May 27, 2016

Tamparan Keras Tentang Sholat - Sebuah Perenungan

Tamparan Keras Tentang Sholat - Sebuah Perenungan
Tamparan Keras Tentang Sholat - Sebuah Perenungan
This is my true story, sebuah Tamparan Keras Tentang Sholat - Sebuah Perenungan bagi saya. Suatu siang sepulang sekolah, si Abang (8 th) berkata :

Day 1
A : Bunda, Abang mau sholat lagi ya?
B : Lho kan tadi bukannya udah dhuhur di sekolah?
A : Kalo kesenggol temen perempuan batal ga sholatnya?
B : Ya batal dong..
A : Makanya Abang mau sholat lagi
Okey, dimengerti.


Day 2
A : Bunda, Abang mau ngulang sholat lagi..
B : Kenapa, batal lagi ya?
A : Kalo wudhunya ga sungguh-sungguh, sholatnya batal ga?
B : Wudhu kan syarat sahnya sholat, kalo ga bener ya ga sah sholatnya
A : Tadi kayanya pas wudhu Abang ga sampe siku, makanya mau ngulang lagi.
Hiks, pernahkah saya memeperhatikan wudhu dengan begitu detil?


Day 3
A : Bunda, Abang mau ganti baju + daleman, terus sholat ya.. Tadi rasanya celananya kena pipis dikit waktu di kamar mandi.
Sejak itu ia selalu memperhatikan benar kebersihan pakaian dalamnya, BAK dengan sangat hati-hati, tak jarang pula ganti baju full kalo mau sholat.
Jlebb! Saya ganti baju bersih kalau mau sholat aja masi kadang-kadang :(
Okey, saya harus berbenah juga biar ga malu sama Allah
  
Day 4
A : Bunda, Abang kalo sholat kok sukanya sambil mikir yang lain-lain ya? Batal ga sholatnya?
B : Enggak batal bang. Makanya jangan baca dalam hati, jadinya mikir kemana-mana (padahal emaknya juga sering)
A : Bener ga batal? Dosa ga?
B : Setelah sholat minta maaf sama Allah, sambil istighfar ya..
Dan... tiap habis sholat dia selalu mojok sambil merem & istighfar penuh penyesalan. 
Pernahkah saya semenyesal itu saat tidak khusyu' dalam sholat? Mulai mewek.. TT


Day 5-7
Terkadang, sepulang sekolah saya mengajaknya berbelanja keperluan rumah atau kulakan. Dan setiap menjelang jam 14.30 WIB, si Abang sudah mulai gusar dan menanyakan, "Kita nanti sholat di mana, Bund?"
Yaa Robb, rasanya saya benar-benar sedang dikuliti perihal sholat ini.


Day 8
Saya memang paling males mandi sore. Bukan berarti tidak mandi ya, saya termasuk orang yang tidak akan tidur sebelum mandi. Seringnya, saya mandi sore sekitar jam 5 lebih (mepet adzan Maghrib). Jadi terkadang saat adzan berkumandang, saya masih di kamar mandi.


Dan, si sulung yang sudah hafal kebiasaan saya pun hari itu kembali "menampar" saya dengan jujurnya
A : Bunda sengaja ya kalo mandi dimepet-mepetin biar bisa nunda-nunda sholat?
B : Astaghfirullahal 'adziiim, maaf bang.. (langsung ngibrit ke kamar mandi)


Bisa dibayangkan? Seluruh rentetan kejadian itu terjadi dalam dua minggu terakhir. Dan akhirnya saya cuma bisa 'ndlosor' saat sholat sembari menangisi betapa hinanya saya di hadapan Sang Pencipta T,T

Maha Penyayang Allah yang masih menunjukkan kekurangan-kekurangan saya, sesungguhnya Allah Maha Teliti atas segala sesuatu. Pada akhirnya, hanya bisa mengucap syukur atas peringatan yang luar biasa detil melalui si Abang, yang membuat saya semakin merasa kecil dan buruk di hadapanNYA.

