Oct 24, 2016

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah

Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Membersamai Anak sebagai Amanah Allah
Sebagaimana tertuang dalam Qs.  At - Tahrim [66]:6, "Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya Malaikat malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan... "

Maka sejatinya inilah yang kami ikhtiarkan sekuat dan semampu kami. Untuk Membersamai Anak sebagai Amanah yang telah Allah titipkan.

MEMULAI HOMESCHOOLING

Seperti kebanyakan orangtua pada umumnya, kami (narasumber, data terlampir di akhir artikel) sebenarnya ingin anak kami bersekolah di Sekolah Formal. Pada usia kurang dari 2th, putri kami sudah masuk Playgroup kemudian lanjut TK dan Sekolah Dasar selama 6 tahun. Secara Umum anak kami termasuk sebagai anak yang berprestasi, penghargaan dan piala juga cukup banyak ia peroleh. Dalam perkembangannya di Sekolah Formal banyak hal yang sebenarnya sering menjadi keluhan anak kami, namun kami belum menganggap serius ke"tidak nyaman"an anak dengan sistem persekolahan formal, yang kami lakukan hanya mencoba menenangkan anak kami agar bertahan dan tetap bisa survive di sekolah hingga lulus SD. Alhamdulillah.

Setelah lulus, kemudian kami diskusikan bersama mengenai keinginan anak kami untuk *tidak sekolah*. Saat itu kami juga belum tahu bagaimana untuk memulai HS (Homeschooling), Belum ada referensi teman pelaku HS, maupun buku. Sementara anak merasa "bebas merdeka" karena suami sudah mengiyakan keinginannya, sementara saya masih galau. Yang terfikir dan membuat kami nekat menjalani HS adalah karena Suami menguatakan dan meyakinkan. "di Akherat nanti, kita tidak ditanya lulusan SMP/ SMA atau S1 S2 dari mana? Tetapi akan ditanya Ketauhidan dan Akhlak kita..." Bismillah, kami memulai HS.

MEMBERSAMAI Anak pre AQIL BALIGH

Diawal memulai HS, kami belum buat jadwal atau kurikulum. Kami hanya Fokus pada Ibadah dan Alqur'an, Karena banyak yang tertinggal dan yang belum kami pelajari. Bunda, sejujurnya waktu belajar anak kami menjadi waktu belajar buat saya dan suami juga. Kami belajar bersama, mendiskusikan semua hal dan mengevaluasi bersama. Kami orangtua Jadi lebih seperti partner kerja. Kadang saya membantu kesulitannya atau sebaliknya. Bahkan hingga pekerjaan domestik rumah tangga sekali pun, kami lakukan bersama.

Meski sudah nekat, tetap saja ada kebimbangan di hati kecil saya sebagai seorang ibu. Akhirnya saya daftarkan ke PKBM terdekat, mengikuti program Distance Learning dengan kuantitas pertemuan 1 kali sepekan. Disini putri kami merasa berada di Sekolah Formal namun pada lingkup kecil, yang akhirnya hanya bertahan 1 semester saja.

Semester ke 2, Alhamdulillah sudah bisa menentukan Visi Misi. Mulai susun jadwal yang kami pelajari :

Tauhid, Aqidah, Syariat,  Muamalat, Pokok Pokok Agama
 Alqur'an (tilawah dan tahfiz)
 Buku Tafsir Ibnu Katsir
 Bukit Riyadush Sholihin
 Al-Adab Al Mufrad
 Ensiklopedia Adab Islam
 Al Masaail (masalah masalah agama)
 Buku buku Sejarah Islam, Peradaban Islam dll.

Life Skill n Science
 Menulis (cerpen,  artikel dan blog)
      # Sudah terbit 2 buku ( 1 kumpulan cerikta anak dan 1 antalogi cerpen Remaja)
      # Beberapa Artikel di muat oleh The Jakarta Post dan Surat Akbar
  # Penghargaan oleh Kemendikbud Finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia (2015) Bidang Cerpen
 Bahasa Asing ( Inggris, Jerman,  Turki, Tagalog,  Spanyol,  Arab,  Afrika)
    Belajar Autodidak melalui Buku dan Internet.
 Mengikuti Workshop Menulis.
 Olahraga Panahan (POPDA tk. SMP), berenang,  jogging.
 Nature Study : Belajar Di Alam  camping, tracking, pengamatan bidang kelautan,  pengamatan capung, astronomi dll.
 Speaker di beberapa event yang berkaitan dengan pendidikan dan bakat anak.

