Nov 27, 2015

Televisi, Haruskah Dihindari?

Televisi, Haruskah Dihindari?
Televisi, Haruskah Dihindari? via sandracelly.blogspot.com
Televisi, Haruskah Dihindari? Mari sama-sama kita simak artikel pemicu berikut ini.

Ah, televisi! Tua-muda, besar-kecil, lulusan SD hingga profesor sekalipun terlihat larut dalam emosi masing-masing sambil menatap layar benda elektronik itu. Begitulah, tanpa pandang bulu, televisi berhasil mengikat perhatian orang untuk terus menerus menyimak konten-kontennya yang bervariasi. Tak pelak, banyak yang akhirnya kecanduan menonton televisi tanpa memperhatikan dampak negatif tv pada anak.

Iklan. Sebagian orang, termasuk kami, mulai menggelisahkan kehadiran televisi dalam rumah. Selain resiko kecanduan, dengan menonton televisi, itu artinya kami harus bersedia melahap iklan-iklan komersil yang tanpa ampun menjejali mata dan otak. Iklan-iklan berkelas maupun asal-asalan, semua membawa pesan yang sama: Beli! Beli! Beli! yang tentu saja mendorong perilaku konsumtif. Bisa dikatakan, semua iklan juga mengaku sebagai produk terbaik dan berkualitas. Tetapi, coba cek di bagian belakang kemasan produk : Berapa persen bahan-bahan alami yang terkandung dalam sebuah produk yang mengklaim dirinya ‘alami’? Berapa persen bahan-bahan sehat yang terkandung dalam produk makanan / minuman yang mengaku bagus untuk kesehatan dan dapat meningkatkan kecerdasan? Tayangan macam inikah yang sebenarnya kita inginkan untuk keluarga, terutama anak-anak?

Program-Program Sajian. Dewasa ini, banyak orangtua yang mengeluhkan konten acara talkshow dan sinema berseri yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tanpa harus disebutkan, kami yakin pembaca punya kegelisahan sendiri tentang bagaimana kedua jenis acara yang sedang menguasai lebih dari 50% tayangan televisi itu menampilkan adegan minim nilai etika-moral, adegan yang memicu penontonnya untuk terjerumus ke dalam pergaulan bebas, dan cara berpikir pendek penuh angan-angan, sehingga mengabaikan realitas dunia nyata. Juga, berita-berita yang dipenuhi dengan berita negatif (politik kotor, korupsi, kriminalitas). Padahal, masih banyak hal positif yang bisa dijadikan perimbangan komposisi berita. Rasanya, orang semakin tenggelam dalam dunia persepsi bentukan media televisi.

Memilih ‘Makan Sendiri’ Daripada ‘Disuapi’. Banyak orang akhirnya berlangganan TV Kabel, sehingga mereka bisa memilih sendiri ‘menu-menu’ tontonan yang dianggap ‘sehat’. Menolak untuk terus-menerus ‘disuapi’ oleh pertelevisian lokal yang semakin tak jelas arahnya. Channel luar negeri, terutama, memang lebih minim iklan. Atau, seperti yang kami lakukan 3 tahun belakangan ini, sekalian meniadakan benda yang yang bernama televisi. No TV.

Tips Membentuk Kebiasaan ‘NO TV’ Bersama Anak
Bila kita memutuskan hendak menjalankan program NO TV dalam keluarga, tentulah amat berkaitan erat dengan pola asuh yang diterapkan pada anak. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara yang tepat supaya bisa membentuk kebiasaan ‘NO TV’ bersama anak dengan konflik seminimal mungkin. Bahkan kalau bisa, anak merasakan kegembiraan baru dengan tiadanya televisi. Dan, inilah yang kami lakukan untuk menerapkan kebiasaan baru tersebut :

1. Tidak menyediakan televisi di rumah
Jual atau berikan televisi pada orang lain begitu memutuskan program NO TV di rumah. Selama masih ada televisi di rumah, akan lebih berat mempertahankan konsistensi kebiasaan NO TV yang sedang dibentuk.

