Jan 27, 2016

Pertanyaan Seputar LGBT - Part 2

Pertanyaan Seputar LGBT - Part 2
Pertanyaan Seputar LGBT - Part 2
1. Pertanyaan dari kakak Meydiana
Assalamualaikum Kak Sinyo, salam kenal sy Kak Meydiana, sedari kemarin kami sudah heboh diskusi nih, karena narasumber yang hadir Kak Sinyo. Setelah baca materinya yang panjang lebar dan tinggi jadi bingung mau tanya apa? LGBT ini sepertinya sebagai "Penyakit Menular" yaa, bahkan saya sekilas melihat di media sosial ada Kids Gay juga. Jadi sudah menular pada semua lintas usia. Secara Praktis, bagi kami yang awam bagaimana mendeteksi anak atau orang dewasa yang "terjangkit" LGBT

✏Jawaban 
Kak @Meydiana, saya lebih memilih menyebut 'tidak sesuai fitrah' atau ada yang menyebut fitrahnya menyimpang. Untuk laki-laki, ya mudah menduplikasi karena urusannya simpel, sperma. Laki-laki setiap hari memproduksi sperma dengan jumlah tertentu, saat penuh maka dia butuh stimulus buat mengeluarkannya. Secara normal akan keluar sendiri tapi sering laki gak tahan. Nah inilah yang dicari.

1. Bebas hamil
2. Bebas curiga
3. Bebas tuntutan
4. Tahu sama tahu (tahu titik2 mana yang disukai) dengan wanita membosankan. 
5. Sodomi di laki2 dua2nya bisa ejakulasi karena prostat tersentuh lewat dubur.
Beda dengan wanita, kebanyakan lewat hati. Jadi ya cepat 'menyebar' di kalangan laki-laki.

Tentang deteksi deteksi dini orientasi seksual anak dan soal istilah LGBT sudah ada di FAQ. Lain-lain, laki-laki kalau terlalu intim dengan laki lain tanpa urusan yang jelas maka curigai. Hp dipassword tanpa boleh diketahui juga harus dicurigai. Pada dasarnya laki-laki itu mandiri.

Baca : Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1

2. Pertanyaan Dari mama Humaira 
Apa sih yang mendasari kak sinyo ingin membantu kaum ssa ini. Hambatan apa yang paling besar selama mendampingi mereka. Pernah dapat ancaman nggak dari kaum lgbt dan pro lgbt. Makasih kak untuk jawabannya.

✏Jawaban 
Sejak layanan PS dikenalkan kepada publik, banyak id samaran (ada juga yang asli) menambahkan pertemanan di FB saya. Sebagian memang berkonsultasi tapi ada juga yang 'berniat' menyerang dan mencurigai layanan ini.

Id yang menyerang sangat mudah saya jawab. Nah yang bikin miris hati ini (saya juga manusia kan?), id yang mencurigai kalau layanan ini mendapat 'bantuan' dengan tujuan mengganggu kelompok tertentu atau hanya untuk 'menjadi ladang uang' bagi pendampingnya.

Agar jelas dan tidak ada pertanyaan atau pernyataan seperti itu lagi baiklah saya berikan sedikit riwayat PS dari tahun 2008 sampai sekarang.

Awalanya saya buta sama sekali soal dunia LGBT, ya sama dengan kawan-kawan kebanyakan di luar sana. Tahun 2008 ada salah satu lini Penerbit Erlangga (Esensi) mengadakan lomba menulis kisah nyata tentang pelacur (psk), narkoba, selingkuh, dan homoseksual dengan syarat harus mempunyai narsum asli. 

Saya berpikir tiga topik sebelumnya sudah banyak yang mengangkat, pasti yang terakhir akan jarang dan saya ambil topik terakhir. Ternyata pemikiran saya salah besar, tulisan tentang dunia homoseksual sudah berlimpah baik pro dan kontra.

Saat saya mencari narasumber di salah satu grup malah dimaki-maki karena menyatakan itu 'penyakit'. Akhirnya saya mengurungkan niat ikut lomba karena apa yang saya lakukan dianggap salah, tidak ada yang mau menjadi narsum. Padahal saya sudah menyebar pengumuman di blog dan milis hingga suatu hari ada email yang memberitahu tentang milis hijrah_euy.

Milis HE berisi teman-teman SSA dan biseksual yang ingin kembali ke jalan Allah, saya semangat untuk ikut lomba lagi. Sayang dunia ini rumit sekali sehingga membutuhkan waktu lama untuk menyusun naskah. Hampir selama setahun saya mempelajari data di HE, wawancara, bahkan pemiliknya turun langsung membantu saya. Lomba sudah lewat tulisan belum kelar juga, ya sudah....batal.

Saya terlanjur menjadi tempat curhat puluhan teman-teman SSA. Lama-lama semakin banyak apalagi saat naskah yang buat lomba saya terbitkan secara indie (Dua Wajah Rembulan) . Ada teman yang telpon berjam-jam sampai hp saya hang, banyak yang chat lewat YM, sampai datang ke rumah. Kalikan saja kalau rata-rata setiap bulan ada 5 orang baru yang ingin curhat dari 2009 - sampai sekarang.

Awalnya sebagian data di ponsel dan komputer saya simpan, lama-lama 'malas' karena bingung buat apa coba? Apalagi ponsel atau komputer ganti sehingga repot memindah data terutama YM. Baru setelah aktif di FB banyak data terselamatkan.

Semua dilakukan 'gratis' tanpa biaya sedikitpun bahkan sebagian dari mereka saya bantu gartis buku DWR. Lantas saya 'hidup' dari mana kalau sehari-hari melayani klien yang tidak membayar? (Kadang full time dari pagi sampai malam) terutama akhir pekan >_
Saya juga tidak tahu, sungguh, apakah besok masih bisa makan atau tidak yang saya pahami bahwa selama manusia hidup (belum mati) maka akan selalu ada rezeki untuknya. Silakan bisa konfirmasi kepada istri saya Nur Aini Meiningsih bagaimana kita berdua menjalani hidup serba terbatas tapi dengan senang hati. Kita sepakat terpenting hidup halal, baik, dan berkah. Sampai detik ini bahkan saya belum pernah membelikan 'baju' buatnya ^_^ sejak menikah.

Ya kita masih bisa bertahan dari menulis, menang lomba, bantuan Bunda atau Kakak, royalti buku (saya mulai menjadi penulis pro sekitar tahun 2012, jadi belum lama :) ), kelebihan uang transport (saya tidak mau dibayar saat mengisi acara), dan istri saya juga bekerja sebagai guru PAUD. Terpenting dinikmati dan disyukuri saja.

Pernah ustadz Muhammad Safari Maskur tidak percaya saat melihat kehidupan saya :D secara langsung di rumah, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya :p

Layanan ini murni berbasis sosial untuk membuka kapling yang baik di akhirat kelak. Sampai saat ini layanan PS juga belum ada donatur, paling secara sporadis kalau butuh untuk pengembangan website. Jadi, mohon maaf jika selanjutnya ada teman-teman baru bertanya atau membuat pernyataan dengan arah yang sama tidak akan saya jawab kecuali dengan memberi tautan ke posting ini :) Harap maklum ^_^

Itu sekilas saya kak, kalau hambatan ya dulu diremehkan, dicap pengangguran dll, kendala biaya hidup. Kalau mengganggu tidak sih, ada yang jatuh cinta tapi dijelaskan baik2 ya sudah beres.

3. Kak Sinyo, bagaimana caranya supaya kita semua bisa membantu orang disekitar kita yang terjangkit disorientasi sex bisa kembali normal.

✏Jawaban
Kak @Mey, semampu kita kak. Kalau saran saya sih FAQ tadi disebarkan, diprint. Jadi secara tidak langsung memberitahu atau bisa sebarin PS kalau kakak malu.

4. Pertanyaan dari kak Hanik
Saya kok jadi ngeblank mau nanya apa. Saking pembahasannya bikin terbelalak. Bagaimana dengan anak-anak yang terlahir memiliki kelamin ganda? Apa masih relevan dgn diskusi kita malam ini. Trima kasih.

✏Jawaban
Kak @Hanik, itu bias hemaprodit, bukan asli hemaprodit. Setahu saya belum ada manusia hemaprodit, pasti ada salah satu yang major. Baiknya diketahui sejak kecil agar ditentukan mana yang major tapi kadang diketahui sudah dewasa karena alasan ekonomi.

Dalam Islam kalau tidak salah disebut khunsa. Itu kelaian biologis. Tetap ada pilihan laki atau perempuan secara biologis. Kalau kelainan hormon hanya ada 1% di seluruh dunia sehingga hampir dianggap tidak ada walau tetap dimasukkan ke prosedur pendampingan kalau klien mau. Jika iya bisa diterapi hormon.

Respon 
Kak sinyo untuk anak yang seperti itu apakah mereka punya potensi besar diorientasi sex? Dan apa yang kami, masyarakat bisa lakukan kalau menemui kasus seperti itu? (Saat ini ada tetangga 1 kampung yg bayinya terlahir memiliki kelamin ganda)

✏Jawaban 
Kak @Hanik, di kalangan ekonomi ke bawah iya kak. Misalnya dia majornya laki, karena penis terlipat misalnya dan ada semacam vagina maka dikira wanita. Dididik secara wanita atau menjadi wanita. Begitu besar baru ketahuan laki, padahal sudah terlanjur jadi 'wanita'.

Nah orientasi seksual itu akan mengikuti karakter atau biasanya disebut gender dari pembentukan itu tapi tidak mesti begitu. Sebaiknya kalau dokter melihat ada yang janggal alangkah baiknya dibantu periksa secara mendalam. Apakah laki atau wanita sejak kecil agar lebih aman. Kalau wanita pasti ada ovum, kantung lahir, dll

5. Pertanyaan dari kak Titin
Assalamu'alaikum kak sinyo, saya betul-betul tertegun sekaligus kuatir. Anak sulung saya perempuan kls 9 smp, tinggal di asrama sekolah. Terus terang saya kuatir sekali, bagaimana anak membentengi dirinya agar tidak tertular oleh hal tsb. Yang kedua, bagaimana mengenali anak yang berperilaku menyimpang seperti itu.