Materi Diknas
Sebagai persiapan mengikuti UN / UNPK


TANYA-JAWAB

1. Assalamu'alaikum, Mb Mey, bagaimana melatih kesabaran bagi anak usia pre aqil baligh? Dalam hal pelaksanaan ibadah bolehkan sudah ditekankan hadiah-hukuman? Jazakillah khair
Ummu Husna Bpp

JAWABAN
Waalaikumsalam  Ummu Husna. Dalam penerapan pembiasaan pelaksanaan ibadah, kami mulai dengan tahapan. Mulai dengan pengenalan,  Melihat orangtua Ibadah,  kemudian mengajarkan bacaan sholat,  mengaji,  kemudian mengajak sholat.

Ummu Husna Sholiha, sama seperti anak-anak lain juga, kadang mudah diajak sholat, kadang juga malas. Sesekali saya memberi reward jika anak melaksanakan ibadah tanpa diminta atau dipaksa. Hadiah kecil yang disukai anak. Biasanya sih cuma 1 botol yogurt sudah membuat anak happy. Namun tidak jarang kemalasan datang dan menguji kesabaran kami.

Karakter anak kami tidak suka dipaksa atau diminta dengan suara keras. Jadi saya musti menahan "kesal" dan melembutkan suara. Istighfar terus juga. Kami tidak pernah memberi "hukuman", lebih sering memberi pengertian² dan mendiskusikan kesalahan² kami bersama.

Alhamdulillah disaat usia balighnya tiba, kesadaran dan pemahaman akan kewajiban InsyaAllah sudah tertanam. Meski masih sesekali diingatkan, namun hanya sekedar mengingatkan ibadah² sunnah.

2. Bagaimana awal mula mba Mey menertibkan anak sholat saat usia 7 tahun?  Anak sulung saya kalau sholat berjamaah agak kurng betah berlama-lama, kalau sendirian, cepat sholatnya.
Bunda Titi

JAWABAN
Iyyaa... Sama Bund. Saat usia anak 7tahun bagi saya masih dalam batas toleransi. Masih susah bangun pagi, kadang waktu Ashar terlewat, karena tidur siang. Terus ajak Bund... Meski kadang anak tidak tenang. Sampaikan terus, "Anak Sholeh/a Sholatnya yang Tenang yaaa.." Supaya mendapat Rahmat, supaya Allah sayang kita. Dll . Senantiasa Do'a kita pula menyertai.

3. Mba, bagaimna caranya mempersiapkan masa baligh anak kita, dimulai dari usia berapa baiknya?
Husnul- Samarinda

JAWABAN
Masa Baligh adalah dimana anak sudah sudah faham konsep Keimanan dan Aqidah. Prosesnya, mesti dimulai sejak dalam kandungan hingga mencapai baligh.

Banyak teori-teori parenting nabawiyyah yang bisa dibaca dan dipelajari. Ada tahapan-tahapan pedidikan berdasarkan usia. Secara garis besar, pada bayi mulai diperdengarkan tilawah, kemudian semakin besar diajarkan mengucap La illahailallah, kemudian diajak sholat mengaji, dekat dengan masjid, bersosialisasi, dll.

Pembiasaa Adab sehari² seperti membaca Bismillah saat mau makan, minum dll. Atau mengenakan sandal, sepatu dengan kaki kanan terlebih dahulu  dll. Usia 7-th baru dimulai anak untuk diajarkan Sholat. Dst. Bahwa yang terpenting adalah pembiasaan yang juga dirasakan dan dilihat dari orangtua atau lingkungan terdekat akan mudah ditiru oleh anak. InsyaAllah

4. Bagaimana cara kita menghadapi masa pubertas anak HS? Terutama yang brkaitan dengan ketertarikan mereka pada lawan jenis. Apakah di usia pre aqil baligh  anak-anak sebaiknya di izinkan menggunakan medsos secara bijak dan terbatas, atau justru harus dlarang?
Yurin-Balikpapan