2. Terangkan alasannya
Edukasi tentang bahaya televisi dilakukan secara bertahap, dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Kami juga sering membacakan berita / artikel yang memuat efek buruk menonton televisi, dan berusaha menghubungkannya dengan keseharian anak. Misal: Coba perhatikan, kamu jadi lesu dan tidak punya ide kalau terlalu lama menonton tivi. Bandingkan kalau kamu bermain lari-larian? Terasa lebih ceria dan segar. Mana yang lebih enak?

3. Menambah intensitas kebersamaan keluarga
Ketika anak ‘tidak mendapatkan televisi’, pastikan ia ‘mendapatkan ayah dan ibunya’ lebih banyak daripada biasanya. Lakukanlah kegiatan yang menekankan kebersamaan keluarga, seperti olahraga pagi, mengobrol, bermain, membaca, piknik, dll. Hal ini yang bisa menambah kedekatan hubungan keluarga secara emosional. Kebutuhan emosional anak akan kelekatan pada orangtua tidak bisa digantikan oleh tontonan sebagus apapun, sebab inilah kebutuhan naturalnya, seperti kebutuhan makan dan minum. Meskipun anak terlihat anteng di depan televisi menonton program seberkualitas apapun, tidak akan dapat mengisi kebutuhan emosional ini.

4. Menyediakan buku-buku untuk dibaca anak
Kami tak segan-segan mengalokasikan dana untuk membeli buku-buku baru untuk anak, membuat semacam perpustakaan kecil di tempat biasanya televisi diletakkan. Jadi, setiap kali anak ingin menonton televisi, yang ia temukan adalah buku-buku itu. Lalu, kami juga menyiapkan kertas-kertas, spidol, mainan-mainan kesukaan anak, dll. sebagai alternatif kegiatan. Saat beraktifitas, kami biasa memutar musik kesukaan anak, sehingga suasana terasa menyenangkan dan hidup.

5. Mengakses Youtube
Kami menemukan bahwa Youtube adalah media yang cukup efektif sebagai sumber tontonan yang sangat minim iklan. Dengan syarat, dilakukan pendampingan hingga orangtua yakin anak bisa melakukan akses positif secara mandiri. Kami memberi waktu terbatas kurang lebih 2 jam per hari untuk kegiatan ini. Perlu diperhatikan, bahwa orangtua juga tidak boleh mengakses internet berlebihan (setidaknya di depan anak). Supaya tidak beralih menjadi kecanduan gadget/internet karena kekosongan ‘posisi’ tv.

6. Peraturan yang Lentur
Seperti batang-batang bambu yang mampu bertahan dalam terpaan angin kencang karena kelenturannya, begitulah kurang-lebih cara kami menerapkan peraturan di rumah.
Contoh kasus. Bila anak menonton televisi di rumah teman atau kakek nenek, maka kami biarkan, selama masih dalam batas wajar. Malahan, kami menggunakan momen ini untuk mengedukasi anak tentang tayangan televisi. Menanyakan apa pendapatnya tentang tontonan itu, membenturkannya dengan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga kami, menggali argumen-argumen, dan membiarkannya memutuskan apakah tontonan itu baik atau buruk. Cara ini diharapkan bisa membangun auto-sensor dalam diri anak, sehingga di masa depan, otomatis akan menyeleksi tontonan meski tanpa orangtua. Tetapi bila dirasa telah berlebihan, kami akan menawari anak alternatif kegiatan lain yang sama-sama menyenangkan, misalnya bermain bersama di luar rumah atau jalan-jalan.

7. Bimbing anak menemukan hobinya.
Terus gali minat anak, dengan tujuan menemukan apa yang sungguh-sungguh menjadi hobi. Bila anak sudah menemukan hobinya, ia tidak akan terpikir untuk nonton televisi lagi. Sebab waktunya sudah tercurahkan untuk melakoni hobinya seharian.