✏Jawaban
Kak @Titin. Wa'alaikumussalam wr wb. Imunitas dari dalam Bunda. Jadi kalau anak punya sahabat selain orang tua pasti hibungannya gak beres. Orang tua adalah sahabat terbaik anak, apa2 bicara ke orang tua. Bisa dibangun dengan
1. Komunikasi yang sehat, sayang kita sering memutus komunikasi misalnya pas diajak bicara muka kita tidak memerhatikan si anak.
2. Hubungan yang erat, sayang kita sering menyingkirkan anak dari kehidupan kita, contohnya anak-anak hanya diomelin saat membuat berantakan rumah karena dia tidak diajarkan (role model) susahnya membersihkan rumah.

Anak kecil butuh contoh, kosa katanya masih sedikit. Nah karena ini sudah termasuk dewasa agak berat kalau hubungan yang terbangun tidak bagus. Bunda sebaiknya dievalusi apakah hubungan bagus? Kalau tidak, perbaiki dan Bunda harus tahu id dan password semua akun dia di medsos, termasuk hp.

Mengenal anak yang berperilaku menyimpang, ya kalau aneh saja Bunda. Ada tahapnya sih, lihat masa balita dan kecilnya. Lihat masa remaja, kalau sudah ada tanda pembelokan lihat aktivitas keseharian termasuk medsos. Sebenarnya kalau hubungan anak dan ortu bagai sahabat, no problem, semua hal tentang anak pasti akan cerita ke ortu. Itu preventifnya.

Respon
Apakah kekuatiran saya berlebih ya kak? Kebetulan, walau pertemuan kami seminggu sekali, anak sempat cerita berbagai hal tentang apa saja, diri dan teman-teman di asrama, cuma setelah issu lgbt yang sebenarnya sudah lama, muncul ramai dibicarakan, kami sangat kuatir, karna anak tinggal di asrama

✏Jawaban
Kak @Titin, kalau dia cerita apa saja kepada kakak, sudah percaya saja. Kalau perlu dikasih tahu soal SSA, agar dia paham.

6. Pertanyaan dari kak Riska
Kak sinyo apakah LGBT masih bisa terapi / dibantu karena mereka sudah menganggap perbuatan mereka bukanlah perbuatan buruk lagi? Dan bagaimana kita mendeteksi lingkungan sekitar?

✏Jawaban
Kak @Riska, LGBT itu identitas sosial dan legalitas, rasanya impossible kalau mau diapa-apakan karena sudah meyakini SSA anugerah kebaikan dari Tuhan yang harus disyukuri lewat pernikahan sesama jenis. Beda dengan SSA.

7. Pertanyaan dari Kak Tya
Apa benar perilaku LGBT bisa dipicu dari makanan dan obat yang diminum?

✏Jawaban
Minim kak, karena itu masuk hormon.  Bayangkan, kelainan hormon saja cuma ada 1% apalagi dari makanan. Ada, tapi minim seklai sehingga dapat dianggap tidak ada pengaruh secara signifikan.

Respon
Ada teman perempuan suka nge-gym sampai berotot dan minum obat supaya berotot, plus maskulin juga.

✏Jawaban
Maskulin dan feminin itu ada di setiap manusia, kadarnya saja yang berbeda. Tidak ada hubungan dengan gym dan orientasi seksual secara langsung.

8. Pertanyaan dari Kak Hapsari
Jadi jika di PS, para ssa ini tetap boleh suka dengan sesama jenis, tapi untuk penyaluran sex tetap harus ke pasangan resmi atau istrinya. Karena, mereka juga sudah berusaha untuk menghindarinya, yang penting mereka nyaman hidup secara agama dan masyarakat. Begitu ya?

✏Jawaban
Kak @hapsari, SSA itu katakanlah niat jahat. Hukumnya tidak ada jadi kita bingung ngomongnya kalau mengatakan boleh menyukai laki-laki. Niat mencuri akan tetap saja niat 'jahat' ya, jadi kita berusaha tidak menghukumi karena memang tidak ada hukumnya tapi memberi warning bahwa SSA itu dekat dengan 'niat jahat'. 

Nah kita hanya menyeimbangkan kegalauan mereka agar tidak galau lagi, bahwa meski dia punya SSA tapi tetap bisa hidup di jalan Allah. Sama sajalah orang heteroseksual, ini soal keimanan. Bedanya hanya WIL da PIL, udah gitu saja.

Catatan :
**SSA = Same Sex Attraction (Ketertarikan dengan sesama jenis, belum melangkah ke LGBT. Baca : Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1)
**PS = Peduli Sahabat, yaitu komunitas yang membantu para SSA kembali menjalani hidup sebagai heteroseksual.

Sumber :
Resume Diskusi HSMN Semarang
Hari Selasa, 26 Januari 2016
Pukul 20.00 - 22.00 WIB
Tema : LGBT
Pemateri : Sinyo Egie
Moderator : Hapsari
Notulen : Riska

Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1

52 Pertanyaan Seputar LGBT
Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1
Berikut ini Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1 yang sering muncul (Frequently Asked Questions) di grup Peduli Sahabat. Sebagian besar contoh menggunakan aturan Islam, teman-teman yang berbeda agama dapat menyesuaikan. FAQ resmi PS ini disusun berdasarkan pertanyaan hingga tgl 09 Juli 2015, kelak akan disempurnakan kembali. Semoga bermanfaat

Orientasi seksual
1. Apakah orientasi seksual itu?
Agar mudah dipahami, orientasi (ketertarikan) seksual seseorang itu disamakan saja dengan 'niat'. Bagi umat muslim pasti sudah tahu bagaimana hukum 'niat'. Kadang timbul niat baik dan tidak baik dalam diri kita. Kalau niat baik tidak dilakukan mendapat satu pahala, dijalankan memperoleh dua pahala. Jika niat buruk ditahan (tidak dilakukan) akan mendapat satu pahala dan kalau dijalankan akan berdosa. Ukuran baik dan buruk tentu sesuai aturan agama.

Orientasi seks sesama jenis (ssa = same sex attraction atau bisa juga disebut homoseksual) dihukumi sebagai 'niat buruk' dalam Islam karena jelas tindakan seks sesama jenis (dalam Islam) dilarang. Anda yang mempunyai SSA kalau sabar dan ditahan akan berpahala terus-menerus.

2. Apakah orientasi seksual bisa berubah?
Secara teori memang bisa dengan situasi dan kondisi tertentu, tidak bisa disamaratakan. Di luar Peduli Sahabat banyak bukti bahwa orientasi seksual bisa berubah tapi kami tidak ingin mengambil bukti dari luar. Peduli Sahabat mempunyai empat narasumber yang berhasil mengubah orientasi seksualnya. Satu orang dari heteroseksual menjadi SSA kemudian berbalik lagi menjadi heteroseksual. Kisah hidup beliau sudah ada di dalam grup dan situs Peduli Sahabat (kasus ini contoh sempurna tentang Kaum Luth).

Tiga orang yang lain adalah dari SSA kemudian menjadi heteroseksual, id FB mereka tidak ingin diberitakan kepada siapa saja, jadi hanya Peduli Sahabat yang tahu dan ada di daftar friends list Bapak Sinyo di Facebook.

Keempat narasumber itulah yang kemudian jadikan model dan metode untuk membimbing teman-teman yang ingin tetap memilih identitas hetero, baik secara mandiri (sudah ada di buku Anakku Bertanya tentang LGBT) atau lewat pendampingan di Peduli Sahabat. Kalau orientasi seksual juga ikut berubah maka itu adalah bonus atas usahanya. Jadi jawabnya adalah bisa tetapi tergantung situasi dan kondisi seseorang.

Baca juga : Pertanyaan seputar LGBT - Part 2

3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh mereka yang berhasil berubah orientasinya?
Satu narasumber butuh sekitar 3 - 4 tahun. Kasus tiga narasumber SSA tadi di atas (nomor 2) umur 40 tahun ke atas dengan catatan belum pernah melakukan tindakan homoseksual, sudah menikah (tersalurkan hasrat seksualnya), dan mempunyai anak (keluarganya harmonis). Sebagai gambaran, ada kasus seorang anak berumur dua tahun sedang duduk berdua dengan neneknya di dapur. Atap dapur terbuat dari seng. Tiba-tiba hujan deras, sang nenek berlari mengambil jemuran tanpa memberitahu cucunya yang masih kecil itu.

Tahukah apa yang terjadi kemudian? Si cucu berpikir bahwa hujan sangat menakutkan karena neneknya sampai lari tunggang langgang. Sejak itu setiap datang hujan dia selalu berlari ketakutan. Orang tua si anak memerlukan waktu sekitar 3 bulan untuk meyakinkan bahwa hujan baik-baik saja. Sekarang bayangkan kejadian anak berumur 2 tahun tadi, hujan tidak sampai lima menit saja memerlukan waktu 3 bulan untuk mengubahnya. Nah bagi orang yang SSA sejak kecil sampai dewasa, tentu membutuhkan waktu dan proses yang lama jika ingin mengubah orientasi seksual itu. Mungkin sampai orang tersebut wafat pun akan tetap ada.

Ingat, empat narasumber di atas berjuang sendiri tanpa metode pendampingan. Saat ini kami sedang memantau salah satu narasumber bernama kak Semoga Bermanfaat New. Ikut pendampingan PS tahun 2012, menikah tahun 2014 dan sekarang sudah mempunyai momongan. Awalnya hanya mimpi basah dengan sesama jenis, Alhamdulillah sudah sekarang sudah mimpi basah dengan lawan jenis (istrinya).