Semua ini sungguh mengaduk-aduk hati saya, antara takjub, malu, ingin menangis bercampur menjadi satu. Saya jadi teringat bagaimana Allah mengajari anak Nabi Adam cara mengubur orang yang telah meninggal melalui perantara burung. Kira-kira saya pun sama bodohnya, hingga Allah perlu menjelaskan satu demi satu  melalui si sulung agar saya menyadarinya :(

Padahal ini baru perkara sholat, dan masih panjang lagi daftar PR yang harus saya kerjakan. Semoga umur ini masih mencukupi.. ;-(

Sumber gambar : ilmuislam.com

May 26, 2016

Ibu, Hati-Hatilah dengan Perkataanmu

Ibu, Hati-Hatilah dengan Perkataanmu
Ibu, Hati-Hatilah dengan Perkataanmu
Ibu, Hati-Hatilah dengan Perkataanmu

Sulung kami memang suka sekali membaca buku. Setiap hari selalu ada saja buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Perpustakaan pun menjadi tempat favoritnya sembari menunggu saya datang menjemput.

Sebagai ibu, tentu saya bahagia dengan kegemarannya itu. Meski jadi menambah tugas saya untuk selalu mencari video pendukung dari hal-hal yang ia baca sebelumnya. Seperti video tentang letusan gunung Krakatau, perbedaan tornado dll.

Namun siang ini si Abang bercerita, bahwa ada seorang kawannya yang tak pernah meminjam buku meski ia sangat ingin melakukannya. Mengapa? Karena ia takut pada sang ibu. Bukan karena ibunya benci buku atau bagaimana, bukan. Melainkan di HARI PERTAMA ia meminjam buku dari sekolah, sang ibu yang heran melihat anaknya pulang membawa buku baru tiba-tiba mengejutkannya dengan mengatakan, "KAMU MENCURI BUKU YA?" :(

Dan seperti yang sudah bisa kita duga, sang anak begitu ketakutan mendengar teriakan ibunya. Semenjak hari itu, anak ini tak lagi berani meminjam buku, baik dari sekolah atau siapapun.

Ibu, seandainya engkau mau sedikit lebih bersabar, bertanyalah baik-baik pada anakmu. Alih-alih menuduhnya mencuri, berbahagialah terlebih dulu karena anakmu suka sekali membaca. Andai engkau menyadarinya, ada sebuah paku besar yang kau tancapkan pada hati anakmu di hari itu. Ibu, Hati-Hatilah dengan Perkataanmu.

#belajarjadiorangtua

May 21, 2016

Syarat Sah Jual Beli

Syarat Sah Jual Beli
Syarat Sah Jual Beli
Terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan sebagai syarat sah jual beli.
Pertama, persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu :

1. Kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
“… janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan 
perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…” (QS. An-Nisaa’: 29)

2. Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli, yakni dia adalah seorang mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang), sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang dipaksa (Fikih Ekonomi Keuangan Islam, hal. 92).

Hal ini merupakan salah satu bukti keadilan agama ini yang berupaya melindungi hak milik manusia dari kezaliman, karena seseorang yang gila, safiih (tidak cakap dalam bertransaksi) atau orang yang dipaksa, tidak mampu untuk membedakan transaksi mana yang baik dan buruk bagi dirinya sehingga dirinya rentan dirugikan dalam transaksi yang dilakukannya.Wallahu a’lam.

Kedua, yang berkaitan dengan objek atau barang yang diperjualbelikan, syarat-syaratnya yaitu :
1. Objek jual beli merupakan barang yang suci dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram, karena barang yang secara dzatnya haram terlarang untuk diperjualbelikan.