8. Teladan dan Inisiatif Orangtua
Program NO TV tidak akan bisa sukses dengan modal teriakan, hukuman, atau omelan. Teladan dan inisiatif orangtua memainkan peran yang sangat besar di sini. Isilah waktu luang dengan melakukan kreatifitas, menekuni hobi, membaca, atau hal-hal positif lain yang pantas untuk diteladani anak. Bangunlah komunikasi yang akrab dengan anak, dan tambah intensitas kebersamaan keluarga.

Televisi, Bukan Harga Mati. Sebelum memutuskan memberikan televisi pada orang lain, ada pertanyaan yang selalu menghantui kami: Bagaimana kami bisa hidup tanpa televisi? Apakah kami akan menjadi manusia bodoh, terbelakang, dan tidak bahagia? Namun kekhawatiran kami tidak terbukti. Mengakses informasi tidak melulu harus dari televisi. Banyak hal produktif yang bisa kami lakukan, karena tak ada lagi waktu nongkrong di depan televisi. Komunikasi kami terasa lebih akrab. Hari-hari terlewat dengan lebih bermakna. Pikiran dan perasaan kami terasa lebih segar.
Lambat laun, kami pun menemukan jawabannya: Ya, kami lebih bahagia hidup tanpa televisi. “No TV? No cry!”

Sumber : www.aprinesia.com/dampak-negatif-tv-pada-anak/

Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat
HSMN.Timtemadiskusi@gmail.com
Rabu, 25 Nopember 2015

Nov 25, 2015

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga

Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga via theawarnesscenter.com
Manajemen Marah Ibu Rumah Tangga: “Ibu, Sedikiiit Lagi Bersabar, Tahan Marahnya...”
Oleh Innu Virgiani, Psi.
لاَ تَغْضَبْ وِلَكَ الْجَنَّة"Janganlah engkau marah, niscaya engkau mendapat surga" (H.R at-Thobarony dan dishahihkan oleh al-Mundziri)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata bahwa "sabar merupakan kewajiban sebagaimana disepakati oleh ummat ini.” Maka orang yang berakal mesti meyakini, bahwa segalanya telah ditentukan, ada yang telah terjadi sehingga tidak bisa ditolak, juga ada yang belum terjadi, kala itu manusia sama sekali tidak ikut serta dalam menyusunnya, lalu jika terpaksa ia mendapatkan sesuatu yang menyakitkan, maka hendaklah ia bersiap siaga dengan dua tanduk yang berguna, yaitu Kesabaran dan Ridha (keikhlasan).

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Marah
Jika seseorang mulai tersulut emosinya untuk marah, hal yang harus dilakukan untuk menahan atau meredakan kemarahan adalah:

1. Diam, tidak berkata apa-apa
وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ
Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany).

2. Mengingat-ingat keutamaan yang sangat besar karena menahan amarah.

3. Mengucapkan ta’awwudz : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim. Nabi pernah melihat dua orang bertikai dan saling mencela, sehingga timbul kemarahan dari salah satunya. Kemudian Nabi menyatakan : Aku  sungguh tahu suatu kalimat yang bisa menghilangkan (perasaan marahnya) : A’udzu billaahi minasysyaithoonir rojiim (H.R al-Bukhari dan Muslim)

4. Merubah posisi : dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk. Jika dengan itu kemarahan menjadi hilang (itulah yang diharapkan). Jika masih belum hilang, hendaknya berbaring (H.R Abu Dawud)

Dalam psikologi, Apa itu marah? Marah adalah rantai reaksi tubuh dan pikiran yang terjadi sangat cepat sebagai salah satu respon terhadap ancaman, gangguan, serangan, frustasi, rasa sakit atau ketidakadilan. Apa kunci untuk mengatasi rasa marah? Mengganti reaksi atau tingkah laku marah menjadi mekanisme coping (penyesuaian / mengatasi masalah) dan respon yang tepat, misalnya dengan melakukan manajemen marah.

