May 29, 2017

Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!

Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!
Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!
Ngomongin soal Bulan Ramadhan, pasti tidak lepas sama yang namanya menu buka puasa. Bahkan, kebanyakan orang menyambut Ramadhan dengan kehebohan membuat list menu buka puasa selama 30 hari kedepan dibanding list ibadahnya. Lho, kok saya tahu? Ya karena saya pernah berada pada masa-masa itu! Hehe.. Sekarang sih, menyambut Ramadhan nggak sehuru-hara begitu, dijalani saja hari per-harinya, bahkan saya sengaja tidak menyetok bahan makanan khusus seperti sirup, nata de coco, dll di awal bulan. Kalau pas lagi kepingin, ya tinggal beli, nggak perlu dipaksakan dan jangan dibuat beban. Yang wajib adalah peningkatan ibadahnya dari tahun kemarin, perbaikan apa yang sudah saya lakukan di Ramadhan tahun ini?

Meski begitu, saya tetap berusaha menyajikan menu terbaik setiap harinya. Apalagi anak-anak masih kecil, biar makin semangat juga puasanya. Pas banget dengan tema arisan blog gandjel rel yang dipilih oleh Hidayah Sulistyowati dan Ika Hardiyan Aksari kali ini, yaitu masakan favorit buka puasa.

Sebagai perempuan yang menikah dengan orang Batak sekaligus ibu dari anak-anak yang menyandang marga Harahap, untuk urusan makanan pasti tidak akan terlepas dari masakan padang! Saya yang pecinta makanan pedas rasanya makin klop dengan aneka racikan balado khas Sumatera. Tak terkecuali di bulan Ramadhan seperti ini, Terlebih lagi sejak ibu mertua meninggalkan kami 3 tahun yang lalu, Ramadhan seakan menjadi waktu yang tepat untuk bernostalgia dengan masakan beliau. Jadi, kalau ditanya soal Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!

Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!
Menu-1 : Sayur Sop, Tahu, Tempe, Pindang Balado, Opor Ayam
& Sambal Goreng Telur

Menu Buka Puasa? Ya, Cabe Everyday!
Menu-2 : Sayur Singkong, Daging Balado, Teri Balado
& Bandeng Balado ^_^
Karena kami adalah keluarga Pejabat (Peranakan Jawa Batak), maka Cabai adalah komponen yang tidak boleh absen dari dapur saya. Apapun menu hari itu, bisa dipastikan ada si cabe disana. Hahaha... Salah satu menu favorit keluarga kami adalah sayur singkong yang ditumbuk dengan tambahan cepokak serta bumbu minimalis, yaitu bawang merah, tomat iris, garam dan santan. Saya pun baru tahu kalau orang Sumatera (minimal keluarga besar kami di Padang Sidempuan) kalau memasak sayur bening, ya bumbunya hanya bawang merah dan garam! Hambar dong? Nggak berasa dong? Eits, jangan salah. Justru itulah gunanya lauk. Sayur dengan bumbu minimalis akan nendang rasanya bila diberi lauk aneka balado. Bisa ikan balado, daging balado, udang balado, telur balado, pokoknya huh hah banget lah! Slurup... ehm, siang-siang jadi ngebayangin kan??? ^,^

Saking terbiasanya kami dengan cabai, si sulung (9 yo) pun selalu meminta segala macam lauk yang ada harus dibalado. Minimal harus keliatan cabenya, mau rica-rica ayam, blanak balado, mujahir balado, nila balado, dan segala menu balado lainnya. Untuk menghindari rasa bosan dengan balado, biasanya saya hanya mengganti bumbunya menjadi rica-rica, bumbu rujak, atau aneka bumbu cabai yang lain.

Menikah dengan latar belakang adat yang berbeda membuat saya banyak mempelajari hal-hal baru, sekaligus lebih banyak berkompromi. Setidaknya, keinginan masa kecil saya untuk menikah dengan orang luar jawa biar bisa jalan-jalan keluar pulau jawa, sudah dikabulkan Allah, hehe.. Selamat berpuasa dear, selamat menikmati menu favorit dan nostalgia bersama keluarga.

Salam Hangat,

May 19, 2017

Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis

Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
DIY project Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis ini seolah menjadi jawaban atas rasa frustrasi saya dalam menata taman. Kami memiliki sepetak ruang kecil disamping teras yang dimaksudkan sebagai ruang terbuka hijau. Awalnya kami kami meminta pertolongan sebuah toko tanaman untuk menatanya. Namun sebagai emak-emak sok perfect, setelah beberapa tahun saya bongkarlah semua tanaman beserta rumput-rumputnya yang bagi saya terlalu penuh sesak. 

Sejak itu, saya dan anak-anak secara berkala mengganti tatanan taman kami agar tidak membosankan. Pernah menggunakan alas batu, rumput jepang, rumput gajah, pecahan keramik, kembali ke batu lagi, sampai akhirnya kami mencoba bereksperimen dengan Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis.

Mengapa saya memilih rumput sintetis? Karena itu adalah satu-satunya hal yang belum pernah kami coba! Hahaha... Disamping itu, rumput sintetis cukup awet untuk beberapa tahun kedepan (sebelum saya bongkar lagi ^,^), kid's friendly untuk tempat bermain anak dengan tetap mempertahankan fungsi tanah sebagai resapan air. Rasanya sungguh tidak rela jika sisa tanah yang kecil ini juga harus dijajah oleh lantai plester maupun keramik, yang artinya saya juga berkontribusi akan terjadinya banjir di lingkungan kami. Eeeaaa....

Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
Before

Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
After
Perlu diketahui bahwa rumput sintetis ada banyak macam dengan berbagai peruntukannya masing-masing, ada rumput untuk indoor, outdoor, lapangan sepak bola dan sebagainya. Bahan yang digunakan pun mulai dari tali rafia sampai yang mirip banget sama rumput asli! Soal harga, yang termurah mulai Rp. 105.000,- hingga jutaan per meternya. Bersyukur taman kami tak terlalu luas, sehingga cukup membeli 6 meter rumput sintetis yang termurah, dengan alasan sebagai percobaan pertama (selain pastinya urusan budget, hehe..). Rugi kan, kalau sudah beli yang mahal ternyata kurang cocok dengan selera.