2. Objek jual beli merupakan hak milik penuh. Seseorang bisa menjual barang yang bukan miliknya apabila mendapat izin dari pemilik barang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
“Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi 1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly)

Seseorang diperbolehkan melakukan transaksi terhadap barang yang bukan miliknya dengan syarat pemilik memberi izin atau ridha terhadap apa yang dilakukannya, karena yang menjadi tolok ukur dalam perkara muamalah adalah ridha pemilik. (lihat Fiqh wa Fatawal Buyu’ hal. 24). Hal ini ditunjukkan oleh persetujuan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan Urwah tatkala beliau memerintahkannya untuk membeli kambing buat beliau. (HR. Bukhari bab 28 nomor 3642)

3. Objek jual beli dapat diserahterimakan. Tidak sah menjual burung yang terbang di udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya. Transaksi yang mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan karena mengandung gharar (spekulasi) dan menjual barang yang tidak dapat diserahkan. Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak sehingga terhindar dari gharar.
Abu Hurairah berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli hashaath (jual beli dengan menggunakan kerikil yang dilemparkan untuk menentukan barang yang akan dijual) dan jual beli gharar.” (HR. Muslim: 1513)

4. Tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ بَاعَ مِنْ أَخِيهِ بَيْعًا فِيهِ عَيْبٌ إِلَّا بَيَّنَهُ لَهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak halal bagi seorang muslim menjual barang dagangan yang memiliki cacat kepada saudaranya sesama muslim, melainkan ia harus menjelaskan cacat itu kepadanya” (HR. Ibnu Majah nomor 2246, Ahmad IV/158, Hakim II/8, Baihaqi V/320; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Berdagang adalah profesi nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Para pedagang yang jujur dan terpercaya kelak akan dibangkitkan bersama pada nabi, orang-orang shiddiq dan syuhada. 
"Sekaya apapun engkau, berdaganglah!"
Demikian penjelasan tentang Syarat Sah Jual Beli, semoga bermanfaat dan dapat menjadi perenungan kita semua.

Salam Hangat,

Sumber :
https://muslim.or.id/222-jual-beli-dan-syarat-syaratnya.html
Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat
HSMN.timtemadiskusi@gmail.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
instagram: @hsmuslimnusantara
twitter: @hs_muslim_n
web: hsmuslimnusantara.org
Sumber gambar : al-misbah.net

May 13, 2016

Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling

Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling
Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling
Naik turun menjalankan HS (Homeschooling) / HE (Home Education) merupakan bagian dari proses HS/HE itu sendiri. Buatlah sebuah panduan penting, agar keluarga HS/HE tetap ingat dan bersemangat menjalankan proses HS/HE mereka. Berikut catatan narasumber, yang diambil dari berbagai sumber karena terbatasnya ilmu. Semoga bermanfaat.

1. Meluruskan Niat. 
Menjalankan HS/HE bukanlah hal yang luar biasa. Proses ini adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, saat kita memutuskan akan menikah. Mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik, bagi para perempuan, dan memilih lahan pendidikan terbaik bagi para laki-laki.

Saat teman / saudara kita meragukan kemampuan kita sebagai orang tua menjalankan HS/HE, ingatlah niat hanya mengharap ridha Allah Jalla wata‘ala. Sebaliknya, saat decak kagum datang menghampiri anak / diri kita, ingat pula, ini semua karena karunia Allah, dan berdoalah agar Alah senantiasa menutupi aib kita.

Ingatlah di akhirat nanti kita akan ditanya tentang harta kita dihabiskan untuk apa, waktu kita, dan rasa letih kita. “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia lakukan dengannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan tentang anggota tubuhnya untuk apa ia pergunakan.”( HR. Tirmidzi, 4/612 no. 2417 dan Ad Darimi, 1/452 no. 554 Maktabah Syamilah.)

2. Memilah Ilmu yang Wajib dan yang Fardhu Kifayah
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).

Seorang penyair berkata,
مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ
Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya
Siapakah yang dapat mengumpulkannya
Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,
Maka carilah yang bermanfaat darinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (Muttafaq ‘alaihi).


