Jul 31, 2017

Buku yang Membuatku Jatuh Cinta pada Sejarah

Buku yang Membuatku Jatuh Cinta pada Sejarah
Buku yang Membuatku Jatuh Cinta pada Sejarah
Sebagaimana kebanyakan anak sekolah lainnya, bagi saya pelajaran sejarah adalah pelajaran yang paling bikin ngantuk. Sejak jaman PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) hingga era SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), kesemuanya hanya numpang lewat di otak saja, dalam artian hanya nyantol di saat ujian. Kecuali tahun terjadinya Perang Diponegoro yang banyak dijadikan lelucon, yaitu pada saat 'adzan maghrib', if you know what I mean..wkwkwk

Hingga beberapa tahun lalu ketika teman-teman di sebuah chatting group membahas tentang sebuah buku berjudul Muhammad Al Fatih 1453 sukses membuat saya penasaran. Pucuk di cinta ulam pun tiba, ternyata di saat yang bersamaan adik saya sedang meminjam buku tersebut dari perpustakaan kampus dan belum sempat membacanya. Alhasil saya bisa meminjamnya terlebih dulu dengan bahagia.

Tanpa disangka, buku karya Felix Y Siauw setebal 320 halaman ini tuntas saya baca selama dua hari! Saking asyiknya, saya sampai menunda makan, malas mandi, lembur baca sampai malam, bahkan saya bawa ke kantor keesokan harinya demi ingin segera tamat. Hehehe.. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, bahwa membaca novel sejarah yang nggak ada gambaranya bisa sedemikian addicted!

Muhammad Al Fatih adalah sosok pahlawan yang cukup terkenal dalam peradaban Islam. Beliau bergelar Al Fatih, yang artinya pembuka / kemenangan karena keberhasilannya menundukkan kota Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turkey). Sebuah perjuangan yang selama ratusan tahun berusaha diwujudkan oleh para Khalifah Dinasti Utsmaniyyah (Ottoman), dengan berbekal hadits Rasulullah SAW :

"Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan " HR. Ahmad bin Hanbal Al Musnad 4/335.


Buku ini membuat saya takjub akan kesholihan para pemimpin di masa Kekhalifahan Utsmaniyyah, bagaimana mereka selalu memegang teguh syariat agamanya serta menjadikan para ulama sebagai guru yang terhormat di setiap detak kehidupan dalam masyarakatnya, bahkan saat perang sekalipun. Hingga saya pun bisa ikut merasakan semangat (ghirah) perjuangan masa itu dan bergetar membayangkannya.

Buku Muhammad Al Fatih 1453 sungguh membuatku jatuh cinta pada sejarah, dan tiba-tiba berpikir kenapa pelajaran sejarah dulu tak seseru ini! hehehe.. Buku ini pula yang akhirnya mengantarkanku pada buku-buku sejarah lainnya, seperti seri Buku The Chronicles of Ghazi 1 s/d 5 yang menceritakan tentang masa kecil Muhammad Al Fatih dan perkenalannya dengan Dracula (Vlad Dracula). Kalau kamu masih menyangka Dracula hanya fiktif belaka, saatnya kamu baca buku ini (Baca : Resensi Buku The Chronicles of Ghazi).

Buku yang Membuatku Jatuh Cinta pada Sejarah
Buku The Chronicles of Ghazi - Seri Pertama
Terima kasih buat Mba Vita, teman sejawat Apoteker yang juga sama-sama hoby ngeblog. Sila mampir membaca kisah warna warni hidupnya di www.pusvitasari.com dan Mba Anita, empunya www.makarame.com atas tema Buku Favorit yang Menginspirasi Kehidupanmu di Arisan Blog Gandjel Rel putaran ketujuh ini. Makin cinta sama buku, karena tak ada seorang penulis pun yang tak pernah membaca.

Salam Hangat,

Jul 20, 2017

Traveling itu Mahal

Traveling itu Mahal
Traveling itu Mahal
Sumber gambar : lifestyle.liputan6.com 
 Traveling itu Mahal, kurang lebih begitulah mindset yang tertanam pada keluarga kami saat saya masih kecil. Bukan tanpa alasan, bapak ibu yang masing-masing berasal dari keluarga besar dengan banyak saudara yang harus dipikirkan, membuat traveling tak pernah ada dalam agenda keluarga kami. Paling mewah adalah ketika ikut piknik yang diadakan oleh kantor bapak ibu, sekolah, atau sesekali ke mall ketika akan kenaikan kelas. Namun bukan berarti kami meratapi hal tersebut, saya dan adik saya tetap menikmati masa kecil kami yang selalu dicukupkan dengan huru hara dan bahagia, selain kurang piknik. Hehe..

