Oct 29, 2015

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan ini ide awalnya adalah dari rasa ingin tahu si Sulung saat melihat berita kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh tabrakan antara pesawat dengan awan cumulonimbus yang memang menjadi momok dalam dunia penerbangan. 

Dari situ, saya berinisiatif membuat tema awan menjadi bahasan tematik selama seminggu dengan pembagian :

  • Hari pertama : Menonton video tentang berbagai macam awan, jenis-jenis awan, bagaimana awan terbentuk, berbagai kejadian yang dipengaruhi awan (hujan, kecelakaan pesawat, badai), yang kesemuanya bisa kita download terlebih dahulu dari youtube
  • Hari kedua : Menjelaskan tentang awan adalah ciptaan Allah, ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dan bagaimana kita harus bersyukur 
  • Hari ketiga : Prakarya membuat berbagai jenis awan dari kapas 
  • Hari keempat : Belajar Bahasa Inggris dengan tema Awan dan Benda-benda di langit 
  • Hari kelima : Praktek membedakan jenis-jenis awan dengan memandang langit sambil berhitung
Overall selama seminggu ini sukses kami terapkan dan membuat anak-anak semangat, nggak keinget sama tv (noted : di usia anak-anak biasanya mencari tv atau gadget karena bosan). Negatifnya si Abang jadi pikir-pikir lagi apakah masih mau jadi pilot karena takut dengan awan cumulonimbus. Hehe...

Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
Dalam kegiatan Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan ini saya sekedar sharing tentang membuat berbagai jenis awan dari kapas, dimana anak sudah diberi penjelasan sebelumnya tentang jenis-jenis awan, ketinggian awan dsb.

Alat dan Bahan :
  1. Kapas
  2. Double Tip
  3. Gunting
  4. Kertas untuk menempel
Cara Pembuatan :
Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan
  1. Tutup kertas dengan double tip secara horizontal
  2. Buka double tip
  3. Bentuk dan sobek kapas sesuai bentuk awan yang akan dibuat (Awan Cumulus = digumpal-gumpal; Stratus = panjang dan rata bersaf-saf; Cirrus = tipis seperti serat kapas). Jika anak sudah paham dan bisa membuat awan dasar, bisa ditugaskan untuk membuat awan gabungan seperti stratocumulus, cirrocumulus dll.
  4. Pajang di tempat yang mudah terlihat oleh anak agar semakin paham dan dapat dilakukan review tentang tema tersebut sewaktu-waktu. 
Walau terlihat sepele, memajang hasil karya anak sangat besar manfaatnya, selain sebagai bentuk apresiasi dan meningkatkan semangat, dengan terus menerus melihat hal yang sama, anak akan secara tidak sadar belajar dan mereview kembali apa yang telah ia pelajari. Sehingga kita tidak perlu lagi harus meminta anak untuk 'menghafal' tentang awan, hujan dll. Karena dengan melihat satu karya, anak langsung dapat menjabarkan sesuai dengan apa yang pernah mereka praktekkan (tentunya review dari orang tua tetap diperlukan untuk mengetahui sampai tahap mana pemahaman anak).

So, selamat belajar Fun Time #8 : Mengenal Jenis-Jenis Awan bersama ananda ya, Bunda!
Salam Hangat.


Oct 26, 2015

Respect

Respect
Respect
Bukan Pengetahuan yang paling mendesak untuk kita tanamkan pada anak-anak kita, melainkan RESPECT.

Respect is better than obedience
Respek itu lebih dari sekedar ketaatan
Respect = Ta'dzim = Memuliakan

Padahal adab utama dari menuntut ilmu adalah respect. Respect terhadap apa? Terhadap ILMU dan AHLUL ILMU. Oleh karenanya, meski sekarang sekolah dengan basic agama menjamur dimana-mana dengan masing-masing keunggulan yang ditawarkannya, namun sangatlah susah menemukan sebuah sekolah atau lembaga pendidikan dimana anak-anak didiknya begitu MEMULIAKAN sang Guru sebagai AHLUL ILMU.

Di jaman yang katanya demokratis ini, murid mendebat guru adalah hal yang lazim, bahkan membantah argumen guru dalam diskusi publik pun dianggap biasa. Anak-anak ditanamkan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin tanpa didasari kecintaan pada ilmu dan para pemilik ilmu (guru, ustadz, pakar). 

Lalu apa yang terjadi? Para guru dan dosen berlomba-lomba memberikan teknik mengajar yang menarik, tidak membosankan, diselingi ini itu agar anak didiknya tertarik mempelajari materi yang akan disampaikan. Bukan berarti hal ini salah, namun jika tanpa didasari kecintaan akan ilmu (rasa ingin tahu atas ilmu tersebut) pada diri sang murid, anak akan mulai malas mengikuti pelajaran dengan alasan guru yang membosankan, materi nggak asyik, dsb.