Nah, pengerjaannya ini yang menguras tenaga. 
Day 1
  • Saya dan anak-anak mengambili batu yang sebelumnya tertata di taman. Saking nempelnya itu batu, kami membutuhkan bantuan cethok (saya nggak tahu bahasa Indonesianya apa) dan pisau untuk mencungkil batu SATU PER SATU dari tanah.
  • Selanjutnya batu kami bersihkan dengan air. Duh, bilasnya saja sampai berulang-ulang agar bersih. Sudah berat ngangkat batu berember-ember, bersihinnya juga capek. Sampai titik ini saya dan anak-anak memutuskan untuk istirahat dan melanjutkannya esok hari.
Day 2
  • Memotong gulungan rumput sintetis. Saya memotongnya masing-masing 1 meter guna mempermudah penyesuaian pada lahan. Cukup menggunanakan cutter dan penggaris saja dengan beberapa kali sayatan. Gunting juga bisa digunakan, tapi lebih membutuhkan tenaga ekstra karena ketebalannya.
  • Memindahkan pot keluar taman satu per satu, yang mana kami dibantu oleh mbak asisten. Jadi lumayan bisa berbagi beban.
  • Menata potongan rumput di taman. Kali ini saya mengkombinasikan rumput dengan batu yang sudah kami bersihkan sehari sebelumnya. Tujuannya agar membuat tanah serapan menjadi lebih luas (FYI, bagian bawah rumput sintetis adalah berupa karpet seperti terpal dengan bahan lentur yang diberi lubang tiap beberapa centimeter sebagai penjaga kelembaban dan resapan air). 
  • Kemudian MENATA KEMBALI pot-pot yang ada kedalam taman. Kebayang kan, gimana lelahnya?? 
Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
Berasa piknik di rumah sendiri!

Namun semua kelelahan kami rasanya sepadan, karena kini mini garden ini menjadi spot favorit buat sekedar duduk-duduk lesehan sambil ngadem, tempat mainan anak dan teman-temannya, tiduran, bahkan tempat makan di akhir pekan. Benar-benar berasa piknik!

So, buat yang sudah mulai bosan dengan pemandangan tamannya, Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis boleh banget dicoba.

Salam Hangat,


Fun Time #18 : Mini Garden dengan Rumput Sintetis
Tampak depan

May 15, 2017

Wajib Militer Ala Anak SD

Wajib Militer Ala Anak SD
Wajib Militer Ala Anak SD
Tema perdana event blogger Gandjel Rel yang dipilih oleh Nia Nurdiyansyah dan Anjar Sundari  kali ini adalah tentang kenangan masa kecil yang paling membekas di ingatan. Hmm... jujur agak bingung plot mana yang mau ditulis, karena saya selaku generasi tahun 90an bangga masih punya masa kecil yang seru tanpa intervensi kecanggihan teknologi seperti saat ini. Main princess - princessan, main peran si ular putih, ngadain lomba fashion show sendiri di rumah, lomba makan krupuk yang sering kita lakuin tanpa nunggu tanggal 17 Agustus, bikin tenda pakai jarik, prosotan di jalan pakai pelepah pisang, yang kesemuanya masih membekas dalam memori saya.

Tapi yang paling spesial adalah cerita tentang wajib militer ala anak SD yang saya alami semasa kecil. Wajib militer ini tentunya hanya kiasan, it means, disiplin ala militer yang diterapkan di rumah kami. Tentunya minus hukuman fisik ya, lha wong baru dilihatin Ibu saja kami (saya dan adik perempuan) sudah mewek duluan. Hahaha...

Ya, kedua orang tua saya adalah seorang polisi, sampai sekarang banyak keluarga besar saya yang bekerja di dunia militer. Dulu, kepolisian adalah bagian dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) bersama TNI AD, AL dan AU. Berbeda dengan sekarang, dimana kepolisian sudah memisahkan diri dan fokus dalam menjaga stabilitas dalam negeri.

Back to topic! Sebagai anak yang dibesarkan di keluarga militer, kami sangat ditekankan tentang kedisiplinan dalam berbagi pekerjaan rumah, belajar, termasuk cara menghormati orang yang lebih tua. Contohnya :
  • Sejak usia SD, setiap pagi saya diberi tugas memasang berbagai atribut pada pakaian dinas Bapak Ibu, serta membrasso ikat pinggang dan segala perlengkapan yang akan dipakai hari itu. Wait, paham ga membrasso itu apa? Hehehe.. Brasso itu merk cairan pembersih dan pengkilap logam. Nah, di ikat pinggang maupun tempelan baju yang dipakai pak polisi / tentara itu kan banyak bahan logamnya, tugas saya adalah untuk membuatnya selalu mengkilap saat digunakan. Jadi setiap hari harus di'brasso'. Sedangkan adik menyemir sepatu, sementara Ibu memasak di dapur dan Bapak menyiapkan kendaraan yang akan dipakai. Kami semua sungguh sibuk di pagi hari ^,^

Wajib Militer Ala Anak SD
Perlengkapan perang saya setiap pagi : Brasso dan Lap / Kaos Bekas
Sumber gambar : http://www.indotrading.com
  • Setelah tidur siang sepulang sekolah (yang kebanyakan tidurnya cuma pura-pura) kami dipersilakan main, dengan syarat : harus sudah pulang / berada di rumah sebelum Ibu pulang. Ibu saya biasa pulang sekitar jam 4 sore, jadi sebelum itu saya dan adik harus sudah selesai main. Suatu hari, kami berdua sedang asyik main di tetangga depan rumah. Saking asyiknya, saya tidak memperhatikan jam. Hingga tiba-tiba terdengarlah suara motor, pertanda Ibu sudah pulang. Kami pun lari tunggang langgang menuju ke rumah dan disambut oleh Ibu yang sudah duduk di ruang tamu. Kami diminta duduk, dan sebelum Ibu membuka mulut kami berdua sudah menangis sesenggukan. Hehehe... kalau diingat lagi sungguh lucu, padahal saat itu Ibu akhirnya cuma mengingatkan saja. Baru dilihat saja kami udah nangis duluan!

  • Kedua orang tua saya sangat menekankan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Saya dan adik diajarkan berbagai "unggah - ungguh" kepada orang tua, seperti tidak boleh duduk di atas saat ada yang lebih tua duduk di bawah, membungkuk saat melewati orang yang lebih tua, berbicara dengan bahasa kromo inggil (yang saat ini sudah sangat langka) dan masih banyak lagi. Salah satu diantaranya, bentuk penghormatan yang kami lakukan untuk Bapak, yaitu dengan pembiasaan bahwa setiap Bapak pulang dinas, kami akan berbagi tugas. Saya mengambilkan minum, adik mengambil sepatu Bapak untuk dikembalikan di rak, sedangkan ibu membawakan tas dan bawaan lainnya. Itulah ritual sambutan hangat kami sebagai rasa terima kasih atas kerja keras Bapak menangkap penjahat hari itu. Hahahaha..