Gambaran betapa kupernya saya soal 'dunia luar' adalah fakta bahwa saya baru mengenal fast food saat SMA, pertama kali ke toko buku Gramedia saat kuliah (saya sampai heran, padahal saya suka sekali membaca, tapi tak pernah sekalipun ke toko buku. Yang artinya saya selalu pinjem buku, wkwkwk), apalagi nonton bioskop. Kehidupan jalan-jalan saya hanya diisi dengan keyword Yogyakarta dan Kyai Langgeng saat piknik SD, Borobudur saat piknik kantor ibu, serta baru mengenal Bandung, Bogor, Jakarta saat SMA. Itupun dalam rangka ikut lomba, kalau masih boleh dimasukkan dalam kategori jalan-jalan.

Pada dasarnya saya merasa tak ada yang salah dengan hidup tanpa traveling, saya masih punya banyak teman dan kegiatan lain yang bisa dilakukan. Hingga akhirnya saya bertemu sang mantan pacar (baca : suami). Suami saya berasal dari keluarga perantau. Asli Sumatera Utara yang akhirnya tinggal di tanah Jawa. Bagai bumi dan langit, dari kecil suami saya sudah tak asing dengan traveling. Kesibukan orang tuanya membuat sang ayah (mertua) selalu menyempatkan waktu untuk traveling bersama keluarga dan lima anaknya. See? Saat itulah saya baru nyadar kalau saya ini benar-benar ndeso! Hahaha..

Rencana Allah selalu luar biasa. Setelah menikah, saya yang kuper ini bertransformasi menjadi tukang jalan-jalan. hehe.. Sampai suatu ketika saya berkata kepada suami, kayaknya kita dipertemukan itu biar suami bisa ngajak saya jalan-jalan. Dari situ, terkadang kami mengajak keluarga besar maupun saudara untuk ikut traveling, hingga dari mulut Ibu terucap, 'Padahal nyenengin saudara gini sebenarnya nggak mahal ya, kok dulu Ibu dan Bapak nggak pernah kepikiran sama sekali!', seraya mengingat-ingat kembali bahwa pada masa itu pikiran orang tua saya tercurah pada anak serta keluarga besar masing-masing, sehingga lupa betapa bahagianya bisa menyisihkan waktu untuk menikmati kebersamaan.

Traveling itu Mahal
Masjidil Haram, Mecca
Sumber gambar : dailymail.co.uk
Di hari tuanya, bapak ibu masih tidak pernah memikirkan traveling, kecuali diajak oleh kami, anak-anaknya. Beliau berdua selalu memilih traveling ke Rumah Allah sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang diperoleh hingga detik ini. Jika beberapa orang berpendapat bahwa umroh hanyalah bagi orang yang 'kelebihan uang', sementara bapak ibu selalu berusaha memampukan diri (dengan nabung) untuk umroh selama masih diberi kesempatan. Jadi ketika Mba Dwi Septia dan Mba Winda memilih tema Orang yang Paling Ingin Saya Ajak Traveling di Arisan Blog Ganjel Rel putaran ke-6 ini, maka jawaban saya adalah paling ingin mengajak bapak ibu untuk traveling bersama anak, menantu dan cucu-cucunya, tentunya traveling ke Baitullah! Aamiin.. semoga Allah mampukan.

Jul 14, 2017

Membentuk Karakter Anak Sejak Bayi

Membentuk Karakter Anak Sejak Bayi
Membentuk Karakter Anak Sejak Bayi
Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah. Namanya juga amanah, pasti kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban dari Yang Memberi Amanah. Bagaimana kita membesarkan mereka, bagaimana kita mendidik mereka, menjadi manusia seperti apa mereka di tangan kita? Tentu bukan guru, dosen, si embak atau baby sitter yang akan ditanya, tapi kita, ayah ibunya.

Oleh karenanya, pembentukan karakter adalah hal paling utama yang harus dilakukan sejak sang bayi terlahir di dunia. Karakter bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Karakter berawal dari sifat bawaan anak (yang diturunkan dari DNA kedua orang tuanya), bertemu dengan pola asuh kita yang diterapkan dan ditanamkan berulang-ulang secara konsisten sehingga menjadi kebiasaan (habit). Jadi ada 3 hal penting yang mempengaruhi karakter seseorang, yaitu sifat bawaan, pola asuh dan konsistensi.


