Mar 27, 2015

Nilai Seratus

Nilai Seratus
Guru : "Dua ditambah dua berapa Anak-anak?"
Murid : "Empat, Bu guru..."
Guru : "Yak, seratus untuk kalian semua!"

Tentu Mommies sudah tak asing lagi dengan percakapan seperti di atas. Tak hanya guru, bahkan para orang tua di sekeliling kita sering kali memberi "nilai" seratus ketika si anak dapat menjawab pertanyaan dengan benar. 

Ya, seratus telah dikonotasikan dengan kesempurnaan bagi sebagian masyarakat kita. Namun cara pandang saya berubah setelah percakapan kami, saya dan si sulung saat makan siang tadi. Dengan lugunya, tiba-tiba ia bertanya, kenapa semua orang dewasa suka memberi seratus? Saya yang masih sedikit bingung pun meminta penjelasan lebih lanjut, "Kapan abang diberi seratus?" tanya saya. Si sulung pun mulai bercerita bahwa setiap ia ditanya oleh orang dewasa, seperti sang kakek atau orang dewasa lainnya, seringkali mereka mengatakan "Pinter, seratus!" untuk jawabannya. "Padahal habis itu abang ga dikasih uang 100 lho... Terus apa maksudnya bilang seratus?" tambahnya. See? Bahkan si abang pun tak paham bahwa seratus berarti jawabannya benar, atau mengesankan, atau sempurna, atau apapun itu yang dikonotasikan dengan kata "seratus". Hehe...

Putra kami memang tak pernah mengenal nilai seratus, karena baik kami sebagai orang tua maupun para guru yang membimbingnya tidak pernah menilai kemampuan dengan angka, melainkan dengan ungkapan Hebat, Bagus, Pintar, Kurang teliti, Kurang fokus, atau Harus lebih semangat. Tentunya sangat jauh berbeda dengan generasi saya yang sangat mengagung-agungkan nilai seratus, bahkan kalau perlu dipajang atau dikoleksi sebagai kebanggaan. Tak jarang, nilai seratus juga bisa dijadikan alat tukar untuk menaikkan uang saku. ^_^

Bahkan, ketika kurikulum 2013 yang menganjurkan raport berisi narasi (bukan angka) mulai diterapkan, para orang tua pun banyak yang ikutan gagap. Tak hanya guru yang mulai pusing menceritakan perkembangan tiap muridnya dalam bentuk narasi (bayangkan bila di sekolah negeri terdapat 40 siswa dalam satu kelas), banyak pula keluh kesah orang tua murid yang menyatakan, "Anak saya kok ga ada nilainya, sebenarnya dia pintar apa bodoh?", "Saya jadi bingung mau mengikutkan anak saya les apa, karena tidak tahu pelajaran apa yang nilainya masih merah?", atau "Kalau tidak ada rangkingnya begini, anak saya sebenarnya urutan ke berapa di kelasnya?", dan masih banyak ungkapan para orang tua gagal move on lainnya. Karena dulu generasi kita memang hanya diperkenalkan dua golongan murid, pintar atau bodoh? rajin atau malas? juara atau pecundang?

Mari kita mulai mengubah sudut pandang kita, sebagaimana Thomas Alfa Edison meminta redaktur meralat berita di media massa kala itu yang membuat headline "Edison berhasil membuat lampu pijar setelah 999 kali gagal dalam menemukan logam yang cocok dalam percobaannya", dengan "Edison berhasil membuat lampu pijar serta menemukan 999 logam baru dalam percobaannya".

Mari kita mulai mengubah sudut pandang kita, sebagaimana Thomas Alfa Edison meminta redaktur meralat berita di media massa kala itu yang membuat headline "Edison berhasil membuat lampu pijar setelah 999 kali gagal dalam menemukan logam yang cocok dalam percobaannya", dengan "Edison berhasil membuat lampu pijar serta menemukan 999 logam baru dalam percobaannya". Luar biasa bukan bagaimana dengan mengubah sudut pandang kita akan mendapati bahwa segala hal harus dilihat secara positif. Mendapat nilai seratus atau tidak, tak mampu mengubah kenyataan bahwa sesungguhnya anak-anak kita dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Jadi, mengapa kita tidak fokus pada kelebihannya ketimbang terus menerus menyesali kekurangannya?


Salam Hangat,






Mar 13, 2015

Resensi Buku Ayah Edy Punya Cerita

Resensi Buku Ayah Edy Punya Cerita
Judul Buku : Ayah Edy Punya Cerita
Penulis : Ayah Edy
Penerbit : Noura Books
Terbit : 2013
Halaman : 304 halaman
Kategori : Parenting, Anak
Rating : Must Be Read!

