Sep 18, 2017

Tips Berkomunikasi dengan Anak

Tips Berkomunikasi dengan Anak
Tips Berkomunikasi dengan Anak
Komunikasi adalah Proses mengungkapkan isi hati, jiwa dan pikiran secara verbal (lisan, tulisan, gambar dll)  atau non verbal (bahasa isyarat,  ekspresi  wajah, sentuhan, gerak tubuh dll). Sehingga orangtua dapat memahami anak untuk berkembang dan belajar, sedangkan anak bisa mendengar, menyerap dan memaknai apapun yang kita ucapkan, sehingga pikirannya akan berkembang dan dapat mengungkapkan isi hati atau pendapatnya berdasarkan penalarannya sesuai usia anak.

Tujuan membangun  komunikasi :

  1. Menjalin kedekatan orangtua dan anak.
  2. Sebagai sarana mengungkapkan kasih sayang. 
  3. Sebagai media menyatakan penerimaan atau penolakan atas pendapat yang disampaikan. 
  4. Sarana mengembangkan diri dan potensi yg dimiliki anak.
  5. Sebagai kontrol terhadap prilaku anak yang kurang baik.
  6. Anak dapat memahami / membangun pengertian dan mengenal dirinya sendiri melalui kata-kata orangtua
Komunikasi secara natural sudah dibangun semenjak anak dalam kandungan, biasanya ibu yang sedang hamil, mengusap perutnya sambil mengucapkan harapan-harapan atau mengajak bicara dan spontan janin yang ada dalam perut pun memberi respon dengan gerakan gerakan. Ungkapan keterbukaan dan spontanitas yang jujur lah yang kemudian membantu orangtua mengetahui dan mengikuti perkembangan jalan pikiran anak.

Syarat orangtua komunikatif adalah :
Menjadi pendengar yang baik dan memunculkan keterbukaan
Keterbukaan sangat penting dalam perkembangan kepribadian anak. Anak akan mengalami banyak masalah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya sampai usia remaja. Orangtua dalam hal ini dengan kata-kata, senyuman, pelukan kasih, cium sayang menyampaikan fakta, gagasan, pengetahuan,  nilai dan norma. Sedangkan anak dengan mudah dapat menyampaikan pikirannya, perasaannya, keinginannya dan pendapatnya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membangun komunikasi efektif kepada anak antara lain adalah :
1. Melakukan berbagai hal bersama anak dan menjadi teman baik. 
2. Bersikap adil dalam kedisiplinan dan menghargai hak anak.
3. Menciptakan suasana hangat, bahagia.
4. Memberi contoh yang baik. 
5. Menunjukkan rasa kasih sayang.
6. Bersikap cukup permisif dan luwes.

Dengan keterbukaan yang dilandasi kejujuran, ketegasan dan konsistensi, orangtua bisa mengetahui dan mendapat gambaran akan masalah yang sedang dialami oleh anak. Sehingga orangtua bisa membantu memberi masukan, pandangan,  atau alternatif solusi.


*SESI TANYA JAWAB*
1. Bunda An-Nahl_HSMN Surabaya
Assalaamu'alaykum
1. Mbak Meydian saya mau tanya komunikasi dengan keterbukaan bagaimana ya maksudnya? & mungkin contohnya?
2. Bagaimana caranya agar saat anak sedang menggoda dengan tidak mendengarkan nasehat / perkataan ortunya (saat melakukan hal yang salah), apa yang harus dilakukan? Apa diam sejenak?
3. Mbak kapan ya agar perkataan (memasukkan ilmu, nasehat dll) agar masuk & bertahan di dalam ingatan anak?
Jazaakillaahu khoyron atas jawabannya

*Jawaban Narsum* :
Waalaikumsalam Bunda...
1. Keterbukaan yang dimaksud adalah jujur dan memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan semua yang dirasakan, bahkan tentang kekurangan atau kesalahan orangtua. Artinya ada kebebasan berpendapat, yang kemudian akan menjadi koreksi atau perbaikan diri bagi orangtua maupun anak .
2. Coba dengan sentuhan, pegang punggungnya usap usap, sambil panggil namanya. Anak sholih / sholiha, dengar Bunda kan? Kemudian tunggu responnya, InsyaAllah ada perbedaan saat anak hanya diajak bicara saja dan saat dengan sentuhan. Dicoba ya Bund... 
3. Biasanya saat menjelang tidur, atau saat anak sedang tidak melakukan aktifitas berat.. Misal sedang baca buku, main di taman, duduk-duduk.

