Oct 27, 2017

Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan

Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan adalah satu dari segelintir pengalaman jalan-jalan saya di Kabupaten Semarang. Seperti pengakuan saya di artikel Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog, saya adalah manusia kuper nan ngenes banget akibat prinsip suami yang nggak suka jalan-jalan dekat rumah! Aneh, kan?

Jadi bisa ditebak, bahwa acara ke Bandungan kali ini pun bukan resmi liburan, melainkan ngikut suami yang lagi kerja! Suami yang sedang ada tugas di Bandungan selama 5 hari, akhirnya memutuskan menjemput saya dan anak-anak untuk menginap di Bandungan saat akhir pekan. Kegiatan menyusul suami kerja adalah hal lazim bagi saya dan kedua putera kami. Mobilitas pekerjaannya yang tinggi dan jarangnya waktu berkumpul di rumah, membuat kami menempuh cara tersebut agar tetap tercipta quality time di sela-sela jam kerja.

Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan
Pintu Gerbang Pasar Bandungan
Pic by. cakrawalatour.com
Salah satu hal yang tak boleh dilewatkan ketika bermalam di Bandungan adalah menyambut pagi dengan minum jamu dari Mbok jamu keliling dan berjalan kaki menuju Pasar Bandungan. Awalnya saya sempat heran, kok ada Mbok jamu yang ngider sampai masuk hotel? Dan nggak cuma jamu aja lho, penjual gorengan, jajan pasar hingga nasi liwet yang masih hangat pun menjajakan dagangannya kepada tamu-tamu hotel. Mungkin memang inilah salah satu daya tarik menginap di sekitar pasar. Dua hal ini adalah mood booster agar tetap kuat menghadapi kenyataan hidup, halah! Seperti sudah menjadi rutinitas, berikut jadwal pagi hari kami di Bandungan :

1. Naik Kuda
Berjalan kaki dari penginapan, tujuan pertama kami adalah perkiran kuda yang terletak di samping pasar Bandungan. Berkeliling desa dengan menaiki kuda adalah hal yang 'turis banget' di sana, jadi wajib hukumnya untuk dicoba.

Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan
Para Kuda yang Siap 'Bekerja' - Pic by. ekoindriasto.wordpress.com
2. Berburu Gorengan
Setelah kurang lebih 30 menit berkuda, saatnya berburu gorengan guna mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Para penjual gorengan berjajar di pinggir pasar, mereka buka dari subuh hingga petang hari. Bahkan beberapa warung buka 24 jam penuh ketika musim liburan tiba.

3. Berbelanja Sayur dan Buah Segar
Nah, yang ini adalah point penting ketika ada orang yang terbiasa tinggal di daerah panas seperti Semarang sedang jalan-jalan di wilayah pegunungan. Saking terbiasanya saya membeli sayur dan buah ketika di Bandungan, sesampainya di rumah pun saya hanya membeli sayur mayur dari abang keliling yang datang dari Bandungan. Meski dari segi harga jadi lebih mahal karena transportasi si abang dari Bandungan, tapi segarnya beda!

4. Membeli Tanaman Hias
Siapapun yang pernah melewati Pasar Bandungan, pasti terpesona dengan aneka tanaman hias yang dijual di depan parkiran kuda. Mulai dari bunga-bungaan hingga aneka bibit sayuran tersedia di sana. Ketika kecil dulu, setiap ke daerah Bandungan saya selalu membeli bunga edelweis. Agak norak sih, karena sebenarnya saya sendiri tidak terlalu paham cara perawatannya. Hanya biar berasa dari daerah gunung aja, walaupun begitu sampai rumah langsung mati. Hehehe..

Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan
Tanaman Hias Nan Menggoda - Pic by. visitcentraljava.com
Tips untuk membeli tanaman hias, pastikan untuk bertanya kepada penjual tentang cara perawatan tanaman tersebut secara mendetail. Dan pastikan bahwa kita bisa menerapkan hal itu ketika di rumah nanti. Jangan memaksakan membeli tanaman yang perlu suhu dingin untuk dibawa ke daerah panas, itu namanya menyiksa tanaman! Sudah tahu bakal mati, kok tetap dibeli.