Apa itu manajemen marah? Pengaturan rasa marah agar bisa disalurkan secara konstruktif (membangun sesuatu yang baik).

Salah satu konsep manajemen marah adalah RETHINK (Fetsch & Schultz & Wahler), yaitu Recognice, Emphatize, Think, Hear, Integrate, Keep Focus. Untuk mudahnya, dalam Bahasa Indonesia: K E Pik Dengar Libat Sadar Jaga

K = Kenali marahmu (sama siapa, karena apa, biasanya apa yang terjadi jika kita merasa marah, sebesar apa rasa marah kita saat itu)

E = Empati (bayangkan deh anak / orang lain yang bikin marah itu situasinya sedang bagaimana.  pasti tiap orang punya alasan, termasuk anak)

Pik = Pikir (pikir lagi dari situasi yang beda, misalnya, ubah sudut pandang masalah, bagaimana cara penyelesaian yang baik selain marah, bagaimana juga cara agar marah kita berkurang. Pikir, pikir, pikir..

Dengar = Dengarkan kata-kata orang lain atau anak, baik kata-kata verbalnya, maupun bahasa non verbalnya, tingkatkan kesadaran diri kita!

Libat = libatkan perasaan positif (rasa sayang kita, cinta kasih, hormat, dll)  kepada yang membuat kita marah dengan menyampaikan kesedihan / kecemasan / malu / capek yang kita rasakan karena sebenernya biasanya justru salah 1 dari 4 perasaan itu sumber masalahnya.

Dengan menggunakan perasaan positif, kita akan jauh lebih tenang ketika merasa marah, insya Allah. Misalnya, karena kita menyadari bahwa sebenarnya kita sayang sama anak tapi juga sedih anak kita pipis masih “sembarangan”, bilangnya "Mama sayang adek, tapi mama juga sedih adek pipis di lantai, mama merasa capek harus mengepel lantai lagi, sayang..” sambil mencium anak.

Sadar = Sadar diri, perasaan, mulut, anggota badan. Mengenali dan menyadari perubahan tubuh (fisiologis & psikologis) saat sedang marah agar dapat mengantisipasi agar tidak sampai ke tindak agresi.

Jaga = Jaga fokus. Masalah A ya masalah A, tidak usah dibawa-bawa yang lain, apalagi masa lalu. Misalnya, anak belum mandi. Intinya kan anak badannya kotor, tidak perlu bawa-bawa emang nih anak susah dibilangin, males ngerjain PR, boro-boro bantuin orang tua beres-beres, bangun siang, nonton tv mulu, tiaaap hari nyusahin orang tua aja, kemarin udah mecahin gelas, dll. Cukup fokus pada masalah anak belum mandi! ok!

Kalau anak menangis terus, merengek...  Aku MERASA marah
Kalau anak sulit dinasehati... Aku MERASA marah
Kalau rumah berantakan disini dan disana, anak-anak pun bertengkar selalu... Aku MERASA marah
Kalau anak berbohong... Aku MERASA marah
Ketika Aku merasa marah, ingiiiin sekali rasanya 'ngomong' yang kasar, berteriak atau memukul

Tapi MERASA marah itu beda lho ternyata dengan MELAKUKANNYA. MERASA “doang”, tidak sama dengan mengEKSPRESIKAN perilaku marah. Merasa, tidak akan menyakiti diriku, anak, atau membuat kita dalam masalah

