Nov 18, 2016

UKM, Bangkitnya Bisnis Anak Negeri

UKM, Bangkitnya Bisnis Anak Negeri
UKM Sebagai Penggerak Perekonomian Rakyat

Usaha Kecil Menengah (UKM) memang mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah sejak 5 tahun terakhir. Saat ini begitu kita membuka internet, sudah berjajar laman website yang menjual hasil karya para pengusaha UKM. Tentu saja ini menjadi kabar baik bagi kita semua, dengan Bangkitnya Usaha Anak Negeri diharapkan kita bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Tahun lalu saya sempat menghadiri undangan dari Kemenparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) di Hotel Santika Premiere tentang UKM. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa industri UKM kita masih sangat minim, jika dibandingkan dengan Republik Rakyat Tiongkok yang lebih dari separuh pendapatan negaranya berasal dari UKM! Bayangkan! Pantas saja ada anekdot mengatakan, "Tuhan menciptakan bumi dengan seluruh makhluk hidup di dalamnya, yang selain itu adalah buatan China!" Huks, miris memang, tapi itulah yang terjadi saat ini.

Saya pribadi sangat mendukung para pengusaha UKM. Bahkan, saya lebih memilih untuk membeli barang-barang UKM dibanding barang branded tapi KW, hehe.. Ada semacam keterikatan emosional saat saya bisa mendapatkan barang secara custom, dan tentunya hal itu tidak dapat saya temui pada barang pabrikan.

Beberapa jenis hasil UKM yang paling sering saya nikmati diantaranya :

Salah satunya kripik tempe ini, asli buatan anak negeri. Dengan kemasan yang catchy, kripik ini sangat diminati di kantin yang saya kelola. Ada lagi cireng, cilok, teri krispy yang memang secara rutin bekerjasama dengan kami. Insya Allah segera menyusul nugget frozen kuro hadir di kantin kami. Bisa dibilang, itulah wujud rasa nasionalisme saya. Haiisssshh.. ^_^



UKM, Bangkitnya Bisnis Anak Negeri

Sekali lagi, saya orang yang sangat menyukai sentuhan emosional. Alih-alih membeli tas 'branded' kualitas nomor sekian (karena ada KW1, KW2, dst), tas produk UKM selalu menjadi pilihan karena bisa dipesan secara custom.

UKM, Bangkitnya Bisnis Anak Negeri

Ajang pameran di pusat perbelanjaan tampaknya menjadi sarana ampuh untuk mengenalkan produk-produk UKM, terutama fashion dan hijab. Karena mereka selalu menawarkan desain yang terbatas dengan kualitas serta keunikan masing-masing, tak heran pameran UKM menjadi salah satu ajang menambah koleksi saya.

Produk Kecantikan
Saat ini para pelaku UKM sedang sangat gencar melakukan 'kampanye' produk berbasic Back To Nature, termasuk dalam produk kecantikan. Terbukti sabun herbal di kantin yang saya kelola pun sangat digemari pelanggan dan selalu repeat order. Karena penasaran, akhirnya saya pun memakainya. Ternyata wanginya yang segar khas dedaunan serta tekstur sabun yang lembut menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan saat ini saya, orang tua dan saudara yang lain pun ikutan repeat order. Hebat kan, produk UKM?

Makin bertumbuhnya produk UKM di negeri ini merupakan gejala yang sangat baik, bahkan saya berharap ide 'Beli Indonesia' bisa tercapai dengan UKM Sebagai Penggerak Perekonomian Rakyat, tentunya dengan support kita semua yang secara bertahap mulai beralih ke produk-produk dalam negeri. Sebagaimana saya yang sekarang mulai suka cek "merk" terlebih dahulu setiap belanja kebutuhan dasar, sebagai bentuk kontribusi saya kepada teman-teman sebangsa.


Tulisan ini diikutkan dalam giveaway UKM Sebagai Roda Penggerak Perekonomian Rakyat yang diadakan Agustina DJ

Nov 16, 2016

Tantangan Mengelola Bisnis Warisan

Tantangan Mengelola Bisnis Warisan
Tantangan Mengelola Bisnis Warisan
Siapa sih yang tidak ingin punya bisnis sendiri? Saya yakin setiap orang pasti ingin mandiri secara finansial, dan memiliki bisnis sendiri merupakan salah satu cara untuk mengeksplorasi seluruh ketrampilan dan kemampuan pengelolaan kita dalam berbagai hal. Tentu tujuan umum yang diharapkan adalah adanya Passive Income di kemudian hari. 

Namun bagaimana ceritanya bila tiba-tiba kita diwarisi bisnis? Senang? Pasti, tetapi kebahagiaan itu akan diikuti dengan berbagai Tantangan Mengelola Bisnis Warisan. Kira-kira apa saja sih tantangannya? Yuk, kita bahas satu persatu.

Diragukan
Yup, ketika tiba-tiba kita dipercaya untuk meneruskan pengelolaan sebuah usaha yang sudah berjalan, tantangan pertamanya adalah akan ada banyak orang yang meragukan kita. Baik para relasi maupun karyawan yang menjadi tanggung jawab kita. And it's normal, orang akan mulai memperhatikan perubahan apa yang akan terjadi, apa kelebihan dan kekurangan kita, serta membandingkan cara kerja kita dengan para pendahulu. Saran saya, kuatlah dan secepatnya belajar.

Senioritas
Tantangan berikutnya, para pegawai senior akan mulai mendekati kita satu demi satu dan memberikan begitu banyak saran. Wajar saja, mereka sudah bertahun-tahun bekerja di tempat itu dibanding kita yang baru datang, dan tiba-tiba harus mereka terima sebagai "BOS". Hal itu juga berarti mereka ingin menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya. Jadi dengarkan setiap saran yang disampaikan dan catat hal-hal yang perlu kita perhatikan.

Penataan Keuangan
Nah, bagian ini mulai rada-rada susah. Kita harus memilah mana yang bisa diberi amanah soal uang, mana yang tidak. Karena sejatinya watak asli seseorang akan terlihat ketika diberi amanah dan berhadapan dengan uang. Untung rugi dalam usaha itu biasa, ditipu dalam usaha juga biasa, tapi jangan lupa untuk selalu mengambil pelajarannya. Keledai saja tidak akan jatuh di lubang yang sama!

Kedekatan dengan Karyawan
Sangat penting bagi kita yang Mengelola Bisnis Warisan untuk bisa dekat secara personal dengan para karyawan yang membantu kita. Buat mereka merasa diperhatikan sebagaimana pendahulu kita memperhatikan mereka. Bahkan kalau bisa, harus lebih baik. Baik dari segi pribadi maupun kesejahteraannya. Buat mereka merasa tempat kerja adalah rumah kedua, dan kita adalah keluarganya. Tambahan bonus tak terduga saat usaha sedang ramai akan mempermudah terjalinnya 'kelekatan emosional' antara kita dan karyawan. Dengan begitu, loyalitas serta dedikasi akan muncul dengan sendirinya.

Tegas dan Professional
Hal ini yang sering kali sulit dipraktekkan kepada para karyawan senior. Ada rasa sungkan, tidak enak hati dan sebagainya. Semua itu wajar, namun tetaplah belajar untuk bersikap tegas bila ada yang kurang pas, atau kita sendiri yang akan menanggung resikonya.

Komitmen dalam Bersedekah
Dalam komitmen bersedekah terkandung rasa terima kasih kita kepada Allah, Sang Pemberi Rezeki serta tanggung jawab kita kepada lingkungan sosial, termasuk keluarga, kerabat, tetangga dan  umat dalam cakupan yang lebih luas. Berjanjilah pada diri sendiri di hadapan Allah bahwa saya akan menyisihkan sekian dari hasil usaha ini, baik saat lapang maupun sempit. Komitmen dalam bersedekah akan diuji ketika hasil usaha sedang pas-pasan atau bahkan defisit, berusahalah untuk tetap memenuhi janji kita sendiri. Hasil yang kita rasakan pasti akan luar biasa. Saya tidak bicara hasil dalam waktu singkat ya, bukan juga hasil berupa uang. Karena sedekah bukan sulap, bukan pula menuntut pada Tuhan untuk dikembalikan dalam jumlah lebih banyak, tetapi Insya Allah Tuhan juga akan berkomitmen dalam menjaga keberlangsungan usaha kita.