Itulah sekelumit pengalaman yang hampir selalu saya jalani ketika ngikut kerja suami di Bandungan. Walaupun banyak obyek wisata baru bermunculan di Kabupaten Semarang, rasanya belum afdhol kalau belum pernah Naik Kuda dan Belanja di Pasar Bandungan.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.

Oct 26, 2017

Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog

Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog
Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog
Sebagai orang yang berdomisili di Kota Semarang, sebenarnya agak memalukan untuk mengakui bahwasanya saya ini super duper kuper tentang Kabupaten Semarang. Padahal cuma tetangga sebelah gitu, naik kendaraan 30 menit aja sampai. Main ke Umbul Sido Mukti aja karena diajak sama saudara, ke tempat wisata cuma kalau ada acara sekolah anak-anak, staycation di Bandungan pun gara-gara ngikut suami kerja. Duh, pokoknya menyedihkan lah! 

Meski dalam hati saya mupeng berat dengan berbagai tempat baru yang ngehits di seputaran Kabupaten Semarang, apalah daya karena suami termasuk orang yang berprinsip 'Namanya liburan itu ya harus jauh sekalian'. Nah bingung, kan? Iya, jadi menurut doi liburan itu haram hukumnya kalau deket-deket aja, semacam ada rasa merasa rugi gitu, kalau ada kesempatan libur panjang cuma jalan 30 menit doang. Lah, bukannya harusnya seneng? Jadi begitulah, jangan tanyakan betapa berat tekanan batin yang saya alami ketika foto-foto tempat yang ibaratnya cuma 'selangkah' aja dari rumah itu bertebaran di dunia maya, hiks. Nyesek!

Lomba blog Pesona Kabupaten Semarang yang sampai informasinya di telinga saya, pun tak begitu saya hiraukan. Materi yang mau ditulis aja nggak ada, saking fakir pengalaman ngetrip ke Kabupaten sebelah. Namun tanpa diduga, karena banyak membaca artikel teman-teman tentang Pesona Kabupaten Semarang inilah saya jadi punya inspirasi liburan keliling Kabupaten Semarang!

Ceritanya, tiap ada libur panjang biasanya kami sekeluarga sudah merencanakan mana saja tempat yang akan kami datangi. Bulan Desember kan sebentar lagi, jelas dong ada libur panjang. Maka sejak bulan lalu pun kami sudah semangat mengisi celengan, yang nantinya untuk booking hotel terlebih dahulu. Berhubung destinasi yang jauh-jauh seputaran jawa sepertinya sudah pernah kami singgahi, muncullah ide brilian untuk keliling Kabupaten Semarang pada liburan kali ini. 

Kami pun berdiskusi dengan anak-anak tentang itinerary perjalanan, berdasarkan referensi artikel dari teman-teman yang sedang mengikuti lomba blog, hehe... Kurang lebih begini itinerary kami :

Cimory On The Valley
Hari pertama, kami berangkat dari Semarang melalui jalan tol. Keluar di pintu tol Bawen, kemudian menuju ke Cimory On The Valley yang terletak di Jl. Soekarno Hatta KM. 30 Bergas, Semarang untuk makan siang sekalian having fun sama sapi di sana. Hehe... Cimory yang buka dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam cocok buat kami agar tidak terlalu tergesa-gesa ketika berangkat dari rumah.

The Wujil Resort & Conventions
Resort ini adalah salah satu tempat yang lagi hits buat staycation, bahkan untuk reservasi di akhir pekan, kita harus memesan jauh-jauh hari. Bersyukur kami bisa pesan dari sekarang untuk liburan Desember besok. Pas banget lokasi The Wujil ini sangat dekat dengan Cimory, yang sama-sama berada di Jl. Soekarno Hatta. Jadi habis main dan makan sampai kenyang, kita langsung check in buat istirahat, jalan-jalan, berenang sambil menikmati alam.

Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog
Wisata Watu Gunung - pic by. www.ksmtour.com
Watu Gunung
Hari kedua, setelah menginap di The Wujil dan puas jalan-jalan serta sarapan, kami bisa melanjutkan perjalanan ke Watu Gunung yang berada di daerah Lerep, Ungaran. Jujur saya belum paham sih, dimana lokasinya. Tapi hari gini tak ada alasan takut nyasar, kan bisa pakai GPS kemana-mana. Soalnya foto-foto watu gunung yang berkeliaran itu udah sukses bikin hati merana.