JAWABAN
Huhuuhuu... Pertanyaannya... Mudah menjawabnya namun penuh perjuangan prakteknya... Hihi
Bunda Yurin, pada masa masa pubertas, anak² secara biologis sudah ada ketertarikan dengan lawan jenis. Orangtua yang dekat dengan anak, akan mudah melihat tanda² yang berbeda dari anak. Tentu saja rasa ketertarikan tidak dapat Di"bendung" atau di"tutup" begitu saja. Namun insyaAllah BISA dialihkan perhatiannya terhadap hal² yang menjadi prioritas, misal tentang cita² nya ingin menjadi Hafiz/ah, ingin menjadi penulis, dll sehingga tidak ada "ruang" bagi anak untuk memikirkan hal² yang kurang berguna.

Sampaikan juga mengenai syariah  Ibadah dan tentang Halal Haram. Penting bagi orang tua memberikan pemahaman mengenai pubertas sejak usia 9 atau 10th. Saya sudah sounding tentang hal ini saat usia tersebut. Meski mungkin belum faham, namun saya sampaikan berulang-ulang tentang masa baligh yang sebentar lagi akan dihadapi.

Untuk penggunaan sosial media dapat menyesuaikan kebutuhan. Anak saya, saya ijinkan menggunakan medsos, dengan beberapa ketentuan. Secara berkala saya cek chatnya, hp tidak menggunakan password.

5. Ketika menjalani HS pernah kah anak mb. Mey mengalami kejenuhan? Bagaimana menyikapi kejenuhan pada anak atau jika menemukan anak yang ingin kembali ikut sekolah formal.
Fadila Bahabazy - Berau

JAWABAN
Sampai saat ini, anak sangat menikmati HSnya. Bahkan sebenarnya hari belajar anak dimulai dari hari Minggu hingga Sabtu ada jadwal belajar. Meski kami diluar rumah. Belajar bagi kami bukan semata² pelajaran akademis saja.

Misalnya, pada hari Idul Adha kemarin, anak terlibat dalam kepanitiaan penyembelihan dan pendistribusian hewan qurban. Memang sifatnya hanya membantu kepanitiaan orangtua, namun dengan keterlibatannya, anak banyak mendapat pengalaman bersosialisasi dan berorganisasi, berinteraksi dengan banyak orang dan merasakan lelah, ribet, heboh menghadapi banyak masalah yang terjadi. Biasanya kami diskusikan kejadian kejadian yang patut dan tidak patut. Sehingga anak mendapat Ibroh dari pengalamannya.

Kejenuhan dengan aktifitas sehari² yang monoton tentu akan dialami anak atau semua orang, Baik anak sekolah formal maupun HS. Biasanya kami sempatkan untuk refreshing, ke mana saja yang membuat suasana berbeda, atau refreshing dirumah juga bisa. Misal kita undang saudara untuk menginap dirumah,  kemudian masak bersama,  main, sepedaan  dan aktifitas lain bersama sepupu.

Kalau anak ingin kembali ke Sekolah Formal, tentu kami akan berikan haknya. Namun akan kami yakinkan dulu bahwa keinginannya memang pilihan terbaik dengan alasan dan tujuan yang benar bisa difahami.

Karena pada prinsipnya Pilihan belajar disesuaikan dengan Tujuan dan Harapan orangtua serta sesuai Kebutuhan Anak (Baca : Visi Misi). Jika di sekolah formal dirasa bisa memenuhi tujuan kita,  maka itu menjadi pilihan terbaik. Namun tetaplah orangtua harus menjadi sumber ilmu terbaik bagi anak.

Semoga resume diskusi Membersamai Anak sebagai Amanah Allah ini bisa bermanfaat ^_^
Salam Hangat


PROFIL SINGKAT NARASUMBER
°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Nama   :Meydiana Rahmawati
Nama Suami : Didik Ristanto
Nama anak  : Alifia Afflatus Zahra (14 th) HS setingkat SMA kelas 10
Aktifitas : ibu rumah tangga, ibu pelaku HS
Latar belakang pendidikan : sarjana Teknik Kimia
Domisili : Semarang

Sumber Gambar : www.sakurakidz.com
Sumber Tulisan :
*RESUME* *KULWAP* Grup HSMN *KALIMANTAN*
Rabu 14 Sept 2016*
NARASUMBER: *Mba Meydiana*
20.30-21.30 wita
*Membersamai HS-er pre-aqil baligh*
Moderator: Fatmawati
 Notulen: Yurin Syaiftiani
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

Oct 18, 2016

A to Z tentang Dyslexia

A to Z tentang Dyslexia
A to Z tentang Dyslexia
Berikut adalah tanya jawab A to Z tentang Dyslexia yang bersumber dari diskusi komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) Semarang.

