Jul 13, 2016

Pelajaran Remeh Temeh

Pelajaran Remeh Temeh
Pelajaran Remeh Temeh
Ada masanya dimana hal-hal yang kita anggap sebagai Pelajaran Remeh Temeh untuk diberikan kepada anak, dapat menjadi kesalahan fatal di kemudian hari.

Anda pernah menonton film India berjudul Kabhi Kushi Kabhi Gham? Saya ingat betul salah satu tokoh dalam film tersebut yang diperankan oleh Hritik Roshan, ia berperan sebagai seorang anak yang sejak kecil tidak bisa mengikat tali sepatunya sendiri, bahkan hingga dewasa! Yup, mengikat tali sepatu adalah salah satu contoh Pelajaran Remeh Temeh yang seringkali kita abaikan.

"Anak yang pintar dalam ilmu pendidikan, belum tentu pandai dalam ilmu kehidupan. Itulah cikal bakal para jenius tanpa attitude"
Orang tua haruslah seorang pembelajar sejati. Belajar dari setiap kesalahan dan kekurangan, serta selalu siap melakukan perbaikan. Begitu pula dengan diri saya, Pelajaran Remeh Temeh ini pun saya peroleh dari pengalaman sebagai ibu dari dua orang putera yang saat ini berusia 8 dan 4,5 tahun.

Berikut beberapa contoh Pelajaran Remeh Temeh yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan di benak kita untuk mengajarkannya kepada anak, hingga kita menyadari ada yang 'terlewat' dari kurikulum yang kita buat di rumah.
  1. Membuat simpul sederhana. Di titik inilah saya baru menyadari manfaat dari kegiatan PRAMUKA, hehe... Untuk apa kita perlu mengajari anak membuat simpul sederhana? Jawaban termudah adalah agar ia bisa mengikat tali sepatunya sendiri! Selain itu? Masih banyaaakkkk, seperti mengikat sabuk taekwondo, mengikat karet saat membuat es lilin, dsb. Kebanyakan kita 'kecolongan' hingga menyadari si anak tidak bisa melakukan hal-hal tersebut saat beranjak dewasa.
  2. Melipat baju. Yup, bahkan pada anak laki-laki sekalipun harus kita perkenalkan bagaimana melipat dan merapikan baju mereka sendiri. Atau Anda akan menjadi asistennya sampai ada seseorang yang bersedia menggantikan posisi tersebut (baca : isteri). Ah, apa ada laki-laki yang begitu? Sekali lagi, banyakk.. 
  3. Menggantungkan pakaian pada hanger. Hal ini saya sadari ketika si Abang dulu sempat kesulitan menggantung handuknya yang berbentuk kemeja pada hanger. Saat itu ia terlihat kesusahan meletakkan handuk agar pas posisinya di tengah hanger, sehingga bahu handuk tidak sampai jatuh. Saya melihatnya berusaha begitu keras hingga hampir menangis karena frustasi. Percayalah, soft skill semacam itu perlu dipraktekkan setiap hari hingga terbiasa.
  4. Menyisir rambut
  5. Menyuci piring
  6. Membuat masakan sederhana (memasak air, nasi, telur, goreng-menggoreng dll)
  7. Cara menyajikan minuman pada tamu
  8. Silakan Anda tambahkan sendiri
Intinya, di tengah maraknya anak hasil didikan bak prince & princess dari orang tuanya seperti kisah-kisah anak pejabat atau konglomerat saat ini, maka akan semakin banyak pula manusia yang menua dengan membawa mental princessnya. Menjadi arogan, tukang perintah, merasa bangga karena orang tuanya (bukan pada diri sendiri), dan masih banyak lagi (you know what I mean).

Mengutip perkataan Prof. Rhenald Kasali, bahwa anak yang pintar dalam ilmu pendidikan belum tentu pandai dalam ilmu kehidupan. Itulah cikal bakal para jenius tanpa attitude.

So, masih mau mengabaikan Pelajaran Remeh Temeh?


Sumber gambar : lampung.tribunnews.com