Belajar Dari Rumah dan Tangisan Ibu Bekerja

Belajar Dari Rumah dan Tangisan Ibu Bekerja Pandemi Covid-19 yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda anti klimaksnya, membuat kami pa...

Belajar Dari Rumah dan Tangisan Ibu Bekerja
Belajar Dari Rumah dan Tangisan Ibu Bekerja
Pandemi Covid-19 yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda anti klimaksnya, membuat kami para ibu bekerja makin menjerit. Apalagi kalau bukan berhubungan dengan kegiatan belajar dari rumah (BDR), yang mau tidak mau, suka tidak suka, menjadi tanggung jawab orangtua untuk mendampingi anak-anak dalam prosesnya. 

For your information, saat awal pembelajaran jarak jauh ini diterapkan pada pertengahan Maret lalu, saya pun luar biasa stress mendampingi dua anak yang masih di bangku sekolah dasar (SD). Saking stressnya, bahkan hingga memporak-porandakan siklus menstruasi saya! Well, gara-gara BDR ini siklus bulanan saya pernah absen sebulan, sampai panik karena mengira hamil! Hahaha... Jika dilihat dari berbagai status dan tulisan di media sosial sih, jangan ditanya lagi. Sudah berbagai cara para ibu bangsa ini mencurahkan keruwetannya dan memutuskan menyerah pada program BDR.

"Puncak dari tingginya keilmuan seseorang akan terwujud dalam akhlaqul kariimah, budi pekerti yang luhur"

Kalau kita renungkan lebih dalam, bukankah anak-anak juga sama sekali tidak menyukai kondisi ini? Come on, jangan merasa hanya orangtua yang menjadi korban dari keadaan. Mereka pun sama, hanya saja mereka tidak seheboh kita yang bisa curhat dimana-mana. Hehe.. Lebih lanjut, pembelajaran melalui dunia maya yang mengharuskan keterlibatan orangtua, sejatinya adalah rencana Allah untuk mengembalikan orangtua (terkhusus ibu) sebagai madrosatul uulaa, sekolah pertama mereka. Atau bahasa kerennya adalah home based education, pendidikan yang berbasis dari rumah. Tak hanya tentang lokasinya saja yang di rumah, tapi mencakup seluruh aspek dari pendidikan. Baik dari intelektualitas maupun spiritualitas yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Karena puncak dari tingginya keilmuan seseorang akan terwujud dalam akhlaqul kariimah, budi pekerti yang luhur.

Dari sudut pandang lain, maka kita akan melihat bahwa kondisi pandemi ini membuat para guru kreatif semakin bermunculan, bahkan menjadi suatu kewajiban. Maka jangan heran ketika kegiatan BDR yang sudah memasuki bulan kelima ini masih ada guru yang hanya memberikan setumpuk tugas, dipastikan akan mendapat serangan massal, baik dari murid, terlebih dari orangtua. Hahaha... Ya, perubahan adalah sunatullah, suatu keniscayaan. Maka berubah dengan beradaptasi adalah cara manusia untuk bertahan hidup. Saat ini sudah lazim anak-anak belajar melalui video yang diperagakan oleh guru mereka, pelajaran cerita menjadi lebih menarik, tugas-tugas juga membuat anak dituntut untuk lebih kreatif.

Lalu apa kabar tangisan para ibu bekerja? Alih-alih menjadi penggerutu sejati tanpa solusi, lebih baik kita mencari cara untuk tetap bisa menikmati situasi ini. Caranya?

Buat Aturan Bersama Anak

Sependek pengalaman saya, rules is the key. Aturan adalah koentji! Sepanjang kita memiliki aturan yang dipahami dan disepakati bersama antara orangtua dan anak, maka berapa jumlah anak hanyalah sebuah angka. Tentu aturan bukan hanya terkait boleh dan tidak boleh, namun juga tentang apresiasi dan konsekuensi. Bukan hanya berlaku untuk anak-anak, namun juga bagi orangtua.

Dalam mendampingi BDR, ibu bekerja dapat menyepakati aturan tentang jam belajar bersama anak-anak. Saya memiliki kesepakatan dengan si Sulung bahwa setiap pagi selepas menyelesaikan tugas domestik rumahnya, ia akan mandi, mengaji dan membuat video setoran hafalan. Kemudian sarapan, mengikuti kegiatan virtual meeting maupun pembelajaran melalui classroom. Bila ada tugas, ia akan mengerjakan sendiri sesuai yang ia pahami. Sepulang bekerja biasanya saya akan menanyakan hari ini pelajarannya apa? Membahas tentang apa? Lalu saya minta ia bercerita tentang materi yang telah dibaca. Barulah kami mendiskusikan tugasnya bersama.

Baca juga : Mengajarkan Disiplin pada Anak

Hal ini cukup efektif dalam mendampingi si pra remaja seperti putera sulung kami. Lalu bagaimana kalau masih sekolah dasar? Kelas bawah, lagi! Mau tidak mau kita mulai memperkenalkan mereka tentang teknologi, karena sesungguhnya anak adalah fast learner. Jadi untuk urusan virtual meeting relatif sudah aman. Selanjutnya berbagai pembelajaran dari guru berupa video biasanya langung saya teruskan ke gawai yang dipinjamkam kepada mereka. Lalu ritual sepulang bekerja akan sama dengan si sulung. Namun beda lagi untuk tugas hafalan dan mengaji yang memang membutuhkan waktu tersendiri bagi anak 8 tahun. Belajar dari pengalaman, kami menghindari waktu malam hari untuk mengerjakan tugas hafalan dan mengaji setiap harinya. Tentu saja karena malam adalah waktunya beristirahat, kalaupun dipaksakan seringkali anak sudah tidak fokus karena lelah, ngaji dan hafalan jadu banyak salah, emak makin emosi, dan mulai terjadilah drama tangis-tangisan. Hehehe.. Kalau sore hari sudah tidak memiliki cukup waktu untuk hafalan dan mengaji, kami sepakat untuk melakukannya di pagi hari sebelum bekerja. Dengan kondisi segar, anak yang sudah mandi dan rapi, suasana hati menyenangkan, hafalan akan lebih mudah masuk, mengaji pun jadi menyenangkan, insyaa Allah. 

So, dari pada hanya menanti datangnya surat keputusan mas Menteri tentang sekolah tatap muka, yuk buat kesepakatan bersama agar belajar dari rumah menjadi lebih menyenangkan dan no more drama.   

Related

Tips 187538546796936584

Post a Comment

Hai, saya Nurul.
Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar pada artikel ini. Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.
Salam hangat.

emo-but-icon

Member of

Member of

Part of

Blogger Perempuan

Member of

Member of
Blogger Perempuan Semarang

Follow by Email

Random Artikel

item