Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling

Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling Naik turun menjalankan HS ( Homeschooling ) / HE ( Home Education ) merupakan bagian dari pr...

Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling
Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling
Naik turun menjalankan HS (Homeschooling) / HE (Home Education) merupakan bagian dari proses HS/HE itu sendiri. Buatlah sebuah panduan penting, agar keluarga HS/HE tetap ingat dan bersemangat menjalankan proses HS/HE mereka. Berikut catatan narasumber, yang diambil dari berbagai sumber karena terbatasnya ilmu. Semoga bermanfaat.

1. Meluruskan Niat. 
Menjalankan HS/HE bukanlah hal yang luar biasa. Proses ini adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, saat kita memutuskan akan menikah. Mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik, bagi para perempuan, dan memilih lahan pendidikan terbaik bagi para laki-laki.

Saat teman / saudara kita meragukan kemampuan kita sebagai orang tua menjalankan HS/HE, ingatlah niat hanya mengharap ridha Allah Jalla wata‘ala. Sebaliknya, saat decak kagum datang menghampiri anak / diri kita, ingat pula, ini semua karena karunia Allah, dan berdoalah agar Alah senantiasa menutupi aib kita.

Ingatlah di akhirat nanti kita akan ditanya tentang harta kita dihabiskan untuk apa, waktu kita, dan rasa letih kita. “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia lakukan dengannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan tentang anggota tubuhnya untuk apa ia pergunakan.”( HR. Tirmidzi, 4/612 no. 2417 dan Ad Darimi, 1/452 no. 554 Maktabah Syamilah.)

2. Memilah Ilmu yang Wajib dan yang Fardhu Kifayah
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).

Seorang penyair berkata,
مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ
Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya
Siapakah yang dapat mengumpulkannya
Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,
Maka carilah yang bermanfaat darinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (Muttafaq ‘alaihi).


Ilmu yang wajib antar lain : Akidah dan Tauhid, Ilmu Adab, Hadits, Fiqih, Bahasa Arab, Siroh, dan ilmu agama lainnya. Sedangkan ilmu fardhu kifayah antara lain : ilmu kedokteran, kesehatan, pendidikan, dan lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan umat.

3. Memilih guru yang solih dan buku yang benar
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan. (Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.)

Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
"Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)".
(Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81).


Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?” Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah). Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Ada banyak contoh dari Ibunda para ulama tentang memilih guru. Misalnya saja Ibunda Imam Malik, yang memerintahkan anaknya pergi kepada para imam ahli hadits, mengadiri majelis mereka, mengambil adabnya. Sang Ibunda Selalu menyiapkan pakaian terbaik anaknya serta merapikan immamahnya seblum Sang Buah Hati pergi ke majelis ilmu.

Dalam menjalankan HS/HE tak bisa dipungkiri, Ibu dan Ayah adalah pendidik utama. Maka, berusahalah memenuhi kriteria sebagai pendidik sesuai adab yang diajarkan Rasulullooh Shollalloohu ‘alaihi wasallam.

Adab di atas berlaku dalam menuntut ilmu agama. Adapun untuk ilmu dunia / ilmu yang fardhu kifayah, bisa kita ambil dari buku-buku terpilih, situs-situs terpercaya, serta mendatangi ahlinya.

4. Pelajari adab menuntut ilmu
Imam Malik rahimahullahu mengisahkan, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)

Abdullah bin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Hampir saja adab menjadi dua pertiga ilmu. (Sifatush Shafwah 4/145). Salah seorang Salaf berkata : “Kita lebih butuh adab yang sedikit dibandingkan ilmu yang banyak”. (Madarijus Salikin 2/376). Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaury rahimahullah Ta’ala berkata : “Para Ulama tidak mengizinkan anaknya keluar untuk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama duapuluh tahun".

Muhammad bin Sirin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Mereka para salafus saleh belajar al-Hadyu (adab) seperti mereka belajar ilmu”. (Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami dari Malik bin Anas)
Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbary rahimahullah ta’ala berkata : “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu, dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh”. (Tadzkiratus Sami wa Mutakallim)

Isa bin hamadah rahimahullah ta’ala berkata : “Saya mendengar Al-Layyits bin Sa’ad berkata; “Sungguh para ahli hadits sangat dimuliakan, ketika aku melihat sesuatu pada diri mereka maka aku berkata; “Kebutuhan kalian pada adab yang sedikit lebih butuh dibandingkan ilmu yang banyak”. Ibrahim bin Habiib Asy-Syahid Rahimahullah berkata : “Wahai anakku datangilah para ahli fiqih dan ulama, dan belajarlah dari mereka, ambilah adabnya, akhlaknya, karena hal itu lebih aku suakai dibandingkan hadits yang banyak”. (Al-Jami’ Liakhlakir Rawi 1/80)
   
Yusuf bin Al Husain berkata,
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْمَ
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu

tulisan ini bisa diunduh di sini.