Dia adalah SSA sejak kecil dan sebelum menikah hanya tertarik kepada laki-laki saja. Sekarang di tahun 2015 dia masih tertarik dengan laki-laki tetapi tidak sampai 'on', dia hanya 'on' kepada istri. Luar biasa ya Semoga progresnya positif.

4. Apakah perubahan itu menetap dan terjamin 24 jam?
Lihat nomor 2, tergantung dari orangnya tentu saja karena ini masalah jiwa yang tidak bisa disamaratakan. Empat narasumber di atas mengaku telah berubah, perkara permanen dan berlaku 24 jam itu lain urusan. Tentu bisa saja suatu saat berubah lagi tergantung sikonnya. Ada beberapa ilmuwan yang membuat kategori apakah seseorang disebut heteroseksual, biseksual, atau homoseksual (SSA), silakan dicari sendiri dan dibaca di Internet.

5. Apakah orang dengan orientasi heteroseksual sesekali tertarik sesama jenis?
Tergantung situasi dan kondisinya. Setiap laki-laki mempunyai kromosom XY yang berarti ada potensi besar untuk berubah orientasinya menjadi bisexual. Untuk perempuan kemungkinannya kecil karena lebih banyak menyangkut perasaan.

6. Ada pendapat bahwa orientasi seksual tidak berubah menetap (hanya bisa ditahan) dan semua yang berubah suatu saat akan kembali lagi seperti semula.
Coba Anda bayangkan bahwa semua materi di dunia ini berbentuk bulat semua. Apakah kita bisa menyembut benda itu 'bulat'? Tentu tidak, kita bisa menyebut bulat karena ada kotak, segitiga, atau yang lain. Begitu juga pendapat di atas, kalau mereka mengatakan 'semua' atau 'tidak ada', otomatis pendapat itu akan gugur. Bagaimana kita bisa menyebut 'semua' kalau tidak ada 'sebagian kecil' atau kata 'tidak ada' kalau tanpa kata 'ada'? Mungkin maksudnya sebagian besar orang SSA tidak bisa mengubah orientasi seksualnya karena keburu dijemput oleh maut.

7. Apakah orientasi SSA sebuah penyakit?
Di peduli Sahabat kita lebih cocok menyebutnya 'tidak sesuai dengan fitrahnya' sebagai laki-laki atau perempuan. Sesuai pengalaman kami hal ini memberi dampak yang positif walau mungkin maksudnya sama. Klien kami merasa lebih diterima sebagai orang yang ingin berubah, bukan sebagai pesakitan.

8. Apakah Oreintasi SSA merupakan bawaan gen atau keturunan?
Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah tentang hal itu yang bisa dijadikan patokan pasti, masih menjadi perdebatan para ilmuwan. Silakan buka di mesin cari dan ketikkan 'gay gene myth' atau 'gay gene hoax' (tanpa tanda petik).

Klien kami berpijak pada sesuatu yang pasti bahwa lingkungan (pendidikan) yang paling berpengauh dalam pembentukan orientasi seksual. Mereka tidak mau mengambil keputusan dari satu hal yang absurd (belum jelas, seperti teori Darwin).

Orang-orang yang beropini bahwa SSA adalah keturunan enggan untuk membuktikan diri di rumah sakit atau penelitian karena takut jika terbukti sebaliknya, gen mereka ternyata heteroseksual. Ya, sampai saat ini hanya 'opini' tanpa mau membuktikan langsung padahal zaman sudah sedemikian maju. Kalau memang benar ‘gay’ adalah gen seharusnya sekarang sudah ada alat yang bisa mendeteksi orientasi seksual setiap bayi yang lahir di muka bumi dan nyatanya tidak pernah ada. Itulah kenapa klien SSA di Peduli Sahabat tidak mau ikut ribut soal itu karena SSA dianggap sebagai pemberian (anugerah) berupa ujian keburukan yang harus disikapi dengan kesabaran.

9. Lantas apa penyebab orientasi SSA yang paling kuat atau mendasar?
Terlepas perdebatan soal gay gene, data Peduli Sahabat menunjukkan ada 3 kategori utama pemicu seorang anak balita berbelok arah menjadi SSA, yaitu:

Pemaksaan dalam mengambill role model (contoh model). Misalnya seorang anak laki-laki mengambil peran dari ibunya. Pemaksaan ini disebabkan oleh beberapa hal seperti broken home, ketidakharmonisan keluarga, dominasi ibu, dominasi ayah, kekerasan rumah tangga, dll. Sekitar 60% klien kami mengalami ini.

Over Protective (terlalu dimanja/­dilindungi). Biasanya terjadi pada anak bungsu, tunggal, satu-satunya jenis kelamin dalam keluarga, atau anak istimewa (misalnya paling ganteng atau paling cerdas). Sekitar 30% klien kami mengalami ini.

Salah mengambil role model secara sukarela. Berbeda dengan nomor satu, sikon si anak diberi kebebasan memilih model sendiri (biasanya kedua orang tua sibuk kerja dengan materi berlimpah atau anak yatim-piatu). Jadi secara hubungan keluarga harmonis tapi anak-anak dibiarkan memilih model tanpa diberi contoh atau pemberitahuan. Sekitar 10% klien kami mengalami ini.

10. Apakah bukan karena trauma jiwa, misalnya pelecahan seksual?
Berdasarkan data kami, itu bukan pemicu tetapi penguatan. Anak sudah berbelok dahulu kemudian dikuatkan dengan berbagai situasi dan kondisi yang mendukungnya. Misalnya pelecahan seksual, bully, pola pengasuhan anak, atau yang lain. Kebanyakan hal ini terjadi di atas balita.


11. Apa indikasi atau ciri-ciri seorang anak atau remaja mempunyai SSA?
Kurang lebih seperti ini saat anak-anak.
Indikasi fisik berlawanan dengan jenis kelaminnya, misalnya laki-laki bertingkah laku seperti wanita. Perlu dipahami bahwa dugaan ini hanya 50% saja karena masih ada biseksual, transgender, metroseksual (dewasa), kultur setempat (misalnya orang Solo bicara agak halus).
Pilihan karakter berkebalikan dengan jenis kelaminnya sangat dominan. Misalnya laki-laki suka main boneka barbie, berdandan, animasi dengan tokoh perempuan, lagu melankolis, dll.
Bermain dekat dengan lawan jenis dibandingkan sesama jenis.


12. Apakah itu juga berlaku untuk remaja dan dewasa?
Biasanya saat remaja orang SSA sudah memahami dan berusaha menutupi kekurangan (yang dianggap tidak sesuai norma hetero) tersebut dengan ikut kegiatan yang sesuai. Mulai dari sini biasanya mulai kabur. Orang yang bersangkutan bisa memililh menyendiri atau sebaliknya aktif di banyak kegiatan. Hanya saja tetap masih bisa dideteksi jika kita mau mendalami lewat interaksi yang efektif.

13. Bagaimana mencegah anak agar tidak mempunyai SSA?
Dalam islam sudah diajarkan agar anak-anak dididik dengan kasih sayang secukupnya dengan role model yang jelas. Tidak berlebih dan tidak kurang, seimbang. Bisa dibaca dalam buku-buku tentang parenting terutama peran ayah.

Di Indonesia memang peran ayah dalam mendidik anak sangat minim bahkan cenderung menjadi musuh bagi anak-anak. Ayah adalah 'sesuatu yang menakutkan' bagi mereka. Lihatlah mulai dari anak-anak, TK, sampai SD sebagian besar pendidik formal perempuan. Jadi berilah contoh kepada anak-anak bagaimana seorang ayah dan ibu yang baik.

14. Bagaimana jika orang tua tidak lengkap?
Ambillah role model dari keluarga terdekat atau bisa memberi contoh langsung dari tetangga yang harmonis. Anak-anak akan mudah menangkap lewat contoh.

15. Apakah harus dibedakan mainan untuk anak laki-laki dan perempuan?
Kalau hanya sekadar mengenalkan macam-macam mainan dan permainan tidak masalah agar tahu tapi kalau sudah sampai ke pilihan jelaskan dengan bijak apa yang sering laki-laki dan perempuan lakukan. Hal terpenting di sini adalah penjelasan dan contoh dari orang tua.

16. Apakah orang heteroseksual bisa melakukan tindakan homoseksual?
Sangat bisa, contohnya kaum Nabi Luth. Awalnya juga masyarakat umum dengan identitas hetero seperti kaum lainnya. Secara bertahap mereka mencoba tindakan seksual sesama jenis. Akhirnya tindakan itu bahkan merata. Di Peduli Sahabat ada contohnya.

17. Apakah mereka tidak jijik?
Seks sering melupakan batas-batas norma yang seharusnya dijaga umat manusia, terutama laki-laki. banyak laki-laki heteroseksual yang mengambil keuntungan di dunia seks sesama jenis termasuk di dunia LGBT. Contohnya:
• Terhindar dari kehamilan (bebas dari tuntutan)
• Tahu sama tahu bagian yang 'enak' bagi laki-laki
• Tidak dicurigai dengan alasan teman satu hobi
• Mencari kenikmatan seks secara gratis sekaligus materi, secara materi sebagian kaum LGBT termasuk mapan
• Kalau berpisah aman, karena kalau ada tuntutan akan dicibir masyarakat, dll.

18. Apakah dari kebiasaan itu seorang heteroseksual bisa berubah menjadi SSA?
Bisa

Identitas Sosial
19. Apakah benar ada 'gay radar'?
Tidak, itu hanya mitos. Kenapa sesama SSA bisa saling mengenali karena ya gestur tubuh dan mimik mukanya menunjukkan itu. Tidak beda dengan laki-laki heteroseksual yang menyukai seorang wanita maka si wanita pasti akan tahu dari gerak-geriknya, tatapan matanya, dll.

Nah begitu juga dengan orang SSA, karena saling mengamati maka akan terdeteksi. Coba Anda lihat di mall-mall kota besar, hal ini mudah dilihat. Kelompok yang sekadar berteman atau memang ada 'hubungan spesial', sekali lagi hanya dengan melihat gestur tubuh dan mimik mukanya.

