The Hard Worker VS Learner

The Hard worker VS Learner . Yup, kami adalah dua orang berbeda yang hidup bersama dalam sebuah keluarga. Entah bagaimana awalnya, dari b...

The Hardworker VS Learner
The Hard worker VS Learner. Yup, kami adalah dua orang berbeda yang hidup bersama dalam sebuah keluarga. Entah bagaimana awalnya, dari beberapa sudut pandang dan obrolan-obrolan kecil kami setiap harinya, saya tiba-tiba menyimpulkan bahwa suami adalah seorang pekerja keras (Hard worker) sedangkan saya adalah pembelajar (learner).

Karena perbedaan tersebut, kadang kami berbeda pandangan tentang beberapa hal. Seperti saat membahas tentang kuliah. Ketika Learner berkata, "Kenapa tidak melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi seperti rekan kerja lainnya? Bukankah itu menunjang pekerjaan juga?". Maka hard worker akan menjawab, "Buat apa kuliah kalau cuma mau ngejar jabatan, banyak juga kok yang sampai gelar S-nya banyak tapi gitu-gitu aja, ya karena dia nggak professional". Hmm.. Bener juga, mubadzir uang kuliahnya.

Di lain waktu saat si Learner menyatakan suatu saat ingin kuliah lagi, Hard worker justru melihat dengan tatapan heran sembari berkata, "Yakin, mau kuliah lagi? Emang buat apa, kan pendidikan yang sekarang udah cukup untuk pekerjaan yang ditekuni. Tergantung tujuannya, mau kuliah cari ilmu apa cuma cari gelar?". Setelah beberapa saat terdiam dan berpikir, akhirnya si Learner menyadari bahwa sebenarnya bukan 'kuliah'nya yang ia cari, tapi 'belajar'nya. Toh, nggak harus sesuai keilmuan sekarang. Apapun, mau les jahit, mau menulis, mau internet marketing, apa saja asal bisa mendapat ilmu-ilmu baru yang merangsang otak, menumbuhkan ketertarikan serta ada passion di dalamnya. Bukan semata kuliah formal dengan tujuan meraih gelar.

Setelah merasa menemukan jawaban, ditambah lagi karena sang hard worker punya jam terbang serta dedikasi tinggi pada pekerjaan yang menuntut untuk sering meninggalkan keluarga. Plus, tidak memungkinkannya untuk 'kuliah' di luar kota dengan konsekuensi akan sering meninggalkan anak-anak (lantas apa bedanya dengan anak yatim piatu, hiks), si Learner mulai mendedikasikan penuh dirinya untuk keluarga, suami dan anak-anaknya.

Well, berawal dari pembicaraan tentang kuliah itulah si Learner banyak 'belajar' bahwa :
* Hidup tak selalu berjalan seperti keinginan kita. Ingin kuliah tinggi, karier berkembang, banyak berkarya, banyak waktu bersama anak, selalu kumpul suami. Wow, serakah amat! ^_^
* Life is choice. Semua orang tau, dalam hidup selalu ada pilihan beserta segala konsekuensinya. Saat ingin kuliah, maka anak akan berkorban dengan berkurangnya perhatian. Saat fokus pada keluarga, mungkin karier dan penghasilan tak sebanding dengan rekan lainnya. Cukup pilih dan nikmatilah.
* Kuliah tidak sama dengan belajar. Dulu saya pikir, karena saya suka belajar maka alangkah baiknya jika saya kuliah setinggi-tingginya untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya. Namun sekarang saya sadar bahwa yang saya suka adalah 'belajar', sedangkan kuliah hanya salah satu cara kita untuk belajar. Cara yang lain? Ternyata saya merasakan 'belajar' melalui membaca buku, mendidik anak, menulis, serta mengerjakan hal-hal baru yang menarik minat saya. Bahkan kajian Al-Quran pun bisa menjadi sesi 'belajar' Saat kita benar-benar senang, meresapi apalagi sampai mengamalkan dalam keseharian. 

Dan pada akhirnya, saya pun belajar untuk mengajak anak-anak kami agar senang 'belajar' dengan banyak memperkenalkan hal-hal baru kepada mereka, berpikiran terbuka, termasuk menterjemahkan kata-kata yang belum mereka pahami (yang seringkali bikin saya pusing tiap kali sesi nonton berita karena dihujani dengan pertanyaan, "Konfrontir itu apa? Krisis Yaman gimana critanya? Tabir maksudnya apa? Suap sama korupsi beda ya?") Wkwkwkwk #klenger.

"Sekarang, saya tak lagi mempersoalkan tentang kuliah. Karena bagi saya tiap hari adalah waktunya 'belajar'. Benar-benar belajar, membuka buku, mencari informasi, mencoba hal-hal baru, mengajak anak turut serta, sungguh suatu proses belajar yang tak pernah terpikirkan dalam benak saya sebelumnya."

Pada akhirnya, saya pikir hard work dan learning haruslah seirama. Seorang pekerja keras pastilah harus selalu belajar untuk menunjukkan profesionalitasnya. Sedangkan pembelajar pun membutuhkan kerja keras dalam mempelajari minatnya. Jadi sebenarnya kami adalah orang yang sama, pekerja keras dan pembelajar. Hanya berbeda dalam bidang minat dan cara implementasinya. Seperti yang terjadi saat hard worker dan learner pergi ké toko buku. Sementara learner sibuk mencari buku, sang hard worker akan duduk manis menunggu anak-anak yang asyik baca aneka buku, tentunya sambil telpon sana sini dan cek email kerjaan. Hahaha...

Okey fix, tuntaslah kegalauan saya selama ini. ^_^

Salam Hangat,


Related

Omong Kosong 7220309071309392130

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item