Eits, tapi jangan dikira Bapak tinggal leyeh-leyeh di rumah saat kami sedang 'bertugas' ya. Bapak pun selalu turun tangan 'blusukan', melihat siapa yang sedang butuh bantuan. Terkadang beliau yang mencuci baju, kadang mengepel lantai, kadang benerin perabotan, kadang menguras bak, kadang ngecat, kadang naik genteng, bahkan nyetrika! Sampai sekarang saya dan anak-anak menganggap Mbah Kakung itu Handy Manny! Itu lho, tokoh kartun yang selalu bisa benerin apa aja yang rusak. Kalau adik saya punya istilah sendiri, katanya Bapak itu 'ketok magic'. Meski bapak cenderung lebih sedikit bicara, tapi saya sering dibuat terharu dengan perbuatan beliau. Seperti beberapa waktu lalu ketika asisten di rumah saya ijin dua minggu karena sakit, Bapak yang saat ini sudah pensiun datang ke rumah untuk sekedar menemani cucu-cucunya dan MENYELESAIKAN SETRIKAAN SAYA YANG SETUMPUK! Duh, saya sampai kepingin nangis saat sepulang kerja dan beliau bilang "Disini juga santai, mumpung ada waktu.." Huks..

Ok, itu baru tiga contoh ya, belum lagi urusan belajar yang harus 'nglothok' sebelum boleh keluar kamar dan lain sebagainya. Sebagai anak SD tentunya saat itu saya merasa jadi anak paling ketat dan disiplin dengan banyak aturan, namun ternyata manfaatnya sangat saya rasakan sampai sekarang.

"Meski semuanya terlihat sepele, ternyata segala hal yang saya lakukan selama Wajib Militer Ala Anak SD punya arti yang mendalam"

Saat ini saya gantian mengajarkan tentang berbagi tugas rumah kepada anak-anak, aturan rumah (kapan main, kapan menonton tv, kapan pegang gadget, kapan belajar, kapan prakarya / fun time), kami bahkan punya jadwal harian yang disepakati bersama, and it's totaly fun! Saat ayah mereka (suami) pulang kantor, saya pun membiasakan untuk berbagi tugas mengambilkan minum, mengembalikan sepatu, membawakan tas, persis seperti apa yang saya, adik dan Ibu lakukan dulu. Meski semuanya terlihat sepele, ternyata segala hal yang saya lakukan selama Wajib Militer Ala Anak SD punya arti yang mendalam, yang semoga kelak juga akan diingat oleh anak-anak saya.

Salam Hangat,

May 4, 2017

Apa sih, Greenhouse Effect itu?

Apa sih, Greenhouse Effect itu?
Apa sih, Greenhouse Effect itu?
Sering denger kata "greenhouse effect" kan ya? Actually, apa sih yang disebut dengan greenhouse? Kok kayanya konotasinya jelek banget kalau dikaitkan dengan kondisi bumi kita yang sekarang?Dalam dunia Biologi dan pertanian dikenal istilah greenhouse (rumah hijau) yang berarti sebuah rumah yang dinding dan atapnya dibuat dari kaca atau plastik. Dari sinilah mucul istilah dalam bahasa Indonesia yaitu rumah kaca. Padahal greenhouse tidak harus dibuat dari kaca. Bahkan ada versi paling murah yang digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan rangka pipa aluminium, plastik untuk atapnya, dan kasa anti nyamuk untuk dindingnya.

Greenhouse digunakan untuk pengembangbiakan tumbuhan baik untuk tujuan riset ataupun intensifikasi pertanian. Di negara-negara yang lahan pertaniannya terbatas, seperti Jepang, greenhouse ini benar-benar digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan di negara itu. Karena meski lahan sangat terbatas, secara kuantitas hasil panen greenhouse bisa melebihi hasil panen kebun konvensional dengan luas lahan yang sama.

Apa sih, Greenhouse Effect itu?
Greenhouse dalam pertanian
Sumber : http://www.conserve-energy-future.com 

Sebuah greenhouse yang canggih memiliki fasilitas rekayasa cuaca. Di dalamnya, berbagai besaran-besaran fisis cuaca bisa diatur, di antaranya suhu udara, kelembaban, intensitas cahaya matahari, durasi penyinaran, sirkulasi udara, kecepatan dan arah angin, dan sebagainya. Sehingga greenhouse tersebut tahan cuaca, artinya tidak bergantung pada cuaca lingkungannya. Bahkan sekarang ini ilmuwan sudah bisa “menghidupkan” serangga-serangga tertentu di dalam greenhouse. Terutama serangga yang berperan dalam reproduksi tumbuhan seperti semut, lebah, dan kupu-kupu.

Bagus dong ya? Terus, kaitannya sama greenhouse effect yang lagi seru-serunya buat para pecinta lingkungan yang merasa khawatir dengan keadaan bumi itu apa ya? Matahari meradiasikan cahaya dengan berbagai panjang gelombang, yang disebut sebagai spektrum matahari (solar spectrum), ke bumi, yaitu cahaya tampak (Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U), cahaya infra merah, cahaya ultra violet, sinar X, dan sinar γ (gamma). Seperti kita ketahui, cahaya infra merah adalah perwujudan dari kalor (panas) yang dipindahkan secara radiasi.

Ketika cahaya matahari mencapai atmosfer, sinar X dan sinar γ dipantulkan kembali ke angkasa oleh awan dan partikel atmosfer yang terluar. Selanjutnya lapisan ozone (ketinggian 19 – 48 km) menyerap sebagian besar cahaya ultra voilet. Hanya sedikit ultra violet yang lewat dan cukup untuk photosynthesis serta pembentukan vitamin D pada kulit manusia. Sebagian yang berupa cahaya tampak dan cahaya infra merah diserap oleh bumi dan segala makhluk di atasnya. Sedangkan sisa radiasi infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer.

Cahaya infra merah yang dipantulkan bumi ke atmosfer diserap oleh gas-gas rumah kaca yang secara alamiah sudah ada di sana, yaitu karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), dan uap air. Lapisan gas rumah kaca ini menciptakan kesetimbangan energi antara permukaan bumi, atmosfer, dan ruang angkasa. Kesetimbangan ini penting untuk mempertahankan kestabilan iklim bumi secara global.

Sekarang, bayangkan kita berada di dalam sebuah rumah kaca yang tertutup rapat. Cahaya matahari yang menembus kaca kemudian terpisahkan menjadi beberapa panjang gelombang (dispersi), di antaranya infra merah. Cahaya-cahaya tadi kemudian berinteraksi dengan semua benda atau materi yang dilaluinya. Sebagian diserap sementara sebagian lainnya dipantulkan kembali ke dinding kaca. Sayangnya, cahaya infra merah yang masih tersisa ini tidak memiliki cukup energi (karena panjang gelombangnya besar, frekuensinya kecil) untuk menembus dinding kaca. Akibatnya, ia terperangkap di dalam rumah kaca tersebut dan mengakibatkan suhu di dalamnya meningkat.