Terus Belajar
Seorang usahawan haruslah pembelajar sejati, belajar dari kesalahan, belajar dari orang yang lebih berpengalaman, belajar untuk terus melakukan inovasi, belajar untuk selalu memperbaiki kualitas ibadah dan sedekah. Karena begitu kita berhenti, saat itulah kita akan tergilas jaman. Semoga kita terus bersemangat dalam Mengelola Bisnis Warisan, ya!

Salam Hangat,
Sumber gambar : harianbernas.com

Oct 24, 2016

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Sebagaimana tertuang dalam Qs.  At - Tahrim [66]:6, "Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya Malaikat malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan... "

Maka sejatinya inilah yang kami ikhtiarkan sekuat dan semampu kami. Untuk Membersamai Anak sebagai Amanah yang telah Allah titipkan.

MEMULAI HOMESCHOOLING

Seperti kebanyakan orangtua pada umumnya, kami (narasumber, data terlampir di akhir artikel) sebenarnya ingin anak kami bersekolah di Sekolah Formal. Pada usia kurang dari 2th, putri kami sudah masuk Playgroup kemudian lanjut TK dan Sekolah Dasar selama 6 tahun. Secara Umum anak kami termasuk sebagai anak yang berprestasi, penghargaan dan piala juga cukup banyak ia peroleh. Dalam perkembangannya di Sekolah Formal banyak hal yang sebenarnya sering menjadi keluhan anak kami, namun kami belum menganggap serius ke"tidak nyaman"an anak dengan sistem persekolahan formal, yang kami lakukan hanya mencoba menenangkan anak kami agar bertahan dan tetap bisa survive di sekolah hingga lulus SD. Alhamdulillah.

Setelah lulus, kemudian kami diskusikan bersama mengenai keinginan anak kami untuk *tidak sekolah*. Saat itu kami juga belum tahu bagaimana untuk memulai HS (Homeschooling), Belum ada referensi teman pelaku HS, maupun buku. Sementara anak merasa "bebas merdeka" karena suami sudah mengiyakan keinginannya, sementara saya masih galau. Yang terfikir dan membuat kami nekat menjalani HS adalah karena Suami menguatakan dan meyakinkan. "di Akherat nanti, kita tidak ditanya lulusan SMP/ SMA atau S1 S2 dari mana? Tetapi akan ditanya Ketauhidan dan Akhlak kita..." Bismillah, kami memulai HS.

MEMBERSAMAI Anak pre AQIL BALIGH

Diawal memulai HS, kami belum buat jadwal atau kurikulum. Kami hanya Fokus pada Ibadah dan Alqur'an, Karena banyak yang tertinggal dan yang belum kami pelajari. Bunda, sejujurnya waktu belajar anak kami menjadi waktu belajar buat saya dan suami juga. Kami belajar bersama, mendiskusikan semua hal dan mengevaluasi bersama. Kami orangtua Jadi lebih seperti partner kerja. Kadang saya membantu kesulitannya atau sebaliknya. Bahkan hingga pekerjaan domestik rumah tangga sekali pun, kami lakukan bersama.

Meski sudah nekat, tetap saja ada kebimbangan di hati kecil saya sebagai seorang ibu. Akhirnya saya daftarkan ke PKBM terdekat, mengikuti program Distance Learning dengan kuantitas pertemuan 1 kali sepekan. Disini putri kami merasa berada di Sekolah Formal namun pada lingkup kecil, yang akhirnya hanya bertahan 1 semester saja.

Semester ke 2, Alhamdulillah sudah bisa menentukan Visi Misi. Mulai susun jadwal yang kami pelajari :

Tauhid, Aqidah, Syariat,  Muamalat, Pokok Pokok Agama
 Alqur'an (tilawah dan tahfiz)
 Buku Tafsir Ibnu Katsir
 Bukit Riyadush Sholihin
 Al-Adab Al Mufrad
 Ensiklopedia Adab Islam
 Al Masaail (masalah masalah agama)
 Buku buku Sejarah Islam, Peradaban Islam dll.

Life Skill n Science
 Menulis (cerpen,  artikel dan blog)
      # Sudah terbit 2 buku ( 1 kumpulan cerikta anak dan 1 antalogi cerpen Remaja)
      # Beberapa Artikel di muat oleh The Jakarta Post dan Surat Akbar
  # Penghargaan oleh Kemendikbud Finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia (2015) Bidang Cerpen
 Bahasa Asing ( Inggris, Jerman,  Turki, Tagalog,  Spanyol,  Arab,  Afrika)
    Belajar Autodidak melalui Buku dan Internet.
 Mengikuti Workshop Menulis.
 Olahraga Panahan (POPDA tk. SMP), berenang,  jogging.
 Nature Study : Belajar Di Alam  camping, tracking, pengamatan bidang kelautan,  pengamatan capung, astronomi dll.
 Speaker di beberapa event yang berkaitan dengan pendidikan dan bakat anak.

Materi Diknas
Sebagai persiapan mengikuti UN / UNPK


TANYA-JAWAB

1. Assalamu'alaikum, Mb Mey, bagaimana melatih kesabaran bagi anak usia pre aqil baligh? Dalam hal pelaksanaan ibadah bolehkan sudah ditekankan hadiah-hukuman? Jazakillah khair
Ummu Husna Bpp

JAWABAN
Waalaikumsalam  Ummu Husna. Dalam penerapan pembiasaan pelaksanaan ibadah, kami mulai dengan tahapan. Mulai dengan pengenalan,  Melihat orangtua Ibadah,  kemudian mengajarkan bacaan sholat,  mengaji,  kemudian mengajak sholat.

Ummu Husna Sholiha, sama seperti anak-anak lain juga, kadang mudah diajak sholat, kadang juga malas. Sesekali saya memberi reward jika anak melaksanakan ibadah tanpa diminta atau dipaksa. Hadiah kecil yang disukai anak. Biasanya sih cuma 1 botol yogurt sudah membuat anak happy. Namun tidak jarang kemalasan datang dan menguji kesabaran kami.

Karakter anak kami tidak suka dipaksa atau diminta dengan suara keras. Jadi saya musti menahan "kesal" dan melembutkan suara. Istighfar terus juga. Kami tidak pernah memberi "hukuman", lebih sering memberi pengertian² dan mendiskusikan kesalahan² kami bersama.

Alhamdulillah disaat usia balighnya tiba, kesadaran dan pemahaman akan kewajiban InsyaAllah sudah tertanam. Meski masih sesekali diingatkan, namun hanya sekedar mengingatkan ibadah² sunnah.

2. Bagaimana awal mula mba Mey menertibkan anak sholat saat usia 7 tahun?  Anak sulung saya kalau sholat berjamaah agak kurng betah berlama-lama, kalau sendirian, cepat sholatnya.
Bunda Titi

JAWABAN
Iyyaa... Sama Bund. Saat usia anak 7tahun bagi saya masih dalam batas toleransi. Masih susah bangun pagi, kadang waktu Ashar terlewat, karena tidur siang. Terus ajak Bund... Meski kadang anak tidak tenang. Sampaikan terus, "Anak Sholeh/a Sholatnya yang Tenang yaaa.." Supaya mendapat Rahmat, supaya Allah sayang kita. Dll . Senantiasa Do'a kita pula menyertai.

3. Mba, bagaimna caranya mempersiapkan masa baligh anak kita, dimulai dari usia berapa baiknya?
Husnul- Samarinda

JAWABAN
Masa Baligh adalah dimana anak sudah sudah faham konsep Keimanan dan Aqidah. Prosesnya, mesti dimulai sejak dalam kandungan hingga mencapai baligh.

Banyak teori-teori parenting nabawiyyah yang bisa dibaca dan dipelajari. Ada tahapan-tahapan pedidikan berdasarkan usia. Secara garis besar, pada bayi mulai diperdengarkan tilawah, kemudian semakin besar diajarkan mengucap La illahailallah, kemudian diajak sholat mengaji, dekat dengan masjid, bersosialisasi, dll.

