Dec 27, 2017

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience
Fun Time #20 :
Serunya Ice Skating di SkyRink,
First Experience
Kenapa mengajarkan hal baru ke anak-anak itu selalu lebih mudah daripada ke orang dewasa? Karena rasa penasaran dan antusiasme anak-anak lebih besar dibanding ketakutan serta kekhawatiran mereka. Hal inilah yang saya amini ketika merasakan Serunya Ice Skating di SkyRink untuk Pertama Kalinya.

Liburan kali ini kami sekeluarga nengokin ibukota. Lebih cocok dibilang staycation dibanding vacation. Karena 3 hari hanya diisi tidur-tiduran di hotel, renang, pijetan, jalan-jalan di car free day sepanjang Thamrin, lihat monas dan ngemall. Hahaha.. Nah, biar acara ngemall ini rada bermutu, maka kami isi dengan uji nyali nyobain ice skating for the first time.

Bagi kita yang tinggal di negara tropis, dinginnya negara empat musim bisa kita rasakan auranya lewat ice skating. Setidaknya kudu nyoba sekali seumur hidup, biar tahu rasanya.

Sebelum menuju mall, si ayah udah absen duluan nggak mau ikut ke arena. Alasannya biar ada yang bagian fotoin. Aslinya sih, karena terlanjur tua, takut malu diketawain kalau pas jatuh. Hahaha.. Kami memilih ice skating di SkyRink Mall Taman Anggrek, karena lokasinya paling dekat dengan hotel. Ketika tiba di sana sudah hampir pukul 11.00 siang dan ternyata sesi pertama sudah hampir selesai, kemudian dilanjutkan istirahat 30 menit untuk pelapisan es. Jadi kami keliling mall dulu sambil menunggu loket dibuka kembali pukul 11.30.

Setelah kembali ke SkyRink, ternyata antrian sudah cukup panjang. Arena ice skating ini diperuntukkan mulai usia 6 th. Sayangnya, meski si bungsu sudah berusia 6 th, tubuhnya masih terlalu mungil sehingga tidak ada sepatu yang sesuai ukurannya. Sebagai informasi, kalau mau main di sini, pastikan ukuran sepatu si kecil minimal 31 ya, biar nggak berakhir nangis seperti adek. Hehe..

Baca juga : Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga

Tiket masuk SkyRink untuk weekend dan hari libur nasional sebesar Rp. 110.000,-/orang/2 jam. Tiket ini harus disimpan untuk keperluan peminjaman sepatu, mengembalikan sepatu dan keluar arena. Setelah mendapat tiket, kami menuju ke penukaran sepatu. Di sana tinggal naruh kaki ke gambar standar kaki yang tertempel, maka petugas akan mencarikan sepatu yang sesuai ukuran kaki kita. Saya mendapat ukuran sepatu 39 (seperti yang biasa saya pakai sehari-hari), sedangkan si Abang nomor 37. Kami juga mendapat koin yang digunakan untuk mengunci loker.

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience
Arena SkyRink

Perlengkapan yang perlu dibawa untuk ice skating adalah kaos kaki dan kaos tangan. Kita bisa membeli peralatan tersebut di loket, namun saya memilih membawa sendiri dari Semarang atas nama pengiritan. Hahaha..

Selepas berganti sepatu dan menaruh barang di loker, kami menuju arena. Awalnya sih, saya masih santai jalan dengan alas sepatu setajam pisau itu, karena di area ruang ganti dan ruang tunggu diberi alas berupa karpet busa, sekaligus memberi waktu untuk beradaptasi dengan sepatu yang saya pakai. Tapi begitu masuk arena, duhhh.. goyang dikit aja pegangannya setengah mati karena takut kepleset.

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience
Sepatu dengan ujung setajam pisau

Di sinilah perbedaan antara emak dan anak mulai sangat terasa. Kami berdua memang sama-sama baru pertama kali ice skating. Bedanya, si Abang langsung pede melepas pegangan, sementara saya kelihatan cemen banget yang cuma rambatan di pinggir tanpa berani melepas pegangan. Meski berkali-kali gubrak gabruk jatuh, yang saya yakin lumayan sakit dan dingin, Abang tetap semangat buat jatuh-bangun-jatuh-bangun sambil ngetawain diri sendiri. Sementara saya butuh waktu setengah jam sampai bosan berdiri di pinggir hingga akhirnya punya keberanian melepas pegangan. Lebih tepatnya takut rugi, sudah bayar mahal masa 2 jam cuma di pinggir doang!

