Oct 18, 2018

Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy

Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Nestle LACTOGROW
Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy (dok.pri)
Selasa, 16 Oktober 2018 kemarin saya berkesempatan hadir dalam press release Nestle Lactogrow Berbagi Mengenai Gaya Pola Asuh Grow Happy Kepada Orang Tua, yang diselenggarakan di The Palis Semarang. Sebagai ibu bangsa (emak-emak) masa kini, belajar parenting udah jadi semacam passion saya. Bahkan saking semangatnya, saya adalah orang pertama yang datang tepat waktu di event media & blogger gathering ini! Hahaha..

Melangkah ke lantai dua The Palis, saya langsung disambut dekorasi table setting bernuansa biru nan damai. Hidangan coffee break dan aneka snack tersaji cantik di depan pintu masuk ruang gathering sambil menanti dimulainya acara. Seketika mood saya pun ikut naik. Terlebih lagi ketika di meja registrasi dibagikan bahan materi dan lembaran pertanyaan yang akan nantinya akan dibahas bersama psikolog, hmm.. kayaknya bakàl seru banget acara kali ini!

Dan benar saja, dengan ruangan yang luas, fasilitas dan dekorasi cantik serta peserta yang terbatas , membuat kami semua merasa istimewa. Terlebih lagi dengan hadirnya tiga narasumber luar biasa. Mulai dari Mba Sarastri Pramudita (Mba Dita) selaku Brand Executive Nestle Lactogrow, yang sepertinya sepantaran saya. Hahaha.. Ada Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC atau akrab disapa Mba Lizzy, psikolog yang asyik banget, dan terakhir Dokter Spesialis Anak dr. Fatima Safira Alatas, Ph.D, Sp.A(K). Gimana? Aroma ilmu-ilmu bergizi sudah mulai tercium, bukan?

Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Disambut dekorasi table setting nan cantik (dok.pri)
Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Para narasumber keren (dok.pri)


Acara dibuka dengan pemaparan Mba Dita tentang Grow Happy, atau anak-anak yang tumbuh dengan bahagia. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pemaparan hasil studi Child Happiness yang diumumkan Nestle Lactogrow pada Juli 2018 lalu di Jakarta. Studi Child Happiness menemukan bahwa anak merasa bahagia saat bermain bersama orang tua, bahkan lebih bahagia dari ketika mereka bermain bersama adik atau kakaknya. Namun pada kenyataannya, lebih dari 50% dari 370 responden orang tua yang tersebar di 6 kota di Indonesia merasa belum cukup hadir dan terlibat dalam kegiatan bersama si kecil. 

Nah, melalui gerakan Grow Happy ini kita jadi tersadar bahwa kebahagiaan anak dimulai dari kebahagiaan orang tuanya. Sebagaimana dipaparkan oleh Mba Lizzy, "Bagaimana bisa mendukung kebahagiaan anak, apabila orang tuanya sendiri tidak mengetahui bagaimana cara membahagiakan diri sendiri?". See? Jelaslah bahwasanya kebahagiaan itu harus diusahakan dan dimulai dari diri kita sendiri. Kalau istilah kerennya, Happy Parents = Resilient Children.

Untuk mengenal dirinya sendiri, orang tua perlu memahami sumber kebahagiaan dan tingkat kepuasan dalam hidupnya, agar dapat mengajarkan anak bagaimana arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Sumber kebahagiaan dapat kita ketahui secara harian, misalnya dengan menulis hal-hal yang telah berhasil kita lakukan (capaian) dalam seminggu terakhir. Selain itu, cobalah untuk jujur dan mengenal diri sendiri dengan menjawab perntanyaan dasar, seperti :
1. Saya mencintai diri saya sendiri karena .....
2. Saya berbakat dalam hal ....
3. Saya merasa bahagia jika ....
4. Menurut orang terdekat saya, saya berbakat dalam hal ....
5. Orang terdekat saya memuji sikap positif saya, yaitu ....
Ketika orang tua telah mengenal diri sendiri, maka kebahagiaan akan lebih mudah diusahakan. 