Apa sih, Greenhouse Effect itu?
Gambaran gas yang terperangkap di atmosfer
Sumber : http://www.wunderground.com

Greenhouse effect (efek rumah kaca, Indonesia) prinsipnya sama seperti uraian tadi. Hanya saja sekarang yang menjadi “kaca” adalah gas-gas yang dijuluki sebagai gas rumah kaca tadi. Gas-gas ini (yang secara alamiah sudah ada) semakin terakumulasi di atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 km di atas bumi akibat produksi gas-gas rumah kaca yang berlebihan. Dampaknya, panas yang terperangkap ini menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai global warming (pemanasan global) yang bertanggung jawab atas perubahan cuaca, mencairnya es dan glacier di kutub, naiknya permukaan air laut, gangguan siklus hewan dan tumbuhan, serta munculnya berbagai penyakit pada manusia.

Apa sih, Greenhouse Effect itu?
Global warming
Sumber : http://www.globalnewlightofmyanmar.com

That's why kita musti "siaga" terhadap efek rumah kaca secara global ini yah gaes. Masih panjang nih kalau mau ngebahas efek rumah kaca ini. 

Dalam Islam sendiri, kata "tumbuhan" disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur'an sebanyak 15 ayat, seperti di bawah ini:
QS Al-An'am [6]:95
"Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan [ الْحَبِّ ] dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?"

Lalu pada,
QS Al-An'am [6]:99
QS Al-Hijr [15]:22
QS An-Nahl [16]:10
QS An-Kahfi [18]:45
QS Thaaha [20]:53
QS Al-Hajj [22]:5
QS Asy-Syu'ara [26]:7
QS Al-Qaashas [28]:57
QS Ar-Ruum [30]:51
QS Luqman [31]:10

Dan,
*QS Ar-Rahman [55]:6*
:Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya"

*QS An-Naba' [78]:15*
"supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan [ نَبَاتًا ]"

*QS An-Naaziat [79]:31*
"Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya"

*QS Ath-Thariq [86]:12*
"dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan [ الصَّدْعِ ]"


Masya Allah.. Sungguh Allah telah mengatur bumi dan isinya sedemikian sempurna. Tugas kita adalah menjaganya dengan sebaik-baik penjagaan. Semoga bermanfaat!


Sumber : 
https://achmadchusaibi.wordpress.com/green-house/
https://newengland.com/today/living/gardening/make-a-mini-greenhouse-with-recycled-items/#_

Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat
HSMN.timtemadiskusi@gmail.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

May 3, 2017

Cara Membangun Self Esteem pada Anak

Cara Membangun Self Esteem pada Anak
Cara Membangun Self Esteem pada Anak
Apa itu Self-Esteem (SE)? Membahas self-esteem (harga diri) tidak bisa lepas dari membahas self-concept (konsep diri). Konsep diri adalah pandangan menyeluruh tentang diri kita, termasuk pandangan tentang penampilan, kemampuan, temperamen, sikap, dan keyakinan kita. Pandangan kita mengenai diri kita ini sangat dipengaruhi oleh cara kita menerjemahkan 'umpan balik' dari orang lain di lingkungan kita. Bagaimana kita menangkap reaksi orang lain terhadap perkataan dan perbuatan kita akan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Proses ini telah berlangsung sejak kita mulai berinteraksi dengan lingkungan, sejak kita bayi.

Apa hubungan self-esteem dengan konsep diri? Self-esteem adalah evaluasi atau penilaian terhadap konsep diri kita. Selain memiliki pandangan tentang diri kita yang aktual, kita juga memiliki gambaran tentang diri yang ideal. 'Ideal' tidak sama dengan 'sempurna'.  Semakin kita menilai bahwa diri aktual kita mendekati gambaran diri yang menurut kita ideal, maka penilaian diri kita semakin baik (good me) atau dikatakan kita memiliki healthy self-esteem. Sebaliknya, semakin jauh kesenjangan antara diri aktual dengan diri ideal, maka penilaian tentang diri menjadi semakin buruk (bad me), atau dikatakan memiliki low self-esteem. Self-esteem memiliki tingkatan dalam garis kontinum dari tinggi-sedang-dan rendah. 

Orang yang mengalami low self-esteem biasanya memiliki gambaran diri ideal yang tidak realistis atau tidak rasional yang membuatnya semakin sulit untuk mencapainya, sehingga mengonfirmasi bahwa dirinya tidak baik atau tidak kompeten.

Mengapa membangun healthy self-esteem pada anak itu penting? Healthy self-esteem adalah tentang merasa kompeten, merasa dicintai dan 'disetujui', merasa berharga, berguna, dan nyaman dengan diri sendiri. Apa manfaatnya memiliki perasaan ini? Tentu saja kita akan merasa lebih bahagia, positif, dan optimis dalam menjalani kehidupan. Bayangkan jika anak kita merasakan kebalikannya? Bayangkan ia merasa tidak berharga, tidak berguna, tidak kompeten, tidak dicintai, tidak didukung, tidak nyaman dengan diri sendiri. Bagaimana kita akan menjalani kehidupan ini dengan perasaan-perasaan itu? Apa yang akan kita lakukan ketika menemui kesulitan jika kita merasa tidak kompeten?

Anak yang mengalami low self-esteem akan lebih mudah putus asa. Anak menjadi kurang percaya diri, merasa pesimis terhadap hasil dari usaha mereka. Anak yang merasa tidak kompeten akan menganggap reward yang mereka terima adalah karena keberuntungan atau kebetulan, bukan karena usaha mereka. Lebih jauh, dalam bidang klinis, banyak penelitian menemukan hubungan antara low self-esteem dengan  depresi, pikiran bunuh diri, dan percobaan bunuh diri pada remaja

Bagaimana cara membangun self-esteem pada anak? Self-esteem ada yang bersifat umum atau dikenal dengan istilah global self-esteem dan ada yang spesifik pada bidang-bidang tertentu, seperti diri-fisik, sosial, emosional, dan akademik. Tingkat self-esteem pada satu bidang bisa berbeda dengan bidang yang lain. Seorang anak bisa saja memiliki self-esteem yang tinggi pada bidang akademik karena ia merasa kompeten di akademik, tetapi memiliki self-esteem diri-fisik yang rendah karena sering diejek gemuk dan jelek oleh teman-temannya. Self-esteem pada bidang spesifik bisa berpengaruh terhadap global self-esteem jika bidang tersebut dianggap penting oleh individu yang bersangkutan dan oleh orang-orang signifikan di sekitarnya. 