Pembiasaa Adab sehari² seperti membaca Bismillah saat mau makan, minum dll. Atau mengenakan sandal, sepatu dengan kaki kanan terlebih dahulu  dll. Usia 7-th baru dimulai anak untuk diajarkan Sholat. Dst. Bahwa yang terpenting adalah pembiasaan yang juga dirasakan dan dilihat dari orangtua atau lingkungan terdekat akan mudah ditiru oleh anak. InsyaAllah

4. Bagaimana cara kita menghadapi masa pubertas anak HS? Terutama yang brkaitan dengan ketertarikan mereka pada lawan jenis. Apakah di usia pre aqil baligh  anak-anak sebaiknya di izinkan menggunakan medsos secara bijak dan terbatas, atau justru harus dlarang?
Yurin-Balikpapan

JAWABAN
Huhuuhuu... Pertanyaannya... Mudah menjawabnya namun penuh perjuangan prakteknya... Hihi
Bunda Yurin, pada masa masa pubertas, anak² secara biologis sudah ada ketertarikan dengan lawan jenis. Orangtua yang dekat dengan anak, akan mudah melihat tanda² yang berbeda dari anak. Tentu saja rasa ketertarikan tidak dapat Di"bendung" atau di"tutup" begitu saja. Namun insyaAllah BISA dialihkan perhatiannya terhadap hal² yang menjadi prioritas, misal tentang cita² nya ingin menjadi Hafiz/ah, ingin menjadi penulis, dll sehingga tidak ada "ruang" bagi anak untuk memikirkan hal² yang kurang berguna.

Sampaikan juga mengenai syariah  Ibadah dan tentang Halal Haram. Penting bagi orang tua memberikan pemahaman mengenai pubertas sejak usia 9 atau 10th. Saya sudah sounding tentang hal ini saat usia tersebut. Meski mungkin belum faham, namun saya sampaikan berulang-ulang tentang masa baligh yang sebentar lagi akan dihadapi.

Untuk penggunaan sosial media dapat menyesuaikan kebutuhan. Anak saya, saya ijinkan menggunakan medsos, dengan beberapa ketentuan. Secara berkala saya cek chatnya, hp tidak menggunakan password.

5. Ketika menjalani HS pernah kah anak mb. Mey mengalami kejenuhan? Bagaimana menyikapi kejenuhan pada anak atau jika menemukan anak yang ingin kembali ikut sekolah formal.
Fadila Bahabazy - Berau

JAWABAN
Sampai saat ini, anak sangat menikmati HSnya. Bahkan sebenarnya hari belajar anak dimulai dari hari Minggu hingga Sabtu ada jadwal belajar. Meski kami diluar rumah. Belajar bagi kami bukan semata² pelajaran akademis saja.

Misalnya, pada hari Idul Adha kemarin, anak terlibat dalam kepanitiaan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurban. Memang sifatnya hanya membantu kepanitiaan orangtua, namun dengan keterlibatannya, anak banyak mendapat pengalaman bersosialisasi dan berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang dan merasakan lelah, ribet, heboh menghadapi banyak masalah yang terjadi. Biasanya kami diskusikan kejadian kejadian yang patut dan tidak patut. Sehingga anak mendapat Ibroh dari pengalamannya.

Kejenuhan dengan aktifitas sehari² yang monoton tentu akan dialami anak atau semua orang, Baik anak sekolah formal maupun HS. Biasanya kami sempatkan untuk refreshing, ke mana saja yang membuat suasana berbeda, atau refreshing dirumah juga bisa. Misal kita undang saudara untuk menginap dirumah,  kemudian masak bersama,  main, sepedaan  dan aktifitas lain bersama sepupu.

Kalau anak ingin kembali ke Sekolah Formal, tentu kami akan berikan haknya. Namun akan kami yakinkan dulu bahwa keinginannya memang pilihan terbaik dengan alasan dan tujuan yang benar bisa difahami.

Karena pada prinsipnya Pilihan belajar disesuaikan dengan Tujuan dan Harapan orangtua serta sesuai Kebutuhan Anak (Baca : Visi Misi). Jika di sekolah formal dirasa bisa memenuhi tujuan kita,  maka itu menjadi pilihan terbaik. Namun tetaplah orangtua harus menjadi sumber ilmu terbaik bagi anak.

Semoga resume diskusi Membersamai Anak sebagai Amanah Allah ini bisa bermanfaat ^_^
Salam Hangat


PROFIL SINGKAT NARASUMBER
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Nama   :Meydiana Rahmawati
Nama Suami : Didik Ristanto
Nama anak  : Alifia Afflatus Zahra (14 th) HS setingkat SMA kelas 10
Aktifitas : ibu rumah tangga, ibu pelaku HS
Latar belakang pendidikan : sarjana Teknik Kimia
Domisili : Semarang

Sumber Gambar : www.sakurakidz.com
Sumber Tulisan :
*RESUME* *KULWAP* Grup HSMN *KALIMANTAN*
Rabu 14 Sept 2016*
NARASUMBER: *Mba Meydiana*
20.30-21.30 wita
*Membersamai HS-er pre-aqil baligh*
Moderator: Fatmawati
 Notulen: Yurin Syaiftiani
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

Oct 18, 2016

A to Z tentang Dyslexia

A to Z tentang Dyslexia
A to Z tentang Dyslexia
Berikut adalah tanya jawab A to Z tentang Dyslexia yang bersumber dari diskusi komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) Semarang.

1. Bunda Amalia

a. Bagaimana perbedaan anak dislexia dengan anak yg kurang distimulasi membaca?
b. Bagaimana cara menstimulasi anak yang menolak belajar membaca?

Jawab :
Anak dengan dyslexia akan terus mengalami kesulitan membaca sepanjang hidupnya, namun bukan bearti tidak akan bisa. Yang diintervensi tentu akan mengalami percepatan kualitas membaca daripada yang tidak, dan lebih bisa membuat startegi belajar yang cocok untuk dirinya sendiri.


Stimulasi belajar membaca untuk anak disleksia akan terus dilakukan selama dia sekolah, artinya orang tua dan guru harus terus belajar mencari cara dan memotiovasi anak agar mau berusaha dan belajar. Sekali lagi, mereka secara kognitif sangat baik, IQ nya minimal cerdas hingga genius, artinya mereka pasti bisa.


Membentuk sikap belajar mereka itu yang harus dipelajari oleh orang tua dan guru. Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda, mari kita kenali dan gali dari situ.


2. Bunda Rizky
  • Bila usia 2 atau 3 tahun masih belum bisa merespon jika dipanggil nama atau diajak interaksi, apakah bisa disebut disleksia? Penanganan bagaimana dan harus kemana saja?
  • Apa saja yang menjadikan anak itu disleksia? mengingat dewasa ini banyak ditemukan anak disleksia.

Jawab :
a. Belum tentu, namun banyak anak dengan disleksia diawali dengan keterlambatan berbahasa yang disebut Gangguan berbahasa Ekspesif. Apabila dikhawatirkan ada gangguan berbahasa reseptif hingga usia tsebut, dibawa untuk konsultasi dengan ahlinya sangat disarankan. Silakan cek milestone berbahasa anak, apabila anak sudah terlambat melewati setiap milestone lebih dari 6 bulan, setiap orang tua sebaiknya mulai mencari tahu kepada ahlinya. Di semarang sudah ada beberapa dokter spesialis tumbuh kembang anak.

b. Disleksia itu disandang oleh individu, dan diturunkan (bersifat hereditas). hanya sebagian kecil kasus disleksia yang terjadi karena brain injured


3. Bunda Hapsari
Anak saya 5 tahun. Kadang pakai sandal kanan kiri masih tertukar, kata "cepat2", jadi pecet2. Cebok jadi becok. Kalau adaptasi cepat dan banyak temannya. Tapi ada tanda lain seperti lupa bawa mainan dan agak ceroboh. Untuk baca tulis belum terdeteksi karena di TK alam juga belum diajarkan. Bagaimana cara terapinya? Terima kasih

Jawab :

Jika belum mendapatkan pemeriksaan (screening / assesment), yang bisa ibu lakukan adalah memberi intervensi berupa merevisi semua ucapan dia yg masih terbalik-balik, lakukan terus menerus hingga konsisten. Disleksia tidak melulu kesulitan tentang belajar CaListung (meski itu domain area kesulitannya), disleksia juga membuat anak sulit dalam hal orientasi, skala, spasial, short memory lost, sekuens.

Resiko Disleksia bisa diketahui di usia pra sekolah, meski kesepakatan profesional menyataklan diagnosanya baru bisa tegak diatas 7 tahun.


4. Bunda Meydiana
Bunda, saya punya keponakan laki-laki usia 5,8 th. Secara keseluruhan tidak ada masalah. Cuma masih selalu tanya kanan dan kiri yang mana? Apakah ini termasuk tanda-tanda disleksia? Terimakasih penjelasannya.

Jawab :

Termasuk, silakan digali lagi apabila ada tanda-tanda lainnya ya..

