Aug 23, 2018

Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera

Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera
Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera
Indonesia memiliki lebih dari 17.504 pulau, 16.506 di antaranya telah memiliki nama yang dibakukan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dari puluhan ribu pulau tersebut, hanya sekitar 6.000 pulau yang berpenghuni. Lima terbesar di antaranya adalah Pulau Kalimantan, Pulau Papua, Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi. Banyaknya pulau yang dimiliki negeri ini, sebanyak itu pula keragaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat serta kebiasaan masyarakat yang menetap di dalamnya. Hal ini pulalah yang membuat Indonesia unik dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Sebagai anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa, saya lumayan kuper karena pengalaman ke luar pulau saya hanya sebatas Bali dan Sumatera. Hehe.. Meski begitu, saya cukup kenyang menyusuri lintas Sumatera dalam rangka mudik, serta sangat antusias setiap kali menemui hal-hal unik yang tidak saya temui di Pulau Jawa selama perjalanan. Ini dia yang unik di sepanjang lintas Sumatera (Semarang - Padang Lawas Utara) berdasarkan pengalaman saya :
1. Spion Terbang
Yang paling khas dari lintas Sumatera adalah jalanannya yang berkelok-kelok namun dengan lalu lintas yang relatif sepi. Kalau bukan kelak kelok menyusuri danau, sungai atau laut, ya pastilah naik turun melewati hutan dan perkebunan. Di sinilah keahlian menyetir sangat diperlukan. Salut buat Bapak-bapak sopir bus lintas Sumatera yang sedemikian tangguh dan teruji dalam mengendalikan bus di jalanan yang seringkali sempit dan berliku.

Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera
Spion patah berakhir terbang, hehe...
Sumber gambar : www.ask.fm
Sepinya lalu lintas sering kali membuat sopir cenderung meningkatkan kecepatan kendaraannya. Nah, pada saat musim mudik inilah banyak insiden spion terbang akibat mobil yang berpapasan di tikungan dengan kecepatan tinggi. Sedikit saja salah perhitungan atau insting sang sopir tidak tepat, maka spion terbang sangat mungkin terjadi. Selama perjalanan lintas Sumatera, beberapa kali kami dikagetkan dengan suara 'glodak' karena menginjak spion mobil depan yang telah patah dalam hitungan detik. Ngeri-ngeri sedap gitu lah..

2. Gayung Berlubang
Setiap kali melepas lelah selama perjalanan lintas Sumatera, baik di SPBU maupun masjid-masjid, tak jarang di dalam kamar mandi saya mendapati gayung yang berlubang. Berlubang ya, bukan bocor. It means memang sengaja dilubangi. Terlihat dari bentuk lubangnya yang rapi dan letaknya yang simetris. Terkadang di dasar gayung ada 4 lubang yang simetris, kadang 3 lubang atau hanya 2 lubang.

Saking seringnya menjumpai hal ini, saya sampai penasaran dengan maksud dan tujuan gayung berlubang ini. Maka bertanyalah saya pada Bang suami, "Ay, kenapa gayung di sini sengaja dilubangi, emang ada orang yang mau nyuri gayungnya gitu?" lantas dijawab dengan santainya, "Ya biar gayungnya nggak dibawa keluar kamar mandi", "Lah, ngapain juga bawa gayung kemana-mana?" balas saya seakan belum puas, "Kan banyak tuh, orang-orang yang ngambil gayung dari kamar mandi buat sekedar ngisi air radiator samapai buat nyuci mobil! Makanya dibolongin, biar kalau dibawa keluar langsung habis tuh air.." Hahahaha... ternyata gitu toh, menarik! ^,^

Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera
Toilet tanpa pintu dan gayung berlubang ^,^

3. Toilet Tanpa Pintu
Nah kalau yang satu ini biasa dijumpai di masjid atau musholla. Jadi akan ada ruangan cukup besar yang berisi kran berderet untuk wudhu, dan di sisi lain terdapat toilet berjajar yang hanya dibatasi sekat setinggi bahu serta tanpa pintu! Wkwkwk... Toilet seperti ini pertama kali saya jumpai di tepi Danau Singkarak, Kabupaten Solok.

Honestly awalnya saya agak shock, namun karena terpaksa dan kebetulan saat itu hanya kami sekeluarga yang singgah, akhirnya saya nekat jadi orang egois. Ruangan besar itu saya kunci dari dalam, jadi kalau ada orang lain yang ingin berwudhu maupun ke toilet mau tidak mau harus menunggu saya selesai buang hajat. Benar saja, begitu keluar ada ibu beserta anaknya yang menunggu di depan pintu dengan wajah agak pucat dan benggoyang-goyangkan kakinya pertanda tiiiiiiiit, hahaha... Jahat banget deh, saya.