Sulung kami memiliki sifat bawaan yang keras, dominan dan berani mengambil resiko. Masa kecilnya sering kali tantrum bila keinginannya tidak dikabulkan. Saya berjuang keras untuk tetap tegas pada aturan yang saya buat sementara si abang tantrum di tempat umum, hingga berada pada suatu titik saya melakukan afirmasi pada diri sendiri bahwa jika kali ini saya menyerah pada tantrumnya, maka kelak saya akan selalu kalah dan tak lagi bisa menghandlenya.

Perlahan saya dan suami mulai menemukan pendekatan yang cocok untuk si abang. Ia suka tantangan, maka jangan pernah menyuruhnya untuk mandi, tapi tantang ia agar bisa mandi sebelum jam 4 sore, misalnya. Anak dengan jiwa dominan tak suka dibentak atau dinasehati dengan keras, ia lebih menerima saran yang disampaikan secara lembut, dari person to person sambil dibesarkan hatinya. Begitupun persoalan susahnya ia meminta maaf karena egonya yang besar, maka pembiasaan mengucap kata "maaf", "terima kasih", "permisi" ternyata menjadi sangat efektif. Seolah menegaskan padanya, "it's okay jika kita salah, meminta maaf tak akan merendahkan harga dirinya, namun justru membuat kami semakin menyayanginya..". Dari pengalaman itu saya sangat tidak setuju jika karakter selalu diidentikkan dengan sifat bawaan seseorang, karena ada pola asuh yang sangat signifikan perannya.


Lalu bagaimana dengan lingkungan? Pengaruh lingkungan tidaklah terlalu besar JIKA pola asuh dan konsistensi sudah dimiliki anak sejak kecil. Alih-alih menyalahkan lingkungan yang berdampak pada karakter anak, mari ingat kembali bagaimana kita mengasuh mereka semenjak bayi. Apa saja nilai-nilai yang kita tanamkan, pembiasaan-pembiasaan yang kita ajarkan, ah.. jangan-jangan itu kealpaan kita sendiri sebagai orang tua.


Pembentukan karakter yang bisa ditanamkan sejak bayi diantaranya adalah :
1. Kedisiplinan
Membangunkan sang bayi tiap dua jam sekali untuk menyusu di awal kelahirannya adalah pembentukan karakter yang pertama kali bisa dilakukan. Bagaimana ia diajarkan untuk disiplin dengan jam menyusu meski dalam keadaan tidur sekalipun, tentu untuk kebaikannya sendiri.


2. Konsep penerimaan
Hal ini terjadi saat anak sudah berusia 2 tahun dan mulai disapih. Jaman dulu para ibu menempelkan brotowali di payudara agar asi menjadi pahit, memberi "darah" mainan bahkan terkadang membohongi anak dengan mengatakan payudara ibu sedang sakit. Namun kini telah banyak ibu yang menyadari pentingnya menyapih dengan cinta, atau bahasa kerennya weaning with love. Prinsipnya adalah sang ibu memberi pemahaman kepada si anak secara berulang-ulang (sounding) bahwa ia kini mulai besar dan tak lagi disebut bayi, sehingga asi pun secara perlahan mulai tak dibutuhkan oleh tubuhnya, digantikan makanan bergizi lainnya. Dengan proses ini anak belajar 'menerima', tentunya perlu proses berminggu-minggu hingga bulanan sampai akhirnya si anak mengerti.


3. Kemandirian
Karakter kemandirian dapat ditanamkan sejak bayi melalui proses toilet learning. Kemandirian anak untuk BAB dan BAK di toilet sangat tergantung pada kemauan dan konsistensi orang tuanya, terkuhusus si ibu. Umumnya paling lama seorang anak sudah tak lagi menggunakan popok sekali pakai maupun reusable pada usia tiga tahun, namun beberapa orang tua sangat konsisten hingga mendapati bayinya yang berusia 6 bulan sudah tak lagi mengompol dan BAB sebelum digendong ke toilet. Di sisi lain, ada pula yang masih menggunaan popok seklai pakai, bahkan di usianya yang keempat tahun. 