Baca Juga : Fun Time #4 : Percobaan Tipuan Mata (Mengenal Thaumatrope)

Gitu deh ya, makin tua itu bikin kita makin takut jatuh. Saya berkali-kali tiap mau jatuh mati-matian pegangan sampai tangan sakit, badan muntir, kaki mengsle-mengsle demi menjaga badan agar nggak sampai jatuh. Padahal begitu jatuh mah, ya jatuh aja dinikmati. Intinya, merasakan jatuh kemudian bangkit lagi itu lebih simpel daripada ngotot pegangan sampe bentuknya muntir-muntir bikin orang gemess. Hahaha..

Dengan durasi 2 jam tiap sesi, saya perlu waktu 15 menit pertama buat berdiri diam sambil ngetawain si abang yang sudah gubrak gabruk di tengah arena. 15 menit kedua mulai rambatan di pinggir dan masih takut jatuh, sampai tangan pegel mempertahankan posisi. Barulah setelah itu ke tengah sedikit sambil pegangan si Abang. Dan akhirnya saya pun jatuh juga untuk pertama kalinya. Jatuh di usia emak-emak itu sumpah malunya minta maap. Tapi sok cuek aja, toh banyak juga mas-mas yang badannya super gede jatuh-jatuh melulu sampai suaranya menggema seantero arena.

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience
Wajah ceria sebelum jatuh berkali-kali

Pengalaman pertama ice skating di SkyRink benar-benar mengesankan, meski istilahnya baru belajar jalan ala anak bayi yang thimik-thimik dan jauh dari kata skating alias meluncur. Beberapa kali saya jatuh, sukses bikin pantat sakit dan pergelangan tangan lumayan memar seharian. Kalau dipikir-pikir lagi, kapan ya terkahir kali saya jatuh-jatuh macam anak kecil, gitu? Ternyata seru juga! Next time kalau main ke Ibukota lagi, kami mau mampir ice skating-an sambil bergaya sok expert. Minimal nggak se-memalukan kemarin, wkwkwk..

Fun Time #20 : Serunya Ice Skating di SkyRink, First Experience
Di balik foto keren, ada perjuangan jatuh bangun
yang menyertainya. hahaha..

Jadi, daripada bingung liburan di musim hujan gini mau kemana, coba ajakin keluarga main ice skating aja yuk, Mbak Uniek sama Mbak Novi. Emak juga kudu banyak pengalaman kan, yess. Biar si kecil juga selalu punya hal baru untuk dicoba. Happy Holiday!

More about SkyRink
Lokasi : Mall Taman Anggrek Level 3, Jakarta Pusat
Buka : Jam 09.00 - 21.30
Harga tiket : Weekday Rp. 85.000,-/2 jam, Weekend & Libur Nasional Rp. 110.000,-/2 jam
Harga tiket termasuk sepatu skate
Biaya Overtime : Rp. 9.000,-/jam

Dec 15, 2017

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Judul Buku : Belajar Is Fun
Penyusun : Cheon Keun Ah (Psikolog Anak)
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 2017
Jumlah Halaman : 183
Kategori : Psikologi Anak, Personality
Rating : 4 of 5

Sudah menjadi rahasia umum ya, kalau hal nomor satu yang dikhawatirkan anak-anak bahkan di usia Sekolah Dasar adalah NILAI PELAJARAN. Apalagi saat ini belajar dianggap sangat penting, sehingga makin banyak pula pelajaran yang harus dipelajari anak. Para orang tua acap kali kecewa bila nilai yang didapat anaknya tidak sesuai harapan, sehingga tak jarang mengikutkan kursus-kursus pelajaran dianggap sebagai jalan keluar. Tak heran, anak jaman now memikul beban berat di pundaknya, bernama NILAI.