Setya Aji Flower Farm
Setelah dari Watu Gunung rencananya ke Setya Aji Flower Farm di Bandungan. Entah nantinya mau ke mana dulu, yang jelas dua tempat ini udah ada di bucket list kami.

Image result for setya aji flower
Bunga Krisan yang menggoda di Setya Aji Flower Farm
pic by. www.winnetnews.com
Balemong Resort
Selepas keliling Kabupaten Semarang seharian, lanjut kita mau menginap di Balemong Resort yang suasana njawani banget (kalau dilihat dari gambar, hiks). Tempatnya yang seolah menyatu dengan alam bikin saya sudah bisa merasakan segarnya udara di sana, meski kenyataannya masih di rumah aja. Hissshhh.. Pokoknya belum berangkat aja udah kebayang excitednya!

Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog
Balemong Resort - pic by. www.tripadvisor.com
Hari ketiga, kami check out di siang hari untuk kembali ke Semarang. Tak lupa mampir dulu ke mall baru di daerah Semarang atas, karena duo krucil yang udah request kepingin nengok tempat main mininya. 

Itulah Inspirasi Liburan Keliling Kabupaten Semarang dari Lomba Blog versi saya, udah nggak sabar untuk merealisasikannya. Karena masih bulan Desember, sekarang kami bisa nyicil reservasi penginapannya dulu agar nggak sampai kehabisan. Bisa makin nyesek dong ya kalau sampai gagal.

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.

Oct 25, 2017

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak
6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak
Baru-baru ini saya banyak mencari informasi secara daring tentang tempat-tempat yang ramah anak. Mulai dari negara ramah anak, yang banyak didominasi oleh negara-negara kawasan Eropa seperti Swedia, Finlandia dan Denmark. Ada juga kota layak anak (KLA) di Indonesia, yang ternyata sudah di inisiasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak tahun 2006 dan telah lebih dari 200 Kabupaten / Kota yang mendapatkan predikat tersebut, termasuk Solo, Yogyakarta, Padang Panjang, Bandung, hingga Kota tercinta saya, Semarang yang baru saja mendapat penghargaan KLA di tahun 2017. Ini saya yang kuper atau informasinya yang kurang gencar, sih? Dan yang terpenting adalah, sejauh mana predikat ini turut dirasakan oleh masyarakat di Kota tersebut?

Alih-alih menyalahkan pemerintah dengan berbagai kekurangan dan keterbatasannya, tentu saya patut mengapresiasi gerakan positif semacam ini. Meski manfaat dari program Negara Ramah Anak serta Kota Layak Anak saat ini belum dapat kita rasakan secara langsung, namun kita pun bisa memulai dari lingkungan terkecil dengan menghadirkan Rumah Ramah Anak.

Rumah Ramah Anak sendiri bisa dilihat dari dua sudut pandang, secara fisik yaitu bangunan rumah itu sendiri dan secara psikis, yaitu dengan mengoptimalkan peran ayah dan ibu dalam keluarga untuk membuat anak merasa nyaman dan bahagia.

Berbicara tentang rumah impian ramah anak, artinya kita membahas fisik bangunan rumah itu sendiri. Tanpa menjadikan luasan rumah sebagai patokan, karena kondisi setiap keluarga yang berbeda-beda, berikut adalah 6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak :

1. Memiliki ruangan terbuka
Rumah dengan ruangan terbuka yang memadai akan membuat anak semakin leluasa dalam bereksplorasi. Manfaat lainnya adalah agar tercipta interaksi yang hangat antar anggota keluarga. Ruangan terbuka tidak harus memiliki luasan tertentu, namun bisa juga dengan menghilangkan sekat antar ruangan agar terkesan lebih luas. Seperti ruang keluarga dan ruang makan yang dibiarkan tanpa sekat atau penggabungan ruang-ruang lain tanpa menghilangkan unsur estetika dan fungsinya.