Mari kita bandingkan dengan para pendahulu kita, ulama-ulama besar, salafussalih, mereka mendatangi guru-guru dengan penuh ta'dzim, bersabar mendengarkan penjelasan meski pada saat itu ilmu disampaikan dengan nada yang datar, tanpa banyak gerakan tubuh, pandangan tertunduk, tanpa improvisasi apapun. Tetapi para murid sangat segan terhadap gurunya, memuliakan sang guru, tetap bersabar meski guru berkata dengan terbata-bata saat usia mulai udzur, bahkan dengan suka rela menunggu sang guru kembali dari perjalanan maupun saat melakukan ibadah lain, serta patuh untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan sang guru meski tanpa diberi tahu maksudnya terlebih dahulu (bayangkan kalau anak-anak sekarang pasti sudah protes duluan). Semua itu dilakukan karena mereka memiliki RESPECT, rasa cinta dan memuliakan ilmu serta para ahlul ilmu, yakin bahwa apa saja yang disampaikan atau diperintahkan oleh sang guru pastilah akan bermanfaat bagi mereka

Sehingga bisa kita lihat bangsa yang paling memuliakan ilmu dan para ahlul ilmu, adalah bangsa-bangsa Arab dan China, begitu hormatnya mereka terhadap para guru (ingat-ingat saja bagaimana hubungan guru dan murid dalam film kung fu, bagaimana mereka belajar kung fu).

Dan, guru yang paling tinggi kecintaannya terhadap ilmu adalah guru yang bisa mengatakan "AKU TIDAK TAHU" atas apa-apa yang tidak dikuasainya. Karena bentuk respect terhadap ilmu adalah hanya mengatakan apa yang jelas dasarnya, serta tidak pernah menduga-duga.

Jangan lupa, bahwa kita sebagai orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak kita. 
Salam Hangat,

Oct 21, 2015

Hidup untuk Apa?

Hidup untuk Apa?
Hidup untuk Apa?
Pertanyaan "Hidup untuk Apa, sih?" tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Sayangnya, pertanyaan tersebut sering kali BARU muncul di saat seseorang sedang berada di titik terbawahnya. Entah sedang sakit, sedih, atau sedang mengalami musibah dalam bentuk apapun. Ya, ironisnya kita baru mengingat tujuan hidup dan Yang Maha Memberi Hidup 'hanya' saat kita sedang membutuhkan pertolongan.

Jujur saja, saya sendiri benar-benar memikirkan pertanyaan "Hidup untuk Apa?" baru saat di bangku kuliah. Sebelumnya? Ya.. saya hanya tahu dari para guru bahwa hidup kita adalah untuk mencari ridho Allah. Saat itu rasanya kata-kata tersebut menjadi semacam jawaban baku bagi pertanyaan tentang tujuan hidup, dan saya hanya bisa berpikir, "Ridho Allah itu yang seperti apa?" bagaikan hal abstrak dan susah dimengerti. Sungguh, bahkan saat di usia kuliah yang notabene menuju dewasa, bagi saya 'Ridho Allah' itu seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau.

"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam"

Di akhir masa kuliah, tepatnya setelah ujian skripsi dan menanti waktu wisuda, saya memasuki babak baru bernama pernikahan. Sebagai orang yang masih meraba-raba tentang tujuan hidup, saya merasa hidup itu bak roller coaster. Hari ini bahagia, esok datang kesedihan. Pagi menyambut matahari dengan senyum, siang masalah merundung. Bahkan tak jarang saya menghitung waktu, berapa lama saya bisa tenang tanpa masalah sebelum datang masalah berikutnya.

Dari situ saya mulai 'seolah' mendapat jawaban, oooh ternyata dalam hidup yang dicari orang itu adalah KETENANGAN. Sehebat apapun kita, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sesukses apapun dalam karier, secantik / setampan apapun pasangan, semua orang pada dasarnya ingin hidup tenang. Maka sejak saat itu saya selalu memohon kepada Allah agar diberi ketenangan batin dalam setiap doa yang terpanjatkan.

Tidak berhenti sampai di situ, menginginkan ketenangan itu ternyata ada caranya, bukan doa semata. Pantaslah meski selalu berharap ketenangan, saya masih saja kemrungsung, panik bahkan kadang terpancing emosi (yang tentunya berasal dari bisikan syaitan) saat didatangkan masalah. Baru sekitar dua tahun terakhir ini dalam sebuah majelis ilmu, saya mendapat pelajaran luar biasa bahwa hidup adalah pergiliran antara hisab dan qisas

Hisab adalah hal yang kita alami langsung, sebagai penghapusan dosa yang pernah kita lakukan di masa lampau. Misalnya, sakit adalah hisab atas dosa tertentu kita. Flu biasanya terkait dengan kita yang suka menunda sholat, Batuk biasanya sedang ada pertentangan atau ganjalan di hati, dsb. Ingat cara penyembuhan sebagaimana Ustadz Danu? Ya, kurang lebih begitulah hisab. Hal yang langsung kita rasakan. Tidak hanya berupa sakit, bisa juga ditipu orang, kehilangan, dll. Setiap menerima sesuatu yang buruk atau tidak saya sukai (termasuk sakit, bencana, masalah), saya usahakan segera kembali kepada Allah. Menyatakan bahwa saya terima hisab ini sebagai peringatan dari Allah atas dosa saya, dan mohon Allah tunjukkan dosa mana yang sedang dipermasalahkan melalui ayat-ayat Al-Qur'an. Jadi sudah tidak ada lagi kesedihan berlebihan, protes kepada Allah kenapa saya begini? Kenapa bisa begitu? Kenapa harus saya? Karena kita percaya itulah hisab kita. Saat kita bisa menerimanya dengan lapang sambil terus memohon ampun, yakinlah Allah akan menghapuskan dosa-dosa kita.