Ciri-ciri anak dengan resiko disleksia di usia Prasekolah :

  • Kidal atau tidak terampil jika hanya menggunakan 1 tangan saja
  • Bingung membedakan sisi kanan dan kiri
  • Grusa-grusu atau tidak melakukan sesuatu tanpa terorganisir
  • Miskin kosa kata, banyak menggunakan kata ganti 'ini-itu'
  • Kesulitan memilih kosa kata yang tepat, misalnya 'kolam yang tebal' padahal maksudnya 'kolam yang dalam'.
  • Jadi kalau dia bercerita tidak runut, nampak kesulitan mengungkapkan ceritanya, banyak kata-kata diganti dengan ini itu, semua teman dipanggil "teman" karena tidak hapal namanya.

5. tanggapan dari bunda Amalia

Anak saya apabila di tanya lisan misal r-u-m-a-h, bisa mengeja "rumah", tetapi ketika melihat tulisannya, dia kesulitan, bahkan menolak melihat tulisannya. Sampai usianya sekarang 7 tahun masih sering bertanya mana kanan-kiri. Apakah saya bisa mewaspadai anak saya disleksia?

Jawab :

Boleh diwaspadai. Kasus-kasus neurologis seperti disleksia jarang berdiri tunggal, banyak temannya. Namanya dysgraphia (kesulitan menulis/gambar), Dyscalculia (kesulitan di area berhitung & logika) dan teman-teman lainnya seperti DHD/ADD/OCD bahkan ODD

Lebih baik curiga daripada kecolongan. Anak disleksia secara fisik nampak baik-baik saja, kan secara kognitif mereka cerdas. Thats why sering disebut invisible disabilities. Banyak kasus anak disleksia terlambat didiagnosa, sekitar kelas 4 keatas, dampaknya sudah luas. Pemeriksaan dini amat disarankan agar anak dengan resiko disleksia/disleksia tidak perlu menggalami kegagalan dalam self  esteem nya :)



7. Bunda Susi

Apakah anak disleksia pasti tidak semangat bersekolah? Dan apakah anak yang menolak berangkat sekolah kemungkinan besar mengalami disleksia?

Jawab :

Belum tentu, perlu dicari tahu lebih detail mengapa anak tidak semangat bersekolah/menolak pergi ke sekolah. Mungkin awalnya bisa ditanya dari hati ke hati si anak kenapa tidak mau sekolah atau bisa ditanyakan ke sekolah kira-kira anak kita ada hambatan apa saja di sekolah ya bunda..



8. Bunda Khaira
Pemeriksaan dislexia ke mana? Ke psikolog atau bagian perkembangan anak di rumah sakit?


9. Bunda Tiwi
menyimak diskusi diatas, langkah kongkritnya kita bisa tes kan anak kita kemana ya? Psikolog/ dokter tumbuh kembang/ dokter saraf? Saran rekomendasi untuk daerah Semarang ke siapa?

Jawab :

Bisa kepada keduanya bu, silahkan hunting siapa yang paling paham mengenai hal tersebut. Protokol WHO menyatakan bisa kepada semua yang bunda Tiwi bilang termasuk konsultan syaraf anak. Saya belum punya rekomendasi untuk wilayah Semarang, tapi saya yakin pasti ada yang bisa. Tapi titip, cari ahli yang ilmunya benar, komplit & komprehensif ya!



10. Tanggapan Bu Meydiana 
Oh berarti cek ke smua ya biar mantap, dari sisi psikolog, tumbuh kembng dan saraf.

Jawab :
Betul, perhatikan juga backgroundnya ya bu, banyak ahli yang juga terjebak dengan keilmuan semu. Kita harus lebih cerdas memilih. Mohon maaf saya cerita mengapa itu penting. Beberapa minggu lalu, di Asosiasi Disleksia Indonesia mendapat anak baru usia 14 tahun yang didiagnosa sejak kecilnya autis. setelah diperiksa kembali ternyata anak ini disleksia berat dengan IQ 90 an, bayangkan kesalahan diagnosa bertahin-tahuin menyebabkan anak ini mendapatkan perlakuan, pendidikan dan pola asuh yang tidak tepat sama sekali. Semoga tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini ya.



11. Bunda Marlina
Assalamualaikum Bun, saya juga mau tanya, apa beda disleksia dengan ADHD? Anak saya umur 12 tahun, baru bisa baca umur 10 tahun, namun sampai sekarang dia masih minder dan tidak mau bermain dngan temen sebayanya, maunya bermain dengan anak yang lebih kecil atau orang dewasa. Dia sangat sensitif, bila tersinggung dengan temannya tidak mau brangkat ke TPQ. Saya sudah memberi pngertian kalau temannya itu tidak ada yang nakal, bagaimana caranya memotivasi agar dia percaya diri dan bisa menangani sendiri masalah dengan temannya, karena dia sudah berumur 12 tahun.


Untuk anak disleksia yang sudah baik, minimal tingkat perkembangannya bisa apa bun? Dari segi sosial emosional, bahasa dan kognitifnya?

Jawab :

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik diarea Calistung pada anak cerdas dengan IQ normal - ke atas.
ADHD adalah Attention Deficit Hyperactive Dysorder, gangguan prilaku yang ditandai dengan inatensi di berbagai setting. Anak ADHD sering ditemukan dalam performance yang super petakilan, benar-benar tidak bisa diam, banyak bergerak tanpa tujuan yang jelas.



Ada baiknya Bunda Marlina, mengajak ananda "ngobrol" sama om tante psikolog ya, supaya diketahui apa yang membuat ananda bersikap/berprilaku demikian. Untuk anak desleksia yang sudah baik, minimal tingkat perkembangannya :
Sosial : Bisa berteman dengan teman-temannya dengan lebih baik, demikian juga dengan orang dewasa di sekitarnya.
Emosional : Bisa mengenali dan mengatur emosinya tepat sesuai konteks
Bahasa : Bisa membaca dan menulis sesuai/ mendekati tahapan membacanya



12. Bunda Dian
Untuk anak disleksia yang mengalami kesulitan dengan komunikasi dan sosialisasi, apa sajakah yang bisa dilakukan dan diberikan orang tua kepada si anak? Apakah menyekolahkan anak termasuk bisa menjadi pilihan? Atau ada pilihan lain?


Jawab :
Banyak sebetulnya, melatih kepercayaan diri anak bisa dilakukan dengan sabar dan tepat, self esteem yang baik dan positif akan membuat anak nyaman berkomunikasi dengan peer groupnya sehingga kehidupan sosialnya pun jadi lebih menyenangkan. Its okay untuk anak tau dia disleksia sehingga dia bisa dibantu untuk mengetahui kelebihan dirinya.


Bantu anak dalam kesulitannya dan dorong anak pada kelebihannya. Banyak minat bakat bisa dikembangkan untuk dia merasa PD sehingga tidak merasa minder dalam bersosialisasi. Ajak anak berkomunikasi secara intensif, dengarkan apa yang dia sampaikan dengan sabaaaaaarrrr, bantu dia menata kata-kata dengan tepat, tidak marah/menyindir/tertawa pada kesalahannya, perbaiki dengan kasih sayang penuh, sehingga dia merasa nyaman berproses melalui "kesalahan-kesalahan" teersebut.

Paradigma pendidikan pun perlu kita rubah, tidak satu metodepun dimuka bumi ini adalah yang terbaik, tetapi kita bisa memilihkan yang paling dibutuhkan oleh anak kita. Yang penting anak mau dan senang hati belajar, potensinya berkembang di semua aspek dengan maksimal. Peluk erat semua anak-anak kita ya ...


13. Bunda Bidari

Menanggapi jawaban yang sudah disampaikan bunda Sasa mengenai ahli yang benar, komplit dan komprehensif di atas. Bolehkah dijelaskan kriterianya, Bunda?

Jawab :

saya akan menjawab berdasarkan pengalaman pribadi saja ya bu supaya tidak keluar dari etika netralitas meski saya dari ADI.
Yang saya tahu, dari 50++ dr. spesialis anak neuropediatri di indonesia, hanya 2 diantara mereka yang mendalami dengan intens area neurobehaviour, satu di Bandung dan satu di Jakarta (saya domisili di Bandung). Setelah saya mempelajari bahwa kasus-kasus neurologis sangat banyak dan berkomorbid demikian rumitnya, jelaslah memilih ahli yang tepat menjadi sangat penting.

Saya pun sering mendapatkan perdebatan mengenai siapa yang berhak memeriksa anak dengan suspect gangguan neurobehaviour, apakah SpA, neuroped atau psikolog. Padahal di Inggris, prof. DR. Angela Fawcett, salah satu mbah buyut pakar neurobehaviour adalah seorang psikolog dan banyak sekali meminta kerja sama dengan para pakar neuropediatri di seluruh dunia.