1. Bunda Amalia

a. Bagaimana perbedaan anak dislexia dengan anak yg kurang distimulasi membaca?
b. Bagaimana cara menstimulasi anak yang menolak belajar membaca?

Jawab :
Anak dengan dyslexia akan terus mengalami kesulitan membaca sepanjang hidupnya, namun bukan bearti tidak akan bisa. Yang diintervensi tentu akan mengalami percepatan kualitas membaca daripada yang tidak, dan lebih bisa membuat startegi belajar yang cocok untuk dirinya sendiri.


Stimulasi belajar membaca untuk anak disleksia akan terus dilakukan selama dia sekolah, artinya orang tua dan guru harus terus belajar mencari cara dan memotiovasi anak agar mau berusaha dan belajar. Sekali lagi, mereka secara kognitif sangat baik, IQ nya minimal cerdas hingga genius, artinya mereka pasti bisa.


Membentuk sikap belajar mereka itu yang harus dipelajari oleh orang tua dan guru. Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda, mari kita kenali dan gali dari situ.


2. Bunda Rizky
  • Bila usia 2 atau 3 tahun masih belum bisa merespon jika dipanggil nama atau diajak interaksi, apakah bisa disebut disleksia? Penanganan bagaimana dan harus kemana saja?
  • Apa saja yang menjadikan anak itu disleksia? mengingat dewasa ini banyak ditemukan anak disleksia.

Jawab :
a. Belum tentu, namun banyak anak dengan disleksia diawali dengan keterlambatan berbahasa yang disebut Gangguan berbahasa Ekspesif. Apabila dikhawatirkan ada gangguan berbahasa reseptif hingga usia tsebut, dibawa untuk konsultasi dengan ahlinya sangat disarankan. Silakan cek milestone berbahasa anak, apabila anak sudah terlambat melewati setiap milestone lebih dari 6 bulan, setiap orang tua sebaiknya mulai mencari tahu kepada ahlinya. Di semarang sudah ada beberapa dokter spesialis tumbuh kembang anak.

b. Disleksia itu disandang oleh individu, dan diturunkan (bersifat hereditas). hanya sebagian kecil kasus disleksia yang terjadi karena brain injured


3. Bunda Hapsari
Anak saya 5 tahun. Kadang pakai sandal kanan kiri masih tertukar, kata "cepat2", jadi pecet2. Cebok jadi becok. Kalau adaptasi cepat dan banyak temannya. Tapi ada tanda lain seperti lupa bawa mainan dan agak ceroboh. Untuk baca tulis belum terdeteksi karena di TK alam juga belum diajarkan. Bagaimana cara terapinya? Terima kasih

Jawab :

Jika belum mendapatkan pemeriksaan (screening / assesment), yang bisa ibu lakukan adalah memberi intervensi berupa merevisi semua ucapan dia yg masih terbalik-balik, lakukan terus menerus hingga konsisten. Disleksia tidak melulu kesulitan tentang belajar CaListung (meski itu domain area kesulitannya), disleksia juga membuat anak sulit dalam hal orientasi, skala, spasial, short memory lost, sekuens.

Resiko Disleksia bisa diketahui di usia pra sekolah, meski kesepakatan profesional menyataklan diagnosanya baru bisa tegak diatas 7 tahun.


4. Bunda Meydiana
Bunda, saya punya keponakan laki-laki usia 5,8 th. Secara keseluruhan tidak ada masalah. Cuma masih selalu tanya kanan dan kiri yang mana? Apakah ini termasuk tanda-tanda disleksia? Terimakasih penjelasannya.

Jawab :

Termasuk, silakan digali lagi apabila ada tanda-tanda lainnya ya..