Sedangkan qisas adalah peringatan atas dosa kita di masa lampau yang tersampaikan melalui orang lain. Kalau di AlQur'an disebutkan tentang hukum qisas, mata dibalas mata, mulut dibalas mulut. Begitulah qisas, atau orang jawa sering mengatakan 'karma'. Contoh kecilnya, saya sering kali tanpa sadar bicara 'nylekit' atau ketus sebagai bentuk ketidaksukaan saya terhadap sesuatu. Maka jika suatu hari ada orang yang tiba-tiba berbicara ketus kepada saya, yang bisa saya lakukan hanyalah "Astaghfirullahal 'adziiim, pasti banyak juga orang yang pernah sakit hati atas perkataan saya, makanya hari ini saya ditunjukkan gambaran diri saya." Dengan begitu kita lebih lapang menerima hal baik atau buruk yang terjadi, tak ada lagi asal menilai orang (walau pada prakteknya saya masih sering berprasangka karena menuruti hawa nafsu), karena semua itu sebenarnya adalah peringatan dan pelajaran bagi saya. Meski hati saya terkadang masih saja mudah 'tidak suka' atas sikap sesorang, namun saya benar-benar berusaha mengembalikan semua yang saya alami kepada Allah, apa yang terjadi kepada saya pasti ada ijin dari Allah. Inna lillah wa inna ilaihi roji'un... Tinggal bagaimana saya menyikapinya, apakah saya termasuk orang-orang yang mau berpikir dan mengambil pelajaran? Atau justru mencari hal lain untuk bisa dipersalahkan.

Dengan cara selalu mengambil Hisab dan Qisas itu perlahan saya mulai merubah cara pikir saya untuk tidak selalu marah pada keadaan, marah pada manusia maupun marah pada ketetapan Allah. Dengan kata lain, melalui Hisab dan Qisas inilah sebenarnya Islam telah mengajarkan pada kita umatnya untuk berpikiran positif. Bahkan dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa Peringatan adalah suatu hal yang bermanfaat, jika kamu mengerti.

Saya juga seakan-akan bisa memahami, pantas saja manusia semulia Rasulullah SAW sudah tidak memiliki rasa benci maupun marah meski dilempari kotoran oleh orang-orang kafir, serta menjadi pribadi yang begitu pemaaf. Maha Suci Allah, Tuhan Langit, Tuhan Bumi, Tuhan Semesta Alam.

Dan baru di tahun ini pula saya dipahamkan, bahwa saat Allah telah meridhoi hidup kita, artinya apa yang kita lakukan sejalan dengan tuntunan Allah. Apa yang kita harapkan dikabulkan oleh Allah, keinginan kita di'iya'kan oleh Allah. Siapa yang tidak mau? Pasti semua orang menginginkan hidup yang diridhoi Allah, namun tentunya tidak semudah itu untuk mencapainya. 

Akhirnya kepala saya seolah baru bisa menerima penjelasan bahwa Kehidupan yang diridhoi Allah lah yang kita cari. Dengan 'berhijrah' mengubah pola pikir kita, cara memandang masalah dan penyelesaiannya, sikap kita dalam kehidupan sehari-hari, mencintai segala sesuatu tidak melebihi cinta kita pada Allah (yang ini perlu di bold buat saya). 

Jadi, Hidup untuk Apa? untuk mencari keridhoan Allah, dengan selalu mengambil hisab dan qisas sebagai pelajaran dan peringatan setiap harinya, mengembalikan segala permasalahan kepada Allah, karena tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Perkasa. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seru sekalian alam. Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billahil 'Aliyyil "Adziim...

Sebuah perenungan teruntuk diri saya sendiri

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2
Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2
gambar : ldkkarismauai.wordpress
Artikel berikut merupakan sesi tanya jawab dari Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2, yang materinya dapat Bunda baca pada artikel sebelumnya di Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga #1

TANYA JAWAB
1. Bunda Amalia
Saya dan suami merasa belum mampu mendidik anak sendiri sesuai cita-cita kami terutama bab mengajarkan Al Quran. bolehkah kami menitipkan anak kami di pesantren tahfidz?

Jawab
Anaknya usia berapa ? Di usia dini, anak-anak sangat perlu kehadiran orang tua. Berbeda jika si anak sudah besar. Setelah berada di bawah asuhan orang tua, diberikan pemahaman pentingnya ilmu agama, lalu si anak berpikir lebih baik ia mencari guru yang ahli dalam agama, maka ia memutuskan untuk melanjutkan ke pesantren. Beda dengan : Orang tua menginginkan si ank masuk pondok, lalu akhirnya dimasukkan ke pondok.

Jadi yang penting untuk diingat, berikan stimulasi, pemahaman, agar anak sadar penting dan utamanya mempelajari ilmu agama, biarkan ia menyimpulkan, ia harus mondok atau memanggil guru, atau 'hanya' sekolah beragama. Alloohu a'lam. Kalau untuk anak usia 6th, menurut pengalaman beberapa pondok sangat menganjurkan berada di bawah pengasuhan orang tua.

Materi yang dipelajari sampai usia 12th adalah perkara agama yang hukumnya wajib / fardhu 'ain; seperti bersuci, sholat, puasa, mengenal Allah, mengenal Nabi, mengenal Islam. Saya dulu pun khawatir anak-anak tidak mendapatkan pengajaran agama yang cukup. Jika mau berusaha, carilah buku rujukan dan materi-materi dasar ilmu agama. Jika merasa tidak sanggup, panggillah guru, belajar bersama-sama, atau pilihan-pilihan lainnya.

Seorang anak bs memutuskan mondok pada usia memasuki baligh, kira2 12 atau 13 th, tergantung bagaimana ia disiapkan dan kematangan emosinya.