Teman-teman psikolog saya pun (adik saya pun lulusan psikologi UNDIP) menyatakan pembelajaran bahasan tsb diatas hanya sepintas diberikan dibangku kuliah. sehingga banyak praktisi yang dipercaya publik sangat mungkin missdiagnosa.

Beberapa missdiagnosa yang sering trejadi adalah diagnosa ADHD, itu sampai sekitar 60% ++, anak-anak dengan mental retardasi sering misdiagnosa sebagai autis karena berperilaku autistik, anak dengan gangguan dengar berat plus MR ada yang didiagnosa autistik dan lain-lain banyak sekali.

Cerita saya mudah-mudahan bisa jadi gambaran kenapa disleksia is not as simple as difficulties in reading area, anak saya #1 Dyslexia, dyscalculia, dysgraphia, dyspaxia & ADD dengan 1Q 121, dramanya kayak film India. anak #2 Gifted & dyslexia IQ 131, yang #3 Gangguan berbahasa ekspresif. Keadaan yang "memusingkan' tsb mendorong saya memilih pertolongan yang tepat.

Walau di Semarang saya belum bisa mereferensikan seseorang, mudah-mudahan Allah bukakan dan mudahkan jalan kita ya. Tapi bila teman-teman membutuhkan bantuan dari ADI, feel free to contact me

 
14. Bunda Tari
Ana mau bertanya tentang anak kami yang mengalami disleksia dan hyperaktif. Alhamdulillah sudah menjalani terapi di Rumah Sakit. Terlihat banyak sekali perkembangan dalam cara melogika, dalam wicara sudah lancar, namun ada beberapa terlihat sedikit artikulasi yang kurang. Kendala kami sampaikan saat ini anak kami dalam usia 10 th belum bisa membaca huruf abjad. Bagaimana cara mengajarkan membaca huruf abjad sedangkan yang dilihat anak kami mengalami hurufnya memutar / tidak fokus untuk membaca? Jazakillah bun..



Jawab :
Dear bunda, wa alaykumn salam, boleh saya tahu hasil tes IQ nya berapa? Silahkan dilanjutkan apa yang disarankan oleh pihak RS ya, berikan terus akomodasi berupa remediasi di area kesulitan membacanya, meski akan jadi perjalanan panjang insya Allah setiap ketekunan akan memberikan hasil ya, semoga selalu istiqomah.

Tips mendampingi anak dengan disleksia adalah SABAR TAK TERHITUNG. Disleksia disandang seumur hidup, sehingga pendampingan kitapun sepanjang hayat :), tidak akan kita memiki kesabaran tersebut tanpa izin dan hidayah Sang Maha Pencipta. Mintalah selalu kepada sang Khalik ya, menangis, kesal, marah tidak dilarang namun tetap tawakal, berdamai denngan keadaan, ikhlas dan yakin tidak ada produk Tuhan yang gagal. Allah sudah berikan kehidupan dengan manualnya, tugas kita mencari manualnya ya teman-teman


Putra Ummu Tari IQ 120, subhanallah, ananda cerdas secara kognitif, silahkan diberikan akomodasi belajar di sekolah dan dirumah ya, perbanyak remedial belajar diarea kesulitannya, explore cara-cara belajar membaca untuk mencari metode yang ananda bisa kuasai. Untuk hyperactivity nya, silahkan dilanjutkan pengobatannya sesuai petunjuk dokter ya



Wassalamualaikum wr wb 
Semoga resume A to Z tentang Dyslexia ini bermanfaat ^,^




RESUME DISKUSI GRUP HSMN SEMARANG
Tema : DYSLEXIA 
Pembicara : Erlyza Prasty Irwansyah ST.MT.
Pukul : 12.07 - 14.30 WIB

Profil Pembicara:
erlyza prasty irwansyah ST.MM
Ibu dengan anak-anak disleksia
Ketua DPSG Indonesia & sekertaris ADI

Domisili Bandung (keluarga besar di ungaran)
Moderator: Bunda Sasa
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara

 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web:
hsmuslimnusantara.org

Sep 28, 2016

Sharing Session - Homeschooling Keluarga Ayeman

Sharing Session - Homeschooling Keluarga Ayeman
Sharing Session - Homeschooling Keluarga Ayeman
Berikut merupakan rangkuman Sharing Session - Homeschooling Keluarga Ayeman, yang merupakan anggota komunitas Homeschooling Muslim Nusantara Bandung, dengan Abah dan Ambu Ayeman sebagai narasumber. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua.

Bagaimana acuan tugas perkembangan Ayeman? Apa ada daftar ceklist yang sudah dan ingin dicapai ayeman secara lebih detail, misal dalam hal ini sudah, dan yang belum ini dst.

Ambu ayeman: 
Acuan tugas perkembangan, check list nggak ada. Kami cenderung melihat perkembangan langsung. Misalnya kami pernah khawatir karena Ayeman ga tertarik sepedahan, padahal di masa kecil kami kayaknya bersepeda adalah menu wajib, hehe. Lalu tiap pagi abah ngajak Ayeman sepedahan sambil abah jogging. Sampai tertarik menjadikan kegiatan fisik menu hariannya. Tapi ngga ada target waktu.

Abah ayeman 
menambahkan ambu sedikit, yang jadi perhatian utama kami saat usia Ayeman sekarang adalah kecintaan ayeman terhadap belajar. Jadi walaupun kita aware dengan tugas perjembangan anak, kita sangat hati-hati untuk tidak menjadikan itu beban. Kalau menurut kita ada yang perlu dikejar, misalnya tadi kata ambu naik sepeda, kita siapkan rencana. Terutama alokasi waktu dari saya atau ambu. Kita sangat hati-hati supaya Ayeman tidak terbebani bisa naik sepeda. Jadi fokus kita, gimana dia bisa mulai menyenangi naik sepeda. dan effortnya jadi jauh lebih banyak.

Kita sering bicarain tentang perlunya bisa sepeda, terus Ayeman sedang senang peperangan, kita sebutin kalau skill naek sepeda itu penting dalam peperangan, terus saya temenin naik sepeda sambil ngobrol kaditu kadieu, sambil ngumpulin buah pinus, dan memang waktu yang perlu disiapkan banyak. Mudah-mudahan jadi investasi kecintaan ayeman terhadap belajar.

Ambu ayeman: 
Dengan teman seusianya Ayeman main pagi (sambil sepedahan) dan sore di dta, saat abah ambu kajian, dan saat teman ke rumah. Sisanya banyak main pretend sama abah.
*dta = tpa 
pretend = main peran
misalnya pingin jadi astronot main ke bulan.

Abah ayeman‬: 
tpa tiap hari senin-jumat jam 4-5.30 sore, walaupun jumat sering bolos karena ikut abah ambu kajian ^_^ dan main sama temennya (lari-lari) di tempat kajian.


Pernah ada permintaan dari ayeman untuk sekolah ga ambu?
Ambu ayeman: 
Sejauh ini ga ada, tapi kami tetap mempersiapkan kemungkinan ini. tetep nabung dan cari tau sekolah yang ideal sesuai visi misi kami


Mau tanya pembagian peran abah sama ambu gimana?
Ambu ayeman: 
Abah jadi kepsek dan tukang bebersih kelas, Ambu jadi guru dan tukang masak. Ayeman juga jadi guru kadang-kadang. Abah spesialisasi kegiatan fisik dan murajaah, Ambu semua pelajaran lainnya. Ambu bikin rencana, abah periksa sebelum acc. Begitu kurang lebih dan disesuaikan keluangan waktu. weekdays abah cuma bisa pagi dan setelah ngantor.


Itu teh udah disepakti dan direncanakan dari pas menentukan visi misi? Ayeman keren jadi guru?Inget pas playdate jadi storyteller meni sabar ngadepin bocil-bocil, hehehe
Ambu ayeman: 
Ayeman suka ngajar walopun bodor hehe


Ambu bikin rencana-rencana gitu biasanya kapan? Terus bikin rencananya diliat berdasarkan apa? Apa aja yang diobservasi?
Ambu ayeman: 
Bikin rencananya pas ada ide dan waktu. Ide dateng kapan aja, jadi cepet-cepet tulis sebelum lupa. Cari waktu luang lebih susah, tapi pas ada waktu ide-ide yang sudah ditulis bisa dimatengin diajuin ke abah.