2. Ifa_HSMN Malang Anak laki" usia 3th (Varo)

Assalamualaikum, Bagaimana cara mengatasi anak yang emosi ketika permintaannya tidak dituruti? Apalagi marah di depan orang lain, kadang terpaksa saya turuti karena dibelai oleh orang yang merasa kasihan.

*Jawaban Narsum* :
Waalaikumsalam Bunda Ifa Sholiha... 
Orangtua harus konsisten dengan aturan yang sudah disepakati, jadi jika anak menangis di depan orang banyak untuk mempertahankan keinginannya, dan kita orangtua tidak bertahan dengan aturan kita,  maka menangis dan meminta sesuatu di depan orang banyak atau didepan tamu misalnya akan menjadi senjata anak untuk memenuhi keinginannya.

Pilihannya adalah : orangtua tidak perlu malu dan kasian. Saat anak menangis di depan orang banyak, segera ajak anak pulang / masuk rumah. Tenangkan hatinya. Setelah tenang kemudian beri pengertian, kenapa orangtua tidak memenuhi keinginannya. Harapannya adalah anak tidak menggunakan tangis untuk meminta sesuatu.

3. Bunda Aprilia Rahma_HSMN Surabaya.

Dalam berkomunikasi dengan anak, kitalah pemegang tanggung jawab atas apa yang kita utarakan. Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak yang masih dalam masa egosentris. Jazakillah khoir.

*Jawaban Narsum* :
Masa yang menggemaskan yaa Bund. Kata-kata yang sering keluar dari anak usia egosentris adalah "pokoknya aku......". Sebenarnya di setiap jenjang usia anak, ada masa dimana anak mempertahankan pendapatnya. Saya lebih senang menanggapi  dengan menggali keinginan keinginannya sekaligus menanyakan alasannya. Sehingga anak terbiasa untuk memberikan argumen tentang sesuatu yang diinginkan berdasarkan alasan yang benar. Dan orangtua wajib menghargai keinginannya jika benar. Perhatikan sudut pandang anak dan orangtua berbeda, sesuaikan dengan daya nalarnya. Dengan menghargai pendapatnya maka kita sudah menanamkan Percaya Diri pada anak.

*Tanggapan*dari Bunda April : 
Bund Mey, anak saya itu jika melakukan sesuatu, lalu saya tanya alasannya  kadang jawabannya ga nyambung. Itu bagaimana ya? Jadi udah ngeyel tapi kurang pas. Contohnya, kenapa kakak dorong adik? Jawabannya kakak lapar, seperti itu bund.

*Jawaban Narsum*:
Hihihihi... Iyya Bund. Karena lapar membuatnya marah dan kesel, jadi mukul deh. Hebat kakak sudah mau jawab. Jadi kita tau penyebabnya. Tinggal PR kita untuk mengarahkan perilakunya yang salah. Sampaikan kalau kakak lapar ya makan dong atau bilang sama Bunda. Demikian Bunda.

4. Bunda Dycka_HSMN Malang

Assalamu'alaikum wr.wb. Semoga mbak meydina selalu dalam rahmat Allah.
Saya mau bertanya bunda, putra saya usia 28bln. Alhamdulillah bicaranya sudah sangat lancar, saya pun sering mengajaknya berbicara seperti ungkapan bahagia setelah main seharian sama dia. Tapi kadang dia melakukan hal-hal yang saya larang dengan sengaja. Jika saya ingatkan, semakin menjadi-jadi dan tertawa lari. Selesai itu saya ajak ngobrol, dia tau kalau itu salah. Cara komunikasi yang baik saat anak bersikap seperti itu bagaimana ya bunda? Karena kalau didiamkan kadang membahayakan dirinya sendiri.