Ketika ingin pengen berkata kasar, teriak, memukul anak, ada hal lain yang bisa kulakukan. Selalu mengingatkan diri dalam hati, “sabar, sebentaaar lagi marahnya.. sebentaar lagi.. dan terus menahan diri” (teruslah berlatih menjadikan ini sebagai pikiran otomatis). Lalu aku bisa menjauh dulu dari anak-anak sebentar, untuk menarik naafaaas paaaanjaaang. Atau mengambil wudhu, dzikir dan sholat. Atau sekedar berkaca di kamar mandi/ di kamar melihat ekspresi wajah kita
Atau malah langsung mencoba tersenyum, mengelus, membelai, mencium anak-anak “Menikmati” kebersamaan yang tidak akan terulang di hari berikutnya. Karena waktu tidak pernah kembali mundur, tiap detik, tidak akan pernah terulang di esok hari.
http://jendelaummahat.blogspot.com/2014/03/manajemen-marah.html?m=1   

Tegas dan Marah adalah 2 hal yang berbeda. Sebagaimana cinta dan benci. Jangan ragu untuk tegas dalam mengingatkan anak dan mengajarkan disiplin. Konsisten dengan peraturan yang telah disepakati. Namun, jangan hanya Tegas, tapi juga menunjukkan kasih sayang secara jelas.

Sebagaimana istri yang tau kalau suaminya mencintainya tidak hanya dengan perbuatan dan kata kata. Kepada anak juga demikian. Bermudah-mudahlah dalam menyampaikan cinta, maaf, terimakasih, kasih sayang pada anak. Bukan bermudah-mudahan menghamburkan kemarahan. Karena anak kita, sungguh memang anak-anak yang akan terus tumbuh. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi ibu yang baik, aamiin..


Sumber :
Resume Kulwapp HSMN Bogor 2
22 Oktober 2015
Tema : Manajemen Marah
Narasumber : Innu Virgiani, S.Psi
Ibu Rumah Tangga yang pernah belajar di Fak Psikologi UI, 
dan mengambil spesialisasi Psikolog Klinis. 
Saat ini saya memiliki 1 orang Putri, dan berdomisili di Amerika Serikat,

Nov 24, 2015

Allah itu Hebat ya, Bunda!

Allah itu Hebat ya, Bunda!
Allah itu Hebat ya, Bunda! via warungsatekamu.org
Mengenalkan Allah kepada anak itu susah? Banget.. Sebagaimana telah kita bahas pada artikel Mengenalkan Allah pada Anak, saya yakin semua Bunda akan setuju bahwa menanamkan akidah adalah PR terberat bagi para orang tua. Terlebih di era yang serba bebas informasi seperti saat ini, apalah jadinya bila putra putri kita tak dibekali akidah yang kuat sejak dini.

Saya sepenuhnya sadar, bahwa menjelaskan konsep KeTuhanan kepada anak sangatlah sulit. Apalagi saat yang kita jelaskan bersifat sangat abstrak, namun tentunya kita tidak boleh merasa letih untuk terus mengulang dan mengulang kembali agar benar-benar terpatri dalam jiwa mereka. Jangankan anak-anak, saya yang kini telah menjadi seorang ibu pun mungkin baru belakangan ini sedikit dipahamkan tentang iman, iman yang tak hanya sekedar ketundukan.

Dalam artikel Allah itu Hebat ya, Bunda! ini saya hanya sekedar sharing pengalaman tentang pengenalan Allah pada kedua putra kami yang kini berusia 7 dan 4 tahun.

Sebagaimana para Bunda yang lain, saya juga mengenalkan Allah melalui ibadah sebagai bentuk rasa syukur, apa saja perbuatan yang menjadikan Allah sayang kepada kita, sebaliknya hal apa saja yang membuat Allah murka. (Baca : Mengenalkan Allah pada Anak

Bertawakkal atau mengembalikan segala sesuatu kepada Allah adalah salah satu kuncinya. Bukankah tak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa ijin Allah? Bukankah tak ada kesia-siaan dari segala yang diciptakan Allah? 