Dalam menyusun perencanaan ato saat melakukan ‘evaluasi’, ayeman ikut ngasi semacam ide ato masukan ndak? Mungkin dalam forum seperti rapat keluarga gitu. Ato murni dari abah-ambu aja?
Ambu ayeman: 
Dalam perencanaan ayeman ikut, karena ide-ide tema belajar kan dari dia. Evaluasi baru ambu yang bikin, sekedar catatan sederhana tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang jadi PR abah ambunya. (ujung-ujungnya yang dievaluasi ortunya, hehe). Bentuknya lebih ngobrol, belum kayak rapat. Semakin banyak terlibat, semakin sadar bahwa yang perlu diperbaiki adalah ortunya.


Abah ayeman‬: 
Kalau saya bandingin porsi ‘main’ Ayeman dengan sebayanya memang tidak sebanyak yang sekolah umum ya. sejauh ini kami masih merasa cukup. Ohya ayeman juga main pas thifan di ITB

Tapi kapan mulai sekolahnya masih blm kepikiran ya ambu, pas masuk masa santri itu mungkin maksimalnya.
Dengan catatan, Ayeman sudah bisa diajak berkomunikasi aktif ya ambu. Dalam artian sudah mengerti bahwa ini adalah kegiatan “belajar”. Karena kalau anak masih belum mengerti mintanya pasti aneh-aneh dan out of the box diluar konteks.

Semoga Allah memberkahi orangtuanya dan para ibu disini beserta ayah-ayah yang sedang berjuang.
Ingat, share Ambu hanyalah share, jadikan sebagai ghirah untuk belajar dan berusaha lebih baik lagi
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”.

Semoga Sharing Session - Homeschooling Keluarga Ayeman ini bermanfaat.
Salam Hangat,


Sumber gambar : theinappropriatehomeschooler.blogspot.com
Sumber Tulisan:
[Sharing Session] Homeschooling Keluarga Ayeman (Bagian ke-2)
April 16, 2016
Notulen : Asri Putri Rizqiah
Tanggal : 2 April 2016
Narasumber : Abah dan Ambu Ayeman (member sabumi HSMB bandung, divpen YGJ-HSMN)
Tema : Serba-serbi HS Keluarga Ayeman

Note: Usia Ayeman 6 tahun
 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

Sep 27, 2016

Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas

Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas
Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas
Yippie!! Pada fun time kali ini, kami bereksplorasi dengan kertas warna dan gunting untuk membuat hiasan dinding. Berawal dari si abang yang lagi hoby gunting-gunting kertas warna, akhirnya saya dan sang adek pun tak mau ketinggalan mencoba aneka bentuk baru serta bermain mix and match kertas warna yang sangat seru. Kami bahkan menghabiskan hampir 2 pack kertas lipat warna saking nggak pengin berhenti. Hehehe...

Alat dan Bahan yang dibutuhkan dalam Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas antara lain :
  • Kertas lipat warna warni / Kertas asturo aneka warna
  • Pensil
  • Gunting
  • Lem Kertas
Cara membuatnya :

Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas
Langkah Membuat Hiasan dari Kertas
  1. Siapkan 2 lembar kertas dengan warna yang berbeda. Tentukan kertas mana yang akan menjadi background dan mana yang akan digunting
  2. Lipat kertas secara diagonal hingga membentuk segitiga besar
  3. Lipat kembali menjadi segitiga sedang
  4. Lipat untuk yang ketiga kalinya hingga menjadi segitiga kecil
  5. Gambar dengan aneka bentuk yang akan digunting pada segitiga kecil. Gunakan kreatifitas dan imajinasimu!
  6. Gunting pola yang telah dibuat 
    Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas
    Pajang Hiasan Kertas sesuka hatimu!
  7. Buka kertas secara perlahan. Dan, TARAAAAAA.... Bentuk yang dihasilkan pasti akan membuatmu terkejut dan kagum!
  8. Tempelkan pada kertas background
  9. Hiasan kertas sudah jadi!!
Dengan Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas yang simpel seperti ini, dijamin tak akan membuat putra putri kita merasa bosan. Bahkan, saya pun ikut ketagihan! Terutama di saat-saat akan membuka lipatan kertas yang telah kita gunting, ada rasa deg-degan dan memberikan efek kejutan. Kita bahkan tak pernah berpikir akan seperti apa hasil potongan yang kita buat sesuka hati itu.

Dibanding penghilang stress dengan cara mewarnai gambar rumit seperti yang sedang hits sekarang ini, rasa-rasanya membuat hiasan dari kertas ini cukup mudah dan ampuh juga untuk dijadikan mood booster. Selamat mencoba!

Salam Hangat, 
Fun Time #14 : Membuat Hiasan dari Kertas

Aug 29, 2016

Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?

Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?
Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?
Belakangan ini, kami sekeluarga sedang hoby bersepeda di pagi hari. Berawal dari suami yang ingin hidup lebih sehat dan rutin membakar kalori, plus, males jogging, hehe.. maka saya dan anak-anak pun ikut bersemangat dalam kegiatan bersepeda pagi kami.

Karena hampir tiap hari bersepada (minimal 30 menit), tiba-tiba saya teringat tentang mitos bahwa anak gadis sebaiknya jangan sering-sering naik sepeda, nanti selaput daranya bisa robek. Wah, saya jadi agak parno juga dan berpikir lagi, Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?

Dari situ, saya mulai browsing-browsing tentang 'manfaat bersepeda bagi kesehatan wanita'. Muncullah artikel-artikel tentang berbagai manfaat bersepeda, diantaranya : 
  1. Menguatkan dan membentuk otot tangan dan kaki
  2. Menyehatkan jantung, karena termasuk olahraga kardiovaskuler
  3. Melancarkan supply oksigen dari paru-paru ke tubuh
  4. Mengurangi kolesterol jahat
  5. Membakar kalori
  6. Meningkatkan mood / mood booster sehingga menjalani hari dengan segar & semangat
  7. Mengasah konsentrasi & pandangan mata

Ternyata, selain manfaat ada juga hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bersepeda. Karena menurut penelitan para ahli di Yale University, wanita yang bersepeda dengan posisi handlebar (stang) rendah (seperti sepeda gunung) memiliki resiko tinggi menimbulkan masalah kesehatan seksual. Penelitian yang melibatkan 48 responden wanita dengan frekuensi mengayuh sepeda setidaknya 25,5 km dalam seminggu. Para peneliti mencatat, mayoritas wanita menyandarkan berat badan ke depan dengan penyangga tangan. Posisi punggung mereka cenderung membentuk sudut 30 - 45 derajat ke arah depan untuk mendapatkan posisi yang lebih aerodinamis. Analisis selanjutnya menunjukkan sebagian besar mereka mengalami mati rasa di bagian pinggul yang dikarenakan gerakan mengayuh sepeda dapat mengakibatkan gesekan pada kemaluan sehingga mengurangi sensitifitas (pada organ kewanitaan). Intinya, semakin rendah posisi stang, semakin beresiko. http://doktersehat.com/bersepeda-menyebabkan-disfungsi-seksual-pada-wanita/

Masalah kesehatan seksual juga bisa terjadi pada laki-laki dengan aktifitas bersepeda yang tinggi. Bentuk sadel (dudukan) yang terlalu sempit dan meruncing akan memeberikan tekanan pada testis dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus. Hal inilah yang dapat mengakibatkan penurunan sperma (yang diproduksi di dalam testis) baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun kita dapat menyiasati dengan melapisi dudukan dengan semacam sarung tangan namun diperuntukkan khusus sadel sepeda (ini karena saya tidak tau istilahnya apa, hihihi...), sehingga dudukan menjadi lebih lebar dan lebih empuk.

Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?
Cover sadel sepeda

Sebetulnya, gangguan seksual yang sama juga bisa disebabkan oleh penggunaan celana dalam maupun celana panjang yang terlalu ketat. Jadi tidak serta merta salah sepeda ya, hehe...