20. Apakah orang dengan SSA otomatis bisa disebut LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender)
Belum tentu. 
Bedakan antara orientasi seksual dan identitas sosial. LGBT adalah identitas sosial, semacam penerimaan diri, pencitraan, identitas formal (KTP, KK, dll) aktualisasi diri yang hadir sebagai lawan dari identitas hetero. Itulah kenapa kaum LGBT juga ingin diakui eksistensinya seperti kaum hetero seperti persamaan pengakuan di mata masyarakat, persamaan legalisasi pernikahan, dan lain sebagainya.

Nah kalau SSA itu orientasi seksual sesama jenis. Misalnya ada orang yang mempunyai SSA dan pernah melakukan tindakan seks sesama jenis tetapi dia tidak ingin menjadi LGBT maka kita tidak bisa menyebutnya LGBT. Mudahnya, seorang SSA belum tentu LGBT tapi kalau LGB (Transgender saya sendirikan karena kasus khusus) sudah pasti mempunyai SSA. Masih banyak orang SSA yang tidak ingin menjadi LGBT, dia ingin hidup secara identitas hetero seperti yang ada dalam agama atau adat setempat.

Di Peduli Sahabat, para SSA ini menganggap bahwa orientasi seks sesama jenis merupakan pemberian (anugerah) Allah sebagai ujian berupa keburukan. Sikap yang diambil adalah sabar dan tetap berusaha hidup di jalan Allah dengan identitas hetero (menikah dengan wanita, punya anak dll) walau dirasa berat. Sebaliknya kaum LGBT beranggapan bawah SSA adalah pemberian (anugerah) Allah sebagai ujian berupa kebaikan sehingga harus disyukuri dengan jalan menyalurkannya kepada sesama jenis, kalau perlu memperjuangkan hak menikah secara legal.

21. Berarti SSA yang memilih identitas hetero munafik dan membohongi istrinya?
Tidak, karena memang dia menikah atas dasar agama. Bagaimana mungkin orang yang mematuhi agama dikatakan munafik? Soal cinta itu juga urusan lain, cinta tidak selalu berhubungan dengan orientasi seksual. Banyak klien kami yang mencintai istrinya karena Allah.

22. Peduli Sahabat pro atau kontra LGBT?
Pro dan kontra LGBT sudah jelas secara UU dan agama tapi kita tidak mau membahasnya karena itu urusan masing-masing orang. Kami fokus membantu teman-teman SSA untuk menjalani hidup sesuai perintah agama dan menyesuaikan dengan adat setempat. Silakan melihat visi dan misi kami agar jelas.

Tentang Peduli Sahabat
23. Peran Peduli Sahabat?
Kami mendampingi:
• Orang non-heteroseskual yang ingin hidup di jalan agama dan adat setempat. Apakah mereka nanti akan berubah orientasi seksualnya itu bukan tujuan utama, hanya efek saja. Tujuan utama mereka bisa hidup secera identitas hetero dan nyaman di jalan agama dan adat setempat.

• Keluarga (orang tua, anak, saudara kandung) yang bingung menyikapi saat keluarganya ada yang mempunyai SSA.

• Suami atau istri yang pasangannya mempunyai SSA.
Kami belum bisa mendampingi oreng ketiga karena akan kesusahan menggali data, lewat edukasilah kami membantu orang ketiga yang curhat tentang teman, sahabat, paman, bibi, dll yang mempunyai SSA.

24. Berapa lama klien didampingi?
Normalnya paling minim 7 bulan, bisa lebih dari itu karena kadang masalah yang dihadapi bukan sekadar orientasi seksual tapi juga hal lain. Seperti kemampuan memahami orang lain, masalah rumah tangga, dll.

Setelah pendampingan selesai klien bisa menjalani hidup sesuai norma agama dan budaya setempat. Perkara orientasi seksual akan berubah atau tidak sudah urusan lain.

25. Bagaimana cara mendaftar menjadi klien PS
Berikut tata cara layanan pendampingan Peduli Sahabat pusat lewat chat FB:
• Baca dulu semua FILES di grup ini (kalau lewat ponsel lihat di info grup).
• Sebaiknya membaca buku referensi dunia SSA seperti Anakku Bertanya tentang LGBT (dapat dibeli di tobuk terdekat) agar saat wawancara pendamping PS tidak terlalu capek menjelaskan satu per satu. Ini buku umum - parenting, bebas dibaca siapa saja dan jangat takut dituduh berorientasi non-heteroseksual.
• Buat id atau akun baru di FB (tidak ada foto atau tautan pornografi) agar aman bagi Anda (takutnya kalau memakai id/akun asli bisa membuka aib karena ini grup umum.Hubungi pendamping kami (untuk sementara ini baru Sinyo) guna meminta kode klien. Kami berusaha online 12 jam sehari tapi mohon maaf kalau sedang tidak di depan PC akan dijadwlkan ulang.
• Sebutkan kode klien setiap curhat atau wawancara.
• Sabar, karena pendamping harus melayani banyak pihak. Bisa sekali waktu atau beberapa kali pertemuan sesuai sikon.
• Ikuti wawancara sampai selesai (maaf kalau pendamping bawel karena memang harus tahu keadaan klien).
• Ikuti tugas-tugas (selama kurang lebih 7 bulan) hingga selesai, kecuali kasus khusus.
• Klien harus aktif karena semua ini gratis, kasihan pendamping kalau harus menguber-uber klien
• Setelah lulus keberhasilan cita-cita klien diusahakan oleh dirinya sendiri, kami hanya membekali alat-alat di perjalanan menuju cita-cita.
• Jika cita-cita berhasil, boleh melupakan kami (sangat disarankan untuk keharmonisan rumah tangga) tetapi mohon doakan kami agar selalu eksis. Kalau ingin membantu perjuangan PS harap pastikan aman bagi hubungan keluarga yang dibina. Kalau gagal, ya dicoba lagi sampai berhasil
• Ingin donasi boleh (sementara memakai rekening pribadi) yang akan dilaporkan setiap bulan di grup Peduli Sahabat (Facebook)
• Dilarang membagi informasi pribadi (foto, CV, dll) kepada sesama klien atau anggota PS yang umum dengan alasan apa saja. Apalagi sampai bertemu darat kecuali dengan pendamping yang ditunjuk.

26. Bagaimana seorang SSA sudah pernah berhubungan seksual sesama jenis tapi ingin tobat?
Tobat Nasuha, tobat yang sesungguhnya yaitu berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. Bisa bergabung lewat Peduli Sahabat.

27. Apa perbedaan dan persamaan antara laki-laki dan perempuan SSA?
Laki-laki dan perempuan SSA sama saja karakter dasarnya dengan laki-laki dan perempuan heteroseksual hanya berbeda objek yang dihasrati.

28. Bagaimana cara menumbuhkan cinta ke lawan jenis bagi orang SSA?
Dari data kami bisa dilakukan setelah menikah terutama saat sudah menjalani keluarga yang harmonis apalagi hadirnya buah hati. kalau yang dimaksud saat masih bujang menumbuhkan hasrat seksual ke lain jenis terus terang susah karena tidak ada tempat praktik. Satu-satunya ya lewat doa agar ditemukan dengan jodoh yang cocok atau nyaman di hati.

29. Bagaimana orang SSA bisa melakukan hubungan dengan lawan jenis kalau tidak tertarik?
Bisa, silakan ikuti pendampingan di Peduli Sahabat.

30. Apakah perlu jujur ttg kondisi SSA pada pasangan, baik yg sudah menikah atau akan menikah?
Saran utama kami sebaiknya tidak usah karena hal itu benteng pertama yang akan menghalangi klien untuk melakukan tindakan seks sesama jenis. Kecuali situasi khusus karena pasangan sudah paham dunia ini dan siap menerima kenyataan dan yang bersangkutan memang benar-benar yakin tidak akan melakukan tindakan seksual sesama jenis. 

Bahaya jika pasangan tahu keadaan yang bersangkutan adalah terjadinya 'deal' pemakluman sehingga kurang berhati-hati dalam bertindak. Semua diserahkan kepada klien dengan segala konsekuensinya.

31. Apakah harus nikah jika masih belum tertarik pada lawan jenis sama sekali?
Sebaiknya begitu karena lewat menikahlah salah satu bantuan terbesar mengubah orientasi seksual.

32. Bagaimana menangani anak yg tahu bahwa ayahnya seorang gay Apakah ada kemungkinan mereka akan balas dendam dengan menjadi gay juga.
Ini harus dijawab per kasus karena umur dan pengetahuan anak sangat berpengaruh. ikut saja pendampingan di PS nanti akan kami masukkan layanan keluarga.

33.Apa saja yang harus dipersiapkan oleh seorang calon istri menjelang pernikahannya dengan seorang calon suami yangg punya SSA?
Ada pendampingan khusus calon pasangan atau pasangan. Kami hanya melayani calon suami SSA yang sudah ikut (mau dengan ikhlas ikut) pendampingan SSA. kami akan dampingi secara bertahap dari dua sisi. Intinya keduanya harus memahami benar dunia SSA dengan baik.

34. Apakah harus memaafkan orang yang pernah mencabuli saya ketika kecil?
Kejadian masa lalu tidak bisa diubah berkebalikan dengan masa depan yang ada di tangan masing-masing orang. Memaafkan kesalahan orang lain adalah salah satu akhlak terpuji dalam Islam.

35. Apakah seorang SSA yang masuk suurga disana dipasangkan dengan suami or istrinya di dunia or dipasangkan dengan yang didunia cuma bisa ditahan tahan?
Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).

36. Apakah setelah masalah SSAnya tuntas boleh tetap 'kontrol' ke PS?
Curhat atau membantu boleh dengan catatan aman bagi pernikahan yang bersangkutan. Jangan sampai pernikahan yang haromis berantakan gara-gara ingin curhat dan membantu kami.