Ilmu yang wajib antar lain : Akidah dan Tauhid, Ilmu Adab, Hadits, Fiqih, Bahasa Arab, Siroh, dan ilmu agama lainnya. Sedangkan ilmu fardhu kifayah antara lain : ilmu kedokteran, kesehatan, pendidikan, dan lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan umat.

3. Memilih guru yang solih dan buku yang benar
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan. (Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.)

Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
"Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)".
(Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81).


Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?” Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah). Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Ada banyak contoh dari Ibunda para ulama tentang memilih guru. Misalnya saja Ibunda Imam Malik, yang memerintahkan anaknya pergi kepada para imam ahli hadits, mengadiri majelis mereka, mengambil adabnya. Sang Ibunda Selalu menyiapkan pakaian terbaik anaknya serta merapikan immamahnya seblum Sang Buah Hati pergi ke majelis ilmu.

Dalam menjalankan HS/HE tak bisa dipungkiri, Ibu dan Ayah adalah pendidik utama. Maka, berusahalah memenuhi kriteria sebagai pendidik sesuai adab yang diajarkan Rasulullooh Shollalloohu ‘alaihi wasallam.

Adab di atas berlaku dalam menuntut ilmu agama. Adapun untuk ilmu dunia / ilmu yang fardhu kifayah, bisa kita ambil dari buku-buku terpilih, situs-situs terpercaya, serta mendatangi ahlinya.

4. Pelajari adab menuntut ilmu
Imam Malik rahimahullahu mengisahkan, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

Abdullah bin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Hampir saja adab menjadi dua pertiga ilmu. (Sifatush Shafwah 4/145). Salah seorang Salaf berkata : “Kita lebih butuh adab yang sedikit dibandingkan ilmu yang banyak”. (Madarijus Salikin 2/376). Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaury rahimahullah Ta’ala berkata : “Para Ulama tidak mengizinkan anaknya keluar untuk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama duapuluh tahun".

Muhammad bin Sirin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Mereka para salafus saleh belajar al-Hadyu (adab) seperti mereka belajar ilmu”. (Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami dari Malik bin Anas)
Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbary rahimahullah ta’ala berkata : “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu, dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh”. (Tadzkiratus Sami wa Mutakallim)

Isa bin hamadah rahimahullah ta’ala berkata : “Saya mendengar Al-Layyits bin Sa’ad berkata; “Sungguh para ahli hadits sangat dimuliakan, ketika aku melihat sesuatu pada diri mereka maka aku berkata; “Kebutuhan kalian pada adab yang sedikit lebih butuh dibandingkan ilmu yang banyak”. Ibrahim bin Habiib Asy-Syahid Rahimahullah berkata : “Wahai anakku datangilah para ahli fiqih dan ulama, dan belajarlah dari mereka, ambilah adabnya, akhlaknya, karena hal itu lebih aku suakai dibandingkan hadits yang banyak”. (Al-Jami’ Liakhlakir Rawi 1/80)
   
Yusuf bin Al Husain berkata,
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْمَ
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu

tulisan ini bisa diunduh di sini.


Sesi Tanya Jawab

1. Bagaimana urutan pelajaran aqidah, adab dan ilmu lain yang bukan ilmu fardu kifayah?
Trmksh _ernae_

Jawab
Dengan buku. Belajar dengan buku yang sahih. Bila masih memungkinkan, belajar bersama anak-anak. Bila dirasa perlu, belajarlah ke ahlinya atau datangkan guru. Contoh buku dan fotonya bisa diunduh.


