Mar 26, 2018

Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart

Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart
Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart
Siapa suka crafting? Saya sih, seneng banget kalau ada kegiatan ketrampilan dari jaman SD, meski tergantung mood juga, hehe.. Pas banget nih, acara Women Blogger Movement perdana yang mengambil tema Daur Ulang Sampah Rumah Tangga ini benar-benar membuat excited pecinta craft seperti saya. Ya, crafting alias prakarya menjadi hoby baru sekaligus 'me time recehan' semenjak saya berstatus ibu. Nggak ada kan, anak yang nolak diajakin prakarya? Jadilah kegiatan gunting tempel aneka bahan ini masuk dalam jadwal mingguan di rumah kami, sekaligus cara jitu mengalihkan anak agar tidak kecanduan gawai. Berhubung crafting sudah masuk dalam jadwal mingguan, tepatnya setiap Kamis malam, tentu menjadi PR tersendiri bagi saya untuk selalu mencari ide atau bakal dibilang 'nggak konsekuen' sama anak-anak, hiks.

Beruntung, pada tanggal 22 Maret 2018 saya berkesempatan menghadiri acara Women Blogger Movement yang digagas oleh Alfamart bekerjasama dengan Titik Tengah Partnership di Allstay Hotel, Jl. Veteran No. 51 - 53 Semarang. Dari acara ini, saya baru tahu kalau ternyata Alfamart telah banyak menyelenggarakan program-program pemberdayaan masyarakat baik melalui pelatihan ketrampilan seperti ini, maupun melalui program Alfamart Class, yang merupakan program integrasi kurikulum ritel modern di SMK, sehingga tercapai link dan match antara lulusan dan kebutuhan industri ritel modern. Bahkan menurut perwakilan Area Manager Alfamart Semarang, kegiatan pembekalan ketrampilan seperti yang diselenggarakan kali ini sudah menjangkau ke berbagai institusi, kelurahan, hingga RT. Salut!

Baca Juga : Semarang Semakin Hebat dengan Germas, UHC dan Ambulance Hebat

Workshop daur ulang sampah rumah tangga kali ini menghadirkan Yuniar Alfa Artha atau akrab disapa Mbak Alfa, owner Laquinna Creative Handmade sebagai mentor yang akan mengajarkan kami step by step cara membuat dompet koin dari kotak susu bekas. Berbagai bahan mulai dari kotak susu bekas, kain perca berbagai motif, kancing magnet, lem, kuas, hingga gunting telah dipersiapkan guna efisensi waktu. Emak blogger emang pada manja ya, wkwkwk.

Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart
Kesibukan peserta Women Blogger Movement

Ternyata membuat dompet koin tak serumit yang dibayangkan lho, hanya butuh ketelatenan atau tangan kita yang akan jadi korban lem. Hehe.. Namun usaha saya selama satu jam terakhir cukup memuaskan meski masih jauh dari kata rapi. Gimana? Dari penampakannya sudah cocok digunakan sebagai souvenir, kan? Bisa aja kalau mau pesan ke saya, tapi satu tahun sebelumnya ya, hahaha... Oh iya, untuk tutorial pembuatan dompet koin akan ada di artikel selanjutnya agar lebih detail dan lengkap. (Baca : Fun Time #21 : Membuat Dompet Koin dari Kardus Bekas)

Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart
Yeay, akhirnya jadi juga dompet koinnya!

Baca juga : Pelajaran Hidup dari Berbisnis

Lucky me, selain mendapat ilmu saya juga kebagian doorprize paket bahan untuk membuat dompet koin. Yeay, bisa langsung dipraktekkan bareng duo krucil di rumah! (baru inget kalau ini hari Kamis, yang artinya nanti malam adalah jadwal prakarya kami). Karena kebiasaan untuk reuse dan recycling harus ditanamakan sejak anak-anak masih kecil, sehingga tidak mudah membuang barang bekas. Kalaupun kita sedang tidak sempat mendaur ulang, setidaknya pisahkan barang bekas pakai sesuai bahannya. Seperti botol plastik, botol kaca, kardus dalam tempat tersendiri. Kalau sedang ada ide bisa langsung dibuat prakarya. Jika tidak, kita bisa memberikannya kepada pemulung keliling untuk di daur ulang. Kalau tagline ala-ala di rumah kami sih, "Cintai lingkungan sambil menambah keahlian".