37. Apa alasan paling banyak seorang SSA memilih identitas sosial hetero?
Keyakinan untuk mengikuti agamanya.

38. Bagaimana meneguhkan niat untuk tetap fokus pada tujuan utama belajar menjadi hetero?
Ingatlah mati.

39. Bagaiaman menyikapi orang dengan kecenderungan biseksual?
Sikapi dengan akhlak mulia, kalau dia terbuka dengan kita maka bantulah, jika dia menutup diri berilah informasi tentang pentingnya mengikuti jalan agama secara tidak langsung.

40. Bagaimana mendeteksi orang SSA kalau dijodohkan?
Selidiki masa kecil dan remaja lewat keluarga, sahabat, atau kerabat dekatnya. Tanya pula teman-teman dekat bagaimana keseharian calon suami.

41. Apakah ada pertanyaaan khusus agar kita bisa membedakan orang SSA atau hetero, terutama kalau kita pacaran?
Ya tanya saja langsung, kamu SSA atau heteroseksual? Berharap saja orangnya jujur. Cara terbaik selediki masa lalunya.

42. Bagaimana tafsir tentang hukuman bagi orang yang melakukan tindakan homoseksual?
Hal itu sudah dijelaskan ulama hanya saja perlu beberapa tingkatan untuk mencapai hukumuan terberat. Apalagi di Indonesia bukan negara yang memakai hukum Islam, bahkan kalau memakai hukum Islam sekali pun tentu perlu pengadilan agama dengan saksi-saksi yang cukup serta memadai.

43. Saya ketahuan memiliki SSA oleh orang tua, bagaimana menjelaskan kepada mereka kalau saya bukan LGBT?
Jelaskan semampunya, jika kesulitan hubungi Peduli Sahabat untuk menjelaskan kepada orang tua.

44. Bagaimana saya harus bersikap terhadap teman-teman LGBT yang berpendapat bahwa saya ini sebenarnya hanyalah gay in denial?
Ya cuek saja fokus ke tujuan yang akan dicapai toh hidup ini dijalani masing-masing. Tidak mungkin memaksa orang lain untuk setuju dengan langkah yang kita ambil walau mungkin baik dan sesuai agama.

45. Kenapa sih kok laki bisa suka laki? Apa yg mereka cari? Kan apa yg ada di diri mereka sama?
Macam-macam, bagi mereka yang heteroseksual tetapi melakukan hubungan seks sesama jenis hanya sekadar pemuasan nafsu saja. Mereka yang mencari duit tentu ya demi harta, dan lain sebagainya. Tergantung masing-masing individu termasuk kebutuhan psikologis. Terkadang hubungan seksual yang mungkin terjadi bukan seks itu semata tetapi kepuasan jiwa karena ada sesuatu yang didapatkan pada laki-laki yang disukai.

46. Teman saya baru mengaku kalau dia SSA. Apa yg harus saya lakukan?
Dalami dulu apa yang dia mau, kadang orang SSA butuh teman curhat agar dia terkurangi beban hidupnya. kalau sudah didalami dan tahu apa keinginan yang utama maka arahkan ke jalan Allah.

47. Saya baru mengetahui kalo putra saya menyukai sesama jenis. Sebagai ibunya saya merasa terpukul dan gagal dalam mendidiknya. Apa yang harus saya perbuat?
Pertama jangan panik. Langkah kedua pelajari dunia SSA dengan baik dan bantu dia untuk belajar berubah. Kalau kesulitan bisa menghubungi Peduli Sahabat.

48. Kenapa ada perempuan yang bersikap dan meniru lelaki, apa bisa dikategorikan dia LBGT?
Kalau LGBT atau tidak ya harus ditanya. Nah kalau SSA atau tidak ya harus diselidiki dulu, tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari sikap luar saja.

49. Saya mimpi basah bercinta dengan perempuan, padahal saya perempuan, apa saya punya potensi SSA?
Tergantung intensitas mimpinya, kalau lebih dari satu kali iya berpotensi. Terpenting saat sadar saja karena soal mimpi masih menjadi bahan penilitian yang kadang penuh misteri.

50. Apakah ada makanan tertentu yang bikin jadi SSA?
Setahu kami makanan yang terpapar zat kimia tertantu bisa meningkatkan hormon tertentu tetapi kalau sampai menjadikan seseorang kemudian SSA masih perlu penelitian yang lebih mendalam.

51. Saya ingin mencoba psikoterapi guna mengatasi masalah SSA saya. Bagaimana saya bisa tahu psikolog mana yang sesuai dengan kebutuhan saya?
Para psikolog yang tergabung di Peduli Sahabat, berita dari mulut ke mulut, atau psikolog yang sudah jelas mendukung ke arah agama dengan baik.

52. Apakah benar terlalu alim atau terlalu menghormati wanita misal ibu atau sayang sekali kepada kakak wanita, bisa menjadi sebab hilangnya keingintahuan pada wanita. Akhirnya mengarah ke sesama jenis?
Sudah dijelaskan pembelokan terjadi pada masa balita, kalau ada trauma atau hal psikolgis lain biasanya adalah penguatan. Pertanyaan di atas lebih ke pola asuh yang akan menguatkan pembelokan yang sudah ada.

Baca juga : Pertanyaan seputar LGBT - Part 2

Semoga  Pertanyaan Seputar LGBT - Part 1 ini bermanfaat.. Salam Hangat.



Sumber :
Peduli Sahabat, 10 Juli 2015

Penyusun Sinyo (FB Sinyo: sinyo.egie.
Kontak: 085727686015,
Email: sinyoegie@gmail.com)
Blog: http://sinyoegie.wordpress.com/
www.pedulisahabat.org
Grup FB PS: https://www.facebook.com/­groups/pedulisahabat2014/

Curriculum Vitae
Data Personal
Nama lengkap : Agung Sugiarto
TTL : Magelang/22-10-1974
Nama Pena (non-fiksi) : Sinyo
Nama Pena (fiksi anak) : Sisha (Sinyo selalu happy)
Alamat penulis sesuai KTP : Ringin Anom 172.E Magelang 56115
Alamat domisili : Ringin Anom 172.E Magelang 56115
Telp. rumah : 0293-360795
Mobile : 085727686015
E-mail : sinyoegie@gmail.com
Blog utama : http://­sinyoegie.wordpress.com/
Facebook : sinyo.egie
Pendidikan terakhir : S1 Pend. Bhs. Perancis IKIP Yogyakarta (UNY)
Hobi/bidang minat : Menulis, membaca, Internet, komputer

Riwayat pekerjaan utama
• Tahun 2001 – 2003 : Guru mapel Bhs. Inggris dan Perancis di SMA YPBI 4
Kayuagung, SMAN 3 Unggulan Kayuagung, SMK PGRI
Kayuagung (Sumsel) - mengundurkan diri
• Tahun 2003 – 2006 : Customer Support Indonet Magelang
• Tahun 2006 – 2010 : Kepala cabang Indonet Magelang & Semarang
- mengundurkan diri
• Tahun 2010 : Dosen E-Commerce di STIE AMA Salatiga
- mengundurkan diri
• Tahun 2010 – … : Wiraswasta
• Tahun 2012 : Trikom-Dixi Bandung – mengundurkan diri
Pekerjaan dan Kegiatan Lainnya
• Internet marketing freelance
• Penulis freelance
• Admin (humas) dari Tim 13/Tim7 Paberland (Grup Komunitas Penulis Bacaan Anak)
• Admin (humas) Grup FB Penerbit Pena Nusantara
• Admin (owner) Grup FB Forum Peduli Bahasa Indonesia
• Admin (owner) Grup FB Peduli Sahabat (membantu masyarakat agar tidak terjerat di dunia LGBT)

Trainer dan Konselor
• Trainer dan konselor parenting untuk:
- Pendidikan anak usia dini (paud) Islami
- Teknologi Internet dan Game
- LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transjender)
- Hubungan suami dan istri
• Trainer kepenulisan
Karya tulis
• Cerpen, Fenomena Cinta Rismi, majalah MOP (Suara Merdeka) Desember 1992
• Artikel rutin di kolom Komunitas WE, Majalah HotGame (Gamedia), 2005-2008
• Penulis utama majalah Winning Eleven (byproduct HG, Gramedia), 2006-2008
• Handout STIE AMA Salatiga untuk sub mata kuliah Internet Marketing dengan bapak Wiendy Kusuma, S.T.
• Buku Dua Wajah Rembulan (membuka rahasia komunitas muslim yang mempunyai SSA (Same Sex Attraction) di milis hijrah_uey grup Yahoo , Indie Publishing Jakarta, Februari 2011
• Buku Adab Muslim dalam Bergaul (Buku pengayaan), Acarya Bandung, Mei 2012
• Buku Adab Muslim dalam Belajar (Buku pengayaan), Acarya Bandung, Mei 2012
• Buku Aku Pernah Durhaka (parenting - Islami), Qibla – Bhuna Ilmu Populer (Gramedia Group) Jakarta, Desember 2013
• Buku Generasi Muslim Penipu (parenting - Islami), Qibla – Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Group) Jakarta, Januari 2014
• Buku Anakku Bertanya Tentang LGBT (parenting - Islami), Quanta - Elexmedia (Gramedia Group) Jakarta, November 2014
• Buku Pendidikan Anak Usia Dini ala Luqman Al Hakim (parenting - Islami), Qibla - Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Group) Jakarta, Januari 2015
• Komik Si Kepo Alif (anak-anak Islami duet dengan Tethy Ezokanzo), Quanta Kids – Elexmedia (Gramedia Group) Jakarta, Februari 2015
• Komik Ibadah Si Alif (anak-anak Islami duet dengan Tethy Ezokanzo), Quanta Kids – Elexmedia (Gramedia Group) Jakarta, Februari 2015
• Komik Si Alif Sayang Semua (anak-anak Islami duet dengan Tethy Ezokanzo), Quanta Kids – Elexmedia (Gramedia Group) Jakarta, Februari 2015

