Oct 21, 2015

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2

Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2
Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2
gambar : ldkkarismauai.wordpress
Artikel berikut merupakan sesi tanya jawab dari Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga Muslim #2, yang materinya dapat Bunda baca pada artikel sebelumnya di Pelajaran Pertama dalam Kurikulum Keluarga #1

TANYA JAWAB
1. Bunda Amalia
Saya dan suami merasa belum mampu mendidik anak sendiri sesuai cita-cita kami terutama bab mengajarkan Al Quran. bolehkah kami menitipkan anak kami di pesantren tahfidz?

Jawab
Anaknya usia berapa ? Di usia dini, anak-anak sangat perlu kehadiran orang tua. Berbeda jika si anak sudah besar. Setelah berada di bawah asuhan orang tua, diberikan pemahaman pentingnya ilmu agama, lalu si anak berpikir lebih baik ia mencari guru yang ahli dalam agama, maka ia memutuskan untuk melanjutkan ke pesantren. Beda dengan : Orang tua menginginkan si ank masuk pondok, lalu akhirnya dimasukkan ke pondok.

Jadi yang penting untuk diingat, berikan stimulasi, pemahaman, agar anak sadar penting dan utamanya mempelajari ilmu agama, biarkan ia menyimpulkan, ia harus mondok atau memanggil guru, atau 'hanya' sekolah beragama. Alloohu a'lam. Kalau untuk anak usia 6th, menurut pengalaman beberapa pondok sangat menganjurkan berada di bawah pengasuhan orang tua.

Materi yang dipelajari sampai usia 12th adalah perkara agama yang hukumnya wajib / fardhu 'ain; seperti bersuci, sholat, puasa, mengenal Allah, mengenal Nabi, mengenal Islam. Saya dulu pun khawatir anak-anak tidak mendapatkan pengajaran agama yang cukup. Jika mau berusaha, carilah buku rujukan dan materi-materi dasar ilmu agama. Jika merasa tidak sanggup, panggillah guru, belajar bersama-sama, atau pilihan-pilihan lainnya.

Seorang anak bs memutuskan mondok pada usia memasuki baligh, kira2 12 atau 13 th, tergantung bagaimana ia disiapkan dan kematangan emosinya.

2. Bunda Meydiana
Assalamualaikum Ummu Abdillah. Saya Ibu Pelaku HS sejak 1,5 th yang lalu setelah putri kami lulus dari SD formal (saat ini putri kami usia 13 th). Visi dan Misi kami ingin  menimba Ilmu Agama lebih dalam, namun saya merasa masih banyak yang tertinggal, karena bekal ilmu saya pun sangat kurang, sehingga saat ini kami belajar bersama. Membayangkan betapa banyak hal (Aqidah, Fiqih, Akhlak) yang banyak belum kami kuasai, kadang merasa berat mempelajarinya. Bagaimana menghidupkan dan menjaga niat kami ini. Mohon penjelasannya Umm...Syukron Jazakumulloh ..

Jawab
Wa'alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh. Maasyaa Alloh Ibu Mey, salut dengan semangatnya. HS itu tidak harus semua hal diberikan dari orang tua. HS itu mengeluarkan potensi, dan mengembangkan kecintaan belajar dan ilmu. Semangat ini harus dimiliki oleh semua anggota keluarga. Tak usah ragu untuk menghadiri majelis ilmu bersama dengan sang anak. Atau memanggil guru ke rumah. Posisi orang tua dalam HS akan bergeser, sehingga anak menjadi pembelajar mandiri dan kita bersama-sama dia belajar ilmu agama.

Perhatikan keutamaan penuntut ilmu (agama), maasyaa Alloh luar biasa. Saat ini kajian-kajian bisa diunduh dengan mudah, simpan di gadget, lalu dengarkan saat pikiran tenang. Alloohu a'lam

3. NN
Bagaimana cara mengukur pencapaian anak dalam kurikulum HS? Terutama pencapaian pembelajaran tentang dienul Islam, misalnya pengokohan aqidah anak?

Jawab
Pencapaian ilmu agama terlihat antara lain dari sikap, perilaku dan pikiran si anak. Misalnya saat di swalayan, si anak sudah sangat haus, lalu dia segera ambil air mineral di dekat kasir, dengan sabar ia antri di kasir, membayar minuman, lalu mencari tempat untuk duduk. Ia duduk, membuka botol minuman, membaca bismillah, lalu menenggak air minum tsb. Hal itu menunjukkan pemahaman anak akan sikap sabar menahan haus, antri tertib, adab minum. 