Siapa yang tak kenal dengan Ayah Edy? Tentunya Mommies sudah tak asing lagi. Praktisi pendidikan anak yang juga penggagas gerakan Indonesia Strong From Home ini memang banyak membagikan pengalaman serta pemikirannya dalam bentuk buku maupun Compact Disc (CD). Selain Buku Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak (resensinya dapat Mommies baca di sini), buku Ayah Edy Punya Cerita ini juga dapat menjadi wacana, membuka wawasan, sekaligus motivasi bagi Mommies semua tentang konsep pendidikan anak.

Buku Ayah Edy Punya Cerita ini berisi kumpulan kisah inspirasi tentang parenting yang wajib diketahui setiap orang tua dan menyadarkan kita bahwa keluarga adalah tempat terpenting bagi pembelajaran dan pengembangan diri anak-anak. Seperti Albert Einstein, yang berkata bahwa otaknya digunakan untuk berpikir dan menemukan, bukan untuk 'menghapal' hal-hal yang bisa kita cari di buku. Bill Gates yang meninggalkan kuliahnya di Harvard karena ia sudah tahu apa keinginannya, dan tahu bahwa keinginannya tidak mungkin tercapai melalui Harvard. Thomas Alfa Edison yang dikeluarkan pada bulan ketiga ia mulai sekolah, sampai akhirnya berhasil mematenkan lebih dari 1000 penemuan dengan motivasi dari ibunya. Serta cerita tentang sekolah para monyet dan sekolah para binatang yang mungkin bisa menyadarkan kita semua tentang hakekat pendidikan sebenarnya.

Berikut saya kutip berbagai pandangan dari beberapa tokoh dari Buku Ayah Edy Punya Cerita yang patut kita renungkan:
  • Soichiro Honda, seorang pengusaha, pendiri perusahaan honda motor pernah berkata dalam satu wawancara, "Sekolah terlalu banyak memberi apa yang saya tidak ingin ketahui, tapi justru sangat sedikit memberikan apa yang sungguh-sungguh saya ingin ketahui. Oleh karena itu, saya hanya pergi ke sekolah apabila merasa ingin mengetahui sesuatu yang tidak saya temukan di luar sekolah."
  • John Lennon, pernah menulis dalam buku hariannya. Aku menyadari apa arti genius pada usia delapan tahun. Aku selalu bertanya-tanya, mengapa tidak ada seorang pun yang menyadari kalau aku ini juga genius?
  • Bob Sadino, juga pernah menyampaikan hal serupa kepada anaknya, "Nak, kamu boleh sekolah sejauh yang kamu mau, tapi jika kamu sudah tidak mau sekolah ya keluar saja. Biar Papalah yang akan menjadi gurumu."
Dari kutipan di atas, bukan berarti saya menganggap sekolah itu buruk, atau menyarankan untuk tidak menyekolahkan anak. Namun, mari kita perluas wawasan kita tentang apa itu belajar? apa itu sekolah? sekolah seperti apa yang cocok dengan cara belajar anak kita? apakah anak kita nyaman di sekolah? apakah sekolah membantu kita untuk tahu bidang minat anak-anak? apa keinginan mereka? bagaimana mencapai tujuannya? Itulah tugas besar kita sebagai orang tua. 

"Puncak dari pendidikan itu sendiri adalah akhlak (moral dan perilaku) yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari."

Di luar semua hal itu, seorang sahabat saya pernah berkata, bahwa puncak dari pendidikan itu sendiri adalah akhlak (moral dan perilaku) yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, apalah gunanya pintar tapi berakhlak buruk. Apalah arti genius jika berakhir dengan bunuh diri. Sayangnya, di negara kita belum ada pelajaran khusus moral dan akhlak, dengan hanya menyisakan dua jam pelajaran Agama dalam satu minggu. That's our resposibility!

Salam Hangat,

Mar 6, 2015

Pengenalan Uang Pada Anak

Pengenalan Uang Pada Anak
Pengenalan Uang Pada Anak
Image : amarhamdani.blogspot.com
"Uang bukanlah segalanya, tapi uang bisa mempermudah kehidupan kita" Sebuah quote tersebut tampaknya cukup menjelaskan tentang uang yang merupakan salah satu sarana untuk mempermudah kehidupan kita. Ingat, fungsinya hanya sarana mempermudah, jadi diharapkan dengan adanya uang kita akan lebih bebas untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya.