Ciri-ciri anak dengan resiko disleksia di usia Prasekolah :

  • Kidal atau tidak terampil jika hanya menggunakan 1 tangan saja
  • Bingung membedakan sisi kanan dan kiri
  • Grusa-grusu atau tidak melakukan sesuatu tanpa terorganisir
  • Miskin kosa kata, banyak menggunakan kata ganti 'ini-itu'
  • Kesulitan memilih kosa kata yang tepat, misalnya 'kolam yang tebal' padahal maksudnya 'kolam yang dalam'.
  • Jadi kalau dia bercerita tidak runut, nampak kesulitan mengungkapkan ceritanya, banyak kata-kata diganti dengan ini itu, semua teman dipanggil "teman" karena tidak hapal namanya.

5. tanggapan dari bunda Amalia

Anak saya apabila di tanya lisan misal r-u-m-a-h, bisa mengeja "rumah", tetapi ketika melihat tulisannya, dia kesulitan, bahkan menolak melihat tulisannya. Sampai usianya sekarang 7 tahun masih sering bertanya mana kanan-kiri. Apakah saya bisa mewaspadai anak saya disleksia?

Jawab :

Boleh diwaspadai. Kasus-kasus neurologis seperti disleksia jarang berdiri tunggal, banyak temannya. Namanya dysgraphia (kesulitan menulis/gambar), Dyscalculia (kesulitan di area berhitung & logika) dan teman-teman lainnya seperti DHD/ADD/OCD bahkan ODD

Lebih baik curiga daripada kecolongan. Anak disleksia secara fisik nampak baik-baik saja, kan secara kognitif mereka cerdas. Thats why sering disebut invisible disabilities. Banyak kasus anak disleksia terlambat didiagnosa, sekitar kelas 4 keatas, dampaknya sudah luas. Pemeriksaan dini amat disarankan agar anak dengan resiko disleksia/disleksia tidak perlu menggalami kegagalan dalam self  esteem nya :)



7. Bunda Susi

Apakah anak disleksia pasti tidak semangat bersekolah? Dan apakah anak yang menolak berangkat sekolah kemungkinan besar mengalami disleksia?

Jawab :

Belum tentu, perlu dicari tahu lebih detail mengapa anak tidak semangat bersekolah/menolak pergi ke sekolah. Mungkin awalnya bisa ditanya dari hati ke hati si anak kenapa tidak mau sekolah atau bisa ditanyakan ke sekolah kira-kira anak kita ada hambatan apa saja di sekolah ya bunda..



8. Bunda Khaira
Pemeriksaan dislexia ke mana? Ke psikolog atau bagian perkembangan anak di rumah sakit?


9. Bunda Tiwi
menyimak diskusi diatas, langkah kongkritnya kita bisa tes kan anak kita kemana ya? Psikolog/ dokter tumbuh kembang/ dokter saraf? Saran rekomendasi untuk daerah Semarang ke siapa?

Jawab :

Bisa kepada keduanya bu, silahkan hunting siapa yang paling paham mengenai hal tersebut. Protokol WHO menyatakan bisa kepada semua yang bunda Tiwi bilang termasuk konsultan syaraf anak. Saya belum punya rekomendasi untuk wilayah Semarang, tapi saya yakin pasti ada yang bisa. Tapi titip, cari ahli yang ilmunya benar, komplit & komprehensif ya!



10. Tanggapan Bu Meydiana 
Oh berarti cek ke smua ya biar mantap, dari sisi psikolog, tumbuh kembng dan saraf.

Jawab :
Betul, perhatikan juga backgroundnya ya bu, banyak ahli yang juga terjebak dengan keilmuan semu. Kita harus lebih cerdas memilih. Mohon maaf saya cerita mengapa itu penting. Beberapa minggu lalu, di Asosiasi Disleksia Indonesia mendapat anak baru usia 14 tahun yang didiagnosa sejak kecilnya autis. setelah diperiksa kembali ternyata anak ini disleksia berat dengan IQ 90 an, bayangkan kesalahan diagnosa bertahin-tahuin menyebabkan anak ini mendapatkan perlakuan, pendidikan dan pola asuh yang tidak tepat sama sekali. Semoga tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini ya.