Jika ingin membantu anak yang mengalami low self-esteem untuk meningkatkan self-esteem mereka, maka kita perlu mengetahui dulu pada bidang apa dia merasa rendah diri dan seberapa penting bidang itu untuknya.
Secara umum, ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam membangun self-esteem, yaitu :
  1. Mengembangkan perasaan kompeten di bidang yang dianggap penting oleh anak dan lingkungannya.
  2. Memberikan umpan balik positif mengenai diri anak.
Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap self-esteem dalam parenting?
❤ Genetik
Neiss, Stevenson, and Sedikides (2003) menyimpulkan bahwa genetik berpengaruh sebesar 30-40% dari varians tingkat self-esteem dalam saudara kandung. Secara biologis, anak terlahir dengan predisposisi tertentu seperti, tingkat energi, temperamen dasar, kondisi fisik, sosial, dan kemampuan kognitif tertentu. Jika anak lahir di keluarga atau budaya yang mengapresiasi konstelasi karakteristik dan kemampuan yang dimilikinya, maka kemungkinan kesesuaian antara individu dan lingkungan akan memberikan dampak positif pada self-esteemnya. Anak pada kondisi ini akan lebih mudah dinilai sebagai anak yang berharga dan memperoleh kompetensi yang dibutuhkan untuk self-esteem-nya. Jika anak lahir "berbeda" dari kedua orangtuanya atau saudara-saudara kandungnya, kemungkinan anak tersebut akan melalui jalan yang sulit untuk membangun self-esteemnya.
      
❤ Dukungan dan Keterlibatan Orangtua.
Keterlibatan orang tua merupakan salah satu penentu self-esteem anaknya. Biasanya, keterlibatan ortu yang suportif memiliki dampak positif terhadap self-esteem anak. Dukungan dari ibu berkorelasi dengan perkembangan perasaan berharga pada anak-anaknya, sedangkan dukungan ayah lebih berkaitan dengan perkembangan perasaan kompeten. Orangtua yang lebih terlibat dan suportif terhadap anak memiliki anak dengan tingkat self-esteem yang lebih tinggi daripada orangtua yang mengabaikan anaknya atau orangtua yang absen untuk waktu yang lama (Clark & Barber, 1994; Coopersmith, 1967; Rosenberg,  1965).
      
❤ Kehangatan dan Penerimaan Orangtua.
Hanya keterlibatan ortu saja tidak cukup dalam membangun self-esteem. Kualitas dan kehangatan atau penerimaan orangtua menjadi hal yang krusial dalam perkembangan self-esteem anak. Kemauan ortu untuk melihat kekuatan dan kelemahan anak, potensi dan keterbatasan anak adalah penting. Penerimaan yang hangat harus seimbang, "tidak buta", yang artinya persetujuan yang sederhana tidak berhubungan dengan self-esteem. Hanya memberikan persetujuan atau pujian pada anak lebih berasosiasi dengan masalah seperti narsisme dan sebagainya. Ortu harus bisa melihat anak dengan seimbang. Dengan melihat kelebihan dan keterbatasan anak dalam situasi tertentu, ortu dapat mendorong anaknya untuk mengeksplorasi dunia dengan cara yang berdasar pada keunikan anak dalam kemampuan, kesukaan, kompetensi, ketakutan, minat, dan seterusnya pada usia tertentu. Semuanya saling berhubungan dalam mengembangkan perasaan kompeten yang membangun self-esteem.

Ketika anak tidak merasakan penerimaan dan kehangatan ortu, maka self-esteem mereka akan bergantung pada  faktor ekstrinsik daripada intrinsik.

❤ Harapan dan Konsistensi Orangtua.
Harapan dan batasan yang diberikan ortu kepada anaknya berkaitan dengan perkembangan positif self-esteem pada anak. Orangtua menetapkan tujuan yang tinggi, tetapi tetap dalam jangkauan anak untuk dicapai, serta standard yang jelas tentang keberhargaan diri. Menetapkan tujuan dan standard dapat membuat anak mengetahui bahwa perilaku tertentu yang diharapkan, baik, "berharga", dan layak diraih. Menentukan dan mempertahankan batasan  perilaku penting karena kegagalan dalam menunjukkan perilaku yg diharapkan dapat merusak self-esteem. Jangan terlalu permisif atau terlalu keras dalam menentukan batasan perilaku. Batasan yang terlalu permisif berhubungan dengan perilaku impulsif dan agresif. Sedangkan batasan yang terlalu keras dan ketat dapat berhubungan dengan perkembangan kecemasan dan  perilaku terhambat.

❤ Gaya Pengasuhan
Gaya pengasuhan demokratis dianggap paling kondusif untuk mengembangkan self-esteem anak, daripada gaya pengasuran otoriter dan permisif. Maksudnya, kemauan ortu untuk mendiskusikan masalah dan bernegosiasi ketika ada konflik dapat membantu mengembangkan self-esteem anak. Dalam mengasuh anak, tentu saja ortu tidak harus selalu menggunakan gaya demokratis. Sebagian besar masalah diselesaikan secara demokratis, namun dalam mendisiplinkan anak, ortu perlu juga melihat situasi dimana gaya pengasuhan otoriter atau permisif menjadi lebih efektif.
"Parents who are approving, nurturant, and responsive tend to produce children with higher self-esteem than parents who are disapproving, uninterested, and unresponsive" (Leary & MacDonald, 2003).

❤ Urutan Kelahiran
Penelitian dari Coopersmith (1967) menyatakan bahwa urutan kelahiran dapat memberikan efek terhadap self-esteem. Anak yang lahir pertama kemungkinan mengembangkan positive self-esteem. Anak tunggal juga kemungkinan memiliki self-esteem yang lebih tinggi daripada anak yang memiliki saudara kandung. Meskipun hubungan kausal antara urutan kelahiran dan self-esteem tidak sederhana, penjelasan untuk hal ini adalah bahwa anak sulung dan anak tunggal menerima perhatian dan interaksi lebih banyak dari ortu mereka. Anak kedua dan seterusnya sejak lahir sudah dalam kondisi harus berbagi dengan saudara kandungnya. Tetapi, tetap perlu diingat bahwa kualitas interaksi ortu-anak lebih penting daripada kuantitas.