2. Menghindari furniture berujung runcing
Meski hal ini susah diterapkan untuk seluruh perabot yang ada di rumah, setidaknya letakkan lah di ruangan yang jarang digunakan anak. Meja ruang tamu saya terbuat dari kayu jati yang sangat berat dengan ujung runcing. Karena meja ini adalah pemberian, ya nggak nolak dong! Hahaha... Nah, cara menyiasatinya adalah dengan memastikan anak beraktifitas di ruangan lain, yaitu ruang keluarga yang dibuat tanpa sekat dengan ruang makan. Saya berusaha membuat ruang tersebut senyaman mungkin bagi mereka untuk main otopet di dalam rumah, main badminton sampai sepak bola sekali pun, sehingga mereka tak harus bermain di ruang tamu. Dan memang ruang tamu pun dibuat tak terlalu luas, hanya berfungsi jika ada tamu formal, yang mana jarang terjadi. Hahaha...

3. Membeli barang pecah belah? NO WAY!
Barang pecah belah itu 'enggak banget' untuk keluarga dengan anak di bawah 15 tahun, terlebih anak lelaki. Sebaiknya tunda dulu rencana membeli aneka kristal nan unyu-unyu itu hingga mereka dewasa, atau setidaknya hingga usia SMA. That's why barang pecah belah yang kami miliki hanyalah peralatan makan. Rumah dengan dua anak laki-laki itu WOW banget, kursi kayu aja bisa semplak!

4. Menggunakan material yang lembut sebagai alas
Alas yang lembut seperti karpet serta sofa yang empuk sangat penting bagi keluarga dengan anak balita, selain membuat mereka nyaman bermain juga menghindari risiko terjatuh, terpeleset hingga terbentur yang masih sering terjadi pada usia balita. Saat anak menginjak usia 6 tahun dimana kemampuan motoriknya sudah sangat terkontrol, cukup pastikan anak merasa nyaman dan alas yang digunakan bersih.

5. Menyediakan tempat bagi anak untuk berkarya
Untuk mengapresiasi karya anak, sediakan tempat khusus yang memajang segala kegiatan dan aktifitas mereka. Memasang gabus di dinding sebagai 'tempat pameran' serta membuat salah satu sudut rumah sebagai 'pojok main' bisa menjadi pilihan alternatif. Selain itu, kita juga bisa menyediakan dinding khusus tempat mereka bebas mencorat-coret dengan menggunakan cat berbasis karet (rubber base). 


6. Memastikan segala keperluan anak mudah dijangkau
Pastikan berbagai keperluan anak mulai dari almari pakaian, rak buku, tempat alat tulis serta mainan mereka diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau. Jangan membuat rak terlalu tinggi tanpa memberi sarana bagi anak untuk mengambilnya, bedakan pula ketinggian almari anak SD dengan adiknya yang masih TK. Hal-hal sepele namun seringkali membuat kita jadi abai terhadap keselamatan mereka. 

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak ini sekaligus untuk menjawab tantangan dari duo blogger alumni Teknik Arsitektur, Mba Archa dan Mba Dian Nafi pada #ArisanBlogGandjelRel periode 14 ini. Semoga bermanfaat!

Oct 19, 2017

Hobi Adalah Cita-Cita yang Tertunda

Hobi Adalah Cita-Cita yang Tertunda
Hobi Adalah Cita-Cita yang Tertunda
Banyak dari kita yang suka bingung ketika ditanya soal hobi. Karena saking banyaknya, sampai tidak bisa menentukan mana yang kegemaran, mana yang pelarian untuk mengisi waktu luang, mana dilakukan dengan passion. Nah, karena udah mulai pusing, mari kita cari arti dari kata hobi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hobi berarti kegemaran, kesenangan istimewa pada waktu senggang dan bukan merupakan pekerjaan utama. Sedangkan menurut wikipedia, hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang.

