Jan 2, 2018

Membangun Kedekatan Ibu dan Anak dengan Belajar Tentang Kehidupan

Membangun Kedekatan Ibu dan Anak dengan Belajar Tentang Kehidupan
Membangun Kedekatan Ibu dan Anak
dengan Belajar Tentang Kehidupan
Setiap keluarga memiliki caranya masing-masing untuk membangun kedekatan antar anggotanya. Kita bisa belajar dari cara-cara yang dilakukan oleh keluarga lain, namun tak bisa lantas menduplikasi begitu saja. Sebagaimana setiap manusia diciptakan unik oleh Allah SWT, hubungan emosional dalam setiap keluarga pun selalu memiliki kekhasan masing-masing. Karena setiap orang tua mempunyai visi misi tersendiri yang ingin mereka capai.

Salah satu cara yang saya lakukan untuk membangun kedekatan dengan kedua putera kami adalah dengan belajar bersama tentang kehidupan. Belajar tentang hidup bukan berarti harus dengan ngobrol serius membahas tujuan hidup dan sebagainya, namun lebih kepada menanamkan bahwa selalu ada pesan dari Sang Pencipta dalam setiap kejadian yang kita alami. Sebagaimana yang tercantum dalam Firman Allah :

"(Orang-orang yang mempunyai akal yang cerdas) yaitu orang-orang yang mengingat Allah saat dia berdiri, duduk dan berbaring, mereka memikirkan tentang penciptaan langit-langit dan bumi (kemudian berkata), Wahai Tuhan Pemelihara kami, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari adzab neraka"
QS. Ali Imron : 191
Sebagai orang tua, saya mengajak kedua putera kami untuk bersama-sama mengamalkan ayat tersebut secara konkret. Intinya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi pastilah ada kehendak Allah. Maka, tak akan ada hal yang sia-sia, karena dibalik setiap peristiwa selalu ada 'pesan' dari Yang Maha Kuasa kepada hambanya. Ternyata proses keseharian seperti ini membuat hubungan kami semakin dekat, karena tak segan untuk saling mengingatkan satu sama lain. Toh, orang tua juga manusia biasa yang sering kali lupa.

Hal-hal kecil yang dapat dilakukan untuk membangun kedekatan melalui belajar tentang hidup diantaranya :
  1. Setiap akan menyebrang jalan berkata, "Ya Allah, tolong tundukkan para pengendara agar kami bisa menyebrang dengan lancar", dan setelah selesai tak lupa mengucap "Terima kasih Ya Allah, kita sudah bisa menyebrang dengan selamat.."
  2. Ketika dalam perjalanan kehujanan, "Maha Suci Engkau Ya Allah, Tuhan yang Maha Menundukkan. Tundukkanlah hujan, angin, guntur di sekitar kami. Jika bukan Allah yang menundukkan, maka kami tidak akan mampu menguasainya. Dan hanya kepada Allah lah kami kembali". Sadar nggak, kalau kata-kata di atas adalah arti dari Doa Dalam Perjalanan yang mungkin sudah anak-anak kita hafal (tanpa mengetahui maksudnya)? That's why saya selalu berusaha mengajak anak-anak berdoa dengan Bahasa Arab kemudian diartikan dalam bahasa Indonesia sesuai dengan situasi kita saat itu. Bukankah itu arti "AlQur'an sebagai pedoman hidup" yang sebenarnya?
  3. Saat anak-anak jatuh ketika bermain, alih-alih marah. Hal pertama yang saya ungkapkan adalah, "Kira-kira Allah mau ngingetin Abang apa ya, sampai dibuat jatuh dulu begini?" dan si Abang akan menjawab bahwa dia main terlalu lama, sudah hampir maghrib tapi belum pulang, main tidak pakai sandal dsb, yang intinya sang anak tahu bahwa jatuhnya dia bukan karena keteledoran semata, namun ada peringatan lain dari Allah. Setelah itu biasanya saya juga mengakui, "Astaghfirullah, ampuni Bunda Ya Allah, yang lupa nggak manggil Bang Azka padahal sudah mau maghrib.." serta hal-hal lain yang mungkin saya abaikan saat itu. Bagaimanapun selalu ada pelajaran, baik bagi yang mengalami, yang melihat maupun yang terkena dampaknya secara tak langsung. Karena kita adalah orang-orang yang berakal sebagaimana tercantum di QS. Ali Imran ayat 191 di atas.
  4. Bila ada anak yang sakit, seperti demam. Biasanya saya akan memberinya penurun panas Tempra Syrup terlebih dahulu. Kemudian kami akan saling mengingatkan. "Kenapa ya, Allah berikan sakit buat Abang / Adek?" Jawaban anak bisa beraneka ragam, bisa karena suka pilih-pilih makanan, suka lupa berkata keras sama Bunda, sholatnya nggak tepat waktu, terlalu banyak main hingga kecapekan dan apapun yang terlintas di benak mereka kala itu. Setelah itu saya juga meminta maaf kepada mereka karena mungkin sering galak, mudah marah, yang kesemuanya itu lantas kami istighfarkan untuk memohon ampun pada Allah agar memberi kesembuhan.
"Dan ketika aku sakit, maka Allah lah yang akan menyembuhkan"
QS. Asy-Syu'ara : 80

Sebagai ibu tentunya saya juga tidak ingin anak-anak terlalu bergantung pada obat. Kami percaya bahwa obat hanyalah sarana ikhtiar kita sebagai manusia, selanjutnya harus tahu pelajaran apa yang hendak Allah sampaikan melalui sakit ini, karena Allah lah Yang Maha Menyembuhkan. Itulah mengapa persediaan obat kami cukup penurun panas seperti Tempra Syrup. Karena penggunaannya yang mudah (tanpa dikocok terlebih dahulu), dosisnya yang tepat untuk anak-anak, serta yang terpenting adalah aman di lambung, cocok untuk si Abang yang memiliki kelebihan produksi asam lambung. Selanjutnya perbanyak istighfar secara rinci atas hal-hal (yang telah kita lakukan) yang membuat Allah tidak suka, barulah bertawakkal atau menyerahkan kepada Allah. Jangan sampai hal yang kita alamai terjadi begitu saja dengan sia-sia tanpa kita bisa memperoleh pelajaran apapun.

Membangun Kedekatan Ibu dan Anak dengan Belajar Tentang Kehidupan
Membangun Kedekatan Ibu dan Anak dengan Belajar Tentang Kehidupan

Melalui belajar bersama tentang kehidupan, anak-anak menjadi lebih jujur dan terbuka. Begitupun saya sebagai ibu, tak perlu malu mengakui kesalahan di depan anak. Dengan begitu hubungan ibu dan anak akan terasa sangat dekat karena memiliki dasar pemikiran yang sama, yaitu Robbana maa kholaqta hadza baatilaa..

Semoga bermanfaat.


Disclaimer : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

4 comments:

  1. Saya suka tulisannya bun. Menyampaikan ilmu dengan menyisipkan dalilnya juga. Semoga anak-anak kita sehat ya bun ��

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah mba, mengajarkan tauhid lewat kjadian sehari-hari yaa,makasih mba sharenya yaa...:)

    ReplyDelete
  3. waahh patut dicontoh ni mak :)

    ReplyDelete
  4. Bagus banget, lanjutkan ngajarin tauhid lewat kejadian sehari hari

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.