Membentuk Karakter Anak Sejak Bayi
Dukungan pelaku usaha dalam menyediakan
aneka keperluan anak dan bayi

Bersyukur saat ini topik parenting sudah menjadi makanan sehari-hari para ibu muda, yang diikuti oleh para pelaku usaha yang sangat mendukung dengan menghadirkan berbagai produk perlengkapan bayi dan anak. Para ibu pejuang asi kini ditunjang dengan adanya berbagai jenis pompa asi, mulai dari yang manual hingga elektrik, termasuk hadirnya mesin sterilizer. Pakaian bayi juga mengalami perkembangan dengan dikenalkannya cloth diapers atau clodi beberapa tahun terakhir, yang tentunya akan menunjang konsistensi ibu dalam menanamkan karakter-karakter seperti tersebut di atas.


Putra kedua kami sudah mandiri dalam toilet learning di usia 18 bulan, lebih awal dibanding abangnya yang konsisten di usia dua tahun. Salah satu faktor yang membedakan adalah saya sudah mengenal clodi ketika si adek lahir, dimana clodi ini akan penuh dalam 2 - 3 kali BAK, sehingga ia tak lagi nyaman BAK di popok. Maka tangisan yang biasanya keluar saat si adek BAK di popok lama-kelamaan berubah menjadi 'gerakan khas' dari badannya sebagai pertanda agar saya segera menggendongnya ke toilet.


Perkembangan dunia digital juga semakin mempermudah tugas ibu, salah satunya adalah soal belanja. Wajar saja bila konsumen online shop 75%nya adalah wanita. Diantara kesibukannya bekerja, wanita juga harus mendidik anak, memperhatikan kebutuhan suami, mengurus rumah hingga merawat diri sendiri. Maka online shop menjadi pilihan karena sangat menghemat waktu, untuk apa harus pergi ke mall sementara mataharimall.com juga menyediakan banyak pilihan barang belanja dengan kualitas dan harga yang sama, sembari masih bisa menemani anak-anak?

Membentuk Karakter Anak Sejak Bayi
Belanja perlengkapan bayi kian mudah di  mataharimall.com

Sumber gambar :
*www.cara.pro
*screenshot pribadi dari www.mataharimall.com

Jul 5, 2017

Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo

Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
Kawah Bromo terlihat dari Pananjakan saat Sunrise
Walaupun libur telah usai, namun nuansanya masih aja terasa bagi mbak-mbak kantoran seperti saya, yang berakibat menurunnya produktifitas kerja, halahh... Segi positifnya adalah semangat nulis saya jadi naik, karena terlalu banyak bahan tulisan yang udah berputar-putar di otak saya hasil liburan kemarin yang menunggu giliran untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, sebelum menguap lagi semangatnya, hahaha..

Berhubung kami sekeluarga belum bisa move on dari serunya naik Gunung Sikunir beberapa waktu lalu (Baca : Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga), kali ini si Abang (9 yo) yang request untuk menjelajah Gunung Bromo, yang terletak di empat Kabupaten Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.
"Bromo sendiri menurut wikipedia berasal dari kata Brahma, salah satu Dewa Utama dalam Agama Hindu. Sedangkan wisata Bromo saat ini termasuk dalam Kawasan Bromo Tengger Semeru"
Menurut driver Jeep kami, setahun sekali para keturunan Suku Tengger yang berasal dari empat Kabupaten tersebut akan mengadakan upacara selama tiga hari di Pura yang terletak di dekat Kawah Bromo.

Perjalanan kami dari Semarang menuju Probolinggo ditempuh selama 10 jam, dari pukul 14.30 WIB hingga tiba di Desa Sukapura, Probolinggo (yang menjadi meeting point kami dengan driver Jeep) pada pukul 00.30 WIB dini hari. Sebuah perjalanan yang panjang, namun relatif sangat lancar mengingat sedang musim libur Lebaran seperti saat ini. So, berikut kegiatan kami selama di sana :

Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
Pasir Berbisik, Bromo
  • 00.30 - 01.30 WIB kami beristirahat, berganti baju hangat sambil menghangatkan diri di warung kopi terdekat
  • 01.30 WIB berangkat dengan Jeep sewaan kami seharga Rp. 750.000,- di high season atau start Rp. 400.000,- saat low season (tergantung dari jarak meeting point menuju pintu masuk Bromo). Umumnya meeting point dilakukan di Desa terdekat, yaitu Cemoro Lawang, dimana pembayaran tiket masuk Rp. 37.500,- plus parkir Jeep Rp. 5.000,- juga dilakukan. Namun kami bertemu driver di Desa Sukapura, lebih bawah dibanding Cemoro Lawang.
  • 02.30 WIB tiba di Pananjakan Bromo, berjalan kurang lebih 300 meter menuju puncak untuk menanti matahari terbit. Berbeda dengan saat mendaki Gunung Sikunir yang medannya curam dan terjal, di Pananjakan Bromo relatif lebih landai, jalan lebar dan sudah bagus. Jarak trekking pun lebih singkat. Si adek (5 yo) yang sudah pernah ke Gunung Sikunir bahkan tak mengalami kendala apapun, selain dingin. Brrrrrrrrr......
  • Sambil menunggu sunrise, tersedia kamar mandi, tempat wudhu hingga musholla yang sangat memadai. Jadi jangan heran kalau pada jam 03.00 WIB puncak sudah sangat penuh dengan para pemburu matahari.
  • Sunrise mulai nampak selepas subuh, sekitar pukul 04.30 - 06.00 WIB. Semua orang menyambut bahagia dengan gumaman, siulan, takbir, serta kilatan flash dari tripod kamera masing-masing tentunya, hehehe... 
  • Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
    Sunrise di Pananjakan Bromo
  • 07.00 WIB kami mampir ke warung yang berjajar di Pananjakan untuk menghangatkan diri dengan minuman panas, pisang goreng panas atau Pop Mie! ^_^
  • Selanjutnya kami meneruskan perjalanan di Kawah Bromo dengan melewati kelokan-kelokan tajam. Oh iya, jika sedang tak ingin menyewa Jeep, kita masih tetap bisa menaiki motor atau mobil pribadi menuju Pananjakan. Namun untuk menuju kawah diwajibkan menggunakan Jeep, karena khawatir bisa membahayakan penumpang karena sopir yang tak terbiasa dengan medan di sana.
  • Kurang lebih satu jam kemudian (yang kami gunakan untuk tidur, walau banyakan meleknya karena goncangan) kami tiba di Kawah Bromo. Di sinilah terletak Lautan Pasir, Padang Savana (Bukit Teletubbies), Kawah Bromo serta Pasir Berbisik. 
    Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
    Kawah Bromo dengan bau belerang dan suara gemuruh dari perut gunung
  • Setelah berfoto di lautan pasir, Jeep menuju parkiran kawah bromo yang berdekatan dengan Pura tempat upacara Suku Tengger. Untuk menuju kawah, kita harus berjalan sepanjang 2 km sambil menanjak atau bisa menaiki kuda dengan biaya Rp. 125.000,- untuk kemudian menaiki 256 tangga ke puncak kawah, hehehe...
  • Di padang savana dan pasir berbisik, kita bisa merasakan off road dengan Jeep sambil foto-foto pastinya, wkwkwk.
    Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
    Berfoto di Lautan Pasir 
Sehari penuh rasanya puas kami berada di kawasan Bromo, sebelum meneruskan perjalanan menuju Malang. Jadi, kalau Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo! Jangan khawatir mengajak anak-anak, karena sebenarnya mereka lebih tangguh dari apa yang kita pikirkan. Sedikit tips dari saya, kondisikan anak-anak dalam keadaan fresh & sehat saat tiba, siapkan celana training yang hangat, kaos lengan panjang, jaket, penutup kepala, slayer yang bisa menutup leher hingga hidung, kaos tangan serta kaos kaki yang tebal. Saat akan menaiki gunung, cukup bawa tas kecil berisi 2 botol air mineral (untuk kami berempat) dan roti atau makanan kecil secukupnya, karena mengunyah terbukti mengurangi rasa dingin. Satu hal lagi yang kemarin saya lewatkan, bawalah botol termos kecil, untuk nantinya bisa diisi dengan teh panas yang dibeli dari warung terdekat, sepertinya akan sangat membantu agar tidak hipotermia saat menunggu matahari terbit.

Ingin liburan berkesan? yuk ajak si kecil ke Gunung Bromo
Menunggu sunrise
Terima kasih buat mba Muna Sungkar, empunya www.momtraveler.com dan mba Wuri Nugraeni yang jago ngasi segala tips, atas tema Liburan yang Paling Berkesan di arisan blog Gandjel Rel periode 5 ini, sukses bikin saya makin gagal move on, huks..