*Jawaban Narsum* :
Waalaikumsalam wrwb Bunda Dika...
Begitulah cara anak meminta perhatian orangtua nyaIngat ya Bunda, jika anak tidak mengeluh, bukan berarti ia baik-baik saja, saat bermain bersama anak coba tanyakan apa yang paling di sukai dan apa yang tidak disukai atau yang membuatnya sedih, supaya kita paham perasaan anak. Barakallah.

5. Bunda Ayu Ertika Sari_HSMN Malang
Bagaimana kalau penanganan anak perempuan (3 th) yang suka nangis keras dan guling guling?Ketika di keluarkan dari kelas, teman yang lain seperti ikut-ikutan karena senang keluar kelas. Kalau tetap di dalam kelas, teman yang lain jadi ikut-ikutan nangis. Terimakasih

*Jawab Narsum*:
Anak yang tidak bisa menyampaikan keinginannya secara verbal/lisan, biasanya diungkapkan dengan menangis. Saat anak tantrum, sebaiknya ditenangkan dulu, terpisah dari teman-temannya.

Langkah yang bisa diupayakan adalah membiasakan membacakan buku cerita, kemudian meminta anak untuk menceritakan kembali apa yang sudah didengar. Tujuannya untuk melatih anak mengungkapkan perasaannya dengan baik. Atau ketika anak bercerita maupun mengajak orangtua bicara, berikan respon dan dengarkan cerita anak dengan serius, sehingga anak senang berbicara dan bercerita, pada akhirnya akan mudah mengungkapkan perasaannya.

*Tanggapan* Bunda Ayu :
Kalo menangisnya lama sampai setengah jam, apakah kita harus menunggu sampai anak tersebut tenang sendiri? Ketika di tanya, "minta apa" malah nangis terus, kenceng. Kalau diajak ngobrol, geleng-geleng kepala..

*Jawaban Narsum* :
Iyaaa, bahkan sampai 1-2 jam pun tidak mengapa. Selama tidak mengakibatkan perubahan kesehatannya (pingsan), biasanya anak yang menangis terlalu lama akan muntah atau batuk-batuk, kemudian tenang.

Setelah tenang, jangan langsung dinasihati. Biarkan anak sedikit melupakan tantrum nya. Setelah jeda cukup lama dalam suasana yang menyenangkan baru kita cerita-cerita. Tanyakan kenapa kakak tadi begitu sedih? Menangis keras? Apa yang membuat dia menangis? Jadi tanyakan penyebabnya saja. Bukan menyampaikan larangan. Setelah anak menyampaikan penyebabnya kita diskusikan lebih lanjut. Sebaiknya bagaimana anak mengambil sikap. Disini dapat disisipkan pesan, apa yang harus dilakukan anak. Mungkin juga,  ketidaktahuan anak dalam merespon sikap teman atau guru yang menyebabkan anak tantrum. Begitu ya Bunda, semoga membantu.

Demikian sharing Tips Berkomunikasi dengan Anak, semoga bermanfaat. Salam Hangat,

Sumber :
KULWAP HSMN MALANG & SURABAYA
Tema : *Ilmu berkomunikasi denga Anak*
Narsum : Ibu Meydiana  Rahmawati - Ibu dari anak Homeschooler
Tanggal : Rabu, 5 April 2017
Pukul : 19.00-20.30 wib
Moderator : Bunda Sari (HSMN Surabaya)
Notulen : Bunda Ifa (HSMN Malang Raya)

*CURRICULUM VITAE NARASUMBER HSMN*
✨ Nama lengkap : Meydiana Rahmawati S. T
✨ Status keluarga : 
Anak : Alifia Afflatus Zahra (15 th Homeschooler) 
Suami : Didik Ristanto (PNS Kementrian Kelautan Perikanan)
✨ Domisili : Semarang
✨ Riwayat pendidikan/pengalaman: S1 Teknik Kimia Undip
✨ Aktivitas saat ini: Ibu Rumah Tangga, Praktisi HS,  Ketua HSMN
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
hsmn
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: Generasi Juara
 instagram: @hsmuslimnusantara
 twitter: @hs_muslim_n
 web: hsmuslimnusantara.org

No comments:

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.