Bagi saya pribadi, hobi adalah cita-cita yang tertunda. Sebagai manusia yang sedari kecil punya banyak harapan, ingin ini ingin itu banyak sekali. Maka mustahil segalanya akan berjalan sempurna, karena hidup adalah tentang memilih. Jadi ketika saya memutuskan untuk kuliah di bidang farmasi, tentunya ada keinginan-keinginan lain dalam diri saya yang harus dikompromikan. Berikut adalah daftar cita-cita tertunda, yang kini menjadi hobi saya :

DEKORASI RUMAH
Hobi ini berawal dari cita-cita saya di masa kecil, yaitu ingin menjadi seorang Desainer Interior. Yah, pokoknya suka hias-hias dan nata rumah gitu, lah. Namun ketika lulus SMA sepertinya profesi Desainer Interior masih kurang familiar di lingkungan kami, jadilah banyak pertanyaan yang muncul dari orang tua, seperti "Kalau udah lulus jadi pinter ngapain?" "Kerjanya di perusahaan apa?" dan sebagainya. Maklum saja, dulu industri kreatif belum berkembang pesat seperti sekarang. Profesi yang berhubungan dengan kreatifitas dan seni pun dipandang sebelah mata.

Setelah menikah dan tinggal di rumah sendiri, akhirnya saya jadi semacam punya tempat menuangkan ide-ide yang tertahan sejak dulu. Maka 'nguprek' rumah pun jadi salah satu aktifitas favorit saya dan anak-anak di rumah, mulai dari suka ganti cat tembok, membuat berbagai hiasan dinding, bereksperimen dengan wallpaper, hingga gonta ganti dekorasi taman. Satu lagi, satu-satunya game di gawai saya juga mainan home design! Anak-anak pun suka banget pinjam hp cuma buat main nata ruangan, hahaha

REMAKE PAKAIAN
Selayaknya para wanita yang menyukai dunia fashion, saya pun suka bereksplorasi dengan pakaian. Salah satu hobi saya adalah meremake pakaian lama. Beberapa pakaian ibu saya yang sudah lama maupun sudah tidak muat, akan saya bawa ke penjahit untuk diremake. Biasanya dengan mengubah model pakaian asli serta menambahkan beberapa aksesoris yang memungkinkan. Atasan lengan panjang, bisa saya ubah jadi minidress casual untuk di rumah, kemeja dirubah cuttingnya agar terlihat lebih kekinian, dan masih banyak ide-ide liar di kepala saya. Remake pakaian bisa menjadi kepuasan tersendiri ketika bisa mengubah barang lama yang modelnya sudah out of date tapi masih bagus dan enak dipakai, menjadi sesuatu yang lebih modern.

MENULIS dan MEMBACA
Dua kata kerja di atas sepertinya tidak mungkin dipisahkan, karena tak ada penulis yang tak suka membaca. Mustahil banget ini! Jaman saya Sekolah Dasar dulu, hampir semua murid perempuan memiliki buku diary. Lucunya di masa itu, buku diary diedarkan ke setiap teman di sekolah untuk diisi biodata hingga pesan kesan mereka terhadap si pemilik buku. Diary macam apa itu? Hahaha.. Era seperti ini masih berlanjut hingga SMP, dan barulah di masa SMA buku diary dipergunakan sebagaimana mestinya, yaitu sebagai catatan harian. Selain curhatan nggak penting, diary saya berisi catatan jadwal ulangan, nilai hasil ulangan, catatan siapa saja yang meminjam buku saya, buku apa saja yang saya pinjam dari teman, hingga catatan kebutuhan sehari-hari. Maklum, anak pondok! Hehehe...

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, kini diary saya sudah berpindah ke diary elektronik, alias blog. Sebagai konsekuensi karena kini tulisan saya dibaca oleh banyak orang, maka saya harus belajar bijak dalam menulis serta menentukan tema, yang sebisa mungkin mendatangkan manfaat bagi pembacanya. Setelah mengetahui serunya menulis, putera sulung kami pun meminta untuk dibuatkan blognya sendiri di www.azkakucil.blogspot.com meski ngisinya masih jarang pake banget! Wkwkwk

Itulah cita-cita tertunda saya, sebagai jawaban atas challenge dari Mba Arina, blogger yang sering banget menang kompetisi. Udah segrup di beberapa komunitas, tapi baru sekali ketemu, hehe.. dan Mba Ika Puspita yang tulisan-tulisan khasnya bisa dibaca di www.bundafinaufara.com di #ArisanBlogGandjelRel kali ini. Semoga bermanfaat,