Kabar baiknya adalah tempat wudhu dan toilet terbuka umumnya bersih dan terawat. Harus dong ya, kalau dijadikan satu dengan tempat wudhu memang musti dijaga agar tidak menjadikan najis selepas berwudhu. Setelah pengalaman pertama ini, berikutnya saya sudah terbiasa dengan toilet tanpa pintu, bahkan lama-lama jadi muka tembok buat BAK sebelahan sama orang lain. Sama-sama perempuan ini, hahahaha...

4. Pasar Setengah Hari
Suatu malam saya bersama sepupu dan para keponakan sedang berjalan menuju pasar malam di dekat rumah Uwak kami. Memang biasanya pasar malam selalu hadir setiap libur panjang, termasuk libur lebaran. Lapangan yang ditempati pasar malam ini berada di sebelah bangunan pasar. Ketika berkeliling, saya baru menyadari bahwa area ini digunakan untuk berjualan setiap harinya. Lantas, apa para pedagang libur selama ada pasar malam? No, mereka memang hanya berjualan dari jam 04.00 pagi hingga jam 12.00 siang. Setelahnya semua perlengkapan jualan dan barang-barang akan dibawa pulang dan lapangan pun kembali bersih seolah tak pernah ada pasar di situ. Hal ini benar-benar mengagumkan bagi saya!

Kalau biasanya di Semarang meski pasar telah tutup, para pedagang masih meninggalkan meja, payung serta berbagai perlengkapan jualan mereka sehingga tampak penuh. Namun di Sumatera, begitu selepas Dhuhur dipastikan bangunan pasar sudah tertutup rapi dengan halaman pasar yang super bersih. Hal ini memudahkan acara-acara lain digelar di tempat tersebut tanpa khawatir merusak pasar atau bau. Konsekuensinya nggak bisa tuh belanja sore-sore sepulang kerja, karena udah nggak bakal ada yang jualan. Jadi pilihannya hanya berbelanja di warung belanjaan terdekat. Plus kalau kita melewati pasar pada tengah hari, dipastikan akan terjebak macet yang cukup panjang, ya karena banyaknya angkot mangkal buat mengangkut peralatan dan bahan jualan untuk di bawa pulang. Tentu karena saya pun pernah mengalaminya.

Baca juga : Mengenal Saigon (Sailfin Dragon), Reptil Asli Indonesia

5. Pengendara Motor
Meski sangat tidak dianjurkan, saat musim lebaran masih banyak pemudik dari pulau Jawa yang menuju Sumatera menggunakan sepeda motor. Para pemudik motor ini biasanya membentuk kelompok dan berjalan berombongan, mereka sungguh setrong!

Hal yang paling membedakan pengendara  motor warga lokal dan pemudik adalah, bahwa warga lokal itu hampir nggak pernah pakai helm. Hehehe... Mau pagi, siang, sore bahkan malam, mereka bepergian tanpa helm, tanpa jaket, tanpa masker serta berbagai perlengkapan mengemudi lainnya. Saya sampai terbengong-bengong, padahal siang hari di jalanan lintas Sumatera panasnya cukup menyengat. Bahkan ketika dalam perjalanan malam (lewat tengah malam tepatnya), sering kali kami berpapasan dengan warga lokal yang mengendarai motor tanpa helm dan jaket. Duh kok kuat banget, semoga mereka sehat selalu ya.

Di samping itu, para pengendara motor ini adalah hal yang paling 'horror' bagi pemudik yang menggunakan mobil maupun bus. Karena dengan kondisi jalanan Sumatera yang mulus, luas dan biasanya sepi, maka tak heran udah berasa jalan milik sendiri. Sehingga naik motor dengan kecepatan tinggi, seringkali mengabaikan sign lampu dan reting, rem mendadak, tiba-tiba belok, berkendara di tengah hingga berkendara secara berjajar sambil ngobrol adalah hal yang lumrah. Hal inilah yang perlu dipahami para pemudik. Sebagai 'tamu' sudah selayaknyalah kita lebih bersabar.

