buku Keluarga Super Irit 1 : Perjuangan Keluar dari Kemiskinan ini selain ceritanya mengalir dengan penuh kelucuan, kita juga mendapat banyak pengetahuan baru dalam hal "pengiritan", tips irit listrik, irit air, irit sabun, irit makanan, mengolah sampah, prakarya dari barang bekas, bahkan sampai hal-hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Kalimat yang keluar dari mulut saya setelah membacakan untuk anak-anak adalah : "Keren, Niat banget ngiritnya!" Wkwkwk

Meski bagi saya hidup tak perlu separah itu ngiritnya, tapi ada banyak hal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya sekaligus mengajarkan berhemat kepada anak-anak. Bahkan sekarang si sulung sering mengingatkan saya, "Bunda kalau sudah nggak dipakai nge-charge, stekernya dicabut. Kaya di keluarga super irit." hehe.. Namun begitu, ada pula hal-hal yang harus kita tanamkan bahwa tidak boleh menjadi pelit hanya karena ingin irit. Karena semua yang berlebihan itu tidak baik.

Sudah cukup penasaran bukan? Langsung cuss baca bukunya ya, seru juga untuk dibaca bersama putra-putri kita. Dan siap-siap menganga dengan betapa ngiritnya keluarga ini. ^_^

Salam Hangat,

Jul 10, 2015

The Hard Worker VS Learner

The Hardworker VS Learner
The Hard worker VS Learner. Yup, kami adalah dua orang berbeda yang hidup bersama dalam sebuah keluarga. Entah bagaimana awalnya, dari beberapa sudut pandang dan obrolan-obrolan kecil kami setiap harinya, saya tiba-tiba menyimpulkan bahwa suami adalah seorang pekerja keras (Hard worker) sedangkan saya adalah pembelajar (learner).

Karena perbedaan tersebut, kadang kami berbeda pandangan tentang beberapa hal. Seperti saat membahas tentang kuliah. Ketika Learner berkata, "Kenapa tidak melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi seperti rekan kerja lainnya? Bukankah itu menunjang pekerjaan juga?". Maka hard worker akan menjawab, "Buat apa kuliah kalau cuma mau ngejar jabatan, banyak juga kok yang sampai gelar S-nya banyak tapi gitu-gitu aja, ya karena dia nggak professional". Hmm.. Bener juga, mubadzir uang kuliahnya.

Di lain waktu saat si Learner menyatakan suatu saat ingin kuliah lagi, Hard worker justru melihat dengan tatapan heran sembari berkata, "Yakin, mau kuliah lagi? Emang buat apa, kan pendidikan yang sekarang udah cukup untuk pekerjaan yang ditekuni. Tergantung tujuannya, mau kuliah cari ilmu apa cuma cari gelar?". Setelah beberapa saat terdiam dan berpikir, akhirnya si Learner menyadari bahwa sebenarnya bukan 'kuliah'nya yang ia cari, tapi 'belajar'nya. Toh, nggak harus sesuai keilmuan sekarang. Apapun, mau les jahit, mau menulis, mau internet marketing, apa saja asal bisa mendapat ilmu-ilmu baru yang merangsang otak, menumbuhkan ketertarikan serta ada passion di dalamnya. Bukan semata kuliah formal dengan tujuan meraih gelar.

Setelah merasa menemukan jawaban, ditambah lagi karena sang hard worker punya jam terbang serta dedikasi tinggi pada pekerjaan yang menuntut untuk sering meninggalkan keluarga. Plus, tidak memungkinkannya untuk 'kuliah' di luar kota dengan konsekuensi akan sering meninggalkan anak-anak (lantas apa bedanya dengan anak yatim piatu, hiks), si Learner mulai mendedikasikan penuh dirinya untuk keluarga, suami dan anak-anaknya.