Salam Hangat,

Oct 17, 2017

Mitos Seputar Perlengkapan Bayi

Mitos Seputar Perlengkapan Bayi
Mitos Seputar Perlengkapan Bayi
Menikah dan memiliki buah hati tentulah harapan bagi setiap wanita, yang seolah menjadi sebuah simbol kesempurnaan dalam fase perjalanan hidupnya. Ditunjang dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persiapan menjadi seorang ibu bahkan bisa dimulai sejak jauh-jauh hari sebelum masa kehamilan. Ketika janin mulai tumbuh di dalam rahim, sang ibu adalah orang yang paling bersemangat dalam menyambut kehadiran calon buah hati. Banyak membaca buku parenting untuk membentuk karakter anak sejak bayi, mempersiapkan kamar hingga membeli peralatan dan mainan bayi pun mulai dilakukan. Berbekal nasihat dari orang-orang yang lebih 'berpengalaman' di sekitar kita, seringkali tanpa sadar kita jadi terjebak dalam Mitos Seputar Perlengkapan Bayi.

Berikut beberapa mitos seputar perlengkapan bayi yang perlu kita ketahui :

1. Gurita
Pemakaian gurita pada bayi semenjak lahir sangat lazim di masyarakat kita. Dengan banyaknya tali diikatkan yang justru akan membuat dada sang bayi menjadi sesak, sangat bertolak belakang dengan tujuan pemakaiannya, yaitu untuk menghangatkan bayi.

Alasan lain penggunaan gurita adalah untuk mengantisipasi kembung pada perut bayi. Sebelum mengatakan sang bayi terkena kembung, alangkah baiknya jika kita mengetahui bahwa besarnya perut bayi yang baru lahir bukanlah dikarenakan kembung, namun karena anatomi bayi yang memang unik. Yaitu ukuran perut yang lebih besar dari dada, hal tersebut disebabkan dinding otot perut bayi masih sangat lentur dan belum kokoh. Seiring bertambahnya aktifitas, maka otot perut pun akan mengencang dan tak lagi nampak seperti kembung.

Selain kedua alasan di atas, gurita dimaksudkan untuk melindungi tali pusar bayi agar tidak bergeser yang membuat sang bayi kesakitan. Pahamilah bahwa penggunaan gurita yang ketat justru akan menekan lambung dan membuat bayi tidak nyaman. Hal terpenting dalam merawat pusar adalah kebersihan, jadi pastikan untuk membersihkan pusar dengan alkohol untuk menghindari munculnya infeksi. 

2. Bedong
Tujuan utama dari membedong bayi biasanya untuk menghangatkan tubuh dan untuk meluruskan kaki bayi. Jika untuk menghangatkan tubuh, rasanya jumper dengan bahan lembut yang dapat membalut seluruh tubuh bagai selimut jauh lebih fungsional, dibanding menyiksa bayi dengan bedong.

Sedangkan untuk tujuan meluruskan kaki bayi (pada bayi yang terlahir dengan kaki X atau O), sepanjang penelusuran saya sebelum menulis artikel ini, tidak didapat data maupun bukti empiris yang menyatakan keterkaitan penggunaan bedong dengan lurusnya kaki X atau O. Bahkan saya sendiri yang dari kecil juga dibedong oleh ibu, hingga kini kaki saya tetap O, hehehe... Jadi, jika bermaksud untuk memperbaiki bentuk kaki, bedong bukanlah cara yang tepat. Gunakanlah sepatu terapi, yaitu sepatu khusus yang biasanya direkomendasikan oleh dokter untuk memperbaiki postur kaki pada bayi. Terlebih lagi, posisi kaki bayi yang baru lahir memang agak bengkok, sehubungan dengan posisi bayi saat berada di dalam kandungan. Kecuali telah dinyatakan adanya kelainan bentuk tulang oleh dokter, sebaiknya kita tak perlu khawatir secara berlebihan.

Kecemasan orang tua ketika melihat bayinya memiliki efek kejut (hynogogic startles) atau kagetan, juga seringkali menjadi pembenaran digunakannya bedong pada bayi. Padahal kagetnya bayi menandakan ia responsif terhadap stimulus yang diterimanya. Gerakan terkejut dengan sedikit gemetar ini akan menghilang ketika bayi menginjak usia 3 bulan. Pelukan ibu lah yang akan memberikannya rasa nyaman dan kehangatan ketika reflek kejut terjadi.