❤ Modelling
Ortu menunjukkan kepada anaknya rute dalam mengembangkan self-esteem melalui cara menangani tantangan hidup, konflik, dan masalah yang mereka hadapi. Bagaimana ekspresi ortu terhadap resolusi mereka sendiri lebih berpengaruh daripada apa yang dikatakan ortu kepada anaknya. Ortu yang menghadapi tantangan hidup dengan jujur dan terbuka, dan berusaha untuk mengatasinya, bukan menghindarinya, menunjukkan kepada anak-anak mereka tentang strategi penyelesaian masalah pro-self-esteem. Sebaliknya, ortu yang menghindar dari menyelesaikan masalah menunjukkan rute negatif dalam menangani tantangan dan masalah dalam hidup, yang dapat membawa pada perasaan tidak kompeten dan tidak berguna yang dapat merusak self-esteem.

 Cara Membangun Self Esteem pada Anak

        
          *Sesi tanya jawab*
Pertanyaan 1
Ibu, bagaimana mengembalikan kepercayaan diri anak yang terlanjur hilang akibat perkataan orang sekitar yang tidak sesuai. Beberapa saat lalu anak saya 6yo diminta menulis oleh salah seorang guru, karena anak saya memang belum bisa membaca dan hanya mengenal beberapa huruf jadi dia bilang tidak bisa. Kemudian dia ditanya "kamu bisanya apa?", akhirnya dia agak minder dan menganggap menulis atau membaca adalah pekerjaan yang sulit. Padahal sebenarnya anak saya cinta buku dan suka baca gambar dan minta dibacakan buku. Saya ingin menyemangatinya kembali, terima kasih bu.

*Jawaban*
Guru adalah salah satu orang yang signifikan bagi anak. Komentar/umpan balik dari guru mengenai kompetensi anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan self-esteem anak. Dalam kasus ini memang pertanyaan dari guru itu membuat anak merasa tidak kompeten dalam bidang akademik, khususnya dalam membaca dan menulis. Gurunya mungkin tidak paham tentang psikologis anak, jadi dia bertanya begitu. Cara mengembalikan kepercayaan diri anak pada intinya seperti yang sudah disampaikan dalam materi pengantar, yaitu :
  1. Memunculkan perasaan kompeten dalam diri anak. Untuk memunculkan perasaan kompeten, maka anak perlu MENGALAMI KEBERHASILAN (mastery experience). Jadi kita beri tugas kepada anak yang kita yakin bahwa anak pasti bisa melakukannya dengan benar, pasti berhasil melakukannya. Dalam memberikan tugas apa pun, selalu awali dengan soal yang mudah dulu yang pasti dikerjakan dengan benar oleh anak, sehingga anak merasa mampu. Misal, kita tau bahwa anak hanya mengenal beberapa huruf, maka yang ditanya kepada anak adalah huruf-huruf yang sudah dia ketahui saja. Setelah itu, secara bertahap, kita ajarkan juga huruf-huruf yang lain sampai akhirnya nanti anak bisa membaca dan menulis. Setelah anak merasakan sendiri bahwa dia bisa membaca dan menulis, maka perasaan tidak kompeten dalam membaca dan menulis akan berkurang dan ia menjadi lebih percaya diri.
  2. Berikan umpan balik positif kepada anak. Kita sebagai ortu adalah orang yang signifikan juga bagi anak-anak. Jadi komentar dan umpan balik kita juga penting bagi anak. Ketika anak belajar bersama kita dan kita memberikan tugas-tugas yang mampu ia lakukan dengan benar, kita berikan umpan balik positif kepadanya, seperti "Wah, ade bisa melakukannya dengan benar. Ternyata KAMU BISA! Waktu Bu guru nanya itu, mungkin bu guru ga tau aja bahwa kamu bisa. Wajar kok anak umur 6 tahun belum bisa baca tulis semua huruf, kan masih dalam proses belajar membaca. Yuk belajar lagi sama bunda biar makin banyak yang kamu bisa". Intinya kita memberikan penguatan kepada anak terhadap kemampuan dia. Apa yang blm dia bisa itu bukan krn dia tidak bisa, tetapi karena belum dia pelajari dan sesuatu yang wajar untuk anak seusia dia.

Pertanyaan 2
1. Anak saya laki-laki 2y10m. anak yang aktif dan pemberani, serta suka mencoba hal-hal baru. Sore tadi saat jam outdoor activity dia melakukan hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya, yaitu ikut temannya ke warung, ambil jajanan lalu dibawa pulang. Selain itu juga masuk ke rumah tetangga, buka kulkas dan ambil salak tanpa izin pemilik rumah. Lalu saya dengan tegas minta dia mengembalikan ke pemilik makanan tsb (tidak marah, bicara singkat, tegas, diulang-ulang sampai dikembalikan). Yang menjadi pertanyaan, saat memintanya mengembalikan saya lakukan on the spot, ada teman-teman dan tetangga disitu, apakah hal tsb dibenarkan? atau haruskah saya gendong anak saya pulang dan memberitahunya dirumah (tidak didepan teman) lalu menemaninya mengembalikan?bagaimana cara menegakkan batasan terhadap anak di tempat umum tanpa mencederai kepercayaan dirinya?

2. Bagaimana menumbuhkan self esteem anak kedua/ketiga dimana seperti disebutkan sebelumnya dia harus berbagi dengan saudaranya. 

*Jawaban*
1. Saat menegur anak sebaiknya memang tidak di depan orang lain. Jika kita yakin bahwa ucapan kita akan diterjemahkan anak sebagai teguran karena dia telah berbuat salah, maka sebaiknya kita mengajak dia bicara tidak di depan orang lain. Tapi, jika menurut kita anak menerjemahkan ucapan kita sebagai ucapan biasa (bukan teguran) dan dia tidak tau bahwa dia telah berbuat salah, maka tidak apa-apa kalau hanya mengatakan untuk mengembalikan barang yang dia ambil di depan temannya. Kemudian di rumah (tidak di depan orang lain) baru dibahas lagi bahwa yang dia lakukan tadi salah dan apa yang seharusnya dia lakukan ketika menginginkan barang milik orang lain. Akan lebih aman memang jika anak diajak bicara di rumah kemudian ditemani saat mengembalikan agar kita juga bisa memantau apa yang dilakukan anak saat mengembalikan dan apa umpan balik yang dia terima dari pemilik makanan.