Well, berawal dari pembicaraan tentang kuliah itulah si Learner banyak 'belajar' bahwa :
* Hidup tak selalu berjalan seperti keinginan kita. Ingin kuliah tinggi, karier berkembang, banyak berkarya, banyak waktu bersama anak, selalu kumpul suami. Wow, serakah amat! ^_^
* Life is choice. Semua orang tau, dalam hidup selalu ada pilihan beserta segala konsekuensinya. Saat ingin kuliah, maka anak akan berkorban dengan berkurangnya perhatian. Saat fokus pada keluarga, mungkin karier dan penghasilan tak sebanding dengan rekan lainnya. Cukup pilih dan nikmatilah.
* Kuliah tidak sama dengan belajar. Dulu saya pikir, karena saya suka belajar maka alangkah baiknya jika saya kuliah setinggi-tingginya untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya. Namun sekarang saya sadar bahwa yang saya suka adalah 'belajar', sedangkan kuliah hanya salah satu cara kita untuk belajar. Cara yang lain? Ternyata saya merasakan 'belajar' melalui membaca buku, mendidik anak, menulis, serta mengerjakan hal-hal baru yang menarik minat saya. Bahkan kajian Al-Quran pun bisa menjadi sesi 'belajar' Saat kita benar-benar senang, meresapi apalagi sampai mengamalkan dalam keseharian. 

Dan pada akhirnya, saya pun belajar untuk mengajak anak-anak kami agar senang 'belajar' dengan banyak memperkenalkan hal-hal baru kepada mereka, berpikiran terbuka, termasuk menterjemahkan kata-kata yang belum mereka pahami (yang seringkali bikin saya pusing tiap kali sesi nonton berita karena dihujani dengan pertanyaan, "Konfrontir itu apa? Krisis Yaman gimana critanya? Tabir maksudnya apa? Suap sama korupsi beda ya?") Wkwkwkwk #klenger.

"Sekarang, saya tak lagi mempersoalkan tentang kuliah. Karena bagi saya tiap hari adalah waktunya 'belajar'. Benar-benar belajar, membuka buku, mencari informasi, mencoba hal-hal baru, mengajak anak turut serta, sungguh suatu proses belajar yang tak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya."

Pada akhirnya, saya pikir hard work dan learning haruslah seirama. Seorang pekerja keras pastilah harus selalu belajar untuk menunjukkan profesionalitasnya. Sedangkan pembelajar pun membutuhkan kerja keras dalam mempelajari minatnya. Jadi sebenarnya kami adalah orang yang sama, pekerja keras dan pembelajar. Hanya berbeda dalam bidang minat dan cara implementasinya. Seperti yang terjadi saat hard worker dan learner pergi ké toko buku. Sementara learner sibuk mencari buku, sang hard worker akan duduk manis menunggu anak-anak yang asyik baca aneka buku, tentunya sambil telpon sana sini dan cek email kerjaan. Hahaha...

Okey fix, tuntaslah kegalauan saya selama ini. ^_^

Salam Hangat,


Jul 7, 2015

Waspada Cakaran Kucing

Kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang paling umum di negara kita. Selain menggemaskan, kucing yang dirawat dengan baik juga bisa menjadi sahabat kita di rumah.

Namun di balik semua itu, Bunda perlu waspada terhadap cakaran kucing. 40% kucing pernah terinfeksi bakteri Bartonella Henselae. Sementara anak kucing berumur kurang dari satu tahun lebih mudah terinfeksi dibanding dengan kucing dewasa.

Bakteri ini umumnya hidup pada cakar dan ludah kucing dan penyakitnya disebut dengan Cat Stratch Disease (CSD). Selain melalui cakaran, penularan Bartonella Henselae melalui ludah kucing ke manusia dapat terjadi saat kucing menjilat luka kulit yang terbuka.

Gejala CSD akan nampak pada hari ke-3 sampai hari ke-14, dimana terjadi infeksi pada daerah cakaran yang menjadi bengkak kemerahan, disertai nanah dan rasa sakit yang menyebabkan demam pada tubuh. Beberapa anak juga menunjukkan gejala nyeri kepala, tidak mau makan dan kelelahan.

Pada beberapa kasus, CSD dapat menjadi komplikasi serius bila terkena pada anak dibawah usia Lima tahun atau anak yang mengalami defek sistem kekebalan (Cat Stratch Disease : www.cdc.gov, April 30, 2014). Meski begitu, sebagian besar CSD dapat sembuh tanpa obat. Untuk nyeri yang timbul dapat dikurangi dengan di kompres, sedangkan antibiotic dapat diberikan bila terjadi infeksi selama lebih dari dua minggu, demam tak kunjung reda serta terasa nyeri pada sendi.

Pencegahan paling sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan menasehati anak agar tidak memprovokasi saat bermain bersama kucing, terutama anak kucing. Karena kucing hanya akan mencakar bila merasa terganggu. Jangan lupa untuk mencuci tangan dengan sabun selepas bermain dengan kucing (cat-stratch-disease.family doctor.org).

Semoga bermanfaat, Bunda. ^_^