Misalnya, saat si Sulung tiba-tiba sakit perut. Kalau dulu, saya yang merasa sebagai orang yang paham tentang obat, ditunjang dengan kotak obat saya yang udah kaya toko obat berjalan, otomatis akan bersegara memberikan obat sakit perut pada si Sulung, dengan harapan segera berkurang rasa sakitnya.

Sekarang? Karena kami sedang belajar menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, setiap si Sulung (Abang) sakit perut, saya memijatnya menggunakan lotion sambil mengajaknya mengingat-ingat, "Kira-kira kenapa ya sampai Abang diperingatkan oleh Allah lewat sakit perut?" Apakah bermain terlalu lama sampai terlambat sholat? Ooh, mungkin karena tadi sempat berkata agak keras sama Bunda? Atau Abang tidak menghiraukan saat diingatkan harus istirahat. Bukankah tidak ada hal yang sia-sia? Maka sakit pun pasti ada ijin dari Allah. Bila sudah ditemukan bagian-bagian mana yang 'salah', kami mohonkan ampun bersama-sama. Alih-alih mengaduh karena kesakitan, saya ajak mereka ber-istighfar. Sang adik pun ikut berdoa "Ya Syifaa'.. Sembuhkanlah Abang Ya Allah.." 

Tentunya semua itu harus dilakukan secara terus menerus dan konsisten. Hingga kini, saat siapapun merasa kesakitan, jatuh tersandung, batuk pilek, kami akan terlebih dahulu mencari 'pesan' apa yang ingin Allah sampaikan, memohon ampun (terutama saya sebagai ibu mereka) dan beristighfar bersama-sama. Terkadang kami sampai tertidur, dan begitu bangun ternyata Allah telah menyembuhkan. Lain waktu sakitnya masih terasa, sehingga kami harus lebih 'teliti' bagian keburukan mana yang sedang dipersoalkan

Lantas apakah masih butuh obat? Tergantung, kalau batuk pilek saya yakin Bunda juga setuju untuk tidak terburu-buru memberikan obat. Namun ada kalanya saat sakit gigi & segera perlu penanganan maka kita tetap berobat, dengan terlebih dahulu 'mencari kesalahan' dan mohon ampun bersama-sama. Dari situlah saya juga belajar untuk tidak sombong karena merasa sebagai 'ahli obat', belajar untuk menuju Allah terlebih dahulu karena dinyatakan dalam Al-Qur'an QS. Asy-Syu'ara : 80 "Dan jika aku sakit, maka Allah lah yang menyembuhkan", belajar pula untuk tidak panik karena yakin dalam setiap kejadian ada pelajaran Allah yang ingin disampaikan. Agar secara otomatis anak-anak ikut belajar selalu membawa Allah dalam kondisi apapun.

Sampai suatu hari saya merasa Allah begitu sayang kepada kami, begitu sayangnya hingga Allah berkenan membuka pintu hati kedua putra kami melalui tanda kebesaranNYA. Suatu malam saat suami sedang dinas keluar kota, selepas sholat isya, saya dan anak-anak keluar rumah menggunakan motor berniat untuk membeli lauk. Begitu keluar dari rumah makan, angin bertiup sangat kencang diiringi bunyi guntur bersahutan dan gerimis sudah mulai turun. Saat itu di kendaraan hanya ada 2 jas hujan untuk kami bertiga. Pastinya bila hujan semakin deras akan ada yang basah kuyup, anak-anak pun akan kedinginan. Maka sepanjang jalan menuju ke rumah saya mengajak kedua putra kami mengucap tasbih "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaa ha illAllah...dst.." dan berdoa bersama memohon ketundukan, "Ya Allah, tundukkanlah angin, petir dan hujan yang sedang Allah turunkan.. Jika bukan Allah yang menundukkan maka kami tidak akan mampu menguasainya.. Lindungilah kami Ya Allah agar selamat hingga ke rumah". Benar-benar tak ada sedetik pun terlewat tanpa doa kami bertiga sepanjang jalan saat gerimis mulai turun.