Kejuaraan/Lomba
• Juara II lomba menulis cerpen anak Syamil Quran 2014 tema Cinta Quran dengan judul cerpen Ruang Eksekusi (Sisha)
• Juara II lomba menulis cerpen FaberCastell Internasional Indonesia 2014 Kategori C dengan judul cerpen Ruang terakhir (Sisha)
Informasi lainnya :
Naskah yang akan terbit:
• Komik Alif seri IV duet dengan Tethy Ezokanzo, Quanta – Elexmedia
• Buku remaja duet dengan Tethy Ezokanzo, Tiga Serangkai - Solo
• Sedang menyusun naskah buku
• Astaghfirullah, Teganya Kau Lecehkan Anakku! (parenting Islami)
• Astaghfirullah, Anakku Kecanduan Game (Parenting Islami)
• Astaghfirullah, Anakku Melihat Adegan Seks (Parenting Islami)
• Ranking 28 (Parenting Islami)
• Sehat Ala Nabi Daud (kesehatan Islami)

Jan 25, 2016

Menjadi Pemimpin di Kehidupan Anak-Anak Kita

Menjadi Pemimpin di Kehidupan Anak-Anak Kita
Menjadi Pemimpin di Kehidupan Anak-Anak Kita
Menjadi Pemimpin di Kehidupan Anak-Anak Kita. Ayahku adalah pemimpinku. Ibuku adalah pemimpinku. Ayah dan ibuku adalah para pemimpin di dalam hidupku. Demikianlah harapan anak-anak kita. Mereka selalu berharap ada yang membimbing hidup mereka. Mungkin mereka tidak pernah mengajukan permintaan sebagai makmum. Juga tidak pernah meminta kita secara lisan sebagai imam. Tapi, sejak lahir di muka bumi ini, mereka telah ditakdirkan oleh Allah swt. berada dalam tanggung jawab kita. Mereka tidak bisa memilih siapa yang menjadi bapak ibu mereka. Kitalah yang dipilih oleh Allah swt. mengasuh, membesarkan dan mengarahkan hidup mereka. Secara fitrah orang tua memegang amanah kepemimpinan bagi anak-anak mereka.

Inilah yang saya pahami. Ini pula yang mudah-mudahan Anda pahami. Tidak hanya panggilan alam, peran sebagai pemimpin adalah amanah syar’i sebagaimana termaktub secara abadi di dalam hadits mutafaqun ‘alayh berikut,
“Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Setiap wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (Muhammad SAW)

Kesadaran bahwa kita, orang tua, sebagai pemimpin bagi kehidupan anak-anak sangat penting dalam proses pendidikan mereka. Abai dengan peran ini membuat fungsi kepemimpinan diambil alih oleh lingkungan, teman, bacaan, tontonan, gadget atau apa saja yang ada di sekitar mereka. Kekuatan-kekuatan ini berlomba menjadi pemimpin bagi jiwa dan kehidupan anak-anak kita. Berebut men-tuning pribadi mereka. Dan anak-anak tanpa sadar memposisikan diri sebagai makmum mereka. Bila itu terjadi, maka pribadi anak-anak akan berkembang di luar harapan orang tua. Mereka menjadi anak lingkungan yang tumbuh laksana tanaman liar. Celakanya, lingkungan tempat tumbuh kembang anak-anak telah tercemari oleh banyak racun : racun kapitalisme, sekulerisme, hedonisme, materialisme dan banyak lagi isme-isme rusak yang lain.

Lalu bagaimana cara menjalankan fungsi kepemimpinan bagi anak-anak kita? Izinkan saya meminjam istilah-istilah yang dipakai Stephen Covey di dalam bukunya The 8th Habit. Sebagai kerangka penjelasan bagaimana menjalankan konsep kepemimpinan orang tua.

Untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, maka orang tua paling tidak harus mampu menjalankan 4 fungsi elementer seperti, pathfinder (pemandu jalan), empowering (pemberdayaan), alignment (penyatuan) dan role model (suri teladan).

1. Fungsi pertama sebagai pemandu jalan (pathfinder)
Orang tua, terutama ayah, wajib berperan sebagai pemandu jalan dalam kehidupan anak-anak mereka. Menunjukkan arah perjalanan hidup yang akan dilalui anak-anak mereka. Membimbing mereka agar hidup dengan visi yang benar dan besar. Membimbing mereka bagaimana meraih kedua visi tersebut.

Sekarang bayangkan kita dan keluarga sedang berada di tengah hutan belantara yang terlihat indah namun penuh ketidakpastian. Apakah layak bila orang tua menikmati keindahan hutan, sementara anak-anak dibiarkan bermain tanpa arah? Umumnya orang tua selalu memantau dan waspada. Memastikan anak-anak bermain di daerah yang aman. Kalau perlu orang tua menunjukkan dimana mereka harus bermain. Bukannya membebaskan berkeliaran mengikuti terbangnya burung jalak atau mengejar kelinci masuk ke dalam hutan. Secara naluriah orang tua akan menahan anak-anak menuju tempat yang berbahaya. Mencegah mereka memasuki wilayah yang tidak bisa dipastikan keamanannya.  Orang tua selalu menginginkan daerah teraman untuk bermain anak-anak mereka.

Begitu pula dengan kehidupan ini. Orang tua harusnya memastikan bahwa jalan hidup anak-anak mereka berada dalam track yang benar. Membimbing dan menumbuhkan visi hidup buah hati dalam kehidupan masa depan. Sebagaimana standar The MODEL, maka ada dua macam visi yang musti di-tuning pada anak-anak. Pertama adalah visi akhirat (true vision) dan yang kedua adalah visi dunia (big vision).

Orang tua tidak akan membiarkan anak-anaknya hidup tanpa arah (visi) atau menuju arah yang salah. Anak-anak harus dipastikan sedang menuju pintu kesuksesan, sukses dunia dan akhirat sekaligus. Sebagaimana do’a kita,
“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (TQS. Al-Baqarah: 201).

2. Fungsi kedua adalah pemberdayaan (empowering). 
Orang tua harus men-tuning anak-anak dengan kualitas pendidikan yang terbaik. Bayangkan buah hati kita sebagai anak raja yang biasanya mendapatkan pendidikan terbaik. Anak raja bukanlah anak rakyat kebanyakan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pribadi sempurna. Disiapkan untuk memegang tampuk kepemimpinan berikutnya. 

Oleh karena itu, anak-anak kita musti mendapatkan pendidikan yang mampu menumbuhkan potensi maksimal mereka. Mampu membangun kecerdasan beragam yang mereka miliki. Mampu menanamkan visi akhirat dan visi dunia sekaligus. Mampu membimbing bagaimana meraih dua visi tersebut. Mampu menyiapkan anak-anak agar siap menggenggam singgasana dunia. Terakhir, mampu menumbuhkan jiwa kontributif dalam membangun peradaban.

Pemberdayaan pada buah hati berarti memastikan mereka memiliki modal untuk sukses dan kontributif. Lalu modal apa yang dibutuhkan?  Di dunia pendidikan dikenal dua macam kompetensi yang menjadi bekal dalam menjalani kesuksesan. Yang pertama adalah hardskill dan yang kedua adalah softskill. Hardskill adalah kompetensi akademik atau kemampuan teknis. Misalnya, penguasaan pelajaran sekolah atau keterampilan komputer, bahasa, pertukangan, memasak dan lain-lain. Sementara, softskill adalah kemampuan dalam mengelola diri serta interaksi dengan orang lain. Contoh softskill adalah manajemen waktu, mengatasi emosi, komunikasi dengan orang lain, memimpin dan lain-lain. Nah, memberdayakan anak-anak berarti memberi bekal hardskill dan softskill ini sekaligus.

Disamping hardskill dan softskill, orang tua juga harus memastikan anak-anak hidup berdasarkan good values. Good values yang dimaksud di sini adalah Islam. Hardskill, softskill dan good values adalah modal bagi mereka dalam meraih visi akhirat dan visi dunia. Penguasaan tiga hal ini merupakan inti pemberdayaan anak-anak kita.

3. Fungsi yang ketiga adalah penyatuan kekuatan (alignment)
Orang tua haruslah memahami segala sumber daya yang ada di dalam keluarga. Harus kreatif membangun atmosfir keluarga yang sinergis. Menyatukan sumber daya tadi demi mewujudkan tujuan bersama. Tujuan utama dan pertama adalah meraih visi akhirat. Mendapatkan surga terbaik di yaumil akhir. Tujuan berikutnya adalah mewujudkan visi dunia setiap anggota keluarga, termasuk visi anak-anak di masa depan. 

Orang tua harus bisa melihat segala potensi yang dimiliki keluarga agar bisa saling melengkapi. Harus melihat segala kesempatan dalam membangun sinergi. Dalam sinergi, satu ditambah satu tidak sama dengan dua. Sinergi itu ketika kita mampu menambah satu kekuatan dengan satu kekuatan sehingga menjadi seratus, seribu, sejuta bahkan tak terhingga kekuatan.


Misalnya, berikan amanah pada kakak untuk membacakan buku bagi adik-adiknya. Membacakan sirah Nabawiah atau hadits-hadits terkait akhirat. Ini tidak hanya membuat adik menjadi paham tentang agama, tapi juga membangun kepercayaan diri pada sang kakak. Bila adik sudah cukup besar maka bisa pula membacakan sirah, hadits, ayat Qur’an atau pelajaran lain bagi sang kakak. 

Kakak juga bisa diminta memeriksa pekerjaan rumah adik, sementara adik diminta membantu keperluan kakaknya. Sinergi juga bisa dibentuk melalui saling menasehati dengan baik untuk kebaikan. Pemberdayaan potensi anak-anak kemudian diikuti dengan penyatuan potensi mereka dalam sebuah kehidupan yang sinergis akan memudahkan pencapaian visi bersama.

