Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional?

Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional? Menurut penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, orang Indonesia rata-rata menghabiska...

Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional?
Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional?
Menurut penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu hanya 30 - 59 menit untuk membaca. Sedangkan jumlah buku yang ditamatkan adalah 5 - 9 buku dalam setahun. Hasil ini belum menjelaskan secara detil apakah yang dibaca berupa buku konvensional atau berita di media daring? Apakah 5 - 9 buku tersebut sudah termasuk buku pelajaran di dalamnya? Duh, rasanya betul-betul miris begitu menyadari rendahnya budaya literasi di masyarakat kita.

Berkaca dari masa kecil saya, memiliki buku selain buku pelajaran adalah suatu kemewahan. Selama masa Sekolah Dasar (SD) saya bahkan tak pernah memiliki buku lain itu, apalagi menginjakkan kaki di sebuah toko buku. Rasanya masih banyak hal lain yang menjadi prioritas di keluarga kami kala itu. Lagipula dulu belum ada kegiatan parenting di sekolah-sekolah seperti saat ini, hehe.. Meski begitu, saya masih dapat mengunjungi perpustakaan sekolah dan meminjam buku dari sana. Masih melekat buku-buku yang sering kali saya baca. Mulai dari majalah Bobo, buku cerita rakyat hingga kisah para sahabat nabi yang menjadi favorit saya. Menginjak usia SMP dan SMA mulai bertambah pula referensi saya tentang buku, tentu saja masih lewat pinjam meminjam antar teman. Bukan membeli.

Barulah ketika di bangku kuliah, saya mulai bisa menyisihkan uang saku untuk membeli buku. Dan untuk pertama kalinya saya pun berhasil menginjakkan kaki di toko buku Gramedia yang tersohor itu. Hehehe... Sungguh membanggakan, bisa nongkrong di toko buku berjam-jam dan hanya membawa pulang sebuah buku hasil tabungan sendiri. Maklum saja, karena terbatasnya uang yang saya miliki, saya harus betul-betul mempertimbangkan buku mana yang pada akhirnya akan saya beli. Udah semacam butuh sholat istikharoh gitu, hahaha..

Itulah mengapa ketika berkeluarga dan dititipkan rezeki yang cukup oleh Allah, hal pertama yang saya lakukan adalah mengajak kedua putera kami ke toko buku! Sebuah kemewahan yang mungkin tidak mereka sadari. Bahkan sang ayah yang kurang melek literasi alias nggak suka baca buku, rela menunggu berjam-jam di lantai bawah agar kedua anaknya sadar akan pentingnya literasi. Jadi bersyukurlah ketika anak anda terlihat begitu bahagia tiap kali memasuki toko buku. Artinya mereka telah menemukan sisi menyenangkan dari membaca buku.

Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional?
Selalu cari tempat nyaman selepas hunting di pameran buku

Dengan banyaknya e-book yang mulai memenuhi dunia digital, masih penting nggak sih baca buku konvensional yang tebal-tebal itu? Yess, sangat penting! Bagi saya, keberadaan buku konvensional tak akan pernah tergantikan. Mengapa?

1. Membawa keintiman

Saya cukup sering membaca buku digital pada telepon pintar. Yang terjadi adalah, ketika saya telah menuntaskan semua isinya, ya sudah begitu saja. Lalu saya akan beralih ke judul lain yang menarik minat saya. Apakah pengetahuan yang saya peroleh akan sia-sia? Tentu saja tidak. Tapi tidak ada keintiman yang saya dapat seperti ketika membaca dengan membuka lembar demi lembar buku. Sesekali bisa saya tandai, saya lipat ujungnya, saya tulis catatan kecil, atau bahkan saya selipkan kertas sebagai pengingat hal penting yang sekiranya akan saya perlukan di kemudian hari. Kedekatan itu yang tidak bisa dibeli secara daring.

2. Perpustakaan mini di rumah

Yup, kalau kita terus-terusan membaca buku digital, mungkin kelak tidak ada lagi yang menginginkan perpustakaan mini di rumahnya. Nyatanya, setiap orang besar dan sukses, selalu punya ruang belajar yang dilengkapi buku dengan berbagai latar keilmuan. Meski masih terbatas, setidaknya kami memiliki tempat untuk meletakkan buku-buku kesukaan kami di rumah. Pastinya selain buku pelajaran, ya!

3. Bau buku baru

Memang sedikit konyol, tapi siapa yang menyangkal bahwa membuka lembar demi lembar kertas pada buku baru sangatlah menyenangkan? Apalagi dengan pose tangan kiri memegang buku dan tangan kanan menarik lembaran dengan cepat dari depan sampai akhir. Hehehe... Hal receh itu lho, yang nggak bisa saya dapatkan ketika membaca buku digital.

4. Warisan

Salah satu yang membuat saya tetap membeli buku-buku cetak di pasaran adalah sebagai warisan. Ya, untuk diwariskan kepada anak-cucu di kemudian hari. Bukankah pengetahuan akan jauh lebih bernilai daripada sekedar harta tanpa ilmu pengetahuan? Bahkan sejak anak-anak kecil, saya sering menceritakan kembali buku yang baru selesai saya baca. Buku ini tentang apa, hingga pesan atau pelajaran yang bisa kami ambil dari sana. Biasanya saya mengakhiri dengan pesan provokatif, seperti, "Besok kalau abang dan adek sudah mulai nyaman baca buku yang nggak ada gambarnya, buku ini dibaca, ya. Insyaa Allah buku ini bisa bikin kita makin cinta pada agama. Ternyata banyak pahlawan Islam yang super keren, lho. Udah gitu asli, bukan khayalan seperti di televisi". Hehehe.. Sejauh ini kata-kata itu cukup sukses bikin mereka penasaran. Terbukti beberapa buku yang saya rekomendasikan telah tuntas dibaca si abang (meski nggak ada gambarnya).

Bicara Buku, Pilih Digital Atau Konvensional?
Bahagianya bisa belanja buku ^,^

So, masih bingung pilih buku digital atau konvensional? Selama dapat menumbuhkan minat baca dalam keluarga, keduanya tak jadi masalah. Tapi untuk buku-buku tertentu yang sangat penting bagi kita pribadi, pastikan untuk memiliki versi hard copynya. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Related

Pendidikan Anak 4415717059486298621

Post a Comment

  1. saya juga salah satu orang yang lebih senang menggunakan buku digital. tapi emang harus diimbangi juga dengan buku kovensional ya mba, soalnya buku konvensional ada wujudnya dan bisa dibaca berulang kali dalam waktu lama. semangat meningkatkan literasi keluarga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba, bagaimana pun enaknya baca buku digital. Tetep kenikmatan baca buku konvensional itu tak tergantikan. Dan sangat menarik untuk mengenalkan budaya literasi padaa anak-anak

      Delete
  2. Bener Mbak... bau buku baru tuh nyenengin. tapi kalau buat suamiku bikin pusing katanya :D

    Aku sekarang sering milih buku digital karena alasan ekonomis, tapi kalau untuk anak-anak masih buku konvensional dulu.

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

Member of

Member of

Part of

Blogger Perempuan

Member of

Member of
Blogger Perempuan Semarang

Follow by Email

Random Artikel

item