6. Most Favorite Game : Tembak-tembakan
Yup, main tembak-tembakan a.k.a perang-perangan adalah permainan yang paling diminati bagi warga yang tinggal jauh dari kota besar, termasuk kampung kami di Kabupaten Paluta, Sumatera Utara. Minimnya sarana hiburan membuat anak-anak hingga remaja seringkali menghabiskan waktu di persewaan play station, mengunjungi pasar malam (jika ada), bermain trek-trekan (karena jalanan relatif sepi) dan yang paling umum adalah main tembak-tembakan. Di setiap pasar yang ada, akan selalu tersedia berbagai macam pistol mainan dari yang kecil hingga yang serupa aslinya. Dari yang seharga puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah semuanya komplit plit plit.

Biasanya anak-anak bermain di hutan terdekat sambil tembak menembak ala tentara, atau menaiki mobil bak terbuka sambil menembakkan pistol mainan ke setiap anak di pinggir jalan, yang mana mereka bawa pistol juga. Pokoknya udah semacam mainan sejuta umat. Tak heran setiap kami pulang kampung, anak-anak selalu membawa pulang beragam pistol mainan lengkap beserta kaca matanya. Udah berasa main paintball gitu. Wkwkwk

Yang Unik di Sepanjang Lintas Sumatera
Kebiasaan makan bersama di selama pulang kampung di Sumatera
dok.pri

Setiap daerah selalu memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dari segi bahasa, budaya, kebiasaan, gaya hidup yang kesemuanya menjadi daya tarik tersendiri. Ini baru hal-hal kecil yang saya perhatikan selama mudik, belum lagi tempat-tempat wisata yang belum banyak terkespos, upacara adat mereka seperi kenduri yang unik dan masih banyak lagi. Di momen seperti inilah I'm proud to be Indonesian! Yuk, mba Ade dan mba Tanty kita explore Sumatera, semoga bermanfaat ya.

Aug 9, 2018

Fun Time #22 : Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan

Fun Time #22 : Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan
Fun Time #22 :
Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan

Meskipun termasuk pecinta sabun mandi cair, namun saya dan keluarga masih menggunakan sabun konvensional a.k.a batangan. Salah satunya adalah karena kegemaran kami terhadap sabun sere, and you know lah kalau sabun sere itu kebanyakan batangan. Permasalahan terjadi ketika sabun mulai mengecil sehingga susah digunakan, bahkan tak jarang suka 'mrucut' dan berakhir masuk ke dalam lubang closet. Hahaha... Biasanya sih, Bang suami yang ahli dalam menggabungkan beberapa sisa sabun yang telah mengecil menjadi satu. Namun begitu tiba giliran saya yang menggunakan, ambyarlah sabun-sabun mini yang tadinya saling menempel itu, wkwkwk..

Karena insiden itu terjadi terus-menerus, akhirnya tercetuslah ide untuk menggunakan kembali sisa sabun batangan tersebut, sekaligus mengisi jadwal fun time kami di minggu ini.

Pertama, saya minta bantuan si kecil untuk mengumpulkan sisa sabun sere dari kamar mandi. Lumayan lah, terkumpul empat batangan kecil-kecil. Selanjutnya, si Abang bertugas untuk memarut sabun menjadi serpihan kecil-kecil. Harapannya, semakin kecil partikel sabun, maka akan semakin cepat proses pelelehan terjadi. Untuk memarut bisa menggunakan parut biasa maupun parutan keju dengan hasil tekstur yang agak kasar.

Fun Time #22 : Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan

Baca juga : Fun Time #21 : Membuat Dompet Koin dari Kardus Bekas

Setelah selesai memarut, langkah selanjutnya adalah melelehkan serpihan sabun. Untuk melelehkan sabun, kami memindahkan hasil parutan ke dalam panci tahan panas, kamudian dipanaskan di atas kompor dengan api yang sangat kecil. Tak lupa kami menambahkan sedikit air panas (mendidih) untuk mempercepat proses yang terjadi.

Fun Time #22 : Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan

Behind the scene :
Sejujurnya, goals dari fun time kali ini adalah mengubah sabun batangan menjadi sabun mandi cair. Namun selama proses pemanasan, tiap kali sabun mulai mencair, tak lama kemudian ia justru mengeras (mengental) kembali. Setelah saya tambah sedikit air panas lagi, ia akan mencair. Namun selang satu menit kemudian kembali mengental, hingga si Abang mulai frustasi. Bersyukur, Adek yang ingin menenangkan segala kepanikan pun nyletuk, "Namanya aja percobaan bang, kan memang belum tahu hasilnya kayak apa..". Yess, ada yang belain emak bingung! Hahaha...