4. Fungsi keempat adalah menjadi tauladan (role model)
Tauladan yang baik (uswatun hasanah) adalah inti sari dari setiap kepemimpinan. Tanpa keteladan, ucapan baik orang tua hanya berakhir sia-sia. Apa yang dilakukan berbicara lebih keras dibandingkan apa yang terucap. Mata dan telinga anak selalu tertuju pada orang tuanya. Merekam aktifitas orang tua sehari-hari. Kebiasaan orang tua yang diindera oleh anak akan sangat efektif men-tuning anak-anak. Oleh sebab itu, orang tua harus menjadi contoh hidup dari segala nilai baik yang diceramahkan. Orang tua harus menjadi pelaku dari segala kebaikan yang diajarkan. Allah swt. menjaga dengan mewajibkan setiap orang, termasuk orang tua, agar merealisir satunya kata dengan perbuatan.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (TQS. As-Shaff: 2-3)
Jadi, tidak salah bila kita sebagai orang tua mengingat kembali pepatah bijak dari Naomi Aldort bahwa “Mendidik anak pada dasarnya mendidik diri sendiri”.
============================

TANYA ~ JAWAB

1. Pertanyaan dari Bunda Meydina: 
Assalamualaikum Ustadz, saya ibu dari putri yang usianya menjelang 14th, saat ini menjalani pendidikan di Rumah. Beberapa hal saya sudah merasa sangat "aman", karena anak sudah tau "koridor" yang harus dipatuhi terutama untuk kewajiban kewajiban berkaitan dengan Ibadah, tetapi  dengan berkembang dan bertumbuhnya menuju Aqil Baligh, "TUGAS" menjaga Amanah ini tentunya tidak menjadi mudah, apalagi dengan suami yang hadir hanya sehari dua hari dalam sepekan. Bagaimana men"Tunning" diri, agar kami bisa menjadi pemimpin yang benar dalam mendidik putri kami hingga mengantarnya menjadi wanita sholehah yang kuat aqidahnya?


JAWABAN
Wa'alaikumslm Bunda Meydiana, Betul sekali. Tugas mendidik anak, apalagi akil baligh saat ini semakin banyak tantangan. Ada banyak kekuatan tak diundang yang turut men-tuning anak-anak kita. Misal, gadget, internet, televisi, teman, tetangga, sepupu, dll. Bila kita lengah bisa jadi tuning mereka lebih kuat.

Untuk itu kita harus pastikan bahwa tuning orang tua yang berbasis pada prinsip Islamlah yang paling berpengaruh. Untuk itu bbrp hal yg harus selalu diperhatikan:
1. Konsistenlah sebagai orang tua yang berpegang pada Islam dalam keseharian. Di sini anak akan melihat secara langsung praktek Islam.
2. Jaga suasana persahabatan dengan berdialog yang positif. Jadilah teman curhat dan ngobrol anak. Di sini kita bisa men-tuning pemahaman mereka dengan Islam.
3. Sadarkan anak kita tentang akil baligh adalah saat terpenting dalam hidup karna 'argo' pahala dan dosa sudah jalan.
4. Sampaikan kewajiban-kewajiban ketika sudah baligh.
5. Jaga 'otoritas' ayahnda di mata anak. Sampaikan kebaikan dan pengorbanan ayahnda yang berjuang untuk keluarga. Ini penting agar anak tidak kehilangan figur ayah.
6. Libatkan anak dalam dakwah.
7. Carikan teman dakwah anak kita. 
8. Dakwah adalah pertahanan terbaik melawan tuner2 liar.

Dari bunda ratna :
Berhubungan dengan jawaban untuk Bunda Mey, mungkin beberapa ibu termasuk saya kesulitan dalam mencarikan "teman dakwah" anak, karena yang memilih teman adalah anak itu sendiri, meskipun temannya sebetulnya baik-baik. Nah, bagaimana tips untuk mencarikan teman dakwah ini tadz?

Jawaban :
Mencari "teman dakwah" anak yang paling gampang adalah anak-nya "teman dakwah" bunda. Buatkan agenda bersama di antara mereka. Liqo atau halaqah bareng. Bersama-sama ikut kajian-kajian di masjid dan lain-lain. Teman dakwah yang lain dan terdekat adalah bunda-nya. Libatkan anak-anak dalam dakwah. Bila sudah siap beri mereka kesempatan untuk menyampaikan dakwah.


2. Pertanyaan dari Bunda Ratna :
Ustadz, saya mempunyai mimpi yang tinggi untuk anak-anak saya. Saya terus berusaha membangun akhlaq mereka menjadi pribadi bertaqwa, tetapi cobaan datang bahkan dari dalam rumah, dimana kadang saya dan suami diharuskan sibuk dengan pekerjaan kami, asisten rumah tangga yang berbeda karakter dan harus terus-menerus bersabar untuk memberitahu bagaimana seharusnya mengarahkan anak-anak dirumah bila saya tidak ada, dan juga karakter ibu mertua yang “unik” serta lain-lain hal. 
Bagaimana cara saya mengarahkan anak-anak agar tumbuh menjadi anak yang berjiwa tangguh dan teguh dalam ber-Islam ditengah keberagaman karakter di sekelilingnya?


JAWABAN 
Bunda Ratna, yang perlu disadari orang-orang di sekitar anak-anak kita akan berpengaruh besar dalam perkembangan kepribadian anak. Istilah yang sering saya pakai, mereka men-tuning pribadi anak-anak kita. Sebut saja, saudara, mertua, asisten rumah tangga, bahkan tetangga itu sendiri.

Coba Bunda perhatikan, anak-anak kita, apalagi yang belum dewasa, akan lebih dekat pada orang yang memenuhi keinginan-keinginan mereka. Tidak peduli keinginan itu negatif. Maka orang yang dekat dengan anak kita akan men-tuning negatif. Belum lagi sikap-sikap orang dekat yang kadang mempengaruhi jiwa anak kita seperti kepercayaan diri, kesopanan, dan lain-lain. 

Maka, kita perlu berhitung dan mencermati bagaimana pengaruh orang-orang dekat pada anak kita. Bila pengaruh negatifnya besar bahkan akan berdampak panjang, tidak ada salahnya mengambil langkah yang agak ekstrim, misal mengganti asisten rumah tangga atau pindah rumah. Bila Bunda dan suami tidak ada di rumah maka kendali tidak lagi pada bunda, tapi pada orang dekat yang ada di rumah. Itu sunatullahnya. Terutama untuk anak kita yang masih kecil.

Bila mereka sudah cukup besar, sebenarnya cukup diingatkan dengan ajaran-ajaran Islam yang menjadi pegangan hidup. Misal, anak diingatkan shalatnya. Diingatkan belajar agamanya. Diingatkan bacaan Qur'annya dan lain-lain.


Untuk mengarahkan anak-anak kita agar tumbuh menjadi anak yang tangguh dalam ber-Islam, maka pastikan bahwa kita adalah tuner terkuat di antara yang lain. Disinilah pentingnya poin-poin yang saya sampaikan menanggapi Bunda Meydiana tadi. Ditambah do'a yang harusnya selalu kita  panjatkan.

Intinya kita harus bisa memastikan bahwa tuner terkuat untuk anak-anak adalah kita. Kepercayaan dan rasa aman anak dalam berinteraksi dengan kita adalah kunci utama menjadi tuner terkuat anak-anak kita.


3. Pertanyaan dari Bunda Amalia:
Ustadz, bagaimana memimpin anak yang keras kepala? Anak kami usia 6 tahun


JAWABAN
Bunda Amalia, Saya tidak tahu yang dimaksud keras kepala itu apa. Yang kadang terjadi adalah kita menganggap anak kita bisa berpikir seperti kita. Kadang-kadang orang tua, termasuk saya kadang-kadang, memaksa anak untuk paham apa yang kita inginkan. Kita kadang alfa memahami keterbatasan mereka sebagai anak-anak.

Misalnya, kita menginginkan anak-anak kita belajar di malam hari bukannya bermain. Kita lupa bahwa usia 6 tahun akal anak belum sempurna. Dia belum bisa memahami arti penting belajar. Maka sebaiknya kita gunakan prinsip "First to understand and then to be understood". Pertama kita pahami, lalu kemudian kita akan dipahami.

Nah, inilah pentingnya kita memahami bagaimana kondisi anak kita. Dengan memahami kondisinya kita bisa mengatur strategi bagaimana bisa mengarahkan mereka.


Bunda, sedikit catatan penting. Keseharian kita sebagai orang tua adalah cara memimpin terbaik. Bisa jadi anak-anak tidak langsung bisa mengikuti kepemimpinan kita karena sunatullahnya mereka memang belum dewasa, tapi apa yang mereka saksikan pelan tapi pasti akan membekas di memori anak-anak kita. Bila sudah membekas, akan ada masanya anak-anak akan mudah mengikuti apa yang kita inginkan melalui contoh keseharian.


4. Pertanyaan dari Bunda Lani:
Ustadz, selama ini saya membiasakan agar adik yang kecil, usia 6thn  hormat dan santun pada kakak (10thn), dan kakak harus memahami bahwa dia adalah panutan bagi adik, sehingga kakak harus lebih menyadari untuk selalu berlaku baik. Namun, rupanya hal ini justru di anggap beban bagi kakak. Sebaiknya bagaimana sikap saya  dalam menanamkan peran kakak yang (harapan saya) memimpin adik?


JAWABAN
Bunda Lani, Menarik kalau mengikuti interaksi anak-anak kita. Yang kecil diajarkan hormat kepada kakak, dan yang besar diajarkan menyayangi sang adik. Ini adalah bagian dari indahnya Islam. Adapun menuntut kakak (10 tahun) untuk menjadi panutan pastinya akan menjadi beban kalau standar yang kita pakai adalah orang dewasa. Kadang kita lupa menakar standar ini. Karena sayang kita pada ananda, kita ingin mereka menjadi sesuai standar Islam yang kita pahami. Beban itu datang ketika mereka harus mengikuti standar yang seringkali belum mereka pahami reasonnya.