Ketika hampir sampai, saya berpesan pada si Sulung, "Abang, nanti sampai rumah langsung turun minta tolong dibukain pagar ya, biar motornya bisa cepat masuk teras sebelum hujan deras..". Setelah Abang berlari membuka pagar, saya pun segera memasukkan motor kedalam teras. Dan sedetik kemudian, BYURRRRRRR... Hujan turun dengan derasnya bagai ditumpahkan dari langit. Kami bertiga pun serentak berucap "Alhamdulillah... Subhanallah, Maha Suci Allah". Allah menurunkan hujan TEPAT setelah kendaraan kami masuk ke teras, bahkan pintu rumah pun belum sempat kami buka.

Setelah kejadian itu, Abang berkomentar "Allah itu Hebat ya, Bund! Ternyata Allah benar-benar bisa mendengar kalau kita berdoa" dengan masih terheran-heran dengan bukti kebesaran Allah. Sejak itu rasanya Allah memudahkan tugas saya, karena si Sulung kini merasa yakin bahwa meski Allah tak kasat mata, ternyata Allah itu amatlah dekat dan mengabulkan doa-doa hambaNYA. 

"Dan bila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, Maka sungguh AKU dekat. AKU mengabulkan permohonan orang yang mendoa, bila ia berdoa kepadaKU.."
QS Al-Baqarah : 186

Maha Benar Allah dengan segala firmanNYA.

Nov 10, 2015

Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?

Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?
Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak?
APA YANG HARUS DITANAMKAN ORANG TUA PADA ANAK?
Bila Bunda memiliki putra putri yang mulai bersekolah, sejatinya kita sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk menanamkan tiga hal berikut pada mereka :

1. Trust to The Teacher / Percaya pada Guru
Karena kita telah memberi kepercayaan pada guru untuk mendidik anak kita di sekolah, maka bagaimana mungkin mereka akan belajar jika tanpa rasa percaya?

Titik kritis pada point ini adalah bahwa kita sebagai orang tua tidak boleh protes / menunjukkan ketidaksetujuan / complain kepada guru di depan anak. Sebagaimana Ayah dan Bunda TIDAK BOLEH bertengkar di hadapan anak, maka jangan pula kita runtuhkan kepercayaan mereka terhadap guru.

2. Memuliakan Guru
Sebagaimana telah kita bahas pada artikel 'RESPECT' (dapat dibaca di http://parentingid.blogspot.co.id/2015/10/respect.html), bahwa memuliakan guru sebagai ahlul ilmu adalah kunci dari keberkahan ilmu yang akan diperoleh. 

Ingat berapa banyak pelajaran yang pernah kita peroleh selama di bangku sekolah? Dan berapa banyak yang masih kita ingat, bahkan terapkan hingga kini? Mungkin kita juga harus merenung, jangan-jangan karena kita dulu terlalu menyepelekan guru yang menyampaikan mata pelajaran tersebut :(

3. Ikatan Batin Guru dan Murid
Sejatinya peran guru sama dengan orang tua dalam hal mendidik putra putrinya. Maka mari kita mulai dengan mengajak anak-anak berdoa dikala sang guru sakit, belajar sungguh-sungguh sehingga sang guru bangga dan jangan melakukan hal-hal buruk hingga membuat guru merasa ilmu yang diberikannya sia-sia.

Bagaimanapun guru dan murid selalu punya ikatan, bagaimana perasaan kita saat bertemu kembali dengan guru-guru SD? SMP? SMA? Adakah mereka akan bangga dengan diri kita saat ini?

Semoga artikel Apa yang Harus Ditanamkan Orang Tua pada Anak? bermanfaat, dan anak-anak kita menjadi murid yang lebih baik dari kita dimasa lalu, lebih memuliakan guru, agar keberkahan selalu ada dalam setiap ilmu yang mereka pelajari.

Salam Hangat,