Daur Ulang Sampah di Women Blogger Movement bersama Alfamart
Thank Alfamart buat acara kecenya!

Mar 21, 2018

Harga Sebuah Kejujuran

Harga Sebuah Kejujuran
Harga Sebuah Kejujuran
Kejujuran adalah kesederhanaan yang paling mewah. Sore ini seperti sore-sore sebelumnya, selepas sholat ashar saya bergegas menjemput si sulung di sekolahnya. Kali ini saya sendirian saja. Tak seperti biasanya, si kecil lebih memilih di rumah karena ada sang kakek yang sedang mampir ke rumah kami.

Ternyata Tuhan punya skenario untuk saya. Sesampainya di sekolah, seorang ibu guru mengatakan pada saya bahwa si Abang sedang ada masalah dan belum mau pulang. Saya pun turun dari motor dan mengikuti ibu guru tersebut. Saya melihat Abang sedang duduk di anak tangga lantai tiga dengan posisi meringkuk merapatkan kaki sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rupanya ia sedang menangis. 

Sang guru bercerita bahwa sepulang sekolah abang sempat uring-uringan dan marah pada teman-temannya. Singkat cerita, saat sedang sholat berjamaah, abang yang sedari rakaat pertama menahan kentut karena memang sedang sakit perut, akhirnya tak sanggup lagi menahan. Maka keluarlah suara yang berusaha disembunyikannya sejak tadi. Ia pun bergegas keluar shaf lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kembali sholat sebagai makmum masbuk.

Tak dinyana, selepas sholat semua temannya lantas serempak tertawa terbahak-bahak karena adegan kentut (yang mungkin cukup keras) tadi. Abang yang merasa kejujurannya  tidak dihargai, serta merta merasa marah. Walhasil jadilah ia uring-uringan, tantrum nggak jelas hingga menangis sesenggukan.

Baca juga : Bisnis Pertama Si Kecil

Di momen itu, saya merasa si Abang sedang berada di titik kritis, ketika sifat kolerisnya yang kuat dihadapkan dengan reaksi yang diperoleh dari orang-orang sekitar. Abang yang sifat dasarnya keras, merasa telah berusaha menurunkan egonya dengan memilih jujur (mengakui kalau ia kentut dan segera keluar shof). Akan tetapi tindakan yang menurutnya sudah benar itu justru mendapat tanggapan berupa ejekan dan tertawaan dari teman-temannya. Saat abang kecil, ia bahkan sangat susah menurunkan egonya untuk sekedar meminta maaf pada ayahnya sendiri. Kini ketika Allah telah melembutkan hatinya dan selalu belajar untuk menekan ego, justru ia merasa dihina. Saya bisa membayangkan apa yang dirasakannya. 

Saya perlu menarik nafas dan berpikir sejenak tentang apa yang akan saya sampaikan kepadanya. Setelah memeluk dan menenangkannya, saya mencoba menekankan beberapa hal ini kepadanya :

  1. Sikapnya untuk jujur adalah hal yang benar, dan saya sangat bangga atasnya
  2. Tak selamanya kejujuran yang kita lakukan ditanggapi dengan baik. Kadangkala justru diejek, ditertawakan seperti yang sedang Abang alami sekarang, dianggap munafik, sok suci, dan sebagainya.
  3. Meski begitu, tetaplah jujur! Jika terasa berat, itulah perang kita melawan setan. Itulah jihad  yang sebenarnya, jihad jaman now.
  4. Allah Maha Melihat, bahkan ada malaikat yang senantiasa menyertai kita untuk mencatat perbuatan baik dan buruk. Maka yakinlah, kejujuran Abang tidak akan sia-sia di sisi Allah. Mungkin sekarang sedih karena ditertawakan, bisa jadi sebentar lagi bahagia karena dibelikan jajan sama Bunda. Yakinlah, janji Allah itu benar.
Selepasnya, Abang sudah nampak lebih baik. Tangisnya mereda, hanya teman-teman yang belum meminta maaf padanya, masih membuat hatinya mengganjal. Karena kejadiannya menjelang jam pulang dan teman-teman sekelasnya banyak yang sudah dijemput, maka belum ada penyelesaian masalah. Namun sang guru berjanji keesokan harinya akan memberi pengertian dan meminta teman-temannya meminta maaf. 