2. Bunda Meydiana
Assalamualaikum Ummu Abdillah. Saya Ibu Pelaku HS sejak 1,5 th yang lalu setelah putri kami lulus dari SD formal (saat ini putri kami usia 13 th). Visi dan Misi kami ingin  menimba Ilmu Agama lebih dalam, namun saya merasa masih banyak yang tertinggal, karena bekal ilmu saya pun sangat kurang, sehingga saat ini kami belajar bersama. Membayangkan betapa banyak hal (Aqidah, Fiqih, Akhlak) yang banyak belum kami kuasai, kadang merasa berat mempelajarinya. Bagaimana menghidupkan dan menjaga niat kami ini. Mohon penjelasannya Umm...Syukron Jazakumulloh ..

Jawab
Wa'alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh. Maasyaa Alloh Ibu Mey, salut dengan semangatnya. HS itu tidak harus semua hal diberikan dari orang tua. HS itu mengeluarkan potensi, dan mengembangkan kecintaan belajar dan ilmu. Semangat ini harus dimiliki oleh semua anggota keluarga. Tak usah ragu untuk menghadiri majelis ilmu bersama dengan sang anak. Atau memanggil guru ke rumah. Posisi orang tua dalam HS akan bergeser, sehingga anak menjadi pembelajar mandiri dan kita bersama-sama dia belajar ilmu agama.

Perhatikan keutamaan penuntut ilmu (agama), maasyaa Alloh luar biasa. Saat ini kajian-kajian bisa diunduh dengan mudah, simpan di gadget, lalu dengarkan saat pikiran tenang. Alloohu a'lam

3. NN
Bagaimana cara mengukur pencapaian anak dalam kurikulum HS? Terutama pencapaian pembelajaran tentang dienul Islam, misalnya pengokohan aqidah anak?

Jawab
Pencapaian ilmu agama terlihat antara lain dari sikap, perilaku dan pikiran si anak. Misalnya saat di swalayan, si anak sudah sangat haus, lalu dia segera ambil air mineral di dekat kasir, dengan sabar ia antri di kasir, membayar minuman, lalu mencari tempat untuk duduk. Ia duduk, membuka botol minuman, membaca bismillah, lalu menenggak air minum tsb. Hal itu menunjukkan pemahaman anak akan sikap sabar menahan haus, antri tertib, adab minum. 

4. Bunda Meliz.
Dari keempat hal yang tersampaikan, mana yang perlu jadi prioritas. Mana yang paling awal diajarkan atau ditekankan pada anak-anak?

Jawab
Semuanya bisa secara simultan diajarkan, karena saling terkait. Misalnya tentang ibadah, akan juga membahas adab. Belajar akidah, akan menyinggung ibadah juga. Kalau untuk keperluan raport, saya ujian lisan saja ke anak-anak.

Evaluasi secara non formal tentu setiap hari, dengan mengawasi perilaku (pengawasan yang wajar, tidak berlebihan). Kalau evaluasi dalam rangka pengisian raport, setiap akhir semester (tiap keluarga tentu punya pola yg berbeda).

5. Bunda Istina
Untuk raport itu kita membuat sendiri atau bagaimana? Jika akan mengikuti ujian kesetaraan apakah raport itu bisa diterima jika kita membuat sndr?
Dengan putra bu maya 3 orang tsb, bagaimana mengatur jadwal dengan anak-anak yang berbeda umur? Mulai umur berapa putra / putri bu maya HS?  Kadang kami memberikan amanah yang lebih banyak pada sang kakak dibanding adiknya, karena kami melihat ia mampu. Tapi terkadang si kakak merasa tidak terima karena amanahnya lebih banyak dibanding adek. Bagaimana menjelaskan hal ini ke kakak agar kami bisa bersikap adil?

Teknis pengajaran yang dilakukan bu maya selama ini bagaimana? Mungkin bisa diberi contoh apa saja yang dilakukan putra putrinya dari bangun tidur sampai tidur lagi? Prosentase pengajaran tentang aqidah, adab, fikih dengan ilmu-ilmu lain bisa digambarkan seperti apa? Sehingga kami punya tolok ukur prioritas.

Jawab
Tentang raport, saya ikut komunitas. Teman saya yang hs juga, mengurus izin pembentukan yayasan, lalu secara formal bisa menerbitkan raport. Karena sudah terdaftar, maka diterima. Sudah beberapa anak yang mengikuti ujian kesetaraan dengan bekal raport tsb dan lulus.

Jadwal anak-anak bergantian antara menulis dan membaca dengan setoran hafalan. Kalau anak ke 3 targetnya hanya hafalan dan iqro. Anak pertama pelan-pelan sudah bisa mandiri belajarnya. Otomatis yang perlu perhatian ketat anak ke 2. Materi-materi diniyyah kami menggunakan buku pelajaran dari penerbit attuqo untuk dipelajari bersama, ditambah buku ustul tsalatsah untuk dibaca ibu, ensiklopedia adab utk ibu, dll.

6. Bunda Heksa
Assalamu’alaykum bunda Maya Ummu Abdillah. Saya bunda Heksa, sulung kami tahun ini setara kelas 1. Kami memutuskan memulai HS karena kondisi mengikuti suami yang berpindah pindah. Sebagaimana yang telah bunda Maya sampaikan, kami berusaha memprioritaskan topik dasar wajib seperti tema aqidah, belajar wajib shalat, aplikasi doa-doa, beberapa adab, hafalan dan membaca al Quran. Untuk penyaluran hobi seperti menggambar ekspresi, membantu di dapur dan bermain peran bersama teman kami fasilitasi sebagai selingan. Kami 3-4 bulan ini ritmenya seperti menerbangkan layang layang, terutama tentang bab adab dan interaksi quran. Meski alhamdulillah kami berusaha sekuat mungkin mengembalikan pada jalur yang seharusnya. Yang hendak saya konsultasikan bunda :
1.Sejauh mana toleransi kita jika suatu saat topik perencanaan kita jauh melenceng pelaksanaanya. Selain kami baru pengalaman pertama menerapkan HS, putri sulung kami suka tiba-tiba meminta topik yang dia sangat ingin tau. Berapa lama umumnya ananda akan dapat diajak kerjasama / dilibatkan merancang topik?
2. Apakah ada grup khusus orangtua pelaku HS yang membahas kurikulum dan pelaksanaanya?