2. Menumbuhkan self-esteem anak ke2 dan seterusnya pada intinya sama saja seperti yang sudah disampaikan dalam pengantar materi. Hanya saja, menurut penelitian, anak sulung kemungkinan akan memiliki self-esteem yang lebih tinggi karena pernah merasakan perhatian dan interaksi yang lebih banyak. Orangtua kemungkinan akan lebih excited dan perhatian ketika anak pertamanya baru lahir. Tapi, tidak menutup kemungkinan anak pertama kemudian mengalami penurunan self-esteem. Self-esteem ini bisa saja naik atau turun sejalan dengan perkembangan individu dan pengalamannya dengan lingkungan. Jika ortu suka membanding-bandingkan kakak-beradik, maka hal ini dapat merusak self-esteem anak yang dianggap lebih buruk oleh ortunya dalam perbandingan.

*tanggapan*
jika dibawa pulang atau diajak agak ke pinggir, anak-anak lain suka ngikut atau memperhatikan (ngeliatin mulu), malah jadi pusat perhatian, gimana yah?

Oiya saat memberitahu kakak, adik juga selalu ada (karena masi bayi) jadi tetap ada pihak ketiga (si adek)

*jawaban*
Kalau sulit mengajak bicara berdua, maka yang perlu diperhatikan adalah cara bicara. Sebisa mungkin bicara dengan nada datar dan tidak menyalahkan atau menghakimi. Yang dikomentari adalah perilaku yang tidak tepat dan beritahu perilaku yang tepat apa. Jangan mengomentari anak sebagai individu, tapi perilakunyalah yang dibahas. yang penting anak tidak merasa dipermalukan.

Sebenarnya, ketika bicara berdua pun tetap nada bicara sebaiknya datar dan tidak menghakimi, hanya saja kemungkinan akan ada diskusi yang membahas bahwa anak telah melakukan kesalahan, yang mungkin anak tersebut tidak mau jika orang lain tau. kalau di depan bayi sepertinya tidak apa-apa karena anak usia 2y10m kemungkinan sudah mengerti bahwa bayi belum mengerti apa yang dibahas oleh ibunya dan dirinya.


Pertanyaan 3
Bagaimana menghadapi anak yang sebelum melakukan sesuatu sudah putus asa? Ketika ditanya, "kenapa kamu menangis?", dia menjawab "saya menangis karena saya takut nanti akan menangis". Saya bingung ketika anak saya usia 4,5 tahun berbicara seperti itu ketika akan melakukan latihan taekwondo yang sudah diikutinya 1 bulan. Awalnya dia selalu semangat, sampai kami liburan cukup lama dia berhenti latihan selama 2 minggu. Setelah itu, setiap latihan dia selalu menangis tanpa sebab, sampai 2 pertemuan. di pertemuan ke tiga, dia berangkat dengan gembira, setelah sampai tempatnya sebelum latihan dimulai dia sudah menangis. dan ketika ditanya, itulah jawabannya "dia menangis karena takut akan menangis".

Karena kami tidak tau harus berbuat apa, maka kegiatan latihan itu tidak kami lanjutkan, dan sampai sekarang jika ditanya apakah mau latihan lagi, dia selalu bilang tidak. Dari jawaban dia, saya menangkap bahwa anak saya takut terlihat tidak sempurna didepan orang tuanya, dia takut menangis dan mengecewakan kami. Mungkin ini kesalahan sikap kami. mohon bantuannya, bagaimana bisa mengembalikan kepercayaan dirinya dan tidak membuat dia terbebani dengan kami. terima kasih

*Jawaban*
Anak-anak memang sumber self-esteem-nya masih eksternal. Ia perlu konfirmasi dari orangtua dan significant person lainnya bahwa "He is ok". Orangtua yang menunjukkan penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan anak, potensi dan keterbatasan anak, dapat membantu anaknya mengubah sumber self-esteemnya menjadi intrinsik. Ketika ia merasa orang tuanya menerimanya apa adanya, tidak menuntut sesuatu yang dia tidak mampu, maka anak akan merasa nyaman menjadi diri sendiri. Seringkali anak berperilaku tertentu hanya untuk menyenangkan orang tuanya, padahal mungkin dia sendiri tidak suka. Banyak anak yang rajin belajar demi menyenangkan orang tuanya. Ia ingin menjadi "anak baik", ia ingin "diterima" orangtua. Jadi yang perlu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan diri anak adalah dengan menerima kelebihan dan kekurangan anak dengan seimbang. Sampaikan kepada anak bahwa tidak ada orang yang sempurna, tidak apa-apa dia melakukan kesalahan selama dia mau memperbaikinya, tidak apa-apa  jika dia tidak menyukai kegiatan yang ditawarkan kita. Tanyakan kepada anak kegiatan apa yang dia suka untuk dilakukan dan dia tidak perlu melakukan hal yang tidak dia sukai. 


Pertanyaan 4
Apa yang pertama kali harus dilakukan, bila ibu yang memiliki low self esteem, ingin membangun self esteem anaknya? Apakah sang ibu harus menyembuhkan low self esteemnya dulu, atau bersama membangun self esteem  bersama anak?

*Jawaban*
Ibu yang mengalami low self-esteem perlu meningkatkan self-esteemnya dulu. Ibu yang mengalami low SE mungkin akan merasa menjadi "bad mom" ia akan mudah terpengaruh "peperangan" antar ibu, seperti asi vs sufor, mpasi rumahan vs mpasi instan, full time mother vs working mother, dsb. Ibu yang mengalami low SE kemungkinan akan mudah terpengaruh hal-hal eksternal di luar dirinya. Misal, ketika ia ingin memberikan asi eksklusif, tetapi ternyata air susunya hanya keluar sedikit atau bahkan tidak keluar, maka ia dengan mudah akan merasa menjadi "bad mom" yang kemudian membuat dia merasa semakin tidak berharga, tidak bahagia, stress, bahkan depresi, yang kemudian tentu saja memengaruhi perilaku ibu dalam mengasuh dan merawat anak.

Penyebab ibu merasa low SE bisa bermacam-macam. Seringkali ibu yang merasa low SE memiliki tujuan yang tidak realistis atau tidak rasional, ingin sempurna, padahal tidak ada manusia yang sempurna. semakin kita menuntut kesempurnaan, maka akan kita semakin merasa tidak sempurna, yang selanjutnya membawa kita pada ketidakbahagiaan.

Untuk membantu mengubah tujuan-tujuan tidak rasional itu, coba ibu buat tabel untuk menuliskan hal-hal yang membuat ibu merasa tidak bahagia. Kolom pertama tulis pikiran/tujuan yang membuat ibu merasa tidak bahagia. di kolom kedua, tuliskan pikiran/tujuan yang rasional yang bisa membuat ibu merasa lebih bahagia. terkadang sulit untuk mengenali bahwa pikiran tersebut sebenarnya tidak rasional. tapi kita pikirkan lagi dampaknya pada emosi kita. Fokuslah pada tujuan yang bisa membuat kita merasa lebih bahagia. tidak perlu menuntut diri sempurna.

