May 5, 2015

Pendidikan Seks dalam Islam

Pendidikan Seks dalam Islam
Banyaknya kasus perkosaan, perkawinan sedarah, pacaran yang berlebihan, sampai seks bebas terjadi pada anak. Sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya anak diajarkan sex education sejak dini. Lantas, seperti apakah Islam memandang pendidikan seks itu? 

Islam yang sempurna tentulah mengajarkan sex education pada anak. Namun untuk memberi pengertian pada anak tentunya tidak dengan bahasa yang vulgar dan dengan gambar-gambar yang eksplisit sehingga mengakibatkan anak ingin mencoba melakukannya. Al quran memberi contoh bagaimana menjelaska dengan bahasa kiasan, seperti "istri kalian adalah kebun untukmu maka datangilah darimana kalian mau". 

Tugas besar orang tua haruslah pandai berbicara kepada anak dalam hal ini. Tidak boleh ada informasi yang bersifat kebohongan, apabila orang tua mulai kesulitan untuk menjelaskan, jangan lanjutkan pembicaraan. Cukup katakan, "Nanti ya, Bunda cari tahu dulu.."

Di jaman Rasulullah SAW ada seorang sahabat yang meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk berzina, lalu apa jawaban Rasulullah SAW? "Bagaimana apabila anak perempuanmu dizinahi orang? atau ibumu dizinahi orang? atau istrimu dizinahi orang? atau adik perempuanmu dizinahi orang?". Sungguh suatu jawaban cerdas dari Rasulullah dalam mendidik generasi sehingga sahabat tersebut tidak jadi melakukan zina.

Apabila anak kita sudah mulai senang dengan lawan jenis, hal pertama yang kita ucapkan adalah syukur. Karena artinya anak kita normal dan siap ke jenjang berikutnya yakni akil baligh, lalu menikah. Senang lawan jenis ini adalah hal yang wajar dalam rangka mempertahankan generasi berikutnya. Rasulullah SAW menganjurkan sahabat yang sudah baligh dan senang dengan lawan jenis untuk segera menikah, apabila belum mampu maka ia diminta untuk berpuasa. Solusi yang sangat cerdas, karena puasa adalah menahan diri dari makan minum dan jima' sampai terdengar adzan maghrib, yang artinya anak kita diperintahkan untuk menahan diri menjaga syahwat sampai mampu menikah.

Islam sangat menjaga hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat, harus dikelola agar tidak sampai melakukan maksiat. Pada zaman Rasulullah SAW ada seorang pemuda yang melihat wanita cantik sampai terbengong bengong, kemudian Rasulullah SAW memutar kepala itu sambil bersabda: "Jangan ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua.". Salah satu cara menahan syahwat jseperti anak harus minta izin ketika hendak memasuki kamar orang tua, agar jangan sampai melihat adegan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Berikut pokok-pokok pendidikan seks (sex education) secara praktis yang  bisa diterapkan pada anak sejak dini yang dikutip dari tulisan Zulia  Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya  Pendidikan Seks Untuk Anak-anak, dengan sedikit tambahan dari saya:

  1. Menanamkan rasa malu pada anak. Rasa  malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan  anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain. Misalnya  ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya. Tidak diperkenankan mandi bersama anak, meskipun di usia balita.
  2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan. Berikan pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin anak, sehingga mereka terbiasa untuk berprilaku sesuai dengan fitrahnya. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata: "Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki." (HR al-Bukhari). Hati-hati kaum LGBT  mulai melancarkan aksinya dengan menjual mainan dan pakaian yang bias sex.
  3. Pendidikan seks melalui sholat. Usia 7 tahun secara normal anak mulai bisa membedakan laki-laki dan perempuan. Di usia ini anak mulai diperintahkan untuk sholat. Sangat jelas dalam sholat ada shof khusus laki-laki ada shof khusus perempuan. Cara menutup aurat pun juga berbeda, laki-laki dari pusar ke lutut, sedangkan perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Industri pornografi mulai mengicar anak usia 7 th , jadi hendaknya Mommies mulai waspada.
  4. Memisahkan tempat tidur. Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang  pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya  berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya. Pemisahan  tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Pemisahan tempat tidur yang dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara tidak langsung telah menumbuhkan kesadaran dirinya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin. Hati-hati karena banyak kasus incest berawal dr sini.
  5. Mengenalkan waktu berkunjung ke kamar orang tua (meminta izin dalam 3 waktu). Tiga  ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki  ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah : sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Dengan  pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak  yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.
  6. Mengajarkan untuk menjaga kebersihan alat kelamin. Mengajari  anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan  untuk buang air pada tempatnya (toilet learning). Dengan cara ini akan terbentuk sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat. Sejak usia 2 th anak sudah bisa diajarkan pendidikan seks, yaitu ketika toilet learning. Saat itulah kita bisa sambil menjelaskan, ini alat kelamin perempuan tempat keluarnya pipis, adek harus jaga jangan sampai dilihat dan dipegang oleh orang lain kecuali bunda atau ayah.
  7. Mengenalkan mahram-nya. Tidak  semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja  perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati. Dengan  memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diharapkan agar anak  mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan  mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak.
  8. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata. Telah  menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan  jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung  unsur pornografi dan pornoaksi.
  9. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilâtIkhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam  ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran  laki-laki dan perempuan secara bebas.
  10. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat. Dinamakan  khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di  suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang  tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat. Sedangkan bila anak yang belum baligh melihat orang lain sedang berkhalwat, segera jelaskan mana yang baik dan buruk serta cuci otak dan hatinya ketika sampai di rumah.
  11. Mendidik etika berhias. Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa  berpenampilan menawan yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan godaan bagi lawan jenisnya. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan  maksiat.
  12. Ihtilâm dan haid. Ihtilâm  adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia baligh. Adapun  haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan  fisiologis dan psikologis semata. Jika telah terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang  berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi. Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

Itulah beberapa hal yang harus diajarkan kepada anak berkaitan dengan pendidikan seks. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.




Sumber : Diskusi HSMN Semarang
Narasumber : Silmi MSY 
ibu dari 5 anak, Rafah (9,5 th), Sahla (8th), Barak (6,5 th), Rayyan (4th), Hayyin (2 bln).
Lulusan S1 Psikologi Undip. S2 Psikologi UI mayor PIO dan minor Pendidikan.
Kerja: Komisaris PT. Riscon Group 
Ketua yayasan Riscon Hasanah 
Yayasan Ari Al Banna.
Owner sekolah Kuttab Alfatih bekasi
Waktu diskusi : kamis, 30 April 2015 jam 12.30 - 14.00
Moderator : Hapsari
Notulen : Yanti
Judul diskusi : Sex Education dalam Islam

No comments:

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.