Pertimbangan lain untuk tidak menggunakan bedong pada bayi adalah banyaknya risiko yang bisa saja muncul, seperti dislokasi tulang pinggul, infeksi pernafasan, terhambatnya perkembangan gerak motorik, hingga kematian mendadak pada bayi (Sudden Death Infant Syndrome). Oleh karenanya, mari kita lebih bijak dalam memilih peralatan bayi.

Oct 4, 2017

Bisnis Pertama Si Kecil

Bisnis Pertama Si Kecil
Bisnis Pertama Si Kecil
Mungkin semua ibu akan mengalami saat-saat ketika si kecil ingin menghasilkan uang alias berbisnis, sebagaimana yang saya alami setelah anak-anak mulai mengenal uang.

Baca : Pengenalan Uang pada Anak

Terinspirasi dari film Upin & Ipin serta beberapa teman Abang (panggilan kami pada si sulung) yang berjualan di sekolah, ia pun ingin bisa menghasilkan uang sendiri. Ada seorang temannya yang menjual coklat choki-choki seharga seribuan, ada pula yg berjualan stick  crackers yang dibalut coklat dan meises beku. Hmm.. kreatif bukan? Wajar saja kalau si abang juga ingin seperti mereka, karena kini kegiatan membantu pekerjaan rumah sudah tak lagi saya 'gaji' dan beralih sebagai tanggung jawab bersama.

Abang sempat punya ide ingin berjualan tempat pensil. Padahal harganya kan, cukup mahal untuk kantong anak-anak? Lalu ia mengusulkan, "Gimana kalo Bunda aja yang bikin jajajanan? Nanti Abang yang jual?" Fu fu fu, kayak nggak tau aja emaknya ini cuma chef ala kadarnya ^_^

Yah, berhubung kami adalah keluarga pecinta cokelat, jadi terlintas kenapa tidak menjual choco blend saja? Toh, kami selalu langganan beli Coklat Aren yang kiloan untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami putuskan bahwa Bisnis Pertama Si Kecil adalah menjual choco blend dalam kemasan es lilin, dengan beberapa pertimbangan :
  • Tidak ada anak-anak yang sanggup menolak es, hehe...
  • Agar harga jual lebih terjangkau di kalangan anak-anak, yaitu Rp. 1000,-
  • Tidak perlu wadah yang besar untuk menjajakannya
  • Kemasan es lilin lebih fleksibel untuk divariasi dengan es selain coklat, seperti jus buah, es jelly, dll. Yang jelas sih, alasan utamanya kalau tiap hari jual choco blend bisa nggak dapat untung, hihihi... Sekaligus strategi agar konsumen tidak bosan.
Di hari pertama, saya membawakan 1 termos kecil berisi 8 buah es lilin saat menjemput sekolah. Sampai di sana, awalnya si Abang malu-malu. Namun, begitu mulai banyak teman-temannya yang berkerumun dan menanyakan apa yang ia bawa, ia jadi bersemangat dan berakhir dengan ludesnya dagangan kami. Ia terlihat senang dan bangga! 

Hari-hari berikutnya, saya selalu membawa es dalam termos kecil setiap menjemput sekolah, untuk dijajakan oleh Abang dan adeknya. Begitu pun setiap bermain sepeda di sore hari, ia selalu membawa es untuk dijual sambil main, termasuk ketika mengikuti berbagai ekstrakurikuler seperti taekwondo. Teman-temannya pun ikut senang! Sekarang di sekolah Abang sudah ada kantin sekolah, jadi tiap pagi ia tinggal menitipkan es dagangannya di kantin dan mengambilnya kembali sepulang sekolah.