Konsep seseorang tentang uang sebagian  besar dipengaruhi oleh bagaimana mereka diperkenalkan dengan uang sejak kanak-kanak. Apakah orang tua selalu menuruti keinginannya yang berhubungan dengan uang, ataukah semenjak kecil diajarkan bijak dalam membelanjakan uang, ada pula yang sudah ditanamkan bahwa berapapun uang yang kita peroleh, dari siapapun, sisihkan sebagian untuk berbuat kebaikan.

Lalu, kapan kita bisa mulai memperkenalkan uang pada anak? Pada saat anak telah paham kegunaan uang sebagai alat tukar, saat itu pula kita bisa memulai pengenalan uang pada anak, biasanya sekitar usia 5 tahun. Pengenalan disini bukan hanya mengajar berhitung dan menabung, namun juga nilai-nilai apa saja yang dapat ditanamkan dalam proses pengenalan uang pada anak ini.

Beberapa nilai berikut ini bisa Mommies tanamkan melalui proses pengenalan uang pada anak :

Uang sebagai alat tukar.
Walaupun anak usia 5 tahun belum terlalu pandai berhitung, tapi kita bisa mulai mengajaknya berbelanja, memperkenalkan berbagai pecahan mata uang, sampai nama-nama mata uang dari berbagai negara. Oiya, kita juga bisa mendownload video pembuatan uang via you tube sebagai tambahan referensi.

Tanamkan bahwa segala sesuatu yang kita dapat selalu disertai dengan usaha.
Sebagaimana putera sulung kami harus berlatih sungguh-sungguh agar lulus ujian kenaikan tingkat dalam taekwondo, maka ia juga harus 'bekerja' agar bisa membeli mainan yang diinginkan. Kecuali kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan dan perlengkapan sekolah), bila menginginkan sesuatu maka ia harus membeli dengan uangnya sendiri. Uangnya dari mana? Ya dari bekerja di rumah. Misalnya? Membantu menyapu lantai, menyiram bunga, membantu menguras aquarium dll. Awalnya kami juga memberi 'upah' untuk menata tempat tidur, namun seiring berjalannya waktu kami memberi pengertian bahwa hal-hal seperti menata tempat tidur, membuang sampah pada tempatnya, merapikan mainan setelah dipakai, menaruh baju kotor serta merawat perlengkapan sekolah itu merupakan kewajiban. Jadi ia mulai beralih ke membantu mencuci motor, membantu membersihkan kebun, mengelap perabot rumah dll. Dan uang yang didapat dari 'bekerja' akan disimpan sendiri oleh si anak.

Butuh usaha lebih untuk mencapai tujuan besar.
Dari proses 'bekerja', anak jadi paham bahwa untuk membeli kertas binder ninja turtles ia hanya butuh uang Rp. 10.000,-, sedangkan untuk membeli crayon dengan 60 variasi warna ia perlu mengumpulkan uang lebih dari Rp. 50.000,-, yang artinya ia harus lebih giat bekerja untuk mencapai tujuannya. Suatu hari saya mengantar Abang membeli crayon, sepulangnya dari toko, Abang mulai menghitung berapa uangnya yang tersisa. Dan tiba-tiba ia berjalan ke belakang, mengambil kanebo, dan mengelap lemari!! Saya dengan heran bertanya, "Abang baru sampe rumah kok udah elap-elap aja, rajinnya..." dan masih sambil melanjutkan pekerjaannya, si Abang menjawab "Abang mau rajin bekerja, soalnya uangnya tinggal sedikit" Wah.. sudah dewasa pangeran kecil saya! ^_^

Belajar menentukan prioritas.
Dengan mengelola uang sendiri, terkadang anak jadi punya keinginan ini itu karena merasa bisa bekerja dan punya uang sendiri. Jangankan anak, kita saja yang orang dewasa suka kalap kalau lagi banyak uang. Hehe... Seperti putra kami yang suatu hari ingin membeli travel bag kecil dengan uangnya, lain waktu ia ingin membeli kamera polaroid. Kalau sudah begitu kita tinggal menekankan, sebenarnya Abang mau beli yang mana? Mana yang lebih penting? Mengapa? Dan dari situlah anak mulai belajar berpikir untuk menentukan skala prioritas.