Pas banget si sulung (9 yo) sedang mengalami momen tidak percaya diri dalam pelajaran matematika. Ia yang memiliki pembawaan ceria dan selalu bersemangat, berubah jadi mudah frustrasi hingga mual, sakit perut, ingin muntah, bahkan sesak nafas ketika berhadapan dengan matematika. Sebagai ibu tentu saya sangat sedih melihat si Abang tertekan dan penuh beban.

Menjelang ujian semeser kemarin, saya dan suami akhirnya berusaha tidak membuatnya makin tertekan. Kami hanya membelikannya buku-buku soal untuk dikerjakan, tanpa ada tuntutan apapun. Saya pun membuka kemungkinan untuk mengikutkan les matematika di semester depan, sebuah hal yang sebelumnya sangat kami hindari di usianya yang masih kelas 4 SD.

Tak dinyana, dengan mengerjakan soal-soal dan membebaskan si sulung bertanya kapan saja, membuatnya lebih enjoy dalam belajar matematika. Wal hasil, pagi hari sebelum ujian ia tetap sumringah. Padahal sebelum-sebelumnya, tiap kali akan tes matematika ia sudah menangis sejak membuka mata, karena banyaknya kekhawatiran yang ia miliki. Pokoknya udah parno duluan, yang secara mental membuatnya kalah sebelum berperang. Hiks..

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Si sulung yang kini lebih nyaman belajar dengan latihan soal-soal

Intinya sih, pada akhirnya saya merasa belum perlu mengikutkan les pelajaran pada anak. Mungkin matematika memang bukan bidang dimana ia unggul, cukup selalu berusaha belajar tanpa dipenuhi beban yang menyesakkan dada, itu sudah membuat saya sangat bangga.

Belum genap seminggu setelah ujian semester ini, si Abang menemukan buku keren berjudul Belajar is Fun. Awalnya sih, tertarik dengan judulnya yang 'gue banget' bagi dia. Kata-kata "Kenapa harus belajar, sih!" di cover depan buku ini sukses bikin dia penasaran.

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Penganalan Tokoh Cerita

Melihat ekspresi Abang saat membaca buku ini membuat saya ikut tertarik. Soalnya 183 halaman ini habis dibaca sekali duduk. Udah gitu, bacanya sambil ketawa-ketawa ngakak, kadang senyum, atau tiba-tiba bergumam "bagus, bund.." "lucu banget..". Itulah yang bikin saya ikut ngantri ingin membacanya juga.

Ternyata isi buku ini memang mirip banget dengan apa yang dialami oleh si sulung, diantaranya nih : Sama-sama suka taekwondo. Tokoh utama di buku Belajar Is Fun yang bernama Hangyul ini suka sekali taekwondo. Bahkan ia adalah anak serba bisa, kecuali belajar! Hahaha.. Hangyul juga anak yang ceria, bersemangat, mudah berteman dan jago bermain. Persis plek ketiplek sama sulung saya ini. Pantesan mesam-mesem aja si Abang baca bukunya.


Orangtua (baca : ibu) Hangyul yang mulai pusing krn nilai anaknya 50 melulu, akhirnya memasukkan dia ke les matematika dan Bahasa Inggris. Bisa ditebak, bukannya tambah pinter, Hangyul justru semakin bete karena banyak tugas tambahan dari tempat les dan jadi sering mengantuk saat di kelas, akibat kurang tidur.

Dengan motivasi sang ayah untuk mencari cara belajar yang paling disukainya, akhirnya Hangyul menemukan bahwa cara belajar yang sesuai untuknya adalah dengan 'fokus dan selesaikan apa yang harus dipelajari di hari itu', sebagaimana ia harus berkonsentrasi untuk bisa menghafal jurus-jurus saat berlatih taekwondo. Lalu sisa waktunya bisa digunakan untuk bermain dan melakukan hal-hal lain yang menyenangkan.