Jawab
Bunda heksa, baarokalloohu fiikum semoga usaha keluarga bunda mendapat berkah dari Allah. Semakin lama hs, saya merasa sebenarnya kita sedang mengajar diri kita sendiri. Kita sedang mengolah emosi kita, belajar menyampaikan ide ke anak-anak dengan baik.

Anak saya sejak usia 8th meminta jadwal, yang akhirnya dia susun dan jalankan sendiri. Apabila terlintas ide di otaknya, dia biasanya bilang ke saya, lalu saya tanya bagaimana perencanaanya, apa tujuannya, dsb. Minimal anak-anak hafalan dan baca quran, itu bagi keluarga kami. Jika ia sudah melakukan 2 hal itu, ia boleh memulai proyeknya. Maksud saya, bila jadwal tak berjalan, minimal anak-anak hafalan dan memmbaca quran.

7. Anik Uminya Baim
Bagaimana cara mengukur pencapaian anak dalam kurikulum hs? Terutama pencapaian pembelajaran tentang dienul Islam, misalnya pengokohan aqidah anak.

Jawab
Pencapaian dalam ilmu agama terlihat dari perilaku, sikap, dan pemikiran anak sehari-hari. Misalnya, si anak bukunya hilang, lalu ia mulai menyalahkan saudaranya, dst. Ingatkan, kak, kita kan tau bahwa semua terjadi atas kehendak Alloh, adik hanya menjadi sebab saja hilangnya buku kakak.

8. Wulan
Saya seorang working mom, sejauh ini selama saya pulang kerja saya sudah melakukan aktivitas semacam homeschooling dengan putra saya (3th). Sebetulnya ingin seperti bunda maya yang bisa full homeschooling, tapi karena saya bekerja jadi saya pikir belum bisa sepenuhnya (karena masih via sekolah). Bagaimana tips nya ya bun? Selain itu selama bunda maya menghomeschooling putra putrinya, bagaimana tips anger management ketika ada kendala (misal anak sedang sensitif,dll). Makasih

Jawab
Maasyaa Alloh, luar biasa, bekerja dan masih menyempatkan diri. Yang sudah Bunda lakukan biasa dikenal dg istilah afterschooling. Coba pelajari lg jenis kegiatan ini. Homeschooling bukan segalanya, belum tentu lebih baik, hs hanyalah salah satu cara dari sekian ribu cara kita memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua.

Soal mengatasi emosi marah, jujur saja ini sangat sulit, saya pun masih sering terpancing untuk marah-marah. Yang saya lakukan kalau sudah begitu biasanya diam dulu. Tinggalkan tempat, lalu kembali jika sudah tenang.

9. Yanti
Saya yanti, anak saya 6th, baru memulai HS. Untuk berjaga-jaga jika nantinya anak kami ingin meneruskan di sekolah formal (untuk tingkat SMP),  kira-kira umur berapakah kami bisa memberinya pelajaran akademis secara lebih serius? Ataukah kami sekarang ini hanya cukup memperkenalkan saja dengan ilmu-ilmu akademis tersebut? Terimakasih sebelumnya.

Jawab
Untuk bunda Yanti, tiap anak berbeda bun, kalau anak saya tidak terjadwal sampai 7th. Ia meminta sendiri belajar terstruktur. Jalani saja, berikan lingkungan dan stimulasi terus menerus, insyaa alloh akan keluar potensi, keberanian, inisiatif, dll.

KESIMPULAN
Kesimpulan kita malam ini, prioritas kita dalam mendidik anak-anak adalah dalam hal ilmu agama. Ilmu dunia adalah sesuatu yang mudah dan bisa dipelajari kapan saja. Rujuklah urusan-urusan agama pada buku-buku yang sahih, ulama yang soleh. Semoga Alloh meridhoi langkah kita, aamiin. 


PROFIL NARA SUMBER
Nama : Maya Dwilestari, Ibu dari 3 oranganak  (11, 8, 5). Menjalani HS sejak 2007.
Domisili Bitung, Sulawesi Utara
Suami PNS
Profil saya dan suami: biasa-biasa saja, kami tinggal berpindah-pindah sesuai penugasan negara.
Anak-anak senang bermain, membuat sesuatu, belajar berbisnis, dsb
Fb saya: maya umm abdillah
Blog: www,ummujita.blogspot.com

Disusun ulang dari :

Sumber : DISKUSI HSMN SEMARANG 
Tema : Pelajaran Pertama dan Utama yang harus ada dalam Kurikulum Keluarga Muslim
Tanggal 14 Oktober 2015
Pukul 20.00 - 22.00 WIB
Narasumber : Bunda Maya Ummu Abdillah
Notulen : Hanik Asmawati
Moderator : Kamilia dan Suri

Oct 20, 2015

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #1

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #1
Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #1
Gambar : komunitashsmnsemarang.wordpress
Artikel berikut merupakan resume diskusi komunitas Homeschooling Muslim Nusantara - Semarang, semoga bermanfaat ya, Bunda..