Belajar membuat perencanaan.
Keinginan dan minat setiap anak berbeda-beda, maka hal yang di butuhkan pun berbeda antara satu anak dengan anak lainnya. Dari proses pengenalan uang pada anak, diharapkan kita akan lebih tau minat anak dengan menanyakan apa tujuan dan fungsi dari setiap barang  maupun kegiatan yang ia inginkan dengan sarana uangnya. Mintalah anak bercerita, tahu mainan atau kegiatan ini dari mana? Kenapa ingin dibeli / ingin pergi ke suatu tempat? Kalau sudah dibeli akan dipakai apa / tujuannya apa? Pengetahuan apa yang bisa diperoleh? Kalau anak sudah lebih besar, arahkan seperti membuat presentasi. Karena semakin besar tak jarang keinginan anak juga berbiaya tinggi, bukan sekedar mainan lagi kan? Setelah mendengar penjelasan anak, baru orang tua berdiskusi apakah bisa diterima atau dialihkan ke hal lain, apakah perlu subsidi orang tua dan lain sebagainya. 

Pengenalan Uang Pada Anak
Kamera second Abang yang masih tertulis nama pemilik sebelumnya

Bersyukur atas semua yang kita peroleh.
Beberapa waktu lalu si Abang ingin membeli kamera polaroid, yaitu kamera yang langsung keluar hasilnya saat di jepret. Setelah diskusi kenapa dan untuk apa, kami mulai survey harga kamera tersebut. Rata-rata kamera polaroid baru dijual dengan harga di atas satu juta rupiah, sementara uang yang Abang punya tidak mencapai satu juta. Akhirnya kami putuskan untuk membeli kamera second, dengan kondisi baik dan masih bisa dipakai. Abang tetap senang dan bangga dengan kameranya karena dibeli dengan hasil usaha sendiri, tujuan membeli kamera pun masih bisa tercapai. Melalui pengalaman ini, anak diajarkan untuk tetap bersyukur akan segala hal yang ia miliki, tetap menerima dengan senang dan belajar untuk tidak memaksakan kehendak yang diluar kemampuan kita.

Saat ini, menginjak usianya yang kesembilan, Abang dan adiknya tak lagi mendapat upah ketika membantu pekerjaan rumah, karena sudah beralih prinsip dari 'membantu agar dapat uang' menjadi 'membantu ayah bunda agar makin disayang Allah'. Kini mereka mendapat uang dari berjualan es lilin di sekolah maupun saat bermain di lingkungan rumah sejak setahun lalu. Hasilnya sebagian untuk ditabung, dibelanjakan modal kembali, mengisi dompet mereka (untuk jajan dan infaq sehari-hari) serta 'menggaji' budhe ART kami yang membantu membuatkan es. Hehe.. Selain itu masih banyak nilai-nilai positif lainnya yang dapat kami ajarkan pada buah hati. Nantikan artikel selanjutnya tentang kisah jualan mereka ya! Mari belajar bersama...

Salam Hangat,

Mar 3, 2015

Menghadapi Anak Tantrum

Menghadapi Anak Tantrum, Tega atau Konsisten?
Sumber : id.theasianparent.com
Pernahkah Mommies menghadapi anak yang sedang tantrum? Well, saya yakin sebagian besar dari kita pernah mengalaminya, terutama bila putra putri kita masih balita. Tantrum atau temper tantrum adalah luapan kekesalan dan atau kemarahan. Pada dasarnya, tantrum dapat terjadi pada setiap orang berapapun usianya. Namun saat kita membicarakan soal tantrum, umumnya mengacu pada perilaku marah pada anak-anak untuk meluapkan rasa frustrasi, baik dengan berteriak, menendang, berbaring di lantai, atau bahkan beberapa anak suka menahan nafas saat tantrum, dengan harapan untuk mendapat perhatian orang tuanya.

Temperamen dan sifat dasar anak sangat mempengaruhi kebiasaan tantrum. Anak yang aktif dan ekspresif sering kali tantrum saat keinginannya tidak terpenuhi, saat sedang takut atau saat merasa panik. Sedangkan anak yang lebih pendiam umumnya hanya menangis untuk melampiaskan rasa kesalnya dan cenderung lebih mudah ditenangkan. Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 - 3 tahun yaitu saat anak mulai membentuk kesadaran diri, namun tak jarang ada anak yang hingga usia sekolah masih sering tantrum. Kalau sudah begini lantas bagaimana? Selain karena sifat dasarnya, hal tersebut bisa disebabkan karena kesalahan orang tua dalam menghadapi anak tantrum.