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Profil Professor Cheon Keun Ah

Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah adanya Bab Catatan Profesor Cheon Keun Ah di akhir cerita. Dimana sang profesor yang menyusun buku ini, memaparkan beberapa hal penting dalam bentuk komik. Sehingga sangat mudah dipahami bahkan oleh anak-anak. Beberapa hal yang disampaikan oleh sang profesor diantaranya :
  1. Anak jaman sekarang sangat terbebani dengan NILAI;
  2. Menyedihkan ketika melihat anak-anak yang tidak bebas bermain karena harus mengikuti berbagai kursus pelajaran;
  3. Akibatnya banyak anak yang kelelahan dan ingin berhenti dari kursus, namun takut pada orang tua mereka.
  4. Dalam situasi ini, orang tua sebaiknya meingat kembali bagaimana kenangan tentang masa kecil kita. Bukankah kenangan indah itu seputar bermain hingga sore hari, pergi bersama teman ke tempat-tempat seru serta mencoba banyak petualangan baru bersama teman dan keluarga? Lalu perhatikan, apakah anak kita saat sudah bahagia? Tanyakan kepada mereka!
  5. Pahami bahwa setiap orang mempunyai karakter dan keahlian yang berbeda;
  6. Melalui proses belajar di masa sekolah, anak jadi tahu apa yang disukai dan dikuasai, lalu paham dan mengerti secara detail apa tujuan yang ingin diraih. Itulah tujuan belajar yang sesungguhnya. 
  7. Berusaha menguasai pelajaran atau tugas yang tidak disukai (misalnya, matematika), akan menumbuhkan sikap bersungguh-sungguh pada anak. Jadi tetaplah berusaha, namun temukan cara yang seru sehingga tidak sampai menjadi beban.
  8. Jangan memaksakan diri dalam belajar (memforsir), karena akan apa yang baru saja dipelajari akan jadi mudah lupa.
  9. Buatlah tujuan yang tidak berlebihan. Jika tidak unggul dalam matematika, maka jangan membuat target nilai 100. Membuat tujuan yang melebihi kemampuan justru memperbesar kemungkinan untuk gagal.
  10. Dengan menerapkan tujuan yang masuk akal (misalnya diawali dengan 'lulus KKM', kemudian naik ke nilai 70, dst), setiap pencapaian kecil yang anak dapatkan akan memperbesar kepercayaan dirinya, sehingga makin besar pula semangatnya.
  11. Jika berhasil mencapai tujuan-tujuan kecil, maka anak2 juga akan bisa menggapai impian dan harapan mereka!

Resensi Buku Belajar Is Fun!!!
Penjelasan Professor Cheon Keun Ah dalam bentuk komik


Jika buah hati Anda memiliki pengalaman yang sama seperti Hangyul, saya sangat merekomendasikan buku ini, karena dapat memotivasi dan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Si Abang buktinya! 

"Prinsipnya, tugas kita sebagai orang tua adalah membantu anak untuk mengetahui cara terbaik mereka dalam belajar berdasarkan sifat dasarnya atau sering dikenal dengan Multiple Intelligencies." 

Selamat Membaca.

Dec 12, 2017

Fun Time #19 : Pizza Maker Junior, Acara Seru Buat si Kecil!

Fun Time #19 : Pizza Maker Junior, Acara Seru Buat si Kecil!
Fun Time #19 : Pizza Maker Junior, Acara Seru Buat si Kecil!
Beberapa hari lalu, seorang teman mengajak (anak-anak) saya buat ikut acara Pizza Maker Junior di Pizza Hut Java Mall, Semarang. Karena anak-anak belum pernah belajar membuat American Pizza, saya mau dong, diajakin. Ternyata saya sedang nggak berjodoh dengan waktunya, yang hari itu bersamaan dengan kegiatan lain. Daripada kecewa, akhirnya saya memutuskan ngadain Pizza Maker Junior sendiri dengan mengajak teman-teman si kecil di outlet Pizza Hut Majapahit wich is deket banget dari rumah. 


Pizza Maker Junior adalah program dari Pizza Hut Indonesia untuk memperkenalkan pizza, khususnya American Pizza kepada anak-anak. Pizza Maker Junior bisa dilaksanakan diseluruh outlet Pizza Hut di Indonesia. Jadi, kalau Ayah Bunda mau mengadakan acara Pizza Maker Junior di outlet terdekat, bisa banget. Caranya?

