Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil Welcome October !!!! Setelah hampir 4 bulan hibernasi dan berkutat dengan tanggu...

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Welcome October!!!! Setelah hampir 4 bulan hibernasi dan berkutat dengan tanggung jawab baru yang menuntut untuk banyak belajar, akhirnya disela-sela revisi dokumen berhasil juga menyempatkan diri menulis. By the way, jelang akhir tahun pasti udah banyak yang mulai merencanakan liburan dong, ya. Kalau lagi bingung cari tujuan wisata yang anti mainstream buat keluarga, artinya Anda membuka laman yang tepat. Yup, karena kali ini saya mau berbagi pengalaman liburan tentang Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil.

Masih merasa naik gunung itu nggak family friendly? Itu artinya kalian perlu baca tulisan tentang serunya Hiking di Gunung Sikunir bareng Keluarga. Atau yang paling gampang adalah keliling Bromo dulu, deh. hehe...


Sebagai keluarga butuh piknik tentunya udah sering denger kan, tentang Kawah Ijen? Yaitu sebuah kawah cantik yang terletak di Gunung Ijen. Gunung Ijen sendiri merupakan gunung yang masih aktif, terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Mendaki Gunung Ijen memang menjadi tujuan utama kami saat memutuskan untuk berlibur ke Banyuwangi. Apalagi kalau bukan karena keberadaan kawah ijen nan legendaris. Banyak wisatawan lokal hingga mancanegara rela mendaki lebih dari 3 jam sepanjang 2.799 meter untuk menikmati blue fire yang hanya bisa dijumpai di 2 lokasi seantero jagat!

Sore sebelum pendakian, kami (saya, bang suami, dan duo krucil) sudah meminta untuk dijemput oleh guide lokal jam 12.00 malam. Sekedar informasi, kami menginap di kawasan lereng Gunung Ijen, dimana jalannya sangat sempit dan berliku. Maka untuk menghemat energi selama 3 hari di Banyuwangi, kami memutuskan untuk menyewa guide lokal sekaligus mobil jeepnya yang siap menemani kami kemana saja. Pukul 12.00 dini hari kami sekeluarga sudah siap dengan kostum mendaki, lengkap dengan penutup kepala, slayer, penutup muka, kaos tangan dan kaos kaki. Perbekalan 5 buah roti dan 3 botol air mineral telah berada di tas slempang yang dibawa si abang.

Setelah 10 menit perjalanan dari penginapan, sampailah kami di pintu gerbang pendakian. Dinginnya malam tak menyurutkan semangat para pendaki, nyatanya lebih dari seratus orang telah mengantre karcis untuk memasuki Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kita cukup membayar Rp. 10.000,- untuk biaya parkir kendaraan dan Rp. 7.500,-/orang untuk pendaki. 

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Beristirahat sejenak di tengah pendakian

Tepat jam 01.00 jalur pendakian dibuka. Bak para pelari marathon, masing-masing rombongan bersemangat menembus gelapnya malam dengan jalur sempit nan curam menuju puncak Gunung Ijen. Jangan tanya bagaimana dengan saya, belum 10 menit mendaki, saya sudah ngos-ngosan dan berhenti untuk instirahat sejenak. Begitu terus yang saya lakukan tiap 10 menit, hingga hampir menyerah untuk lebih memilih sewa troli ke atas. Tapi harapan itu hempas begitu saja setelah tahu bahwa biaya untuk naik troli lebih dari satu juta rupiah!! Well, sebetulnya wajar juga sih, mereka nariknya juga 2 orang, jalanannya terjal dan curam, belum lagi kalau yang naik berukuran besar. Hehe..

Itulah mengapa, pada akhirnya kami berpisah menjadi 2 tim (udah macem lomba aja). Ayah dan si kecil yang super semangat berjalan lebih dulu, sementara Abang harus rela nemenin dan nungguin saya yang berhenti tiap 10 menit. Hahaha... Ramainya para pendaki di hari libur membuat kami saling menyemangati satu sama lain, bahkan ejek-mengejek saat didapati anak muda yang masih segar bugar memilih naik troli! Duh, malunya udah ampun-ampunan. Bersyukurlah pada kegelapan malam yang sukses menyamarkan raut wajah mereka. Wkwkwk

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Mencari "tempat persembunyian"di puncak gunung sembari menunggu
matahari terbit

Tepat beberapa saat menjelang adzan subuh, saya tiba di tepi Kawah Ijen. Tentunya tim ayah sudah lebih dulu nongkrong sambil makan roti untuk menepis dinginnya udara gunung. But wait, ini bukan akhir dari segala-galanya saudara. Bagi yang ingin lebih menikmati sunrise bisa naik lagi sekitar 100 meter, sedangkan para pemburu blue fire harus menuruni kawah sedalam 1 km. Duh, duh, duh.. daripada turun kawah dan harus naik lagi, kami sudah puas untuk menunggu sunrise dari puncak Gunung Ijen.

Menjelang sunrise, puncak semakin ramai dengan para pendaki. Konon katanya, kalau kami para orang lokal butuh waktu 3 jam bahkan lebih, pendaki mancanegara hanya perlu 1 jam saja untuk sampai puncak! WOW banget sih! Saat semburat merah mulai terlihat, masing-masing duduk berpencar dalam kelompok-kelompok kecil seolah memenuhi puncak. Dan senyum bahagia pun nampak ketika perlahan matahari menyembul di balik awan nan cantik, ditambah birunya kawah yang mulai kasat mata. Ahhhh... rasanya sudah lupa dengan keluh kesah saya sepanjang pendakian melelahkan tadi. Maha Kuasa Allah dan Maha Sempurnalah ilmuNYA.

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Hai, Matahari terbit! I love you!
Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Hi, we're here!

Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan Kawah Ijen yang luar biasa, kami pun mulai turun. Di sinilah saya menemukan sebuah teori nggak penting. Kalau saya yang berbadan kecil ini kesulitan naik gunung, ternyata orang yang berbadan lebih berisi justru mengalami kesulitan saat turun gunung. Tentu saja karena harus menahan badan besarnya menggunakan kaki. Dengan medan Gunung Ijen yang luar bisa curam, lama-kelamaan akan membuat ujung jari kaki yang menahan menjadi lecet. Tak ayal, di detik-detik terakhir, si Ayah ngajakin kita berempat naik troli! Wkwkwk... Beda dengan harga naik gunung yang sampai di atas 1 juta, karena ini turunan dan jaraknya tak begitu jauh, kami hanya membayar Rp. 50.000,- untuk tiap troli yang diisi 2 orang (untuk yang slim pastinya, kalau gede ya 1 orang aja per troli ^,^)
Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Cantiknya pemandangan di atas gunung

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Waktunya turun gunung!

Jam 10.00 WIB kami telah sampai kembali di area parkir dan bersiap menuju hotel untuk beristirahat. Namun nggak afdhol kalau belum foto-foto dulu di atas jeep, hehe... So, pendakian Gunung Ijen adalah yang paling ekstrem dan menantang sepanjang pengalaman keluarga kami. Sebenarnya sebanding sih, dengan pemandangan dan kebahagiaan yang didapat. Tapi kalau ditanya mau balik ke sana lagi atau enggak, sepertinya kami lebih memilih nabung dulu biar bisa naik troli. Hahahaha...

Pendakian Menantang Menuju Kawah Ijen Bersama si Kecil
Mejeng di atas Jeep dulu sebelum pulang.

Happy Holiday! 

Related

Wisata 4270520374638114108

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

item