Harga Sebuah Kejujuran
kredit pic : ajieee.blogspot.com
Awalnya saya sedikit khawatir, karena keesokan paginya sebelum berangkat sekolah, Abang masih berniat untuk membalas teman-teman yang telah menertawakannya, "Abang ingat siapa aja yang kemarin ngetawain, awas aja kalau mereka jatuh pasti Abang ketawain sekeras-kerasnya!" begitu ancamnya. Namun rasa deg-degan saya berganti kelegaan ketika melihat mereka telah bermain bersama tanpa beban dan dendam sepulang sekolah.
Hari ini saya belajar tentang Harga Sebuah Kejujuran dari anak-anak. Kejujuran tentu tak serta merta muncul dari diri seseorang. Saya yakin para orang-orang jujur itu pasti telah dibekali 'doktrin' yang kuat oleh keluarganya. Saking langkanya orang jujur, bahkan kini sedang marak berbagai ajang penghargaan diadakan oleh instansi pemerintah, perusahaan, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengapresiasi kejujuran baik yang dilakukan oleh per orangan maupun instansi aparat penegak hukum. Maka tetaplah jujur, meski itu sulit.

"Sesungguhnya ash-siddiq (kejujuran) itu mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan kepada surga" HR. AL-Bukhari - Muslim No. 1665

Mar 15, 2018

Riuhnya Dunia Maya

Riuhnya Dunia Maya
Riuhnya Dunia Maya
Entah mengapa beberapa bulan belakangan ini saya tak terlalu tertarik dengan riuhnya dunia maya. Cwitter yang hanya saling mengejar hashtag untuk menjadi trending topic, Ucup juga makin lama makin seragam konten videonya. Belum lagi si 'buku wajah' yang tambah berisik dengan seringnya video yang mendadak terputar (karena sekarang mostly isinya video). Insta yang seringkali jadi pelarian pun, selalu berkutat seputar makanan, traveling dan eksistensi.

Saya tidak sedang membahas soal perbandingan berbagai media sosial yang ada, saya hanya sedang merenungkan penurunan ketertarikan saya. Ah, mungkin karena faktor usia. Meski banyak pula pengguna media sosial yang jauh lebih matang dibanding saya. Harapan hati kecil ini, inginnya memang karena saya tak lagi mengharap pengakuan dari manusia.


Ya, saya yakin kita semua sadar, baik diakui atau tidak, media sosial memang ranah untuk menunjukkan eksistensi diri. Saya jadi malu ketika mengingat kembali apa yang saya describe dalam setiap profil tentang diri sendiri di setiap akun saya. Atas nama profesionalitas, personal branding, asas kemanfaatan, serta berbagai kepentingan lain yang berada di baliknya, membuat saya hampir tak bisa melihat tipisnya tabir kesombongan yang ingin saya munculkan. 

Tetiba berkelebat gambaran sahabat Rasullullah SAW, Bilal Bin Rabbah ra, seorang budak yang 'tak nampak' di bumi namun suara alas kakinya telah terdengar di surga. Begitu pula dengan Uwais Al-Qarni ra, yang meski belum pernah bertemu Rasulullah SAW sekalipun, namun namanya telah terkenal seantero penduduk langit.

Maka tersungkurlah diri ini di hadapan Sang Maha Kuasa, Allah SWT. Robbii innii dzolamtu nafsii, faghfirlii. 
"Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendzolimi diriku sendiri, maka ampunilah aku" 
QS. Al-Qosos : 16
Baca Juga : Rasakanlah, belajarlah