2. Saya ibu dari 2 anak, yang pertama 5th dan yang kedua 2,5th. Saat ini saya sedang dalam kondisi hamil 4bln, lagi mabuk2nya. Anak saya yang 2,5th mulai lebih posesif lagi setelah saya hamil dan kami baru saja pindah kota sebulan lalu. Kondisi diatas, membuat waktu saya dengan si sulung berkurang drastis. Selain butuh istirahat, anak kedua saya 'menawan' saya untuk terus bersama dia. Pertanyaan saya, apakah memungkinkan saya terus HS anak saya dalam kondisi begini? Kalau memang masih mungkin bagaimana solusinya?
Terima kasih,, _Ovi_

Jawab
Semua materi itu adanya di otak ayah dan ibu. Kalau belum ada, segera masukkan. Cara kita menyalurkan materi tsb tentu sesuai usia anak. Di usia balita, ajarkan adab dan akidah lewat keseharian. Saat ibu lemah tak berdaya, berzikirlah. Nanti anak-anak dengar lalu bertanya, di situ ada celah 'belajar'. Di kesempatan lain pun bisa disesuaikan keadaan. HS itu bukan anaknya saja yang belajar. Ayah dan ibu juga. Menahan diri, emosi, memberi contoh, dsb.

Di saat anak keluar manjanya, siapkan banyak amunisi yang membuatnya sibuk. Siapkan alat-alat keterampilan, vcd edukasi, camilan, atau hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.



3. Dalam perjalan mengasuh  anak-anak, tentu permasalahan baru dan tantangan akan hadir pada setiap perkembangannya. Tanpa diduga-duga, terutama pada anak usia baligh (14th), yang sudah memiliki prinsip, memiliki keinginan-keinginan yang diluar perkiraan orangtua. Boleh sharing tentang berdialog, berdiskusi dengan anak usia baligh. Sementara kadang ortunya malah yang kurang ilmu. _meydiana_

Jawab

Kalau memang ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab sebaiknya bilang saja tidak tau, lalu bersama-sama mencari jawabannya. Usia baligh saatnya anak dianggap sebagai mitra belajar, tekniknya adalah menggali pendapat dan menanyakan kesimpulannya dibandingkan dengan ilmunya.

Contoh, "Bu aku mau ikut temenku naik gunung"
Sama siapa aja nak?
Temanku semua ada laki2&perempuan.
Apakah ada guru/org tuamu yg ikut?
Tdk ada.
Kamu tau bagaimana keadaan di sana? Menurutmu bagaimana bila satu acara bercampur?
Dst....dialog


4. Apa saja catatan penting Hs untuk anak usia 1th 9 bln bu? Terkait poin pembiasaan adab keseharian? Ambil contoh poin mengaji. Anak saya jika lihat saya mengaji, langsung mengambil al quran saya dan dia bergumam seperti menirukan orang mengaji, kmudian menutup alqurannya. Seolah-olah tidak memperkenankan saya membaca ketika dia sedang melek. Dan saat saya minta alqurannya, tidak boleh. Saya ajak gendong sambil ngaji juga tidak bertahan lama, paling cuma 1 halaman. Apkah sikap anak saya ini wajar karena usia masih segitu atau ada cara mensiasatinya? 
Trmkash _iis_

Jawab
Yang saya tahu, usia segitu kuat di pendengaran dan ingatan. Setelkan saja murottal yang cukup lambat, lembut. Sesekali ibu ikut melantunkan sambil perhatian kita penuh ke anak. Untuk membaca quran, bisa dicari waktu lain yang tidak membuat anak merasa terabaikan.


5. Pada point 4. Pelajari Adab menuntun ilmu. ****** Para ulama tidak mengijinkan anaknya keluar utk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama 20th..**** Mohon penjelasannya Umm...

Jawab
Hal tersebut menunjukkan betapa para ulama sangat mementingkan pendidikan adab. Ada yang sampai 20 th belajar adab, dst. Setelah plajaran adab dianggap selesai, barulah mereka mulai belajar quran, hadits, fiqh, dll.