Setelah membaca berbagai artikel tentang dampak bersepeda bagi wanita, inilah point-point yang perlu diperhatikan :

  • Pilih sepeda dengan posisi stang minimal sejajar atau lebih tinggi dari sadel (dudukan).
  • Hindari penggunaan sadel (dudukan) yang terlalu sempit dan ujung yang terlalu runcing.
  • Akan lebih baik jika memilih sadel yang tebal dan empuk.
  • Sesekali Anda boleh trekking, downhill bareng keluarga atau teman-teman, tapi jangan terlalu sering. Jalan terjal tentu membuat tekanan semakin meningkat. You know what I mean..
  • Hasil penelitian yang dicantumkan di hampir semua laman yang saya baca (tanpa tau sumber aslinya) itu memberi dampak pada wanita yang bersepeda sepanjang 25,5 km / minggu. Jadi, jika Anda tidak semaniak itu (atau bukan atlet sepeda), saya kira tidak masalah. Lagipula, pasti ada petunjuk dan treatment-treatment tertentu bagi para atlet tersebut. Kasihan kan, kalau semua atlet sepeda jadi bermasalah seksualnya ^_^
  • Resiko gangguan seksual tidak hanya bisa terjadi pada wanita, tapi pria juga sangat mungkin. Jadi tidak ada urusan sama gender disini. Hanya saja wanita biasanya lebih care tentang hal tersebut, makanya lebih banyak dilakukan penelitian. Toh, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik, bukan?

Buat Anda para wanita, dan saya pribadi, jangan takut melakukan sesuatu hanya karena rumor, mitos atau hal-hal yang belum tentu terjadi. Kerjakan dan nikmati saja. Selama memperhatikan hal-hal di atas dan tahu porsinya, insya Allah tidak akan apa-apa. Niatkan ibadah untuk menjaga amanah tubuh dan nikmat sehat yang telah dikaruniakan Allah kepada kita (self reminder buat diri sendiri yang suka males gerak).

Mari bersepeda!
Salam hangat,

PS : bersyukur sepeda yang saya naiki sudah sesuai kriteria, legaaa ^,^

Benarkah Bersepeda Dapat Membahayakan Kesehatan Wanita?
Bersepeda di minggu pagi

Aug 23, 2016

Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring

Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring
Slime ala kami
Hai hai hai.... Setelah beberapa lama mengalami writer block, alias kebuntuan dalam menulis a.k.a males ngeblog, akhirnya saya kembali menyapa hari ini dengan ulasan Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring.

"Slime adalah cairan lengket dan pekat yang sekilas terlihat seperti lendir. Umumnya slime dibuat dengan warna-warna yang cerah dan tekstur yang tidak meninggalkan bekas di tangan, sehingga disukai anak-anak"

Biar ikut kekinian, acara fun time kami minggu lalu diisi dengan prakarya membuat slime. Bagi yang masih asing, Slime adalah cairan lengket dan pekat yang sekilas terlihat seperti lendir. Umumnya slime dibuat dengan warna-warna yang cerah dan tekstur yang tidak meninggalkan bekas di tangan, sehingga disukai anak-anak. Kegunaan slime ini pun bisa beragam, mulai dibentuk-bentuk seperti plastisin / play doh, main lempar-lemparan, yah pokoknya kenyal-kenyalnya itu yang bikin menyenangkan! 

Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring kali ini sengaja memilih bahan slime yang memang sudah tersedia di rumah. Bagi saya, prakarya itu sebisa mungkin ga keluar uang. Selain biar irit, bukankah tujuan prakarya itu sendiri adalah untuk mengasah kreatifitas? Nah kalau sedikit-sedikit pakai modal mah, sekalian beli aja!. Hehe... Yuk langsung kita simak pembuatan Slimenya!

Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring
Alat dan Bahan yang diperlukan

Alat dan Bahan :
  • Tepung terigu sebagai bahan dasarnya
  • Sabun cuci piring cair (saya menggunakan sunlight, bisa diganti dengan merk lain) berfungsi sebagai pengikat agar terbentuk slime yang kenyal. Dalam hal ini sekaligus berfungsi sebagai pewarna. Namun bila kurang puas dengan warna yang dihasilkan, bisa juga ditambah atau dicampur dengan pewarna makanan (yang alami lebih baik).
  • Minyak sebagai pelicin, agar tidak lengket. Saya memakai minyak zaitun, selain itu bisa juga menggunakan baby oil, minyak telon atau minyak kayu putih
  • Wadah untuk membuat slime
  • Sendok atau spatula sebagai pengaduk

Fun Time #13 : Membuat Slime dari Tepung, Minyak & Sabun Cuci Piring

Cara Membuat Slime :
  1. Masukkan tepung terigu ke dalam wadah (takaran sesuai yang diinginkan)
  2. Tambahkan sabun cuci piring cair sedikit demi sedikit sambil di aduk rata hingga terbentuk gumpalan yang kenyal
  3. Setelah diperoleh tekstur / tingkat kekenyalan yang diinginkan, tambahkan beberapa tetes minyak dan terus diaduk
  4. Minyak dirasa cukup, bila saat dipegang / diremas sudah tidak ada lagi sisa slime yang menempel di tangan.
  5. Pewarna makanan atau glitter bisa ditambahkan ke dalam adonan untuk mempercantik warna.
"belum banyak yang tau kalau slime dengan bahan dasar sabun cuci piring ini juga bisa dijadikan gel pembersih alat elektronik, seperti layar handphone, laptop, keyboard komputer dll"

Oiya, belum banyak yang tau kalau slime dengan bahan dasar sabun cuci piring ini juga bisa dijadikan gel pembersih alat elektronik, seperti handphone, laptop, keyboard komputer dll. Caranya? Ambil (cuil) sedikit slime, lalu gulung-gulungkan di permukaan yang akan dibersihkan, maka debu dan kotoran pun akan menempel di permukaan slime dengan sendirinya, sehingga membuat gadget kita menjadi bersih tanpa meninggalkan bekas sabun, setelah itu baru di lap menggunakan kain halus untuk menghindari goresan.

Seru dan mudah bukan? Tunggu apa lagi? Yuk, buat slime dengan kreasi kita sendiri!
Salam Hangat,

Aug 9, 2016

Mengajarkan Disiplin Pada Anak

Mengajarkan Disiplin Pada Anak
Mengajarkan Disiplin Pada Anak
Beberapa Metode Mengajarkan Disiplin pada Anak dan Trik Berbicara dengan Anak :

1. KONSEKUENSI NATURAL

Konsekuensi natural merupakan hasil dari tindakan anak secara alami
Konsekuensi natural akan memberikan pengalaman sebab-akibat dari tindakan anak sendiri dan mereka belajar untuk bertanggung jawab. Orang tua yang menggunakan konsekuensi natural memungkinkan anak anaknya untuk menemukan keuntungan dari perintah dan peraturan.

Tanpa ancaman dan debat dengan orang tua, anak-anak yang mengalami konsekuensi natural akan terbangun rasa disiplin pada diri sendiri dan kekuatan internal, dan belajar mematuhi perintah bukan karena takut akan hukuman, akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa dengan mematuhi perintah akan membuat hidup lebih baik.

Contoh penggunaan konsekuensi natural adalah membiarkan anak menghadap gurunya dan menjelaskan bahwa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya karena dia lebih memilih bermain dibandingkan mengerjakan PR. Jika orang tua ‘menolongnya’ dengan membuatkan surat izin, maka anak akan belajar bahwa tidak mengapa tidak mengerjakan tugasnya, karena akan ada ‘dewa penolong’ yang akan menyelamatkannya dari hukuman yang tidak diinginkan.

KAPAN KONSEKUENSI NATURAL TIDAK BERLAKU?
Orang tua sebaiknya tidak menggunakan konsekuensi natural bila konsekuensi yang akan timbul berbahaya untuk anak anak atau tidak menyebabkan rasa tidak nyaman bagi anak-anak.


2. KONSEKUENSI LOGIS

Ketika konsekuensi natural tidak berfungsi, orang tua harus membuat konsekuensi logis. Konsekuensi logis berupa hukuman dan praktis, dapat dilaksanakan dan berkaitan dengan perilaku anak.

Orang tua harus memberikan penjelasan mengenai konsekuensi ini kepada anak-anaknya pada saat tenang dengan jelas dan tegas. Sangat penting bagi orang tua untuk memberitahukan terlebih dahulu alasan mengapa mereka harus berperilaku baik dan hasil keluaran yang diinginkan.

Berikut adalah contoh konsekuensi logis :
  • Anak yang pulang larut melewati jam malam akan dimajukan jam malamnya untuk beberapa malam kedepan, atau akan kehilangan haknya menggunakan mobil. 
  • Anak yang bermain secara ceroboh dan memecahkan kaca jendela tetangga harus menggunakan uang tabungannya sendiri untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.
Seperti konsekuensi natural, konsekuensi logis harus sesuai dengan perilaku mereka dan tanpa ancaman atau hukuman fisik untuk anak anak. Orang tua sebaiknya membiarkan anaknya bertindak sesuai dengan keinginannya, bila ia melanggar aturan maka bersiap menghadapi konsekuensinya.