Jangankan anak-anak, kita orang tua saja kalau harus mengikuti standar Islam yang ideal dari ustadz kita pasti berat. Bayangkan ustadzah kita hidup satu rumah dengan kita, kemudian beliau memastikan kita harus mengikuti standar beliau. Berat bukan?


Makanya, memposisikan kakak sebagai panutan dalam kerangka latihan untuk anak kita. Cari cara bagaimana kakak bisa menikmati sebagai panutan.


5. Pertanyaan dari Ummu Zahra :
Bagaimana pandangan Ustadz, mengenai Orangtua yang pemahaman agamanya kurang, sehingga memasukkan anak ke Pondok Pesantren agar anak mendapat ilmu agama lebih baik? Tetapi akhirnya orangtua kurang berperan sebagai tuner terdekat.


JAWABAN 
Ummu Zahra, Tinggal di ukur apakah memasukkan anak ke ponpes perkembangan intelektual, emosional dan spritualnya lebih baik daripada bersama ortu? Di sinilah pentingnya memahami calon ponpes yang akan men-tuning anak kita. Pahami kurikulumnya, ustadznya, lingkungan dan lain-lain. Bisa pula mencari tahu output dari ponpes itu bagaimana. Jangan-jangan tuning negatif malah didapat dari ponpes.

Bila kita sebagai ortu merasa kurang, maka inilah momentumnya untuk belajar giat tentang Islam dan ilmu parenting. Membersamai anak-anak dalam kesungguhan untuk meningkatkan kualitas diri jauh lebih baik memasukkan anak-anak ke ponpes yang tidak begitu jelas kualitas tuningnya.

Kadang-kadang kita merasa aman dan tenang memasukkan anak-anak ke ponpes. Padahal, tidak sedikit anak-anak bermasalah juga lahir dari ponpes karena pergaulan dan kualitas pendidikan di sana. Maka dari itu, menurut hemat saya kita harus menimbang-nimbang sejelas-jelasnya sebelum memasrahkan pribadi, jiwa dan kehidupan anak di-tuning oleh ponpes.


6. Pertanyaan dari Bunda yayuk : 
Bagaimana caranya menjadi pemandu jalan, baik untuk menuju akhirat atau dunia, sedang anak sudah terkena virus-virus dari lingkungan bahkan dari orang tua yang mungkin saat dulu masih otoriter atau cendrung menggunakan kekerasan fisik.


JAWABAN
Bunda Yayuk, Kunci perubahan diri adalah pemahaman atau cara pandang. Cara pandang inilah yang menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan.  Anak-anak yang terkena virus lingkungan harus segera diobati dengan:
1. Mengisolir anak dari virus itu.
2. Memastikan anak-anak memiliki cara pandang yang benar dalam menjalani hidup. 

Ada pepatah yang mengatakan, "taburlah pikiran tuailah perbuatan, taburlah perbuatan tuailah kebiasaan, taburlah kebiasaan tuailah nasib". Nah pikiran anak inilah yang harus jadi fokus. Bagaimana pikiran anak agar sehat? Beri informasi yang paling bergizi untuk pikirannya. Pikiran yang tumbuh dari gizi  pelajaran yang baik InsyaaAllah akan mampu melindungi jiwa mereka dari virus-virus lingkungan.


Bagaiman bisa memberi pelajaran bergizi? Dekati anak sedekat mungkin. Pastikanlah kita sebagai teman terbaik mereka. Tempat curhat dan meminta pelajaran.

KESIMPULAN
Bunda-Bunda HSMN yang hebat, Saya hanya ingin menggaris bawahi. Inti kepemimpinan adalah menjadi role model (teladan) bagi anak-anak kita. Memimpin artinya menunjukkan arah, memberdayakan pribadi mereka dan menyatukan segala potensi untuk mencapai arah bersama (dunia dan akhirat).


Karena berbagai kekuatan (lingkungan) juga turut berebut menjadi pemimpin bagi jiwa dan pribadi anak-anak kita, maka pastikan kita adalah tuner terkuat mereka. Tuninglah anak-anak dengan menjalani kehidupan Islam secara konsisten dalam keluarga. Tegakkan Islam pada diri kita, maka Insyaa Allah akan tegak pula pada anak-anak kita.



Resume diskusi kulwap HSMN Semarang
============================
 Hari dan tanggal : jumat, 22 jan 2016
⏰ Pukul: 20.00 - 21.30 WIB

 Pemateri : Ust. Nopriadi
 Tema "KEPEMIMPINAN ( Menjadi Pemimpin di Kehidupan Anak2 Kita)"
 Moderator 1 : Bunda Ratna Fitri
Moderator 2 : Bunda Lany Setiadi

Notulen :  Bunda Ade Hermawati
============================
PROFILE
(Nopriadi Hermani, Ph.D)

⌛ Dilahirkan di negeri seribu langgar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selepas lulus sekolah menengah atas (SMA) merantau ke kota pelajar, Yogyakarta. Di Kota ini menunaikan amanah orang tua untuk menjadi seorang sarjana. Tahun 1997 meraih gelar sarjana dari Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Beberapa tahun kemudian menyelesaikan program master di Biomedical Engineering, Nanyang Technological University, Singapura. Selanjutnya, meraih gelar Philosophy of Doctor (Ph.D.) di Tokyo Institute of Technology, Jepang, dengan spesialisasi Pattern Recognition & Machine Learning.

⌛ Sejak kuliah hingga sekarang menyenangi banyak berbagai disiplin keilmuan seperti psikologi, pengembangan diri, agama Islam, manajemen, organisasi, kepemimpinan, ilmu sosial-politik, ekonomi, sejarah, peradaban, falsafah ilmu, disamping tentu saja bidang sains & engineering.
 Saat ini hidup bersama seorang istri (Tin Rahmawati) dengan tiga anak (Shafa, Althof dan Kautsar) di Yogyakarta. Menjadi seorang pendidik (educator) adalah nafas hidupnya. Sehari-hari mengajar di Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Pernah mengajar di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Di samping mendidik di lembaga formal (perguruan tinggi), juga mengabdikan diri secara penuh pada pendidikan keluarga dan masyarakat.

 Profile lanjut
 Memiliki pengalaman sharing dan dakwah di berbagai tempat seperti masjid, sekolah, kampus, pesantren, radio, lembaga pemerintahan, dan perusahaan. Berbagi pengetahuan dilakukan di berbagai forum seperti kuliah umum, kajian, diskusi, training, seminar, halqah, workshop dan lain-lain. 
 Sempat sharing ilmu di berbagai kota di dalam dan luar negeri seperti Singapura, Brisbane (Australia), Mina (ArabJ Saudi), Tokyo, Kawasaki, Kawaguchi, Saitama, Yokohama, Yogyakarta, Ternate, Surabaya, Banjarmasin, Palangkaraya, Semarang, Magelang, Solo, Jakarta, Makasar, Kendari dan berbagai kota lainnya.

 Pernah berbagi ilmu & pengetahuan diantaranya di Magister Managemen (MM) UGM, Fakultas Kedokteran UGM, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Fakultas Industri Universitas Islam Indonesia, Fakultas Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, STIEKES Guna Bangsa Yogyakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Sentra Bisnis Islami (STIS SBI) Surabaya, Universitas Muslim Indonesia Makassar, Universitas Sebelah Maret Surakarta, Bank Muamalat Yogyakarta, BTN Syariah, RBTV Yogyakarta, Pengajian Pengusaha Rindu Syariah Yogyakarta, Forum Cinta Qur’an Jakarta, Radio Trijaya FM Yogyakarta, Radio MQFM Yogyakarta, SD/SMP Masjid Syuhada Yogyakarta, Komunitas Homeschooling Muslim Nusantara,  Pesantren As-Salam Solo, Majelis Ulama Indonesia Tasikmalaya, Perum Dosen Universitas Hasanuddin Makasar, Pengajian Ibu Sosialita Mutia Shalehah Yogyakarta, Pengajian Ibu-Ibu PT. Modukismo Yogyakarta, Pengajian Orangtua Sekolah Budi Mulya Yogyakarta, ACIKITA Tokyo, Pengajian Midori Tokyo, Sekolah Republik Indonesia Tokyo, Pengajian Kenshusei Kanagawa, Komunitas Islam Indonesia Brisbane, dan lain-lain.


The MODEL for Smart Parents
Penulis buku pengembangan diri spritual ideologis berbasis Islam yang berjudul The MODEL.
Buku yang telah masuk ke berbagai kalangan.

Dalam waktu dekat akan hadir buku The MODEL for Smart Parents sebagai aplikasi The MODEL untuk keayahbundaan. Selain itu bersama pakar yang kompeten akan dibuat buku-buku turunan dari The MODEL seperti The MODEL for CEO, The MODEL for Entrepreneur, The MODEL for Leader, The MODEL for Manager, The MODEL for Teacher, The MODEL for Teenager, The MODEL for Kids, The MODEL for Mother, The MODEL for Shalehah Woman, The MODEL in Organization dan sebagainya.

Baru-baru ini The MODEL telah melangkahkan kaki dalam dunia ilmiah dengan dipresentasikannya paper berjudul “Aplikasi The MODEL dalam level organisasi” dalam forum The 1st National Conference on Islamic Psychology (NCIP) & The 1st Inter-Islamic University Conference on Psychology (IIUCP), 27-28 Februari 2015 di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta.
Lebih jauh tentang The MODEL bisa dibaca di ww.facebook.com/buku.themodel
⌛ Di akhir kehidupan berharap mati dalam keadaan syahid serta meraih surga Firdaus di yaumil hisab berkumpul dengan orang shaleh, keluarga dan orang-orang yang dicintai. Semoga Allah swt mengabulkan cita-cita ini. Aamin yaa Rabb al ‘Alamin.
Facebook: Nopriadi Hermani
Twitter: @nopriadi
email: nopriadi73@gmail.com