11. Bunda Marlina
Assalamualaikum Bun, saya juga mau tanya, apa beda disleksia dengan ADHD? Anak saya umur 12 tahun, baru bisa baca umur 10 tahun, namun sampai sekarang dia masih minder dan tidak mau bermain dngan temen sebayanya, maunya bermain dengan anak yang lebih kecil atau orang dewasa. Dia sangat sensitif, bila tersinggung dengan temannya tidak mau brangkat ke TPQ. Saya sudah memberi pngertian kalau temannya itu tidak ada yang nakal, bagaimana caranya memotivasi agar dia percaya diri dan bisa menangani sendiri masalah dengan temannya, karena dia sudah berumur 12 tahun.


Untuk anak disleksia yang sudah baik, minimal tingkat perkembangannya bisa apa bun? Dari segi sosial emosional, bahasa dan kognitifnya?

Jawab :

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik diarea Calistung pada anak cerdas dengan IQ normal - ke atas.
ADHD adalah Attention Deficit Hyperactive Dysorder, gangguan prilaku yang ditandai dengan inatensi di berbagai setting. Anak ADHD sering ditemukan dalam performance yang super petakilan, benar-benar tidak bisa diam, banyak bergerak tanpa tujuan yang jelas.



Ada baiknya Bunda Marlina, mengajak ananda "ngobrol" sama om tante psikolog ya, supaya diketahui apa yang membuat ananda bersikap/berprilaku demikian. Untuk anak desleksia yang sudah baik, minimal tingkat perkembangannya :
Sosial : Bisa berteman dengan teman-temannya dengan lebih baik, demikian juga dengan orang dewasa di sekitarnya.
Emosional : Bisa mengenali dan mengatur emosinya tepat sesuai konteks
Bahasa : Bisa membaca dan menulis sesuai/ mendekati tahapan membacanya



12. Bunda Dian
Untuk anak disleksia yang mengalami kesulitan dengan komunikasi dan sosialisasi, apa sajakah yang bisa dilakukan dan diberikan orang tua kepada si anak? Apakah menyekolahkan anak termasuk bisa menjadi pilihan? Atau ada pilihan lain?


Jawab :
Banyak sebetulnya, melatih kepercayaan diri anak bisa dilakukan dengan sabar dan tepat, self esteem yang baik dan positif akan membuat anak nyaman berkomunikasi dengan peer groupnya sehingga kehidupan sosialnya pun jadi lebih menyenangkan. Its okay untuk anak tau dia disleksia sehingga dia bisa dibantu untuk mengetahui kelebihan dirinya.


Bantu anak dalam kesulitannya dan dorong anak pada kelebihannya. Banyak minat bakat bisa dikembangkan untuk dia merasa PD sehingga tidak merasa minder dalam bersosialisasi. Ajak anak berkomunikasi secara intensif, dengarkan apa yang dia sampaikan dengan sabaaaaaarrrr, bantu dia menata kata-kata dengan tepat, tidak marah/menyindir/tertawa pada kesalahannya, perbaiki dengan kasih sayang penuh, sehingga dia merasa nyaman berproses melalui "kesalahan-kesalahan" teersebut.

Paradigma pendidikan pun perlu kita rubah, tidak satu metodepun dimuka bumi ini adalah yang terbaik, tetapi kita bisa memilihkan yang paling dibutuhkan oleh anak kita. Yang penting anak mau dan senang hati belajar, potensinya berkembang di semua aspek dengan maksimal. Peluk erat semua anak-anak kita ya ...


13. Bunda Bidari

Menanggapi jawaban yang sudah disampaikan bunda Sasa mengenai ahli yang benar, komplit dan komprehensif di atas. Bolehkah dijelaskan kriterianya, Bunda?

Jawab :

saya akan menjawab berdasarkan pengalaman pribadi saja ya bu supaya tidak keluar dari etika netralitas meski saya dari ADI.
Yang saya tahu, dari 50++ dr. spesialis anak neuropediatri di indonesia, hanya 2 diantara mereka yang mendalami dengan intens area neurobehaviour, satu di Bandung dan satu di Jakarta (saya domisili di Bandung). Setelah saya mempelajari bahwa kasus-kasus neurologis sangat banyak dan berkomorbid demikian rumitnya, jelaslah memilih ahli yang tepat menjadi sangat penting.