Self-esteem anak berkembang sejak dia bayi. Sejak bayi, anak sudah dapat merasakan apakah ibunya responsive terhadap kebutuhannya, apakah ibunya selalu memandangnya dengan tatapan hangat, apakah ibunya tersenyum ketika berbicara dengannya. Biarpun belum bisa berkomunikasi secara verbal, bayi bisa merasakan emosi yang kita sampaikan kepadanya melalui ekspresi wajah dan cara berperilaku ibunya. bayi akan merasa dicintai atau sebaliknya. bayi yang merasa dicintai akan lebih mudah mengembangkan healthy self-esteem.


Pertanyaan 5
Apakah ada korelasi antara self esteem dengan selftalk? Bagaimana kedudukan pengaruh kedua hal ini? Bagaimana langkah awal utk menaikkan self esteem yang sudah puluhan tahun mengalami low self esteem?

*Jawaban*
Self-talk bisa menjadi salah satu metode yang digunakan dalam rangkaian treatment untuk meningkatkan self-esteem. Seperti telah disampaikan sebelumnya, salah satu cara meningkatkan self-esteem adalah dengan memberikan umpan balik positif kepada diri. Self-talk yang berisi kalimat-kalimat positif adalah salah satu upaya untuk memberikan umpan balik positif atau penguatan positif terhadap apa yang telah kita lakukan.

Bagi yang telah mengalami low SE puluhan tahun, langkah awal untuk menaikkan SE adalah dengan menyadari terlebih dahulu bahwa ia mengalami low SE, menyadari dampak low SE terhadap kehidupannya, dan memiliki kemauan untuk meningkatkan SE-nya. biasanya hal ini dilakukan melalui konseling. SE sangat berkaitan dengan nilai (value) yang kita pegang, maka penting kita menyadari value kita tentang "good person" itu apa. Apakah value yang kita pegang itu sudah benar atau tidak. tentu saja sebagai muslim, value yang kita pegang ini harus sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka di tahap awal yang dibenahi adalah value yang kita yakini. kemudian kita fokus pada tujuan hidup kita dan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. orang yang mengalami low SE kan merasa "bad me", kemungkinan karena ia fokus pada kekurangan-kekurangan dirinya dan diri ideal yang ditetapkannya yang tidak rasional.


Pertanyaan 6
Anak sulung saya laki-laki 7th, dia melankolis, pernah beberapa kali cerita jika main bersama dengan anak usia 10th kadang dia ga diajak main, dia cerita sedih, saya minta bermain dengan seusianya, dia bilang seneng dengan kakak kelas lebih seru mainnya. Bagaimana menumbuhkan self esteem jika dia itu bisa berteman dengan siapa saja tanpa merasa di bully atau tidak dterima di kelompok tertentu.

*Jawaban*
Ini berarti SE bidang social ya. Untuk meningkatkan SE bidang social, maka anak perlu memiliki keterampilan-keterampilan untuk menjalin relasi social dengan teman sebaya maupun lintas usia. Kita ajarkan kepada anak  tentang norma-norma sosial, cara mengajak berkenalan, cara mengajak bermain, cara mengekspresikan emosi yang dapat diterima lingkungan social, dsb. Salah satu keterampilan social juga adalah cara menerima penolakan orang lain. Jelaskan kepada anak bahwa tidak semua orang akan mau bermain atau menyukai kita. Sama seperti dirinya yang lebih suka bermain dengan anak yang lebih tua, anak lain pun mungkin memiliki preference dalam memilih teman. bahas dengan anak keberhasilan-keberhasilan dia dalam situasi social, seperti misalnya lebih banyak yang menerima untuk bermain bersama dengannya daripada yang menolak dirinya, yang artinya dia tidak perlu merasa rendah diri jika ada 1-2 teman yang tidak mau bermain dengannya karena masih banyak teman lain yang mau main dengannya.


Pertanyaan 7
Bagaimana membangun kepercayaan diri pada batita? Kalau pemalu masih wajarkah? Perlu waktu berapa lama untuk bermain bergabung dg temannya

*Jawaban*
Wajar kok kalau batita masih merasa malu untuk bermin dengan teman sebayanya. Sehari-hari kan dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama orangtua atau orang lain yang serumah dengannya. Interaksinya dengan orang di luar keluarganya masih terbatas. Ia belum memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan teman sebaya, sehingga dia butuh waktu untuk menilai situasi apakah aman jika bermain dengan teman sebayanya. Karena dia juga belum berpengalaman dalam interaksi social, maka orangtua dapat membantu anaknya dengan memberi contoh cara berperilaku di lingkungan social. Bagi batita, bertemu teman baru adalah saah satu tantangan dalam hidup. jadi orangtua perlu menjadi model yang menunjukkan bagaimana cara mengatasi kecemasan di lingkungan social. semakin sering ia dikenalkan kepada lingkungan social, diberi contoh cara berperilaku di lingkungan social, dan melihat bahwa lingkungan social adalah tempat yang aman baginya, maka kemungkinan akan semakin cepat ia bisa menyesuaikan diri di lingkungan social.

kesimpulan dan penutup

Ortu memiliki pengaruh besar dalam membangun self-esteem anak, karena ortulah orang pertama dan utama yang bisa membuat anak merasa dicintai dan berharga, ortulah yang menanamkan nilai-nilai tentang apa yang baik dalam hidup ini, ortulah yang membantu anak mengembangkan potensinya dan menerima keterbatasannya, ortulah yang memberikan apresiasi dan kritikan terhadap anak. Oleh karena itu, kita sebagai ortu perlu terus belajar dan memperbaiki diri. setiap perkataan dan reaksi kita kepada anak dapat memengaruhi penilaian dan perasaan anak tentang dirinya.

Sumber : 
*KULWAP NASIONAL HSMN*
 Waktu  : 26 januari 2017
⏲ Pukul    : 19.30 - 22.35
Narasumber : Ratih Sondari,M.Psi., psikolog
 Moderator    : Bunda Susilowati
 Notulen         : Bunda Meinarti
*Profil*
Nama: Ratih Sondari, M.Psi., Psikolog
Profesi: Psikolog Klinis Anak dan Remaja
Pendidikan: S1 Fakultas Psikologi Unpad angkatan 2003
S2 Magister Psikologi Profesi Unpad Angkatan 2010.
Kegiatan: Ibu homeschooler dari 1 anak laki-laki berusia 8 tahun
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara Pusat
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web : hsmuslimnusantara.org
✨❤✨✨✨✨