Pertama, hubungi outlet Pizza Hut terdekat untuk melakukan reservasi acara Pizza Maker Junior. Umumnya outlet membuka kesempatan di pagi hingga siang hari sebelum para pelanggan mulai ramai berdatangan. Beberapa outlet hanya membuka di hari kerja, namun sebagian lain juga mempersilakan acara di akhir pekan. Dengan ketentuan acara dimuali di pagi hari.

Fun Time #19 : Pizza Maker Junior, Acara Seru Buat si Kecil!
Serunya bikin pizza sendiri

Kedua, mencari teman untuk membentuk suatu kelompok. Acara Pizza Maker Junior akan dilakukan jika terdaftar minimal 10 peserta. Jadi ajak teman-teman terdekat agar kegiatan jadi semakin seru! Jumlah peserta maksimal berbeda-beda di tiap outletnya, tergantung besarnya kapasitas tempat. Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya tidak lebih dari 20 peserta agar lebih efisien dan terkoordinir. Kemarin kami melaksanakan acara dengan 15 peserta.

Sebagai tambahan, untuk mengikuti Pizza Maker Junior syaratnya anak berusia minimal 4 tahun. Kebayang kan, kalau anak 3 tahun ikutan ke dapur restaurant? Pastinya bakal kepo berat dan tangannya bisa kemana-mana. Masih bagus kalau cuma pegang yang aman-aman, kalau pegang oven itu yang paling dikhawatirkan.

Ketiga, tentukan paket yang akan dipilih. Pizza Hut menawarkan dua macam paket untuk Pizza Maker Junior, yaitu paket Rp. 50.000,- dan Rp. 38.000,- per pax. Dengan kontribusi Rp. 38.000,- peserta akan mendapatkan topi koki, apron, pizza (personal pan), ice lemon tea, goodie bag dan sertifikat. Jika anak-anak sangat menyukai ice cream, maka kita tinggal memilih paket Rp. 50.000,- yang isinya sama dengan paket sebelumnya ditambah ice cream. Oiya, tentunya setiap anak juga akan mendapat bonus balon!

Fun Time #19 : Pizza Maker Junior, Acara Seru Buat si Kecil!
Goodie bag berisi buku mewarnai & serifikat pizza maker

Acara Pizza Maker Junior biasanya berlangsung selama 2 jam jika peserta tidak terlalu banyak dan kooperatif. Diawali dengan memakai perlengkapan apron dan topi koki, saling berkenalan dan bernyanyi bersama. Selanjutnya anak-anak diminta berbaris rapi untuk mencuci tangan kemudian menuju dapur. Dilanjutkan menghias adonan pizza dengan toping sesuka hati dan memasukkannya ke dalam oven. Acara diakhiri dengan makan pizza bersama, nyemil ice cream sambil bercanda dengan teman-teman dan pulang dengan hati gembira serta perut kenyang. Hehehe

Bagaimana, seru bukan? Buat aja acara Pizza Maker Junior bersama teman-temanmu untuk mengisi waktu dengan mencari pengalaman baru. Selamat mencoba!

Dec 11, 2017

Sosok Ibu dalam Waktu

Sosok Ibu dalam Waktu
Sosok Ibu dalam Waktu
Ibuku.....
Ibu adalah orang yang paling panik saat aku akan menghadapi ujian semesteran.

Setiap akan menghadapi ujian, Ibuku akan mulai mengajariku belajar sejak seminggu sebelumnya.

Bagiku, belajar dengan ayah itu lebih enak karena lebih santai, sedangkan ibu selalu menyuruhku untuk serius belajar dan tak boleh keluar kamar sebelum aku lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ibuku untuk ujian besok. -Aku jadi merasa penuh beban.-

Sebelum ujian aku selalu demam, hampir selalu begitu selama di Sekolah Dasar. Semua karena aku takut bila ujian kali ini aku tak bisa menjadi nomor 1 dan Ibu akan marah padaku. -Padahal itu tak pernah terjadi-

Hal mengejutkan terjadi saat di akhir kelas 5, peringkatku merosot drastis menjadi nomor 5 dan ibu tak mengatakan hal-hal buruk padaku. -Ternyata ibu tidak galak!-