PENGANTAR MATERI Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim oleh narasumber :

Bismillah, sebelumnya saya ingin sampaikan bahwa yang saya bicarakan nanti merupakan pengalaman kami. Saya mohon koreksinya dan mari sama-sama belajar.

"Ibu, bayangkanlah nanti, saat hari perhitungan: anak-anak akan ditanya tentang ibadah mereka, akhlak mereka, dan semua tindakan mereka. Bayangkan, saat anak-anak kita menyebut nama kita dalam perjalanan mereka memperoleh ilmu. Berapa banyak huruf alquran yang akan mereka ucapkan, berapa ribu kali alfatihah yang mereka baca, sepanjang usia mereka. Bayangkan, bayangkan jika itu semua ia dengar dari lisan ibunya, ia ikuti huruf demi huruf ayat-ayat Allah dari lisan kita, sampai akhirnya ia tuntaskan alfatihahnya, juz 30 nya, hafalan alquran seluruhnya"


Saat menjalankan Homeschooling (selanjutnya disingkat HS), kita akan merasa begitu tingginya otoritas kita sebagai orang tua dalam memilihkan materi untuk anak-anak. Orang tua bisa memilihkan olahraga apapun, jenis bacaan apapun, komunitas apapun. Tentu mudah, karena tidak ada batasan dari kurikulum target, nilai, dan sebagainya.

Berkeliaran pula dengan bebasnya wacana pendidikan dengan sistem 'unschooling', belajar tanpa batas dan sejenisnya. Pada prakteknya, tak bisa dipungkiri kita akan melewati masa-masa 'tak terjadwal', tetapi akan sangat rugi apabila kita melewati masa-masa keemasan anak tanpa sebuah 'rencana'.

Keluarga muslim haruslah memiliki visi keagamaan, baik yang menjalankan HS maupun tidak. Keluarga HS muslim harus memiliki arah yang jelas tentang pendidikan agama keluarga, rujukan yang benar, target, juga evaluasi.


Modal utama dalam melaksanakan HS adalah ilmu. Orang tua harus memulai dirinya suka belajar, haus akan ilmu. Begitu banyaknya ilmu Allah, sedangkan usia kita di dunia sangat terbatas, membuatkita harusmenentukan prioritas dlm menuntut ilmu.

Prioritas untuk dipelajari orang tua:

1. Tauhid dan Akidah. 
Akidah adalah keyakinan yang kuat dari seorang muslim tentang prinsip-prinsip mendasar dalam Islam. Keyakinan tersebut akan menjadikannya tenang, teguh prinsip. Akidah yang benar merupakan dasar dari segala tindakan seorang muslim, serta merupakan syarat sahnya amalan. Tauhid maknanya meyakini keEsaan Allah dalam rububiyahnya, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan nama-nama dan sifat-sifatNya.

Perkara paling besar yang Allah perintahkan adalah tauhid, lawannya ada syirik. Syirik adalah dosa yang paling besar. Risalah para nabi dan rasul semuanya diawali dengan menyeru kaum mereka untuk menyembah kepada Allah dan menjauhi syirik. Maka, sangatlah penting sebuah keluarga mempelajari tauhid, dalam rangka menjaga keluarga mereka dari api neraka.

Implementasinya dalam  keluarga, Ayah dan ibu mempelajari akidah yang benar, memahami, dan mengamalkannya. Maka, secra tidak sadar, hal tersebut akan mempengaruhi sikap, cara pandang, serta perkataan ayah dan ibu di saat mendampingi anak-anak belajar.


Sumber2 untuk belajar akidah:
  1. Buku
  2. Sumber online: almanhaj.or.id; Muslim.or.id; Rumaysho.com
  3. Mendatangi majelis ilmu(ini yang utama)
  4. Mendatangkan guru ke rumah.

2. Adab
Adab meliputi seluruh tata cara hidup yang dicontohkan Rosul shollalloohu alaihi wasallam. Dimulai sejak bangun tidur sampai akan tidur kembali, Para ulama zaman dahulu banyak menghabiskan waktu mereka untuk mempelajari adab sebelum belajar ilmu. Pelajarilah adab dari kitab ulama terdahulu. Ambillah dalil-dalil yang shohih, amalkan segala yang sudah dipelajari.

Prakteknya dalam keluarga, ibu/Ayah membaca doa saat akan masuk kamar mandi. Ibu menjawab salam ayah yang baru masuk rumah, membiasakan makan dengan duduk, menggunakan tangan kanan, dst. Pelajaran adab lebih mudah diajarkan dengan contoh, terutama untuk anak-anak yang masih balita.

3. Fiqih
Utamakan mempelajari fiqih dari amalan-amalan utama, seperti sholat, bersuci, berpuasa. Sebelum mengajarkan anak-anak, terlebih dahulu perbaiki cara beribadah orang tua. Cara berwudhu, gerakan-gerakan sholat yang benar, berpuasa yang benar, doa-doa yang benar. Hendaknya setiap keluarga memiliki buku-buku dari ulama terdahulu. Buku-buku fiqih, sejarah, hadits, dsb.

4. Al-Quran
Ajari anak-anak membaca Alquran. Mulai dari huruf hijaiyah, sampai (jika mampu) mengantarkannya menghafal keseluruhannya. Pelajari juga ilmu tajwid, baca bersama-sama anak, katakan kepada mereka bahwa kita juga perlu untuk memperbaiki bacaan kita, sehingga konteksnya adalah sama-sama belajar.