Berikut beberapa pengalaman saya saat menghadapi anak tantrum yang mungkin bermanfaat :
  • Jika tantrum terjadi di rumah, sebaiknya Mommies tetap bersikap tenang, lanjutkan kegiatan yang sedang Mommies kerjakan dan abaikan sampai anak bersikap lebih tenang. Kalau semakin menjadi atau sampai merusak barang-barang, lakukan time out (kalau versi saya, anak akan saya ajak ke pojok ruangan tertentu dan akan berada disana sampai bersikap lebih tenang atau sudah bisa diajak berbicara) lalu jelaskan konsekuensinya jika anak masih terus merusak atau melempar barang-barang. Biasanya saya akan berkata, "Abang kalau masih mau marah silakan berdiri / duduk di sini dulu, nanti kalau sudah selesai boleh kedepan bicara sama Bunda.". Yang terpenting adalah ucapkan dengan tegas, menjaga kontak mata, posisi sejajar, dan tunjukkan keseriusan Mommies. Setelah kemarahan anak reda, dia akan dengan sendirinya menghampiri Mommies, atau saat sudah tenang Mommies bisa menghampirinya, memeluk dan mulai berbicara baik-baik. Dengan begitu, anak bisa belajar bahwa tantrum tidak akan memberinya apa-apa dan mulai menyadari pentingnya komunikasi secara verbal.
  • Bagaimana jika di tempat umum? Saya pun juga pernah mengalaminya. Suatu hari saya dan si Abang ke toko buku untuk membeli alat tulis, namun kemudian ia mulai merengek minta dibelikan mainan. Saya tegas melarang, selain karena tidak ada rencana / perjanjian akan beli mainan saat itu, ia juga sudah memiliki mainan serupa di rumah. Namun abang (yang saat itu berusia 3 tahun dan manipulatif) segera berteriak meminta mainan saat itu juga, karena sudah tidak bisa di ajak berbicara baik-baik maka saya menggendongnya menuju tempat parkir. Begitu saya mau membuka pintu mobil, ternyata Abang sudah berlari kembali masuk ke dalam toko!! Oh My GOD... saya pun mengejarnya, dan terjadilah adegan kejar-kejaran di dalam toko dimana si Abang masih sambil berteriak dan menangis. Saya tak lagi menghiraukan tatapan aneh ataupun mengiba dari orang-orang di sekeliling kami, saya hanya menanamkan 'kalau saya kalah kali ini, maka Abang akan berbuat hal yang sama di kesempatan lain' sambil mengangkat Abang yang sudah mulai tiduran di lantai sambil mencoba menendang kesegala arah. Sesampainya kami di dalam mobil, Abang masih berteriak menangis sedangkan saya tertunduk lemas di kemudi mobil sambil meneteskan air mata, 'Ya Tuhan... betapa beratnya tugas menjadi seorang ibu' batin saya saat itu. Sepanjang perjalanan saya hanya diam menenangkan diri dan berusaha agar tidak sampai marah, sedangkan Abang mulai lelah menangis dan tertidur. Begitu tiba di rumah, saya memberi pengertian pada Abang sampai kami berdua sama-sama menangis dan berpelukan. 
  • Karena kejadian itu, hingga kini Abang sudah paham tentang aturan time out, konsekuensi merusak barang, bahwa saya akan lebih menghargai pendapatnya saat berbicara dengan baik-baik dibanding ketika marah, dan arti ketegasan. Sekarang, tiap kami berbelanja, yang biasanya sudah kami rencanakan apa saja yang akan dibeli, ia tak lagi merengek meminta sesuatu diluar perencanaan. Terkadang Abang hanya menguji saya, berharap masih ada 'negosiasi' dengan mengatakan "Beli mainan boleh, Bunda?" dan begitu saya menoleh ia sudah menjawab sendiri "NO!" sambil tersenyum dan dilanjutkan "Abang lihat-lihat aja boleh ya, nanti kalau uang tabungan Abang udah cukup kita kesini lagi beli ya?" dan saya pun meng-iyakan.
"Tega dan Tegas akan terlihat sama bagi orang yang tidak memahami maknanya."
  • Ketegasan orang tua ternyata sangat menentukan dalam pembentukan pribadi anak, saya masih nggak kebayang gimana jadinya kalau dulu saya menuruti kemauan putra saya. Pastilah hingga kini saya harus menghadapi anak SD yang suka tantrum dan manipulatif, dengan tenaga yang lebih kuat, bagaimana saya akan menenangkannya? So, jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain, tetangga, keluarga yang mungkin mengira kita 'tega sama anak' (karena saya juga pernah dianggap begitu), tapi kitalah yang lebih tau ingin membentuk anak kita menjadi pribadi seperti apa. Tega dan Tegas akan terlihat sama bagi orang yang tidak memahami maknanya.
Jadi, tetap tegas dan konsisten ya Mommies dalam menghadapi anak tantrum yang sering kali manipulatif, kita lah yang menanam sejak dini, dan kita pula lah yang akan memetiknya di masa mendatang. Semoga bermanfaat ^_^

Salam Hangat,