Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet

Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet Di era digital dimana dunia serba gawai dan teknologi seperti saat ini, kita bisa m...

Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet
Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet
Di era digital dimana dunia serba gawai dan teknologi seperti saat ini, kita bisa mendapatkan informasi tanpa batas, konten tanpa filter dengan biaya terjangkau, cepat dan mudah serta dapat diakses di manapun. Sehingga internet bisa diibaratkan seperti dua mata pisau. Bisa mendatangkan banyak manfaat sekaligus besar risikonya jika digunakan tanpa kontrol, karena internet hanyalah sarana yang sifatnya netral, kita sebagai penggunalah yang menentukan baik buruknya. Teknologi itu menjadi powerfull karena ada kreatifitas manusia di dalamnya. Jangan sampai kita hanya disibukkan meng-upgrade hardware handphone kita atau software aplikasi di dalamnya, tapi lupa untuk meng-upgrade pola pikir kita untuk lebih kreatif menggunakannya.

Beberapa hari lalu saya berkesempatan menghadiri acara Internet Baik yang diselenggarakan oleh sebuah provider telekomunikasi milik pemerintah di Hotel Santika Premiere, Semarang dengan tema Internet Baik. Saya merasa beruntung bisa belajar dan menimba ilmu bersama para guru, pendidik, orang tua, jurnalis serta komunitas untuk mengenal 1001 cara baru berinternet serta mengantisipasi dampak negatifnya.
Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet
Acara Internet Baik oleh Telkomsel
Acara ini menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Muhammad Nur Awaluddin atau Kang Mumu sang CEO Kakatu, sebuah aplikasi pintar pengawas digital anak, Kang Hilmi dari Yayasan Kita dan Buah Hati serta Mbak Widuri sebagai perwakilan dari ICT Watch yang merupakan pencetus komunitas internet sehat.

Hari itu saya banyak belajar tentang bagaimana anak kita diasuh. Jika dalam periode emas anak dari usia 0- 3 tahun kebutuhannya untuk bahagia serta bounding dengan orang tua tidak terpenuhi, akibatnya emosi anak menjadi tidak genap, yang di kemudian hari bisa menyebabkan anak murung, depresi serta mencari tempat lain atau segala hal yang bisa membahagiakan mereka. Itulah yang menjadi CIKAL BAKAL KECANDUAN mereka pada gadget.

Sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu". Tentunya perkataan beliau bukan tanpa dasar, itulah mengapa kita sebagai orang tua dari anak-anak generasi Z dan A harus mengerti tentang seluk beluk internet sebelum melepaskan anak kita tanpa pondasi yang kuat melalui 4 tahap, yaitu Membangun Komunikasi dan Kelekatan, Memunculkan Kepercayaan / TRUST, Mengedukasi anak tentang inetrnet serta Melakukan kontrol. Pahamilah bahwa bencana internet sangatlah dekat, bukan di luar rumah, bukan karena lingkungan, namun hanya beberapa centimeter dari kita ketika kita terlena tanpa mengetahui apa yang dilakukan si kecil dengan gawainya. 

Berdasarkan fakta di atas, melalui tulisan ini saya ingin berbagi 5 Prinsip Cerdas Berinternet Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet :

1. Keep Playing or Stop
Jelaskan pada anak tentang dampak fisik terlalu lama bermain gadget, cobalah minta mereka untuk menggerakkan ibu jari terus menerus selama 5 menit. Tanyakan apakah terasa lelah? Pasti iya. Maka itulah yang terjadi ketika mereka memainkan game terus menerus, tanpa disadari jari-jari mereka akan merasa kelelahan sehingga dapat menimbulkan efek di kemudian hari.

Ceritakan tentang paparan sinar biru yang berasal dari layar handphone yang akan mengikis lutein pada retina mata. Kita bisa memberi contoh sinar biru dengan senter yang disorot langsung ke mata, kemudian jelaskan bahwa lapisan lutein hanya setebal irisan bawang merah yang begitu tipis, sehingga dengan paparan terus menerus bukan tak mungkin akan menjadi layu bahkan robek. Dengan terkikisnya lutein, menyebabkan degradasi makula yang menyebabkan pandangan jadi blur, berbayang serta garis lurus yang jadi terlihat bergoyang.