Saya pun sering mendapatkan perdebatan mengenai siapa yang berhak memeriksa anak dengan suspect gangguan neurobehaviour, apakah SpA, neuroped atau psikolog. Padahal di Inggris, prof. DR. Angela Fawcett, salah satu mbah buyut pakar neurobehaviour adalah seorang psikolog dan banyak sekali meminta kerja sama dengan para pakar neuropediatri di seluruh dunia.

Teman-teman psikolog saya pun (adik saya pun lulusan psikologi UNDIP) menyatakan pembelajaran bahasan tsb diatas hanya sepintas diberikan dibangku kuliah. sehingga banyak praktisi yang dipercaya publik sangat mungkin missdiagnosa.

Beberapa missdiagnosa yang sering trejadi adalah diagnosa ADHD, itu sampai sekitar 60% ++, anak-anak dengan mental retardasi sering misdiagnosa sebagai autis karena berperilaku autistik, anak dengan gangguan dengar berat plus MR ada yang didiagnosa autistik dan lain-lain banyak sekali.

Cerita saya mudah-mudahan bisa jadi gambaran kenapa disleksia is not as simple as difficulties in reading area, anak saya #1 Dyslexia, dyscalculia, dysgraphia, dyspaxia & ADD dengan 1Q 121, dramanya kayak film India. anak #2 Gifted & dyslexia IQ 131, yang #3 Gangguan berbahasa ekspresif. Keadaan yang "memusingkan' tsb mendorong saya memilih pertolongan yang tepat.

Walau di Semarang saya belum bisa mereferensikan seseorang, mudah-mudahan Allah bukakan dan mudahkan jalan kita ya. Tapi bila teman-teman membutuhkan bantuan dari ADI, feel free to contact me

 
14. Bunda Tari
Ana mau bertanya tentang anak kami yang mengalami disleksia dan hyperaktif. Alhamdulillah sudah menjalani terapi di Rumah Sakit. Terlihat banyak sekali perkembangan dalam cara melogika, dalam wicara sudah lancar, namun ada beberapa terlihat sedikit artikulasi yang kurang. Kendala kami sampaikan saat ini anak kami dalam usia 10 th belum bisa membaca huruf abjad. Bagaimana cara mengajarkan membaca huruf abjad sedangkan yang dilihat anak kami mengalami hurufnya memutar / tidak fokus untuk membaca? Jazakillah bun..



Jawab :
Dear bunda, wa alaykumn salam, boleh saya tahu hasil tes IQ nya berapa? Silahkan dilanjutkan apa yang disarankan oleh pihak RS ya, berikan terus akomodasi berupa remediasi di area kesulitan membacanya, meski akan jadi perjalanan panjang insya Allah setiap ketekunan akan memberikan hasil ya, semoga selalu istiqomah.

Tips mendampingi anak dengan disleksia adalah SABAR TAK TERHITUNG. Disleksia disandang seumur hidup, sehingga pendampingan kitapun sepanjang hayat :), tidak akan kita memiki kesabaran tersebut tanpa izin dan hidayah Sang Maha Pencipta. Mintalah selalu kepada sang Khalik ya, menangis, kesal, marah tidak dilarang namun tetap tawakal, berdamai denngan keadaan, ikhlas dan yakin tidak ada produk Tuhan yang gagal. Allah sudah berikan kehidupan dengan manualnya, tugas kita mencari manualnya ya teman-teman


Putra Ummu Tari IQ 120, subhanallah, ananda cerdas secara kognitif, silahkan diberikan akomodasi belajar di sekolah dan dirumah ya, perbanyak remedial belajar diarea kesulitannya, explore cara-cara belajar membaca untuk mencari metode yang ananda bisa kuasai. Untuk hyperactivity nya, silahkan dilanjutkan pengobatannya sesuai petunjuk dokter ya



Wassalamualaikum wr wb 
Semoga resume A to Z tentang Dyslexia ini bermanfaat ^,^




RESUME DISKUSI GRUP HSMN SEMARANG
Tema : DYSLEXIA 
Pembicara : Erlyza Prasty Irwansyah ST.MT.
Pukul : 12.07 - 14.30 WIB

Profil Pembicara:
erlyza prasty irwansyah ST.MM
Ibu dengan anak-anak disleksia
Ketua DPSG Indonesia & sekertaris ADI

Domisili Bandung (keluarga besar di ungaran)
Moderator: Bunda Sasa
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara

 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web:
hsmuslimnusantara.org