Banyak pelajaran yang anak-anak dapatkan selama menjalani proses bisnis pertamanya. Seperti :
  1. Mengasah mental dan jiwa berdagang. Sebagaimana Rasulullah SAW yang seorang saudagar, maka kami pun berusaha menanamkan jiwa berwirausaha pada anak-anak sejak dini. Bahkan si sulung pernah berkata dengan bangga, "Bunda, dulu awal-awal Abang malu kalau mau jualan es, bingung gimana nawarinnya. Kalau sekarang, abang udah percaya diri, malah ditanya kalau pas taekwondo nggak bawa jualan, hehe.. "
  2. Bisnis Pertama Si Kecil
    Catatan pembukuan sederhana
  3. Belajar pembukuan sederhana. Meski masih sulit untuk konsisten menulis setiap hari, si kecil mulai paham tentang pentingnya pembukuan bagi seorang pengusaha. 
  4. Kejujuran. Dengan membawa buku catatan kecil setiap hari, Abang jadi tahu berapa es yang laku di kantin hari ini, berapa yang laku ketika menunggu dijemput, siapa saja teman yang belum mendapat uang kembalian, termasuk teman yang ingin memesan es untuk disisihkan terlebih dahulu. Suatu kali Abang pernah mendapat uang hasil penjualan yang tidak sesuai dengan stock yang dibawa, dari buku catatan inilah saya jadi tahu dan mengembalikan kelebihan uang keesokan harinya ke kantin sekolah. Istilah kerennya sih, Tulislah apa yang kamu lakukan dan lakukan apa yang kamu tulis. 
    Bisnis Pertama Si Kecil
    Catatan Harian
  5. Konsistensi. Ada kalanya si kecil merasa bosan dengan rutinitas berjualan, kadang muncul keinginan untuk ganti produk, seperti donat, kue, dll. Namun saya tekankan, ketika memulai sesuatu, kita perlu konsisten terlebih dahulu. "Pastikan teman-teman sudah mengenal Abang dengan es lilin yang halal & sehat, sampai melekat di pikiran bawah sadar mereka. Jadi Abang = Es lilin. Kalau sudah begitu, barulah kita boleh menambah produk jualan", itu jawaban andalan saya.
  6. Kepercayaan. Semua orang tua khususnya ibu, pasti lebih waspada terhadap jajanan yang dibeli oleh anak-anaknya. Bersyukur di sekolah abang, semua jajanan dijual oleh para siswa sendiri. Dari kita untuk kita. Atas pertimbangan tersebut, saya merasa perlu memberikan branding dengan label bahwa apa yang kami jual adalah produk halal dan sehat baik dari kandungan maupun cara pembuatannya (saya yang membuatnya sendiri). Akhirnya kami memberi label 'Halal & Healthy', sekaligus menjadi branding dan jaminan bagi para pembeli. Sehingga muncul kepercayaan pembeli (terutama ibu-ibunya pembeli) terhadap es lilin ini. 
    Bisnis Pertama Si Kecil
    Label pada Es Lilin
  7. Inovasi. Inovasi juga harus terus kami lakukan, dari es choco blend, es jus buah, es jelly, es kolak serta berbagai es lainnya akan terus kami coba. Karena saya pun sadar bahwa bisnis yang bertahan adalah yang mau terus berinovasi, jadi jangan pernah mengatakan 'Ah, cuma jualan es aja kok ribet'. Kata 'cuma' yang kita sematkan itulah parameter kesungguhan kita dalam suatu bisnis.
  8. Pemanfaatan uang. Setelah berjalan satu tahun ini, pemanfaatan uang hasil usaha es lilin pun berkembang. Dari yang awalnya 'asal balik modal', kini berkembang dengan harus  bisa menyisihkan untuk infaq, untuk 'menggaji' budhe ART kami yang membantu di bagian pengemasan alias mbuntelin es, untuk uang jajan sehari-hari, untuk membeli barang KEINGINAN mereka yang membutuhkan uang lebih, hingga menabung untuk liburan sesuai budget yang mereka miliki.
Dengan berbisnis sejak kecil, tanpa sadar anak mulai berpikir bijak dalam membelanjakan uang serta tahu bahwa selalu ada usaha luar biasa untuk mewujudkan keinginan yang besar.

Artikel ini sekaligus untuk menjawab tantangan dari Mbak Dini dan Mbak Marita tentang "Yang Pertama" sebagai tema #ArisanBlogGandjelRel periode 12. Makasih buat idenya ya mbak-mbak kece, semoga bermanfaat.