Semoga bermanfaat,


Sumber : 
Diskusi Eksternal HSMN Semarang
Narasumber : Bunda Maya Ummu Abdillah 
Tema : " Catatan Penting Melaksanakan Homeshooling"
Hari / Tgl  : Rabu, 4 mei 2016 / 20.00 - 21.30

Moderator 1: Iis Ummu Hamdan
Moderator 2: Meydiana Ummu Alifia
Notulen : Desy Vini

Sumber gambar : rumah-pembelajar.blogspot.com

May 12, 2016

Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus



Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus
Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus
Andai di sini ada komunitas pengumpul barang-barang bekas pakai, mungkin saya akan menjadi anggotanya. Saya selalu merasa sayang untuk membuang botol plastik, kaca, kardus, tusuk sate besar, bahkan tempat souvenir, yang menurut 'feeling' saya akan berguna suatu saat nanti. Di rumah, kami memiliki ruang tersendiri untuk menyimpan barang-barang tersebut dengan rapi, tentu setelah dipilah dengan barang yang akan diberikan ke ibu-ibu loakan langganan kami. Jadi jangan bayangkan ada gunungan sampah di rumah ya, hehe... Bekas boleh, tapi harus bersih.

Barang bekas yang kami simpan tak lain untuk menyalurkan hasrat saya yang suka prakarya bersama anak-anak. Meski kami telah memiliki jadwal tetap untuk fun time setiap minggunya, namun tak jarang tiba-tiba ada lampu menyala di kepala saya (pertanda ada ide yang harus segera dilakukan), sehingga kami jadi mendadak pasaran, hehe.. Itulah mengapa saya merasa barang-barang tersebut suatu saat pasti akan berguna.

Dalam fun time kali ini, kami memanfaatkan salah satu dari barang bekas tersebut, yaitu kardus. Kita semua tahu bahwa kardus bisa disulap menjadi apa saja, seperti mobil-mobilan, rumah boneka, mesin cuci mainan dan sebagainya. Pada Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus ini, abang ingin membuat laptop mainan yang bisa digambari, sedangkan si adik ingin membuat gitar dari kardus. Yuk, langsung kita siapkan peralatannya ya...

Alat dan Bahan :
  1. Kardus bekas
  2. Gunting & Cutter
  3. Sticker untuk menghias
  4. Tali rafia / Senar
  5. Cat dengan oil base
  6. Kapur tulis
  7. Label sticker
Cara membuat Laptop :
  • Gunting kardus sesuai bentuk laptop yang diinginkan (kami membuat dengan sandaran di belakang, agar mudah diletakkan)
  • Buat bentuk persegi panjang dengan penggaris sebagai layar
  • Cat bagian layar dengan cat yang berbahan dasar minyak. Cat ini saya beli di ACE Hardware dengan harga 139.000/kg. Penggunaannya langsung diaplikasikan tanpa penambahan air atau appapun. Cat semacam ini bisa digunakan seperti papan tulis, ditulis menggunakan kapur dan dihapus dengan lap basah. (Baca : Fun Time #2 : PAPAN DINDING - Solusi Dilema Kapur Tulis, Spidol dan Karalink)
  • Keyboard laptop dibuat dari label sticker yang digunting kecil-kecil dan ditulis huruf sebagaimana keyboard pada umumnya.
  • Hias laptop dengan sticker lucu atau boleh diberi gambar ^,^
    Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus
    Membuat laptop dari kardus
Cara membuat Gitar :
  • Gunting kardus sesuai bentuk gitar
  • Gagang gitar bisa dibuat dari potongan kardus yang disambung
  • Buat beberapa lubang pada bagian gagang dan bawah gitar untuk mengaitkan senar / tali rafia
  • Ikatkan senar / tali rafia hingga menyerupai senar gitar
  • Hias gitar dengan sticker maupun tulisan lucu
    Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus
    Membuat gitar dari kardus
Demikian sedikit inspirasi Fun Time #12 : Membuat Kreasi dari Kardus dari kami. Selamat mencoba dengan kreatifitas masing-masing ya.. Have Fun! FYI, mereka langsung mengadakan konser dadakan setelah fun time. Hihihi...

Salam Hangat,