Tahap selanjutnya untuk mewujudkan Grow Happy adalah membangun keterikatan orang tua dengan anak. Bukan sekedar hadir, namun anak membutuhkan keterlibatan orang tuanya. Sering kali kita menemani anak bermain game dengan alasan pengawasan, namun tidak paham siapa saja tokohnya, bagaimana alur ceritanya, apa goals dari game tersebut, nilai-nilai apa yang bisa di dapat anak dari permainan itu, iklan apa saja yang mungkin tampil di layar, dsb.
Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Para ibu bangsa mau belajar dulu, hahaha (dok.pri)
Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Mari kosongkan gelas (dok.pri)

Proses keterlibatan atau membangun ikatan (connectivity) ini dicontohkan dengan meminta para peserta media & blogger gathering untuk mencari pasangan dan duduk berhadapan. Selanjutnya panitia akan membagikan pertanyaan yang kita ambil secara acak untuk kita tanyakan secara bergantian dengan pasangan kita. Apa yang terjadi? Ternyata pertanyaan-pertanyaan yang sering kali kita anggap remeh, sepele, aneh serta nggak penting itu bisa mendekatkan kita dengan orang lain secara emosional. Saya bisa merasakannya karena sering kali bermain truth or dare bersama suami dan anak-anak. Ajaibnya, meski pertanyaan itu terkadang memalukan, kami justru dengan suka rela bercerita di depan anggota keluarga lainnya. Seperti bergantian mengungkapkan apa yang membuat saya senang hari ini? Apa yang membuat saya sedih hari ini? Menurutmu, kamu hebat dalam hal apa? Kejadian paling memalukan apa yang pernah kamu alami? dll. Intinya ibu bangsa bikin pertanyaan sekreatif dan sespontan mungkin. Cobalah, pasti akan terasa kebahagiaan dan manfaatnya!

Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Simulasi membangun keterikatan (pic : https://adadisemarang.blogpot.com)


Lebih lanjut, saya dibuat tercengang dengan penjelasan dr. Fatima tentang pengaruh kesehatan saluran cerna (terutama usus) terhadap munculnya berbagai kelainan yang berhubungan dengan saraf, seperti tantrum, autis, dsb. Dalam dunia kedokteran selain sebagai organ kekebalan tubuh terbesar, usus dikenal sebagai otak kedua. Karena segala sesuatu yang terjadi pada usus akan mempengaruhi kerja otak kita. Atas dasar inilah saya mendapat pencerahan bahwa asupan serat pada anak pra puber (10-13th) akan membantu tercapainya hubungan antar saraf (sebagai neurotransmitter), sehingga anak lebih dapat mengontrol emosinya pada masa peralihan ini. Sebaliknya, kita sebaiknya membatasi asupan susu maksimal 2 gelas kecil sehari serta mengurangi asupan gula karena dapat berpengaruh pada agresifitas anak dalam mengelola emosinya, yang mana banyak terjadi karena perubahan hormon di masa pra puber. Nggak heran kan, ada istilah generasi micin?

Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Sehat luar dalam ^,^ (dok.pri)
Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy
Pulang dengan bahagia! (dok.pri)

Di akhir acara, kami diajak berolahraga bersama. Karena hormon endorphine, salah satu dari empat hormon yang mempengaruhi kebahagiaan diperoleh ketika kita melakukan aktifitas fisik. So, ternyata Grow Happy itu meliputi tiga aspek, yaitu keterlibatan orang tua, stimulasi serta nutrisi. Setelah ini akan ada artikel khusus yang membahas tentang ilmu parenting oleh-oleh dari Nestle LACTOGROW Berbagi Tentang Gaya Pola Asuh Grow Happy ya. Benar-benar acara yang bergizi luar dalam, kan? Let's grow happy together!

Oct 5, 2018

Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik

Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
(dok.pri)
Hari gini masih ada yang menganggap trampoline sebagai kegiatan lompat-lompat nggak jelas? Duh, sepertinya Anda kurang piknik, hehee.. for your information, trampoline mulai dipertandingkan secara internasional sebagai cabang displin senam sejak Asian Games 2014 lalu, lho! Yang memprihatinkan adalah fakta bahwa hingga tahun 2018 ini Indonesia belum memiliki atlet profesional pada disiplin trampoline. Itulah mengapa saat ini pemerintah sedang giat mencari bibit-bibit atlet trampoline melalui berbagai kompetisi, salah satunya dengan mengadakan 2018 Trampolining Championship di Houbii Urban Adventure Park pada April lalu. (sumber : https://www.idntimes.com/sport/arena/vanny-rahman/membahas-olahraga-trampoline-cabang-olahraga-senam-yang-dilertandingkan-pada-asian-games/full)

Bagi kami pribadi, sebenarnya Houbii merupakan salah satu tujuan dalam itinerary liburan tahun lalu kami. Namun ternyata waktu tiga hari tidaklah mencukupi untuk mengunjungi semua destinasi yang kami inginkan. Entah karena kelamaan main di SkyRink, muter-muter cari alamat Museum Macan serta berbagai hal tak terduga lainnya. Nah, sekarang duo krucil kami seolah mendapat 'rejeki anak sholih' dengan hadirnya  Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik di Kota Semarang. Yeay!

Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
Baru masuk 10 menit, udah pada berkeringat ^,^ (dok.pri)


Gravity Trampoline Park ini memang wahana trampoline indoor pertama di Semarang. Berlokasi di jalan Dr. Cipto 226 Semarang, wahana ini baru melakukan soft launching pada 1 September 2018 lalu. Begitu mendapat info ini, sebenarnya saya dan anak-anak sudah tak sabar ingin segera ke sana. Namun karena merasa 'nggak sopan' kalau cuma kami bertiga yang merasakan first experience ini, maka kami sepakat untuk bersabar hingga sang ayah kembali dari tugasnya selama tiga bulan terkahir. Akhirnya 30 September 2018 lalu kami berempat siap merasakan pengalaman pertama main trampoline tanpa takut malu-maluin. Wkwkwk

Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
Loket depan Gravity Trampoline Park (dok.pri)

Di Gravity Trampoline Park punya banyak pilihan aktifitas yang dapat kita dilakukan, mulai dari arena kids & freestyle yang bebas lompat-lompatan dan salto kesana kemari, arena slam dunk buat main basket di trampoline, arena poam fit & wall climbing yang bikin kita berani panjat dinding tanpa takut jatuh, arena ninja warrior, arena spiderman yang dilengkapi dinding serta kostum khusus, sehingga bisa membuat kita menempel dinding ala spiderman (BTW, ini spot foto favorit buat anak-anak), hingga arena professional corner.

Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
Spot foto favorit di arena spiderman (dok.pri)

Tak hanya anak-anak, remaja bahkan dewasa pun bebas bermain di wahana ini. Intinya jangan takut trampolinenya bakal jebol karena berat badan kita yang berlebih, hahaha... Kalaupun orang tuanya mager (males gerak) atau malu-malu meong, tersedia mini bar tepat di depan arena. Jadi kita bisa melihat si kecil bermain sambil ngemil cantik atau bahkan ngerjain tugas! Bagi anak di bawah lima tahun (balita) disarankan masuk didampingi penjaga dari keluarga, sementara untuk usia di atas lima tahun sudah diperkenankan main sendiri yang nantinya ada banyak kakak-kakak 'flight crew' yang selalu berkeliling mengawasi dan mengajari anak-anak bermain. Para flight crew ini jago banget lho, main trampolinenya! Bagi yang berminat mendalami olahraga trampoline, disediakan juga kelas dengan personal trainer. Keren, ya?


Gravity Trampoline Park, Surga Baru si Penyuka Aktifitas Fisik
Kaos kaki khusus trampoline (dok.pri)
Oiya, kita diwajibkan memakai kaos kaki khusus untuk memasuki arena trampoline. Padahal nih ya, kami udah bawa kaos kaki sendiri atas nama pengiritan. Ternyata memang tetap harus membeli untuk setiap kunjungan pertama. Kaos kaki khusus ini seharga Ro. 25.000,-/pasang yang di bagian alasnya terdapat spot-spot yang diberi lapisan karet, untuk mengurangi tingkat kelicinan ketika berjalan maupun berlari di arena trampoline. Kita dipersilakan mengepas kaki pada gambar yang tersedia untuk menentukan ukuran kaos kaki masing-masing. Selanjutnya kaos kaki bisa kita simpan di rumah untuk dibawa kembali pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

Lebih kerennya lagi, ada banyak program yang ditawarkan Gravity Trampoline Park. Seperti paket field trip sekolah pada hari Senin s/d Kamis, paket ulang tahun, atau paket booking per kelompok yang pastinya dengan harga lebih murah! Rasa-rasanya wahana ini bakal jadi idola baru buat anak-anak Semarang. Selamat mencoba!

Gravity Trampoline Park
Jl. Dr. Cipto 226 Semarang
Buka setiap hari
Tiket player : Rp. 90.000/2 jam (weekday) & Rp. 125.000/2 jam (jumat - minggu)
Tiket junior + guardian : Rp. 120.000/2 jam (weekday) & Rp. 175.000/2 jam (jumat - minggu)
Kaos kaki : Rp. 25.000 (hanya dibeli pada kunjungan pertama)
Sewa loker : Rp. 35.000 (jika dirasa perlu)