"Kita tidak gagal mengubah sabun batangan menjadi sabun cair, tapi kita jadi tahu cara mengubah sisa sabun batangan agar bisa digunakan kembali seperti baru"

Well, setelah beberapa kali sabun batangan itu galau karena berulang kali berubah dari padat, jadi cair, balik mengental lagi, akhirnya ketika sabun belum cair sepenuhnya (namun belum pula mengental), saya berinisiatif mematikan api kompor. Lalu memindahkan cairan sabun ke wadah. Terus terang yang saya lakukan ini benar-benar gambling, kalau esok hari sabun ini tetap cair berarti percobaan membuat sabun cair berhasil. Namun bila hasilnya mengental, ya akan saya pakai bak sabun colek lah. Wkwkwk

Fun Time #22 : Menggunakan Kembali Sisa Sabun Batangan

Keesokan paginya saya menengok hasil percobaan kami, ternyata sabun kembali membeku! It means, saya tetap bisa menggunakannya dengan bentuk sesuai cetakan wadah. Karena memang semalam nyetaknya nggak niat, bentuk sabun pun jadi sangat ala kadarnya alias tidak rapi (seperti pada foto paling atas). Namun kami jadi punya ilmu dan pengalaman baru, jika lain kali hendak melelehkan sabun bekas, setelahnya harus saya tuangkan di cetakan yang bagus, agar hasilnya seperti sabun baru kembali. Yeay!

Baca juga : Fun Time #17 : Membuat Proyektor Sederhana

Dari percobaan ini, saya dan anak-anak jadi mengerti bahwa sabun sere yang kami gunakan bersifat seperti lilin. Ia akan mudah mencair, namun dengan adanya udara ia akan cepat pula mengental dan menjadi padat kembali. Sepertinya untuk mengubah sabun batangan menjadi cair diperlukan katalisator tertentu untuk memungkinkan proses tersebut terjadi. Semoga di fun time berikutnya kita bisa mencobanya lagi dengan menambah katalisator. Artinya mulai sekarang harus ngumpulin sisa sabun batangan lagi nih, hahaha...

Oiya, pesan moral dari percobaan ini adalah tidak ada percobaan yang gagal. Sebagaimana Thomas Alfa Edison yang mengatakan bahwa ia telah menemukan ratusan logam baru yang tak cocok sebagai penghantar listrik, sebelum menemukan bola lampu, maka saya pun berkata pada anak-anak, "Kita tidak gagal mengubah sabun batangan menjadi sabun cair, tapi kita jadi tahu cara mengubah sisa sabun batangan agar bisa digunakan kembali seperti baru". Mindset is the key!

Semoga bermanfaat!

Aug 2, 2018

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Sejak bulan April lalu anak-anak selalu tak sabar menantikan event Playdate Manfaat setiap bulannya, sebuah kegiatan yang diadakan oleh si Abang dan teman-teman sekolahnya. Berawal dari playdate kecil-kecilan di rumah kami yang disambut antusiasme luar biasa dari teman-teman dan para orang tua, akhirnya kami sepakat untuk mengagendakan kegiatan playdate manfaat ini sebulan sekali. Acaranya bisa beragam, dengan bekerjasama dengan berbagai komunitas. Idenya pun bisa muncul dari siapa saja. Seperti playdate manfaat di bulan Juli ini yang di inisiasi oleh salah satu orang tua untuk mengajak anak-anak mengasah keberanian di Fun Tubing Watu Kapu.

Watu Kapu merupakan kepanjangan dari Wareng Tubing Kali Pusur, sesuai dengan letak fun tubing ini yang berlokasi di Kali Pusur, Wareng, Kabupaten Klaten. Wisata yang sepenuhnya dikelola oleh warga setempat ini dibuka sejak bulan Februari 2017. Memanfaatkan aliran air sungai yang sama dengan wisata Umbul Ponggok serta Cokro Tulung, kreatifitas masyarakat Wangen ini patut diacungi jempol.
Sebenarnya sudah lama saya ingin mengajak si kecil mengasah adrenalin melalui wisata air, karena belum memungkinkan untuk diajak untuk rafting dengan jeram yang cukup besar, maka river tubing menjadi pilihan yang tepat untuk pengenalan dan pemanasan bagi mereka.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Playdate Manfaat #05

Peserta playdate manfaat #05 ini adalah teman-teman sekolah si Abang, beserta adik kakak, orang tua, kakek nenek hingga kerabat mereka. Kebayang kan, betapa serunya. Lebih seru lagi karena para guru kelas pun bersedia ikut serta dalam kegiatan di luar sekolah ini. Semoga makin memperkuat bounding antara guru dan anak didik, aamiin.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Let's go for tubing!