Hasilnya adalah anak akan berperilaku baik karena mereka mengetahui bahwa semuanya akan menjadi baik bila mengikuti aturan yang ada. Sebaliknya, hukuman akan membuat anak berperilaku baik hanya jika mereka takut ketahuan orang tuanya, dan akan membuat mereka bersikap ‘nakal’ saat tidak ada orang tua.

Yang perlu diperhatikan: waktu mengomunikasikan dan konsisten dalam menerapkan konsekuensi tersebut.


3. Reward dan Punishment melalui reinforcement negatif

Cara yang terbaik dalam menerapkan reward dan punishment adalah penerapan reinforcement negatif, yaitu:
"Memberikan reward ketika anak melakukan hal yang diharapkan dengan MENGURANGI hal yang TIDAK DISUKAInya.
Memberikan punishment ketika anak melakukan hal yang tidak diharapkan dengan MENGURANGI hal yang DISUKAInya"
Misalnya anak suka makan coklat dan jatahnya 2 bungkus sehari. Ketika anak melakukan hal yang tidak diharapkan, jatah coklatnya itu yang dikurangi. Atau jatah nonton TV, mainan, jajan dlsb, yang disukai anak. Bukan malah menambahkan hal yang baru yang tidak disukai anak. Seperti mencubit ---> memberikan hal baru yaitu cubitan.

Mengurangi hal yang tidak disukai sebagai hadiah. Misalnya anak berperilaku baik tertentu, jadi hadiahnya anak ga usah cuci piring (biasanya itu tugas hariannya) ---> itu yang dikurangi. Jadi bukan memberi hal yang baru, seperti ngasih uang, boleh makan coklat sepuasnya dlsb. 

Rewards & punishment hanyalah salah satu cara mendisiplinkan anak. Yang paling penting, perhatikan cara berkomunikasi dengan anak yang efektif.


4. Time Out
Time out adalah suatu cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan perilaku buruk anak, dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya. Time out bukanlah sebuah hukuman.
Time out adalah sebuah teknik yang dilakukan orangtua untuk membantu anak berelaksasi. Anak diberikan jeda untuk sendiri, berusaha merenung, serta tanpa diganggu dan tanpa mengganggu orang lain. Time out menjadi hukuman ketika orangtua mempraktekkannya dengan tidak tepat.

Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan time out dinilai sebagai hukuman oleh anak:
  • Time out dilakukan oleh orangtua dengan marah. #selfreminder
  • Orangtua mengatakan bahwa time out merupakan hukuman atas perilaku anak yang tidak sesuai arahannya.
  • Tempat time out yang menakutkan dan berkesan tempat penghukuman, seperti kamar mandi dan ruang tertutup.
  • Tempat time out yang memungkinkan orang-orang dapat melihat anak seperti dihukum.
Langkah dalam Menerapkan Time Out :
Penerapan time out harus didahului beberapa tahapan lain, yaitu:
  1. Pembentukan ikatan (bounding) antara orangtua dan anak 
  2. Pemberian pemahaman  bahwa time out ditujukan untuk menenangkan diri karena anak marah-marah ataupun berperilaku buruk. 
  3. Pembuatan kesepakatan bersama tentang pelaksanaan time out. Hal ini akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan bila peraturan ditetapkan oleh satu pihak saja (orangtua).
  4. Sosialisasi bila teknik tersebut akan mulai diterapkan dalam keluarga.
Bagian utama dari disiplin adalah belajar bagaimana berbicara dengan anak-anak. Cara berbicara orang tua kepada anak akan sangat dipelajari dan ditiru oleh anak.

Berikut adalah beberapa tips agar anak-anak kita mendengarkan kita:
  1. Perhatikan anak sebelum memberi instruksi dan panggil menggunakan namanya. Sebelum mengarahkan anak Anda, posisikan tubuh selevel dengan mata anak Anda dan beri ia kontak mata-ke-mata untuk mendapatkan perhatiannya. Ajari anak untuk fokus: “Adel, lihat Bunda..” Jaga kontak mata dengan pandangan biasa agar anak tidak akan merasa terkontrol dan kurang dianggap.
  2. Bicara Sesingkat dan Sesimple Mungkin, Minta Anak Mengulangi Kata-kata Orang tua. Gunakan satu kalimat saja: Mulai pembicaraan dengan inti dari perkataan Anda. Semakin lama Anda mengoceh, semakin besar kemungkinan anak Anda untuk tidak mendengarkan.
  3. Tawarkan Sesuatu yang Tidak Bisa Ditolak Oleh Anak. Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang anak dan yang sulit ia tolak. Hal ini akan membuatnya menurut pada Anda.
  4. Beri Instruksi Positif 
  5. Bertindak Dulu Baru Berbicara. Anda menunjukkan bahwa Anda serius tentang permintaan Anda. Kalau tidak anak akan menafsirkan ini sebagai pilihan saja.
  6. Beri Anak Pilihan. "Mau ganti baju atau sikat gigi dulu?" "Baju merah atau biru?"
  7. Bicara Sesuai Perkembangan Anak. Semakin muda anak Anda, instruksi Anda harus sesingkat dan sesederhana mungkin. Pertimbangkan tingkat pemahaman anak Anda.
  8. Bicara dengan Kata-kata yang Baik dan Suara halus. Ancaman dan perkataan yang menghakimi cenderung membuat anak bersikap defensif.
  9. Pastikan Anak Tenang. Sebelum memberikan perintah, pastikan anak tidak sedang emosional. Kalau tidak, Anda hanya membuang-buang waktu saja. Anak tidak akan mendengarkan Anda jika ia sedang emosional.
  10. Ulangi Perkataan Anda. Balita perlu diberitahu berkali-kali karena mereka masih sering mengalami kesulitan menginternalisasi arahan orang tua. Mereka baru belajar memahami perintah.
  11. Biarkan Anak Berpendapat. Jika anak selalu mencari pembenaran, bisa kita lihat dari sisi positif :
    - anak punya alasan kuat dan mampu menyampaikan pendapatnya 
    - anak kritis, tidak langsung menerima penjelasan orang lain begitu saja 
    - anak percaya pada ortunya, bahwa ortu dapat menjadi partner komunikasi yang baik yang mau mendengarkan opininya. Nah, tingggal yang perlu diperhatikan dan terus dipahamkan pada anak :
    1. Adab berbicara yang baik kepada ortu. 
    2. Cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar. 
    3.  Bagaimana empati dan cara menghargai orang lain. 
    4.  Bagaimana berbesar hati menerima pendapat orang lain. 
    5. Bagaimana rendah hati dalam menerima ilmu yang benar 
    Sehingga mereka tahu kapan harus memberi alasan. Bagaimana memulainya, bagaiman mengakhirinya.
  12. Gugah emosi anak dalam berkata-kata. Berikan hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya sewaktu-waktu, ungkapkan rasa cinta secara verbal, berikan pujian setiap kali anak melakukan hal yang diharapkan, dan ingat untuk mencintai anak SEUTUHNYA, SETIAP WAKTU...! Tidak hanya ketika anak berperilaku yang diharapkan, tapi juga ketika anak melakukan hal yang sebaliknya ^,^
Mari kita coba Mengajarkan Disiplin pada Anak dengan tegas dan menyenangkan.
Salam,

Sumber gambar : vemale.com
Sumber artikel :
Notulensi Diskusi Tema Harian HSMN Depok
Telah diedit dan dirangkum termasuk poin-poin dalam sesi tanya jawab
Resume Kulwap External - HSMN Depok
Jum'at / 20 Mei 2016
Jam: 16.00-17.30
Ibu Innu Virgiani
Mengajarkan Disiplin  Pada Anak

Moderator: Bunda Sekar 
Notulen: Bunda Kiki 
Whatsapp Group HSMN Depok


Biodata Narsum:
 Nama: Innu Virgiani
 Pendidikan: Lulusan Magister Psikolog Klinis Dewasa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
 Domisili: Selama 4 tahun terakhir ini berdomisili di Delaware, USA. 
 Pengalaman Organisasi: Pernah bekerja sebagai HRD dan Psikolog di salah satu RS Islam di Jakarta, menjadi Guru & Kepala salah satu TK di Depok, dan mengajar di salah satu sekolah (MTS dan MAN) gratis di Cileungsi. 
 Aktivitas saat ini: Saat ini berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga dengan (baru) 1 orang putri. Bersama dengan beberapa teman se-almamater, mendirikan Grup Fb dan WA Bunda Bermain dan Belajar, dan blog jendelaummahat.blogspot.com