Selain lutein, paparan sinar biru sebelum tidur menyebabkan gangguan produksi melatonin (hormon kegelapan, yang bekerja di malam hari), sehingga siklus tidur menjadi rusak (cenderung sulit tidur ketika sedang bermain hp). Akibatnya hormon pertumbuhan menjadi tidak optimal. Dampak lainnya adalah otak menjadi lambat berpikir dan merespon sesuatu, mudah lupa serta konsentrasi menurun (anak yang sedang bermain hp cenderung tidak fokus ketika diajak bicara).

2. Click or Close
Kita harus memahami bahwa media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lain sebagainya sebaiknya diperuntukkan bagi usia di atas 12 tahun. Bijaklah dan pikirkan kembali apa manfaat  atau urgensi media sosial tersebut bagi anak-anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar.

Ketika melihat suatu konten di internet yang tidak baik, seperti pornografi, sebaiknya kita jelaskan terlebih dahulu bahwa otak manusia memiliki pre frontal cortex (PFC), yang memunculkan rasa malu. PFC ini tidak dimiliki oleh hewan. Bila otak diberi tontonan asusila terus menerus (tidak malu telanjang, tidak malu mencuri, tidak malu melakukan bullying, dll), maka PFC akan rusak, jadilah kiat jadi tak memiliki lagi rasa risih dan malu seperti apa yang kita lihat di internet. Lakukan pemahaman ini berulang-ulang hingga si kecil tahu apa yang harus mereka lakukan jika menjumpai konten seperti itu di internet. Click or Close.

Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet
Pengaruh Otak terhadap Konten Porno

3. Think before Posting
Berpikir lagi sebelum memosting sesuatu. Ingat, saat ini ada Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 yang mengatur Informasi dan Transaksi Elektronik atau kita kenal dengan UU ITE yang tanpa sadar bisa menjerat kita. Undang-Undang ini memiliki yurisdikasi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana yang diatur di dalamnya, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia.

4. Saring before Sharing
Biasakan untuk menyaring setiap berita yang beredar di sosial media sebelum kita membagikannya. Telusuri dan pastikan kebenarannya, jangan mudah terprovokasi dengan berita hoax.

5. Wise While Online
Bijaklah dalam berinternet, upgrade brainware (pola pikir) kita untuk lebih bijak menahan diri serta mengendalikan aksi dan reaksi yang bersumber dari internet. Jadikan hidup lebih efisien, mudah, produktif dan menyenangkan di era digital . Kuncinya adalah selalu berdiskusi tentang keinginan anak, dampingi mereka dan fasilitasi kebutuhannya. Orang tua bisa pula menerapkan prinsip pinjam - pakai ketika memberi gawai kepada anak, sehingga ada rasa tanggung jawab bagi mereka untuk menjaganya, terbuka ketika menggunakannya, sepakati aturan dan waktu pemakaiannya, diskusikan risikonya serta yang utama adalah tanamkan kontrol diri pada diri mereka.

Agar si Kecil Nggak Gaptek Tanpa Kecanduan Internet
Aduan Konten Menkominfo

Yayasan Kita dan Buah Hati menambahkan informasi rekomendasi durasi penggunaan gawai pada anak. Anak usia 0 - 2 tahun sebaiknya tidak terpapar gawai, 3 - 5 tahun maksimal 10 menit / hari, 5 - 7 tahun maksimal 20 menit / hari, 7 - 9 tahun maksimal 30 menit / hari, 9 - 12 tahun maksimal 1 jam / hari, 12 - 15 tahun maksimal 2 jam / hari. Sementara penggunaan gawai lebih dari 15 jam seminggu bisa menjadi indikasi adanya kecanduan pada anak.

Namun alangkah baiknya sebelum berdiskusi dengan anak, mari refleksi diri kita terlebih dahulu. Berapa jam kita menggunakan handphone setiap harinya? Bisakah kita meninggalkannya sesekali? Sudah optimal kah menanamkan kelekatan pada anak? Sudah terpenuhikah kebahagiaan mereka sehingga tak harus mengalihkan diri pada gawai? Mari belajar bersama...

Related

Tips 4836295439406584934

Post a Comment

  1. top markosip. zaman sekarang emang perlu memberikan edukasi ke anak tentang penggunaan internet, akan tetapi masih banyak yang belum tau langkah langkah yang perlu diambil dalam memberikan pendidikan kepada anak perihal dunia maya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, tapi bersyukur udah semakin banyak orang tua yang lebih aware tentang dampak gadget.

      Delete

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item