Sesi Tanya Jawab

1. Bagaimana urutan pelajaran aqidah, adab dan ilmu lain yang bukan ilmu fardu kifayah?
Trmksh _ernae_

Jawab
Dengan buku. Belajar dengan buku yang sahih. Bila masih memungkinkan, belajar bersama anak-anak. Bila dirasa perlu, belajarlah ke ahlinya atau datangkan guru. Contoh buku dan fotonya bisa diunduh.


2. Saya ibu dari 2 anak, yang pertama 5th dan yang kedua 2,5th. Saat ini saya sedang dalam kondisi hamil 4bln, lagi mabuk2nya. Anak saya yang 2,5th mulai lebih posesif lagi setelah saya hamil dan kami baru saja pindah kota sebulan lalu. Kondisi diatas, membuat waktu saya dengan si sulung berkurang drastis. Selain butuh istirahat, anak kedua saya 'menawan' saya untuk terus bersama dia. Pertanyaan saya, apakah memungkinkan saya terus HS anak saya dalam kondisi begini? Kalau memang masih mungkin bagaimana solusinya?
Terima kasih,, _Ovi_

Jawab
Semua materi itu adanya di otak ayah dan ibu. Kalau belum ada, segera masukkan. Cara kita menyalurkan materi tsb tentu sesuai usia anak. Di usia balita, ajarkan adab dan akidah lewat keseharian. Saat ibu lemah tak berdaya, berzikirlah. Nanti anak-anak dengar lalu bertanya, di situ ada celah 'belajar'. Di kesempatan lain pun bisa disesuaikan keadaan. HS itu bukan anaknya saja yang belajar. Ayah dan ibu juga. Menahan diri, emosi, memberi contoh, dsb.

Di saat anak keluar manjanya, siapkan banyak amunisi yang membuatnya sibuk. Siapkan alat-alat keterampilan, vcd edukasi, camilan, atau hal lain yang bisa mengalihkan perhatiannya.



3. Dalam perjalan mengasuh  anak-anak, tentu permasalahan baru dan tantangan akan hadir pada setiap perkembangannya. Tanpa diduga-duga, terutama pada anak usia baligh (14th), yang sudah memiliki prinsip, memiliki keinginan-keinginan yang diluar perkiraan orangtua. Boleh sharing tentang berdialog, berdiskusi dengan anak usia baligh. Sementara kadang ortunya malah yang kurang ilmu. _meydiana_

Jawab

Kalau memang ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab sebaiknya bilang saja tidak tau, lalu bersama-sama mencari jawabannya. Usia baligh saatnya anak dianggap sebagai mitra belajar, tekniknya adalah menggali pendapat dan menanyakan kesimpulannya dibandingkan dengan ilmunya.

Contoh, "Bu aku mau ikut temenku naik gunung"
Sama siapa aja nak?
Temanku semua ada laki2&perempuan.
Apakah ada guru/org tuamu yg ikut?
Tdk ada.
Kamu tau bagaimana keadaan di sana? Menurutmu bagaimana bila satu acara bercampur?
Dst....dialog


4. Apa saja catatan penting Hs untuk anak usia 1th 9 bln bu? Terkait poin pembiasaan adab keseharian? Ambil contoh poin mengaji. Anak saya jika lihat saya mengaji, langsung mengambil al quran saya dan dia bergumam seperti menirukan orang mengaji, kmudian menutup alqurannya. Seolah-olah tidak memperkenankan saya membaca ketika dia sedang melek. Dan saat saya minta alqurannya, tidak boleh. Saya ajak gendong sambil ngaji juga tidak bertahan lama, paling cuma 1 halaman. Apkah sikap anak saya ini wajar karena usia masih segitu atau ada cara mensiasatinya? 
Trmkash _iis_

Jawab
Yang saya tahu, usia segitu kuat di pendengaran dan ingatan. Setelkan saja murottal yang cukup lambat, lembut. Sesekali ibu ikut melantunkan sambil perhatian kita penuh ke anak. Untuk membaca quran, bisa dicari waktu lain yang tidak membuat anak merasa terabaikan.


5. Pada point 4. Pelajari Adab menuntun ilmu. ****** Para ulama tidak mengijinkan anaknya keluar utk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama 20th..**** Mohon penjelasannya Umm...

Jawab
Hal tersebut menunjukkan betapa para ulama sangat mementingkan pendidikan adab. Ada yang sampai 20 th belajar adab, dst. Setelah plajaran adab dianggap selesai, barulah mereka mulai belajar quran, hadits, fiqh, dll.


Semoga bermanfaat,


Sumber : 
Diskusi Eksternal HSMN Semarang
Narasumber : Bunda Maya Ummu Abdillah 
Tema : " Catatan Penting Melaksanakan Homeshooling"
Hari / Tgl  : Rabu, 4 mei 2016 / 20.00 - 21.30

Moderator 1: Iis Ummu Hamdan
Moderator 2: Meydiana Ummu Alifia
Notulen : Desy Vini

Sumber gambar : rumah-pembelajar.blogspot.com

Related

Pendidikan Anak 8638272399513606206

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

Member of

Member of

Part of

Blogger Perempuan

Member of

Member of
Blogger Perempuan Semarang

Follow by Email

Random Artikel

item