4. Bunda Meliz.
Dari keempat hal yang tersampaikan, mana yang perlu jadi prioritas. Mana yang paling awal diajarkan atau ditekankan pada anak-anak?

Jawab
Semuanya bisa secara simultan diajarkan, karena saling terkait. Misalnya tentang ibadah, akan juga membahas adab. Belajar akidah, akan menyinggung ibadah juga. Kalau untuk keperluan raport, saya ujian lisan saja ke anak-anak.

Evaluasi secara non formal tentu setiap hari, dengan mengawasi perilaku (pengawasan yang wajar, tidak berlebihan). Kalau evaluasi dalam rangka pengisian raport, setiap akhir semester (tiap keluarga tentu punya pola yg berbeda).

5. Bunda Istina
Untuk raport itu kita membuat sendiri atau bagaimana? Jika akan mengikuti ujian kesetaraan apakah raport itu bisa diterima jika kita membuat sndr?
Dengan putra bu maya 3 orang tsb, bagaimana mengatur jadwal dengan anak-anak yang berbeda umur? Mulai umur berapa putra / putri bu maya HS?  Kadang kami memberikan amanah yang lebih banyak pada sang kakak dibanding adiknya, karena kami melihat ia mampu. Tapi terkadang si kakak merasa tidak terima karena amanahnya lebih banyak dibanding adek. Bagaimana menjelaskan hal ini ke kakak agar kami bisa bersikap adil?

Teknis pengajaran yang dilakukan bu maya selama ini bagaimana? Mungkin bisa diberi contoh apa saja yang dilakukan putra putrinya dari bangun tidur sampai tidur lagi? Prosentase pengajaran tentang aqidah, adab, fikih dengan ilmu-ilmu lain bisa digambarkan seperti apa? Sehingga kami punya tolok ukur prioritas.

Jawab
Tentang raport, saya ikut komunitas. Teman saya yang hs juga, mengurus izin pembentukan yayasan, lalu secara formal bisa menerbitkan raport. Karena sudah terdaftar, maka diterima. Sudah beberapa anak yang mengikuti ujian kesetaraan dengan bekal raport tsb dan lulus.

Jadwal anak-anak bergantian antara menulis dan membaca dengan setoran hafalan. Kalau anak ke 3 targetnya hanya hafalan dan iqro. Anak pertama pelan-pelan sudah bisa mandiri belajarnya. Otomatis yang perlu perhatian ketat anak ke 2. Materi-materi diniyyah kami menggunakan buku pelajaran dari penerbit attuqo untuk dipelajari bersama, ditambah buku ustul tsalatsah untuk dibaca ibu, ensiklopedia adab utk ibu, dll.

6. Bunda Heksa
Assalamu’alaykum bunda Maya Ummu Abdillah. Saya bunda Heksa, sulung kami tahun ini setara kelas 1. Kami memutuskan memulai HS karena kondisi mengikuti suami yang berpindah pindah. Sebagaimana yang telah bunda Maya sampaikan, kami berusaha memprioritaskan topik dasar wajib seperti tema aqidah, belajar wajib shalat, aplikasi doa-doa, beberapa adab, hafalan dan membaca al Quran. Untuk penyaluran hobi seperti menggambar ekspresi, membantu di dapur dan bermain peran bersama teman kami fasilitasi sebagai selingan. Kami 3-4 bulan ini ritmenya seperti menerbangkan layang layang, terutama tentang bab adab dan interaksi quran. Meski alhamdulillah kami berusaha sekuat mungkin mengembalikan pada jalur yang seharusnya. Yang hendak saya konsultasikan bunda :
1.Sejauh mana toleransi kita jika suatu saat topik perencanaan kita jauh melenceng pelaksanaanya. Selain kami baru pengalaman pertama menerapkan HS, putri sulung kami suka tiba-tiba meminta topik yang dia sangat ingin tau. Berapa lama umumnya ananda akan dapat diajak kerjasama / dilibatkan merancang topik?
2. Apakah ada grup khusus orangtua pelaku HS yang membahas kurikulum dan pelaksanaanya?

Jawab
Bunda heksa, baarokalloohu fiikum semoga usaha keluarga bunda mendapat berkah dari Allah. Semakin lama hs, saya merasa sebenarnya kita sedang mengajar diri kita sendiri. Kita sedang mengolah emosi kita, belajar menyampaikan ide ke anak-anak dengan baik.

