Aug 19, 2015

Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah

Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah
Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah
TERJEBAK DALAM CARA BELAJAR YANG SALAHTadi malam saat kami sekeluarga pergi ke toko buku Gra****a, saya sempat heran melihat parkiran yang biasanya penuh sesak, tampak lumayan sepi. Padahal masih terhitung weekend. Kemudian saya baru sadar bahwa besok adalah minggu ujian bagi anak-anak sekolah. "Ooo pantes sepi, pada belajar di rumah pastinya..."

Saya jadi berpikir, ternyata masih banyak orang tua yang menganut cara belajar konvensional bagi anak-anaknya. Layaknya jaman saya sekolah dulu, saat musim ujian tiba, NO jalan-jalan, NO keluar rumah, NO main-main. Pokoknya HARUS serius belajar di rumah!

Hal yang sama juga masih saya lakukan pada putra sulung kami. Saat ujian semester satu kemarin, saya mengajaknya belajar dengan duduk fokus belajar dengan durasi 10-15 menit sekali duduk. Satu dua kali masih mau, tapi lama-lama anaknya kabur kesana kemari, sambil lari-lari yang akhirnya tidak fokus pada apa yang ingin saya sampaikan. Wal hasil si abang yang ujian, tapi justru saya yang senewen. Wkwkwk

Setelah membaca tentang Learning Style atau pengenalan cara belajar, saya jadi tau bahwa abang adalah tipe anak kinestetik (banyak bergerak & beraktivitas), intrapersonal (suka bertemu banyak orang, bersosialisasi) dan linguistik (senang mengenal istilah baru, selalu kepo dengan kata-kata yang 'menarik'). Setidaknya tiga hal itu yang menonjol dibanding dengan lima tipe multiple intelegencies lainnya. Luar biasanya, dengan begitu saya jadi tahu bagaimana cara belajar yang asyik buat abang.

Jadi mulai semester dua ini meski di musim ujian sekalipun, abang tetap boleh main lego sama adeknya, tetap boleh pergi ke toko buku di hari ujian, tetap boleh berkunjung ke rumah eyang, tetap bisa melakukan hal-hal seperti biasanya. Terus kapan belajarnya? Setiap saat adalah belajar! Review materi ataupun belajar bisa kami saat perjalanan di atas motor (sekalian biar ga ngantuk), di dalam mobil, saat mencari-cari buku, saat bermain, saat di warung sembari menunggu pesanan. Namun saat saya perlu abang untuk fokus maka saya akan membuat soal di selembar kertas, yang kira-kira tidak butuh waktu sampai 10 menit untuk menyelesaikannya. (Biasanya saat saya buat soal, abang melakukan aktifitas lain. Setelah soal selesai, saya panggil. 10 menit dikerjakan dan langsung kita review). Sehari biasanya 3 - 4 kali review tertulis, soalnya pun tidak banyak, yang penting saya bisa mengukur pemahaman konsepnya.

"Coba Bunda bayangkan kalau kita tidak pernah tau learning style yang sesuai dengan anak kita, berapa tahun ia harus tertekan selama bersekolah? Anak yang cenderung kinestetik dipaksa duduk serius berjam-jam, anak visual dipaksa mendengarkan ceramah, dll"

Dengan menerapkan cara belajar sesuai dengan kebutuhan anak, sekarang si abang tetep happy meski sedang ujian. Semester kemarin pun jadi pembelajaran bagi saya untuk tidak memaksakan sesuatu pada anak, termasuk cara belajar. Coba Bunda bayangkan kalau kita tidak pernah tau learning style yang sesuai dengan anak kita, berapa tahun ia harus tertekan selama bersekolah? Anak yang cenderung kinestetik dipaksa duduk serius berjam-jam, anak visual dipaksa mendengarkan ceramah, dll. Terlebih lagi di masa ujian seperti sekarang, pasti aura ketegangan terasa di rumah dan di wajah anak-anak kita (pengalaman pribadi). Hehe..

Apakah kita ingin menambahkan anak kita menjadi generasi depresi di negara ini? Think about it..

‪#‎learningstyle‬

4 comments:

  1. Anakku modelnya visual mbak susah seh klo suruh ngapalin gtu jd emaknya harus kreatif ngajarinya

    ReplyDelete
  2. Setuju mba... Penting sekali mengenali tipe anak shg ttp enjoydlm belajar & mendapatkan hsl yang sesuai harapan ya..

    ReplyDelete
  3. Aku termasuk ibu yang nyantai kalo urusan belajar. Kalo memaksa anak belajar dan mereka kurang konsen juga nggak bakal masuk ke otak. Jadi belajar terserah mereka aja, mau sambil nggambar atau dengerin lagu, it's oke

    ReplyDelete
  4. Aku nggak begitu ketat urusan belajar akademis mbak. Kalau yg seni2 malah kusupport bgt. Tp nggak sampai kudorong2 jg hehehe.

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.