Kelapangan Jiwa, Kunci Menyembuhkan Luka

Kelapangan Jiwa, Kunci Menyembuhkan Luka Saat ini masyarakat telah mulai aware dengan masalah kesehatan mental. Sehingga istilah gangg...

Kelapangan Jiwa, Kunci Menyembuhkan Luka
Kelapangan Jiwa, Kunci Menyembuhkan Luka
Saat ini masyarakat telah mulai aware dengan masalah kesehatan mental. Sehingga istilah gangguan kecemasan atau anxiety disorder dan gangguan mood dimana bipolar menjadi salah satu bagiannya, sudah tak asing lagi di telinga kita. Yang kesemuanya perlu proses penyembuhan, baik dengan bantuan konseling maupun obat-obatan. 

Terlepas dari berbagai istilah tersebut, bukankah dalam hidup ini akan selalu dihadapkan pada masalah? But wait, beberapa tahun terakhir saya baru memahami bahwa hidup adalah perpindahan dari satu ketetapan menuju ketetapan yang lain. Kebahagiaan dan masalah hanyalah bagaimana kita melabelinya. Yup, masalah seringkali kita sematkan atas ketetapan yang tidak kita sukai, sementara kebahagiaan adalah respon saat menerima ketetapan yang kita sukai.  Kekecewaan kita akan suatu hal adalah salah satu contoh masalah, dan naik kelas dengan nilai yang baik adalah contoh kebahagiaan. Dari sini kita pahami bahwa kebahagiaan dan masalah adalah suatu keniscayaan dalam hidup. Namun perbedaan cara menyikapi 'masalah' tentu akan mempengaruhi perjalanan hidup seseorang. Itulah mengapa beberapa di antara kita ada yang menyimpan trauma, beberapa meninggalkan dendam, dan beberapa lainnya menyisakan kecemasan serta emosi yang belum tuntas. Jika masalah yang kita hadapi tak sampai mempengaruhi kualitas hidup, maka self healing bisa menjadi pilihan. 

Menurut laman pijarpsikologi.org, self healing adalah sebuah proses untuk menyembuhkan diri dari luka batin. Masih bingung mencari contoh apa itu luka batin? Kekecewaan, kegagalan, merasa tidak berarti, merasa direndahkan, merasa dikhianati, adalah sebagian kecil hal yang memicu luka batin. Iya, sesimpel itu. Metode self healing pun sangat beragam. Dari berbagai jurnal, buku, maupun artikel dapat dengan mudah kita dapati cara menyembuhkan luka hati yang dapat kita coba. Di antaranya melalui me time, berdialog dengan diri sendiri, berdamai dengan keadaan, mindfullness atau berpikir dengan kesadaran penuh, self compassion yaitu memahami emosi diri dan respon emosi atas penderitaan yang dialami, menjadikan penyesalan sebagai kekuatan, hingga dengan menulis ekspresif untuk mengutarakan segala hal yang sedang dirasakan.

Namun pada tulisan kali ini saya ingin berbagi hal yang lebih praktikal, sesuai dengan pengalaman saya yang (masih) pendek ini. Alih-alih curhat ke sana kemari, saat merasa jatuh dan terpuruk saya pun perlu melakukan self healing agar tidak terlarut dalam fase menye-menye yang tak berujung (FYI, tentu dulu saya pernah berada pada fase menye-menye ini). Hehe...

Sadari kesalahan dan berharaplah kepada Allah saja

Saat ketetapan yang tidak kita sukai datang, sadarilah bahwa semua itu ada peran serta kita. Berhenti menyalahkan orang lain dan bertanyalah pada diri sendiri, lalu akui kesalahan tersebut. Kesalahan paling sering (sependek pengalaman saya) adalah berharap kepada selain Allah. Sering kali saya berharap rejeki pada pekerjaan, saya berharap kedudukan pada pimpinan, berharap kebahagiaan pada pasangan dan anak-anak. That was totally wrong!! Jadi ketika dihadapkan pada kekecewaan, ya pantaslah. Karena saya memang masih berharap kepada makhluk, bukan pada Sang Khaliq.

Ridho dan lapang terhadap ketetapan yang berlaku

Daripada meratap terus menerus atas nasib yang kita alami, ridho dan lapang akan jauh melegakan hati. Dengan ridho atas 'masalah' yang kita hadapi, insyaa Allah hati akan lebih lapang. Bukan kah ridho Allah akan dapat diperoleh jika kita ridho terlebih dahulu? Sampaikan dalam kesendirian, dengan penuh kerendahan hati, dan ketidakberdayaan kita selaku seorang hamba. "Saya ridho Yaa Allah, jika hari ini saya......", "Saya ridho Ya Allah, Engkau lahirkan saya dari rahim Ibu.....", "Saya ridho Ya Allah, Engkau pasangkan saya dengan .....". dst. 

"..... Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-NYA. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya".
Q.S. Al-Bayyinah : 8

Meraih jiwa yang tenang

Ketika telah menyerahkan segala urusan kita kepada Allah, meyakini bahwa Allah lah yang berhak atas hamba-hambaNYA, serta ridho (ikhlas / lapang) atas ketetapan yang sedang berlaku hari ini, insyaa Allah ketenangan jiwa akan diperoleh. Mudah? Tentu tidak! Karena penghuni surga adalah mereka yang memiliki jiwa yang tenang. Ingat, hadiahnya surga. Bukan hand sanitizer. Hahaha.. Perlu dilatih dan diulang malalui tempaan secara terus menerus. Menyadari hal ini, seringkali saya bercanda pada diri sendiri, "Oalah lha saya aja masih gampang panik sebelum tenang, kaget dulu sebelum menerima, bingung dulu sebelum berserah, masih suka khawatir, masih ndeso gitu. Berarti surgamu masih jauh!". Hahaha... 
Kelapangan Jiwa, Kunci Menyembuhkan Luka
Meraih jiwa yang tenang
Biasanya setelah begitu saya menjadi lebih tenang, lebih lapang, lebih legowo, lebih berpikir jernih, hingga dapat mengubah pola pikir meratap menjadi, "Kira-kira Allah mau memberi pelajaran apa melalui ketetapanNYA kali ini?" Bukankah tak ada satu pun yang Allah ciptakan sia-sia? Kuatkan diri dan yakinlah bahwa segala ketetapan Allah memiliki batas waktu, sebagaimana sumpah-NYA dalam Surah Al-'Ashr, "Wal 'ashr... Demi Masa!" 

Related

Omong Kosong 3448898093814014958

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

Member of

Member of

Part of

Blogger Perempuan

Member of

Member of
Blogger Perempuan Semarang

Follow by Email

Random Artikel

item