Aku senang saat Ujian Nasional Sekolah Dasar akhirnya aku diperbolehkan belajar sendiri di kamar. Jujur saja aku merasa lebih bebas dan lebih dewasa karena bisa belajar sendiri tanpa bantuan ibu, meski hasil ujianku-pun tidak membuatku sebagai murid nomor 1 tapi aku bahagia karena ibu mempercayaiku untuk belajar sendiri. -Rasanya ibuku semakin baik sekarang ^_^-

Ibu yang mengajarkan kami bahwa setiap pagi aku dan adikku harus berbagi tugas menyiapkan pakaian dinas ayah dan ibu serta memasang segala atributnya, menyemir sepatu, mem-brasso ikat pinggang. Dan saat ayah atau ibuku pulang kami juga harus berbagi tugas siapa yang mengambilkan air minum, membawakan sepatu dan tas. Saat itu aku hanya mengerjakannya tanpa tau apa maksud Ibuku. -Dan sekarang aku kembali mengajarkannya pada anak-anakku-


Ibu menanamkan meski kami boleh bermain di siang hari, tetapi kami harus tetap beristirahat dan kembali ke rumah sebelum ibu pulang kerja. Sampai suatu hari saat suara motor ibu terdengar, aku dan adikku masih dirumah tetangga depan rumah. Serta merta kami berlari kerumah dan menangis di hadapan ibu, sedangkan ibu hanya tersenyum dan mengusap kepala kami tanpa sepatah katapun. 
-Kenapa ibu tidak marah?-

Sosok Ibu dalam Waktu
Sosok Ibu dalam Waktu

Saat ditanya teman-teman akan melanjutkan SMP dimana, aku hanya menjawab akan bersekolah di pondok, seperti keinginan ibuku. -Meski aku tak tahu apa artinya.-

Selama di pesantren, ayah ibu rajin menjengukku dengan membawa berbagai makanan. Bahkan teman-temanku mengenal ibu karena beliau selalu membawa udang goreng tepung dan tahu bakso yang enak! -meski aku malu karena sering dijenguk, tapi aku bahagia bisa banyak bercerita dengan ibu-

Suatu hari saat sedang menjenguk di pesantren, Ibu tiba-tiba meminta maaf kepadaku karena selama ini telah bersikap terlalu keras dalam hal pendidikanku. Dan akupun terharu. -Aku semakin sayang Ibu-

Ketika aku sedang sakit, ibu tak pernah ragu untuk menungguiku dan ikut menginap di pesantren. Hingga tiap hari harus berangkat subuh dari solo ke semarang untuk bekerja dan kembali ke solo dengan bus sampai aku sembuh. -Pasti ibu capek sekali ;(-

Sampai kuliah pun, ayah dan ibu selalu menjemputku di kampus selama satu semester pertama. -belum bisa bawa motor & nyetir belum lancar, sampai dikatain manja sama pak satpam. wkwkwk-

Saat mulai menyukai lawan jenis, ibulah yang paling getol pesan ini itu. -waktu itu ibu serasa musuhku, semuanya serba salah-

Tibalah saat aku menikah dan kini mempunyai dua Ibu. Ibu kandungku adalah penasehatku. Ibu mertuaku adalah tempatku berbagi cerita, aku bersyukur beliau begitu memahamiku. -Senangnya punya dua Ibu yang kukasihi-

Setelah menikah dan tinggal sendiri, Ibu masih juga memikirkan rumahku. Boyong tanaman, suruh beli jam dinding yang gede, suruh ngecat rumah lagi biar fresh, dan ini itu melebihi rumahnya sendiri. -sampe bingung sendiri mana yang mau dilakuin duluan-

Baru-baru ini aku mendengar Ibu bercerita pads suamiku, bahwa saat ayahku sedang melanjutkan pendidikan selama 1 tahun di luar kota (aku masih SD) banyak hal terjadi di keluarga besar kami hingga Ibu harus putar otak tentang keuangan agar tak membebani ayah yang sedang menjalani pendidikan. Ibu bilang bahwa saat itu sangat berat, bahkan untuk makan ibu hanya sanggup belanja lauk untuk aku dan adikku, sedangkan Ibu mengambil dedaunan di kebun yang bisa dijadikan sayur sebagai lauk beliau. -Sampai detik ini aku bahkan tak pernah tau masa kami pernah sesulit itu :(