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Rombongan menuju jalur tubing

Berangkat dari Kota Semarang pukul 06.00 WIB, perjalanan menuju Fun Tubing Watu Kapu menempuh jarak sekitar 100 km dengan waktu perjalanan 2 jam. Tiba di lokasi pukul 08.00 WIB, kami pun meletakkan berbagai barang bawaan dan berswafoto sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Tepat pukul 09.00 WIB operasional di Watu Kapu pun dibuka. Anak-anak mulai berganti baju untuk persiapan tubing. Dalam sekali jalan, pihak Watu Kapu mampu mengakomodir hingga 40 peserta dengan 10 orang pendamping. Oleh karenanya rombongan kami dibagi menjadi dua trip. Trip pertama diikuti anak-anak, para guru dan beberapa ayah. Sedangkan orang tua yang lain mengikuti trip kedua.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Anak-anak melakukan pemanasan ringan sebelum tubing

Sebelum tubing anak-anak diberi penjelasan tentang rute yang akan dilewati, cara menaiki ban, prosedur keselamatan, hingga anak usia balita yang nantinya akan dipangku oleh pemandu. Fun tubing Watu Kapu aman untuk semua usia, mulai dari usia 6 tahun, anak diperbolehkan menggunakan ban sendiri. Setelah penjelasan singkat, pemandu mengajak peserta melakukan pemanasan ringan. Kemudian seluruh peserta menaiki dua buah mobil bak terbuka yang telah di sediakan untuk menuju jalur penyusuran.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Balita tubing bersama orang tua

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Si kecil yang belum berani dapat dipangku pemandu

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Tim Fotografer selalu siap mengabadikan setiap momen

Waktu yang dibutuhkan untuk sekali penyusuran adalah 1 jam hingga 1,5 jam, termasuk berhenti di spot-spot terbaik untuk berfoto dan melakukan aktifitas terjun dari tebing yang cukup landai. Intinya, semua jalur adan aktifitas yang ada aman dan nyaman bagi anak-anak. Setelah tubing, dilanjutkan sesi berfoto di air terjun yang sangat instagrammable. Saya sampai salut dengan kreatifitas para warga ini. Bagi anak-anak yang belum ingin mandi, disediakan pula kolam dangkal untuk bermain air hingga mereka puas.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Tubing berakhir setelah 1 jam perjalanan

Baca juga : Hiking di Gunung Sikunir Bersama Keluarga

Secara keseluruhan, fun tubing di Watu Kapu memberikan pengalaman baru bagi si kecil untuk mengasah keberanian. Dengan lokasi yang tak jauh dari jalan raya serta pelayanan yang ekstra memuaskan, membuat platydate manfaat #05 ini begitu berkesan. Bagaimana tidak, hanya dengan Rp. 50.000,- per orang kita sudah bisa tubing dengan perlengkapan yang aman, jumlah pemandu yang memadahi, ditambah dengan fasilitas makan siang berupa nasi box (berisi ayam goreng dan lalapan), teh hangat yang siap menyambut kita seusai tubing, kacang rebus yang pas sebagai camilan di kala menggigil, serta dokumentasi foto yang bisa langsung kita salin ke flashdisc masing-masing. Semuanya FREE, sudah termasuk dalam tiket per orang!

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Aktifitas terjun dari tebing landai
Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Happy Moms, Happy Kids!

Wal hasil anak bahagia mendapat pengalaman baru, orang tua pun gembira dapat mengulang indahnya masa kecil. Hehehe... Pokoknya bagi yang ingin mengasah keberanian si kecil di tempat yang tak biasa dengan harga terjangkau, Watu Kapu ini recommended banget! Setidaknya dengan ini kita ikut mengapresiasi usaha masyarakat setempat untuk membudayakan sungai bersih, merawat dan mempercantik lingkungan serta mengangkat perekonomian warga.

Mengasah Keberanian Si Kecil di Fun Tubing Watu Kapu
Informasi Fun Tubing Watu Kapu

For your information, para pemandu Watu Kapu stand by setiap akhir pekan (hari Sabtu dan Minggu), sedangkan di hari kerja silakan menelpon narahubung terlebih dahulu. Karena para pemandu juga memiliki pekerjaan lain di hari kerja, maka mereka akan berbagi tugas siapa saja yang bisa memandu kita di hari tersebut. Keren ya, mereka. Jadi pastikan booking dulu ya untuk kedatangan diluar akhir pekan atau rombongan, semoga bermanfaat!