Setidaknya sebagai orang tua kita telah memberikan pondasi yang penting dalam 4 materi di atas. Selanjutnya, saat anak-anak semakin besar, tambahlah terus ilmu kita. Kalaupun kalah berpacu dengan waktu, mintalah bantuan dengan mendatangi ustad/ustadzah, mendatangkan ustad/ustadzah, mengikutkan anak ke majelis ilmu, dan sebagainya.

SAAT RASA MALAS DAN BOSAN MERAYU
Dua hal inilah musuh kita dalam belajar. Rasa malas dari dalam diri kita, dan rasa bosan yang dihembuskan syaitan kepada para penuntut ilmu.

Ibu, bayangkanlah nanti, saat hari perhitungan: anak-anak akan ditanya tentang ibadah mereka, akhlak mereka, dan semua tindakan mereka. Bayangkan, saat anak-anak kita menyebut nama kita dalam perjalanan mereka memperoleh ilmu. Berapa banyak huruf alquran yang akan mereka ucapkan, berapa ribu kali alfatihah yang mereka baca, sepanjang usia mereka. Bayangkan, bayangkan jika itu semua ia dengar dari lisan ibunya, ia ikuti huruf demi huruf ayat-ayat Allah dari lisan kita, sampai akhirnya ia tuntaskan alfatihahnya, juz 30 nya, hafalan alquran seluruhnya. Jika semua itu dilandasi niat ikhlas hanya mengharap wajah alloh, tak ada kesempatan untuk rasa malas, tak ada celah untuk bosan.

Variasikan kegiatan di rumah, bedakan tekniknya. Semoga Alloh memudahkan langkah kita dalam mendidik generasi Qur'ani
.
Sesi Tanya Jawab Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya. Semoga bermanfaat

Salam Hangat,



PROFIL NARA SUMBER
Nama : Maya Dwilestari, Ibu dari 3 oranganak  (11, 8, 5). Menjalani HS sejak 2007.
Domisili Bitung, Sulawesi Utara
Suami PNS
Profil saya dan suami: biasa-biasa saja, kami tinggal berpindah-pindah sesuai penugasan negara.
Anak-anak senang bermain, membuat sesuatu, belajar berbisnis, dsb
Fb saya: maya umm abdillah
Blog: www,ummujita.blogspot.com

Disusun ulang dari :

Sumber : DISKUSI HSMN SEMARANG 
Tema : Pelajaran Pertama dan Utama yang harus ada dalam Kurikulum Keluarga Muslim
Tanggal 14 Oktober 2015
Pukul 20.00 - 22.00 WIB

Narasumber : Bunda Maya Ummu Abdillah
Notulen : Hanik Asmawati
Moderator : Kamilia dan Suri

Oct 6, 2015

Masih Ingin Latihan Taekwondo?

Masih Ingin Latihan Taekwondo?
Masih Ingin Latihan Taekwondo?
"Masih ingin latihan taekwondo?"  Pertanyaan itu saya utarakan pada putra sulung kami yang berusia 7 tahun, setelah dua hari yang lalu ia kalah dalam pertandingan taekwondo pertamanya. 

Memang si Abang ini termasuk anak yang dominan kinestetiknya alias meyukai kegiatan fisik dan susah berdiam diri. Maka wajarlah ketika ia memilih ikut ekstra (les) taekwondo - disamping menggambar dan English class - sejak di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Dan saat ada undangan pertandingan taekwondo pun ia dengan semangat ingin ikut serta. Alasannya sangat sederhana, "Abang kepingin dapat piala" ungkapnya. Hehehe...

Saking semangatnya, ia juga meminta kepada sang ayah untuk dibelikan pelindung badan atau body protector yang nanti akan digunakan saat lomba. Sang ayah yang juga tak kalah semangat, akhirnya memesan berbagai pelindung di toko martial art kepada seorang teman. Lucunya, begitu barang yang terdiri dari sebuah body protector, sepasang sarung tangan, sepasang pelindung siku dan lutut, diantar ke rumah kami, harganya sempet bikin shock begitu liat nota! Jebul ternyata, barang begituan mahal amat yak, parahnya lagi yang pesen juga nggak tanya dulu di awal berapa kisaran harganya. Wkwkwk... Okelah, demi anak. Hags..

Gara-gara kejadian itu, saya sampaikan kepada si Abang agar berlatih sungguh-sungguh dan semangat, biar berbagai perlengkapannya yang aduhai harganya itu tidak sia-sia aka mubadzir. Eee.. yang dikasih tau jawabnya, "Abang itu udah mikir terus tiap hari, Bund.. Gimana ya nanti enaknya pas lomba pakai gerakan apa..", "Terus?" timpal saya. "Nah, akhirnya sekarang Abang udah tau! Nanti nih kalau pas duel, misalnya Abang ketendang atau jatuh, kan dihitung tuh sampai 10. Awalnya Abang mau diam dulu, pas ngitungnya sampai tengah-tengah langsung deh Abang 'GABRES' dari bawah!" Hahahaha... Sumpah, sampai ngakak guling-guling saya dengernya. Mana ada teknik gabres-gabresan di taekwondo???? #ketawasampenangis

Saat hari-H tiba, si sulung ditemani oleh ayah dan adiknya, sementara saya menghadiri acara parenting yang diadakan oleh sekolah (ditunggu aja postingan tentang seminar parentingnya ya! ^_^). Dan ternyata, abang kalah dalam duel pertamanya. Melihat video yang diambil oleh ayahnya saja saya sampai ketawa terus, nendangnya belum bisa sampai atas, ditendang pasrah aja, giliran mau nendang balik malah jatuh sendiri. Hehehe... Si Abang malu, down, dan sempat bilang kalau mau ganti masuk club sepak bola aja!

