Penjelasan Dokter Reisa Mengenai Polemik Dexamethasone

Penjelasan Dokter Reisa Mengenai Polemik Dexamethasone Dexamethasone belakangan menjadi salah satu obat yang diklaim efektif digunakan pada ...

Penjelasan Dokter Reisa Mengenai Polemik Dexamethasone
Penjelasan Dokter Reisa Mengenai
Polemik Dexamethasone
Dexamethasone belakangan menjadi salah satu obat yang diklaim efektif digunakan pada pasien Covid-19. Polemik pemakaian dexamethasone ini muncul ketika para peneliti dari Universitas Oxford, Inggris melakukan uji coba kepada ribuan pasien Covid-19 yang diberi dexamethasone. Hasilnya bahwa dexamethasone dapat mengurangi risiko kematian akibat Covid-19 dengan kondisi parah. Maka tak heran jika dalam dua hari terakhir, banyak masyarakat awam menjadikan obat ini sebagai bekal mereka dalam menjalani new normal life. Bahkan permintaan akan obat golongan steroid ini meningkat tajam hingga di kalangan distributor.

Dexamethasone adalah obat golongan steroid yang banyak digunakan untuk mengurangi peradangan. Dengan harga yang sangat terjangkau dan efek cepat yang diberikan, membuat dexamethasone banyak digunakan untuk membantu pengobatan berbagai penyakit, seperti rematik, alergi, leukemia dan limfoma, syok, gangguan pernapasan, gangguan hematologik, edematus (sumber : www.mims.com), bahkan membantu mengurangi mual pada pasien yang sedang menjalani kemoterapi. Tak heran jika banyak yang menjulukinya sebagai obat dewa. Di balik berbagai kelebihan dan kegunaannya, penggunaan dexamethasone juga memiliki efek samping jika tidak dipantau oleh dokter atau apoteker. Moon face atau wajah yang membengkak seperti bulan adalah efek samping paling sering dijumpai dalam pemakaian dexamethasone yang tidak sesuai aturan atau dalam jangka waktu lama. Selanjutnya peningkatan kadar gula darah dan tekanan darah, osteoporosis, serta menurunnya daya tahan tubuh yang menyebabkan pasien mudah terkena infeksi juga menjadi alasan penting mengapa pemakaian dexamethasone memerlukan pengawasan. Belum lagi dikhawatirkan terjadinya interaksi dengan obat lain yang diminum dalam waktu dekat atau bersamaan.


Sebagai obat steroid, dexamethasone digunakan untuk mengurangi peradangan yang seringkali terjadi pada pasien Covid-19 dalam keadaan buruk / parah (yang didominasi oleh pasien dengan alat bantu ventilator), dimana sistem kekebalan tubuh pasien bereaksi berlebihan (overdrive) dalam melawan infeksi virus. Reaksi overdrive ini dapat merusak jaringan yang berakibat fatal pada pasien covid-19 dalam kondisi parah, sehingga pemberian anti inflamasi seperti dexamethasone dalam dosis rendah berfungsi untuk menekan sistem imun (immunosuppresan). Jadi dapat kita pahami bahwa pemakaian dexamethasone tidak dapat membantu pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan hingga sedang, namun justru dapat memperparah infeksi yang terjadi.  

Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Dokter Reisa Broto Asmoro dalam konferensi persnya pada Jumat (19/6) sore mengingatkan, bahwa dexamethasone bukanlah penawar virus corona, dan penggunaannya harus ada konsultasi dengan dokter untuk menghindari terjadinya efek samping. Lebih lanjut Dokter Reisa berpesan, "Mohon berhati-hati ya, Bapak Ibu, karena dosis dan lama penggunaan dexamethasone diberikan berdasarkan usia, kondisi, dan reaksi pasien tersebut terhadap obat. Penggunaan jangka panjang juga ada efek sampingnya".


So, kita jangan mudah latah ketika membaca berita ya. Perbanyak sumber bacaan dan pastikan kepada ahlinya, baik dokter maupun apoteker. Mari kita jalani kebiasaan hidup baru dengan kewaspadaan namun tanpa panik berlebihan. Salam Hangat!

Related

Tips 1330115185029270149

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

Member of

Member of

Part of

Blogger Perempuan

Member of

Member of
Blogger Perempuan Semarang

Follow by Email

Random Artikel

item