Sekarang meski aku telah menjadi "Ibu", tiap kali Ibu berkunjung kerumah kami, Ibu tetaplah Ibu. Yang pagi-pagi ke pasar dan memasak di dapurku untuk keluarga kecil kami, membelikan bahan-bahan dirumah yang habis, menyiapkan cemilan untuk cucu-cucunya bahkan disaat kami masih terlelap. -aaah... Ibu-

Ibu. Saat kami berkunjung menjengukmu, Ibu juga masih menyiapkan segala sesuatunya untuk anak-anaknya. Karena anak adalah peminta-minta sejati dan Ibu tetaplah Ibu, berapapun usia anaknya. -tempat Ibu tak akan tergantikan oleh apapun-
Baca juga : Hidup Untuk Apa?

Saat ini, aku dan ibu banyak berbagi cerita tentang kehidupan, apa tujuan kita hidup sebenarnya dan tugas utama kita selaku seorang hamba kepada Tuhannya. -Ibu adalah partner terbaik dalam 'Fastabiqul khairat' atau berlomba-lomba dalam kebaikan'-

"Tuhan, terima kasih telah mengijinkan aku (dan suamiku) dilahirkan dan di didik oleh Ibu-Ibu yang luar biasa." 

Tulisan ini sekaligus sebagai ungkapan kasih sayang menyambut Hari Ibu, tanggal 22 Desember nanti. Terima kasih Mbak Noorma dan Mbak Chela, si guru kecil untuk tema kerennya di #ArisanBlogGandjelRel periode 17 ini. Semoga bermanfaat! 

Dec 7, 2017

Ibu, Guru Pertama yang Tak Luput dari Alpa

Ibu, Guru Pertama yang Tak Luput dari Alpa
Ibu, Guru Pertama yang Tak Luput dari Alpa
Pepatah bahasa Arab "Al Ummu Madrosatul Uulaa" yang memiliki arti Ibu adalah sekolah utama, tentu sudah tak asing lagi di telinga kita. Dan memang begitulah adanya. Seorang ibu adalah guru pertama dan yang utama bagi anak-anaknya. Jika kita melakukannya dengan baik, maka kita sedang mempersiapkan generasi terbaik. Sebagai ibu dari dua orang putera, saya selalu menanmkan dalam diri, bahwa saya sedang membesarkan seorang suami bagi isterinya, ayah bagi anak-anaknya dan pemimpin bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, saya tidak pernah menganggap remeh setiap kegiatan yang saya lakukan bersama anak-anak, karena kelak Allah akan bertanya pada saya tentang bagaimana saya menjaga 'titipanNYA'. Dititipin Allah, lho. Kita diberi tugas pimpinan aja selalu bertanggung jawab, apalagi diberi amanah oleh Yang Maha Memberi Hidup?

Dari sudut pandang lain, Dr. Gillian Turner, pengajar di Victoria University of Wellington, New Zeland pernah mangatakan, "Seorang laki-laki harus mengabaikan dorongan primitifnya dalam memilih pasangan, yang menargetkan hanya dari daya tarik seksual. Ingatlah bahwa kecerdasan anak di masa depannya akan ditentukan oleh tingkat kecerdasan pasangan yang ia pilih". (The Asian Parent). Ditunjang dengan studi yang dilakukan oleh Medical Research Council Social and Public Health Science Unit terhadap 12.686 orang yang berusia 14 - 22 tahun, dengan pertanyaan yang berfokus pada IQ, ras, pendidikan dan status sosial - ekonomi. Kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa prediktor terbaik dari kecerdasan anak adalah IQ ibu mereka. (science.idntimes.com)

Penjelasan dari sisi agama dan ilmu pengetahuan di atas, tak pelak menjadikan ibu sebagai hal terpenting atas masa depan sebuah generasi. Hal ini menjadi penyemangat sekaligus tanggung jawab yang luar biasa bagi seorang ibu, yang pada akhirnya memunculkan idealisme-idealisme di kepala  kita dalam mendidik anak. 