Dari situ saya melakukan percakapan ringan dengan si Abang dan mengevaluasi tentang les taekwondonya yang kurang lebih setahun ini, ada beberapa poin yang bisa saya tangkap :
  • Abang suka taekwondo karena bisa banyak gerak dan bikin berkeringat (anak satu ini memang hoby banget main sampe keringetan).
  • Selama les abang kurang fokus pada kualitas tendangan, tenaga dll. Mottonya mah yang penting bisa lari-lari dan keringetan. Wkwkwk
  • Pertandingan pertama ini membuatnya berpikir lagi, apakah ia senang mengikuti kejuaraan (meski saat ini kalah), atau cukup taekwondo sebagai ilmu pertahanan diri yang harus dimiliki.
  • Bagaimana rencana selanjutnya? Apakah ingin mengikuti tes kenaikan tingkat berikutnya? Atau ingin mencoba olah raga lain (diputuskan sepak bola atau tenis).
Selama proses evaluasi ini saya dan sang ayah berusaha tetap memberinya apresiasi bahwa ia berani bertanding, artinya ia punya rasa percaya diri, berani menerima pukulan dan berani menerima kekalahan (peluuk Bang Kucilll...).

Ternyata eh ternyata, sehari setelah pertandingan Abang diberitahu teman sekelasnya bahwa sebenarnya ia mendapat juara 3 dari segi poin. WOW, Unbelievable! Hanya sayangnya si Abang sudah pulang terlebih dulu ketika pertandingan belum selesai, jadi pialanya tidak bisa diberikan. Meski begitu Abang sangat senang karena usahanya membuahkan hasil, walau sedikit sedih juga karena tidak bisa pegang piala. Katanya, "Padahal Abang kan belum pernah pegang piala lho, Bund.." Hihihi...

"Belajarlah! Karena Tak Ada Seorang pun yang Lahir Dalam Keadaan Pintar."

Akhirnya si Abang bertekad untuk terus belajar taekwondo, lebih sungguh-sungguh, lebih semangat, ingin ikut tes kenaikan tingkat, ingin tetap ikut kejuaraan berikutnya, "kalah lagi juga nggak papa", tekadnya. Dan saya hanya mengajaknya berucap Subhanallah Wal Hamdulillah, Allah selalu melihat usaha hambaNYA, kalau nggak menang sekarang, pasti lain kali. Kalau belum juga, pasti di kejuaraan yang lain, atau bahkan mungkin di bidang yang lain. Percaya saja, tidak ada orang yang tak bisa apa-apa selama mau berusaha.

Mengutip ungkapan mahfudzot favorit saya sejak jaman sekolah dulu, "Belajarlah! Karena Tak Ada Seorang pun yang Lahir Dalam Keadaan Pintar." Jadi saat ditanya kembali, "Masih Ingin Latihan Taekwondo?" ia pun menganggukkan kepalanya semangat dengan senyum dan mata berbinar. ^_^

Salam Hangat, 



Oct 5, 2015

Info Penting yang Jarang Diketahui (Have To Know)

Info Penting yang Jarang Diketahui (Have To Know)
Info Penting yang Jarang Diketahui (Have To Know)
INFO PENTING YANG JARANG DIKETAHUI! 
(HAVE TO KNOW)

Berikut beberapa Info Penting yang Jarang Diketahui (Have To Know) :

  1. Nomor Darurat untuk telepon genggam adalah 112. Jika Anda sedang di daerah yang tidak dapat menerima sinyal Hand Phone dan perlu memanggil pertolongan, silakan tekan 112 dan Hand Phone akan mencari secara otomatis network apapun yang ada untuk menyambungkan nomor darurat bagi anda. Dan yang menarik, nomor 112 dapat ditekan biarpun keypad dalam kondisi terkunci atau di lock.
  2. Kunci mobil anda ketinggalan di dalam mobil? Anda memakai kunci remote? Jika kunci Anda ketinggalan dalam mobil dan remote cadangannya berada di rumah, segera telpon orang rumah menggunakan Hand Phone, lalu dekatkan Hand Phone anda kurang lebih 30 cm dari mobil dan minta orang rumah untuk menekan tombol pembuka pada remote cadangan yang ada dirumah. Pada waktu menekan tombol pembuka remote, minta orang yang berada di rumah mendekatkan remotenya ke telepon cellular yang dipakainya.
  3. Tips untuk mengecheck keabsahan mobil / motor anda. Ketik: contoh JATIM L8630NS (no plat mobil anda) Kirim ke 1717, nanti Anda akan mendapat balasan dari kepolisian mengenai data-data kendaraan anda, tips ini juga berguna untuk mengetahui data-data mobil bekas yang hendak Anda beli.
  4. Tidak banyak orang tau bahwa call centre kepolisian adalah 110
  5. Lupa dengan nomor sendiri? Tidak perlu meminta orang lain untuk missedcall, ada cara cek no sendiri :

Axis : *2#
Xl : *123*7*3*1*1#
Smartfren : *995#
Simpati : *808#
Tri : *998#
Indosat : *123*30#

Semoga Info Penting yang Jarang Diketahui (Have To Know) bermanfaat ya, Bunda..

Salam Hangat,