Oct 25, 2017

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak
6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak
Baru-baru ini saya banyak mencari informasi secara daring tentang tempat-tempat yang ramah anak. Mulai dari negara ramah anak, yang banyak didominasi oleh negara-negara kawasan Eropa seperti Swedia, Finlandia dan Denmark. Ada juga kota layak anak (KLA) di Indonesia, yang ternyata sudah di inisiasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak tahun 2006 dan telah lebih dari 200 Kabupaten / Kota yang mendapatkan predikat tersebut, termasuk Solo, Yogyakarta, Padang Panjang, Bandung, hingga Kota tercinta saya, Semarang yang baru saja mendapat penghargaan KLA di tahun 2017. Ini saya yang kuper atau informasinya yang kurang gencar, sih? Dan yang terpenting adalah, sejauh mana predikat ini turut dirasakan oleh masyarakat di Kota tersebut?

Alih-alih menyalahkan pemerintah dengan berbagai kekurangan dan keterbatasannya, tentu saya patut mengapresiasi gerakan positif semacam ini. Meski manfaat dari program Negara Ramah Anak serta Kota Layak Anak saat ini belum dapat kita rasakan secara langsung, namun kita pun bisa memulai dari lingkungan terkecil dengan menghadirkan Rumah Ramah Anak.

Rumah Ramah Anak sendiri bisa dilihat dari dua sudut pandang, secara fisik yaitu bangunan rumah itu sendiri dan secara psikis, yaitu dengan mengoptimalkan peran ayah dan ibu dalam keluarga untuk membuat anak merasa nyaman dan bahagia.

Berbicara tentang rumah impian ramah anak, artinya kita membahas fisik bangunan rumah itu sendiri. Tanpa menjadikan luasan rumah sebagai patokan, karena kondisi setiap keluarga yang berbeda-beda, berikut adalah 6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak :

1. Memiliki ruangan terbuka
Rumah dengan ruangan terbuka yang memadai akan membuat anak semakin leluasa dalam bereksplorasi. Manfaat lainnya adalah agar tercipta interaksi yang hangat antar anggota keluarga. Ruangan terbuka tidak harus memiliki luasan tertentu, namun bisa juga dengan menghilangkan sekat antar ruangan agar terkesan lebih luas. Seperti ruang keluarga dan ruang makan yang dibiarkan tanpa sekat atau penggabungan ruang-ruang lain tanpa menghilangkan unsur estetika dan fungsinya.

2. Menghindari furniture berujung runcing
Meski hal ini susah diterapkan untuk seluruh perabot yang ada di rumah, setidaknya letakkan lah di ruangan yang jarang digunakan anak. Meja ruang tamu saya terbuat dari kayu jati yang sangat berat dengan ujung runcing. Karena meja ini adalah pemberian, ya nggak nolak dong! Hahaha... Nah, cara menyiasatinya adalah dengan memastikan anak beraktifitas di ruangan lain, yaitu ruang keluarga yang dibuat tanpa sekat dengan ruang makan. Saya berusaha membuat ruang tersebut senyaman mungkin bagi mereka untuk main otopet di dalam rumah, main badminton sampai sepak bola sekali pun, sehingga mereka tak harus bermain di ruang tamu. Dan memang ruang tamu pun dibuat tak terlalu luas, hanya berfungsi jika ada tamu formal, yang mana jarang terjadi. Hahaha...

3. Membeli barang pecah belah? NO WAY!
Barang pecah belah itu 'enggak banget' untuk keluarga dengan anak di bawah 15 tahun, terlebih anak lelaki. Sebaiknya tunda dulu rencana membeli aneka kristal nan unyu-unyu itu hingga mereka dewasa, atau setidaknya hingga usia SMA. That's why barang pecah belah yang kami miliki hanyalah peralatan makan. Rumah dengan dua anak laki-laki itu WOW banget, kursi kayu aja bisa semplak!

4. Menggunakan material yang lembut sebagai alas
Alas yang lembut seperti karpet serta sofa yang empuk sangat penting bagi keluarga dengan anak balita, selain membuat mereka nyaman bermain juga menghindari risiko terjatuh, terpeleset hingga terbentur yang masih sering terjadi pada usia balita. Saat anak menginjak usia 6 tahun dimana kemampuan motoriknya sudah sangat terkontrol, cukup pastikan anak merasa nyaman dan alas yang digunakan bersih.

5. Menyediakan tempat bagi anak untuk berkarya
Untuk mengapresiasi karya anak, sediakan tempat khusus yang memajang segala kegiatan dan aktifitas mereka. Memasang gabus di dinding sebagai 'tempat pameran' serta membuat salah satu sudut rumah sebagai 'pojok main' bisa menjadi pilihan alternatif. Selain itu, kita juga bisa menyediakan dinding khusus tempat mereka bebas mencorat-coret dengan menggunakan cat berbasis karet (rubber base). 


6. Memastikan segala keperluan anak mudah dijangkau
Pastikan berbagai keperluan anak mulai dari almari pakaian, rak buku, tempat alat tulis serta mainan mereka diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau. Jangan membuat rak terlalu tinggi tanpa memberi sarana bagi anak untuk mengambilnya, bedakan pula ketinggian almari anak SD dengan adiknya yang masih TK. Hal-hal sepele namun seringkali membuat kita jadi abai terhadap keselamatan mereka. 

6 Ciri Rumah Impian Ramah Anak ini sekaligus untuk menjawab tantangan dari duo blogger alumni Teknik Arsitektur, Mba Archa dan Mba Dian Nafi pada #ArisanBlogGandjelRel periode 14 ini. Semoga bermanfaat!

4 comments:

  1. Waaah keren nih, ada tips untuk rumah nyaman dan aman bagi anak. Thanks for sharing ya:)

    ReplyDelete
  2. Rumahku ramah anak kok karena perabot secukupnya cuma belum ada anaknya hihi

    ReplyDelete
  3. Wah saya kuper ni mb, baru tahu KLA :(. Sepakat mb, perlu banget ni rumah di tata lg biar ramah anak..anak sy jg masih batita yg sukanya kesana kemari :(

    ReplyDelete
  4. Wah saya kuper ni mb, baru tahu KLA :(. Sepakat mb, perlu banget ni rumah di tata lg biar ramah anak..anak sy jg masih batita yg sukanya kesana kemari :(

    ReplyDelete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.