Sebagai ibu jaman now, kita telah mendapat akses informasi yang tak terbatas seputar pengasuhan anak. Di satu sisi, ini adalah hal baik untuk terus belajar. Namun di sisi lain, tak jarang membuat kita sedih, down, merasa jauh dari harapan bila dibandingkan ibu-ibu yang lain. Itulah mengapa, sebagai guru pertama yang tak luput dari alpa, ibu harus sadar dengan 3 hal ini :

1. Siap untuk selalu belajar
Ibu haruslah seorang pembelajar. Belajar berkata baik pada anak dan suami, belajar memasak, belajar bersabar, belajar menerima masukan / kritik, dan tentunya belajar selama proses mendidik anak. Bersyukur saat ini sudah banyak kajian, seminar maupun event yang membahas tentang parenting dari berbagai sudut pandang keilmuan.

2. Menurunkan standar ideal
Sebelum menikah, saya memiliki bayangan akan menjadi seorang profesional yang berkarier di sebuah perusahaan besar. Namun keinginan tersebut mulai berbenturan ketika saya memiliki bayi yang masih membutuhkan ASI, sementara suami dituntut untuk sering bepergian ke luar kota. Jadi, saya menurunkan standar ideal saya dalam hal karier yang pada akhirnya mengubah mindset saya secara keseluruhan.

Begitu pun dalam urusan rumah tangga. Kalau biasanya perempuan identik dengan rumah yang rapi, bersih dan wangi, maka bersiaplah menurunkan standar kita di saat memiliki anak bayi hingga balita. Kotor sedikti tidak masalah, dinding penuh coretan disabar-sabarin, sehari nggak sanggup ngepel 3 kali, ya disapu saja. Menurunkan standar ideal adalah salah satu cara membuat kita tetap bahagia di tengah riuhnya kehidupan seorang ibu.

3. Tak masalah untuk meminta bantuan orang lain
Ada suatu masa dimana saya ingin melakukan segala hal sendiri, terutama yang berhubungan dengan pengasuhan anak. Dengan penuh semangat, kami (saya dan anak-anak) membuat jadwal kegiatan harian, dari prakarya, baca buku, nonton video, main seru-seruan, mengaji dan belajar apa saja setiap harinya. 

Hingga baru-baru ini si Abang terlihat mulai tertekan dan stress setiap kali belajar matematika. Hal yang tidak pernah kami alami sebelumnya. Sejak 3 tahun pertamanya di Sekolah Dasar, ia selalu belajar dengan semangat dan gembira, namun di tahun keempat ini pelajaran matematika mulai menjadi hal menakutkan baginya. Hal ini diperparah dengan asam lambungnya yang meningkat setiap kali ia stress, setiap belajar angka tiba-tiba merasa mual, mau muntah, hingga sesak di dada! Duh, saat itu rasanya saya gagal menjadi guru yang baik. Mewek berat pokoknya..

Setelah sharing dengan beberapa rekan pendidik, teman, keluarga dan mendengarkan keinginan si abang, saya mulai membuka diri untuk menerima bantuan, dalam hal ini dengan membuka kemungkinan memanggil guru les atau yang sejenis. Awalnya saya merasa tak perlu karena masih sanggup mengajarinya sesuai idelisme saya, namun juga menyadari adanya kemungkinan cara mengajar saya yang kurang pas, ekspektasi saya terhadap si anak, kurang sabarnya saya, yang pada akhirnya bisa membuat ia tertekan.

Intinya, meminta bantuan orang lain tak lantas membuatmu jadi ibu yang buruk.

Tiga hal di atas terlihat sepele saat dibaca, akan tetapi butuh perjuangan untuk bisa melakukannya, setidaknya bagi saya. Karena bagaimanapun, ini adalah kali pertama saya menjadi orang tua (haish, korban Drakor!). Terima kasih buat Mba Relita dan Mba Yuli yang memilih tema Guru pada #ArisanBlogGandjelRel periode 16 ini. Semoga bermanfaat!