Anak saya sejak usia 8th meminta jadwal, yang akhirnya dia susun dan jalankan sendiri. Apabila terlintas ide di otaknya, dia biasanya bilang ke saya, lalu saya tanya bagaimana perencanaanya, apa tujuannya, dsb. Minimal anak-anak hafalan dan baca quran, itu bagi keluarga kami. Jika ia sudah melakukan 2 hal itu, ia boleh memulai proyeknya. Maksud saya, bila jadwal tak berjalan, minimal anak-anak hafalan dan memmbaca quran.

7. Anik Uminya Baim
Bagaimana cara mengukur pencapaian anak dalam kurikulum hs? Terutama pencapaian pembelajaran tentang dienul Islam, misalnya pengokohan aqidah anak.

Jawab
Pencapaian dalam ilmu agama terlihat dari perilaku, sikap, dan pemikiran anak sehari-hari. Misalnya, si anak bukunya hilang, lalu ia mulai menyalahkan saudaranya, dst. Ingatkan, kak, kita kan tau bahwa semua terjadi atas kehendak Alloh, adik hanya menjadi sebab saja hilangnya buku kakak.

8. Wulan
Saya seorang working mom, sejauh ini selama saya pulang kerja saya sudah melakukan aktivitas semacam homeschooling dengan putra saya (3th). Sebetulnya ingin seperti bunda maya yang bisa full homeschooling, tapi karena saya bekerja jadi saya pikir belum bisa sepenuhnya (karena masih via sekolah). Bagaimana tips nya ya bun? Selain itu selama bunda maya menghomeschooling putra putrinya, bagaimana tips anger management ketika ada kendala (misal anak sedang sensitif,dll). Makasih

Jawab
Maasyaa Alloh, luar biasa, bekerja dan masih menyempatkan diri. Yang sudah Bunda lakukan biasa dikenal dg istilah afterschooling. Coba pelajari lg jenis kegiatan ini. Homeschooling bukan segalanya, belum tentu lebih baik, hs hanyalah salah satu cara dari sekian ribu cara kita memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua.

Soal mengatasi emosi marah, jujur saja ini sangat sulit, saya pun masih sering terpancing untuk marah-marah. Yang saya lakukan kalau sudah begitu biasanya diam dulu. Tinggalkan tempat, lalu kembali jika sudah tenang.

9. Yanti
Saya yanti, anak saya 6th, baru memulai HS. Untuk berjaga-jaga jika nantinya anak kami ingin meneruskan di sekolah formal (untuk tingkat SMP),  kira-kira umur berapakah kami bisa memberinya pelajaran akademis secara lebih serius? Ataukah kami sekarang ini hanya cukup memperkenalkan saja dengan ilmu-ilmu akademis tersebut? Terimakasih sebelumnya.

Jawab
Untuk bunda Yanti, tiap anak berbeda bun, kalau anak saya tidak terjadwal sampai 7th. Ia meminta sendiri belajar terstruktur. Jalani saja, berikan lingkungan dan stimulasi terus menerus, insyaa alloh akan keluar potensi, keberanian, inisiatif, dll.

KESIMPULAN
Kesimpulan kita malam ini, prioritas kita dalam mendidik anak-anak adalah dalam hal ilmu agama. Ilmu dunia adalah sesuatu yang mudah dan bisa dipelajari kapan saja. Rujuklah urusan-urusan agama pada buku-buku yang sahih, ulama yang soleh. Semoga Alloh meridhoi langkah kita, aamiin. 


PROFIL NARA SUMBER
Nama : Maya Dwilestari, Ibu dari 3 oranganak  (11, 8, 5). Menjalani HS sejak 2007.
Domisili Bitung, Sulawesi Utara
Suami PNS
Profil saya dan suami: biasa-biasa saja, kami tinggal berpindah-pindah sesuai penugasan negara.
Anak-anak senang bermain, membuat sesuatu, belajar berbisnis, dsb
Fb saya: maya umm abdillah
Blog: www,ummujita.blogspot.com

Disusun ulang dari :

Sumber : DISKUSI HSMN SEMARANG 
Tema : Pelajaran Pertama dan Utama yang harus ada dalam Kurikulum Keluarga Muslim
Tanggal 14 Oktober 2015
Pukul 20.00 - 22.00 WIB
Narasumber : Bunda Maya Ummu Abdillah
Notulen : Hanik Asmawati
Moderator : Kamilia dan Suri

No comments:

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.